Jurnal Ilmu Keluarga & Konsumen
Not a member yet
388 research outputs found
Sort by
EMOTIONAL SHOPPING IN E-COMMERCE: HOW ARE URBAN ADOLESCENTS SPENDING DURING THE COVID-19 PANDEMIC? Belanja Emosional di E-Commerce: Bagaimana Pengeluaran Remaja Kota Selama Pandemi Covid-19?
The presence of Covid-19 has influenced various aspects of life, including buying and selling activities. This study aims to investigate the reasons for the emergence of emotional shopping behavior in e-commerce among adolescents in Tegal City during the Covid-19 pandemic. This study used a qualitative method with a case study among adolescents who use e-commerce. Data collection techniques in this study were conducted through semi-structured interviews with 7 main participants and 7 supporting participants, non-participant observation, and documentation studies. The triangulation technique method was used to obtain valid data by comparing data from observations, interviews, and documentation. The results of this study indicate that emotional shopping behavior by adolescents in Tegal City arises because of four main factors: insecurity, brand-minded lifestyle, joining the trends, and store atmosphere, which can further be seen as the embodiment of emotional shopping. Male adolescents tend the purchase goods to support their hobbies, while female adolescents to support their physical appearance. These findings can form the basis for further research in the field of consumer psychology and adolescent shopping behavior amidst the current online shopping trend, which has become increasingly dominant even after the pandemic has passed
PERAN ADAT DALAM PENGASUHAN BALITA SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DI DESA PEDAWA, BALI: The Role of Adat in Toddler Care as an Effort to Prevent Stunting in Pedawa Village, Bali
Rendahnya angka stunting di Desa Pedawa, Bali memberi sinyal baik bagi warganya akan keunggulan budaya setempat dalam mengatur kesehatan ibu dan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran adat dalam pengasuhan Balita sebagai upaya pencegahan kasus stunting. Desa Pedawa, Bali dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki kasus stunting rendah, yaitu sebanyak 9 kasus dari 300 balita. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik purposive digunakan dalam menentukan informan penelitian dengan menggunakan syarat-syarat tertentu, sehingga 11 ibu dengan balita masuk dalam informan penelitian. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni dan Agustus 2023 dengan metode observasi partisipasi dan wawancara mendalam. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menemukan adanya peran adat dalam pengasuhan yang dapat mendukung pencegahan kasus stunting pada balita. Peran adat ditemukan pada tiga aspek penting kehidupan anak, yaitu (1) kedudukan anak, (2) sumber pangan anak, dan (3) lingkungan sosial anak. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu strategi dalam mengatasi stunting yang berasal dari nilai-nilai kultural masyarakat
PERAN COMMON DYADIC COPING SEBAGAI MEDIATOR DALAM HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI KESETARAAN PERAN DAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA 5 TAHUN PERTAMA PERNIKAHAN: The Role Dyadic Coping as a Mediator in the Relationship between Perceived Fairness and Relationship Satisfaction in the First 5 Years of Marriage
Kepuasan pernikahan merupakan faktor penting yang dapat membuat hubungan pernikahan lebih stabil dan salah satu faktor yang dapat memengaruhinya adalah persepsi tentang kesetaraan peran dalam pembagian urusan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara persepsi kesetaraan peran dengan kepuasan pernikahan serta menguji efek mediasi common dyadic coping dalam model hubungan tersebut. Pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional study dipilih dalam penelitian ini. Sebanyak 1180 individu yang berada dalam rentang usia 5 tahun pertama pernikahan berpartisipasi dalam penelitian ini yang direkrut melalui penyebaran kuesioner secara daring. Hasil analisis PROCESS v4.0 Hayes menunjukkan bahwa persepsi kesetaraan peran secara signifikan dapat memprediksi kepuasan pernikahan, serta common dyadic coping secara signifikan menjadi mediator dalam model hubungan tersebut (direct effect, c’ = 5,096, 95% CI [4,375; 5,818]; indirect effect, a*b = 2,878, 95% CI [2,3131; 3,4782]). Dengan demikian, persepsi keadilan dalam pembagian urusan rumah tangga memprediksi upaya penanganan masalah bersama yang setara oleh pasangan, yang kemudian memprediksi kepuasan pernikahan
PERAN KEBERFUNGSIAN KELUARGA SEBAGAI MODERATOR DALAM HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH OVERPROTEKTIF DAN TINGKAT KECEMASAN PADA REMAJA: The Role of Family Functioning as a Moderator in the Relationship between Overprotective Parenting and Anxiety Levels in Adolescents
Kecemasan merupakan salah satu gangguan yang paling banyak ditemui pada remaja dan sering kali dikaitkan dengan pola asuh orang tua dan kelekatan antara orang tua dan anak, sedangkan keberfungsian keluarga secara keseluruhan juga memiliki peran penting sebagai wadah tumbuh kembang bagi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh overprotektif dan tingkat kecemasan pada remaja dengan keberfungsian keluarga sebagai moderator. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari 288 remaja berusia 17–21 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Partisipan memiliki tingkat kecemasan sedang sampai sangat berat, dan tinggal bersama salah satu atau kedua orang tuanya. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa pola asuh overprotektif berkorelasi secara positif terhadap kecemasan secara signifikan (r = 0,207, p < 0,05), yakni terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh overprotektif dan kecemasan pada remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberfungsian keluarga yang fungsional memiliki peran sebagai moderator, yakni menurunkan tingkat kecemasan pada remaja (β = -2,153, p = 0,038). Temuan ini mengimplikasikan bahwa upaya menurunkan ciri pola asuh yang terlalu protektif dan mempertimbangkan keberfungsian keluarga yang lebih baik merupakan hal yang penting dalam rangka menurunkan tingkat kecemasan remaja
PERAN EXECUTIVE FUNCTION ANAK SEBAGAI MEDIATOR DALAM HUBUNGAN PARENTING SELF-EFFICACY DAN REGULASI DIRI ANAK USIA PRASEKOLAH: The Role of Children’s Executive Function as a Mediator in the Relationship Between Parenting Self-Efficacy and Self-Regulation of Preschool-Aged Children
Regulasi diri anak dapat diprediksi oleh parenting self-efficacy melalui peran mediasi oleh faktor-faktor yang melekat pada orang tua, tetapi peran faktor-faktor yang dimiliki anak dalam memperantarai hubungan keduanya belum diketahui. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat peran salah satu faktor kognitif anak, yaitu executive function, sebagai mediator dalam hubungan antara parenting self-efficacy dan regulasi diri anak. Sebanyak 441 orang tua dari anak usia 48 hingga 72 bulan tanpa riwayat masalah perkembangan maupun psikologis mengikuti penelitian ini. Adapun alat ukur yang digunakan, yaitu Me as a Parent (MaaP) untuk mengukur parenting self-efficacy, Childhood Executive Functioning Inventory (CHEXI) untuk mengukur masalah executive function anak yang dipersepsikan orang tua, dan Self-Regulation Questionnaire (SRQ) untuk mengukur regulasi diri anak yang juga dipersepsikan oleh orang tua. Analisis PROCESS Hayes menunjukkan hasil bahwa executive function anak secara partial memediasi hubungan antara parenting self-efficacy dan regulasi diri anak usia 48 hingga 72 bulan. Hasil penelitian ini mengimplikasikan bahwa upaya untuk meningkatkan parenting self-efficacy dan executive function anak penting untuk dilakukan agar regulasi diri anak dapat berkembang secara optimal
KEHARMONISAN KELUARGA, INTEGRASI SOSIAL, LOKUS KENDALI, DAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM: Family Harmony, Social Integration, Locus of Control, and Psychological Wellbeing of Children in Conflict With Law
Pembinaan Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) dilakukan untuk menjaga hak untuk mendapatkan kesejahteraan psikologis. Tujuan penelitian yang diangkat adalah untuk menganalisis hubungan antara keharmonisan keluarga, integrasi sosial, lokus kendali, dan kesejahteraan psikologis ABH di Lembaga Permasyarakatan Khusus Anak (LPKA). Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif. Sampel dipilih melalui teknik klaster acak dengan kriteria yakni ABH yang memiliki kemampuan membaca dan yang ditempatkan di LPKA Kelas I Tangerang, LPKA Kelas IA Kutoarjo, LPKA Kelas II Yogyakarta, LPKA Kelas II Jakarta, LPKA Kelas I Blitar, dan LPKA Kelas II Bandung. Responden penelitian sebanyak 260 ABH. Pengambilan data dilakukan menggunakan skala keharmonisan keluarga, integrasi sosial, lokus kendali, dan skala kesejahteraan psikologis. Data dianalisis menggunakan Moderate Regression Analysis (MRA). Hasil analisis data penelitian membuktikan semakin tinggi tingkat keharmonisan keluarga, semakin tinggi pula kesejahteraan psikologis ABH. Selain itu, semakin tinggi tingkat integrasi sosial ABH, semakin tinggi pula kesejahteraan psikologis ABH. Akan tetapi, lokus kendali tidak memperkuat hubungan antara keharmonisan keluarga dan kesejahteraan psikologis, serta antara integrasi sosial dan kesejahteraan psikologis ABH. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai pijakan petugas kemasyarakatan dalam proses pembinaan ABH sesuai dengan tingkat kesejahteraan psikologis dengan mempertimbangkan tingkat keharmonisan keluarga serta integrasi sosial ABH
KESEJAHTERAAN SUBJEKTIF KELUARGA NASABAH BANK EMOK: PENGARUH PENGETAHUAN RIBA, TEKANAN EKONOMI, KEPUTUSAN BERUTANG, DAN INVESTASI RESILIENSI : Subjective Welfare of Emok Bank Customer Families: The Influence of Riba Knowledge, Economic Pressure, Debt Decisions, and Resilience Investment
Bank Emok merupakan istilah bank keliling di wilayah Sunda (Jawa Barat), yang peminjamnya berkelompok bertemu setiap minggu dan duduk di lantai (Emok) untuk pencairan pinjaman dan pembayaran cicilan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh pengetahuan riba, tekanan ekonomi, pengambilan keputusan berutang, dan investasi resiliensi (nilai, kepercayaan, dan aturan; kapasitas organisasi; dan atmosfer keluarga) terhadap kesejahteraan subjektif keluarga nasabah Bank Emok di Kabupaten Bogor. Penelitian cross-sectional ini melibatkan 120 keluarga nasabah Bank Emok yang dipilih secara acak melalui metode simple random sampling. Hasil analisis menunjukkan terdapat nasabah Bank Emok yang tidak terkategori miskin (84,2% dengan garis kemiskinan Kabupaten Bogor; 46,7 persen dengan garis kemiskinan Bank Dunia). Cukup besar istri (77,5%) dan suami (64,2%) tidak memenuhi pendidikan dasar (12 tahun). Pekerjaan utama suami adalah buruh (41,7%) dan 41,7 persen istri bekerja beragam pekerjaan. Pinjaman berkisar antara Rp2-24 juta, rataan cicilan per minggu sebesar 112 ribu. Hasil analisis menunjukkan kesejahteraan subjektif keluarga dipengaruhi secara positif oleh kapasitas organisasi dan atmosfer keluarga serta dipengaruhi secara negatif oleh tekanan ekonomi baik subjektif maupun objektif, dan lama pendidikan istri. Model yang dianalisis berkontribusi 61,2 persen terhadap kesejahteraan subjektif keluarga. Penelitian ini berimplikasi terhadap upaya peningkatan kesejahteraan keluarga pada nasabah Bank Emok dengan membangun kapasitas organisasi dan atmosfer keluarga yang baik
PERAN AYAH DALAM PENGASUHAN YANG MEMPERKUAT RESILIENSI DIGITAL ANAK: The Role of Father in Parenting that Strengthens Children Digital Resilience
Permasalahan perilaku anak karena ketidakmampuan menghadapi risiko digital semakin menekankan pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan untuk menguatkan ketangguhan atau resiliensi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih lanjut peran ayah dalam proses pengasuhan untuk memperkuat resiliensi digital anak berdasarkan pengalaman para ayah yang telah mampu memenuhinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Partisipan terdiri dari empat orang ayah dari anak berusia 7–12 tahun yang memiliki karakteristik resiliensi digital. Penggalian data dilakukan melalui pengisian lembar informasi dan wawancara secara daring. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan análisis tematik dengan model interaktif. Hasil penelitian menemukan adanya empat peran ayah dalam praktik pengasuhan yang dapat memperkuat resiliensi digital anak, yaitu: (1) Peran pembimbing, (2) Peran kontrol dan pengawas, (3) Peran pendukung, dan (4) Peran mediator. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai dasar merancang berbagai program untuk terus mendorong keterlibatan ayah dalam mendukung tumbuh kembang anak di masyarakat melalui pemenuhan keempat peran tersebut
KEPUASAN HIDUP GENERASI SANDWICH DI INDONESIA: PERAN BAKTI KEPADA ORANG TUA, TANGGUNG JAWAB KEPADA ORANG TUA, DAN RASA BERSALAH: Life Satisfaction in Sandwich Generation in Indonesia: The Role of Filial Piety, Filial Responsibility, and Guilt Feeling
Dalam menjalankan peran merawat orang tua, generasi sandwich sering mengalami stres, depresi, kecemasan, dan merasa terbebani karena tanggung jawab ganda yang menekankan bakti kepada orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi peran dari bakti kepada orang tua (filial piety), tanggung jawab kepada orang tua (filial responsibility), dan rasa bersalah terhadap kepuasan hidup generasi sandwich di Indonesia. Sebanyak 132 partisipan dari seluruh Indonesia yang memiliki latar belakang berbeda-beda mengikuti penelitian ini secara online. Pengukuran variabel menggunakan alat ukur Dual Filial Piety Scale, The Filial Responsibility Scale, Guilt and Shame Experience Scale, dan Satisfaction with Life Scale yang dianalisis menggunakan uji statistik regresi berganda. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan atau bersama-sama, filial piety, filial responsibility, dan rasa bersalah ditemukan berpengaruh terhadap kepuasan hidup generasi sandwich di Indonesia. Akan tetapi, secara parsial atau secara terpisah, didapati hasil bahwa hanya filial piety yang berpengaruh terhadap kepuasan hidup generasi sandwich di Indonesia. Hasil penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan hidup generasi sandwich dalam merawat orang tua dengan membangun pandangan yang positif terhadap bakti dan perawatan kepada orang tua
EXPLORING HUSBAND-WIFE INTERACTIONS AND CULTURE OF FISHING FAMILIES IN WEST JAVA COASTAL AREAS: Eksplorasi Interaksi Suami-Istri dan Budaya Keluarga pada Keluarga Nelayan di Wilayah Pesisir Jawa Barat
Coastal areas are areas with high extreme poverty with low family interaction. This research explores husband-wife interactions and cultural roles in fishing families in the northern and southern coastal areas. This research used an exploratory study following a mixed methods research approach (concurrent embedded). Husband and wife interactions were measured using a modification of the Chuang instrument. Respondents of survey method consisted of 456 fishermen\u27s wives in West Java, in-depth interviews consisted of 18 husbands and 18 wives, and Focus Group Discussion (FGD) 1 and 2 consisted of 120 people. The research results show that there are no couples in the high category for total husband-wife interaction. The majority of husband-wife interactions in this study were in the low category. Wives in the north region express affection and make decisions for their husbands more often than wives in the south region. On the other hand, wives in the south region are more often angry and annoyed with their husbands than wives in the north region. However, wives in the south region also more often feel safe when their husbands must make essential decisions than wives in the north region. This research implies that the findings can be input for stakeholders to improve the quality of family interactions based on the north and south coastal areas