Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya
Not a member yet
214 research outputs found
Sort by
PENGARUH KONSENTRASI FASE PENERIMA TERHADAP TRANSPOR FOSFAT MELALUI POLYMER INCLUSION MEMBRANE (PIM) BERBASIS PVC-ALIQUAT 336
Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji pengaruh konsentrasi NaCl sebagai fase penerima terhadap konstanta permeabilitas dan efisiensi transpor fosfat melalui Polymer Inclusion Membrane (PIM). Tahap awal penelitian dilakukan dengan pembuatan Polymer Inclusion Membrane. Larutan NaCl dengan konsentrasi 0,05; 0,1; 0,5; dan 1 M digunakan untuk percobaan pengaruh konsentrasi fase penerima. Percobaan dilakukan menggunakan sel difusi. Konsentrasi analit diukur dengan metode spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi fase penerima yang memberikan harga konstanta permeabilitas fosfat yang paling baik adalah NaCl 1 M dengan harga sebesar 7,47×10-4 mL/min.cm2 dan efisiensi transpor 60,2%
DEGRADASI METHYL ORANGE DENGAN TiO2-N/BENTONIT KAJIAN : KOMPOSISI N PADA KOMPOSIT TiO2-N/BENTONIT, SUMBER SINAR, DAN VOLUME H2O2
Fotokatalis merupakan material semikonduktor yang mampu mempercepat laju reaksi oksidasi maupun reduksi melalui reaksi fotokimia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi komposisi N pada komposit TiO2-N/Bentonit, pengaruh variasi volume penambahan H2O2 30%, serta pengaruh lama penyinaran terhadap penurunan konsentrasi zat warna methyl orange 10 mg/L. Karakterisasi fotokatalis dilakukan dengan menggunakan spektroskopi FTIR, UV- Vis Diffuse Reflactance, dan particle size analyzer. Penentuan konsentrasi methyl orange hasil penurunan konsentrasi diukur dengan spektrofotometer UV- Vis pada panjang gelombang 464,3 nm. Jumlah N yang diimpregnasi pada TiO2/N dilakukan perbandingan mol TiO2:urea 10:0,5; 10:1,0; 10:1,5; 10:2,0; dan 10:2,5. Variasi volume penambahan H2O2 30% adalah 0, 0,25; 0,5; 0,75; dan 1,0 mL. Uji aktivitas fotokatalis dilakukan menggunakan 50 mg komposit TiO2-N/Bentonit dalam 25 mL methyl orange 10 mg/L pada kondisi sinar matahari dan sinar UV (352 nm) selama tiga jam. Hasil karakterisasi menunjukkan penambahan dopan N menyebabkan peningkatan ukuran partikel dan penurunan band gap TiO2-N/Bentonit sebesar 0,04 eV. Spektra IR menunjukkan adanya vibrasi N pada bilangan gelombang 1519,30-1519,80 cm-1. Hasil penelitian menunjukkan komposisi TiO2:urea 10:2,0 paling optimum pada kondisi sinar matahari dengan penurunan konsentrasi sebesar 81,39%. Volume penambahan optimum 0,75 mLÂ H2O2 30% dapat meningkatkan aktivitas fotokatalitik menjadi 99,55%. Variasi lama penyinaran berbanding lurus dengan degradasi methyl orange. Lama penyinaran optimum pada 180 menit dengan sinar matahari dan sinar UV. Kata kunci : fotokatalis, H2O2 , lama penyinaran, matahari, methyl orange, TiO2-N/Bentoni
PENGARUH WAKTU PEMBENTUKAN DAN KESTABILAN HIDRINDANTIN SERTA KONSENTRASI NINHIDRIN PADA PEMBUATAN TES KIT SIANIDA
Cyanide is a compound which has a potential to harm human health even causes to death. The existing methods for cyanide analysis can’t be done by all societies because they require certain expertise, expensive, and time consuming. Alternative method in the form of a test kit has been developed for cyanide determination by the formation of a blue hydrindantin in the presence of ninhydrin. The performance of test kit were optimized towards the time of formation and stability hydrindantin as well as the concentration of ninhydrin. Optimization was done by measuring the absorbance using Spectronic-20 at maximum wavelength of 590 nm under alkaline condition (pH 12). The blue hydrindantin was formed spontaneously and stable for 0-30 minutes. After 30 minutes, color of hydrindantin was faded. Thus, 5 minutes was chosen as optimum time suits to measure cyanide using this test kit. Ninhydrin concentration studied was 0.5-3.5 % (w/v), and  performed optimum absorbance of hydrindantin at 1.0 %. Under the optimum time and ninhydrin of concentration, the cyanide test kit standard color can be used to determine cyanide at the concentration range of 0.5-6.0 ppm because the color of hydrindantin at concentration range of cyanide 7.0-10.0 ppm was indistinguishable. Key words: Hydrindantin, ninhydrin, optimization,  cyanide, test kit
PENENTUAN PANJANG GELOMBANG MAKSIMUM DAN pH OPTIMUM DALAM PEMBUATAN TES KIT SIANIDA BERDASARKAN PEMBENTUKAN HIDRINDANTIN
Sianida adalah zat yang mematikan dan menyebabkan banyak kasus keracunan dalam berbagai bahan pangan, sehingga sangat diperlukan ketersediaan tes kit sianida untuk menganalisa sianida secara cepat dan mudah. Tes kit sianida yang dibuat didasarkan pada reaksi sianida dengan ninhidrin membentuk hidrindantin yang berwarna biru pada kondisi basa kuat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan panjang gelombang (λ) maksimum hidrindantin dan menentukan derajat keasaman (pH) optimum untuk membuat tes kit sianida. Penentuan λ maksimum dilakukan dengan pengukuran absorbansi menggunakan spektrofotometer sinar tampak pada kisaran λ 560-620 nm. Optimasi pH dilakukan dengan mengkondisikan hidrindantin menggunakan larutan NaOH untuk menghasilkan pH 9-14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa λ maksimum adalah 590 nm dan pH optimum adalah 12. Tes kit yang dibuat dapat digunakan untuk menganalisis kandungan sianida dengan konsentrasi 1-10 ppm menggunakan komparator warna yang telah dibuat berdasarkan hasil optimasi
REAKSI ETERIFIKASI δ-GUAIENE MENGGUNAKAN KATALIS FeCl3/p-TsOH
δ-guaien merupakan komponen utama kedua dari minyak nilam setelah patchouli alkohol yang dapat diderivatisasi menjadi senyawa eter dengan posisi pada karbon tersier. Senyawa eter pada posisi ini dapat digunakan sebagai zat campuran bahan bakar minyak untuk menaikkan angka oktan. Reaksi eterifikasi dapat dilakukan menggunakan berbagai macam reaksi dengan katalis logam. Penelitian ini fokus pada reaksi katalis logam untuk mensintesis senyawa eter dari δ-guaien sebagai bahan dasar. Reaksi dilakukan menggunakan katalis FeCl3/p-TsOH.H2O dan dianalisa menggunakan FTIR dan KG-SM. Hasil dari FTIR menunjukkan adanya puncak baru pada spectra IR pada 1076 cm-1 yang menunjukkan adanya ikatan C-O eter. Untuk hasil dengan KG-SM, diperoleh senyawa eter sebesar 1,25% dari kromatrogam KG-MS. Persen terbesar dari kromatrogam adalah senyawa alkohol sebesar 88,99%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa logam efektif digunakan sebagai katalis, namun untuk reaksi eterifikasi katalis seharusnya bebas dari kandungan air untuk mencegah terjadinya produk alkohol
PENGARUH pH DAN LAMA KONTAK PADA ADSORPSI ION LOGAM Cu2+ MENGGUNAKAN KITIN TERIKAT SILANG GLUTARALDEHID
Telah dilakukan penelitian pengaruh pH dan lama kontak pada adsorpsi ion logam Cu2+ menggunakan kitin terikat silang glutaraldehid. Penelitian ini diawali dengan pembuatan kitin terikat silang glutaraldehid. Hasil pembuatan kitin terikat silang glutaraldehid diidentifikasi gugus fungsionalnya dengan FT-IR serta dihitung derajat deasetilasinya dan dilakukan SEM-EDX untuk mengetahui morfologi dari kitin terikat silang glutaraldehid. Penentuan kondisi pH dilakukan melalui variasi pH 2, 3, 4, 5, dan 6, dan lama kontak 20, 40, 60, 80, 100, dan 120 menit. Nilai derajat deasetilasi kitin terikat silang glutaraldehid sebesar 11,85%. Hasil identifikasi dengan SEM-EDX menunjukkan bahwa morfologi kitin terikat silang glutaraldehid lebih tertata rapi dengan pengikat prosentase C dari 33% menjadi sebesar 50%. Kondisi optimum adsorpsi terjadi pada pH 4 dengan prosentase adsorpsi 66,24%, dan lama kontak terjadi pada menit ke-100 dengan prosentase adsorpsi 90,19%. Kata kunci : adsorpsi, Cu2+, derajat deasetilasi, kitin terikat silang glutaraldehi
REAKSI EPOKSIDASI δ-GUAIEN DENGAN HIDROGEN PEROKSIDA (H2O2) MENGGUNAKAN KATALIS MnSO4.H2O
δ-Guaien adalah komponen utama kedua dari minyak nilam, yang struktur molekulnya mengandung ikatan ganda. Ikatan ganda ini dapat teroksidasi membentuk senyawa teroksidasi seperti δ-guaien epoksida. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan reaksi epoksidasi δ-guaien. Epoksidasi dilakukan dengan mereaksikan senyawa δ-guaien menggunakan katalis MnSO4.H2O dalam pelarut t-BuOH. Produk yang dihasilkan dikarakterisasi menggunakan Kromatografi Gas-Spektrofotometer Massa (KG-SM) dan FT-IR. Aroma dari δ-guaien epoksida dikarakterisasi dengan uji organoleptik yang didasarkan pada penilaian panelis. Hasil dari FT-IR menunjukkan adanya puncak pada 1256,57 cm-1 yang menunjukkan adanya ikatan C-O-C eter siklis. Hasil dengan KG-SM menunjukkan senyawa δ-guaien epoksida pada waktu retensi 23,553 menit dan mirip dengan isokariofilen oksida sebagai senyawa standart. Karakter organoleptik menunjukkan aroma hard woody (sineol) dengan konversi sebesar 15,45%
STUDI PENGARUH PENAMBAHAN H2O2 TERHADAP DEGRADASI METHYL ORANGE MENGGUNAKAN FOTOKATALIS TiO2-N
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan H2O2 30% terhadap degradasi zat warna methyl orange 10 mg/L menggunakan fotokatalis TiO2-N. Sintesis fotokatalis TiO2-N dilakukan dengan perbandingan mol TiO2:urea 10:1,5. Karakterisasi fotokatalis dilakukan dengan menggunakan UV Visible Difuse Reflactance, dan Particle Size Analyzer. Larutan 25 mL methyl orange 10 mg/L ditambahkan 80 mg TiO2-N dan H2O2 30% 0; 0,25; 0,5; 0,75, 1,0 mL disinari pada kondisi sinar matahari dan sinar UV (352 nm) selama 0, 30, 60, 90, 120, 150, 180, dan 240 menit. Hasil karakterisasi menunjukkan penambahan dopan N menyebabkan peningkatan ukuran partikel dan penurunan band gap TiO2 sebesar 0,014 eV. Hasil penelitian menunjukkan volume penambahan H2O2 optimum adalah 0,75 mL dengan peningkatan degradasi dari 69,57 % menjadi 82,76%. Fotodegradasi methyl orange meningkat seiring dengan bertambahnya lama penyinaran. Kata kunci : fotokatalis, matahari, methyl orange, TiO2-
PEMBUATAN TES KIT KROMIUM BERDASARKAN PEMBENTUKAN KOMPLEKS Cr(VI)-DIFENILKARBAZIDA
Kromium heksavalen merupakan salah satu senyawa kimia yang dapat mencemari lingkungan dan merupakan racun yang berbahaya bagi organisme. Penentuan kromium(VI) dapat dilakukan dengan tes kit kromium yang dibuat dengan cara pembentukan kompleks Cr(VI)-difenilkarbazida. Pembentukan kompleks ini dapat dilakukan dalam suasana asam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa konsentrasi kromium(VI) yang dapat digunakan pada pembuatan komparator warna larutan dan keakuratan aplikasi tes kit kromium apabila dibandingkan dengan metode standar. Pembuatan tes kit kromium dilakukan dengan menggunakan variasi konsentrasi kromium(VI) yaitu 0-1 ppm dengan interval 0,1 ppm dan 0-10 ppm dengan interval 1 ppm pada kondisi optimum dari penelitian sebelumnya yang meliputi panjang gelombang 542 nm, pH 1, waktu kestabilan kompleks 20 menit, dan konsentrasi difenikarbazida  4x10-4 M. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi Cr(VI) 0-1 ppm dengan interval 0,1 ppm dan Cr(VI) 0-5 ppm dengan interval 1 ppm dapat digunakan untuk pembuatan komparator warna larutan. Hasil aplikasi pada air limbah kromium menunjukkan bahwa tes kit kromium yang dibuat memiliki akurasi yang baik karena dari uji validasi memberikan nilai akurasi sebesar 95,83 %.  Kata kunci: difenilkarbazida, kromium(VI), pembuatan, test kit, validas
Pembuatan dan Karakterisasi Elektroda Selektif Ion (ESI) Timah(II) Tipe Kawat Terlapis Berbasis S- Methyl N- (Methylcarbamoyloxy) Thioacetimidate
Telah dibuat dan dikarakterisasi Elektroda Selektif Ion (ESI) timah(II) tipe kawat terlapis berbasis S-methyl N-(methylcarbamoyloxy) thioacetimidate. ESI dibuat dengan menggunakan kawat Pt yang dilapisi membran dengan perbandingan komposisi S-methyl N-(methylcarbamoyloxy) thioacetimidate sebagai bahan aktif:polivinilklorida(PVC):plastcisizer dioktilftalat(DOP) (b/b) 17:17:66 dalam 1,5 mL pelarut tetrahidrofuran (THF). Variasi waktu perendaman membran yang digunakan yaitu 20,40,60,80, dan 100 menit dalam larutan SnCl2 1 M. ESI timah(II) yang telah dibuat, dikarakterisasi meliputi Faktor Nernst, limit deteksi, rentang konsentrasi linear, waktu respon, dan usia pakai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu perendaman membran optimum yaitu pada 60 menit. Hasil karakterisasi didapatkan harga Faktor Nernst sebesar 29,49 mV/dekade konsentrasi, rentang konsentrasi linear 10-8-10-3 M dan limit deteksi sebesar 8.79 x 10-9 M atau setara dengan 0,002 ppm timah(II). Waktu respon yang dihasilkan 10 detik dengan usia pakai selama 70 hari.  Kata kunci : Faktor Nernst, limit deteksi, usia pakai, waktu respo