Jurnal SPORTIF : Jurnal Penelitian Pembelajaran
Not a member yet
381 research outputs found
Sort by
Analisis kinerja komite pada Tour de Borobudur ke-23: Pendekatan psikologis
Psychological factors are one of the aspects that influence committee performance. The better the psychological quality of individuals, the higher the performance produced. This study aims to analyze the performance of the Tour de Borobudur XXIII committee through a psychological approach. The research method used is quantitative descriptive with an online questionnaire (Google Form) as the research instrument. With the purposive sampling technique, 29 research samples were obtained that met the inclusion and exclusion criteria. Data collection was conducted using a standardized questionnaire with a Likert scale, assisted by SPSS software. The questionnaire was used to analyze psychological indicators such as personal beliefs, task meaning, social pressure, career opportunities, interpersonal development, love events, extrinsic rewards, self-autonomy, psychological contracts, and job satisfaction as aspects of evaluating the performance of the Tour de Borobudur committee. The study\u27s results indicate that the performance of the Tour de Borobudur XXIII committee falls into the moderate category. With a score of 3 out of 29 committee members falling into the very good category, 4 committee members in the good category, 12 committee members in the moderate category, 8 committee members in the poor category, and 2 committee members in the very poor category. The conclusion is that psychological factors influence the performance level of the Tour de Borobudur committee. Through psychological approach instruments, committee performance is expected to be analyzed and provide accurate information regarding individual committee performance. The study provides an overview of committee performance based on a psychological approach. Faktor psikologis merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi kinerja komite. Semakin baik kualitas psikologis individu, semakin tinggi kinerja yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja Komite Tour de Borobudur XXIII melalui pendekatan psikologis. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan instrumen penelitian berupa kuesioner online (Google Form). Dengan teknik sampling purposive, diperoleh 29 sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner standar dengan skala Likert, dibantu oleh perangkat lunak SPSS. Kuesioner tersebut digunakan untuk menganalisis indikator psikologis seperti keyakinan pribadi, makna tugas, tekanan sosial, peluang karier, perkembangan interpersonal, peristiwa cinta, penghargaan ekstrinsik, otonomi diri, kontrak psikologis, dan kepuasan kerja sebagai aspek penilaian kinerja komite Tour de Borobudur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja panitia Tour de Borobudur XXIII masuk dalam kategori sedang. Dengan skor 3 dari 29 anggota panitia masuk dalam kategori sangat baik, 4 anggota panitia dalam kategori baik, 12 anggota panitia dalam kategori sedang, 8 anggota panitia dalam kategori buruk, dan 2 anggota panitia dalam kategori sangat buruk. Kesimpulan adalah bahwa faktor psikologis mempengaruhi tingkat kinerja panitia Tour de Borobudur. Melalui instrumen pendekatan psikologis, kinerja panitia diharapkan dapat dianalisis dan memberikan informasi akurat mengenai kinerja individu panitia. Penelitian ini memberikan gambaran umum mengenai kinerja panitia berdasarkan pendekatan psikologis
Terjemahan dan validasi psikometrik versi Indonesia dari Skala Pengendalian Perhatian (ATTC) dalam konteks bola basket.
Attention control is vital for athletic performance, particularly in high-pressure situations requiring quick decisions and sustained focus. The Attention Control Scale (ATTC) is a concise self-report measure of attentional skills, yet no validated Indonesian version exists—limiting sport psychology assessment in the country. This study translated the ATTC into Indonesian using a forward–backward translation procedure and evaluated its psychometric properties among 300 collegiate basketball athletes in Pekanbaru, Indonesia. Data were collected via online and offline self-administered questionnaires and analysed with SPSS 26 and AMOS 24, including descriptive statistics, internal consistency, test–retest reliability, and confirmatory factor analysis (CFA). CFA confirmed the two-factor structure—Focusing Attention and Shifting Attention—with good fit indices (CFI = 0.93; TLI = 0.91; RMSEA = 0.065; SRMR = 0.057). The scale showed strong internal consistency (α = 0.86) and high test–retest reliability (ICC = 0.89). While the ATTC is a self-report tool and not a substitute for objective tests, it offers a practical, culturally adapted instrument for coaches, sport psychologists, and educators to assess and enhance athletes’ attentional readiness.Kontrol perhatian sangat penting untuk kinerja atletik, terutama dalam situasi bertekanan tinggi yang memerlukan keputusan cepat dan fokus yang berkelanjutan. Skala Kontrol Perhatian (ATTC) adalah alat ukur self-report yang ringkas untuk keterampilan perhatian, namun tidak ada versi Indonesia yang tervalidasi—membatasi penilaian psikologi olahraga di negara ini. Studi ini menerjemahkan ATTC ke dalam bahasa Indonesia menggunakan prosedur terjemahan maju-mundur dan mengevaluasi properti psikometriknya di antara 300 atlet basket perguruan tinggi di Pekanbaru, Indonesia. Data dikumpulkan melalui kuesioner mandiri online dan offline, dan dianalisis menggunakan SPSS 26 dan AMOS 24, termasuk statistik deskriptif, konsistensi internal, reliabilitas uji ulang, dan analisis faktor konfirmatory (CFA). CFA mengonfirmasi struktur dua faktor—Focusing Attention dan Shifting Attention—dengan indeks kesesuaian yang baik (CFI = 0.93; TLI = 0.91; RMSEA = 0.065; SRMR = 0.057). Skala ini menunjukkan konsistensi internal yang kuat (α = 0.86) dan reliabilitas uji ulang yang tinggi (ICC = 0.89). Meskipun ATTC adalah alat self-report dan bukan pengganti tes objektif, alat ini menawarkan instrumen praktis dan disesuaikan secara budaya bagi pelatih, psikolog olahraga, dan pendidik untuk menilai dan meningkatkan kesiapan perhatian atlet
Model pembelajaran berbasis permainan tradisional untuk keterampilan berlari dasar pada siswa sekolah dasar dengan gangguan intelektual ringan
Students with intellectual disabilities often face barriers in developing fundamental motor skills, especially running, because of limited adaptability and slower learning processes. Previous physical education practices in special schools remain conventional and rarely offer models tailored to these students. To address this gap, this research developed a basic running movement model based on traditional games, chosen for their simplicity, cultural relevance, and ability to foster motivation and engagement. The study applied a Research and Development (R&D) approach adapted from Borg & Gall, covering preliminary research stages, planning, expert validation, limited trials, and broader implementation. Participants involved 50 students with mild intellectual disabilities from four special schools in Jakarta. Expert validation using the Content Validity Ratio (CVR = 0.7) and reliability analysis with Cronbach\u27s Alpha (α = 0.839) confirmed that the model was valid and reliable. Effectiveness testing through pre- and post-intervention assessments significantly improved students\u27 running abilities (t = 4.388, p < 0.05). These results indicate that the model is feasible for classroom implementation, as it enhances motor skills, increases student motivation, and provides an inclusive learning medium. Compared to previous studies, the novelty of this research lies in systematically integrating traditional games into structured running instruction for students with intellectual disabilities. The model is also low-cost, adaptable to school facilities, and promotes enjoyment in physical activity.Siswa dengan disabilitas intelektual sering menghadapi hambatan dalam mengembangkan keterampilan motorik dasar, terutama berlari, karena keterbatasan adaptasi dan proses belajar yang lebih lambat. Praktik pendidikan jasmani di sekolah khusus hingga kini masih konvensional dan jarang menawarkan model yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa ini. Untuk mengatasi kesenjangan ini, penelitian ini mengembangkan model gerakan berlari dasar berdasarkan permainan tradisional, yang dipilih karena kesederhanaannya, relevansi budaya, dan kemampuannya untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan. Studi ini menerapkan pendekatan Penelitian dan Pengembangan (R&D) yang diadaptasi dari Borg & Gall, mencakup tahap penelitian awal, perencanaan, validasi ahli, uji coba terbatas, dan implementasi yang lebih luas. Peserta penelitian melibatkan 50 siswa dengan disabilitas intelektual ringan dari empat sekolah khusus di Jakarta. Validasi ahli menggunakan Rasio Validitas Konten (CVR = 0,7) dan analisis reliabilitas dengan Cronbach\u27s Alpha (α = 0,839) menunjukkan bahwa model tersebut valid dan reliabel. Uji efektivitas melalui penilaian pra- dan pasca-intervensi secara signifikan meningkatkan kemampuan berlari siswa (t = 4,388, p < 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa model ini layak untuk diterapkan di kelas, karena meningkatkan keterampilan motorik, meningkatkan motivasi siswa, dan menyediakan media pembelajaran inklusif. Dibandingkan dengan studi sebelumnya, keunikan penelitian ini terletak pada integrasi sistematis permainan tradisional ke dalam instruksi berlari yang terstruktur untuk siswa dengan disabilitas intelektual. Model ini juga berbiaya rendah, dapat disesuaikan dengan fasilitas sekolah, dan mempromosikan kesenangan dalam aktivitas fisik
Latihan fisik tenis melayani kinerja pada remaja: Tinjauan sistematis
Physical training on improving court tennis service skills in adolescent athletes is one part of mastering skills for teenagers. However, not all exercises that have been done by teenagers can be successful in mastering tennis serve skills. The main objective of this study is to explain physical training to support service skills in tennis. This study follows the Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA) and Meta-analysis. Scientific articles are obtained from Elsevier, Pubmed, Science Direct, Web of Science, National Index, Google Scholar, and Journal of Sports Coaching. After following the exclusion criteria, only 8 articles remain. The review successfully showed that most research, and quantitative approaches are the methods and types of research used. One important aspect of physical training is support for service skills on the tennis court. The practice study program lasts 3 weeks to 12 weeks. They do one to > two days per week. Conclusion The findings suggest that physical exercise can increase the speed of tennis serves. Recommended physical exercises to improve tennis serve include Exercises, Core Legs, Stability, and Arms. Further research can be continued by mapping research analysis on this topic using other methods to explore various forms of exercises for mastering skills in sports. This literature review can also be continued by discussing other topics related to mastery of skills.Latihan fisik peningkatan keterampilan pelayanan tenis lapangan pada atlet remaja merupakan salah satu bagian dari penguasaan keterampilan bagi remaja. Namun, tidak semua latihan yang telah dilakukan oleh remaja bisa berhasil dalam menguasai keterampilan servis tenis. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pelatihan fisik untuk mendukung keterampilan layanan dalam tenis. Penelitian ini mengikuti Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA) dan Meta-analysis. Artikel ilmiah diperoleh dari Elsevier, Pubmed, Science Direct, Web of Science, National Index, Google Scholar, dan Journal of Sports Coaching. Setelah mengikuti kriteria pengecualian, hanya tersisa 8 pasal. Tinjauan berhasil menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian, dan pendekatan kuantitatif adalah metode dan jenis penelitian yang digunakan. Salah satu aspek penting dari latihan fisik adalah dukungan untuk keterampilan layanan di lapangan tenis. Program studi praktik berlangsung selama 3 minggu hingga 12 minggu. Mereka melakukan satu hingga > dua hari per minggu. Kesimpulan Temuan menunjukkan bahwa latihan fisik dapat meningkatkan kecepatan servis tenis. Latihan fisik yang direkomendasikan untuk meningkatkan servis tenis meliputi Latihan, Kaki Inti, Stabilitas, dan Lengan. Penelitian lebih lanjut dapat dilanjutkan dengan memetakan analisis penelitian tentang topik ini menggunakan metode lain untuk mengeksplorasi berbagai bentuk latihan untuk menguasai keterampilan dalam olahraga. Kajian pustaka ini juga dapat dilanjutkan dengan membahas topik-topik lain yang berkaitan dengan penguasaan keterampilan
Inovasi media pembelajaran dengan alat bantu untuk meningkatkan kemampuan motorik siswa berkebutuhan khusus dan tunanetra
This study addresses the limited variations in tactile movement learning, mobility, and jumping exercises that support the cognitive, psychomotor, and affective abilities of blind students with special needs. The purpose of this research is to enhance students\u27 movement, mobility, and jumping skills through the use of embossed mat media in a frog-jumping exercise. A development method was employed, involving a small-scale trial with 3 students and a large-scale trial with 11 students. The study utilises descriptive percentage analysis and qualitative analysis methods to examine recommendations and rationales for response selection. Data from the small-scale trials show the following results: adaptive PE expert 1 at 89.33%, adaptive PE expert 2 at 93.33%, and learning expert at 80.00%. On a larger scale, adaptive PE expert 1 rated 93.33%, adaptive PE expert 2 rated 89.33%, and the learning expert rated 82.66%, yielding an average score of 88.44%. The percentage results for the embossed mat indicate that the product meets the "good" criteria based on the data analysis. The study concludes that the embossed mat media can be effectively used to teach frog jumping to blind students with special needs. It is recommended that teachers adopt this media and consider incorporating additional variations in PE learning for students with special needs.Penelitian ini membahas tentang terbatasnya variasi pembelajaran gerak taktil, mobilitas, dan latihan melompat yang mendukung kemampuan kognitif, psikomotorik, dan afektif siswa tunanetra berkebutuhan khusus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan gerak, mobilitas, dan lompatan siswa melalui penggunaan media matras timbul dalam latihan lompat katak. Metode yang digunakan adalah metode pengembangan, yang melibatkan uji coba skala kecil dengan 3 siswa dan uji coba skala besar dengan 11 siswa. Penelitian ini menggunakan analisis persentase deskriptif dan metode analisis kualitatif untuk memeriksa rekomendasi dan alasan pemilihan respon. Data dari uji coba skala kecil menunjukkan hasil sebagai berikut: ahli penjas adaptif 1 sebesar 89,33%, ahli penjas adaptif 2 sebesar 93,33%, dan ahli pembelajaran sebesar 80,00%. Pada skala yang lebih besar, ahli penjas adaptif 1 memberikan nilai 93,33%, ahli penjas adaptif 2 memberikan nilai 89,33%, dan ahli pembelajaran memberikan nilai 82,66%, sehingga menghasilkan nilai rata-rata 88,44%. Hasil persentase untuk matras timbul menunjukkan bahwa produk tersebut memenuhi kriteria “baik” berdasarkan analisis data. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media matras timbul dapat digunakan secara efektif untuk mengajarkan lompat katak kepada siswa tunanetra berkebutuhan khusus. Disarankan agar guru mengadopsi media ini dan mempertimbangkan untuk memasukkan variasi tambahan dalam pembelajaran penjas untuk siswa berkebutuhan khusus
Pengembangan buku olahraga sambo berbasis aplikasi digital untuk siswa di kegiatan ekstrakurikuler tingkat SMA
The survey in North Sumatra was conducted by researchers in the areas of Medan, Tanah Karo, Tebing Tinggi, Asahan, Serdang Bedagai, Deli Serdang, Labuhan Batu, Tanjung Balai, Humbahas, and Binjai, many coaches and athletes still do not have adequate guidance in Indonesian. Most of the information is still in foreign languages, making it difficult to understand Sambo\u27s techniques and rules. This study aims to develop a digital application-based sambo sports book. Method, in this research, uses the research and development (R&D) method. The research subjects consisted of 10 athletes, coaches, and sambo sports enthusiasts for the main field trial and 20 athletes, coaches, and sambo sports enthusiasts for the operational field trial. Data were collected through observation, interviews, and questionnaires, with instruments in the form of feasibility assessment sheets from sambo sports experts, linguists, media experts, and user subjects. Data analysis was carried out using a percentage quantitative descriptive technique. The results showed that this digital application-based sambo sports book was very good and feasible. This book has great potential to improve the understanding of sambo techniques and rules among athletes, coaches, and sambo enthusiasts by providing easy-to-understand guidelines in Indonesian and emphasizing the importance of technology-based approaches in Sambo.Survei di Sumatera Utara dilakukan oleh para peneliti di daerah Medan, Tanah Karo, Tebing Tinggi, Asahan, Serdang Bedagai, Deli Serdang, Labuhan Batu, Tanjung Balai, Humbahas, dan Binjai, masih banyak pelatih dan atlet yang belum memiliki bimbingan yang memadai dalam bahasa Indonesia. Sebagian besar informasinya masih dalam bahasa asing, sehingga sulit untuk memahami teknik dan aturan Sambo. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan buku olahraga sambo berbasis aplikasi digital. Metode, dalam penelitian ini, menggunakan metode penelitian dan pengembangan (R&D). Subjek penelitian terdiri dari 10 atlet, pelatih, dan penggemar olahraga sambo untuk uji coba lapangan utama dan 20 atlet, pelatih, dan penggemar olahraga sambo untuk uji coba lapangan operasional. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner, dengan instrumen berupa lembar penilaian kelayakan dari pakar olahraga sambo, ahli bahasa, ahli media, dan subjek pengguna. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik deskriptif kuantitatif persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku olahraga sambo berbasis aplikasi digital ini sangat baik dan layak. Buku ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan pemahaman tentang teknik dan aturan sambo di kalangan atlet, pelatih, dan penggemar sambo dengan memberikan pedoman yang mudah dipahami dalam bahasa Indonesia dan menekankan pentingnya pendekatan berbasis teknologi dalam Sambo
Pengaruh pola makan, faktor ekonomi, dan hemoglobin terhadap kebugaran fisik pada remaja
Increased understanding of a balanced diet, the role of economic factors, and the importance of hemoglobin levels are essential for improving students\u27 physical fitness. This research aims to determine the influence of food patterns, economic factors, and hemoglobin on students\u27 physical fitness. The research method uses quantitative survey methods and path analysis. The sample involved 58 adolescent students selected through simple random sampling. Data collection included a closed questionnaire on diet and economic factors, BMI measurements based on age and gender norms, physical fitness tests using the Nusantara Student Fitness Test, and hemoglobin level assessments according to WHO standards. The data analysis employed normality and homogeneity tests, with t-tests to determine variable effects using SPSS 25. The results concluded that dietary patterns and economic factors significantly influence hemoglobin, with p-values of 0.041 and 0.028. The R Square value of 0.427 indicates that these factors explain 42.7% of hemoglobin variability. The variables of diet, economic factors, and hemoglobin were significant to physical fitness, with p-values of 0.044, 0.000, and 0.006, respectively. The R Square value of 0.724 indicates that these three variables can explain 72.4% of the variability in physical fitness. This study contributes to demonstrating the impacts of diet, economic factors, and hemoglobin on students\u27 physical fitness. Path analysis clarifies the relationships between these variables, while comprehensive fitness assessments provide insights into hemoglobin\u27s impact on performance.Peningkatan pemahaman tentang diet seimbang, peran faktor ekonomi, dan pentingnya kadar hemoglobin sangat penting untuk meningkatkan kebugaran fisik siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola makanan, faktor ekonomi, dan hemoglobin terhadap kebugaran fisik siswa. Metode penelitian menggunakan metode survei kuantitatif dan analisis jalur. Sampel melibatkan 58 siswa remaja yang dipilih melalui simple random sampling. Pengumpulan data meliputi kuesioner tertutup tentang faktor diet dan ekonomi, pengukuran BMI berdasarkan norma usia dan jenis kelamin, tes kebugaran fisik menggunakan Tes Kebugaran Siswa Nusantara, dan penilaian kadar hemoglobin sesuai standar WHO. Analisis data menggunakan uji normalitas dan homogenitas, dengan uji-t untuk menentukan efek variabel menggunakan SPSS 25. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pola makan dan faktor ekonomi secara signifikan mempengaruhi hemoglobin, dengan nilai p 0,041 dan 0,028. Nilai R Square 0,427 menunjukkan bahwa faktor-faktor ini menjelaskan 42,7% variabilitas hemoglobin. Variabel diet, faktor ekonomi, dan hemoglobin signifikan terhadap kebugaran fisik, dengan nilai p masing-masing 0,044, 0,000, dan 0,006. Nilai R Square 0,724 menunjukkan bahwa ketiga variabel ini dapat menjelaskan 72,4% variabilitas kebugaran fisik. Studi ini berkontribusi untuk menunjukkan dampak diet, faktor ekonomi, dan hemoglobin terhadap kebugaran fisik siswa. Analisis jalur mengklarifikasi hubungan antara variabel-variabel ini, sementara penilaian kebugaran yang komprehensif memberikan wawasan tentang dampak hemoglobin terhadap kinerja
Pengaruh metode variasi latihan terhadap kekuatan otot kaki dan kontribusinya terhadap peningkatan hasil smash bola voli
This research is based on the contribution of leg muscle strength to the results of volleyball smashes. So, it is necessary to increase strength through a training program to produce good smash results. This study aimed to determine the effect of burpee exercise variations on increasing leg muscle strength and volleyball smash results. This research method is a quasi-experimental research design experiment with a pretest-posttest. The subjects involved in this study were male volleyball players of North Sumatra Club, with purposive sampling and subject collection techniques, the total subjects involved amounted to 10 players. The instrument used in this study is leg muscle strength using the vertical jump test, which is usually done to determine the strength of the leg muscles or an athlete\u27s explosive power while measuring smashing skills for fast and targeted target attacks using Lavage\u27s smash skill test instructions. Analysis of research data Analysis of data using statistical formulas to prove whether the hypothesis data that has been proposed is accepted or rejected by the Liliefors test. Based on the results of the calculations, the hypothesis is that vertical jump = 6.026> 1.859, so burpee training variations significantly influence leg muscle strength. Smash results, hypothesis obtained count smash results = 8.664 ttable> 1.859, So there is a significant influence of burpee training variations on the smash. This study concludes that burpee variation exercises can be an alternative to increase leg muscle strength and volleyball smash results.Penelitian ini didasarkan pada kontribusi kekuatan otot kaki terhadap hasil smash bola voli. Jadi, perlu untuk meningkatkan kekuatan melalui program pelatihan untuk menghasilkan hasil smash yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi latihan burpee terhadap peningkatan kekuatan otot kaki dan hasil smash bola voli. Metode penelitian ini merupakan eksperimen desain penelitian quasi experimental dengan pretest-posttest. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini adalah pemain bola voli putra Klub Sumatera Utara, dengan teknik purposive sampling dan pengumpulan subjek, total subjek yang terlibat berjumlah 10 pemain. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kekuatan otot kaki menggunakan tes lompat vertikal, yang biasanya dilakukan untuk mengetahui kekuatan otot kaki atau daya ledak atlet sekaligus mengukur keterampilan menghancurkan untuk serangan target yang cepat dan terarah menggunakan instruksi tes keterampilan smash Lavage. Analisis data penelitian Analisis data menggunakan rumus statistik untuk membuktikan apakah data hipotesis yang telah diajukan diterima atau ditolak oleh uji Liliefors. Berdasarkan hasil perhitungan, hipotesisnya adalah bahwa lompatan vertikal = 6,026> 1,859, sehingga variasi latihan burpee berpengaruh signifikan terhadap kekuatan otot kaki. Hasil smash, hipotesis diperoleh hasil count smash = 8,664 ttable> 1,859, Sehingga terdapat pengaruh yang signifikan terhadap variasi latihan burpee terhadap smash tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa latihan variasi burpee dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan kekuatan otot kaki dan hasil smash bola voli
Peningkatan teknik dasar sepak bola dengan metode pelatihan dan kondisi fisik
This study aims to investigate the effect of small-sided games and rondo training methods, as well as physical conditions, on the basic technique skills of passing, controlling, and dribbling soccer players. This research mode is a Quasi-Experiment with a factorial research design. The sample consisted of 38 child soccer athletes aged 10-12 years from the Wijaya men\u27s soccer team, with purposive sampling from young soccer players (10-12 years) from the Wijaya men\u27s soccer team in Padang. Skill measurements are performed with bounce board instruments for passing control, dribbling tests, agility tests (Illinois Agility Run Test), and speed tests (30-meter run) to measure physical condition. Data analysis using a two-track ANOVA test with a significance level of α 0.05. The results showed that there was a significant difference in the effect of the Small-Sided Games and Rondo methods on passing control (F = 5.931, p = 0.025 < 0.05) and dribbling (F = 61.588, p = 0.000 < 0.05) soccer players. In addition, there is a difference between high and low physical conditions for passing control and dribbling (α < 0.05). Furthermore, there was a significant interaction between training methods and physical condition on passing control (F = 9.481, p = 0.007 < 0.05) and dribbling (F = 88.817, p = 0.000 < 0.05). This study concluded that small-sided games, rondo training methods, and physical conditions have a significant effect on the basic skills of soccer players.Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh permainan sisi kecil dan metode pelatihan rondo, serta kondisi fisik, pada keterampilan teknik dasar mengoper, mengendalikan, dan menggiring bola pemain sepak bola. Moda penelitian ini adalah Quasi-Experiment dengan desain penelitian faktorial. Sampel terdiri dari 38 atlet sepak bola anak berusia 10-12 tahun dari tim sepak bola putra Wijaya, dengan sampel purposive dari pemain sepak bola muda (10-12 tahun) dari tim sepak bola putra Wijaya di Padang. Pengukuran keterampilan dilakukan dengan instrumen bounce board untuk melewati kontrol, tes dribbling, tes kelincahan (Illinois Agility Run Test), dan tes kecepatan (lari 30 meter) untuk mengukur kondisi fisik. Analisis data menggunakan uji two-track ANOVA dengan taraf signifikansi α 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pengaruh metode Small-Sided Games dan Rondo terhadap passing control (F=5,931, p=0,025 < 0,05) dan dribbling (F=61,588, p=0,000 < 0,05). Selain itu, ada perbedaan antara kondisi fisik tinggi dan rendah untuk kontrol passing dan dribbling (α < 0,05). Selanjutnya terdapat interaksi yang signifikan antara metode latihan dengan kondisi fisik pada passing control (F=9,481, p=0,007 < 0,05) dan dribbling (F=88,817, p= 0,000 < 0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa permainan sisi kecil, metode pelatihan rondo, dan kondisi fisik memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keterampilan dasar pemain sepak bola
Model permainan lari dan lompat efektif dalam memperbaiki gangguan motorik fisik pada anak dengan keterbelakangan mental
This study aims to demonstrate the effect of a running and jumping game model in improving physical motor impairments in children with intellectual disabilities. A pre-experimental design method was used, involving 15 male children aged 11-12 years with intellectual disabilities, who were selected through purposive sampling. The running and jumping game model was conducted for 30 minutes per session, with moderate intensity (60-70% HRmax), three times a week for four weeks. Data collection involved measuring motor skill development, namely running speed and jump height, between pretest and posttest using a 40-meter run test and vertical jump test. Data analysis was conducted using a paired sample t-test with a 5% confidence level. The results showed a significant difference in running speed between pretest and posttest (8.98±0.07 vs. 7.66±0.09 seconds; p=0.001). Similarly, jump height analysis showed a significant difference between the pretest and posttest (21.57±0.98 vs. 31.43±1.72 cm; p=0.001). This proves that the running and jumping game model effectively improves motor skills impairments in children with intellectual disabilities.Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan pengaruh model permainan lari dan lompat dalam meningkatkan gangguan motorik fisik pada anak penyandang disabilitas intelektual. Metode desain pra-eksperimental digunakan, melibatkan 15 anak laki-laki berusia 11-12 tahun dengan disabilitas intelektual, yang dipilih melalui purposive sampling. Model permainan lari dan lompat dilakukan selama 30 menit per sesi, dengan intensitas sedang (60-70% HRmax), tiga kali seminggu selama empat minggu. Pengumpulan data melibatkan pengukuran perkembangan keterampilan motorik, yaitu kecepatan lari dan ketinggian lompatan, antara pretest dan posttest menggunakan uji lari 40 meter dan uji lompatan vertikal. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji-t sampel berpasangan dengan tingkat kepercayaan 5%. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam kecepatan lari antara pretest dan posttest (8,98±0,07 vs. 7,66±0,09 detik; p=0,001). Demikian pula, analisis ketinggian lompatan menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest (21,57±0,98 vs. 31,43±1,72 cm; p=0,001). Ini membuktikan bahwa model permainan lari dan lompat secara efektif meningkatkan gangguan keterampilan motorik pada anak-anak penyandang disabilitas intelektual