JURNAL ILMIAH PETERNAKAN TERPADU
Not a member yet
    489 research outputs found

    Muscle Micromorphology and Histomorphometry of Sumba Ongole Cattle (Bos indicus)

    Get PDF
    This study aims to knowing the micromorphology and histomorphometry of the sumba ongole cattle muscles. The sample used was 6 muscle samples consisted of the longissimus dorsi and bicep femoris muscles taken from three sumba ongole cattle slaughtered at the West Sumba slaughterhouse. Muscle tissue was fixed using 10% formalin and made histological preparations and hematoxylin-eosin (HE) staining. Histological preparations were observed using a light microscope with objective magnifications of 4, 10, 40, and 100 times. The results showed that the muscle micromorphology in the transverse section consisted of many fascicles formed by muscle fibers with cell nuclei at the edges, connective tissue, and intramuscular fat. Muscles in longitudinal sections are formed by muscle fibers with light dark stripes and connective tissue. The muscle fibers diameter, fascicle diameter and thickness of the connective tissue in the bicep femoris muscle is higher than the longissimus dorsi muscle. In contrast, the number of muscle fibers per fascicle is higher in the longissimus dorsi muscle. Muscle histomorphometry are strongly influenced by anatomical location and function of the muscles, as well as the presence of intramuscular fat

    The Relationship of Egg Weight with DOC Weight and DOC Weight with Body Weight of First Generation of Sentul Chicken (G1)

    Get PDF
    This study aims to determine the relationship between egg weight and DOC weight and DOC weight with body weight of Sentul GI chickens at 1, 2, 3, and 4 months of age. The materials used were 78 males and 96 females of Sentul G1 chickens from the hatching of 315 G0 eggs. The research method is the experimental method. The variables of this study included: egg weight, body weight and body weight gain at DOC-4 months of age. Data analysis used t-test and correlation regression analysis. Egg weight had no significant effect (P≥0.05) on the sex of Sentul chicken DOC. The average body weight of male Sentul chickens was significantly (P <0.05) higher than that of female Sentul chickens. Egg weight had a significant effect (P<0.05) on DOC weight with a correlation value of 0.915 and 0.892. DOC weight had a significant effect (P<0.05) on body weight at the age of 1, 2, 3, and 4 months with the correlation values of Sentul roosters sequentially 0.892, 0.794, 0.757, 0.539 and Sentul hens correlation values sequentially 0.993, 0.859, 0.735 , 0.527. Conclusion: 1) Average egg weight, body weight, and body weight gain of male Sentul chickens were better than female Sentul chickens G1. 2) The relationship between egg weight and DOC weight and DOC weight at 1, 2, 3 and 4 months of age was positive

    PENGARUH PERBEDAAN ARAS STARTER PADA FERMENTASI SABUT KELAPA TERHADAP KECERNAAN BAHAN PAKAN DAN PRODUKSI VOLATILE FATTY ACIDS SECARA IN VITRO

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh aras starter pada fermentasi sabut kelapa terhadap Kecernaan Bahan Kering (KcBK), Kecernaan Bahan Organik (KcBO) dan Volatile Fatty Acids (VFA) dengan metode in vitro. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Percobaan terdiri dari 4 perlakuan aras starter yaitu T0 (fermentasi sabut kelapa + 0% starter), T1 (fermentasi sabut kelapa + 2% starter), T2 (fermentasi sabut kelapa + 4% starter), dan T3 (fermentasi sabut kelapa + 6% starter) dengan 5 ulangan tiap perlakuan dan lama fermentasi 10 hari. Hasil penelitian menunjukkan sabut kelapa yang difermentasi dengan aras starter sampai 6% dapat meningkatkan (P<0,05) KcBK dan KcBO tetapi berpengaruh tidak nyata pada VFA. Rata-rata nilai KcBK dan KcBO pada perlakuan T0, T1, T2 dan T3 berturut-turut adalah KcBK 28,08%; 30,71%; 34,27%; 35,78% dan KcBO 28,73%; 31,81%; 35,21%; 36,88%. Rata-rata nilai produksi VFA pada perlakuan T0, T1, T2 dan T3 berturut-turut adalah 130 mM, 125 mM, 118 mM dan 120 mM. Simpulan penelitian adalah pemberian aras starter mampu meningkatkan KcBK dan KcBO dan produksi VFA memiliki kecenderungan menurun serta pemberian aras starter optimal pada level 4%. Kata kunci : Fermentasi, In vitro, Kecernaan, Sabut kelapa, Volatile fatty acid

    PENGARUH KOMBINASI SARIPATI BUAH NANAS DAN PEPAYA TERHADAP KUALITAS FISIK DAGING ITIK PETELUR AFKIR

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi saripati buah nanas dan pepaya terhadap pH, daya ikat air, dan keempukan daging itik petelur afkir. Penelitian ini dilaksanakan pada Desember 2019 – Januari 2020 di Laboratorium Produksi Ternak Jurusan Peternakan dan Laboratorium Instrumen Jurusan Teknologi Hasil Pertanian  Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Materi penelitian menggunakan 20 potong bagian paha itik petelur afkir. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan yaitu tanpa marinasi kombinasi saripati buah nanas dan pepaya (P0), marinasi 25% nanas + 75% pepaya (P1), marinasi 50% nanas + 50% pepaya (P2), dan marinasi 75% nanas + 25% pepaya (P3). Peubah yang diamati adalah nilai pH, daya ikat air (DIA), dan keempukan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis ragam dengan taraf nyata 5%, hasil yang berpengaruh nyata diuji lanjut menggunakan Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil analisis ragam bahwa marinasi daging itik dengan kombinasi saripati buah nanas dan pepaya tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap pH, daya ikat air, dan keempukan daging. Simpulan penelitian ini bahwa penambahan saripati buah nanas dan pepaya tidak berpengaruh terhadap pH, daya ikat air, dan keempukan daging itik petelur afkir. Kata Kunci: Daging itik afkir, Kualitas fisik, Nanas, Pepaya, Saripat

    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN PADA SAPI DI KABUPATEN ASAHAN, SUMATERA UTARA

    Get PDF
    Inseminasi buatan dikenal oleh peternak sebagai teknologi reproduksi ternak yang efektif. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan inseminasi buatan pada sapi di Kabupaten Asahan yang dipelihara secara intensif. Metode penelitian ini adalah metode survey, menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara membagikan kuesioner dan wawancara langsung ke peternak sebagai tambahan informasi, sedangkan data sekunder didapat dari inseminator terkait tentang hasil inseminasi buatan di Kabupaten Asahan. Kuesioner yang digunakan mencakup pertanyaan tentang karakteristik sapi seperti: status kebuntingan sapi (konfirmasi dari petugas inseminator), jenis sapi, umur sapi, skor kondisi tubuh sapi, jumlah inseminasi buatan sampai bunting, tanda-tanda berahi, waktu pelaksanaan inseminasi buatan, bulan pelaksanaan inseminasi buatan, lama birahi pascapartus, jenis straw, jumlah dosis inseminasi, jarak waktu pelaporan berahi sampai dengan IB dilaksanakan, pakan sapi, ternak dikandangkan serta profil peternak dengan 75 responden peternak dari lima kecamatan. Data dianalisis menggunakan stepwise regression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 114 ekor ternak sapi betina yang dilakukan IB, sebanyak 76,3% mengalami kebuntingan dan 23,7% tidak mengalami kebuntingan. Variabel independen yang mempunyai korelasi paling kuat adalah umur sapi (sig. 0,006), jarak waktu pelaporan sampai IB (sig. 0,001), serta pakan ternak sapi (sig. 0,004). Kesimpulan penelitian bahwa faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan inseminasi buatan pada sapi di Kabupaten Asahan adalah umur sapi, jarak waktu pelaporan sampai inseminasi buatan dilaksanakan, dan pakan.  Kata kunci: Faktor keberhasilan, Inseminasi buatan, Jenis pakan, Umur sap

    KUALITAS MIKROBIOLOGI LIMBAH KUBIS FERMENTASI DENGAN PENAMBAHAN VITAMIN DAN MINERAL

    Get PDF
    Tujuan penelitian yaitu mengkaji kualitas mikrobiologi limbah kubis fermentasi yang ditambah vitamin dan mineral dilihat dari kandungan total bakteri, bakteri Gram positif dan negatif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari perbedaan penambahan vitamin dan mineral sebanyak 0% (T0), 2,5% (T1), 5% (T2), 7,5% (T3); 10% (T4). Parameter penelitian adalah total bakteri, bakteri Gram positif dan negatif. Pengolahan data pada parameter total bakteri menggunakan metode deskriptif sedangkan parameter bakteri Gram positif dan negatif diolah menggunakan ANOVA non parametrik dan jika ada pengaruh yang nyata dilanjutkan uji Duncan. Hasil penelitian didapatkan jumlah bakteri meningkat dengan bertambahnya mineral dan penambahan vitamin, sedangkan bakteri Gram positif dan negatif tidak berbeda (P<0,05) antar perlakuan. Kesimpulannya, penambahan mineral dan vitamin meningkatkan jumlah bakteri pada limbah kubis fermentasi, tanpa mempengaruhi bakteri Gram positif dan negatif. Kata kunci: Bakteri, Fermentasi, Limbah kubis, Mineral, Vitami

    PENGARUH PERUBAHAN SPASIAL MIKROKLIMATIK AMONIA PADA ZONA PENEMPATAN DAN PANJANG KANDANG BERBEDA TERHADAP PERFORMA AYAM BROILER PERIODE STARTER

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak perubahan spasial mikroklimatik amonia pada zona penempatan dan panjang kandang berbeda terhadap perfoma ayam broiler periode starter. Materi penelitian 2 unit closed house ukuran 60 x 12 m2 berkapasitas 11.000 ekor dan ukuran 120 x 12 m2 berkapasitas 22.000 ekor, 600 ekor DOC ayam broiler strain Cobb dalam rancangan perlakuan  split plot acak kelompok dengan 2 mainplot, yaitu panjang kandang 60 m dan kandang 120 m dan 4 subplot, yaitu zona penempatan ayam terdiri dari Zona 1 (sejajar inlet), Zona  2 (¼ panjang kandang), Zona 3 (½ panjang kandang) dan Zona 4 (¾ panjang kandang). Parameter yang diamati yaitu bobot badan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, indeks perfoma, Income Over Feed Cost  (IOFC), makroklimat dan mikroklimatik pada setiap unit zona penempatan ayam dan panjang kandang sebagai gambaran kondisi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi antara zona penempatan ayam dan panjang kandang terhadap performa ayam broiler. Zona penempatan ayam yang lebih jauh dari inlet dan kandang yang lebih panjang menunjukkan hasil signifikan (P<0.05) menurunkan bobot badan, pertambahan bobot badan, indeks perfoma, dan IOFC, serta sebaliknya, meningkatkan konversi pakan. Simpulan penelitian ini adalah peningkatan spasial mikroklimatik amonia pada zona penempatan ayam yang lebih jauh dari inlet dan kandang yang lebih panjang menurunkan perfoma ayam broiler periode starter. Kata kunci: Spasial mikroklimatik amonia, Zona penempatan, Panjang kandang, Perfoma, Ayam broile

    KAJIAN IN VITRO RANSUM SAPI POTONG YANG MENGANDUNG BUNGKIL TENGKAWANG TERHADAP FERMENTABILITAS DAN KECERNAAN

    Get PDF
    Bungkil Tengkawang merupakan limbah pengolahan biji Tengkawang menjadi minyak yang memiliki potensi sebagai pakan ruminansia. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan bungkil Tengkawang dalam ransum sapi potong secara in vitro. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Ransum terdiri atas 5 perlakuan penggunaan bungkil Tengkawang dalam ransum sapi potong, yaitu 0% (R1), 9,75% (R2), 19,64% (R3), 30,09% (R4), dan 40,08% (R5). Masing masing perlakuan diulang empat kali. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan bungkil Tengkawang dalam ransum meningkatkan konsentrasi asam lemak terbang, N-NH3, kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik (P<0,05). Konsentrasi dan kecernaan tertinggi diperoleh pada perlakuan R5 dengan nilai asam lemak terbang, N-NH3, kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik berturut-turut 135,57 mM, 6,16 mM, 65,30%, dan 71,15%. Kesimpulan penggunaan bungkil Tengkawang dalam ransum sapi potong tidak mengganggu fermentabilitas dan kecernaan secara in vitro. Penggunaannya sampai 40,08% menghasilkan fermentabilitas dan kecernaan tertinggi.  Kata kunci: Bungkil Tengkawang, Fermentabilitas, In vitro, Kecernaan, Sapi poton

    SUBSTITUSI RUMPUT LAPANG DENGAN PELEPAH DAUN KELAPA SAWIT FERMENTASI MENGGUNAKAN MIKROORGANISME LOKAL TERHADAP KECERNAAN NUTRIEN DAN TOTAL DIGESTIBLE NUTRIENT PADA SAPI JANTAN PERANAKAN

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi subtitusi rumput lapang dengan pelepah daun kelapa sawit fermentasi menggunakan mikro organisme lokal (MOL) terhadap kecernaan nutrien dan total digestible nutrient (TDN) pada sapi jantan peranakan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kelompok. Materi yang digunakan sebanyak 12 ekor sapi jantan peranakan berumur (12-18 bulan) dengan rata-rata bobot badan masing-masing 141 kg - 269 kg. Parameter yang diamati adalah kecernaan nutrien dan TDN. Penggunaan pelepah sawit fermentasi dalam berbagai level berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai kecernaan nutrien dan TDN. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan terbaik terdapat pada P3 yaitu konsentrat + 45 % pelepah daun kelapa sawit fermentasi, mampu menggantikan rumput lapang sebagai bahan pakan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian pakan pelepah sawit fermentasi MOL dapat menjadi bahan pakan alternatif pengganti rumput lapang dalam pemeliharaan sapi jantan peranakan. Kata kunci : Fermentasi, Kecernaan nutrien, Pelepah Daun Kelapa Sawit, Rumput Lapang, Total digestible nutrien

    Table of Contents JIPT 8(1): Maret 2020

    No full text

    442

    full texts

    489

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL ILMIAH PETERNAKAN TERPADU
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇