Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya
Not a member yet
214 research outputs found
Sort by
Adsorpsi Timbal(II) Menggunakan Biomassa Azolla Microphylla Diesterifikasi Dengan Asam Sitrat
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan biomassa A. microphylla yang diesterifikasi dengan asam sitrat terhadap adsorpsi timbal(II). Esterifikasi dilakukan dengan cara menambahkan 5 g biomassa ke dalam 50 mL asam sitrat 0,8 M, kemudian dipanaskan dalam oven pada temperatur 60 oC selama 24 jam dilanjutkan dengan pemanasan pada temperatur 120oC selama 3,5 jam. Percobaan adsorpsi timbal(II) pada biomassa yang telah diesterifikasi dilakukan pada varisi pH 3-6, variasi waktu kontak 30; 45; 60; 75; 90; 120 menit, dan variasi konsentrasi timbal(II) 75 mg/L; 100 mg/L; 125 mg/L; dan 200 mg/L. Konsentrasi timbal(II) setelah proses adsorpsi ditentukan menggunakan spektrofotometer serapan atom. Keberadaan timbal(II) yang terikat oleh biomassa ditentukan menggunakan SEM-EDX. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum adsorpsi timbal(II) pada biomassa yang telah diesterifikasi dengan asam sitrat terjadi pada pH 5 dengan waktu kontak 60 menit. Berdasarkan persamaan adsorpsi isotermis Langmuir diperoleh informasi bahwa kapasitas adsorpsi (Qmax) biomassa A. micropylla setelah diesterifikasi adalah 39,84 mg/g, sedikit lebih kecil dari kapasitas adsorpsi biomassa A. microphylla yang tidak diesterifikasi yaitu sebesar 42,74 mg/g. Â Kata kunci : adsorpsi, Azolla microphylla, esterifikasi, timbal(II), asam sitrat
Studi Pengaruh Penambahan Hidrogen Peroksida (H2O2) Terhadap Degradasi Methylene Blue Menggunakan Fotokatalis TiO2 – Bentonit
Photocatalyst is a material that is able to accelerate the reaction rate of oxidation or reduction through a photochemical reaction. The aims of this study was examine the influence of addition of H2O2 and duration of irradition against photodegradation of methylene blue using TiO2-bentonite. Photodegradation was carried out with 10 mg/L at 25 mL of methylene blue and 50 mg of photocatalyst with variation of H2O2 addition of 0,1; 0,2; 0,3; 0.4; 0,5 dan 0,75 mL and variations of irradition duration of 20, 30, 40, 50 and 60 minute. The result showed that the highest fotodegradation of methylene blue occured in the addition of 0,2 mL of H2O2 and irradition duration of 60 minute with 93,93 % of degradation percentage. Keywords            : bentonite, TiO2, methylene blue, hydrogen peroxyde (H2O2), photodegradation
PENGARUH KONSENTRASI TiO2 DALAM ZEOLIT TERHADAP DEGRADASI METHYLENE BLUE SECARA FOTOKATALITIK
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi TiO2 dalam zeolit dan efektivitas penggunaan kembali (reuse) fotokatalis TiO2-zeolit terhadap degradasi methylene blue. Proses fotokatalitik TiO2 diamati melalui pengujian fotodegradasi pada 25 mL larutan methylene blue 20 mg/L dengan katalis TiO2-zeolit sebanyak 50 mg dan dikenai sinar UV. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi TiO2 berpengaruh terhadap konstanta laju degradasi methylene blue. Konstanta laju terbesar adalah 0,019 menit-1 pada konsentrasi TiO2 10 mmol/g zeolit dengan efektivitas penggunaan kembali (reuse) hingga empat kali pemakaian berturut-turut sebesar 79,91%; 77,31%; 76,38%; dan 72,06%. Kata kunci: fotokatalis, TiO2-zeolit, fotodegradasi, methylene blu
Penentuan Mannitol secara Amperometri Denyut (PAD) dalam Sistem Alir (FIA)
Mannitol yang bersifat elektroaktif dapat ditentukan secara amperometri. Analisis amperometri didasarkan pada arus difusi terhadap konsentrasi pada potensial dan waktu yang tetap. Oleh karena itu, penelitian ini melakukan optimasi potensial dan waktu penerapan potensial dengan teknik amperometri denyut, yaitu PAD (Pulsed Amperometry Detection) dalam sistem alir. Pada teknik PAD mannitol dioksidasi pada potensial kerja kemudian hasil oksidasi mannitol pada permukaan elektroda dibersihkan dengan potensial pembersih yaitu potensial oksidasi dan potensial reduksi. Dalam sistem alir potensial kerja, potensial oksidasi dan potensial reduksi yang digunakan secara berturut-turut sebesar 0,2V selama 0,7detik, 0,8V selama 0,6 detik, dan -0,8V selama 2,4 detik. Kisaran konsentrasi linier, batas deteksi, sensitifitas, dan linearitas berturut-turut pada teknik PAD sistem alir 1x10-4 M sampai 1x10-2 M, 10 µM, 5040 µA/M, 0,999. Kata kunci : mannitol, Pulse Amperometry Detection, sistem alir (FIA
PENGARUH KONSENTRASI ASAM DAN DIAMETER SPOT REAKSI PADA KEMAMPUAN DETEKSI TEST KIT MERKURI(II)
Test kit merkuri(II) telah berhasil dibuat berbasis pada pembentukan kompleks merkuri(II)-ditizonat yang berwarna oranye. Pada penelitian ini dilakukan optimasi konsentrasi asam yang mempengaruhi kestabilan kompleks merkuri (II) ditizon dan diperoleh konsentrasi optimum 2 M. Pada kondisi asam optimum, test kit larutan dapat digunakan untuk mendeteksi merkuri pada kisaran konsentrasi 0-10 ppm. Pengembangan test kit berbasis kertas memerlukan optimasi diameter spot reaksi yang melibatkan AKD (Alkyl Ketene Dimer) sebagai pembatas diameter spot reaksi yang bersifat hidrofobik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas warna kompleks merkuri (II) ditizon pada kertas meningkat dengan menurunnya diameter spot reaksi, dan diperoleh diameter optimum pada 1 cm. Penggunaan diameter optimum menunjukkan perbedaan intensitas warna untuk konsentrasi merkuri (II) pada konsentrasi 0, 10, dan 20 ppm.Kata kunci : AKD, asam, ditizon, test kit merkuri, diameter spot reaks
SIMULASI DINAMIKA MOLEKULER PERMEABILITAS CH4 DAN CO2 PADA MEMBRAN ANORGANIK
Permeability of CH4 and CO2 through inorganic membrane was investigated using Molecular Dynamics simulations at canonical ensemble. The results show that the potential of CH4 and CO2 separation caused by the effect of molecular orientation on the basis of molecular sieving was observed on membranes with a pore diameter of 0.5 nm and 0.842 nm thickness. Keywords: gas permeability, inorganic membrane, molecular sieving, molecular dynamic
PENENTUAN WAKTU FERMENTASI OPTIMUM PRODUKSI XILANASE DARI Trichoderma viride MENGGUNAKAN SUBSTRAT KULIT PISANG DAN KULIT MELON DENGAN FERMENTASI SEMI PADAT
Trichoderma viride is a type of mold that most available in land and has several more advantages when compared with other types of soil fungi . This reseach is aimed to know optimum fermentation periode and type of optimum substrate in xylanase production from Trichoderma viride by semi solid fermentation. Optimum fermentation periode and type of optimum substrate determined by measure of enzyme activity and protein content in various fermentation times ( 0 , 12 , 24 , 36 , 48 , 60 , 72 . 84 , and 96 hours ) using melon peels and banana. Xylanase is type of enzyme that able to hydrolyze hemicellulose ( xylan ) into xylose . Determination of enzyme activity begins with a solution of pure xylan in 1 % concentration at pH 5 and a temperature of 60 ° C (optimum conditions). Determination of enzyme activity is determined by measure xilosa in enzimatis reaction with spectrofotometri methode and DNS regen. Protein content determined by spetrophotometry methode with biuret reagen. The results fermentation 60 hour showed optimum activity in the melon peel and banana peel, that is (20,16±8,17) unit dan (19,42±8,00) unit (P<0,01) and protein content (16,86±8,23) mg/mL dan (16,88±4,32) mg/mL (P<0,01)
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI ELEKTRODA SELEKTIF ION CdCl3- TIPE KAWAT TERLAPIS BERBASIS ALIQUAT 336-CdCl3-
Tujuan penelitian ini adalah membuat dan mengkarakterisasi elektroda selektif ion (ESI) CdCl3- tipe kawat terlapis berbahan aktif aliquat 336-CdCl3- berpendukung polimer campuran polivinilklorida (PVC)-plasticizer dibutilftalat (DBP). Variabel penelitian yang dipelajari meliputi variasi komposisi bahan penyusun membran dan waktu perendaman membran agar diperoleh ESI CdCl3- bersifat Nernstian. Optimasi waktu perendaman dilakukan dengan merendam membran ESI dalam larutan CdCl3- 0,1 M dalam variasi waktu 3-24 jam dengan interval 3 jam. Karakteristik ESI yang diuji meliputi: harga Faktor Nernst, rentang konsentrasi linier, batas deteksi, waktu respon dan usia pakai. Pengukuran potensial larutan dilakukan pada suhu kamar menggunakan larutan CdCl3- 10-8-10-1 M. Hasil penelitian menunjukkan bahwa membran dengan perbandingan komposisi aliquat 336-CdCl3-: PVC: DBP = 4: 33: 63 (%b/b) dilarutkan dalam pelarut tetrahidrofuran (THF) 1:3 b/v menunjukkan sifat Nernstian dengan harga Faktor Nernst sebesar 58,37 mV/dekade konsentrasi pada rentang konsentrasi CdCl3- 10-6 – 10-1 M CdCl3-, batas deteksi 5,86 x 10-6 M atau setara 1,28 ppm CdCl3-,  perlu waktu perendaman selama 12 jam, waktu respon  cepat (50 detik) dan usia pemakaian selama 22 hari masih baik.  Kata kunci : Cadmium, Membran, Aliquat336, Potensiometr
PEMISAHAN Cu2+ DAN Pb2+ SECARA EKSTRAKSI FASA PADAT MENGGUNAKAN SILIKA DARI ABU SEKAM PADI TERMODIFIKASI KITOSAN
Ekstraksi fasa padat merupakan metode yang dapat digunakan untuk pemisahan Cu2+ dan Pb2+. Pada penelitian ini digunakan silika dari sekam padi yang dimodifikasi dengan kitosan sebagai fasa padat. Silika-kitosan mempunyai pori dan gugus fungsional –NH2 serta –OH, sehingga mampu mengadsorpsi Cu2+ dan Pb2+. Pemisahan dilakukan melalui pembentukan kompleks antara ion logam dengan EDTA sebagai fasa gerak. Kestabilan kompleks yang dihasilkan dipengaruhi oleh konsentrasi EDTA, pH eluen dan panjang kolom. Oleh karena itu pada penelitian ini dipelajari pengaruh konsentrasi EDTA, pH eluen dan panjang kolom terhadap pemisahan Cu2+ dan Pb2+. Pengaruh pH EDTA dipelajari pada kisaran pH 6 hingga 10 dengan konsentrasi EDTA 0,01M ; 0,05M; 0,1M; 0,2M dan 0,3M pada panjang kolom 0,3 cm; 0,6 cm dan 0,9 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cu2+ dan Pb2+ dapat dipisahkan melalui teknik elusi bergradien dengan menggunakan EDTA 0,2M pada pH 6 untuk Cu2+ dan pada pH 9 dengan menggunakan EDTA 0,3M untuk Pb2+. Pada kondisi tersebut dihasilkan recovery Cu2+ sebesar 83,14% dan untuk Pb2+ sebesar 84,12%.  Kata kunci: Ekstraksi fasa padat, modifikasi silika-kitosan, pemisahan Cu2+ dan Pb2+
SKRINING FITOKIMIA METABOLIT SEKUNDER EKSTRAK METANOL DARI KULIT BATANG MAHONI (Swietenia mahagony Jacq.)
Mahoni Jawa (Swietenia mahagon Jacq.) merupakan tanaman yang banyak tumbuh dan telah dibudidayakan di Indonesia. Namun masih sangat terbatas kajian terhadap senyawa-senyawa metabolit sekunder sebagai penyusunnya. Paper ini melaporkan hasil skrining metabolit sekunder bagian kulit batang kayu mahoni. Metode yang digunakan adalah ekstraksi menggunakan soxhlet serta melakukan uji fitokimia dengan beberapa reagen pendeteksi senyawa metabolit sekunder. Hasil analisis menunjukkan bahwa kulit kayu mahoni jawa mengandung senyawa metabolit sekuder golongan alkaloid, flavonoid, saponin, fenolik hidrokuinon, dan tanin