Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya
Not a member yet
214 research outputs found
Sort by
PEMBUATAN ELEKTRODA SELEKTIF ION TIMBAL (II) BERBASIS S-METHYL-N(METHYLCARBAMOYLOXY) THIOACETIMIDATE
Telah dilakukan penelitian tentang pembuatan Elektroda Selektif Ion timbal (II) berbasis S-Methyl-N(Methylcarbamoyloxy) Thioacetimidate tipe kawat terlapis. Membran dilapiskan pada kawat Platina yang terbuat dari S-Methyl-N(Methylcarbamoyloxy) Thioacetimidate sebagai ionofor, polivinilklorida (PVC) sebagai matriks polimer dan dioktilftalat (DOP) sebagai pemlastis dalam pelarut THF 1:1,5 (%b/v). Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan komposisi membran dan waktu perendaman membran yang optimum sehingga menghasilkan ESI yang bersifat Nernstian. Variasi komposisi membran yang digunakan tersusun dari S-Methyl-N(Methylcarbamoyloxy) Thioacetimidate : PVC: DOP (%b/b) =17: 17: 66 (komposisi I), 19: 27: 54 (komposisi II), dan 20: 26: 52 (komposisi III) dilarutkan dalam pelarut THF dengan perbandingan 1:1,5 (%b/v). Variasi waktu perendaman membran yang digunakan adalah 10, 30, 50, 60, 80, dan 120 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi membran yang bersifat Nernstian dihasilkan pada komposisi membran (I) dengan perbandingan S-Methyl-N(Methylcarbamoyloxy) Thioacetimidate : PVC : DOP = 17 :17 :66 (% b/b) yang menghasilkan harga faktor Nernst sebesar 29,26 (mV dekade/konsentrasi) dalam rentang konsentrasi timbal (II) 10-5-10-1 M dengan waktu perendaman membran ESI timbal (II) yang optimum adalah 60 menit. Kata kunci: komposisi membran optimum, Nernstian, waktu perendaman optimum
KAJIAN SECARA IN SILICO TERHADAP POTENSI EUGENOL DAN SITRONELAL SEBAGAI PESTISIDA NABATI UNTUK PENGENDALIAN SERANGGA HELOPELTIS ANTONII
Potensi eugenol dan sitronelal sebagai pestisida nabati dikaji melalui pemodelan secara in silico. Interaksi antara ligan eugenol dan sitronelal sebagai bioaktif dengan mitrokondria Helopeltis antonii sebagai reseptor, dikaji  dengan  menggunakan  perangkat  lunak  Autodock  Tools dan Autodock Vina. Hasil kajian in silico menunjukkan bahwa dengan metode multiple docking menggunakan Autodock Tools diperoleh nilai inhibisi (ki) campuran eugenol – sitronelal sebesar 4,20 mM dan nilai energi ikat bebas (∆G) sebesar -3,24 kkal/mol. Sedangkan hasil validasi menggunakan Autodock Vina menunjukkan bahwa interaksi antara eugenol – sitronelal memiliki nilai afinitas energi ikat bebas (∆Gaff) sebesar -4,8 kkal/mol dan nilai inhibisi (ki) sebesar 3,300 mM.Kata kunci: eugenol, sitronelal, cytochrome c oxidase, dockin
PENGARUH PENAMBAHAN HIDROGEN PEROKSIDA (H2O2) TERHADAP DEGRADASI METHYLENE BLUE DENGAN MENGGUNAKAN FOTOKATALIS ZnO-ZEOLIT
Telah dilakukan penelitian tentang degradasi methylene blue menggunakan fotokatalis ZnO-Zeolit dengan penambahan hidrogen peroksida. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan hidrogen peroksida (H2O2), dan lama penyinaran terhadap persentase degradasi methylene blue. Fotokatalis ZnO-Zeolit sebanyak 25 mg ditambahkan larutan methylene blue 20 mg/L dan hidrogen peroksida yang ditambahkan sebanyak 0,1; 0,2; 0,3; 0,4 dan 0,5 mL kemudian disinari dengan lampu UV selama 10, 20, 30, 40 dan 50 menit. Filtrat setelah penyinaran ditentukan absorbansinya dengan metode spektrofotometer. Berdasarkan nilai konstanta laju reaksi, penambahan hidrogen peroksida (H2O2) mempengaruhi nilai konstanta laju reaksi. Penambahan hidrogen peroksida (H2O2) 0,1 – 0,5 mL diperoleh konstanta laju terbesar pada penambahan hidrogen peroksida (H2O2) 0,4 mL dengan nilai konstanta laju sebesar 0,013 menit -1 . Semakin lama waktu penyinaran, maka degradasi methylene blue semakin besar. Pada waktu penyinaran 50 menit diperoleh persentase degradasi terbesar yaitu 88,49 % dengan penambahan hidrogen peroksida 0,4 mL.  Kata kunci: fotodegradasi, hidrogen peroksida, methylene blue, ZnO-Zeoli
PEMBUATAN KITOSAN MAKROPORI MENGGUNAKAN GARAM DAPUR DAN APLIKASINYA TERHADAP ADSORPSI METHYL ORANGE
Telah dilakukan kajian mengenai adsorpsi kitosan makropori terhadap methyl orange dengan tujuan untuk menentukan pH optimum, waktu kontak optimum, dan pengaruh jumlah porogen terhadap kemampuan adsorpsi kitosan makropori terhadap methyl orange pada kondisi optimum. Pembuatan kitosan makropori dilakukan dengan penambahan agen ikat silang epichlorohydrin 80 mg dan porogen dari NaCl (garam dapur) dengan komposisi 5, 10, dan 15 g. Adsorpsi oleh kitosan makropori sebanyak 0,2 g dalam 100 ml larutan methyl orange 20 ppm pada kondisi pH 3-8, dan lama pengocokan 1-180 menit dengan kecepatan pengocokan 100 rpm. Karakterisasi untuk mengetahui perbedaan karakter fisik dari kitosan makropori dan kitosan tanpa porogen sebagai kontrol dilakukan dengan menggunakan SEM (Scanning Electron Microscopy) dan FTIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase terserap sebesar 91,5%, kondisi optimum terjadi pada pH 3 dengan waktu kontak 180 menit dan konstanta laju adsorpsi 0,0531 menit-1. Kitosan makropori dengan komposisi porogen 15 g memiliki persentase terserap yang lebih besar yaitu 94,0% berbeda jauh dengan kitosan tanpa porogen yang menghasilkan persentase terserap sebesar 39,2%. Kata kunci : Kitosan makropori, Porogen, Methyl Orang
STUDI INTERAKSI MOLEKUL KOMPONEN MINYAK NILAM DENGAN RESEPTOR OLFAKTORI SEBAGAI REPELLENT NYAMUK CULEX sp SECARA IN SILICO DAN IN VITRO
The components of patchouli oil consist of mayor e.g patchouli alcohol and minor component such as patchoulene, α-guaiene, syechellen, and caryophyllene. These compounds are potentially as repellent or attractant against insects. The purpose of this research is to determine the activity of the Culex sp mosquito repellency using patchouli oil in silico and in vitro. Assessment of in silico modeling is through based on interactions of terpenoid the Culex sp mosquito olfactory receptor structure was downloaded from www.pdb.org with access code 3OGN while the ligand structure downloaded from www.ncbi.nlm.nih.gov. The modeling by using Autodock Tools 1.5.4 docking of the ligands were done in consecutive performing of α-guaine, α-patchoulen, vellence, caryophyllene, and syechellen respectively. In comparing with commercial repellent DEET, the patchouli oil component with minus patchouli alcohol have more potent as repellent with Kd = 330 µM, while Kd of DEET is 7,31 µM. Patchouli oil components have potential as a repellent better than DEET, it is indicated from Kd values greater than Kd DEET. By in vitro experiment, patchouli oil showed repellency at EC50 = 6,19 ± 0,55 ppm. Keywords: Computational chemistry, Patchouli Oil, Repellent Â
PENGARUH MASSA ORGANOFOSFAT HIDROLASE DAN LUAS ELEKTRODA TERHADAP KINERJA BIOSENSOR KONDUKTOMETRI UNTUK MENDETEKSI RESIDU PESTISIDA KLORPIRIFOS DAN PROFENOFOS BERBASIS SPCE-KITOSAN
Batas maksimum residu (BMR) dari profenofos dan klorpirifos pada buah-buahan dan sayuran, yaitu berturut-turut 0.05 – 0.5 mg/kg dan 0.05 – 0.1 mg/kg. Tujuan dari penelitian adalah pembuatan biosensor untuk mendeteksi profenofos dan klorpirifos. Penelitian mempelajari pengaruh massa Organofosfat hidrolase dan luas elektroda terhadap kinerja biosensor. Massa OPH dipelajari menggunakan massa 142 µg dan 177 µg yang diamobilkan pada elektroda SPC berbasis kitosan. Luas elektroda dioptimalisasi pada luas 3, 5 , dan 7. Biosensor dievaluasi menggunakan larutan profenofos dan klorpirifos pada konsentrasi 0 – 0.1 ppm dalam buffer tris-asetat pada pH 8,5. Hasil penelitian menunjukkan biosensor dengan OPH 177 µg menunjukkan kinerja yang lebih baik. Kepekaan biosensor lebih tinggi ditunjukkan oleh biosensor dengan luas elektroda 5 mm2 dengan kepekaan 93 µS/ppm and 174 µS/ppm berturut-turut untuk klorpirifos dan profenofos. Limit deteksi yang didapatkan adalah 0.05 ppm untuk klorpirifos dan 0.04 ppm untuk profenofos Kata kunci: biosensor, luas elektroda, Organofosfat hidrolase, profenofos, klorpirifos, Screen-Printed Carbon Electrod
PENGARUH ION KALSIUM (Ca2+) TERHADAP AKTIVITAS PEKTINASE HASIL ISOLASI DARI Bacillus firmus
Pektinase merupakan enzim hidrolase yang mampu memecah ikatan α-1,4 glikosidik pada poligalakturonat menjadi asam galakturonat. Pektinase dapat diproduksi dari berbagai macam mikroorganisme seperti Aspergillus niger dan Bacillus firmus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan ion Ca2+ terhadap aktivitas pektinase dari Bacillus firmus dan menentukan parameter kinetika. Pektinase yang digunakan berupa ekstrak kasar. Pengukuran kadar protein pektinase dilakukan menggunakan reagen Biuret dan asam galakturonat menggunakan reagen DNS secara spektrofotometer. Aktivitas pektinase diperoleh dari asam galakturonat yang terbentuk oleh pektinase setiap 1 mL per menit. Pengaruh ion Ca2+ ditentukan pada konsentrasi ion Ca2+ 0, 2, 4, 6, 8, dan 10 mM, sedangkan parameter kinetika ditentukan pada variasi konsentrasi substrat 0,5; 1,0; 1,5; 2,0; dan 2,5 % (b/v). Kadar protein pektinase bebas diperoleh sebesar 1,200 mg/mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ion Ca2+ bertindak sebagai aktivator. Konsentrasi ion Ca2+ 10 mM dapat meningkatkan aktivitas pektinase dari 0,636 µgmL-1menit-1 menjadi 7,608 µgmL-1menit-1. Parameter kinetika pektinase dengan penambahan Ca2+ 10 mM mempunyai Vmaks sebesar 29,41 U dan KM = 1,91 %. Kata Kunci : Bacillus firmus, Ca2+,  DNS, pektinas
STUDI REAKSI HIDROGENASI TERHADAP FURFURAL MENGGUNAKAN KATALIS Ni/γ-Al2O3
Hidrogenasi selektif terhadap furfural menjadi produk alkohol telah dilakukan menggunakan katalis Ni/γ-AlÂ2O3. Beberapa tahapan dalam penelitian ini adalah preparasi katalis Ni/γ-AlÂ2O3, karakterisasi katalis, dan reaksi hidrogenasi katalitik. Karakterisasi katalis dilakukan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscopy (SEM), dan Atomic Absorption Spectrometry (AAS) sedangkan produk hasil reaksi hidrogenasi dianalisis menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Analisis menggunakan AAS dilakukan untuk mengetahui kadar Ni dalam katalis Ni/γ-AlÂ2O3 yaitu sebesar 9,96%. Reaksi hidrogenasi dilakukan pada temperatur 150 dan 180 °C selama 1; 2; 2,5; dan 3 jam dalam kondisi atmosfer hidrogen. Kondisi optimum untuk konversi furfural adalah pada temperatur 150 °C selama dua jam reaksi sebesar 44,76% dengan selektivitas terhadap produk alkohol sebesar 70,18%. Kata kunci: furfural, katalis Ni/γ-Al2O3, produk alkohol, reaksi hidrogenas
Pengaruh pH dan Temperatur Terhadap Kinerja Elektrroda Selektif Ion (ESI) Timbal(II) Tipe Kawat Terlapis Berbasis S-Methyl N-(Methylcarbamoyloxy) Thioacetimidate
Ion selective electrode (ISE) lead(II) based coated wire type with S-methyl N-(methylcarbamoyloxy) thioacetimidate as the ionofor, polyvinylchloride (PVC) as the polymer matrix and dioktilftalat (DOP) as plasticizer has been developed. The ISE lead(II) showed Nernstian slope of 29,26 mV/decade of concentration, linear concentration range of 10-5 – 10-1 M, detection limit of 1,185 x 10-5 M or equal to 2,453 ppm of lead, and response time of 60 seconds. The purpose of this research is to study the effect of pH and temperature on the performance (ISE) lead(II) based coated wire type S-methyl N-(methylcarbamoyoxy) thioacetimidate. Effect of pH and temperature on the performance of ISE lead(II) was determined by measuring the potential response of lead(II) solution using acetate buffer at pH 2-8 and temperature of 20-50 oC. The results showed that the performance of ISE lead(II) based coated wire type S-methyl N-(methlcarbamoyloxy) thioacetimidate was optimum at pH 7 and was not influenced by the temperature from 20-50 oC
KITOSAN DARI RAJUNGAN LOKAL PORTUNUS PELAGICUS ASAL PROBOLINGGO, INDONESIA
ABSTRAK Kitosan merupakan polisakarida yang tersusun atas monomer glukosamin dengan ikatan glikosida. Kitosan dapat diperoleh melalui proses deasetilasi kitin dari cangkang kulit rajungan (Portunus pelagicus). Dalam paper ini dilaporkan hasil studi dalam proses optimasi deasetilasi kitin dari cangkang kulit rajungan asal Probolinggo. Optimasi ditujukan untuk mendapatkan kitosan dengan derajat deasetilasi (DD) yang tinggi. Proses ini dikerjakan dengan menggunakan konsentrasi basa 70% dalam mengkatalisis proses deasetilasi, serta mengkaji pengaruh lama reaksinya. Reaksi dikerjakan dengan metode batch pada suhu didih campuran dan diaduk secara konvensional menggunakan pengaduk magnetik. Kitosan yang diperoleh berupa serbuk berwarna putih dengan persentase antara 29,25-46,25%. Nilai DD tertinggi 87,96% pada konsentrasi basa 70% ketika reaksi dikerjakan selama 24 jam. Derajat deasetilasi ini lebih baik jika dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya dengan nilai sekitar 70% DD. Kata kunci: kitin, kitosan, Portunus pelagicus, rajungan Â