Jurnal SPORTIF : Jurnal Penelitian Pembelajaran
Not a member yet
    381 research outputs found

    Nilai-nilai olahraga dan dukungan sosial: Sebuah studi korelasi

    No full text
    The correlation between teenagers\u27 sporting ideals and perceived social support from family, friends, and others is examined in this paper. From a stratified random sample, 1,454 teenagers aged 12–18 (50.1% male and 49.9% female) underwent quantitative research using a correlational survey methodology. While the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) evaluated degrees of social support, the Youth Sport Values Questionnaire-2 (YSVQ-2) measured sports values. Using Pearson correlation, data were examined. Sports values and social support had a noteworthy but modest positive connection (r = 0.268, p = 0.001). Among the sources of encouragement, the influence of physical education instructors and coaches was more noticeable than that of family or friends. These findings imply that encouraging good youth development depends on using value-based sports education, particularly via organized programs and motivating adult figures. This study adds to the increasing corpus of research on sports pedagogy and emphasizes how social environments shape teenage ideals using sports.Hubungan antara idealisme olahraga remaja dan dukungan sosial yang dirasakan dari keluarga, teman, dan orang lain dianalisis dalam penelitian ini. Dari sampel acak berstrata, 1.454 remaja berusia 12–18 tahun (50,1% laki-laki dan 49,9% perempuan) mengikuti penelitian kuantitatif menggunakan metode survei korelasi. Sementara Skala Dukungan Sosial Multidimensi (MSPSS) mengevaluasi tingkat dukungan sosial, Kuesioner Nilai Olahraga Remaja-2 (YSVQ-2) mengukur nilai-nilai olahraga. Data dianalisis menggunakan korelasi Pearson. Nilai-nilai olahraga dan dukungan sosial menunjukkan hubungan positif yang signifikan namun moderat (r = 0,268, p = 0,001). Di antara sumber-sumber motivasi, pengaruh guru pendidikan jasmani dan pelatih lebih menonjol dibandingkan keluarga atau teman. Temuan ini menyiratkan bahwa mendorong perkembangan remaja yang baik bergantung pada pendidikan olahraga berbasis nilai, terutama melalui program terorganisir dan figur dewasa yang motivatif. Studi ini menambah khazanah penelitian tentang pedagogi olahraga dan menekankan bagaimana lingkungan sosial membentuk idealisme remaja melalui olahraga

    Penilaian kompetensi guru SMA dalam bidang pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan sebagai keterampilan dalam melaksanakan tugas.

    No full text
    The quality of learning and achievement of educational goals at Senior High School depend on PE teachers\u27 competency. Because it is comprehensive and systematic, the CIPP (Context, Input, Process, Product) model should be used to evaluate PE teachers at Bogor Regency Senior High Schools. This research was quantitative. Evaluation gathers data for this project. The Context, Input, Process, and Product (CIPP) paradigm is used to evaluate Bogor Regency senior high school physical education, sports, and health educators. This research employed purposive sampling to choose high school instructors in Bogor Regency, state school teachers, accredited teachers, and Physical Education, Sports, and Health teachers. Based on the sampling method and criteria, this study used 28 samples. Data was gathered through various methods, including observation, interviews, surveys, and document review. The data analysis used is a percentage. The findings CIPP revealed that the Pedagogical Competence: 75% in the Content aspect (good), 81% in the Input aspect (very good), 77% in the Process aspect (good), and 75% in the Product aspect (good). For Professional Competence, the Context aspect scored 76%, Input 77%, Process 73%, and Product 72%. The conclusion obtained in this study is that the Competence of public elementary school physical education and health teachers in Bogor Regency is in a good category. Based on this research, the recommendation is that broader research on teacher competency evaluation using the CIPP model for all teachers in Bogor Regency needs to be conducted.Kualitas pembelajaran dan pencapaian tujuan pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) bergantung pada kompetensi guru Pendidikan Jasmani (PE). Karena bersifat komprehensif dan sistematis, model CIPP (Kontekstual, Input, Proses, Produk) sebaiknya digunakan untuk mengevaluasi guru Pendidikan Jasmani di SMA-SMA Kabupaten Bogor. Penelitian ini bersifat kuantitatif. Evaluasi mengumpulkan data untuk proyek ini. Paradigma Konteks, Masukan, Proses, dan Produk (CIPP) digunakan untuk mengevaluasi pendidik Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan di SMA Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan sampling purposif untuk memilih guru SMA di Kabupaten Bogor, guru sekolah negeri, guru yang telah terakreditasi, dan guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Berdasarkan metode dan kriteria sampling, penelitian ini menggunakan 28 sampel. Data dikumpulkan melalui berbagai metode, termasuk observasi, wawancara, survei, dan tinjauan dokumen. Analisis data menggunakan persentase. Temuan CIPP menunjukkan bahwa Kompetensi Pedagogis: 75% pada aspek Konten (baik), 81% pada aspek Input (sangat baik), 77% pada aspek Proses (baik), dan 75% pada aspek Produk (baik). Untuk Kompetensi Profesional, aspek Konteks memperoleh skor 76%, Input 77%, Proses 73%, dan Produk 72%. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah bahwa Kompetensi Guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Bogor berada dalam kategori baik. Berdasarkan penelitian ini, rekomendasi yang diberikan adalah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai evaluasi kompetensi guru menggunakan model CIPP untuk semua guru di Kabupaten Bogor

    Hubungan ketangguhan mental dan dukungan teman terhadap motivasi berprestasi atlet futsal putri

    No full text
    Despite the growing interest in the psychological factors influencing athletic performance, research on the interplay of MT, SS, and achievement motivation, specifically within the context of women\u27s futsal, remains limited. This study explores the relationship between mental toughness, social support, and achievement motivation among female futsal athletes in Indonesia. This research gathered 18 female futsal athletes using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) and the Sports Mental Toughness Questionnaire (SMTQ) in a quantitative descriptive manner. The collected data will be analyzed using IBM SPSS Statistics version 25 software, with a focus on descriptive statistics, correlation, and linear regression analyses. The MSPSS evaluates perceived social support from sources like family and friends, while the SMTQ measures mental toughness, focusing on aspects such as self-confidence and resilience. The study results show that a correlation between MT and SS of 0.429 was found by statistical analysis; however, this association was not statistically significant (Sig. > 0.05). Descriptive analysis indicated that SS had a higher mean score (33.6403) compared to MT (31.2378), suggesting a higher perceived level of social support among participants. These findings highlight the need for further research to understand these dynamics comprehensively. This study contributes to understanding the psychological and social factors affecting the performance and well-being of female futsal athletes. It suggests the necessity for targeted interventions and support strategies.Meskipun ada ketertarikan yang meningkat terhadap faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi performa atletik, penelitian tentang interaksi antara MT, SS, dan motivasi berprestasi, khususnya dalam konteks futsal wanita, masih terbatas. Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara ketangguhan mental, dukungan sosial, dan motivasi berprestasi di kalangan atlet futsal wanita di Indonesia. Penelitian ini mengumpulkan 18 atlet futsal wanita dengan menggunakan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) dan Sports Mental Toughness Questionnaire (SMTQ) secara deskriptif kuantitatif. Data yang terkumpul akan dianalisis menggunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistics versi 25, dengan fokus pada statistik deskriptif, korelasi, dan analisis regresi linier. MSPSS mengevaluasi dukungan sosial yang dirasakan dari sumber-sumber seperti keluarga dan teman, sementara SMTQ mengukur ketangguhan mental, dengan fokus pada aspek-aspek seperti kepercayaan diri dan ketahanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korelasi antara MT dan SS sebesar 0,429 ditemukan dengan analisis statistik; namun, hubungan ini tidak signifikan secara statistik (Sig. > 0,05). Analisis deskriptif menunjukkan bahwa SS memiliki skor rata-rata yang lebih tinggi (33.6403) dibandingkan dengan MT (31.2378), yang menunjukkan tingkat dukungan sosial yang lebih tinggi di antara para partisipan. Temuan ini menyoroti perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami dinamika ini secara komprehensif. Penelitian ini berkontribusi dalam memahami faktor psikologis dan sosial yang mempengaruhi kinerja dan kesejahteraan atlet futsal wanita. Hal ini menunjukkan perlunya intervensi yang tepat sasaran dan strategi dukungan

    Latihan fisik teratur memiliki efek positif dalam meningkatkan kapasitas aerobik pada siswa militer.

    No full text
    Military preparation requires aerobic capacity (VO2max) and physical condition. Studies show that Indonesian Air Force personnel are overweight (34.9%) and obese (9.1%), which may impede task performance. This study examines how stair ascending and descending improve aerobic capacity (VO2 max) in Skadron Pendidikan 404 (Skadik 404) cadets, with BMI as a supportive factor. A quasi-experimental study included 40 cadets aged 19-22 with a BMI of 18.5-24.9 kg/m², divided into four groups: POK 1 (stair climbing), POK 2 (stair descending), POK 3 (stair climbing), and POK 4 (stair descending). This study uses \u27POK\u27 to refer to each study group. Data was collected using the 12-minute Cooper Test to measure VO2max. The data was analyzed using pairwise t-tests and two-way ANOVA with 5% significance. The study found significant differences in aerobic capacity (p < 0.05), with the stair-climbing group achieving larger VO₂max improvements than the descending group. These results show that army students may benefit more from stair climbing for aerobic training. This study supports military fitness studies by showing that stair climbing is better than stair descending and suggesting time-efficient, high-intensity training routines to improve soldiers\u27 physical readiness.Persiapan militer memerlukan kapasitas aerobik (VO2max) dan kondisi fisik. Studi menunjukkan bahwa personel Angkatan Udara Indonesia mengalami kelebihan berat badan (34,9%) dan obesitas (9,1%), yang dapat menghambat kinerja tugas. Penelitian ini mengkaji bagaimana naik dan turun tangga dapat meningkatkan kapasitas aerobik (VO2max) pada kadet Skadron Pendidikan 404 (Skadik 404), dengan Indeks Massa Tubuh (BMI) sebagai faktor pendukung. Studi quasi-eksperimental ini melibatkan 40 kadet berusia 19-22 tahun dengan BMI 18,5-24,9 kg/m², dibagi menjadi empat kelompok: POK 1 (naik tangga), POK 2 (turun tangga), POK 3 (naik tangga), dan POK 4 (turun tangga). Studi ini menggunakan \u27POK\u27 untuk merujuk pada masing-masing kelompok studi. Data dikumpulkan menggunakan Tes Cooper 12 Menit untuk mengukur VO₂max. Data dianalisis menggunakan uji t berpasangan dan ANOVA dua arah dengan tingkat signifikansi 5%. Studi ini menemukan perbedaan yang signifikan dalam kapasitas aerobik (p < 0,05), dengan kelompok naik tangga mencapai peningkatan VO₂max yang lebih besar dibandingkan kelompok turun tangga. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa militer mungkin mendapatkan manfaat lebih besar dari latihan naik tangga untuk latihan aerobik. Studi ini mendukung penelitian kebugaran militer dengan menunjukkan bahwa naik tangga lebih baik daripada turun tangga dan menyarankan rutinitas latihan intensitas tinggi yang efisien waktu untuk meningkatkan kesiapan fisik prajurit

    Hubungan BMI dan Lemak Tubuh pada VO₂Max Kapasitas Mahasiswa Pendidikan Jasmani Universitas Mulawarman

    No full text
    This study examines the relationship between Body Mass Index (BMI), body fat proportion, and VO₂Max capacity in Physical Education students enrolled in 2022 at FKIP Mulawarman University. The research method used a cross-sectional design. The sample amounted to 80 students through random sampling (53 males and 27 females) aged 18–22 years. BMI was calculated from weight and height using a digital scale and stadiometer, body fat proportion was measured using skinfold callipers at three points (triceps, abdomen, thighs), and VO₂Max capacity was measured with the multistage fitness test (beep test). Data analysis employed SPSS 25.0, using descriptive statistics to present the distribution of BMI, body fat proportion, VO₂Max, and Pearson product-moment correlation to assess the strength and direction of relationships between variables. The findings show a significant relationship between BMI and VO₂Max (r = -0.45, p < 0.01), while the relationship between body fat proportion and VO₂Max is stronger (r = -0.52, p < 0.01). It can be concluded that body fat proportion is a more influential factor than BMI in determining VO₂Max capacity. These results contribute to the understanding that body composition, particularly fat proportion, plays a crucial role in aerobic capacity. The contribution of this study lies in providing empirical evidence to support the development of exercise programs and curricula based on physiological profiles, which can be adapted to other educational contexts.Studi ini menguji hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT), proporsi lemak tubuh, dan kapasitas VO₂Max pada mahasiswa Pendidikan Jasmani yang terdaftar pada tahun 2022 di FKIP Universitas Mulawarman.  Metode penelitian yang digunakan adalah desain potong lintang.  Sampel berjumlah 80 siswa melalui pengambilan sampel acak (53 laki-laki dan 27 perempuan) berusia 18–22 tahun.  BMI dihitung dari berat badan dan tinggi badan menggunakan timbangan digital dan stadiometer, proporsi lemak tubuh diukur menggunakan kaliper kulit di tiga titik (trisep, perut, paha), dan kapasitas VO₂Max diukur dengan tes kebugaran multistage (tes beep).  Analisis data menggunakan SPSS 25.0, dengan statistik deskriptif untuk menyajikan distribusi BMI, proporsi lemak tubuh, VO₂Max, dan korelasi Pearson product-moment untuk menilai kekuatan dan arah hubungan antar variabel.  Temuan menunjukkan hubungan signifikan antara IMT dan VO₂Maks (r = -0,45, p < 0,01), sementara hubungan antara proporsi lemak tubuh dan VO₂Maks lebih kuat (r = -0,52, p < 0,01).  Dapat disimpulkan bahwa proporsi lemak tubuh adalah faktor yang lebih berpengaruh daripada BMI dalam menentukan kapasitas VO₂Max.  Hasil ini berkontribusi pada pemahaman bahwa komposisi tubuh, khususnya proporsi lemak, memainkan peran penting dalam kapasitas aerobik.  Kontribusi penelitian ini terletak pada penyediaan bukti empiris untuk mendukung pengembangan program dan kurikulum olahraga berdasarkan profil fisiologis, yang dapat disesuaikan dengan konteks pendidikan lainnya

    Meningkatkan kebugaran fisik melalui gamifikasi: Bukti dari siswa sekolah menengah kejuruan

    No full text
    Physical fitness is an essential component for vocational high school (SMK) students, as it directly relates to their productivity and readiness for future work demands. This study aimed to examine the effect of gamification-based Physical Education on the physical fitness of vocational high school students in Palu, South Sulawesi. A quasi-experimental non-equivalent control group design was employed with a sample of 30 students divided into two groups: an experimental group (physical education learning with gamification) and a control group (conventional physical education learning). Standardized physical fitness tests—including flexibility, muscular strength, endurance, and BMI—were administered before and after the intervention. Results showed that the experimental group’s average score increased from 2.73 (pre-test) to 4.60 (post-test), while the control group improved from 2.67 to 4.20. Paired sample t-tests confirmed significant improvements within both groups (p < 0.05). However, the independent sample t-test indicated no significant difference between the experimental and control groups (p = 0.077 > 0.05). These findings suggest that gamification can effectively enhance students’ physical fitness within a group, but its short-term implementation does not demonstrate superiority over conventional methods. This study contributes to the growing body of literature on innovative approaches in physical education, particularly in vocational schools, where physical readiness is closely linked to employability. Gamification shows potential as a complementary strategy to boost student motivation and engagement in physical education. Future research is recommended with longer intervention periods, larger samples, and consideration of external variables to optimize the impact of gamification on physical fitness.Kebugaran fisik merupakan komponen penting bagi siswa sekolah menengah kejuruan (SMK), karena secara langsung berkaitan dengan produktivitas dan kesiapan mereka menghadapi tuntutan pekerjaan di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh Pendidikan Jasmani berbasis gamifikasi terhadap kebugaran fisik siswa SMK di Palu, Sulawesi Selatan. Desain quasi-eksperimental dengan kelompok kontrol non-ekuivalen digunakan, dengan sampel 30 siswa yang dibagi menjadi dua kelompok: kelompok eksperimen (pembelajaran Pendidikan Jasmani dengan gamifikasi) dan kelompok kontrol (pembelajaran Pendidikan Jasmani konvensional). Uji kebugaran fisik standar—termasuk fleksibilitas, kekuatan otot, daya tahan, dan BMI—dilakukan sebelum dan setelah intervensi. Hasil menunjukkan bahwa skor rata-rata kelompok eksperimen meningkat dari 2,73 (pra-tes) menjadi 4,60 (pasca-tes), sementara kelompok kontrol meningkat dari 2,67 menjadi 4,20. Uji t sampel berpasangan mengonfirmasi peningkatan yang signifikan dalam kedua kelompok (p < 0,05). Namun, uji t sampel independen menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol (p = 0,077 > 0,05). Temuan ini menyarankan bahwa gamifikasi dapat secara efektif meningkatkan kebugaran fisik siswa dalam kelompok, tetapi implementasi jangka pendeknya tidak menunjukkan keunggulan dibandingkan metode konvensional. Studi ini berkontribusi pada perkembangan literatur tentang pendekatan inovatif dalam pendidikan jasmani, terutama di sekolah kejuruan, di mana kesiapan fisik erat kaitannya dengan keterserapan kerja. Gamifikasi menunjukkan potensi sebagai strategi pelengkap untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam pendidikan jasmani. Penelitian lebih lanjut disarankan dengan periode intervensi yang lebih lama, sampel yang lebih besar, dan pertimbangan variabel eksternal untuk mengoptimalkan dampak gamifikasi pada kebugaran fisik

    Dukungan orang tua dan kepercayaan diri sebagai prediktor bersama motivasi prestasi pada atlet dansa olahraga Indonesia

    No full text
    Dancesport, as a discipline that combines artistic performance and competitive sport, requires technical mastery and strong psychological readiness. Achievement motivation becomes a critical performance determinant, shaped by internal and external factors. This study analyzed the influence of parental support and self-confidence on the achievement motivation of North Sumatra dancesport athletes competing at PON XXI Aceh–North Sumatra 2024. A quantitative approach with an ex post facto survey design was applied. The sample consisted of 10 randomly selected athletes, ensuring that all eligible participants were included in the study. Data were collected using validated Likert-scale questionnaires, and instrument validity was confirmed through expert review, pilot testing, and Cronbach’s Alpha reliability (all > 0.70). Data analysis was conducted using simple and multiple regression with SPSS 26. The results showed that parental support significantly influenced achievement motivation (F = 7.842; p = 0.012), self-confidence also had a significant positive effect (F = 18.074; p = 0.002), and their combination significantly contributed to motivation (F = 6.215; p = 0.028), explaining 64.7% of the variance. These findings conclude that the synergy of external support and internal psychological capital shapes achievement motivation in dancesport. The practical implication is that athlete development programs must integrate parental involvement with structured confidence-building strategies. Theoretically, this study contributes to integrating social support theory and achievement motivation theory in the Indonesian sports context, emphasizing the role of both social and psychological dimensions in athlete development.Dancesport, sebagai disiplin yang menggabungkan pertunjukan artistik dan olahraga kompetitif, memerlukan penguasaan teknis dan kesiapan psikologis yang kuat. Motivasi pencapaian menjadi faktor penentu kinerja yang kritis, yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Studi ini menganalisis pengaruh dukungan orang tua dan kepercayaan diri terhadap motivasi pencapaian atlet dancesport Sumatra Utara yang berkompetisi di PON XXI Aceh–Sumatra Utara 2024. Pendekatan kuantitatif dengan desain survei ex post facto diterapkan. Sampel terdiri dari 10 atlet yang dipilih secara acak, memastikan semua peserta yang memenuhi syarat termasuk dalam studi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert yang valid, dan validitas instrumen dikonfirmasi melalui tinjauan ahli, uji coba awal, dan reliabilitas Cronbach’s Alpha (semua > 0,70). Analisis data dilakukan menggunakan regresi sederhana dan berganda dengan SPSS 26. Hasil menunjukkan bahwa dukungan orang tua secara signifikan mempengaruhi motivasi prestasi (F = 7,842; p = 0,012), kepercayaan diri juga memiliki efek positif yang signifikan (F = 18,074; p = 0.002), dan kombinasi keduanya secara signifikan berkontribusi pada motivasi (F = 6.215; p = 0.028), menjelaskan 64,7% varians. Temuan ini menyimpulkan bahwa sinergi antara dukungan eksternal dan modal psikologis internal membentuk motivasi prestasi dalam dancesport. Implikasi praktisnya adalah program pengembangan atlet harus mengintegrasikan keterlibatan orang tua dengan strategi pembentukan kepercayaan diri yang terstruktur. Secara teoritis, studi ini berkontribusi pada integrasi teori dukungan sosial dan teori motivasi prestasi dalam konteks olahraga Indonesia, menekankan peran dimensi sosial dan psikologis dalam pengembangan atlet

    Pengembangan desa wisata sebagai destinasi wisata olahraga berbasis kearifan lokal untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

    No full text
    Bima Regency has not yet established a sports tourism village incorporating local wisdom. So, the study aims to develop village tours as tourist sports based on local wisdom to increase the public economy. Research is a type of research and development that uses the ADDIE development model. The sample for this study was Lambu Tourism Village, which was chosen for its potential scenic attractions. The study subjects consisted of two expert validators in sports tourism, two expert validators in general tourism, and visitors to the tourist site who served as trial respondents. This research instrument used a validation questionnaire given to expert validators and a feedback questionnaire to visitors to tourist attractions. The data analysis methods employed included quantitative descriptive analysis for assessing needs, expert validation of the product based on average scoring, and product feasibility testing measured by the percentage of community acceptance. The results of the validation of material experts from 2 validators, namely sports tourism attraction experts, validate sports tourism attractions, so the result is an average score of 89.5%, which shows that the sports tourism material is very feasible. Furthermore, expert validation is carried out with 2 validators, namely experts in the field of tourism, to validate sports tourism villages so that the validation results with an average score of 80.5% indicate that it is very feasible. So, this research is a novelty of a local wisdom-based sports tourism village that can improve the economy of local communities in Bima Regency.Kabupaten Bima belum memiliki desa wisata olahraga yang mengintegrasikan kearifan lokal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan wisata desa sebagai wisata olahraga berbasis kearifan lokal guna meningkatkan perekonomian masyarakat. Penelitian ini merupakan jenis penelitian dan pengembangan yang menggunakan model pengembangan ADDIE. Sampel penelitian ini adalah Desa Pariwisata Lambu, yang dipilih karena potensinya sebagai objek wisata alam yang menarik. Subjek penelitian terdiri dari dua validator ahli dalam pariwisata olahraga, dua validator ahli dalam pariwisata umum, dan pengunjung objek wisata yang bertindak sebagai responden uji coba. Alat penelitian yang digunakan meliputi kuesioner validasi yang diberikan kepada validator ahli dan kuesioner umpan balik kepada pengunjung objek wisata. Metode analisis data yang digunakan meliputi analisis deskriptif kuantitatif untuk menilai kebutuhan, validasi produk oleh ahli berdasarkan skor rata-rata, dan uji kelayakan produk yang diukur dengan persentase penerimaan masyarakat. Hasil validasi materi oleh 2 validator, yaitu ahli atraksi wisata olahraga, menunjukkan bahwa atraksi wisata olahraga valid, dengan skor rata-rata 89,5%, yang menunjukkan bahwa materi wisata olahraga sangat layak. Selain itu, validasi ahli dilakukan dengan 2 validator, yaitu ahli di bidang pariwisata, untuk memvalidasi desa wisata olahraga sehingga hasil validasi dengan skor rata-rata 80,5% menunjukkan bahwa desa wisata olahraga tersebut sangat layak. Oleh karena itu, penelitian ini merupakan inovasi desa wisata olahraga berbasis kearifan lokal yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat lokal di Kabupaten Bima

    Pengembangan kuda pacu dengan motor listrik untuk meningkatkan keterampilan berputar pada atlet senam artistik pria junior.

    No full text
    Physical Education (PE) plays a vital role in developing students\u27 physical, emotional, social, and cognitive abilities. However, many PE learning processes still rely on teacher-centered approaches that limit student engagement and fail to create meaningful learning experiences. As a result, learning outcomes often lack relevance and sustainability. This study investigates how the use of Lesson Study (LS) affects both instructor professionalism and student learning. With LS, teachers work together to plan, observe, and methodically reflect on the learning process. This study used a qualitative approach with a case study method. 10 primary school teachers from Palembang, Indonesia, who teach physical education, participated in this study. The research instrument used was the Formative Class Evaluation (FCE), which consists of nine questions and four components: results, motivation, learning, and cooperation. The data analysis using the FCE indicated a significant improvement in teaching quality after the implementation of LS. The average FCE scores before LS ranged from 2.66 to 2.85. After LS, the average scores increased to between 2.71 and 2.86. These results suggest that although the relationship is relatively weak, LS implementation significantly enhanced classroom learning quality as perceived by the students. The findings suggest that LS has a positive impact on improving classroom learning experiences. Although the correlation between LS and student learning improvements was moderate, the statistical significance of the results highlights its potential as an effective professional development tool for teachers. Future research could explore the long-term effects of LS on student performance and the sustainability of these improvements.Pendidikan Jasmani (PE) memainkan peran penting dalam mengembangkan kemampuan fisik, emosional, sosial, dan kognitif siswa. Namun, banyak proses pembelajaran PE masih mengandalkan pendekatan guru-sentris yang membatasi partisipasi siswa dan gagal menciptakan pengalaman belajar yang bermakna. Akibatnya, hasil belajar seringkali kurang relevan dan berkelanjutan. Studi ini menyelidiki bagaimana penggunaan Lesson Study (LS) mempengaruhi profesionalisme guru dan pembelajaran siswa. Dengan LS, guru bekerja sama untuk merencanakan, mengamati, dan merefleksikan secara sistematis proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Sepuluh guru sekolah dasar di Palembang, Indonesia, yang mengajar pendidikan jasmani, berpartisipasi dalam penelitian ini. Alat penelitian yang digunakan adalah Formative Class Evaluation (FCE), yang terdiri dari sembilan pertanyaan dan empat komponen: hasil, motivasi, pembelajaran, dan kerja sama. Analisis data menggunakan FCE menunjukkan peningkatan signifikan dalam kualitas pengajaran setelah implementasi LS. Skor rata-rata FCE sebelum LS berkisar antara 2,66 hingga 2,85. Setelah LS, skor rata-rata meningkat menjadi antara 2,71 dan 2,86. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun hubungan antara LS dan peningkatan pembelajaran relatif lemah, implementasi LS secara signifikan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas sebagaimana dirasakan oleh siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa LS memiliki dampak positif dalam meningkatkan pengalaman belajar di kelas. Meskipun korelasi antara LS dan peningkatan belajar siswa moderat, signifikansi statistik hasil menyoroti potensinya sebagai alat pengembangan profesional yang efektif bagi guru. Penelitian lebih lanjut dapat mengeksplorasi efek jangka panjang LS terhadap kinerja siswa dan keberlanjutan perbaikan ini

    Pemetaan lanskap global penelitian ketahanan mental: Tren, kontribusi, dan tema kunci (2014-2024)

    No full text
    This study aims to analyze trends, contributions, and key themes in mental toughness research using a bibliometric approach. Data were retrieved from Scopus with the search query TITLE-ABS-KEY ("mental toughness" AND (athlete OR sport)) for the period 2014-2024, focusing on English-language journal articles. A total of 311 documents were analyzed using Bibliometrix R-Package, Biblioshiny, and VOSviewer software to map collaboration networks, geographical distribution, and dominant research themes. The main findings of this study show that developed countries, particularly the United Kingdom, the United States, and Australia, contribute the majority of global publications. Meanwhile, Asian countries such as China, Malaysia, and Indonesia demonstrate significant growth and considerable potential in this region. Thematically, mental toughness remains the core theme of the research, with key subthemes such as motivation, resilience, and athletic performance being highly dominant. Publication trends show significant growth, with the number of documents increasing from 2014 to 2024. These findings provide important insights into the global dynamics of mental toughness research and emphasize the importance of integrating quantitative and qualitative approaches. This study opens opportunities for further development in the fields of sports psychology, education, and mental toughness.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren, kontribusi, dan tema utama dalam penelitian ketahanan mental menggunakan pendekatan bibliometrik. Data dikumpulkan dari Scopus dengan kata kunci TITLE-ABS-KEY (“mental toughness” AND (athlete OR sport)) untuk periode 2014-2024, dengan fokus pada artikel jurnal berbahasa Inggris. Sebanyak 311 dokumen dianalisis menggunakan perangkat lunak Bibliometrix R-Package, Biblioshiny, dan VOSviewer untuk memetakan jaringan kolaborasi, distribusi geografis, dan tema penelitian dominan. Temuan utama studi ini menunjukkan bahwa negara-negara maju, terutama Inggris, Amerika Serikat, dan Australia, menyumbang sebagian besar publikasi global. Di sisi lain, negara-negara Asia seperti China, Malaysia, dan Indonesia menunjukkan pertumbuhan signifikan dan potensi yang cukup besar di wilayah ini. Secara tematik, ketahanan mental tetap menjadi tema inti penelitian, dengan sub-tema utama seperti motivasi, ketahanan, dan kinerja atletik yang sangat dominan. Tren publikasi menunjukkan pertumbuhan signifikan, dengan jumlah dokumen meningkat dari 2014 hingga 2024. Temuan ini memberikan wawasan penting tentang dinamika global penelitian ketahanan mental dan menekankan pentingnya mengintegrasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Studi ini membuka peluang untuk pengembangan lebih lanjut di bidang psikologi olahraga, pendidikan, dan ketahanan mental

    194

    full texts

    381

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal SPORTIF : Jurnal Penelitian Pembelajaran
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇