Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya
Not a member yet
214 research outputs found
Sort by
EKSTRAKSI SILIKA DALAM LUMPUR SIDOARJO MENGGUNAKAN METODE KONTINYU
Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh konsentrasi dan laju alir pelarut KOH yang digunakan untuk mengekstraksi silika dalam lumpur Sidoarjo. Kandungan silika merupakan mayor elemen di dalam lumpur Sidoarjo sehingga dapat digunakan sebagai sumber silika.Lumpur Sidoarjo dicuci menggunakan akuades dan direndam dalam larutan HCl 2 M untuk menghilangkan impuritas selain silika didalam lumpur Sidoarjo yang kemudian dikeringkan dengan temperatur 110 °C sebagai sampel. Untuk proses ekstraksi, KOH dialirkan dengan laju alir tertentu ke dalam fasa padat sampel lumpur Sidoarjo sehingga didapatkan larutan kalium silikat yang kemudian dikondisikan dalam suasana asam sampai pH 4 membentuk endapan amorf silika. Konsentrasi larutan KOH yang digunakan sebesar 1, 3, 5, 7, dan 10 M sedangkan laju alir yang digunakan sebesar 2, 4, dan 6 mL/menit. Dari hasil penelitian, didapatkan konsentrasi KOH maksimum sebesar 10 M dan laju alir maksimum sebesar 2mL/menit dengan jumlah silika yang terekstrak sebesar 1,8052 g.Kata kunci: laju alir, lumpur Sidoarjo, silik
AMOBILISASI PEKTINASE DARI Bacillus subtilis MENGGUNAKAN MATRIKS PASIR LAUT YANG DIAKTIVASI NaOH
Pektinase hasil isolasi dari Bacillus subtilis mempunyai sifat termofilik. Pektinase perlu diamobilisasi agar dapat digunakan secara berulang. Amobilisasi pektinase dilakukan dengan metode adsorpsi fisik pada matriks pasir laut yang diaktivasi NaOH 0,0720 M. Pada penelitian ini ditentukan lama pengocokan dan konsentrasi pektinase optimum amobilisasi pektinase. Lama pengocokan yang digunakan berkisar antara 1, 2, 3, 4 dan 5 jam dan konsentrasi enzim sebesar 0,943; 1,887; 2,830; 3,774 dan 4,717 mg/mL. Kadar protein diuji dengan metode Biuret dan aktivitas enzim ditentukan dari banyaknya asam galakturonat yang dihasilkan dari hidrolisis pektin oleh pektinase per menit. Kadar protein pektinase bebas diperoleh sebesar 4,717 mg/mL dengan aktivitas 109,8 unit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum pektinase amobil pada pasir dicapai pada lama pengocokan 3 jam dan konsentrasi pektinase 3,774 mg/mL dengan aktivitas 1007,7 unit dan jumlah enzim teradsorpsi pada pasir sebesar 111,6 mg/g pasir.Kata kunci: aktivitas, amobilisasi, Bacillus subtilis, pasir laut, pektinase
STUDI PEMBERIAN EKSTRAK RUMPUT LAUT COKLAT (Sargassum prismaticum) TERHADAP KADAR MDA DAN HISTOLOGI JARINGAN PANKREAS PADA TIKUS Rattus norvegicus DIABETES MELITUS TIPE 1 HASIL INDUKSI MLD-STZ (MULTIPLE LOW DOSE - STREPTOZOTOCIN)
The aim of this research was to investigate the effect of brown seaweed (Sargassum prismaticum) extract to decreased MDA levels and improvement of pancreatic tissue histology on rats Rattus norvegicus type 1 diabetes mellitus (DM). Type 1 diabetic rats induced by intraperitonial (i.p) injection of Multiple Low Dose-Streptozotocin (MLD-STZ) with 20 mg/kg (bw) dose for 5 consecutive days. MDA was measured by UV-Vis spectrophotometry method at a wavelength of 540 nm using TBA (Thiobarbituric acid) reagent. Histology of pancreatic tissue performed using Hematoxylen-Eosin staining method. In this research, rats were grouped into 6 treatment groups: the group of control rats, type 1 diabetic rats exposed to MLD-STZ, and type 1 diabetic rats exposed to MLD-STZ than treated by brown seaweed extract orally with 0.8 g/tail dose by 2 mL per day for 1, 3, 5, and 7 days. The results of this research obtained average MDA levels of each group of consecutive treatments were 2.507; 6.770; 5.543; 4.444; 3.734 and 2.980 mg/mL. Therapy with Sargassum prismaticum extract for 7 days can reduce MDA levels of type 1 diabetic rats by 55.98% indicating level of (6.770 ± 0.027) mg/dL to be (2.980 ± 0.017) mg/dL and able to improved pancreatic tissue histology type 1 diabetic rats. Key words: diabetes mellitus, histology, MDA, pancreas, Sargassum prismaticu
OPTIMASI AMOBILISASI UREASE DARI Schizzosaccharomyces pombe MENGGUNAKAN MATRIK KITOSAN-POLIETILEN GLIKOL
Schizosaccharomyces pombe is yeast that production urease and extraceluller enzyme. Urease can hydrolyze urea to be ammonia and carbondioxide. Free urease is unable to be reused, therefore urease is needed to immobilized in certain matrix. This research studies to determine optimum condition from chitosan concentration and enzyme concentration. Urease was immobilized by entrapment method using matrix chitosan-polyethylene glycol with make a variation to chitosan concentration (1.5; 2; 2.5; 3; 3.5) % (w/v) and make a variation to urease concentration (0.840; 1.680; 2.520; 3.360; 4.200) mg/mL. Enzyme activity was defined as the amount of mikromol ammonia per minute, and resulted ammonia was analyzed by Nessler method. The results showed that the optimum condition of immobilization uerase is achieved on chitosan concentration 3% (w/v) and urease concentration of 2.52 mg/mL and urease yielding in 2.36  mg/gram matrix chitosan-polyethylene glycol within the activity of  0.53 Units. Key words: activity, chitosan-polyethylene glycol, Schizosaccharomyces pombe, ureas
PENGARUH PH DAN TEMPERATUR TERHADAP KINERJA SENSOR POTENSIOMETRI RHODAMIN B BERBASIS KITOSAN
Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pengaruh pH dan temperatur terhadap kinerja sensor potensiometri Rhodamin B berbasis kitosan serta aplikasinya pada penentuan kadar Rhodamin B yang terdapat pada makanan yang hasilnya dibandingkan dengan metoda standar spektrofotometri sinar tampak. Sensor potensiometri yang digunakan berupa Elektroda Selektif Ion (ESI) Rhodamin B yang terbuat dari konduktor kawat Pt yang dilapisi oleh membran yang terdiri dari bahan aktif kitosan terprotonasi menggunakan asam asetat 3% pada pH 5, bahan berpendukung campuran polivinil klorida (PVC), pemlastis dioktil sebakat (DOS) dengan perbandingan 4:35:61 (b/b) dalam pelarut tetrahidrofuran (THF) dengan perbandingan 1:3 (b/v). Pengaruh pH dan temperatur ditentukan dengan mengukur potensial larutan Rhodamin B pada kisaran pH 3−8 dan kisaran temperatur 15−45 oC dimana pH dan temperatur optimum dilihat dari sensor potensiometri yang memberikan karakteristik yang baik yang ditunjukkan dengan harga Faktor Nernst teoritis (59,2 mV/dekade konsentrasi). Sensor diaplikasikan pada penentuan Rhodamin B dalam sampel saos makanan, hasilnya dibandingkan dengan metoda standar spektrofotometri sinar tampak pada panjang gelombang 545 nm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja sensor potensiometri Rhodamin B berbasis kitosan tidak dipengaruhi oleh pH pada rentang pH 4−5 dan temperatur pada rentang 20−45 oC serta dapat diaplikasikan pada sampel saos tomat pada konsentrasi 17,32−24,88 ppm yang memberikan akurasi 94,66% dan presisi 92,15%. Kata kunci: kitosan, pH, Rhodamin B, sensor potensiometri, temperatu
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI SENSOR POTENSIOMETRI RHODAMIN B BERBASIS KITOSAN DENGAN PLASTICIZER DIOKTIL SEBAKAT (DOS)
Penelitian ini bertujuan untuk membuat dan mengkarakterisasi sensor potensimetri Rhodamin B berbasis kitosan sebagai metoda analisis yang cepat,murah dan memiliki akurasi serta presisi yang tinggi dengan mekanisme pertukaran ion untuk penentuan zat warna rhodamin B. Membran sensor terdiri dari campuran bahan aktif kitosan yang diaktivasi menggunakan asam asetat 3% (b/v), polimer polivinilklorida (PVC) dan pemlastis dioktilsebakat (DOS) dalam pelarut tetrahidrofuran (THF), yang digunakan sebagai membran dengan komposisi tertentu. Membran kemudian digunakan untuk lapisan yang menutupi kawat Pt pada sensor potensimetri. Karakterisasi sifat dasar dilakukan meliputi: faktor Nernst, rentang konsentrasi linier, limit deteksi, waktu respon, usia pemakain serta waktu prakondisi dalam larutan ion yang disensornya (rhodamin B). Dari penelitian ini dihasilkan sensor potensiometri Rhodamin B bermembran dengan komposisi kitosan:PVC:DOS 4:35:61 dalam pelarut THF 1:3 (b/v) menghasilkan karakter bersifat Nernstian dengan nilai faktor Nernst sebesar 57.067 mV/dekade, pada kisaran konsentrasi lebar yaitu 10-5-10-1 M, batas deteksi kecil yaitu 3.981 ppm, waktu respon cepat yakni 50 detik, sensor masih dapat digunakan dalam waktu 14 hari serta perlu waktu perendaman 10 menit. Kata kunci : kitosan, membran, Rhodamin B, sensor potensiometr
PENGARUH pH DAN LAMA KONTAK PADA ADSORPSI Ca2+MENGGUNAKAN ADSORBEN KITIN TERFOSFORILASI DARI LIMBAH CANGKANG BEKICOT (Achatina Fulica)
ABSTRAK Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini mulai memanfaatkan kitin sebagai salah satu alternatif adsorben. Penggunaan kitin sebagai adsorben karena keberadaannya yang melimpah dan dapat diperbarui secara alamiah.Pada penelitian ini, kitin fosforilasi digunakan sebagai adsorben untuk menyerap Ca2+. Kitin diisolasi dari cangkang bekicot melalui proses demineralisasi dan deproteinasi. Kitin difosforilasi dengan asam fosfat dan natrium bifosfat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh pH dan lama kontak pada adsorben kitin terfosforilasi terhadap ion Ca2+. Proses adsorpsi Ca2+ dilakukan dengan variasi pH 3, 4, 5, 6, 7, dan 8 serta variasi lama kontak 20, 40, 60, 80, 100, 120 menit.Hasil adsorpsi Ca2+ oleh kitin terfosforilasi dianalisis dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH optimum pada proses adsorpsi kitin adalah pH 5 dengan persen Ca2+ teradsorpsi 91,41% dan lama kontak saat optimum  diperoleh pada menit ke 60. Kata kunci: adsorpsi, cangkang bekicot, fosforilasi, kiti
KOMBINASI OZONISASI, IRADIASI ULTRAVIOLET DAN ZEOLIT UNTUK DISINFEKSI AIR TANAH DAN PENENTUAN KONSENTRASI OZON DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VISIBLE
Air yang layak minum harus memenuhi baku mutu air minum seperti yang tercantum dalam peraturan Menteri Kesehatan No. 492/MENKES/PER/IV/2010. Peraturan tersebut mensyaratkan tidak ada kandungan Coliform dan E. coli sedikitpun pada air minum, sedangkan syarat kimiawi dan fisika tidak boleh melebihi konsentrasi yang telah ditetapkan, sehingga dibutuhkan proses disinfeksi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya kosentrasi ozon hasil sintesis dengan metode penyerapan sinar ultraviolet oleh oksigen pada panjang gelombang 200-280 nm, dan efektivitas ozon hasil sintesis, iradiasi ultraviolet, dan zeolit untuk disinfeksi air tanah dengan waktu kontak 20, 40, dan 60 menit. Sampel air tanah yang digunakan adalah air tanah di daerah Ketawanggede RT 07/RW 02 Malang. Penelitian ini menggunakan oksigen yang dialirkan dengan debit 833,34 mL/menit secara kontinu dalam tabung quartz dengan daya lampu ultraviolet 15 watt. Berdasarkan penelitian, besarnya konsentrasi ozon hasil sintesis pada waktu 0, 20, 40, dan 60 menit adalah sebesar 0.000,38.37, 41.49, dan 50.56 mL/kL. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi besi, mangan, TDS, pH setelah disinfeksi mengalami penurunan. Sisa konsentrasi besi pada waktu kontak 20, 40, dan 60 menitdisinfeksisebesar 0.083,0.070, dan 0.045 mg/L. Mangan sebesar 0.044, 0.028, dan 0.04mg/L. TDS sebesar 401.2, 406.2, dan 388.8 mg/L. pH sebesar 7.85, 7.80, dan 7.70. Dan tidak terdapat bakteri E. coli pada air tanah. Kata kunci: Bakteri E. coli, Besi, Disinfeksi, Mangan, Ozon, pH, dan TD
AMOBILISASI PEKTINASE DARI Bacillus subtilis MENGGUNAKAN MATRIKS PASIR LAUT TERAKTIVASI HCl
ABSTRAK Amobilisasi pektinase dengan metode adsorpsi fisik pada matriks pasir laut teraktivasi HCl, digunakan untuk mendegradasi senyawa pektin. Pektinase perlu diamobilkan untuk meningkatkan efisiensi pemakaian enzim sehingga dapat dipakai berulang kali. Pektinase diisolasi dari Bacillus subtilis dan dimurnikan dengan menggunakan amonium sulfat dengan tingkat kejenuhan 20-60%. Penelitian ini bertujuan mengetahui waktu pengocokan dan konsentrasi pektinase optimum. Pada penelitian ini dilakukan variasi waktu pengocokan 1, 2, 3, 4, 5 jam dan variasi konsentrasi pektinase 0,943; 1,887; 2,830; 3,774; 4,717 mg/mL pada 0,1 g pasir pada temperatur ruang. Penentuan kadar protein dilakukan dengan menggunakan reagen Biuret, sedangkan kadar asam galakturonat menggunakan reagen DNS. Pektinase bebas mempunyai kadar protein 4,717 mg/mL dengan aktivitas 109,8 unit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum amobilisasi pektinase dicapai pada waktu pengocokan 4 jam dan konsentrasi pektinase 3,774 mg/mL dengan jumlah pektinase teradsorpsi 140,7 mg/g pasir dan aktivitas 1049,9 unit. Kata kunci:aktivitas, Bacillus subtilis, pasir laut teraktivasi HCl, pektinase
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI MINYAK BUNGA CENGKEH (Syzygium aromaticum) KERING BERDASARKAN AKTIVITAS ANTIRADIKAL YANG DITENTUKAN MENGGUNAKAN Electron Spin Resonance
ABSTRAK Pada penelitian ini, dilakukan uji aktivitas antiradikal terhadap minyak cengkeh. Minyak cengkeh yang digunakan diperoleh dari hasil isolasi bunga cengkeh menggunakan distilasi uap selama 8 jam dan dilakukan karakterisasi menggunakan Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa (KG-SM). Uji aktivitas antiradikal menggunakan Electron Spin Resonance (ESR) dilakukan terhadap radikal bebas dalam minyak jagung yang telah diradiasi dengan sinar UV pada λ= 254 nm selama 40 menit dengan variasi penambahan volume minyak cengkeh sebanyak 45, 50, 55, 60, 65 µL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume minyak cengkeh mempengaruhi aktivitasnya sebagai antiradikal. Aktivitas optimal antiradikal minyak cengkeh terhadap radikal alkil (60%), hidroksil (48,57%), dan peroksil (35,71%) diperoleh pada penambahan 55 µL minyak cengkeh. Penurunan luas kurva resonansi minyak cengkeh dan eugenol hampir sama, sehingga senyawa yang diduga berkontribusi pada aktivitasnya sebagai antiradikal adalah eugenol. Kata kunci: antiradikal, Electron Spin Resonance, minyak cengke