Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya
Not a member yet
214 research outputs found
Sort by
PENGARUH pH DAN WAKTU KONTAK PADA ADSORPSI Pb(II) MENGGUNAKAN ADSORBEN KITIN TERFOSFORILASI DARI LIMBAH CANGKANG BEKICOT (Achatina fulica)
ABSTRAK Limbah cangkang bekicot mengandung kitin yang dapat dimanfaatkan sebagai adsorben ion logam berat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kapasitas adsorpsi kitin terhadap ion Pb(II) dengan cara fosforilasi dan juga mempelajari pengaruh pH dan waktu kontak larutan terhadap adsorpsi Pb(II) pada kitin terfosforilasi. Kitin diisolasi dari cangkang bekicot melalui proses deproteinasi dan demineralisasi. Kitin difosforilasi dengan asam fosfat dan dinatrium hidrogen fosfat. Penelitian dilakukan dengan variasi pH 2, 3, 4 dan 5 serta variasi waktu kontak 20, 40, 60, 80, 100 dan 120 menit. Hasil yang diperoleh yaitu adsorpsi ion Pb(II) secara maksimum diperoleh pada pH 4 sebesar 86,45% dan waktu kontak selama 60 menit. Kata kunci: adsorpsi, kitin, fosforilasi, Pb(II)
ISOLASI DAN KARAKTERISASI TIROSIN KINASE HASIL ISOLASI SPERMATOZOA TIKUS (Rattus norvegicus)
Tyrosine kinase is an enzyme that is used to transfer phosphate. Tyrosine kinase activity is important in the process of autofosforilasi sperm and its activities will be maximum when the working conditions of optimum. Purpose of this study was to determine the caracteristic and molecular weigh tyrosine kinase isolated spermatozoa rat. Tyrosine kinase isolated from spermotozoa rat (Rattus norvegicus) by centrifugation and ultrasonikasi technique. In this research experiment of conditions optimum tyrosine kinase with variations of pH ( 6; 6,5; 7; 7.5 and 8), temperature ( 20; 25; 30; 35 and 40 )0C, incubation periods ( 20; 25; 30; 35; and 40 ) minutes, and for the determination of molecular weight used method of SDS-PAGE. The result of this research showed that the optimum activity tyrosine kinase from spermmatozoa rat (Rattus norvegucus) at pH 7, temperature 350C, and 30 minutes incubation time with 0,263 unit activity and obtained by molecular weight 94,61 kDa. The result of statistic analyzed showed the variation of pH, temperature, and incubation time give an very obvious influence (P<0,01) against activity of tyrosine kinase. Keywords: molecular weight tyrosine kinase, spermatozoa, tyrosine kinase activit
POTENSI EKSTRAK RUMPUT LAUT COKLAT (Sargassumprismaticum) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS SUPEROKSIDA DISMUTASE (SOD) DAN GAMBARAN HISTOLOGI JARINGAN HEPAR PADA TIKUS (Rattus norvegicus) DIABETES MELITUS TIPE 1
The aim of this research was to investigate the ability of brown seaweed (Sargassum prismaticum) extract that can increase the activity of SOD and improvement of hepar tissue on rats Rattus norvegicus type 1 diabetes mellitus the results of multiple low dose-streptozotocin (MLD-STZ) induction with 20 mg/kg (bw) dose for 5 consecutive days. As many as 24 rats were devided into 6 groups of 4 each tail. Group treatments were the group of control, type 1 diabetes mellitus, and type 1 diabetes mellitus that given by therapy of Sargassum prismaticum extract orally with variations of given therapy on the different  days to 1, 3, 5, and 7. SOD activity were measured by Elisa Reader Kit on the wavelength at 450 nm and histology description with hematoxylin-eosin staining. The results of this research obtained that SOD activity after given by Sargassum prismaticum extract have been raised and the results as follow as 53,80 (unit/mL), 63,78 (unit/mL), 73,67 (unit/mL), 83,85 (unit/mL). Sargassum prismaticum therapy can fixed the damage of DM type 1 hepar tissue on rats that have been induction by MLD-STZ. Keyword : Diabetes Mellitus, Hepar, Histology, SO
PENGARUH TEKNIK EKSTRAKSI DAN KONSENTRASI HCl DALAM EKSTRAKSI SILIKA DARI SEKAM PADI UNTUK SINTESIS SILIKA XEROGEL
Penelitian tentang teknik ekstraksi silika dari sekam padi untuk sintesis silika xerogel telah dilakukan. Proses ekstraksi silika dari sekam padi menggunakan metode pencucian asam dilakukan dengan dua teknik, yakni dengan pengadukan pada temperatur kamar dan refluk pada temperatur 100 oC selama 2 jam dengan konsentrasi HCl 1, 2, dan 3 M. Penentuan kadar silika dilakukan dengan menggunakan metode gravimetri. Berdasarkan tabel ANOVA bahwa pengaruh konsentrasi dan teknik ekstraksi yang digunakan tidak berpengaruh pada kadar silika yang dihasilkan. Kadar tertinggi silika diperoleh pada teknik pengadukan konsentrasi HCl 1 M dengan kadar 97,30% digunakan sebagai bahan baku pembuatan prekursor pada sintesis silika xerogel. Silika direaksikan dengan NaOH 1 M pada temperatur 95 oC selama 1 jam kemudian diasamkan dengan HCl 1 M sampai pH 7 dan didiamkan selama 12 jam. Gel yang diperoleh dibilas menggunakan akuades, lalu dikeringkan pada temperatur 80 oC selama 18 jam. Silika xerogel yang diperoleh memiliki kadar sebesar 98,23%. Karakterisasi silika dan silika xerogel dengan menggunakan FT-IR menunjukan adanya gugus silanol (3440 dan 3452 cm-1) dan siloksan (1100 dan 1076 cm-1). Karakterisasi luas permukaan menggunakan metilen biru berturut-turut abu sekam padi, silika hasil ekstraksi, silika xerogel diperoleh hasil 7,012; 7,5dan 7,99 m2/g. Kata kunci: kadar, silika, teknik ekstraksi, xeroge
AKTIVITAS PROTEASE DAN GAMBARAN HISTOLOGI GINJAL TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) PASCA INDUKSI Cyclosporine-A
Protease adalah enzim yang dapat menghidrolisis ikatan peptida pada protein. Aktivitas protease merupakan kemampuan enzim protease untuk memecah protein. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas protease dan gambaran histologi pada ginjal tikus (Rattus norvegicus) pasca induksi Cyclosporine-A (CsA). Ginjal yang digunakan berasal dari dua kelompok, yaitu kelompok tikus kontrol dan tikus induksi CsA dengan dosis 3 mg/kg per berat badan tikus. Aktivitas protease diukur untuk Spektrofototometri UV dan gambaran histologi dengan metode pewarnaan HE (Hematoksilin-Eosin). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata aktivitas protease tikus pasca induksi CsA meningkat yaitu 0,181±0,005 dan pasca induksi CsA 0,283±0,009 µmol/mL.menit. Pada gambaran histologi menunjukkan adanya perbedaan sel epitel antara tikus kontrol dan tikus induksi CsA. Inti sel pada tikus induksi CsA meruncing dibandingkan dengan tikus control karena mengalami fibrosis
OPTIMASI AMOBILISASI XILANASE DARI Trichoderma viride PADA MATRIKS PASIR LAUT TERLAPIS KITOSAN
Xilanase bebas hanya bisa digunakan satu kali reaksi, sehingga perlu diamobilisasi agar bisa digunakan berulang. Xilanase yang telah diisolasi dari Trichoderma viride diendapkan dengan metode fraksinasi bertingkat menggunakan amonium sulfat dengan tingkat kejenuhan 40-80% dan dilanjutkan dengan dialisis. Xilanase diamobilisasi dengan metode adsorpsi fisik menggunakan matriks pasir laut terlapis kitosan. Penelitian ini bertujuan mengetahui waktu pengocokan dan konsentrasi xilanase optimum. Pada penelitian ini dilakukan variasi waktu pengocokan (1, 2, 3, 4, 5) jam dan konsentrasi enzim sebesar (0,5; 1,5; 2,5; 3,5; 4,5) mg/mL pada 0,1 g pasir pada temperatur ruang dengan konsentrasi larutan kitosan 1,5% dan larutan Na5P3O10 3%. Kadar protein enzim diuji secara spektrofotometri dengan reagen Biuret dan gula pereduksi dengan reagen DNS. Kadar protein xilanase bebas diperoleh sebesar 4,5 mg/mL dengan aktivitas sebesar 17,0 unit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum amobilisasi xilanase pada pasir laut terlapis kitosan dicapai pada waktu pengocokan 3 jam dan konsentrasi xilanase 3,5 mg/mL dengan jumlah xilanase teradsorpsi 16,7 mg/g matriks dan aktivitas 34,5 unit. Kata kunci: Aktivitas, amobilisasi, pasir laut terlapis kitosan, Trichoderma viride, xilanas
AMOBILISASI PEKTINASE HASIL ISOLASI DARI Aspergillus niger MENGGUNAKAN MATRIKS KARAGENAN
ABSTRACT Pectinase isolated from Aspergillus niger was immobilized by entrapping method in a matrix of carrageenan. The aim of this research was to determine the optimum concentration of carrageenan and enzyme. Carrageenan concentration varied (0.017; 0.033; 0.050; 0.067; 0.083) g/mL, while the concentration of enzyme  varied (0.632; 1.263; 1.895; 2.526; 3.158) mg/mL. Protein content was determined by Biuret reagent  and enzyme activity was determined from the number of reduced sugar as a result of  hydrolyzed pectin per minute. The results showed that optimum concentration of carrageenan was 0.050 g/mL and the optimum enzyme concentration was 1.263 mg/mL with the amount of entrapping enzyme was 3.048 mg/g carrageenan and maximum activity of 348.5 units. Key words: activity, Aspergillus niger, carrageenan, pectinase
ISOLASI DAN KARAKTERISASI KOMPONEN MINYAK MINT DARI DAUN Mentha arvensis Linn. HASIL DISTILASI AIR
ABSTRAK Tanaman Mentha termasuk dalam keluarga Labiatae, yang banyak dimanfaatkan minyak atsirinya berdasarkan penggunaan dalam berbagai bidang industri, kandungan bahan aktif dan aroma. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi minyak mint dari daun Mentha arvensis segar yang berasal dari Pujon, Batu, Indonesia dengan metode distilasi air, mengkarakterisasi sifat fisik dan menganalisa komponen penyusun minyak mint. Isolasi minyak mint dengan metode distilasi air dari daun M. arvensis diperoleh minyak mint dengan rendemen sebesar 0,09 %, berwarna kuning, berbau menyengat, beraroma khas daun mint, indeks bias 1,468 (25 0C) dan berat jenis 0,899 (25 0C). Hasil analisis minyak mint dengan KG-SM menunjukkan adanya 28 senyawa penyusun minyak mint dengan 5 komponen utama penyusunnya adalah karvon (40,58 %), limonena (19,55 %), β-mirsena (4,10 %), tran-karveol (3,39 %) dan dihidrokarvon (3,01 %). Komponen penyusun minyak mint pada penelitian ini berbeda dengan komponen minyak mint yang berasal dari Patiala, India. Kata kunci: Distilasi air, Mentha arvensis, minyak mint, KG-SM. ABStract Mentha plant has been determined as Labiatae family. The essential oil isolated from this plant has been widely used in various industrial application taking the advantages of its biologically active compounds and fragrances. This study is aimed to isolate mint oil from Mentha arvensis leaves freshly collected from Pujon, Batu, Indonesia, through water-distillation method, characterize its physical properties and analyze its compounds. Mint oil in this reseacrh was obtained in 0.09 % yield, yellow in color, has strong and characteristic odour as typical mint leaves, refractive index of 1.468 (25 oC) and specific gravity of 0.899 (25 oC). Analysis by GC-MS of this mint oil has shown that it consists of 28 compounds with the 5 major compounds are carvone (40.58 %), limonene (19.55 %), β-myrcene (4.10 %), trans-carveol (3.39 %) and dihydrocarvone (3.01 %). The composing components of mint oil in this research is found to be different with that of isolated from Patiala, India. Key words: Water distillation , Mentha arvensis, mint oil, GC-MS
pembuatn tes kit tiosianat berdasarkan pembentukan kompleks besi(III) tiosianat
ABSTRAKTiosianat merupakan salah satu senyawa yang secara tidak langsung dapat menyebabkan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI). Penentuan tiosianat dapat dilakukan dengan tes kit, berdasarkan  metode kolorimetri yaitu dengan cara pembentukan kompleks berwarna merah Besi (III) tiosianat. Pembentukan kompleks Besi (III) tiosianat dapat dilakukan dengan cara mereaksikan tiosianat SCN- dengan ion Fe3+ dalam suasana asam. Warna yang dihasilkan akan dianalisa secara spektrofotometri visibel. Intensitas warna dari kompleks yang terbentuk dibuat sebagai komparator. Hasil penelitian menunjukkan waktu optimum pembentukan kompleks adalah 3 menit dan pH 2.Kata kunci: kompleks Besi(III) tiosianat, tes kit,tiosianatABSTRACTThiocyanate is a compound that can indirectly lead to Iodine Deficiency Disorders(IDD). Determination of thiocyanate to do with the test kit, based on the colorimetric method based on the formation of the red complex iron(III) thiocyanate. Complex formation of iron(III) thiocyanate can be done by reacting thiocyanate(SCN-) with Fe3+ ions under acidic conditions. The resulting color will be analyzed by visible spectrophotometry. Color intensity of the complex formed was madeas a comparator. The results showed the optimum time of the complex formation of 3 minutes and pH 2.Key words:iron(III) thiocyanate complex, tes kit, Thiocyanat
PENGARUH PH PADA REDUKSI AU(III) MENJADI AU DALAM GEL METASILIKAT
Kristal tunggal emas dapat disintesis dengan metode gel metasilikat. Gel metasilikat memiliki beberapa kelebihan yaitu sederhana, mudah dilakukan pada suhu kamar dan memiliki kristalinitas yang lebih baik dibandingkan gel lainnya seperti agar, gelatin, lempung dan poliakrilamida. Kristalinitas gel metasilikat memiliki struktur tautan silang (Si-O-Si) yang mampu membentuk polimer dan memiliki rongga-rongga pada gel sebagai ruang yang kondusif untuk pertumbuhan kristal. Penelitian ini dilakukan untuk mensintesis kristal tunggal emas dalam gel metasilikat dan mengetahui pengaruh pH awal larutan gel terhadap kristal hasil sintesis. Hasil sintesis menunjukkan bahwa semakin tinggi pH larutan awal pembentukan gel, semakin besar massa kristal yang diperoleh. pH optimum larutan awal pembentukan gel adalah 5,5 dan efisiensi massa kristal hasil sintesis sebesar 29,78%.Kata kunci: gel metasilikat, kristal tunggal emas, p