Jurnal Ilmu Keluarga & Konsumen
Not a member yet
388 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN ANTARA WORK-FAMILY CONFLICT DAN WORK-FAMILY BALANCE DENGAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA ISTRI YANG MENJALANI DUAL-EARNER FAMILY
Kepuasan pernikahan pada pasangan yang menjalani dual-earner family memiliki tantangan yang besar, terutama bagi istri, akibat tingginya stress yang bersumber dari pekerjaan maupun pernikahan dan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan work-family conflict dan work-family balance terhadap kepuasan pernikahan pada istri yang menjalani dual earner family. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Kepuasan pernikahan diukur menggunakan Couple Satisfaction Index, work-family conflict diukur dengan menggunakan Work-Family Conflict Scale, sementara work-family balance diukur dengan Work-Family Balance Scale. Responden dalam penelitian ini adalah 181 istri yang merupakan pegawai penuh waktu di Jabodetabek, dipilih dengan teknik convenience sampling. Teknik korelasi Pearson digunakan sebagai metode dalam melakukan pengujian hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa work-family conflict berhubungan negatif secara signifikan dengan kepuasan pernikahan, terutama dalam dimensi work-intervening with family (r=-0,346; p<0,01). Sementara itu, terdapat korelasi yang positif antara work-family balance dengan kepuasan pernikahan pada istri dalam dual-earner family (r=0,294; p<0,01). Penelitian ini menunjukkan bahwa menjalankan peran sebagai pekerja, istri, dan ibu dalam waktu yang bersamaan bukan hal yang mudah dan dapat menurunkan kepuasan pernikahan
PERAN DUKUNGAN SOSIAL BAGI KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS FAMILY CAREGIVER ORANG DENGAN SKIZOFRENIA (ODS) RAWAT JALAN
Ketidakmampuan memenuhi fungsi secara optimal merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh family caregiver dalam melakukan perawatan pada pasien orang dengan skizofrenia (ODS) sehingga dibutuhkan dukungan sosial yang dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dari family caregiver ODS. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peranan dari dukungan sosial terhadap kesejahteraan psikologis family caregiver ODS rawat jalan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pemilihan contoh menggunakan non-probability purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 57 partisipan. Data penelitian dikumpulkan dengan kuesioner multidimensional perceived social support (ά=0,659-0,757) dan Ryff Psychological well-being (ά=0,855-0,914) yang telah disesuaikan dengan subjek penelitian. Dukungan sosial diukur dari persepsi partisipan tentang dukungan sosial yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi friends berperan signifikan terhadap dimensi personal growth, positive relationship, dan purpose in life dari kesejahteraan psikologis family caregiver ODS; sementara dimensi family berperan terhadap dimensi environtmental mastery. Hasil penelitian juga menemukan bahwa dimensi significant others tidak berperan signifikan terhadap semua dimensi dari kesejahteraan psikologis family caregiver ODS. Berdasarkan hasil penelitian, dukungan sosial yang dipersepsikan oleh family caregiver ODS rawat jalan berperan penting karena dapat meningkatkan kesejahteraan psikologisnya. Hal ini akan dapat mengoptimalkan perawatan yang diberikan oleh family caregiver yang akan berdampak pada proses pemulihan dari anggota keluarga yang mengalami skizofrenia.Ketidakmampuan memenuhi fungsi secara optimal merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh family caregiver dalam melakukan perawatan pada pasien orang dengan skizofrenia (ODS) sehingga dibutuhkan dukungan sosial yang dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dari family caregiver ODS. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peranan dari dukungan sosial terhadap kesejahteraan psikologis family caregiver ODS rawat jalan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pemilihan contoh menggunakan non-probability purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 57 partisipan. Data penelitian dikumpulkan dengan kuesioner multidimensional perceived social support (ά=0,659-0,757) dan Ryff Psychological well-being (ά=0,855-0,914) yang telah disesuaikan dengan subjek penelitian. Dukungan sosial diukur dari persepsi partisipan tentang dukungan sosial yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi friends berperan signifikan terhadap dimensi personal growth, positive relationship, dan purpose in life dari kesejahteraan psikologis family caregiver ODS; sementara dimensi family berperan terhadap dimensi environtmental mastery. Hasil penelitian juga menemukan bahwa dimensi significant others tidak berperan signifikan terhadap semua dimensi dari kesejahteraan psikologis family caregiver ODS. Berdasarkan hasil penelitian, dukungan sosial yang dipersepsikan oleh family caregiver ODS rawat jalan berperan penting karena dapat meningkatkan kesejahteraan psikologisnya. Hal ini akan dapat mengoptimalkan perawatan yang diberikan oleh family caregiver yang akan berdampak pada proses pemulihan dari anggota keluarga yang mengalami skizofrenia
PENGGUNAAN THEORY OF PLANNED BEHAVIOR DALAM MENGANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI FOOD WASTE BEHAVIOR PADA DOSEN
Salah satu lingkungan yang turut berkontribusi menghasilkan sampah makanan ialah lingkungan institusi perguruan tinggi. Studi ini bertujuan menganalisis perilaku membuang makanan pada dosen dan faktor-faktor yang memengaruhinya dengan menggunakan kerangka Theory of Planned Behavior (TPB). Studi 1 dilakukan dengan mewawancari empat dosen yang mengikuti pelatihan dosen. Studi 2 dilakukan untuk menguji faktor yang memengaruhi perilaku membuang makanan dengan kerangka TPB secara kuantitatif. Survei daring dilakukan kepada 99 dosen dari 11 fakultas. Hasil analisis tematik secara kualitatif menemukan bahwa makanan yang terbuang sia-sia dianggap dapat dimanfaatkan kembali menjadi pupuk bagi kampus (behavioral belief). Rekan sejawat menjadi kelompok yang dapat mendorong atau menghambat perilaku membuang makanan dalam pelatihan (normative belief). Para dosen pun sepakat bahwa makanan dapat dibuang jika mengandung gizi yang berlebihan (control belief). Temuan tersebut kemudian dikonfirmasi dengan analisis regresi ganda yang menemukan bahwa hanya atittude dan subjective norm yang mampu memprediksi intensi secara signifikan. Selain itu, Perceived Behavioral Control (PBC) dan intensi secara terpisah mampu memprediksi perilaku membuang makanan secara signifikan. Identifikasi belief-belief sebagai anteseden variabel prediktor dalam kerangka TPB memudahkan peneliti untuk menangkap gambaran perilaku food waste secara spesifik. Hasil studi ini juga dapat menjadi acuan intervensi untuk mengurangi perilaku membuang makanan pada dosen di kegiatan pelatihan.Salah satu lingkungan yang turut berkontribusi menghasilkan sampah makanan ialah lingkungan institusi perguruan tinggi. Studi ini bertujuan menganalisis perilaku membuang makanan pada dosen dan faktor-faktor yang memengaruhinya dengan menggunakan kerangka Theory of Planned Behavior (TPB). Studi 1 dilakukan dengan mewawancari empat dosen yang mengikuti pelatihan dosen. Studi 2 dilakukan untuk menguji faktor yang memengaruhi perilaku membuang makanan dengan kerangka TPB secara kuantitatif. Survei daring dilakukan kepada 99 dosen dari 11 fakultas. Hasil analisis tematik secara kualitatif menemukan bahwa makanan yang terbuang sia-sia dianggap dapat dimanfaatkan kembali menjadi pupuk bagi kampus (behavioral belief). Rekan sejawat menjadi kelompok yang dapat mendorong atau menghambat perilaku membuang makanan dalam pelatihan (normative belief). Para dosen pun sepakat bahwa makanan dapat dibuang jika mengandung gizi yang berlebihan (control belief). Temuan tersebut kemudian dikonfirmasi dengan analisis regresi ganda yang menemukan bahwa hanya atittude dan subjective norm yang mampu memprediksi intensi secara signifikan. Selain itu, Perceived Behavioral Control (PBC) dan intensi secara terpisah mampu memprediksi perilaku membuang makanan secara signifikan. Identifikasi belief-belief sebagai anteseden variabel prediktor dalam kerangka TPB memudahkan peneliti untuk menangkap gambaran perilaku food waste secara spesifik. Hasil studi ini juga dapat menjadi acuan intervensi untuk mengurangi perilaku membuang makanan pada dosen di kegiatan pelatihan
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PELAKSANAAN FUNGSI KELUARGA DI INDONESIA
Pelaksanaan fungsi keluarga yang optimal dapat mendukung terwujudnya sumber daya manusia dan keluarga yang berkualitas. Karakteristik keluarga dapat memengaruhi optimalisasi fungsi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik sosial ekonomi, pengetahuan, dan akses informasi terhadap fungsi keluarga. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study dengan data sekunder dari Survei Indikator Kinerja Rencana Pembangunan Jangka Menengan Nasional tahun 2017. Pengolahan dan analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan tabulasi silang dan uji regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi responden terbanyak berusia dewasa akhir dan pendidikan sekolah dasar. Fungsi agama, ekonomi dan lingkungan adalah fungsi yang paling banyak diketahui oleh responden, sedangkan proporsi responden terbanyak mengetahui mengenai kependudukan berada kategori tinggi. Temuan menariknya adalah keluarga yang tinggal di perdesaan memiliki fungsi keluarga yang lebih baik dibandingkan dengan yang tinggal di perkotaan. Faktor yang berpengaruh signifikan terhadap pelaksanaan fungsi keluarga adalah usia, status perkawinan, status pekerjaan, tingkat pendidikan, pengetahuan fungsi keluarga, dan akses informasi. Hasil penelitian ini merekomendasikan perlunya sosialisasi fungsi keluarga secara intens ke sasaran utama program yaitu keluarga yang tinggal di perkotaan, keluarga pasangan usia muda, dan keluarga dengan tingkat pendidikan rendah.Pelaksanaan fungsi keluarga yang optimal dapat mendukung terwujudnya sumber daya manusia dan keluarga yang berkualitas. Karakteristik keluarga dapat memengaruhi optimalisasi fungsi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik sosial ekonomi, pengetahuan, dan akses informasi terhadap fungsi keluarga. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study dengan data sekunder dari Survei Indikator Kinerja Rencana Pembangunan Jangka Menengan Nasional tahun 2017. Pengolahan dan analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan tabulasi silang dan uji regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi responden terbanyak berusia dewasa akhir dan pendidikan sekolah dasar. Fungsi agama, ekonomi dan lingkungan adalah fungsi yang paling banyak diketahui oleh responden, sedangkan proporsi responden terbanyak mengetahui mengenai kependudukan berada kategori tinggi. Temuan menariknya adalah keluarga yang tinggal di perdesaan memiliki fungsi keluarga yang lebih baik dibandingkan dengan yang tinggal di perkotaan. Faktor yang berpengaruh signifikan terhadap pelaksanaan fungsi keluarga adalah usia, status perkawinan, status pekerjaan, tingkat pendidikan, pengetahuan fungsi keluarga, dan akses informasi. Hasil penelitian ini merekomendasikan perlunya sosialisasi fungsi keluarga secara intens ke sasaran utama program yaitu keluarga yang tinggal di perkotaan, keluarga pasangan usia muda, dan keluarga dengan tingkat pendidikan rendah
RESIKO PENGASUHAN PERMISIF ORANG TUA DAN NENEK PADA PENCAPAIAN BAHASA ANAK
Pencapaian bahasa anak dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pengasuhan orang tua. Penelitian ini mengkaji pencapaian bahasa anak usia 2 tahun pada sebuah keluarga di Samirono, Yogyakarta yang diasuh oleh orang tua dan nenek dengan pola asuh permisif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan resiko pengasuhan permisif yang diterapkan orang tua dan nenek pada pencapaian bahasa anak. Penelitian ini menggunakan model kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Informan dalam penelitian berjumlah empat orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Hubberman. Hasil penelitian menunjukkan peran nenek dalam pengasuhan lebih besar karena orang tua anak dalam penelitian ini mencari nafkah. Orang tua dan nenek kurang memberi stimulasi untuk perkembangan bahasa anak. Orang tua dan nenek juga membatasi anak untuk belajar berkomunikasi. Akibatnya, anak belum mampu untuk melakukan komunikasi sederhana dan baru dapat mengucapkan beberapa kata, seperti "emoh", "dah", "ma", "um", "a". Penelitian ini menggambarkan resiko dari penerapan pengasuhan permisif orang tua dan anak terhadap perkembangan bahasa anak.Pencapaian bahasa anak dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pengasuhan orang tua. Penelitian ini mengkaji pencapaian bahasa anak usia 2 tahun pada sebuah keluarga di Samirono, Yogyakarta yang diasuh oleh orang tua dan nenek dengan pola asuh permisif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan resiko pengasuhan permisif yang diterapkan orang tua dan nenek pada pencapaian bahasa anak. Penelitian ini menggunakan model kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Informan dalam penelitian berjumlah empat orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Hubberman. Hasil penelitian menunjukkan peran nenek dalam pengasuhan lebih besar karena orang tua anak dalam penelitian ini mencari nafkah. Orang tua dan nenek kurang memberi stimulasi untuk perkembangan bahasa anak. Orang tua dan nenek juga membatasi anak untuk belajar berkomunikasi. Akibatnya, anak belum mampu untuk melakukan komunikasi sederhana dan baru dapat mengucapkan beberapa kata, seperti "emoh", "dah", "ma", "um", "a". Penelitian ini menggambarkan resiko dari penerapan pengasuhan permisif orang tua dan anak terhadap perkembangan bahasa anak
MENCIPTAKAN LAYANAN PAUD YANG PRIMA MELALUI PENERAPAN PRAKTIK ACTIVITY BASED COSTING
Masalah keterbatasan anggaran dalam memenuhi kebutuhan konsumen di lembaga PAUD dapat diatasi dengan menerapkan praktik Activity Based Costing (ABC). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan langkah penerapan praktik ABC sebagai upaya untuk mengoptimalkan penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di RA Masyithoh. RA Masyithoh dipilih dengan pertimbangan lembaga ini telah menerapkan praktik ABC dalam menciptakan layanan PAUD yang prima. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis data model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan ada lima langkah yang dilakukan dalam menciptakan layanan PAUD yang prima melalui praktik ABC. Pertama, mengidentifikasikan, mendefinisikan, serta mengelompokkan aktivitas. Kedua, melakukan penelusuran secara langsung terhadap aktivitas dan objek biaya. Ketiga, membebankan biaya ke kelompok biaya aktivitas. Keempat, menghitung tarif aktivitas. Kelima, menyusunan laporan. Kelima langkah tersebut mampu menciptakan layanan prima dan meningkatkan kepuasan konsumen dengan indikasi terjadi peningkatan jumlah siswa di setiap tahunnya, anggaran yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan PAUD dapat terpenuhi, dan secara kelembagaan RA Masyithoh mengalami perkembangan dengan didirikannya Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain
PENGASUHAN IBU, KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN, DAN PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA 2-3 TAHUN DI WILAYAH PREVALENSI STUNTING
Ibu dan ayah memiliki peran yang sama dalam pengasuhan, namun peran ayah dalam pengasuhan masih terkategori rendah khususnya di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh karakteristik keluarga, karakteristik anak, pengasuhan ibu dan keterlibatan ayah dalam pengasuhan terhadap perkembangan kognitif anak. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Penelitian dilakukan di Desa Cibatok Dua, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor yang dipilih secara purposive sebagai wilayah dengan prevalensi stunting tinggi. Populasi penelitian sebesar 154 anak yang diperoleh dari sembilan Posyandu dengan total contoh 100 anak usia 2-3 tahun beserta keluarganya dan dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan perkembangan kognitif anak terkategori rendah dan tidak terdapat perbedaan pada anak laki-laki dan perempuan. Sementara itu, pengasuhan ibu terkategori rendah dan terdapat perbedaan pada anak laki-laki dan perempuan. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan usia anak, pendapatan keluarga, dan keterlibatan ayah dalam pengasuhan terhadap perkembangan kognitif anak. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa usia anak, pendapatan keluarga, dan keterlibatan ayah dalam pengasuhan berpengaruh positif signifikan terhadap kognitif anak.Mothers and fathers have the same role in parenting, but the role of fathers in parenting is still in the low category especially in Indonesia. The research purpose was to analyze the influence of family characteristics, child characteristics, mothering, and father involvement in parenting on child cognitive development. This study used a cross-sectional study design. The study was conducted in Cibatok Dua Village, Cibungbulang Sub District, Bogor Regency as a representative of the stunting high-prevalence area. Respondents were selected purposively. The population was 154 children from nine Posyandu with a total sample of 100 children aged 2-3 years and their families and selected using a simple random sampling technique. Data analysis used descriptive analysis and multiple linear regression analysis. Descriptive analysis results show that father involvement in parenting and child cognitive development is in a low category and there are no differences between boys and girls. However, mothering is in a low category and there are differences between boys and girls. The results of the regression test found that there was a significant positive effect of child age, family income, and father involvement in parenting on child cognitive development. The results of the research indicate that the child’s age, family income, and father involvement in parenting have a positive significant effect on child cognitive development
Adolescents’ Self Esteem in Intact and Single-Parent Families: Its Relation with Parent-Adolescent Communication and Attachment
Perkembangan self-esteem sangat penting bagi remaja. Self-esteem yang tinggi mampu memprediksi kesuksesan dan kesejahteraan kehidupan remaja di masa dewasanya kelak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh komunikasi dan kelekatan orang tua-remaja terhadap self-esteem remaja pada keluarga utuh dan keluarga tunggal. Desain penelitian ini adalah cross-sectional study dan dilakukan di SMA dan SMK negeri maupun swasta di Kota Bekasi. Pengambilan contoh sekolah dilakukan secara purposive. Jumlah contoh dalam penelitian ini sebanyak 200 remaja yang sesuai kriteria, yaitu siswa kelas X - XII dengan rentang usia 14-19 tahun dari sekolah yang terpilih di Kota Bekasi, yang berasal dari keluarga utuh dan tunggal. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensia (uji independent t-test dan uji regresi linear berganda). Hasil penelitian menunjukkan bahwa status keluarga berpengaruh signifikan terhadap self-esteem remaja. Komunikasi orang tua-remaja dan kelekatan orang tua-remaja berpengaruh signifikan positif terhadap self-esteem remaja. Implikasi penelitian ini mengindikasikan bahwa perlu adanya dukungan dan edukasi untuk keluarga dan remaja agar dapat meningkatkan self-esteem terutama pada remaja dari keluarga tunggal, misalnya mengubah persepsi negatif ke positif (merasa diri tidak berguna, tidak berharga menjadi diri yang berguna dan berharga bagi orang lain).The developmental of self-esteem is very important for adolescents. The high self-esteem refers to ability to predict the success and well-being of adolescents in their adulthood. This study examines the influence of parents-adolescent communication and attachment on adolescents’ self-esteem in intact and single-parent families. This research design was cross-sectional study and was conducted in public and private high schools and vocational schools in Bekasi City. School selection is done purposively. Participants of this study were 200 students who fit with the criteria which are students of class X - XII with an age range of 14-19 years from selected schools in the city of Bekasi from intact and single families. Data analysis wa done by descriptive and inferential analysis (independent t-test and multiple linear regression test). The results showed that family status has a significant influence on adolescent’s self-esteem. Parent-adolescent communication and parent-adolescent attachment have significant positive influence on adolescent’s self-esteem. The implications of research indicates the importance of support and education for families and adolescents to improve self-esteem, especially in adolescents from a single family, for example, changing negative perceptions to positive (feeling yourself useless, worthless to be useful and valuable for others)
KONSEP DIRI, GAYA HIDUP, STRATEGI PEMASARAN, DAN PEMBELIAN IMPULSIF ANTARGENERASI
Pembelian impulsif adalah tindakan membeli yang sebelumnya tidak diakui secara sadar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsep diri, gaya hidup, dan strategi pemasaran terhadap perilaku pembelian impulsif pada generasi baby boomer, generasi X, dan generasi Y. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional study dengan lokasi penelitian di DKI Jakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung menggunakan kuesioner. Sebanyak 90 orang ibu rumah tangga dipilih menggunakan metode quota sampling. Analisis data menggunakan one way anova dan SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukkan konsep diri responden cenderung negatif. Gaya hidup orientasi sosial, orientasi keluarga dan produktif, serta orientasi produktif mendominasi generasi baby boomer. Pada generasi X, orientasi keluarga dan produktif, orientasi produktif, dan orientasi sosial mendominasi generasi ini. Pada generasi Y, orientasi keluarga mendominasi orientasi gaya hidup pada generasi ini. Strategi pemasaran termasuk kategori sedang. Hampir semua responden tergolong rendah pembelian impulsifnya. Artinya, ketiga generasi ini cenderung berbelanja secara terencana dan tidak spontan dalam melakukan pembelian. Hasil penelitian menemukan tidak adanya perbedaan yang signifikan pada konsep diri, gaya hidup, strategi pemasaran, dan pembelian impulsif antara ketiga generasi. Gaya hidup berpengaruh signifikan terhadap pembelian impulsif pada semua generasi, generasi baby boomer, dan generasi X, kecuali generasi Y. Variabel lainnya dalam penelitian ini tidak berpengaruh signifikan terhadap pembelian impuslif.Impulsive buying is an act of buying that was not previously recognized consciously. This study aimed to analyze the influence of self-concept, lifestyle, and marketing strategies on impulsive buying behavior in the Baby Boomer generation, X generation, and Y generation. This study used a cross sectional study design with direct interviews using questionnaires in DKI Jakarta Province. Ninety housewives were selected using the quota sampling method. Data analysis using one way anova and SEM-PLS. The results showed that the respondents\u27 self-concept tended to be negative. Lifestyle of social orientation, family and productive orientation, and productive orientation dominate the baby boomer generation. In X generation, family and productive orientation, productive orientation, and social orientation dominate this generation. In Y generation, family orientation dominates the lifestyle orientation of this generation. The marketing strategy is in the medium category. Almost all respondents were classified as low on impulsive buying. It menas that three generations tend to shop by plan and not spontaneous in making buying decision. This research also found that there isi no significant differences in self-concept, lifestyle, marketing strategy, and impulsive buying between the three generations. Lifestyle significantly influence impulsive buying in all generations, the baby boomer generation, and X generation, except Y generation. Other variables in this study have no significant effect on impulsive buying
SUMBER STRES, STRATEGI KOPING, GEJALA STRES, DAN KEPUASAN PERKAWINAN PADA ISTRI BEKERJA
Istri yang bekerja di sektor publik mengalami peningkatan setiap tahunnya baik pada jenis pekerjaan formal maupun informal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan dan pengaruh sumber stres, strategi koping, dan gejala stres terhadap kepuasan perkawinan pada keluarga suami-istri bekerja. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Responden penelitian yaitu istri yang bekerja di sektor formal-informal, keluarga utuh, dan bersedia terlibat dalam penelitian. Penarikan responden menggunakan metode probability sampling dan teknik disproportional stratified random sampling dengan responden berjumlah 120 (n=65 formal) dan (n= 55 informal). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia, lama pendidikan, pendapatan per kapita, sumber stres, strategi koping, dan kepuasan perkawinan pada istri dengan jenis pekerjaan formal memiliki nilai rata-rata yang lebih tinggi. Besar keluarga, lama pernikahan, lama jam kerja, lama hari kerja, dan gejala stres pada istri dengan jenis pekerjaan informal memiliki nilai rata-rata yang lebih tinggi. Kepuasan perkawinan dipengaruhi secara positif signifikan oleh strategi koping dan dipengaruhi secara negatif signifikan oleh gejala stres. Karakteristik pekerjaan (jenis pekerjaan, lama jam kerja, lama hari kerja) memiliki pengaruh tidak langsung terhadap kepuasan perkawinan.Wives who work in the public sector have increased every year in both formal and informal occupations. This study aims to analyze the differences and effects of stress sources, coping strategies, and stress symptoms on marital satisfaction in working for married families. This study uses a cross-sectional study design. Research respondents are wives who work in the formal-informal sector, intact families, and are willing to be involved in the research. Withdrawal of respondents using probability sampling methods and disproportional stratified random sampling techniques with respondents totaling 120 (n = 65 formal) and (n = 55 informal). The results showed that age, length of education, per capita income, sources of stress, coping strategies, and marital satisfaction with wives with formal occupations had higher mean values. Large family, length of the marriage, long hours of work, length of workdays, and symptoms of stress on wives with informal types of work have a higher average value. Marriage satisfaction is significantly positively influenced by coping strategies and negatively affected significantly by stress symptoms. Job characteristics (the type of work, length of work hours, length of workdays) have an indirect effect on marital satisfaction