Jurnal SPORTIF : Jurnal Penelitian Pembelajaran
Not a member yet
    381 research outputs found

    Efek rasio latihan interval intensitas tinggi terhadap kebugaran fisik pada siswa SMP

    No full text
    Indonesian students continue to exhibit low levels of physical fitness. This condition highlights the need for effective interventions to improve students’ physical fitness. This study aims to analyze the effects of HIIT with 1:2 and 1:5 ratios on junior high school students’ physical fitness, as well as to examine the moderating roles of gender and self-efficacy in their training responses. A quantitative approach with a 2 × 2 × 2 factorial design was employed, involving 100 junior high school students in the East Amabi Oefeto Subdistrict, Kupang Regency. The intervention lasted for eight weeks, consisting of 16 sessions conducted three times per week. The instruments used were the National Physical Fitness Test (Tes Kebugaran Jasmani Nasional, TKPN) and the Generalised Self-Efficacy Scale. The data were analysed using ANCOVA statistical procedures. Results revealed that HIIT ratio, gender, and their interaction significantly influenced physical fitness (p < 0.05). Conversely, self-efficacy alone did not show a significant effect (p > 0.05), although it contributed to the three-way interaction. Overall, this study confirms that both 1:2 and 1:5 HIIT ratios effectively improve students\u27 physical fitness, with the 1:2 ratio being slightly more effective. Teachers can implement short HIIT sessions (10–15 minutes) every week, adjusting the ratios and intensity according to students\u27 individual characteristics and needs. Future research should expand the sample size, include additional psychological variables, and explore variations in HIIT duration and frequency to develop a more comprehensive and practical school-based training model.Sebagian besar siswa Indonesia terus menunjukkan tingkat kebugaran fisik yang rendah, dengan 77,12% anak usia 10–15 tahun diklasifikasikan dalam kategori rendah atau sangat rendah.  Kondisi ini menyoroti perlunya intervensi yang efektif untuk meningkatkan kebugaran fisik siswa.  Studi ini bertujuan untuk menganalisis efek HIIT dengan rasio 1:2 dan 1:5 terhadap kebugaran fisik siswa SMP, serta untuk menguji peran moderasi gender dan efikasi diri dalam respons latihan mereka.  Pendekatan kuantitatif dengan desain faktorial 2 × 2 × 2 digunakan, melibatkan 100 siswa sekolah menengah pertama di Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang.  Intervensi berlangsung selama delapan minggu, terdiri dari 16 sesi yang dilakukan tiga kali seminggu.  Instrumen yang digunakan adalah Tes Kebugaran Jasmani Nasional (TKPN) dan Skala Efikasi Diri Umum.  Data dianalisis menggunakan prosedur statistik ANCOVA.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio HIIT, jenis kelamin, dan interaksi keduanya secara signifikan memengaruhi kebugaran fisik (p < 0,05).  Sebaliknya, efikasi diri saja tidak menunjukkan efek yang signifikan (p > 0,05), meskipun berkontribusi pada interaksi tiga arah.  Secara keseluruhan, penelitian ini mengkonfirmasi bahwa rasio HIIT 1:2 dan 1:5 keduanya efektif dalam meningkatkan kebugaran fisik siswa, dengan rasio 1:2 sedikit lebih efektif.  Guru dapat menerapkan sesi HIIT singkat (10–15 menit) setiap minggu, menyesuaikan rasio dan intensitas sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan individu siswa.  Penelitian di masa depan harus memperluas ukuran sampel, memasukkan variabel psikologis tambahan, dan mengeksplorasi variasi durasi dan frekuensi HIIT untuk mengembangkan model pelatihan berbasis sekolah yang lebih komprehensif dan praktis

    Menjelajahi perbedaan gender dalam nilai-nilai olahraga pada remaja: Sebuah studi tentang moral, kompetensi, dan status di kalangan remaja

    No full text
    Sports have great potential in shaping the character of teenagers, but in Indonesia, they still focus more on achievement than self-value development. As a result, moral and social values that should be instilled through sports have not been optimally utilized, especially in the face of the value crisis and the increase in juvenile delinquency. This study aims to compare the values that teenagers learn through sports and to see if these values are different for boys and girls. The method used was a quantitative approach with a comparative survey design, involving 1,564 adolescents aged 12–18 years in the Bandung area, consisting of 762 boys and 802 girls. Sampling was carried out using the convenience sampling technique. The instrument used was the Youth Sport Values Questionnaire-2 (YSVQ-2), which measures three dimensions of values: morality, competence, and status. The technical aspects of the research include the preparation of instruments, coordination with schools, direct data collection, and data supervision and checking. The results showed that the total sports score of adolescent boys was 54.5 and girls was 53.4, with a difference of 1.1 points. The significance test yielded a value of 0.10 < 0.05, showing a significant difference between men and women in interpreting sports values. This study aims to compare the values teenagers learn through sports and to see if these values differ for boys and girls.Olahraga memiliki potensi besar dalam membentuk karakter remaja, namun di Indonesia, fokus masih lebih pada pencapaian daripada pengembangan nilai diri. Akibatnya, nilai-nilai moral dan sosial yang seharusnya ditanamkan melalui olahraga belum dimanfaatkan secara optimal, terutama di tengah krisis nilai dan meningkatnya tindak kriminalitas remaja. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan nilai-nilai yang dipelajari remaja melalui olahraga dan melihat apakah nilai-nilai tersebut berbeda antara laki-laki dan perempuan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain survei komparatif, melibatkan 1.564 remaja berusia 12–18 tahun di wilayah Bandung, terdiri dari 762 laki-laki dan 802 perempuan. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik sampling convenience. Alat ukur yang digunakan adalah Youth Sport Values Questionnaire-2 (YSVQ-2), yang mengukur tiga dimensi nilai: moralitas, kompetensi, dan status. Aspek teknis penelitian meliputi persiapan instrumen, koordinasi dengan sekolah, pengumpulan data langsung, dan pengawasan serta pengecekan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor olahraga total remaja laki-laki adalah 54,5 dan remaja perempuan adalah 53,4, dengan selisih 1,1 poin. Uji signifikansi menghasilkan nilai 0,10 < 0,05, menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam menafsirkan nilai-nilai olahraga. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan nilai-nilai yang dipelajari remaja melalui olahraga dan melihat apakah nilai-nilai tersebut berbeda antara laki-laki dan perempuan

    Memahami iklim motivasi dalam olahraga: Perspektif komparatif tentang atlet tim dan individu

    No full text
    The motivational climate in sports is a crucial factor affecting athlete performance and well-being in both team and individual sports. This study compares the motivational climate between team and individual athletes. Using a quantitative descriptive method, the research involved 15 handball team athletes and 15 individual taekwondo athletes from West Java, selected through purposive sampling. All participants were female, aged 17 to 26 years, with a minimum of 3 years of competitive experience. Data were collected using the Perceived Motivational Climate in Sport Questionnaire (PMCSQ-2). Results showed that team athletes had a slightly higher motivational climate (M = 44.99, SD = 10.19) compared to individual athletes (M = 41.50, SD = 10.47). Team athletes also scored higher in ego and task orientations, with means of 44.23 and 45.74, respectively, while individual athletes scored 39.62 and 43.38. These findings suggest that team sports foster a more positive motivational climate due to stronger social support and group dynamics. Individual athletes focused more on skill mastery and personal goals, facing greater responsibility. This research provides insights for coaches and managers to improve the motivational climate in both team and individual sports, helping athletes achieve optimal performance and maintain mental health. Coaches should focus on individual athletes\u27 personal achievements and support systems to enhance their well-being.Iklim motivasi dalam olahraga merupakan faktor penting yang mempengaruhi performa dan kesejahteraan atlet, baik dalam olahraga tim maupun individu. Penelitian ini membandingkan iklim motivasi antara atlet tim dan individu. Dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif, penelitian ini melibatkan 15 atlet tim bola tangan dan 15 atlet individu taekwondo dari Jawa Barat, yang dipilih secara purposif. Seluruh partisipan berjenis kelamin perempuan, berusia 17 hingga 26 tahun, dengan pengalaman bertanding minimal 3 tahun. Data dikumpulkan dengan menggunakan Perceived Motivational Climate in Sport Questionnaire (PMCSQ-2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa atlet tim memiliki iklim motivasi yang sedikit lebih tinggi (M = 44,99, SD = 10,19) dibandingkan dengan atlet perorangan (M = 41,50, SD = 10,47). Atlet beregu juga memiliki skor yang lebih tinggi dalam hal orientasi ego dan tugas, dengan nilai rata-rata 44,23 dan 45,74, sementara atlet individu memiliki skor 39,62 dan 43,38. Temuan ini menunjukkan bahwa olahraga beregu menumbuhkan iklim motivasi yang lebih positif karena adanya dukungan sosial dan dinamika kelompok yang lebih kuat. Atlet individu lebih fokus pada penguasaan keterampilan dan tujuan pribadi, menghadapi tanggung jawab yang lebih besar. Penelitian ini memberikan wawasan bagi para pelatih dan manajer untuk meningkatkan iklim motivasi baik dalam olahraga tim maupun individu, membantu atlet mencapai kinerja optimal dan menjaga kesehatan mental. Pelatih harus fokus pada pencapaian pribadi atlet dan sistem pendukung untuk meningkatkan kesejahteraan mereka

    Analisis identifikasi kebutuhan fisik yang dominan bagi atlet panahan

    No full text
    This study aims to determine the quantitative relationship between physical factors such as height, weight, arm length, length of the span of both arms and hand pull strength on archery performance in archery athletes participating in the Central Java National Sports Week. This study uses a quantitative survey method. The sample involved was 28 athletes of the Central Java National Sports Week (PON) who were selected using a purposive sampling technique. The data collection techniques in this study are tests and measurements. The results showed that there was no significant relationship between height, weight, arm length, length of the span of both arms, and hand-pulling strength with archery results. These physical factors are not the main determinants of archery achievement. The results showed that there was a significant relationship between height, weight, arm length, length of the span of both arms, and hand-pulling strength with archery results. Each variable is marked with an R-value of 0.82. Based on these results, height, weight, arm length, length of the span of both arms and hand pull strength are very important factors in supporting the dominant physical needs of archery athletes. This research has important implications for coaches and athletes, namely that the focus in training should be more directed at developing mental techniques and skills rather than simply relying on or modifying physical factors. Comprehensive skill development and experience enhancement can be a more effective strategy to improve achievement in archery.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kuantitatif antara faktor fisik seperti tinggi badan, berat badan, panjang lengan, panjang rentang kedua lengan dan kekuatan tarikan tangan terhadap prestasi panahan pada atlet panahan yang mengikuti Pekan Olahraga Nasional Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode survei kuantitatif. Sampel yang dilibatkan sebanyak 28 atlet Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Tengah yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes dan pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara tinggi badan, berat badan, panjang lengan, panjang rentang kedua lengan, dan kekuatan tarikan tangan dengan hasil memanah. Faktor-faktor fisik tersebut bukan merupakan faktor penentu utama dalam prestasi panahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tinggi badan, berat badan, panjang lengan, panjang rentang kedua lengan, dan kekuatan tarikan tangan dengan hasil memanah. Setiap variabel ditandai dengan nilai R sebesar 0,82. Berdasarkan hasil tersebut, tinggi badan, berat badan, panjang lengan, panjang rentang kedua lengan dan kekuatan tarikan tangan merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjang kebutuhan fisik yang dominan pada atlet panahan. Penelitian ini memiliki implikasi penting bagi para pelatih dan atlet, yaitu bahwa fokus dalam latihan harus lebih diarahkan pada pengembangan teknik dan keterampilan mental daripada hanya mengandalkan atau memodifikasi faktor fisik. Pengembangan keterampilan yang komprehensif dan peningkatan pengalaman dapat menjadi strategi yang lebih efektif untuk meningkatkan prestasi dalam memanah

    Ringkasan kematangan emosional atlet sepak bola pria

    No full text
    Football players need emotional maturity to handle competitive pressure, teamwork, and decision-making. Emotional maturity can affect Citra Bakti Ngada football players\u27 performance, team relationships, and responses to wins and losses. This research design uses a quantitative descriptive designand this study employs a quantitative descriptive method using a survey method. The subjects in this study are all male senior and junior football athletes at Citra Bakti Club, totalling 50 athletes aged 16 and 23 years, using a saturated sampling technique. The research instrument utilizes an emotional maturity scale adjusted to the context of football matches. Validity testing is conducted using Cronbach\u27s alpha technique, while reliability testing is carried out using the product-moment formula with the assistance of SPSS. The results of this study indicate that the emotional maturity of Citra Bakti football athletes falls into three categories: low emotional maturity at 61.9% (14 athletes), moderate emotional maturity at 33.3% (24 athletes), and high emotional maturity at 4.8% (12 athletes). In conclusion, most football athletes at the Citra Bakti Ngada club have a moderate level of emotional maturity. Based on the research findings above, the researcher can offer several contributions to the management of professional football clubs as well as coaches from a psychological perspective, namely by adding variations of emotional regulation training that can be implemented in football clubs, such as relaxation techniques, deep breathing, or meditation, which can help athletes manage negative emotions and remain focused during matches. Pemain sepak bola membutuhkan kematangan emosional untuk menghadapi tekanan kompetitif, kerja sama tim, dan pengambilan keputusan. Kematangan emosional dapat memengaruhi kinerja pemain sepak bola Citra Bakti Ngada, hubungan tim, dan respons terhadap kemenangan dan kekalahan. Desain penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif, dan studi ini menerapkan metode deskriptif kuantitatif dengan metode survei. Subjek penelitian ini adalah semua atlet sepak bola pria senior dan junior di Citra Bakti Club, berjumlah 50 atlet berusia 16 hingga 23 tahun, menggunakan teknik sampling jenuh. Alat penelitian menggunakan skala kematangan emosional yang disesuaikan dengan konteks pertandingan sepak bola. Uji validitas dilakukan menggunakan teknik Cronbach\u27s alpha, sedangkan uji reliabilitas dilakukan menggunakan rumus produk-moment dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kematangan emosional atlet sepak bola Citra Bakti terbagi menjadi tiga kategori: kematangan emosional rendah (61,9% atau 14 atlet), kematangan emosional sedang (33,3% atau 24 atlet), dan kematangan emosional tinggi (4,8% atau 12 atlet). Kesimpulannya, sebagian besar atlet sepak bola di klub Citra Bakti Ngada memiliki tingkat kematangan emosional sedang. Berdasarkan temuan penelitian di atas, peneliti dapat memberikan beberapa kontribusi bagi manajemen klub sepak bola profesional serta pelatih dari perspektif psikologis, yaitu dengan menambahkan variasi latihan regulasi emosi yang dapat diterapkan di klub sepak bola, seperti teknik relaksasi, pernapasan dalam, atau meditasi, yang dapat membantu atlet mengelola emosi negatif dan tetap fokus selama pertandingan

    Pengaruh latihan interval dan latihan push-up terhadap daya tahan kardiovaskular dan kekuatan tubuh bagian atas pada remaja

    No full text
    Adolescent physical fitness is a crucial determinant of health and long-term well-being, yet global data show that most adolescents fail to achieve recommended activity levels. This study aimed to evaluate the effectiveness of combining interval training with push-up exercises in enhancing specific components of physical fitness, namely cardiorespiratory endurance and upper body strength. A quasi-experimental one-group pretest–posttest design was employed with 29 adolescents who met predetermined inclusion criteria. Physical fitness was assessed using the 12-minute run test (Cooper test) to measure aerobic endurance and a 1-minute push-up test to assess upper-body muscular strength. Data analysis included parametric and non-parametric tests based on normality results. The findings demonstrated a significant increase in VO₂Max from 44.7 to 47.8 ml/kg/min (p = 0.002), alongside a meaningful improvement in push-up performance (p = 0.019). These outcomes confirm that the six-week intervention program effectively enhanced both aerobic endurance and muscular strength. The study concludes that interval training and push-ups, when combined, offer a practical, low-cost, and adaptable exercise model for adolescent fitness development. Beyond the statistical results, the contribution of this study lies in demonstrating how two simple training modalities can be systematically integrated to address key aspects of adolescent health and performance, with direct implications for school-based physical education and youth sports programs.Kebugaran fisik remaja merupakan faktor penentu penting bagi kesehatan dan kesejahteraan jangka panjang, namun data global menunjukkan bahwa sebagian besar remaja tidak mencapai tingkat aktivitas yang direkomendasikan. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kombinasi latihan interval dengan latihan push-up dalam meningkatkan komponen spesifik kebugaran fisik, yaitu daya tahan kardiovaskular dan kekuatan otot bagian atas. Desain quasi-eksperimental satu kelompok pra-tes–pasca-tes digunakan dengan 29 remaja yang memenuhi kriteria inklusi yang telah ditentukan. Kebugaran fisik diukur menggunakan tes lari 12 menit (tes Cooper) untuk mengukur daya tahan aerobik dan tes push-up 1 menit untuk menilai kekuatan otot bagian atas tubuh. Analisis data mencakup uji parametrik dan non-parametrik berdasarkan hasil normalitas. Temuan menunjukkan peningkatan signifikan dalam VO₂Max dari 44,7 menjadi 47,8 ml/kg/menit (p = 0,002), disertai dengan perbaikan yang berarti dalam kinerja push-up (p = 0,019). Hasil ini membuktikan bahwa program intervensi enam minggu secara efektif meningkatkan daya tahan aerobik dan kekuatan otot. Studi ini menyimpulkan bahwa latihan interval dan push-up, ketika digabungkan, menawarkan model latihan yang praktis, murah, dan fleksibel untuk pengembangan kebugaran remaja. Di luar hasil statistik, kontribusi studi ini terletak pada demonstrasi bagaimana dua metode latihan sederhana dapat diintegrasikan secara sistematis untuk mengatasi aspek kunci kesehatan dan kinerja remaja, dengan implikasi langsung untuk program pendidikan jasmani di sekolah dan program olahraga remaja

    Analisis video: Teknik penerimaan dalam pertandingan sepak takraw semi-profesional

    No full text
    Reception analysis plays a crucial role in modern sports. One essential aspect of match analysis in Sepak Takraw is the reception technique. This study aims to analyze reception techniques through video recordings of semi-professional Sepak Takraw matches. The research employs a quantitative descriptive method using an indirect observation approach (video analysis). In its implementation, the researchers analyzed match footage to evaluate the receiving techniques used during the final match of the double event between the Jember and Malang teams at the 2023 East Java POMPROV. A purposive sampling technique was used to determine the research subjects, focusing on the receptions performed by both teams during the final match. The instruments in this study included video recordings and an observation checklist (receive analysis sheet), categorizing reception outcomes into successful receives (R1) and unsuccessful receives (R0). Data were analyzed using Microsoft Excel to calculate the number and percentage of successful and unsuccessful receptions. The descriptive analysis revealed that Jember had a higher success rate in both sets. In Set 1, Jember achieved a perfect reception success rate of 100%, while Malang reached 92.31%. In Set 2, Jember maintained the lead with 93.75%, whereas Malang recorded 90.56%. The conclusion indicates that the Jember team outperformed the Malang team in terms of reception success during the final match. These findings are expected to serve as a valuable evaluation tool for coaches aiming to enhance reception techniques in Sepak Takraw and for athletes seeking to improve their performance.Analisis penerimaan memegang peranan penting dalam olahraga modern. Salah satu aspek penting dalam analisis pertandingan Sepak Takraw adalah teknik penerimaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis teknik penerimaan melalui rekaman video pertandingan Sepak Takraw semi-profesional. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan pengamatan tidak langsung (analisis video). Dalam pelaksanaannya, para peneliti menganalisis rekaman pertandingan untuk mengevaluasi teknik penerimaan yang digunakan selama pertandingan final acara ganda antara tim Jember dan Malang pada POMPROV Jawa Timur 2023. Teknik sampling purposif digunakan untuk menentukan subjek penelitian, dengan fokus pada penerimaan yang dilakukan oleh kedua tim selama pertandingan final. Alat penelitian meliputi rekaman video dan daftar observasi (lembar analisis penerimaan), yang mengkategorikan hasil penerimaan menjadi penerimaan sukses (R1) dan penerimaan gagal (R0). Data dianalisis menggunakan Microsoft Excel untuk menghitung jumlah dan persentase penerimaan sukses dan gagal. Analisis deskriptif menunjukkan bahwa Jember memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi di kedua set. Pada Set 1, Jember mencapai tingkat keberhasilan penerimaan 100%, sementara Malang mencapai 92,31%. Pada Set 2, Jember tetap memimpin dengan 93,75%, sedangkan Malang mencatat 90,56%. Kesimpulan menunjukkan bahwa tim Jember unggul dibandingkan tim Malang dalam hal keberhasilan penerimaan selama pertandingan final. Temuan ini diharapkan dapat menjadi alat evaluasi yang berharga bagi pelatih yang bertujuan untuk meningkatkan teknik penerimaan dalam Sepak Takraw dan bagi atlet yang ingin meningkatkan kinerja mereka

    Survei minat masyarakat terhadap olahraga teqball di Kalimantan Selatan

    No full text
    Teqball is a new sport in the world. Since the sport of Teqball entered Indonesia in 2019 until now, it has not shown extraordinary development. This research aims to encourage the public to be interested in actively participating in teqball sports. Interest is needed to realize a sports activity because it causes a sense of interest and enjoyment in participating in sports. The subjects in this study are the people of South Kalimantan, especially Kotabaru Regency, with as many as 87 participants using an incidental sampling technique. The survey method uses a questionnaire that has been validated by experts with a validity value of 0.87 and a reliability of 0.79. A percentage-based quantitative descriptive approach is used in the data processing process using SPSS version 26 software, where a questionnaire containing an indigo Likert scale of 1-5 will be given for assessment. The results show that the average interest score was obtained through a percentage descriptive analysis, where the percentage of attention indicators (75%), the percentage of facility indicators (78%), the percentage of environmental indicators (66%), and the percentage of interest indicators (63%). So it can be concluded in this study that the interest in teqball sports among the people of South Kalimantan is at a high standard.Teqball merupakan olahraga yang masih baru di dunia. Sejak olahraga Teqball masuk ke Indonesia pada tahun 2019 hingga saat ini belum menunjukkan perkembangan yang luar biasa. Penelitian ini bertujuan untuk mendorong masyarakat agar berminat untuk berpartisipasi aktif dalam olahraga teqball. Minat sangat dibutuhkan untuk mewujudkan suatu kegiatan olahraga karena menimbulkan rasa ketertarikan dan rasa senang dalam mengikuti olahraga. Subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat Kalimantan Selatan khususnya Kabupaten Kotabaru dengan jumlah partisipan sebanyak 87 orang dengan menggunakan teknik sampling insidental. Metode survei menggunakan kuesioner yang telah divalidasi oleh para ahli dengan nilai validitas sebesar 0,87 dan reliabilitas sebesar 0,79. Pendekatan deskriptif kuantitatif berbasis persentase digunakan dalam proses pengolahan data dengan menggunakan software SPSS versi 26, dimana kuesioner yang berisi skala likert nila 1-5 akan diberikan penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor minat diperoleh melalui analisis deskriptif persentase, dimana persentase indikator perhatian (75%), persentase indikator fasilitas (78%), persentase indikator lingkungan (66%), dan persentase indikator ketertarikan (63%). Sehingga dapat disimpulkan dalam penelitian ini bahwa minat olahraga teqball di kalangan masyarakat Kalimantan Selatan berada pada standar tinggi

    Menjelajahi perkembangan pariwisata olahraga paralayang: Studi kasus perbandingan di Bali dan Jawa Tengah

    No full text
    One of Indonesia\u27s top priorities still is tourism, which helps to boost regional development, employment, and the national economy. Among its developing sub-sectors, sport tourism, especially paragliding, has become increasingly popular because of Indonesia\u27s varied and breathtaking natural surroundings. Still, differences in the evolution of tourism locations make it difficult to reach fair and sustainable tourism expansion. This paper attempts to investigate the main elements affecting the growth of paragliding sport tourism by means of a comparative case study of RIUG Paragliding in Bali and the Kemuning Paragliding Community in Central Java. Using a qualitative descriptive-comparative approach, the study thoroughly investigates tourism development strategies from several regional settings. Six key informants, three from each site who directly oversee tourist management, were used in a purposeful sampling process to gather data. Under the direction of the 4A tourism framework (Attractions, Accessibility, Amenities, and Ancillary Services), the study used in-depth interviews, structured observations, and document analysis. Data were transcribed, coded, categorized, and triangulated to guarantee validity and dependability. The results expose several methods of development: Whereas the Kemuning Paragliding Community stresses local resource use and volunteer involvement, RIUG Paragliding Bali uses a corporate-based model with contemporary facilities, integrated promotion methods, and stakeholder collaboration. The study comes to the conclusion that efficient development of paragliding sports tourism calls for cooperative governance involving corporate businesses, local communities, and government institutions to support sustainable and inclusive tourism expansion. Salah satu prioritas utama Indonesia masih adalah pariwisata, yang berperan penting dalam mendorong perkembangan regional, penciptaan lapangan kerja, dan perekonomian nasional. Di antara subsektor yang sedang berkembang, pariwisata olahraga, khususnya paralayang, semakin populer berkat keanekaragaman dan keindahan alam Indonesia yang memukau. Namun, perbedaan dalam perkembangan lokasi pariwisata membuat pencapaian perluasan pariwisata yang adil dan berkelanjutan menjadi tantangan. Penelitian ini berusaha mengidentifikasi faktor-faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan pariwisata olahraga paragliding melalui studi kasus perbandingan antara RIUG Paragliding di Bali dan Komunitas Paragliding Kemuning di Jawa Tengah. Dengan pendekatan deskriptif-komparatif kualitatif, penelitian ini secara mendalam menganalisis strategi pengembangan pariwisata dari beberapa konteks regional. Enam informan kunci, tiga dari masing-masing lokasi yang secara langsung mengawasi pengelolaan pariwisata, dipilih melalui proses sampling yang bertujuan untuk mengumpulkan data. Di bawah kerangka kerja pariwisata 4A (Atraksi, Aksesibilitas, Fasilitas, dan Layanan Pendukung), studi ini menggunakan wawancara mendalam, observasi terstruktur, dan analisis dokumen. Data ditranskrip, dikodekan, dikategorikan, dan ditriangulasi untuk memastikan validitas dan keandalan. Hasil penelitian mengungkapkan beberapa metode pengembangan: Sementara Komunitas Paragliding Kemuning menekankan penggunaan sumber daya lokal dan keterlibatan sukarelawan, RIUG Paragliding Bali menggunakan model berbasis korporasi dengan fasilitas modern, metode promosi terintegrasi, dan kolaborasi pemangku kepentingan. Studi ini menyimpulkan bahwa pengembangan pariwisata olahraga paragliding yang efisien memerlukan tata kelola kolaboratif yang melibatkan perusahaan swasta, komunitas lokal, dan lembaga pemerintah untuk mendukung perluasan pariwisata yang berkelanjutan dan inklusif.

    Komposisi tubuh dan karakteristik kebugaran fisik atlet pencak silat elit Indonesia

    No full text
    Optimizing performance and devising efficient training regimens requires understanding elite athletes\u27 physical profiles. In Indonesian Pencak Silat, BMI and body fat percentage reveal athletes\u27 physical readiness and competitive advantages. Therefore, this study aims to examine the physical condition of Indonesian elite Pencak Silat athletes by assessing their BMI and body fat percentage. This research employed a quantitative descriptive design. A total of 20 elite athletes (12 males and 8 females) were selected through purposive sampling based on their achievements at national and international championships. Data collected included gender, weight class, BMI, and body fat percentage, measured using standardized anthropometric procedures. The data were analyzed using descriptive statistics, partial correlation analysis, and one-way ANOVA to explore relationships and differences based on gender and weight categories. The study found that athletes had a normal BMI of 22.8 kg/m² (SD = 1.9) and a body fat percentage of 16.5% (SD = 4.2%). On average, male athletes had a lower body fat percentage (14.2%) than female athletes (19.8%), a significant difference (p < 0.05). BMI was not significantly different among weight classes. However, partial correlation analysis showed a slight positive association (r = 0.45) between BMI and body fat percentage. In conclusion, Indonesian elite Pencak Silat athletes had ideal body compositions, with gender variances in body fat. These findings underline the need for gender and weight-specific training and dietary programs. This study contributes evidence-based recommendations to support more effective athlete development frameworks for advancing Indonesian Pencak Silat globally.Optimasi kinerja dan penyusunan program latihan yang efisien memerlukan pemahaman terhadap profil fisik atlet elit. Pencak Silat Indonesia, Indeks Massa Tubuh (BMI) dan persentase lemak tubuh menunjukkan kesiapan fisik atlet serta keunggulan kompetitif mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi fisik atlet Pencak Silat elit Indonesia dengan mengukur BMI dan persentase lemak tubuh mereka. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Sebanyak 20 atlet elit (12 laki-laki dan 8 perempuan) dipilih melalui sampling purposif berdasarkan prestasi mereka di kejuaraan nasional dan internasional. Data yang dikumpulkan meliputi jenis kelamin, kelas berat, BMI, dan persentase lemak tubuh, yang diukur menggunakan prosedur antropometri standar. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, analisis korelasi parsial, dan uji ANOVA satu arah untuk mengeksplorasi hubungan dan perbedaan berdasarkan jenis kelamin dan kategori berat badan. Studi ini menemukan bahwa atlet memiliki BMI normal sebesar 22,8 kg/m² (SD = 1,9) dan persentase lemak tubuh sebesar 16,5% (SD = 4,2%). Secara rata-rata, atlet laki-laki memiliki persentase lemak tubuh yang lebih rendah (14,2%) dibandingkan atlet perempuan (19,8%), perbedaan yang signifikan (p < 0,05). BMI tidak berbeda secara signifikan antar kelas berat. Analisis korelasi parsial menunjukkan hubungan positif yang ringan (r = 0,45) antara BMI dan persentase lemak tubuh. Kesimpulannya, atlet Pencak Silat elit Indonesia memiliki komposisi tubuh yang ideal, dengan perbedaan berdasarkan jenis kelamin dalam persentase lemak tubuh. Temuan ini menyoroti pentingnya program latihan dan diet yang disesuaikan dengan jenis kelamin dan berat badan. Rekomendasi berbasis bukti untuk mendukung kerangka kerja pengembangan atlet yang lebih efektif guna memajukan Pencak Silat Indonesia secara global

    194

    full texts

    381

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal SPORTIF : Jurnal Penelitian Pembelajaran
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇