Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya
Not a member yet
214 research outputs found
Sort by
PENGARUH VARIASI JUMLAH MOL ASETONITRIL TERHADAP PRODUK SINTESIS SENYAWA ORGANONITROGEN BERBASIS α-PINENA HASIL ISOLASI DARI MINYAK TERPENTIN
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi jumlah mol asetonitril terhadap kuantitas produk senyawa organonitrogen yang disintesis dari α-pinena dan asetonitril. Isolasi α-pinena dari minyak terpentin dilakukan dengan menggunakan metode distilasi fraksinasi. Sintesis senyawa organonitrogen dilakukan pada temperatur ruang selama 5 jam dengan perbandingan mol α-pinena : asetonitril : asam sulfat (1:1:4), (1:5:4), dan (1:10:4). Hasil penelitian menunjukkan kadar senyawa α-pinena hasil distilasi adalah 88,46%. Produk yang dihasilkan adalah N-(1,7,7-trimetilbisiklo [2,2,2] heptan-2-il)asetamida dan N-(2,6,6-trimetilbisiklo [3,1,1] heptan-2-il)asetamida. Efisiensi produk N-(1,7,7-trimetilbisiklo [2,2,2] heptan-2-il)asetamida pada variasi (1:1:4), (1:5:4), dan (1:10:4) adalah 7,78%, 10,277% dan 1,45%. Sedangkan produk N-(2,6,6-trimetilbisiklo [3,1,1] heptan-2-il)asetamida masing-masing adalah 2,34%, 2,67%, dan 0,188%. Kata kunci: α-pinena, minyak terpentin, reaksi Ritter, sintesis senyawa organonitrogen ABSTRACT This research aimed to determine the effect of variation of moles acetonitrile on the quantity of organonitrogen compound synthesized products from α-pinene and acetonitrile. The isolation of α-pinene from turpentine oil over fractional distillation method. The synthesis of organonitrogen compounds is done at room temperature for 5 hours with the mole ratio α-pinene : acetonitrile : sulfuric acid (1:1:4), (1:5:4), and (1:10:4). These results showed that the amount of α-pinene produced from fractional distillation is 88,46%. Organonitrogen compounds were obtained are N-(1,7,7-trimetilbisiklo [2,2,2] heptane-2-yl) acetamide and N-(2,6,6-trimetilbisiklo [3,1,1] heptane-2-yl) acetamide. Efficiency of product N-(1,7,7-trimetilbisiklo[2,2,2] heptan-2-yl)acetamide of variation (1:1:4), (1:5:4), and (1:10:4) are 7,78%, 10,277% and 1,45%. Whereas product N-(2,6,6-trimetilbisiklo[3,1,1]heptan-2-yl)acetamide are 2,34%, 2,67%, and 0,188%. Key words: α-pinene, turpentine oil, Ritter reaction, synthesis organonitrogen compoun
KINETIKA REAKSI FERMENTASI GLUKOSA HASIL HIDROLISIS PATI BIJI DURIAN MENJADI ETANOL
Ethanol can be produced by glucose fermentation process using Saccharomyces cerevisiae. The potential source of glucose is starch of durian seed. This research studies about determine the kinetics model of ethanol fermentation of glucose and to identify the physical properties of ethanol produced. Glucose fermentation using Saccharomyces cerevisiae for 72 hours at various initial concentrations of 20, 40, 60 and 80 ppm has been conducted. After ethanol produced was reacted with potassium dichromate using Conway crucible. It was then analyzed by UV-Vis spectrophotometer at 605 nm. The physical properties of ethanol determined were density and refraction index. The result showed that the kinetics model of ethanol fermentation obtained was accordance with  = -0,0011  + 0,0002 equation. As for Michaelis-Menten (Km) constant was 5,5 ppm-1 and maximum velocity (Vmax) 5000 ppm.hour-1. In addition, its physical properties i.e. density and refractive index were in the range of 0,9767-0,9809 g/mL and 1,3347-1,3365 respectively
PENGARUH pH DAN WAKTU AGING DALAM SINTESIS SILIKA XEROGEL BERBASIS SEKAM PADI
Telah dilakukan penelitian tentang sintesis silika xerogel dari sekam padi dengan metode sol gel menggunakan prekursor natrium silikat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh pH dan waktu aging serta mengetahui karakter silika xerogel. Natrium silikat disintesis dari SiO2 dengan NaOH pada temperatur 95 OC selama 1 jam. Natrium silikat diasamkan dengan HCl sampai pH 1. Selanjutnya pH dinaikkan menggunakan NaOH 1 M sampai pH 6, 7 dan 8 untuk menghasilkan sol. Sol didiamkan dengan waktu aging 12, 18 dan 24 jam. Silika gel yang dihasilkan dikeringkan pada temperatur 80 OC selama 18 jam untuk menghasilkan xerogel. Karakterisasi silika xerogel yang dilakukan adalah menentukan luas permukaan dan kemurniannya. Luas permukaan silika xerogel ditentukan dengan metilen biru dan kemurniannya secara gravimetri. Identifikasi gugus fungsi dan struktur kristal menggunakan FTIR dan XRD. Hasil penelitian menunjukan bahwa sintesis silika xerogel terjadi pada pH optimum 6 dengan waktu aging optimum 12 jam. Hasil karakterisasi silika xerogel pada keadaan optimum menunjukkan luas permukaan sebesar 4,24 m2/g dengan kemurnian 98,06%. Â Spektra IR silika xerogel hasil sintesis mengandung gugus silanol (Si-OH) dan siloksan (Si-O-Si) serta data XRD memperlihatkan silika xerogel berstruktur amorf. Kata kunci: silika, sol-gel, xeroge
Studi Kinetika Reaksi Asilasi Fenol dengan Asam Sitrat Anhidrida
Studi kinetika reaksi asilasi fenol dengan asam sitrat anhidrida bertujuan untuk mempelajari kinetika reaksi asilasi fenol dengan asam sitrat anhidrida serta mempelajari pengaruh konsentrasi fenol terhadap kinetika reaksinya dari kadar fenol sisa. Asam sitrat anhidrida dibuat dari asam sitrat dengan cara memanaskan pada suhu 1700C dalam reaktor. Reaksi asilasi fenol dengan asam sitrat anhidrida dilakukan pada suhu 700C dengan variasi perbandingan konsentrasi fenol dan waktu reaksi. Perbandingan konsentrasi fenol dengan asam sitrat anhidrida dilakukan pada 3:1 ; 2:1 ; 1:1 dan pada variasi waktu reaksi 30, 60, 90, 120 menit. Kadar fenol sisa dari reaksi asilasi fenol dengan asam sitrat anhidrida diidentifikasi dengan menggunakan metode folin – ciocalteu. Identifikasi senyawa dengan menggunakan spektrofotometer FTIR digunakan untuk mengetahui gugus fungsi dari senyawa fenol, asam sitrat, asam sitrat anhidrida dan senyawa hasil reaksi. Dari hasil percobaan menunjukkan reaksi orde dua. Semakin besar konsentrasi fenol akan meningkatkan kadar fenol sisa dan menurunkan konstanta laju reaksi. Kata kunci: asam sitrat anhidrida, fenol, reaksi asilasi
OPTIMASI AMOBILISASI UREASE DARI Schizzosaccharomyces pombe MENGGUNAKAN MATRIK Ca-ALGINAT
Urease immobilization is required to be used in repetition The enzyme hydrolize urea to be ammonia and carbondioxide. Urease was isolated from Schizzosaccharomyces pombe and was purified through precipitation by using ammonium sulphate at 30-45% saturation level, followed by dialysis. Urease was immobilized by entrapment method in a matrix of Ca-alginate. The study aimed to determine optimum concentration of Na-alginate and enzym concentration. In this research, Na-alginate concentration (1,5 ; 2 ; 2,5 ; 3 ; 3,5) % (w/v) and variation of urease concentration (0,840; 1,680; 2,520; 3,360; 4,200) mg/mL. Protein content was determined by Biuret reagen and enzyme activity was determined as the amount of mikromol amonia per minute, and resulted amonia was analyzed by Nessler method. The results showed that the optimum condition of immobilization urease is achieved on 3% Na-alginate solution and 2,52 mg/ml urease yielding in 2,52 mg of entrapped enzyme/gram Ca-alginate and the activity of 0,55 Units.
Key words: activity, Ca-alginate, Schizzosaccharomyces pombe, urease
PENGARUH MODIFIKASI ELEKTRODA SPCE DENGAN Bi (III) PADA PENENTUAN Cd2+DAN Pb2+SECARA STRIPPING VOLTAMMETRY
Stripping voltammetri merupakan metode elektroanalitik yang dapat digunakan pada penentuan campuran logam Cd2+ dan Pb2+ tanpa dilakukan pemisahan.Pada penelitian ini digunakan metode stripping voltammetry berbasis Screen Printed Carbon Electrode (SPCE) yang dilapisi oleh bismut dengan tujuan untuk meningkatkan sensitifitas terhadap analit. Konsentrrasi Cd2+ dan Pb2+ yang digunakan 50 ppb dengan potensial deposisi -1,2 V dan potensial scan -1,4 V sampai 0,4 V. Konsentrasi bismut yang digunakan untuk melapisi SPCE yaitu 1 ppm dan 100 ppm. Modifikasi yang baik yaitu dengan menggunakan SPCE yang dilapisi bismut 1 ppm. Pada penentuan Cd2+ dan Pb2+ dalam campuran, baik Cd2+ maupun Pb2+ akan saling mempengaruhi terhadap arus puncak dan potensial puncak yang dihasilkan. Komposisi Cd2+ tanpa Pb2+menghasilkan batas deteksi baik yaitu 15,17ppb dengan kepekaan 0,163 mA/ppb, komposisi Pb2+ dengan 50 ppb Cd2+ juga memberikan hasil batas deteksi yang baik yaitu 6,38 ppb dengan kepekaan 0,076 mA/ppb. Kata kunci : stripping voltammetry, voltametri gelombang kuadrat, screen printed carbon electrode
PENGARUH PENAMBAHAN DOLOMIT TERHADAP KEKERASAN BAHAN BAKU PEMBUATAN KERAMIK DARI LUMPUR LAPINDO
IonNa+ dan K+ dihilangkan dari lumpur Lapindo dengan cara ekstraksi menggunakan variasi pelarut akuades dan air PDAM. Variasi pelarut akuades dan air PDAM digunakan saat pembuatan HCl untuk melarutkan dolomit. Variasi pelarut yang digunakan adalah 5, 10 dan 15% b/v untuk masing-masing pelarut air PDAM dan akuades. Proses ekstraksi ion Na+ dan K+ dilakukan bersamaan dengan proses penambahan ion Ca(II) dan Mg(II) dari dolomit kedalam lumpur Lapindo. Dolomit dilarutkan ke dalam HCl dengan variasi pelarut akuades dan pelarut air PDAM sehingga menghasilkan variasi larutan dolomit dalam HCl (DDH) dengan pelarut akuades dan air PDAM. Adanya kandungan Mg(II) yang lebih besar dari pada Na+ dan K+ dapat membantu koagulasi koloid saat proses ekstraksi. Konsentrasi larutan dolomit dalam HCl (DDH) yang memberikan hasil paling baik didapatkan pada konsentrasi 15% DDH pada pelarut air PDAM. Dari hasil analisa sebelum dan sesudah ekstraksi, logam Ca(II) bertambah sebesar 17898 ppm
OPTIMASI AMOBILISASI PEKTINASE DARI Bacillus subtilis MENGGUNAKAN KITOSAN-NATRIUM TRIPOLIFOSFAT
Pektinase adalah enzim yang sangat potensial dalam industri pangan, sehingga perlu diamobilisasi agar dapat digunakan berulang dan mudah untuk dipisahkan dari produknya. Pektinase yang telah diisolasi dari Bacillus subtilis dimurnikan dengan menggunakan amonium sulfat dengan tingkat kejenuhan 20–60%. Pektinase diamobilisasi dengan metode penjebakan menggunakan matriks kitosan-natrium tripolifosfat. Pada penelitian ini ditentukan konsentrasi kitosan dan konsentrasi enzim optimum amobilisasi pektinase. Konsentrasi kitosan yang digunakan adalah 1; 1,5; 2; 2,5; dan 3% (w/v) dan konsentrasi enzim sebesar 0,943; 1,887; 2,830; 3,774; dan 4,717 mg/mL. Kadar protein enzim ditentukan dengan metode Biuret dan aktivitas enzim ditentukan dengan menghitung asam galakturonat yang dihasilkan dari hidrolisis pektin oleh sejumlah enzim per menit. Kadar protein pektinase bebas diperoleh sebesar 4,717 mg/mL dengan aktivitas sebesar 109,8 unit. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi kitosan optimum berada pada konsentrasi 2,5% sedangkan konsentrasi enzim optimum pada 1,887 mg/mL dengan aktivitas tertinggi sebesar 145,6 unit. Kata kunci : aktivitas, amobilisasi, Bacillus subtilis, kitosan-natrium tripolifosfat, pektinas
ISOLASI DAN KARAKTERISASI DARI MINYAK BUNGA CENGKEH (Syzygium aromaticum) KERING HASIL DISTILASI UAP
Minyak cengkeh diisolasi dari bunga cengkeh (Syzigium aromaticum) kering dan dikarakterisasi berdasarkan sifat fisik dan Kromatografi Gas – Spektroskopi Massa (KG-SM). Isolasi dilakukan dengan metode distilasi uap selama 8 jam. Karakterisasi minyak cengkeh berdasar sifat fisik yang meliputi warna, bau, indeks bias, dan berat jenis. Analisis komponen minyak cengkeh menggunakan KG-SM. Hasil isolasi diperoleh minyak cengkeh dengan rendemen 8,6 %. Minyak cengkeh yang diperoleh berwarna kuning muda, berbau khas cengkeh, indeks bias (20 oC) 1,5356 dan bobot jenis (15 oC) 1,0663 g/mL. Hasil analisis menggunakan KG-SM menunjukkan bahwa minyak cengkeh mengandung 6 komponen yaitu, eugenol 81,2 %, trans-karyofilen 3,92 %, alfa-humulen 0,45 %, eugenil asetat 12,43 %, karyofilen oksida 0,25 % dan trimetoksiasetofenon 0,53 %. Fakta lain menunjukkan bahwa pengeringan bunga cengkeh menyebabkan hilangnya beberapa komponen yang mudah menguap dalam minyak cengkeh. Kata kunci: distilasi uap, Kromatografi Gas – Spektroskopi Massa, minyak bunga cengkeh, Syzygium aromaticu
PENGARUH PENAMBAHAN ION Fe3+ TERHADAP AKTIVITAS XILANASE DARI Trichoderma viride
Xylanase is an enzyme that catalyzes the hydrolysis reaction substrate xylan (hemicellulose) into xylose. This study was conducted to determine the effect of Fe3+ on the activity of xylanase from Trichoderma viride using corn strove as an inducers. Effect of the addition of Fe3+ ions on xylanase activity was determined by comparing the xylanase activity with the addition of Fe3+ ions and xylanase activity without the addition of Fe3+ ions. Xylanase activity was determined by measuring the reducing sugar xylose spectrophotometrically using 3,5-dinitrosalisilat acid reagent (DNS). The results showed that the addition of Fe3+ ions in the concentration range of 5-35 mM can increase the activity of xylanase Keywords: Xylanase, Fe3+, Trichoderma viride, Corn Strov