Intermestic: Journal of International Studies
Not a member yet
61 research outputs found
Sort by
Bingkai Identitas dalam Konflik Geopolitik: Intervensi Militer Rusia di Ukraina
This article is written to analyze the conflict between Russia and Ukraine that led to the fall of Krimea. Russia defends its act by stating that the annexation of Krimea was an effort to protect Russian ethnicities from the political turmoil happened during revolutionary movement. By specifically analyzing the similarities on identity between Ukraines in Crimea with Russian ethnicities, this article argues that bounded historical similarities could trigger states to oppress other to achieve its geopolitical ambition. This article revealed that certain similar identities by some states could be used as an instrument to justify a unilateral action towards other country.Tulisan ini bertujuan untuk menelaah konflik antara Rusia dengan Ukraina yang berakhir dengan lepasnya wilayah Krimea. Rusia membela diri dengan menyatakan bahwa aneksasi terhadap Krimea adalah upaya membebaskan wilayah tersebut bertujuan untuk melindungi mayoritas warga etnisnya dari dampak ketidakstabilan politik yang terjadi di Ukraina akibat munculnya gerakan revolusioner. Dengan analisis secara khusus yang menitik beratkan pada kesamaan identitas dari warga Ukraina di Krimea dengan orang-orang Rusia, tulisan ini secara umum berargumen bagaimana secara historis kesamaan identitas dapat menjadi faktor yang mendukung tindakan opresif yang dilakukan oleh suatu negara dalam meraih ambisi geopolitiknya. Tulisan ini mengungkap bagaimana suatu identitas yang dimiliki bersama oleh negara dengan negara lainnya dapat digunakan sebagai isu krusial untuk menjustifikasi tindakan unilateral terhadap negara lain
China’s Belt Road Initiative: Dalam Pandangan Teori Geopolitik Klasik
This article aims to examine the issue of China's Belt Road Initiative (BRI) in the view of classical geopolitical theory. The theory basically appeared in the 19th century. The classical geopolitical theory used in this article is McKinder Theory and Mahan Theory. Nevertheless, the theory is still relevant enough to answer China's policy as well as what geopolitical advantages the country gains. By using qualitative research, classical geopolitical theory was used to examine China's BRI policy on the construction of terrestrial trade corridor passes through Eurasia region and maritime silk road which cross strategic waterway. This article concludes that when the project is implemented, China will not only benefit economically but also be able to change the geopolitical constellation of the world. Although it is still too early, the BRI project has the potential to make China as the next superpower.Artikel ini bertujuan untuk mengkaji isu Belt Road Initiative (BRI) Cina dalam pandangan teori geopolitik klasik. Teori tersebut pada dasarnya muncul pada abad ke-19. Teori geopolitik klasik yang digunakan dalam artikel ini adalah Teori McKinder dan Teori Mahan. Namun demikian, teori itu masih cukup relevan untuk menjawab kebijakan Cina serta keuntungan geopolitik apa yang diperoleh negara tersebut. Dengan menggunakan penelitian kualitatif, teori geopolitik klasik digunakan untuk mengkaji kebijakan BRI Cina pada pembangunan jalur koridor perdagangan darat yang melewati wilayah Eurasia dan jalur perdagangan maritim yang melewati perairan strategis dunia. Artikel ini menyimpulkan bahwa ketika proyek tersebut terlaksana, Cina tidak hanya akan mendapatkan keuntungan secara ekonomi tetapi juga mampu mengubah konstelasi geopolitik dunia. Walaupun masih terlalu dini, proyek BRI memiliki potensi untuk menjadikan Cina sebagai kekuatan utama dunia yang baru
Japan Military Export Ban Lift in 2014 Under Shinzo Abe Administration
This article analyzes Japan’s interest in revoking its self-imposed military export ban in 2014 despite of its decades-long lucrative pacifism. The pacifism implementations includes partial and total military export ban, consecutively in 1967 and 1976. To puzzle out the question, this journal article utilized “Balance of Power” Concept by Morgenthau. This article found out that Shinzo Abe grand vision to transfer and export weaponries is balancing People’s Republic of China assertiveness in East China Sea by (1) reinforcing military alliances and (2) enhancing internal armaments. The alliances were strengthened by distributing weaponries to states in tension with People’s Republic of China and fortifying military industry cooperation with United States. The domestic military buildup was expected to escalate as arm export stimulated their domestic defense industry development. That includes the economic growth stimulus under Abenomics, in which also aimed to increase the military budget that leads to more robust defense.Artikel ini menganalisa kepentingan Jepang dalam pencabutan larangan ekspor senjata di tahun 2014. Sebagai negara yang menganut Pasifisme, Jepang melakukan larangan ekspor senjata parsial (1967) dan total (1976). Dengan menggunakan konsep Balance of Power dari Morgenthau, artikel ini menemukan bahwa visi utama Shinzo Abe untuk terlibat dalam ekspor dan transfer persenjataan adalah mengimbangi asertifitas Republik Rakyat China di Laut China Timur dengan meningkatkan aliansi militer dan memperkuat kekuatan militer dalam negeri. Hubungan keamanan dengan negara aliansi dipererat dengan mendistribusikan persenjataan kepada negara-negara yang bersengketa dengan Republik Rakyat China dan meningkatkan kerjasama militer dengan Amerika Serikat . Penguatan kekuatan militer internal dapat tercapai karena ekspor militer menstimulus pengembangan industri militer domestik. Hal tersebut juga memicu pertumbuhan ekonomi dalam program Abenomics, yang juga ditujukan untuk meningkatkan anggaran milite
Hard Infrastructure as Local Economic Development (LED) Enabling Environment in Selected Local Governments in Aichi Prefecture, Japan
The study identified the Local Economic Development enabling environment to support small and medium enterprises (SMEs) in Aichi Prefecture, Japan. It employed participant observation research method in the national, regional, prefectural, city, and town governments, academic and research institutions, SMEs, chamber of commerce, business associations, and communities’ levels in Aichi Prefecture. The study revealed that Japanese government provides business support for SMEs as the force behind an economy with thriving SMEs industry. The support to hard infrastructure was identified as LED enabling environment fostering connectedness, innovation and value creation for SMEs’ attraction, growth, and global expansion. This is common among the selected local governments towards building up local competitiveness, addressing job and wealth creation, and promoting liveability through hard infrastructure development. The LED in Japan can be applied as a model for developing countries, especially in the ASEAN Region, in addressing poverty reduction and wealth creation.Studi ini mengidentifikasi lingkungan yang memungkinkan Pembangunan Ekonomi Lokal (LED) untuk mendukung usaha kecil dan menengah (UKM) di Prefektur Aichi, Jepang. Studi ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian observasi partisipan di level nasional, regional, prefektur, kota, dan pemerintah kota, akademis dan lembaga penelitian, UKM, kamar dagang, asosiasi bisnis, dan masyarakat di Prefektur Aichi. Penelitian ini menemukan bahwa pemerintah Jepang memberikan dukungan bisnis untuk UKM sebagai kekuatan di balik ekonomi dengan industri UKM yang berkembang pesat. Dukungan terhadap infrastruktur fisik diidentifikasi sebagai lingkungan yang memungkinkan pengembangan LED dalam mendorong keterhubungan, inovasi, dan penciptaan nilai untuk daya tarik UKM, pertumbuhan dan ekspansi global. LED di Jepang dapat diaplikasikan sebagai model bagi negara-negara berkembang, terutama di Wilayah ASEAN, dalam menangani pengurangan kemiskinan dan penciptaan kekayaan
Logika Dilema Keamanan Asia Timur dan Rasionalitas Pengembangan Senjata Nuklir Korea Utara
This article examined how the rationality of nuclear weapons development of North Korea related to the security dilemma. The discussion includes descriptions of chain reactions from the cycle of security dilemmas that create the dynamics of an arms race that threatens the stability of the region's security. The security dilemma for North Korea is characterized by the polarity of forces, historical factors and social construction of amity and enmity. Through the literature study method, the theoretical concepts of security dilemmas serve as the main basis in understanding North Korea's nuclear weapons development. Therefore, this article concluded that the security dilemma in East Asia stems from the fear and threat due to the increasing power and military capability of other countries in the region.Artikel ini mengkaji tentang rasionalitas pengembangan senjata nuklir oleh Korea Utara dikaitkan dengan dilema keamanan di Asia Timur. Pembahasan meliputi deskripsi tentang reaksi berantai dari siklus dilema keamanan yang menciptakan dinamika perlombaan senjata yang mengancam stabilitas keamanan kawasan. Dilema keamanan bagi Korea Utara ditandai dengan polaritas kekuatan, faktor historis dan konstruksi sosial amity dan enmity. Melalui metode studi literatur, konsep teoritis dilema keamanan dijadikan landasan utama dalam memahami pengembangan senjata nuklir Korea Utara. Artikel ini menyimpulkan bahwa dilema keamanan di kawasan Asia Timur bersumber pada rasa takut dan ancaman akibat peningkatan kekuatan dan kapabilitas militer negara-negara lain di kawasan
Urgensi Indian Ocean Rim Association (IORA) dalam Diplomasi Maritim Indonesia
This article examines the recent trend of increasing confidence in President Joko Widodo's administration to conduct multilateral diplomacy in order to complement bilateral diplomacy. Assuming that Indonesia as the chair of IORA 2015-2017 has strategic opportunities in designing, organizing and implementing IORA's pillars, goals, future direction. By using qualitative method, this article argues that some of the achievements of IORA in which Indonesian diplomacy has contributed during its leadership to face future challenges. Indonesia's maritime diplomacy during its leadership at IORA has significantly defined the fundamental contributions in directing the existence of IORA to anticipate future challenges.Artikel ini mengkaji kecenderungan terakhir dari meningkatnya kepercayaan diri pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk melakukan diplomasi multilateral dalam rangka melengkapi diplomasi bilateral. Dengan asumsi bahwa Indonesia sebagai ketua IORA 2015-2017 memiliki peluang strategis dalam merancang, mengorganisasikan, dan mengimplementasikan pilar, tujuan, arah masa depan IORA. Dengan menggunakan metode kualitatif, artikel ini menunjukkan beberapa pencapaian IORA di mana diplomasi Indonesia telah berkontribusi selama kepemimpinannya untuk menghadapi tantangan di masa depan. Diplomasi maritim Indonesia selama kepemimpinannya di IORA telah secara signifikan menentukan berbagai kontribusi mendasar dalam mengarahkan keberadaan IORA untuk mengantisipasi tantangan di masa depan
A Crack in The Glass Ceiling: A Study on Promotion Bias to Top-Level Management Positions in Tacloban Academes
oai:ojs.intermesticjournal.fisip.unpad.ac.id:article/85This research sought to determine whether the “glass ceiling” still existed in one of the major working environments in Eastern Visayas, Tacloban City; as well as to gain insights on one of its causes—ineffective Workforce Diversity Management. Semi-structured interviews were used to gather data with the Measures of Central Tendency used to ascertain its existence within a 10-year period in terms of (1) pay inequities between men and women and (2) frequency of women top-level managers. The research findings show that 1 out of 3 top-level managers in educational institutions in Tacloban, were women; with which 90% were positioned in lower-paying schools. The results suggest that this gender employment discrimination stems from the organizations’ approach to diversity. Of the four approaches, the most practiced were ignoring diversity and begin the process of dealing with diversity.Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah “atap kaca” masih dijumpai dalam lingkungan kerja di Visayas Bagian Timur, Kota Tacloban, juga untuk mendapatkan gambaran salah satu penyebabnya – kekurang efektifan Manajemen Keragaman Tenaga Kerja. Wawancara semi terstruktur dilakukan untuk pengumpulan data dengan Pengukuran Tendensi Sentral yang digunakan untuk melihat data sepuluh tahunan dari (1) ketidakadilan pembayaran antara pria dan wanita dan (2) frekuensi perempuan yang menduduki jabatan manajerial tingkat atas. Hasil penelitian menunjukan bahwa satu dari tiga manajer tingkat atas di institusi pendidikan di Tacloban adalah perempuanl dengan 90 persennya ditempatkan di sekolah dengan bayaran rendah. Hasilnya menunjukan bahwa adanya diskriminasi gender dalam pekerjaan berakar dari pendekatan organisasi terhadap keberagaman. Dari empat pendekatan yang ada, praktik yang paling banyak terjadi adalah pengabaian keberagaman dan memulai proses untuk mengatasi keberagaman
ASEAN-U.S Cooperation on Renewable Energy: ASEAN’s Response to Climate Change Phenomenon
Climate change phenomenon has become one of the major issues discussed in the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). ASEAN as one of the most influential regions in the world tries to combat climate change by developing renewable energy and creating a better living in the region. To pursue its ambition, ASEAN cooperates with United States of America (U.S) as one of its dialogue partners following the implementation of the ASEAN Plan of Action for Energy Cooperation (APAEC) 2016-2025. This paper is using qualitative research method through secondary data analysis to explain how ASEAN-U.S cooperation on renewable energy helps ASEAN to combat climate change. Throughout the research, ASEAN-U.S cooperation on renewable energy is potentially beneficial and helpful for ASEAN to pursue its ambition in terms of investment provision and technology and information exchange.Perubahan iklim telah menjadi salah satu isu yang paling banyak diperbincangkan dalam Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN). ASEAN sendiri sebagai salah satu kawasan yang paling berpengaruh berusaha memerangi perubahan iklim dengan pengembangan energi terbarukan dan penciptaan standar kehidupan di dalam wilayahnya. Untuk mengejar ambisi ini, ASEAN bekerjasama dengan Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu partner dialog ASEAN di dalam implementasi ASEAN Plan of Action for Energy Cooperation (APAEC) 2016-2025. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif melalui analisa data sekunder untuk menjelaskan bagaimana kooperasi ASEAN-AS membantu ASEAN untuk memerangi perubahan iklim. Berdasarkan penelitian, ditemukan bahwa kerjasama dalam hal energi terbarukan antara ASEAN-AS berpotensi untuk membantu ASEAN mengejar ambisinya dalam hal perencanaan investasi, serta pertukaran teknologi dan informasi
Dimensi Internasional Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual Komunal dan Tradisional di Indonesia
This article discusses the international dimensions of communal intellectual property rights protection in Indonesia. In this context, UNESCO as an international actor has been actively involving in cultural heritage preservation, including in the case of Batik and Wayang. Nevertheless, the most important issue is how to encourage policymakers to provide an appropriate system in conserving and protecting traditional communities and their heritages. Through the literature review, this study has found that international actors such as UNESCO have contributions in formulating policy framework regarding the efforts of protecting cultural heritage and traditions as part of communal intellectual property rights in Indonesia, especially to provide international legal instruments.Artikel ini membahas dimensi internasional dalam upaya perlindungan hak kekayaan intelektual komunal dan tradisional di Indonesia. Dalam konteks ini, UNESCO sebagai aktor internasional terlibat di dalam upaya pelestarian warisan budaya, termasuk dalam kasus Batik dan Wayang. Namun, isu yang paling penting adalah bagaimana mendorong pembuat kebijakan publik untuk menyediakan sistem yang memadai dalam melestarikan sekaligus melindungi keberadaan masyarakat tradisional dan warisan mereka. Melalui metode studi pustaka, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan aktor internasional seperti UNESCO memberikan sumbangan terhadap pembentukan kerangka kebijakan Pemerintah Indonesia dalam upaya melindungi warisan-warisan budaya dan tradisi sebagai bagian dari hak kekayaan intelektual komunal, khususnya melalui instrumen-instrumen legal internasional