Jurnal Ilmu Keluarga & Konsumen
Not a member yet
388 research outputs found
Sort by
PERILAKU KONSUMEN GULA PASIR: KETERKAITANNYA DENGAN PENGETAHUAN LABEL, BAURAN PEMASARAN, DAN KESADARAN MEREK
Pada awalnya produk gula dipasarkan tanpa merek, namun seiring dengan perkembangan industri gula, merek menjadi value added untuk melakukan penjualan. Pemberian brand oleh perusahaan ritel di Indonesia berdampak pada perubahan perilaku pembelian konsumen. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh antara variabel pengetahuan konsumen tentang label, brand awareness, dan bauran pemasaran dengan perilaku pembelian produk gula pasir. Penelitian ini melibatkan 200 ibu rumah tangga sebagai responden penelitian. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif dan analisis Structural Equation Modeling (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan konsumen tentang label berada pada kategori rendah (60%). Hasil dari analisis SEM-PLS menunjukkan bahwa hanya elemen produk pada variabel bauran pemasaran yang memiliki pengaruh signifikan terhadap brand awareness dan perilaku pembelian. Bauran pemasaran (elemen produk) memiliki pengaruh terhadap perilaku pembelian konsumen gula pasir pada atribut kualitas, kemasan, dan merek.Pada awalnya produk gula dipasarkan tanpa merek, namun seiring dengan perkembangan industri gula, merek menjadi value added untuk melakukan penjualan. Pemberian brand oleh perusahaan ritel di Indonesia berdampak pada perubahan perilaku pembelian konsumen. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh antara variabel pengetahuan konsumen tentang label, brand awareness, dan bauran pemasaran dengan perilaku pembelian produk gula pasir. Penelitian ini melibatkan 200 ibu rumah tangga sebagai responden penelitian. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif dan analisis Structural Equation Modeling (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan konsumen tentang label berada pada kategori rendah (60%). Hasil dari analisis SEM-PLS menunjukkan bahwa hanya elemen produk pada variabel bauran pemasaran yang memiliki pengaruh signifikan terhadap brand awareness dan perilaku pembelian. Bauran pemasaran (elemen produk) memiliki pengaruh terhadap perilaku pembelian konsumen gula pasir pada atribut kualitas, kemasan, dan merek
GAYA PENGASUHAN OTORITER DAN PERMISIF SERTA TINGKAT STRES IBU SEBAGAI FAKTOR RISIKO GANGGUAN EMOSI DAN PERILAKU ANAK USIA SEKOLAH
Anak Indonesia saat ini sedang mengalami peningkatan risiko gangguan emosi dan perilaku. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya kasus anak yang berhadapan dengan hukum, kasus anak bidang pengasuhan, pendidikan, kesehatan dan napza, serta kasus anak dalam bidang pornografi dan cybercrime. Ibu melalui pengasuhan yang dilakukan serta faktor diri ibu dipercaya sebagai salah satu kunci penting untuk mencegah hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh self-efficacy ibu, gaya pengasuhan, dan tingkat stres ibu terhadap gangguan emosi dan perilaku anak. Desain penelitian adalah cross sectional dengan lokasi penelitian dipilih secara purposive di salah satu sekolah dasar negeri di Kota Bogor. Teknik pemilihan sampel dilakukan secara quota sampling yang terdiri dari 50 anak laki-laki dan 50 anak perempuan sehingga total contoh adalah 100 anak dan selanjutnya akan menjadi responden penelitian bersama ibunya. Data dikumpulkan melalui wawancara ibu dan anak menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya pengasuhan otoriter ibu, gaya pengasuhan permisif ibu, dan tingkat stres ibu berpengaruh terhadap gangguan emosi dan perilaku anak. Sementara itu, self-efficacy ibu dan gaya pengasuhan otoritatif ibu tidak berpengaruh terhadap gangguan emosi dan perilaku anak
PERILAKU INVESTASI ANAK MENENTUKAN PERAN NILAI ANAK DALAM KESEJAHTERAAN ANAK
Kesejahteraan anak baik objektif maupun kesejahteraan subjektif yang tinggi adalah tanggung jawab keluarga. Beberapa faktor yang diduga dapat memengaruhi kesejahteraan anak adalah nilai anak yang dimiliki keluarga dan juga perilaku investasi anak yang dilakukan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh nilai anak dan perilaku investasi anak terhadap kesejahteraan anak laki-laki dan perempuan yang tinggal di rumah susun. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study melibatkan 119 keluarga (60 ibu beserta anak laki-laki dan 59 ibu beserta anak perempuan) di rumah susun sewa (rusunawa) Jatinegara, Jakarta. Keluarga dipilih secara disproportional stratified random sampling berdasarkan jenis kelamin anak. Analisis data menggunakan independent t-test dan analisis SEM (Structural Equation Modelling). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai anak dan kesejahteraan anak dalam penelitian ini terkategori sedang, sedangkan perilaku investasi anak terkategori rendah. Selain itu, tidak ditemukan adanya perbedaan nilai anak, perilaku investasi anak, dan kesejahteraan anak antara laki-laki dan perempuan. Hasil analisis uji SEM membuktikan bahwa perilaku investasi anak berpengaruh langsung positif signifikan terhadap kesejahteraan anak. Adapun nilai anak berpengaruh tidak langsung terhadap kesejahteraan anak melalui perilaku investasi anak
NILAI DAN KONTROL DIRI SEBAGAI FAKTOR PEMBENTUK SIKAP DALAM PERILAKU PEMBELIAN IMPULSIF ANTARGENERASI
Saat ini perkembangan pasar semakin kompleks, namun apabila hal ini tidak diimbangi dengan kemampuan konsumen untuk mengelola pembeliannya dapat menyebabkan munculnya pembelian impulsif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh nilai, kontrol diri, dan sikap terhadap pembelian impulsif generasi Baby Boomer, generasi X, dan generasi Y. Penelitian ini adalah studi kuantitatif dengan menggunakan desain cross-sectional study. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner di lima komplek perumahan di Surabaya, Jawa Timur. Responden adalah ibu rumah tangga sebanyak 90 orang yang terbagi dalam tiga generasi yang dipilih dengan menggunakan teknik penarikan contoh non-probability secara quota sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada variabel kontrol diri, sikap, dan pembelian impulsif terdapat perbedaan yang signifikan antargenerasi. Uji pengaruh variabel nilai, kontrol diri, dan sikap terhadap perilaku pembelian impulsif menggunakan metode Stuctural Equation Modelling (SEM). Hasil menunjukkan variabel kontrol diri memengaruhi sikap dan pembelian impulsif secara signifikan. Kontrol diri berpengaruh positif terhadap sikap dan berpengaruh negatif terhadap pembelian impulsif.Saat ini perkembangan pasar semakin kompleks, namun apabila hal ini tidak diimbangi dengan kemampuan konsumen untuk mengelola pembeliannya dapat menyebabkan munculnya pembelian impulsif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh nilai, kontrol diri, dan sikap terhadap pembelian impulsif generasi Baby Boomer, generasi X, dan generasi Y. Penelitian ini adalah studi kuantitatif dengan menggunakan desain cross-sectional study. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner di lima komplek perumahan di Surabaya, Jawa Timur. Responden adalah ibu rumah tangga sebanyak 90 orang yang terbagi dalam tiga generasi yang dipilih dengan menggunakan teknik penarikan contoh non-probability secara quota sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada variabel kontrol diri, sikap, dan pembelian impulsif terdapat perbedaan yang signifikan antargenerasi. Uji pengaruh variabel nilai, kontrol diri, dan sikap terhadap perilaku pembelian impulsif menggunakan metode Stuctural Equation Modelling (SEM). Hasil menunjukkan variabel kontrol diri memengaruhi sikap dan pembelian impulsif secara signifikan. Kontrol diri berpengaruh positif terhadap sikap dan berpengaruh negatif terhadap pembelian impulsif
KUALITAS PERKAWINAN ORANG JAWA : TINJAUAN FAKTOR JENIS KELAMIN, USIA PERKAWINAN, JUMLAH ANAK, DAN PENGELUARAN KELUARGA
Perceptions and factors that make marriages qualified are differ from one region to another. This study aimed to describe the quality and examine the factors that determinants the quality of Javanese marriage, namely: gender, marriage age, number of children and monthly financing. A total of 579 Javanese husbands and wives from Yogyakarta, Surakarta, Banyumas, and Pekalongan involved in this research. Data were collected by a multistage random sampling technique, using the instrument of marriage quality, and analyzed descriptively and inferential. The results of this study indicate that most of the quality of Javanese marriages is classified as high, especially in the quality of well-being, while on the quality relationship between husband and wife, most of the Javanese people are in the medium category. It is no difference in the marital quality between husbands and wives. The marital quality as a whole is influenced by the number of children and monthly financing, as well as at the quality of relations between husband and wife. The quality of the well-being of husband and wife is not only influenced by the number of children and monthly financing but also the age of marriage.Pandangan serta faktor-faktor yang berperan dalam membentuk kualitas perkawinan berbeda pada satu daerah dengan daerah lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan menguji beberapa faktor yang menjadi penentu kualitas perkawinan orang Jawa, dilihat dari jenis kelamin, usia perkawinan, jumlah anak dan pengeluaran tiap bulan. Sebanyak 579 suami dan istri orang Jawa yang berasal dari Yogyakarta, Surakarta, Banyumas, dan Pekalongan bersedia terlibat dalam penelitian ini. Data dikumpulkan dengan cara multistage random sampling, menggunakan instrumen kualitas perkawinan, dan dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar kualitas perkawinan orang Jawa tergolong tinggi, terutama pada kualitas kesejahteraan. Sementara itu, pada kualitas relasi menunjukkan bahwa sebagian besar orang Jawa berada pada kategori sedang. Tidak ada perbedaan kualitas perkawinan pada pria atau suami dan wanita atau istri. Kualitas perkawinan secara keseluruhan dipengaruhi oleh banyaknya anak dan pengeluaran per bulan, begitu pula kualitas hubungan atau relasi suami-istri. Kualitas kesejahteraan suami-istri tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah anak dan pengeluaran per bulan tetapi juga usia perkawinan
PENGGUNAAN GAWAI, INTERAKSI IBU-ANAK, DAN PERKEMBANGAN SOSIAL-EMOSIONAL ANAK PRASEKOLAH
Di era digital seperti saat ini, lingkungan anak dihadapkan dengan teknologi yang dapat memengaruhi perkembangannya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh karakteristik anak, karakteristik keluarga, penggunaan gawai, dan interaksi ibu-anak terhadap perkembangan sosial-emosional anak. Penelitian ini melibatkan 122 keluarga yang memiliki anak usia prasekolah yang dipilih secara acak. Lokasi penelitian dipilih secara purposive, yaitu di Kelurahan Kedung Badak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan alat bantu kuesioner dan selanjutnya dianalisis dengan analisis deskriptif dan uji regresi linear berganda. Penggunaan gawai anak terdiri dari durasi penggunaan, tingkat ketergantungan, dan kontrol orang tua. Hasil uji regrsi linear berganda menunjukkan bahwa meningkatnya tingkat ketergantungan anak pada gawai dapat menurukan perkembangan sosial-emosional anak, sedangkan meningkatnya interaksi ibu-anak dapat meningkatkan perkembangan sosial-emosional anak. Sementara itu, usia anak dan besar keluarga berpengaruh positif terhadap perkembangan sosial-emosional anak tetapi pendidikan ibu berpengaruh negatif terhadap perkembangan sosial-emosional anak. Untuk itu, orang tua hendaknya mengupayakan agar anak tidak menggunakan gawai terlalu sering dan lebih banyak memberikan kesempatan anak untuk bermain dan bersosialisasi. Pemerintah juga diharapkan dapat memanfaatkan program yang Posyandu dan Bina Keluarga Balita (BKB) untuk mengedukasi orang tua terkait pengasuhan di era digital, khususnya pengasuhan untuk anak usia prasekolah.In the digital era, the child environment is faced with technology that can influence child development. The aims of this research were to analyze the influence of child and family characteristics, gadget usage, and mother-child interaction on social-emotional development among preschool children. The research involved 122 families of preschool and selected randomly. The research location was chosen purposively that is Kedung Badak Village, Tanah Sareal Sub-district, Bogor City. Data was collected through interviews with questionnaires and then analyzed by descriptive and multiple linear regression test. The gadget usage consists of the duration of child’s gadget usage, child’s gadget addiction, and parental control. The results of multiple linear regression test shows that increasing the level of child\u27s gadget addiction can decrease social-emotional development, whereas the increasing mother-child interaction can increase social-emotional development. Meanwhile, child age and family size positively influence social-emotional development but mother\u27s education negatively affects social-emotional development. So, parents should strive for children not to use gadgets too often and to provide more opportunities for children to play and socialize. The government is also expected can educate parents about parenting in the digital age especially for early childhood parenting
MODEL OF FAMILY SUBJECTIVE WELL-BEING IN RURAL AND SUB URBAN FAMILIES
Well-being of family and child can help them to deal with problems that occur in their lives. The main objectives of the study were to analyze using Structural Equation Modeling (SEM) on the examination of the effect of family characteristics and child-parents relations on family and child subjective well-being. This was a census method and a descriptive cross-sectional study design. This study was conducted on highland farmer families living in Cianjur Regency as a typical rural family and the sub-urban of Bogor City boundary as a typical sub urban family. Samples of this study amounted to 203 families consisting of 99 families with males and 104 families with females who were examined through the census method in selected primary schools. There was no significantly difference between the reports of children and mothers to the variables of child and parent relations. However, there was a significantly difference between the child\u27s and mother\u27s reports to the subjective well-being variable with the condition that the child reports higher in subjective well-being for both material and non-material well-being compared to his/her mother\u27s report. The results showed that gender latent variables directly influence the latent variable of child-parent relations. Finally, the latent variable of child-parent relationship had a direct effect on the latent variable of family and children\u27s subjective well-being for both material and non-material
GENDER ANALYSIS OF CHILD INVESTMENT AND CHILD QUALITY AMONG FARMER FAMILIES IN INDONESIA
Families have obligations to protect and care for their children. The general objective of this study was to analyze the gender of the investment and the quality of the children in highland farmers. The study was conducted at highland areas at Cianjur Regency (Sindangjaya Village, Cipanas Sub-district) and Bogor Regency (Petir Village, Dramaga Sub-district). The findings showed that they were 4 (four) indicators of child investment latent variable such as the allocation of time togetherness between parents and children, investment in education and health, material allocations, and protection of children. Moreover, there were 5 (five) indicators of child quality latent variable such as the physical quality, learning achievement, child\u27s behavior, psycho-social-spiritual, and the quality of life. The first result showed that there was no difference between boys and girls in total of child investment, but there was significantly difference between boys and girls in total of child quality. The second result proved that the latent variable of child investment has significantly positive effect on latent variable of child quality. As recommendation, the study need to be continued with various family characteristics and broadening analysis such as the effect of child investment and child quality to the child happiness.Families have obligations to protect and care for their children. The general objective of this study was to analyze the gender of the investment and the quality of the children in highland farmers. The study was conducted at highland areas at Cianjur Regency (Sindangjaya Village, Cipanas Sub-district) and Bogor Regency (Petir Village, Dramaga Sub-district). The findings showed that they were 4 (four) indicators of child investment latent variable such as the allocation of time togetherness between parents and children, investment in education and health, material allocations, and protection of children. Moreover, there were 5 (five) indicators of child quality latent variable such as the physical quality, learning achievement, child\u27s behavior, psycho-social-spiritual, and the quality of life. The first result showed that there was no difference between boys and girls in total of child investment, but there was significantly difference between boys and girls in total of child quality. The second result proved that the latent variable of child investment has significantly positive effect on latent variable of child quality. As recommendation, the study need to be continued with various family characteristics and broadening analysis such as the effect of child investment and child quality to the child happiness
EMPATI AFEKTIF: MEDIATOR PENGARUH KETERLIBATAN ORANG TUA TERHADAP PERAN DEFENDER REMAJA DALAM PERUNDUNGAN DI SEKOLAH
Perundungan di sekolah telah menjadi suatu hal yang lazim sekarang ini meskipun bahaya perundungan terhadap perkembangan anak sudah cukup disadari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh keterlibatan orang tua terhadap peran defender yang dimediasi oleh empati pada remaja dalam peristiwa perundungan di sekolah. Penelitian melibatkan 320 remaja (siswa SMP kelas 7 hingga 9) dengan rentang usia 12-15 tahun (52,5% perempuan dan 47,5% laki-laki) yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Setiap partisipan diberi tiga alat ukur, yaitu keterlibatan orang tua, empati, dan peran defender dalam kasus perundungan di sekolah. Data dianalisis dengan menggunakan teknik Confirmatory Factor Analysis (CFA) dan proses Hayes Model 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi keterlibatan orang tua dalam kehidupan anak remajanya maka kecenderungan anak untuk menjadi defender pun semakin tinggi. Selain itu, empati afektif berpengaruh lebih kuat secara positif pada peran defender dibandingkan empati kognitif. Lebih jauh, hanya empati afektif yang memediasi secara parsial hubungan keterlibatan orang tua pada peran defender. Temuan penelitian menunjukkan bahwa orang tua perlu terlibat secara aktif di kehidupan remaja terutama dalam mengembangkan empati anak remajanya, khususnya empati afeksi, agar anak remaja mampu memilih peran sebagai defender untuk membela korban peristiwa perundungan di sekolah.Perundungan di sekolah telah menjadi suatu hal yang lazim sekarang ini meskipun bahaya perundungan terhadap perkembangan anak sudah cukup disadari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh keterlibatan orang tua terhadap peran defender yang dimediasi oleh empati pada remaja dalam peristiwa perundungan di sekolah. Penelitian melibatkan 320 remaja (siswa SMP kelas 7 hingga 9) dengan rentang usia 12-15 tahun (52,5% perempuan dan 47,5% laki-laki) yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Setiap partisipan diberi tiga alat ukur, yaitu keterlibatan orang tua, empati, dan peran defender dalam kasus perundungan di sekolah. Data dianalisis dengan menggunakan teknik Confirmatory Factor Analysis (CFA) dan proses Hayes Model 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi keterlibatan orang tua dalam kehidupan anak remajanya maka kecenderungan anak untuk menjadi defender pun semakin tinggi. Selain itu, empati afektif berpengaruh lebih kuat secara positif pada peran defender dibandingkan empati kognitif. Lebih jauh, hanya empati afektif yang memediasi secara parsial hubungan keterlibatan orang tua pada peran defender. Temuan penelitian menunjukkan bahwa orang tua perlu terlibat secara aktif di kehidupan remaja terutama dalam mengembangkan empati anak remajanya, khususnya empati afeksi, agar anak remaja mampu memilih peran sebagai defender untuk membela korban peristiwa perundungan di sekolah
INTERAKSI SUAMI-ISTRI, INTERAKSI ORANG TUA-ANAK, INTERAKSI TEMAN SEBAYA, DAN RESILIENSI REMAJA
Remaja merupakan fase rentan yang membutuhkan resiliensi untuk mendukung perkembangannya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh interaksi orang tua-anak, interaksi suami-istri, dan interaksi teman sebaya terhadap resiliensi remaja. Penelitian dilakukan di empat sekolah yaitu dua Sekolah Menengah Atas (SMA) dan dua Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang masing-masing berstatus negeri dan swasta di Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan sekolah dilakukan secara purposive. Contoh penelitian ini adalah ibu dan remaja yang saat pengambilan data berada pada kelas X. Penelitian ini melibatkan 240 ibu dan 240 remaja kelas X yang memiliki keluarga utuh dan tinggal bersama kedua orang tuanya. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensia (independent sample t-test dan uji regresi linear berganda). Hasil menunjukkan bahwa remaja laki-laki cenderung mengalami konflik lebih tinggi dengan teman sebaya sedangkan remaja perempuan merasa lebih dekat dengan teman sebaya. Sementara itu, remaja laki-laki cenderung memiliki resiliensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja perempuan. Remaja yang bersekolah di SMA cenderung memiliki resiliensi yang lebih tinggi. Interaksi orang tua-remaja serta interaksi remaja dengan teman sebaya berpengaruh positif terhadap resiliensi remaja. Hasil ini menegaskan bahwa orang tua diharapkan dapat meningkatkan kualitas interaksi dalam keluarga dan memberikan dorongan bagi remaja untuk memilih teman yang baik.The teenager is a vulnerable phase that needs resilience to optimize their development. This study aimed to determine the influence of husband-wife interaction, parent-child interaction, and the peer interaction on teenager’s resilience. The study was conducted in four vocational and nonvocational high schools (state and private high schools and vocational schools), in the city of Bogor, West Java. Schools were selected purposively. Respondents were 240 mothers and 240 teenagers from grade X who had intact families and lived with their parents. Data analysis used descriptive analysis and inferential analysis (independent sample t-test and multiple linear regression test). The results show that boys tend to have a higher conflict with peers while girls feel closer to peers. Moreover, boys have higher resilience than girls. The teenagers from nonvocational schools have higher resilience than ones from vocational schools. Parent-child interaction and peer interaction have a positive influence on teenager’s resilience. Therefore, parents are expected to improve the quality of interaction in the family and provide encouragement for teens to choose good friends