Jurnal SPORTIF : Jurnal Penelitian Pembelajaran
Not a member yet
381 research outputs found
Sort by
Pengaruh HIIT Tipe II terhadap Optimalisasi Ketahanan pada Pemain Futsal Amatir Muda
Surmising non-classroom activities like playing futsal, overall sports competence is largely contingent upon the individual’s physical performance and capacity, particularly their cardiovascular endurance (Vo₂Max) fitness level. For the initial Bleep Test, participants had a rather low average Vo₂Max of 34.9 ml/kg/min. This is explained due to insufficient training periods or volume, inadequate equipment, and unrealistic progression expectations. This study aims to develop motor endurance in students through physical activity. The study uses a pre-experimental design and a single pretest-posttest group design. There were 18 subjects of the study who were active participants in futsal extracurricular activities in the school, aged 15-16 years old. Saturated sampling technique is used to take samples from the entire population. The measurement of Vo₂Max was done using the Bleep Test before and after the exercise intervention to estimate the effectiveness of the program. Type II exercise (HIIT) is proven to have a significant effect. This decision is supported by a t-test value of 15.942, greater than the t-table value of 2.110 at a 5% significance level, and the 0.000 value for significance, which is less than 0.05. Thus, it has been proved that HIIT Type II exercises improve Vo2Max. This study has practical implications as it suggests a workable and quantifiable exercise program to improve adolescent biomotor endurance. This supports the proof that HIIT Type II is an effective exercise method, and it can be incorporated into non-educational school programs as a straightforward way to address the problem of poor aerobic capacity. Menilai aktivitas di luar kelas seperti bermain futsal, kemampuan olahraga secara keseluruhan sangat bergantung pada performa fisik dan kapasitas individu, terutama tingkat kebugaran kardiovaskular (Vo₂Max). Pada tes Bleep awal, peserta memiliki rata-rata Vo₂Max yang relatif rendah, yaitu 34,9 ml/kg/menit. Hal ini dijelaskan oleh kurangnya periode atau volume latihan, peralatan yang tidak memadai, dan ekspektasi kemajuan yang tidak realistis. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan daya tahan motorik pada siswa melalui aktivitas fisik. Studi ini menggunakan desain pra-eksperimental dan desain kelompok tunggal pra-tes dan pasca-tes. Ada 18 subjek studi yang merupakan peserta aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler futsal di sekolah, berusia 15-16 tahun. Teknik sampling jenuh digunakan untuk mengambil sampel dari seluruh populasi. Pengukuran Vo₂Max dilakukan menggunakan Tes Bleep sebelum dan setelah intervensi latihan untuk memperkirakan efektivitas program. Latihan tipe II (HIIT) terbukti memiliki efek yang signifikan. Keputusan ini didukung oleh nilai t-test sebesar 15,942, lebih besar dari nilai t-table sebesar 2,110 pada tingkat signifikansi 5%, dan nilai signifikansi 0,000, yang lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian, telah terbukti bahwa latihan HIIT Tipe II meningkatkan Vo2Max. Studi ini memiliki implikasi praktis karena menyarankan program latihan yang dapat diterapkan dan terukur untuk meningkatkan daya tahan biomotor remaja. Hal ini mendukung bukti bahwa HIIT Tipe II adalah metode latihan yang efektif, dan dapat diintegrasikan ke dalam program sekolah non-pendidikan sebagai cara sederhana untuk mengatasi masalah kapasitas aerobik yang rendah.
Menjelajahi minat remaja awal dalam partisipasi ekstrakurikuler futsal
The degree of student involvement in every emerging sport shows how well the institution promotes physical exercise and teamwork. High participation also suggests that extracurricular activities are interesting and sensitive to student needs and preferences. This study will examine the elements that influence student involvement in futsal extracurricular activities. This study uses a quantitative descriptive approach with a survey design. The sampling technique used is simple random sampling, with 79 students actively participating in futsal training sessions at a junior high school in an urban area with high student participation in sports. A standardized questionnaire with Likert scale items is used to collect data on various characteristics of interest in sports, including enjoyment, motivation, peer influence, and perceived benefits of futsal. Education experts evaluated the instruments to ensure they were relevant and clear. Data were analyzed using descriptive statistical methods, focusing on percentage distributions to identify respondent interest level patterns. The findings indicate that students\u27 enthusiasm for futsal extracurricular activities is generally low. Only 38 students (29.64%) showed strong interest, while the rest showed moderate to low enthusiasm. This data suggests that, despite futsal\u27s popularity, underlying motivational or contextual barriers prevent widespread participation. Finally, the low level of interest among children indicates that extracurricular sports activities should be promoted and activated in schools in different ways. This study helps develop more successful engagement tactics targeted at students\u27 interests and needs, supporting the overall goal of creating a more active and health-conscious school environment.Tingkat keterlibatan siswa dalam setiap olahraga baru menunjukkan seberapa baik institusi mempromosikan olahraga dan kerja sama tim. Partisipasi yang tinggi juga menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler menarik dan responsif terhadap kebutuhan serta preferensi siswa. Studi ini akan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keterlibatan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler futsal. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan desain survei. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling acak sederhana, dengan 79 siswa yang aktif mengikuti sesi latihan futsal di sebuah sekolah menengah pertama di daerah perkotaan dengan tingkat partisipasi olahraga yang tinggi. Kuesioner standar dengan item skala Likert digunakan untuk mengumpulkan data tentang berbagai karakteristik yang menarik dalam olahraga, termasuk kesenangan, motivasi, pengaruh teman sebaya, dan manfaat yang dirasakan dari futsal. Ahli pendidikan mengevaluasi instrumen untuk memastikan relevansi dan kejelasan. Data dianalisis menggunakan metode statistik deskriptif, dengan fokus pada distribusi persentase untuk mengidentifikasi pola tingkat minat responden. Temuan menunjukkan bahwa antusiasme siswa terhadap kegiatan ekstrakurikuler futsal secara umum rendah. Hanya 38 siswa (29,64%) menunjukkan minat yang kuat, sementara sisanya menunjukkan minat moderat hingga rendah. Data ini menyarankan bahwa, meskipun futsal populer, hambatan motivasional atau kontekstual yang mendasar mencegah partisipasi yang luas. Akhirnya, tingkat minat yang rendah di kalangan anak-anak menunjukkan bahwa kegiatan olahraga ekstrakurikuler perlu dipromosikan dan diaktifkan di sekolah-sekolah dengan cara yang berbeda. Studi ini membantu mengembangkan taktik keterlibatan yang lebih efektif yang ditargetkan pada minat dan kebutuhan siswa, mendukung tujuan keseluruhan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aktif dan sadar akan kesehatan
Implementation of lesson study to improve meaningful learning outcomes in physical education
Pendidikan Jasmani (PE) memainkan peran penting dalam mengembangkan kemampuan fisik, emosional, sosial, dan kognitif siswa. Namun, banyak proses pembelajaran PE masih mengandalkan pendekatan guru-sentris yang membatasi partisipasi siswa dan gagal menciptakan pengalaman belajar yang bermakna. Akibatnya, hasil belajar seringkali kurang relevan dan berkelanjutan. Studi ini menyelidiki bagaimana penggunaan Lesson Study (LS) mempengaruhi profesionalisme guru dan pembelajaran siswa. Dengan LS, guru bekerja sama untuk merencanakan, mengamati, dan merefleksikan secara sistematis proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Sepuluh guru sekolah dasar di Palembang, Indonesia, yang mengajar pendidikan jasmani, berpartisipasi dalam penelitian ini. Alat penelitian yang digunakan adalah Formative Class Evaluation (FCE), yang terdiri dari sembilan pertanyaan dan empat komponen: hasil, motivasi, pembelajaran, dan kerja sama. Analisis data menggunakan FCE menunjukkan peningkatan signifikan dalam kualitas pengajaran setelah implementasi LS. Skor rata-rata FCE sebelum LS berkisar antara 2,66 hingga 2,85. Setelah LS, skor rata-rata meningkat menjadi antara 2,71 dan 2,86. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun hubungan antara LS dan peningkatan pembelajaran relatif lemah, implementasi LS secara signifikan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas sebagaimana dirasakan oleh siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa LS memiliki dampak positif dalam meningkatkan pengalaman belajar di kelas. Meskipun korelasi antara LS dan peningkatan belajar siswa moderat, signifikansi statistik hasil menyoroti potensinya sebagai alat pengembangan profesional yang efektif bagi guru. Penelitian lebih lanjut dapat mengeksplorasi efek jangka panjang LS terhadap kinerja siswa dan keberlanjutan perbaikan ini.Physical Education (PE) plays a vital role in developing students\u27 physical, emotional, social, and cognitive abilities. However, many PE learning processes still rely on teacher-centered approaches that limit student engagement and fail to create meaningful learning experiences. As a result, learning outcomes often lack relevance and sustainability. This study investigates how the use of Lesson Study (LS) affects both instructor professionalism and student learning. With LS, teachers work together to plan, observe, and methodically reflect on the learning process. This study used a qualitative approach with a case study method. 10 primary school teachers from Palembang, Indonesia, who teach physical education, participated in this study. The research instrument used was the Formative Class Evaluation (FCE), which consists of nine questions and four components: results, motivation, learning, and cooperation. The data analysis using the FCE indicated a significant improvement in teaching quality after the implementation of LS. The average FCE scores before LS ranged from 2.66 to 2.85. After LS, the average scores increased to between 2.71 and 2.86. These results suggest that although the relationship is relatively weak, LS implementation significantly enhanced classroom learning quality as perceived by the students. The findings suggest that LS has a positive impact on improving classroom learning experiences. Although the correlation between LS and student learning improvements was moderate, the statistical significance of the results highlights its potential as an effective professional development tool for teachers. Future research could explore the long-term effects of LS on student performance and the sustainability of these improvements
Efektivitas Latihan Air Tabata dalam Meningkatkan Kecepatan Renang Gaya Bebas 50 Meter
Appropriate training zone, energy, and distance calculations strongly affect swimmer performance. Strong aerobic and anaerobic skills help swimmers compete. Improving 50-meter freestyle swimming speed requires proper training methods like Tabata water training. This study examines whether Tabata Water Training speeds 50-meter freestyle. His quasi-experimental study uses a pretest-posttest single-group paradigm. A sample of 16 Pradah Swimming Club members was chosen. Active members who had recently competed in regional competitions and gotten constant coaching from licensed instructors were chosen. Such inclusion criteria guaranteed that respondents had extensive training and competition experience, which is essential for study validity. The measurement of 50 meters of swimming time before and after therapy was the tool used. The important variations between pre-test and post-test scores were investigated by means of a paired sample t-test on data. Data normalality was evaluated using a Shapiro-Wilk test before the test. Should the data show a non-normal distribution, a Wilcoxon signed-rank test served as a non-parametric substitute. P 0.05 was the specified significance threshold. The results showed a significant increase in swimming speed after following the training program, with a significance value of 0.000 (<0.05). The average swimming time increased from 46.36 seconds (pre-test) to 42.20 seconds (post-test). In conclusion, Tabata Water Training works well to improve 50-meter freestyle swimming speed. This study offers empirical data that allows coaches to use water-based HIIT techniques as an effective substitute training tool to improve swimmer performance. Zona latihan yang tepat, energi, dan perhitungan jarak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap performa renang. Kemampuan aerobik dan anaerobik yang kuat membantu perenang berkompetisi. Meningkatkan kecepatan renang gaya bebas 50 meter memerlukan metode latihan yang tepat, seperti Tabata Water Training. Studi ini menguji apakah Tabata Water Training dapat meningkatkan kecepatan renang gaya bebas 50 meter. Studi quasi-eksperimental ini menggunakan paradigma pretest-posttest dengan satu kelompok. Sebanyak 16 anggota Klub Renang Pradah dipilih sebagai sampel. Anggota aktif yang baru saja berkompetisi dalam kompetisi regional dan mendapatkan pelatihan rutin dari instruktur berlisensi dipilih. Kriteria inklusi ini memastikan responden memiliki pengalaman latihan dan kompetisi yang memadai, yang esensial untuk validitas studi. Pengukuran waktu renang 50 meter sebelum dan setelah terapi digunakan sebagai alat pengukuran. Perbedaan signifikan antara skor pra-tes dan pasca-tes dianalisis menggunakan uji t sampel berpasangan pada data. Normalitas data dievaluasi menggunakan uji Shapiro-Wilk sebelum uji. Jika data menunjukkan distribusi non-normal, uji Wilcoxon signed-rank digunakan sebagai alternatif non-parametrik. Ambang batas signifikansi ditetapkan pada P 0.05. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam kecepatan berenang setelah mengikuti program latihan, dengan nilai signifikansi 0.000 (<0.05). Waktu renang rata-rata meningkat dari 46,36 detik (pra-tes) menjadi 42,20 detik (pasca-tes). Kesimpulannya, Latihan Air Tabata efektif untuk meningkatkan kecepatan renang gaya bebas 50 meter. Studi ini menyediakan data empiris yang memungkinkan pelatih menggunakan teknik HIIT berbasis air sebagai alat latihan alternatif yang efektif untuk meningkatkan performa perenang
Efektivitas metode latihan jarak jauh dengan kecepatan lambat dalam meningkatkan vo₂max pada atlet basket
Basketball is a high-intensity sport that demands superior aerobic capacity to sustain performance throughout the match. One key physiological indicator of endurance is VO₂Max, which plays a crucial role in determining an athlete’s ability to recover and maintain performance. This study aims to examine the effectiveness of the Long Slow Distance (LSD) training method in enhancing the VO₂Max of male basketball athletes at Jakarta State University (UNJ). The research employed a pre-test and post-test experimental design with a single group. The LSD training intervention was conducted over a period of six weeks, with a frequency of three sessions per week, totaling 18 sessions. A total of 17 male basketball athletes were selected using total sampling from a population of 20 athletes. The Beep Test was selected as the primary VO₂Max assessment tool due to its practical application in field settings. Data analysis was conducted using SPSS software, applying tests for normality, homogeneity, and paired sample t-tests with a significance threshold of p ≤ 0.05. The paired sample t-test revealed a statistically significant improvement in VO₂Max (t(16) = 13.40, p < 0.001, Cohen’s d = 1.83), indicating a large effect size and meaningful physiological adaptation. Similarly, the Beep Test scores improved significantly (t(16) = 10.11, p < 0.001, Cohen’s d = 1.53), reflecting a substantial increase in aerobic endurance. These findings confirm that LSD training effectively improves aerobic capacity and serves as a suitable endurance strategy, particularly during the general preparatory phase, to support performance in high-intensity sports like basketball.Basketball adalah olahraga intensitas tinggi yang membutuhkan kapasitas aerobik yang superior untuk mempertahankan performa sepanjang pertandingan. Salah satu indikator fisiologis utama daya tahan adalah VO₂Max, yang memainkan peran krusial dalam menentukan kemampuan atlet untuk pulih dan mempertahankan performa. Studi ini bertujuan untuk menguji efektivitas metode latihan Long Slow Distance (LSD) dalam meningkatkan VO₂Max atlet basket pria di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Penelitian ini menggunakan desain eksperimental pre-test dan post-test dengan satu kelompok. Intervensi latihan LSD dilakukan selama enam minggu, dengan frekuensi tiga sesi per minggu, total 18 sesi. Sebanyak 17 atlet basket pria dipilih secara acak dari populasi 20 atlet. Beep Test dipilih sebagai alat penilaian VO₂Max utama karena aplikasinya yang praktis di lapangan. Analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS, dengan menerapkan uji normalitas, homogenitas, dan uji t sampel berpasangan dengan ambang signifikansi p ≤ 0,05. Uji t sampel berpasangan menunjukkan peningkatan yang signifikan secara statistik pada VO₂Max (t(16) = 13,40, p < 0,001, Cohen’s d = 1,83), menunjukkan ukuran efek besar dan adaptasi fisiologis yang bermakna. Demikian pula, skor Beep Test meningkat secara signifikan (t(16) = 10,11, p < 0,001, Cohen’s d = 1,53), mencerminkan peningkatan yang substansial dalam daya tahan aerobik. Temuan ini mengonfirmasi bahwa latihan LSD efektif dalam meningkatkan kapasitas aerobik dan dapat dijadikan strategi daya tahan yang sesuai, terutama pada fase persiapan umum, untuk mendukung kinerja dalam olahraga intensitas tinggi seperti basket
Menelaah sifat-sifat kepribadian dan ketangguhan mental: analisis komparatif antara atlet tarung derajat nasional dan regional
This research investigates whether personality type and mental toughness differ significantly between national and regional-level combat athletes, exploring if competition level impacts athletes\u27 psychological traits. The research design was cross-sectional, involving data collection at a single point in time from two groups of athletes (national and regional) using a questionnaire distributed via Google Forms. The sample consisted of 14 advanced fighters, 7 from the national and 7 from the regional teams. Participants were recruited using purposive sampling, targeting athletes who met specific criteria for competitive experience. Data was collected through questionnaires distributed via Google Forms, and the research instruments included the EPQ-R for personality assessment and a mental toughness questionnaire. Statistical analysis used SPSS 25, which involved variance tests to ensure data validity and reliability. The study revealed no significant differences (p > 0.05) in personality type or mental toughness between the two groups. Regional athletes had a higher average EPQ-R score (34.6) than national athletes (28.85). Regarding mental toughness, only 2 national athletes scored in the "Very Tough" category, while all 7 regional athletes fell into the "Tough" category. These findings suggest that competition level does not substantially influence athletes\u27 psychological characteristics. Coaches and sports practitioners can leverage these insights to tailor training programs that effectively meet athletes\u27 psychological needs across different competitive levels.Penelitian ini menyelidiki apakah tipe kepribadian dan ketangguhan mental berbeda secara signifikan antara atlet tarung tingkat nasional dan regional, mengeksplorasi apakah tingkat kompetisi berdampak pada sifat-sifat psikologis atlet. Desain penelitian ini bersifat cross-sectional, yang melibatkan pengumpulan data pada satu titik waktu dari dua kelompok atlet (nasional dan regional) dengan menggunakan kuesioner yang didistribusikan melalui Google Formulir. Sampel terdiri dari 14 petarung tingkat lanjut, 7 dari tim nasional dan 7 dari tim regional. Para peserta direkrut dengan menggunakan purposive sampling, dengan menargetkan atlet yang memenuhi kriteria khusus untuk pengalaman bertanding. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang didistribusikan melalui Google Formulir, dan instrumen penelitian termasuk EPQ-R untuk penilaian kepribadian dan kuesioner ketangguhan mental. Analisis statistik menggunakan SPSS 25, yang melibatkan uji varians untuk memastikan validitas dan reliabilitas data. Penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan (p > 0,05) dalam tipe kepribadian atau ketangguhan mental antara kedua kelompok. Atlet regional memiliki rata-rata skor EPQ-R yang lebih tinggi (34,6) daripada atlet nasional (28,85). Terkait ketangguhan mental, hanya 2 atlet nasional yang memiliki skor dalam kategori “Sangat Tangguh”, sementara 7 atlet regional masuk dalam kategori “Tangguh”. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat kompetisi tidak terlalu berpengaruh terhadap karakteristik psikologis atlet. Para pelatih dan praktisi olahraga dapat memanfaatkan wawasan ini untuk menyesuaikan program pelatihan yang secara efektif memenuhi kebutuhan psikologis atlet di berbagai tingkat kompetisi
Meneliti hubungan antara iklim motivasi dan tingkat kecemasan atlet bola tangan pra-kompetisi: Wawasan gender
Coaches significantly influence athletes\u27 needs and psychological performance by influencing the motivational climate in sports. The study aimed to analyze the relationship between the motivational climate of coaches and the anxiety of handball players before competitions, with a special emphasis on gender disparities in sports. The population in this study is the West Java National Sports Week Handball team, which totals 30 athletes. The sample in this study uses the total sampling method, so the sample in this study is 30. The data collection technique in this study uses the Perceived Motivational Climate in Sport Questionnaire-2 and the Competitive Sport Anxiety Inventory-2R questionnaire. The data analysis technique in this study uses a simple correlation test analysis using the product moment correlation formula and a quantitative descriptive methodology with the help of SPSS. These findings show that the level of anxiety and motivational atmosphere of coaches is significantly positively correlated in both male athletes (p-value 0.008) and female athletes (p-value 0.000). Based on descriptive statistical analysis, male athletes had a greater average level of anxiety (45.7550) than female athletes (40.5709). In contrast, female athletes were more influenced by the motivational climate (average score of 89.9769) than male athletes (84.3422). Based on the study\u27s findings, gender has an impact on anxiety ahead of the competition, and male and female athletes react differently to pre-competition stress.Pelatih secara signifikan mempengaruhi kebutuhan dan kinerja psikologis atlet dengan mempengaruhi iklim motivasi dalam olahraga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim motivasi pelatih dengan kecemasan pemain bola tangan sebelum bertanding, dengan penekanan khusus pada kesenjangan gender dalam olahraga. Populasi dalam penelitian ini adalah tim bola tangan Pekan Olahraga Nasional Jawa Barat yang berjumlah 30 atlet. Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode total sampling, sehingga sampel dalam penelitian ini berjumlah 30. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner Perceived Motivational Climate in Sport Questionnaire-2 dan kuesioner Competitive Sport Anxiety Inventory-2R. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis uji korelasi sederhana dengan menggunakan rumus korelasi product moment dan metodologi deskriptif kuantitatif dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kecemasan dan atmosfer motivasi pelatih berkorelasi positif secara signifikan baik pada atlet putra (p-value 0.008) maupun atlet putri (p-value 0.000). Berdasarkan analisis statistik deskriptif, atlet putra memiliki rata-rata tingkat kecemasan yang lebih besar (45.7550) dibandingkan atlet putri (40.5709). Sebaliknya, atlet perempuan lebih dipengaruhi oleh iklim motivasi (skor rata-rata 89.9769) daripada atlet laki-laki (84.3422). Berdasarkan temuan penelitian, jenis kelamin memiliki dampak pada kecemasan menjelang kompetisi, dan atlet pria dan wanita bereaksi secara berbeda terhadap stres pra-kompetisi
Meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran olahraga: Peran modul elektronik, kreativitas guru, dan teknologi
Student engagement in physical education is essential for promoting active participation and effective learning. However, traditional teaching methods often struggle to maintain students’ interest and motivation. In response to technological advancements, this study explores how e-module development, teacher creativity, and technology use affect student engagement in sports education, with technology acting as a moderating variable. A quantitative approach was applied, involving 150 Indonesian high school students selected through purposive sampling, focusing on those actively participating in physical education and using e-modules. Data were collected via structured questionnaires measuring e-module development, teacher creativity, technology use, and student engagement. The data were analyzed using Partial Least Squares (PLS) 4.0. The results show that e-modules (β = 0.420, t = 7.746, p < 0.001), teacher creativity (β = 0.212, t = 3.668, p < 0.001), and technology (β = 0.200, t = 4.392, p < 0.001) significantly enhance student engagement. Moreover, technology strengthens the influence of both e-modules (β = 0.303, t = 5.908, p < 0.001) and teacher creativity (β = 0.214, t = 3.783, p < 0.001) on student engagement. These findings underscore the importance of integrating digital tools and creative teaching strategies in physical education. The study provides practical implications for educators aiming to boost student involvement through innovative, technology-supported instruction. Keterlibatan siswa dalam pendidikan jasmani sangat penting untuk mendorong partisipasi aktif dan pembelajaran yang efektif. Namun, metode pengajaran tradisional seringkali kesulitan dalam mempertahankan minat dan motivasi siswa. Menanggapi kemajuan teknologi, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana pengembangan e-module, kreativitas guru, dan penggunaan teknologi memengaruhi keterlibatan siswa dalam pendidikan olahraga, dengan teknologi bertindak sebagai variabel moderator. Pendekatan kuantitatif diterapkan, melibatkan 150 siswa SMA Indonesia yang dipilih melalui sampling purposif, dengan fokus pada mereka yang aktif berpartisipasi dalam pendidikan jasmani dan menggunakan e-module. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang mengukur pengembangan e-module, kreativitas guru, penggunaan teknologi, dan keterlibatan siswa. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares (PLS) 4.0. Hasil menunjukkan bahwa e-module (β = 0.420, t = 7.746, p < 0.001), kreativitas guru (β = 0.212, t = 3.668, p < 0.001), dan teknologi (β = 0.200, t = 4.392, p < 0.001) secara signifikan meningkatkan keterlibatan siswa. Selain itu, teknologi memperkuat pengaruh e-modul (β = 0,303, t = 5,908, p < 0,001) dan kreativitas guru (β = 0,214, t = 3,783, p < 0,001) terhadap keterlibatan siswa. Temuan ini menyoroti pentingnya integrasi alat digital dan strategi pengajaran kreatif dalam pendidikan jasmani. Studi ini memberikan implikasi praktis bagi pendidik yang bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan siswa melalui instruksi inovatif yang didukung teknologi
Mengintegrasikan permainan tradisional dengan permainan edukatif untuk memahami dan meningkatkan pemahaman permainan di kalangan siswa sekolah dasar.
Students\u27 academic ability can be improved through integrated learning activities of physical activity and actual gameplay. However, many teachers still have difficulties implementing it in physical education learning. The study investigates the effectiveness of the Teaching Games for Understanding (TGfU) model, implemented through modified Kasti games, in enhancing game understanding among elementary students. Conducted as a pre-experimental study with a one-group pretest-posttest design, it involved 48 fifth-grade students in West Kalimantan, Indonesia. The intervention spanned five sessions and assessed game understanding through the Games Understanding Assessment Instrument (GPAI), focusing on decision-making, skill execution, and covering. Results showed a significant improvement in post-test and post-test scores, with marked progress in each assessed component. The study highlights TGfU\u27s potential in fostering tactical and cognitive skills in physical education for young learners, suggesting that traditional games adapted within this model offer a culturally relevant and effective approach to increasing students\u27 engagement and understanding. Limitations include the absence of a control group and a small sample size, recommending further research to confirm these findings in diverse educational settings. Kemampuan akademik siswa dapat ditingkatkan melalui kegiatan pembelajaran terpadu yang menggabungkan aktivitas fisik dan permainan nyata. Namun, banyak guru masih mengalami kesulitan dalam menerapkan hal ini dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki efektivitas model Teaching Games for Understanding (TGfU), yang diterapkan melalui permainan Kasti yang dimodifikasi, dalam meningkatkan pemahaman permainan di kalangan siswa sekolah dasar. Studi ini dilakukan sebagai penelitian pra-eksperimental dengan desain satu kelompok pra-tes dan pasca-tes, melibatkan 48 siswa kelas lima di Kalimantan Barat, Indonesia. Intervensi berlangsung selama lima sesi dan menilai pemahaman permainan melalui Alat Penilaian Pemahaman Permainan (GPAI), dengan fokus pada pengambilan keputusan, pelaksanaan keterampilan, dan cakupan. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada skor post-test dan post-test, dengan kemajuan yang nyata pada setiap komponen yang dievaluasi. Studi ini menyoroti potensi TGfU dalam mengembangkan keterampilan taktis dan kognitif dalam pendidikan jasmani bagi siswa muda, menyarankan bahwa permainan tradisional yang diadaptasi dalam model ini menawarkan pendekatan yang relevan secara budaya dan efektif untuk meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa. Batasan studi termasuk ketidakhadiran kelompok kontrol dan ukuran sampel yang kecil, sehingga disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi temuan ini dalam konteks pendidikan yang beragam
Improve the skill of dropping techniques with catches in pencak silat through the section method
The background of this research is the need to increase the effectiveness of the dropping technique with a catch in pencak silat athletes because mastery of this skill is very important to improve performance in the fighter category. This study aims to improve the drooping technique with catches at PPS Merpati Putih Bekasi. The subjects of this study are beginner pencak silat athlete Merpati Putih in Bekasi, fighter category. The youth category consists of male athletes and female athletes. The method used in this study is the section method with Action Research. The indicators measured in this study are preparatory movement, execution movement, follow-up movement, and final movement. Based on the study\u27s results, conclusions can be obtained. Action Research and the section method in training can improve the dropping technique with catches at pencak silat Merpati Putih Bekasi. With one cycle of action research. The success rate of athletes in the pre-test amounted to 4 or 18.18%, then after being trained with the part-by-part method in the first cycle, the success of athletes reached 20 people or 90.91%. From the research data, a tcount of 21.3 was obtained with a significant level of 0.05, and ttable was 1.72, then tcount (21.3) > ttable (1.72) means that there was a significant increase between the pre-test and the post-test.Latar belakang penelitian ini adalah perlunya peningkatan efektivitas teknik menjatuhkan diri dengan tangkapan pada atlet pencak silat karena penguasaan keterampilan ini sangat penting untuk meningkatkan prestasi pada kategori pesilat. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan teknik jatuhan dengan tangkapan di PPS Merpati Putih Bekasi. Subjek penelitian ini adalah atlet pencak silat pemula Merpati Putih di Bekasi, kategori pesilat. Kategori pesilat terdiri dari atlet putra dan atlet putri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode bagian dengan Action Research. Indikator yang diukur dalam penelitian ini adalah gerakan persiapan, gerakan pelaksanaan, gerakan lanjutan, dan gerakan akhir. Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh kesimpulan. Action Research dan metode bagian dalam latihan dapat meningkatkan teknik jatuhan dengan tangkapan pada pencak silat Merpati Putih Bekasi. Dengan satu siklus penelitian tindakan. Tingkat keberhasilan atlet pada pre-test berjumlah 4 orang atau 18,18%, kemudian setelah dilatih dengan metode bagian pada siklus pertama, keberhasilan atlet mencapai 20 orang atau 90,91%. Dari data penelitian diperoleh thitung sebesar 21,3 dengan taraf signifikan 0,05 dan ttabel sebesar 1,72 maka thitung (21,3) > ttabel (1,72) artinya terdapat peningkatan yang signifikan antara pre-test dan post-test