Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya
Not a member yet
214 research outputs found
Sort by
Penentuan Waktu Fermentasi Optimum Produksi Xilanase dari Trichoderma viride Menggunakan Substrat Kulit Kedelai dan Kulit Kacang Hijau Melalui Fermentasi Semi Padat
Xilanase merupakan enzim ekstraseluler yang dapat menghidrolisis xilan menjadi xilosa dan xilo-oligosakarida. Xilanase dapat dihasilkan oleh mikroba berupa kapang atau bakteri melalui proses fermentasi. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui waktu fermentasi dan pengaruh dua jenis substrat (substrat kulit kedelai dan kulit kacang hijau) pada produksi xilanase dari Trichoderma viride dengan metode fermentasi semi padat. Ekstrak kasar yang diperoleh dari variasi waktu fermentasi (0, 12, 24, 36, 48, 60, 72, 84, 96) jam diukur kadar protein dan aktivitas secara spektrofotometri dengan reagen Biuret dan gula pereduksi dengan reagen DNS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu fermentasi optimum diperoleh pada 60 jam dengan nilai aktivitas enzim menggunakan substrat kulit Kedelai sebesar 18,71 U dan substrat kulit kacang hijau sebesar 15,57 U. Kadar protein enzim pada substrat kulit kedelai sebesar 15,08 mg/mL dan substrat kulit kacang hijau sebesar 12,81 mg/mL
MODIFIKASI PATI UMBI KETELA POHON (Manihot esculenta) DENGAN CARA ESTERIFIKASI MENGGUNAKAN ASAM ASETAT DENGAN BANTUAN ULTRASONIKASI
Pati ketela pohon (Manihot esculenta) merupakan polisakarida yang tersusun atas amilosa dan amilopektin. Paper ini melaporkan hasil isolasi pati dari ketela pohon lokal asal Malang, sekaligus modifikasinya dengan cara esterifikasi menggunakan asam asetat yang dibantu dengan ultrasonikasi. Analisis produk dilakukan dengan metode spektrofotometri infra merah. Hasil isolasi pati berkisar antara 10,9-25,3% dengan kadar air antara 5,60-12,8%. Sedangkan pati yang termodifikasi adalah ester pati asetat. Produk ester pati asetat yang diperoleh memiliki nilai DS (derajad substitusi) sebesar 0,549. Â Kata kunci: ketela pohon, pati, reaksi esterifikasi, nilai D
PENGARUH PERBANDINGAN MASSA Ca:P TERHADAP SINTESIS HIDROKSIAPATIT TULANG SAPI DENGAN METODE KERING
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan massa Ca:P dan temperatur kalsinasi terhadap sintesis biokeramik hidroksiapatit, Ca10(PO4)6(OH)2, dari tulang sapi. Kalsium dan fosfor dalam tulang sapi digunakan sebagai unsur utama pembentuk hidroksiapatit. Sintesis hidroksiapatit dilakukan melalui metode kering, yaitu reaksi antara padatan dengan padatan. Dalam penelitian ini digunakan bahan baku tulang sapi yang telah diabukan dan (NH4)2PO4 sebagai sumber fosfor. Abu tulang sapi dan (NH4)2PO4 dengan variasi perbandingan massa Ca:P sebesar 1:0,065; 1:0,038; dan 1:0,032 diaduk menggunakan magnetic stirrer selama tiga jam. Campuran tersebut dipanaskan dalam furnace selama dua jam pada temperatur 1000 oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hidroksiapatit yang optimal diperoleh pada perbandingan massa Ca:P sebesar 1:0,065. Hasil karakterisasi dengan XRF menunjukkan bahwa kadar fosfor dalam hidroksiapatit meningkat dari kadar fosfor dalam abu tulang sapi sebesar 0,31%, sedangkan kadar kalsium dalam hidroksiapatit menurun dari kadar kalsium dalam abu tulang sapi sebesar 3,6%. Karakterisasi menggunakan FTIR menunjukkan pita serapan gugus PO43-, gugus OH- bending, dan karbonat. Kata kunci: biomaterial, hidroksiapatit, metode kering, tulang sapi
PENGARUH KONSENTRASI CETYLTRIMETHYLAMMONIUM BENZOAT DAN pH LARUTAN TERHADAP KINERJA ELEKTRODA SELEKTIF ION BENZOAT BERBASIS SCREEN PRINTED CARBON ELECTRODE
Benzoat merupakan bahan pengawet makanan dan minuman yang diperbolehkan pemerintah Indonesia. Tingkat maksimum benzoat dalam makanan dan minuman adalah 600-1000 ppm. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan elektroda ion selektif benzoat (ESI-benzoat). Desain dari ESI-benzoat berbasis pada Screen printed carbon electrode(SPCE). SPCE dilapisi oleh cetyltrimethylammonium benzoat (CTBz) di dalam kitosan. Oleh karena itu, penelitian ini akan dipelajari pengaruh konsentrasi CTABz dan pH terhadap kinerja ESI-benzoat. Kinerja ESI-benzoat ditunjukkan oleh bilangan Nernst , kisaran konsentrasi, batas deteksi, dan respon waktu. Pada penelitian ini, ESI-benzoat dibuat dari CTABz dalam kitosan adalah 0,5 %; 1 %; 1,5 %; 2 %; dan 2,5 % (b/v) dan pH yang dipelajari dari 4 hingga 9. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi CTABz dan pH berpengaruh terhadap kinerja ESI-benzoat. Konsentrasi CTABz dan pH yang optimum adalah 0,5% dan pH 8. ESI-benzoat mempunyai bilangan Nersnt sebesar 43,2 ± 0,27 mV / dekade pada kisaran konsentrasi benzoat 1x10-4 sampai 1x10-1 M (12,11 ppm sampai 12,110 ppm). Batas deteksi dari ESI-benzoat adalah 1,44 x10-4 M dan waktu respon 60 detik. Batas deteksi lebih rendah daripada tingkat maksimum benzoat dalam makanan dan minuman.
PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KESTABILAN AKTIVITAS XILANASE DIAMOBILISASI DALAM PASIR LAUT
Xilanase merupakan jenis enzim hidrolisis spesifik yang penggunaannya sangat luas dalam berbagai industri terutama dalam biokonversi bahan hemiselulosa. Dalam skala industri, xilanase diproduksi dalam jumlah yang besar (scale up) sehingga enzim harus disimpan dalam waktu dan kondisi tertentu untuk menjaga kestabilannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama penyimpanan terhadap kestabilan enzim xilanase yang diamobilisasi menggunakan matriks pasir laut. Enzim xilanase diisolasi dari Trichoderma viride yang dimurnikan menggunakan amonium sulfat dengan kejenuhan 40-80% dan dialisis. Pada penelitian ini dilakukan variasi suhu (30, 40, 50, 60, 70) °C dan variasi lama penyimpanan (0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7) hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa xilanase amobil paling stabil pada suhu 60 °C dan penyimpanan 6 hari dengan aktivitas enzim sisa sebesar 50,74%. Semakin lama waktu penyimpanan maka aktivitas xilanase amobil semakin menurun. Xilanase amobil yang disimpan pada suhu 30, 40, 50 dan 70 °C stabil sampai 4 hari dengan aktivitas enzim sisa berturut-turut 54,88; 59,17; 61,98 dan 52,21%. Kata kunci : Amobilisasi, kestabilan, lama penyimpanan, pasir laut, suh
OPTIMASI AMOBILISASI XILANASE DARI Trichoderma viride MENGGUNAKAN MATRIKS CA-ALGINAT-KITOSAN
ABSTRAK Xilanase bebas tidak dapat digunakan digunakan lebih dari satu kali pemakaian sehingga perlu dilakukan modifikasi enzim dengan metode amobilisasi. Xilanase yang diperoleh dari Trichoderma viride diisolasi dengan sentrifuse dingin pada temperatur 4oC. Xilanase diamobilisasi menggunakan metode penjebakan dalam Ca-alginat-kitosan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi alginat optimum dan konsentrasi xilanase optimum dengan cara menentukan kadar protein dan aktivitas optimum xilanase pada variasi konsentrasi alginat dan xilanase, serta menentukan efisiensi pemakaian ulang xilanase amobil. Pada penelitian ini dilakukan variasi konsntrasi alginat (1,5; 2; 2,5; 3; 3,5) % dan variasi xilanase (0,157; 0,209; 0,261; 0,314;0,366) mg/mL. Kadar protein xilanase diuji dengan metode spektrofotometri menggunakan reagen biuret dan aktivitas gula pereduksi dengan reagen DNS. Kondisi optimum amobilisasi xilanase adalah pada konsentrasi alginat 3% dan konsntrasi xilanase 0,314 mg/mL dengan jumlah enzim yang terjebak 0,849 mg dan aktivitas sebesar 17,008 unit (P < 0,01). Efisiensi pemakaian ulang xilanase amobil yang diamobilkan menggunakan matriks Ca-alginat-kitosan adalah hingga lima kali pemakaian ulang dengan efisiensi sebesar 51,28%.  Kata kunci : Xilanase, Trichoderma viride, amobilisasi, Ca-alginat-kitosan, efisiensi  Â
OPTIMASI AMOBILISASI XILANASE DARI TRICHODERMA VIRIDE DENGAN MATRIKS ZEOLIT
Amobilisasi xilanase dengan matriks zeolit dilakukan melalui metode adsorpsi fisik. Amobilisasi dilakukan untuk meningkatkan stabilitas enzim xilanase, karena xilanase bebas tidak stabil terhadap lingkungan. Tujuan dari penelitian ini yaitu menentukan waktu pengocokan dan konsentrasi xilanase optimum. Pada penelitian ini enzim xilanase diisolasi dari Trichoderma viride, enzim yang didapat kemudian dimurnikan dengan metode pengendapan menggunakan amonium sulfat dengan tingkat kejenuhan 40-80%. Untuk menentukan waktu pengocokkan optimum amobilisasi enzim dilakukan pada 0,1 g zeolit dalam temperatur kamar dan kecepatan pengocokkan 100 rpm dengan variasi waktu pengocokan (1, 2, 3, 4, dan 5) jam, sedangkan untuk menentukan konsentrasi enzim xilanase optimum dilakukan pada 0,1 g zeolit dalam temperatur kamar dan kecepatan pengocokkan 100 rpm dengan variasi konsentrasi xilanase(2,244; 2,618; 2,992; 3,366: 3,740) mg/mL. Hasil penelitian menunjukan waktu pengocokan optimum pada 3 jam dan konsentrasi xilanase optimum terjadi pada konsentrasi 3,366 mg/mL dengan aktivitas 25,74 unit.Kata kunci: Xilanase, Trichoderma viride, Amobilisasi, Zeoli
PENGARUH REAKSI DEASETILASI DENGAN BANTUAN ULTRASONIKASI TERHADAP KITIN HASIL ISOLASI DARI CANGKANG Portunus pelagicus ASAL PROBOLINGGO
ABSTRAK Kitosan merupakan polisakarida dari monomer glukosamin. Potensi aplikasinya untuk reaksi organik dan industri farmasi sangat luas. Paper ini melaporkan hasil studi optimasi isolasi kitosan dari cangkang rajungan lokal (Portunus pelagicus) asal Probolinggo. Optimalisasi dikerjakan dengan meningkatkan lama reaksi deasetilasi kitin dan menggunakan konsentrasi basa NaOH 70%. Proses ini dikerjakan dengan bantuan ultrasonikasi (Ultrasonication-Assisted). Kitosan hasil isolasi diperoleh berupa serbuk berwarna putih dengan kadar air rata-rata 1,0%. Derajat deasetilasi kitosan tertinggi diperoleh sebesar 97,60% ketika reaksi deasetilasi dilangsungkan selama 8 jam. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan hasil yang dilaporkan dalam penelitian sebelumnya yang mencapai sekitar 60%. Â Kata kunci: derajat deasetilasi, kitin, kitosan, Portunus pelagicus, rajunga
UPAYA PENUMBUHAN KRISTAL TUNGGAL KROMIUM(III) ASETILASETON DENGAN METODE GEL METASILIKAT
Metoda gel merupakan salah satu metoda penumbuhan kristal tunggal garam sederhana maupun garam kompleks yang telah banyak dikembangkan. Upaya penumbuhan kristal tunggal kromium(III)-asetilaseton dalam gel metasilikat telah dilakukan dengan metoda tabung gelas tunggal dengan variasi pH gel metasilikat 5,0; 5,5 dan 6,0 dan rasio mol kromium(III):asetiaseton adalah 1:3. Sintesis dilakukan dengan menambahkan larutan supernatan CrCl3 dengan variasi konsentrasi 0,5 dan 0,75M ke atas gel metasilikat yang sebelumnya telah ditambahkan dengan asetilaseton. Reaksi dilakukan pada suhu kamar selama 28 hari. Karakterisasi tahap awal dilakukan dengan metoda spektrofotometri inframerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 28 haritidak terdapat kristal tunggal yang tumbuh dalam gel metasilikat pada setiap variasi pH dan konsentrasi supernatan. Diperkirakan dengan penambahan waktu tumbuh yang lebih lama, kristal yang diinginkan akan tumbuh di dalam gel. Kata kunci: kristal tunggal, gel metasilikat, kromium(III), asetilaseto
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI ELEKTRODA SELEKTIF ION SULFAT TIPE KAWAT TERLAPIS BERBASIS PIROPILIT
Telah dibuat dan dikarakterisasi Elektroda Selektif Ion (ESI) sulfat tipe kawat terlapis berbasis piropilit. Piropilit merupakan salah satu bahan anorganik yang belum banyak dikembangkan dan memiliki sifat sebagai penukar ion sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan aktif membran. Variabel penelitian ini meliputi variasi komposisi membran penyusun ESI sulfat dan waktu perendaman membran agar diperoleh karakteristik dasar ESI sulfat yang Nernstian secara potensiometri. Karakterisasi dasar ESI sulfat yang dipelajari dalam penelitian ini meliputi Faktor Nernst, kisaran konsentrasi linier, batas deteksi, waktu respon serta usia pemakaian. Hasil penelitian menunjukkan komposisi optimum membran dengan perbandingan 49% : 3% : 16% : 32% (b/b) antara piropilit : karbon aktif : polivinilklorida (PVC) : dioktilftalat (DOP) dalam pelarut tetrahidrofuran (THF) dengan waktu perendaman optimum membran selama 30 menit. Kisaran konsentrasi sulfat yang memberikan respon Nernstian terbaik 10-5–10-1 M atau 0,96-9600 ppm sulfat dengan kepekaan rata-rata sebesar 29,23 mV/dekade konsentrasi. Batas deteksi untuk ESI sulfat ini adalah 1,15x10-6 M atau setara dengan 0,1104 ppm sulfat dengan waktu respon 80 detik dan usia pemakaian selama 51 hari. Kata kunci : Faktor Nernst, piropilit, potensiometri, sulfa