Jurnal Ilmu Keluarga & Konsumen
Not a member yet
388 research outputs found
Sort by
MEMAHAMI EMOSI DAN PIKIRAN ANAK: PERAN EMOTION AND MENTAL STATE TALK SEBAGAI MEDIATOR HUBUNGAN ANTARA PARENTAL MIND-MINDEDNESS DAN THEORY OF MIND: Understanding Children\u27s Emotions and Minds: The Role of Emotion Mental State Talk as A Mediator of The Relationship between Parental Mind-Mindedness and Theory of Mind
Anak perlu memahami pikiran dan perasaan orang lain (theory of mind/ToM) agar dapat berinteraksi secara sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara parental mind-mindedness (PMM), emotion and mental state talk (EMST), serta kemampuan ToM pada anak. Selain itu, penelitian ini juga menguji peran EMST dari ayah dan ibu sebagai mediator dalam hubungan antara PMM dan ToM. Responden dalam penelitian ini terdiri atas 67 triad (ayah, ibu, dan anak berusia 4–7 tahun) yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini meliputi ToM Scale (α = 0,98), PMM Coding Manual oleh Meins dan Fernyhough (2015) (α = 0,31), serta vignette EMST (α ibu = 0,217; α ayah = 0,249). Hasil penelitian menunjukkan bahwa PMM berkorelasi positif dengan EMST ayah dan ibu. Selanjutnya, EMST ayah berkorelasi dengan EMST pada ibu serta dengan ToM anak. Hasil analisis menggunakan Process (Model 4) menunjukkan bahwa PMM berhubungan secara positif dengan ToM melalui mediasi EMST aya. Namun demikian, PMM tidak menunjukkan hubungan dengan ToM melalui EMST ibu
THE DEVELOPMENT OF MINDFUL PARENTING IN PRESCHOOLERS (MPP) SCALE: Pengembangan Skala Pengasuhan Berkesadaran pada Anak Prasekolah (MPP)
Existing measurements of mindful parenting primarily focus on parenting in infants or older children and are designed specifically for mothers. The current study aims to develop a scale to assess mindful parenting in preschool children aged 3 to 5 (Mindful Parenting in Preschoolers/MPP) using a situational judgment test that can be completed by both parents. A total of 307 Indonesian parents aged 24–54 years old (M = 33.1, SD = 4.73) completed the 42 pooled items of the MPP. Psychometric testing was conducted to obtain the final version of the MPP with 30 items. Factor analysis revealed a three-factor structure, awareness, compassion, and non-reactivity, differing from the proposed model. Overall, the MPP demonstrates good internal consistency, and validity testing showed a significant negative correlation with parenting stress as a convergent criterion. The statistical performance of individual dimensions remains inadequate following scale reduction, necessitating further refinement and additional data collection. Despite these limitations, the MPP is a promising tool that offers a different test format compared to most currently available mindful parenting measurements
KARAKTERISTIK KELUARGA, DUKUNGAN SOSIAL, INTERAKSI SUAMI-ISTRI, DAN KUALITAS PERKAWINAN PADA KELUARGA DENGAN PERNIKAHAN JARAK JAUH: Family Characteristics, Social Support, Husband-wife Interaction, and Marital Quality on Long-Distance Marriage
Pernikahan jarak jauh merupakan fenomena menarik karena fisik yang berjauhan diduga berpengaruh terhadap keharmonisan keluarga, sehingga dibutuhkan dukungan sosial serta interaksi suami-istri yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dukungan sosial dan interaksi suami-istri terhadap kualitas perkawinan pada pernikahan jarak jauh. Responden dipilih secara purposive berjumlah 146 orang suami dan istri yang bekerja di Lembaga Negara X, berasal dari keluarga utuh, sudah memiliki anak, dan sedang menjalani pernikahan jarak jauh minimal selama 6 bulan. Hasil penelitian menunjukkan dukungan sosial dan interaksi suami-istri yang dirasakan responden tergolong sedang. Pada variabel kualitas perkawinan 53,2 persen responden laki-laki tergolong tinggi sementara 67,3 persen responden perempuan tergolong sedang. Terdapat perbedaan signifikan pada interaksi suami-istri dan kualitas perkawinan dengan rataan laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Hasil korelasi menunjukkan, semakin tinggi pendapatan responden, jumlah anak, dan dukungan sosial maka semakin tinggi kualitas perkawinan yang dirasakan. Hasil regresi menunjukkan semakin banyak jumlah anak, semakin besar dukungan sosial yang dirasakan, dan semakin baik interaksi suami-istri akan meningkatkan kualitas perkawinan. Oleh karena itu, keluarga diharapkan dapat memberikan dukungan dan membangun interaksi suami-istri yang baik guna mengoptimalkan kualitas perkawinan pada keluarga jarak jauh
PARENTING SELF-PERCEPTION: A COMPARATIVE STUDY OF TEENAGE AND EMERGING ADULT MOTHERS IN WEST JAVA: Persepsi Diri terhadap Pengasuhan: Sebuah Studi Komparatif antara Ibu Berusia Remaja dan Emerging Adult di Jawa Barat
Some studies have shown differences in parenting practices between teenage and emerging adult mothers; however, not all research has found this to be the case. This study aims to examine differences in perceptions of parenting roles between teenage and emerging adult mothers. Perceptions of parenting roles are associated with parenting practices and encompass four dimensions: parenting competence, parenting satisfaction, parenting investment, and integration/role balance. This research is a non-experimental study using a between-subjects design. A total of 86 teenage mothers (15–19 years old) and 86 emerging adult mothers (20–23 years old) participated in the study. Parenting self-perception was measured using the Self-Perception of Parenting Role (SPPR), and the data were analyzed using a t-test. The results indicated significant differences in parenting self-perception between teenage and emerging adult mothers in the areas of parenting competence, parenting satisfaction, and integration/role balance. Emerging adult mothers demonstrated higher competence, greater satisfaction, and a better ability to integrate the various roles they undertake. In contrast, no significant differences were found between the two groups in parenting investment. These findings support Law Number 16 Year 2019, which permits marriage for men and women aged 19 years and older
FAKTOR-FAKTOR RISIKO DEPRESI PADA IBU PASCABERSALIN : The Risk Factors for Depression in Postpartum Moms
Persalinan membawa berbagai perubahan yang dapat menyebabkan perempuan rentan mengalami depresi pascabersalin. Hal ini tidak hanya berdampak pada ibu tetapi juga pada individu lainnya seperti anak yang baru saja dilahirkan, anak lainnya, pasangan, bahkan anggota keluarga lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko psikologis depresi pascabersalin. Pengumpulan data dilakukan melalui survei sejak April-September 2022 pada ibu pascabersalin yang dipilih dengan teknik convenience sampling. Instrumen pengumpulan data berupa Alat Asesmen Ibu Postpartum (ASIP), Multidimensional of Perceived Social Support (MPSS), dan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) yang diberikan kepada 359 sampel penelitian dengan kriteria perempuan berusia 18-40 tahun, pascamelahirkan dengan rentang waktu 4 minggu hingga 1 tahun, dan tidak pernah didiagnosis mengalami gangguan mental oleh profesional. Hasil analisis menunjukkan bahwa regulasi emosi, kepuasan pernikahan, dan dukungan sosial menjadi faktor risiko depresi pascabersalin dalam penelitian ini. Sementara itu, lebih dari sepertiga ibu pascabersalin mengalami depresi kategori ringan (34,2%), sedangkan yang lainnya mengalami depresi kategori sedang (19,8%), bahkan depresi berat (5,6%). Implikasi penelitian terhadap faktor risiko depresi dibahas lebih lanjut dalam artikel in
“BERSAMA DAN BAHAGIA”: PERAN CO-PARENTING DAN COUPLE CONFLICT TERHADAP RELATIONSHIP FLOURISHING PADA AYAH: “Together and Be Happy”: The Role of Co-parenting and Couple Conflict on Father’s Relationship Flourishing
Seorang ayah dalam memenuhi kebutuhan keluarga, juga berperan dalam pengasuhan anak, sehingga kondisi ini dapat berdampak pada kondisi psikologis ayah. Penelitian ini bertujuan mengetahui peran co-parenting dan konflik pasangan terhadap relationship flourishing pada ayah. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non-eksperimen. Responden penelitian berjumlah 209 orang ayah dengan rentang usia 27–47 tahun (M=33,3 tahun) yang diperoleh dengan metode convenience sampling. Proses pengambilan data penelitian dengan self-report questionnaire yang di dalamnya terdiri dari skala co-parenting (35 butir; α=0,780), konflik pasangan (tujuh butir; α=0,801) dan relationship flourishing (12 butir; α=0,871). Analisis data penelitian menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa co-parenting dan konflik yang terjadi pada pasangan secara simultan berpengaruh terhadap relationship flourishing pada ayah. Hal itu berarti bahwa ayah yang menilai hubungan dengan pasangan berlandaskan keterbukaan, saling memotivasi dan komunikasi yang baik akan membuat hubungan mencapai tahap yang berkualitas (flourishing). Lebih lanjut lagi, ketika kerja sama pengasuhan terjalin antar pasangan dan pasangan suami istri dapat meminimalisir konflik maka dapat menciptakan hubungan yang berkualitas
RESILIENSI IBU TUNGGAL: PERAN KEBERSYUKURAN DAN REGULASI EMOSI: Becoming a Resilient Single Mother: Role of Gratitude and Emotion Regulation
Kematian suami mendorong istri untuk mengambil peran ganda dalam keluarga, sehingga menyebabkan munculnya berbagai tantangan yang dihadapi oleh ibu tunggal karena harus menghidupi keluarga seorang diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kontribusi kebersyukuran dan regulasi emosi terhadap resiliensi ibu tunggal. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling. Responden penelitian terdiri dari 143 ibu tunggal berusia 30–60 tahun yang telah ditinggal suami karena kematian selama minimal dua tahun. Data dikumpulkan dengan menggunakan skala Connor Davidson Resilience Scale (CD-RISC) 25, Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), dan Gratitude Questionnaire (GQ-6). Hasil penelitian yang dianalisis menggunakan JASP dan SPSS menunjukkan bahwa kebersyukuran dan regulasi emosi secara simultan signifikan memprediksi resiliensi ibu tunggal sebesar 23,6 persen (R²=0,236, F=14,338, p<0,001). Kebersyukuran memprediksi resiliensi sebesar 13,1 persen, sementara regulasi emosi sebesar 15,9 persen. Secara khusus, dimensi regulasi emosi cognitive reappraisal memberikan kontribusi signifikan sebesar 15,7 persen dan expressive suppression sebesar 5,2 persen. Temuan ini menekankan pentingnya kebersyukuran dan regulasi emosi dalam membentuk resiliensi ibu tunggal.The death of a spouse is a deep sorrow for a single mother. In addition to causing grief, there is also a new challenge faced by single mothers, namely the challenge of carrying out multiple roles. This dual role is not easy for single mothers to live alone. In difficult times, single mothers are more susceptible to stress and tend to bring up negative emotions more easily. As a single parent, it is important for single mothers to have a resilient ability to go through these challenges and difficulties. This study aims to explore the resilience of single mothers by involving the role of emotion regulation and gratitude. Quantitative research methods were used in this study with the Emotion Regulation Questionnaire, Gratitude Questionnaire, and Connor Davidson Resilience Scale 25 as measurement instruments. Results showed that gratitude and emotion regulation simultaneously predicted single maternal resilience by 23,6%. Gratitude and emotional regulation support single mothers to elicit positive responses to conditions, especially difficult conditions, thus helping single mothers become resilient. This finding means that single mothers are important for single mothers to apply emotional regulation and gratitude in life so that single mothers are able to survive or rise from difficult times
ADAPTATION OF THE FAMILY HARDINESS INDEX (FHI) INSTRUMENT FOR INDONESIAN ADOLESCENTS: Alat Ukur Family Hardiness Index (FHI) untuk Remaja Indonesia
Family resilience in adolescence measures the ability to cope with challenges and disruptions within the family and engage in positive adaptation in their role as children. To address the limitations of the availability of family resilience measurement tools in the Indonesian language, this study aims to adapt and test the reliability and validity among adolescents. One widely used measurement tool for assessing family resilience internationally is the Family Hardiness Index (FHI), developed as part of The Resilience, Adaptation, and Well-Being Project. The testing was conducted on 276 participants aged 12–17 years (M = 14.5; SD = 1.7), with a gender distribution of 124 males (45%) and 152 females (65%). Psychometric property testing revealed that this adapted instrument met reliability criteria with a Cronbach\u27s alpha value of 0.75 and fulfilled construct validity criteria using confirmatory factor analysis. Through these findings, it is hoped that research related to family resilience for Indonesian adolescents will continue to advance, particularly among families facing various challenges and disruptions. Additionally, multiple suggestions and implications arising from this adaptation are discussed in the concluding section of this article
KEINGINAN KELUARGA MENGHENTIKAN PINJAMAN BANK EMOK: POTRET TEKANAN EKONOMI, MANAJEMEN KEUANGAN, DUKUNGAN SOSIAL, DAN LINGKUNGAN KELUARGA: Families\u27 Desire to Cease Bank Emok Loans: An Examination of Economic Pressure, Financial Management, Social Support, and Family Environment
Banyak keluarga terjebak menjadi nasabah Bank Emok dalam waktu cukup lama dan memberikan tekanan kepada keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi keinginan menghentikan pinjaman dari Bank Emok dan faktor yang memengaruhinya (tekanan ekonomi, manajemen keuangan, dukungan sosial, dan lingkungan keluarga). Penelitian ini melibatkan 120 keluarga nasabah Bank Emok di Kabupaten dan Kota Bogor. Keluarga ingin menghentikan pinjaman dengan segera menyelesaikan cicilan (90%) dan tidak ingin meminjam lagi (85%). Tekanan ekonomi keluarga cukup tinggi. Sebagian besar keluarga tidak memiliki tabungan yang cukup untuk enam bulan kebutuhan keluarga. Sebagian besar pendapatan keluarga lebih kecil dari pengeluaran. Hampir semua keluarga berutang kurang dari 50 persen aset keluarga. Alasan utama keluarga berutang untuk modal usaha dan kebutuhan darurat keluarga. Keluarga paling sering meminta dukungan atau bantuan dari keluarga besar dan tetangga. Keluarga mengaku mengenal baik masyarakat, saling hormat, dan peduli pada lansia. Hasil PLS menunjukkan bahwa makin tinggi skor tekanan ekonomi, manajemen keuangan, dukungan sosial, dan lingkungan keluarga, maka makin tinggi keinginan menghentikan pinjaman. Keluarga disarankan untuk meningkatkan manajemen keuangannya, utamanya dengan menabung untuk kebutuhan baik yang sudah diketahui maupun kebutuhan darurat
ASOSIASI FAKTOR SOSIODEMOGRAFIS, PENERIMAAN ORANG TUA, DAN WELAS DIRI DENGAN KESEJAHTERAAN SUBJEKTIF EMERGING ADULTS: Sociodemographic Factors, Parental Acceptance, and Self-Compassion Associated with Emerging Adults’ Subjective Well-Being
Kesejahteraan subjektif penting untuk emerging adults sebab perasaan bahagia membuat mereka terbuka untuk mengeksplorasi pengalaman baru dalam hidupnya. Namun Indeks Kebahagiaan 2021 dari BPS menunjukkan bahwa Provinsi DKI Jakarta mengalami penurunan taraf kebahagiaan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menguji pengaruh penerimaan orang tua dan welas diri terhadap kesejahteraan subjektif pada emerging adults dan mengidentifikasi perbedaan setiap variabel berdasarkan sosiodemografi. Responden penelitian sebanyak 360 emerging adults yang berdomisili di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dipilih dengan menggunakan teknik incidental sampling. Emerging adults cenderung merasa diterima oleh ayah dan ibu ketika kecil. Kesejahteraan subjektif dan welas diri emerging adults berada pada kategori sedang. Hasil uji independent T dan ANOVA menunjukkan bahwa terdapat perbedaan faktor sosiodemografis pada kesejahteraan subjektif emerging adults, yakni jenis kelamin, usia, dan status tempat tinggal. Lalu hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan terdapat pengaruh penerimaan ayah dan penerimaan ibu terhadap kesejahteraan subjektif. Welas diri juga menunjukkan pengaruh positif signifikan terhadap kesejahteraan subjektif dan berperan sebagai variabel prediktor. Temuan ini mengindikasikan pentingnya kehangatan dalam pengasuhan orang tua terhadap kesejahteraan subjektif anak saat menginjak usia dewasa. Selain itu Welas diri juga memiliki kontribusi yang penting terhadap kesejahteraan subjektif individu