SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i
Not a member yet
745 research outputs found
Sort by
Virus Corona Dampak dari Makanan yang Tidak Halal
AbstractAlquran and Hadith have arranged halal and haram food. Obedience not to consume illicit food is believed to contain wisdom and goodness for Muslims. This research will discuss the impact of food that is not halal and have a bad influence on human health and society in general. Referring to the main sources of Islamic law, namely the Koran and Hadith regarding the urgency of halal, haram, and syubhat, and the purpose of prohibiting food. Based on the latest research on forbidden foods found many causes that are indeed unfit for consumption and can endanger human health such as the presence of harmful bacteria in the carcass, dangerous compounds in the blood, parasitic diseases in pigs, organ damage due to consumption of khamr and also the danger of eating prohibited animals by God such as eating bats, snakes, rats impact on the occurrence of a disease outbreak that spread very quickly precisely at the end of 2019 namely COVID-19 or known as the corona virus outbreak. The virus that first spread in the Wuhan region in China has become a global problem for all corners of the world.Keywords: Covid-19, Haram Halal, Food AbstrakAlquran dan Hadis telah mengatur makanan halal dan haram. Mentaati larangan untuk tidak mengkonsumsi makanan yang haram diyakini mengandung hikmah dan kebaikan bagi umat Islam. Peneliti kali ini akan membahas dampak makanan yang tidak halal dan memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan manusia secara pribadi dan masyarakat secara umum. Merujuk pada sumber utama hukum Islam yakni Alquran dan Hadis mengenai urgensi hukum halal, haram, dan syubhat, serta tujuan diharamkannya makanan. Berdasarkan penelitian terkini pada makanan yang diharamkan ditemukan banyak sebab yang memang tidak layak untuk dikonsumsi dan dapat membahayakan kesehatan manusia seperti adanya bakteri berbahaya pada bangkai, senyawa berbahaya pada darah, penyakit parasit pada babi, kerusakan organ akibat konsumsi khamr dan serta bahaya memakan hewan yang dilarang oleh Allah seperti memakan kelelawar, ular, tikus berimbas pada terjadinya wabah penyakit yang merebak dengan sangat cepat tepatnya akhir tahun 2019 yaitu COVID-19 atau yang dikenal sebagai wabah virus corona. Virus yang pertama kali mewabah dari wilayah Wuhan di China sehingga menjadi permasalahan global bagi seluruh penjuru dunia.Kata kunci: Covid-19, Halal Haram, Makana
Dari Jabariyah, ke Qadariyah, hingga Islam Progresif: Respons Muslim atas Wabah Corona di Indonesia
Abstract:WHO, The United Nation Health Agency, has declared COVID-19 as a global pandemic. The Indonesian government has issued some measures and policies to deal with this outbreak. Various elements of civil society have also been moving to deal with this pandemic. As the largest Muslim country, a question arises as to what extent Islam plays a role in tackling this corona outbreak. By analyzing the various responses of the Muslim community, based on primary and secondary data, this paper argues that Indonesian Muslims are polarized in responding to the COVID-19 pandemic. The spectrum extends from the \u27fear zone\u27 which considers this outbreak as having prevented them from worshiping God, to the \u27learning zone\u27, which is the majority, by accepting this outbreak as a disaster and attributing its cause to human actions damaging nature, to the \u27growth zone\u27 which takes active role in dealing with the outbreak. This diversity is influenced by the different theological believes spanning from the Jabbariyah to Qadariyah to Progressive Islam. The influence of Jabbariyah\u27s theology leads to the attitudes of fatalism, while the influence of the Qadariyah theology leads to the attitude of accepting the plague as a disaster and attributing this pandemic to human’s excessive exploitation of nature. The influence of progressive Islamic theology leads to the flexibility of Islamic interpretations rooted in the concept of Maqasid Sharia to prioritize harm prevention over seeking benefits and Islamic teaching of amar ma\u27ruf nahyi munkar as a religion playing active role in social transformation.Keywords: Indonesia, Islam, Muslims, Pandemic, COVID-19, Jabbariyah, Qadariyah, Progressive Islam. Abstrak:WHO, lembaga kesehatan PBB, telah menetapkan COVID-19 sebagai pandemi global. Pemerintah Indonesia mengambil serangkaian kebijakan untuk menanggulangi wabah ini. Berbagai elemen masyarakat sipil bergerak untuk membantu menanggulangi pandemi ini. Sebagai negara Muslim terbesar, timbul pertanyaan sejauh mana Islam memainkan peran dalam penanggulangan wabah corona ini. Dengan menganalisa berbagai respon komunitas Muslim terhadap wabah ini berdasarkan data primer dan sekunder, paper ini berargumen bahwa Muslim Indonesia terpolarisasi dalam merespon pandemi COVID-19 ini. Spektrum response ini terbentang dari ‘fear zone’ yang menganggap wabah ini telah menghalangi mereka dari beribadah kepada Allah, kepada ‘learning zone’ yang merupakan mayoritas dengan menerima wabah ini sebagai musibah dan teguran atas perbuatan manusia merusak alam, hingga ‘growth zone’ yang mengambil peran aktif untuk menangani wabah. Keragaman ini dilatari oleh perbedaan pengaruh teologis yang dianutnya dari spektrum Jabbariyah ke Qadariyah hingga Islam Progresif. Pengaruh teologi Jabbariyah membawa kepada sikap fatalisme, sedangkan pengaruh teologi Qadariyah membawa kepada sikap menerima wabah sebagai musibah dan mengatributkan pandemi kepada kesalahan manusia mengelola alam. Pengaruh teologi Islam progresif membawa pada kelenturan penafsiran Islam yang berakar pada konsep Maqasid Syariah untuk mendahulukan pencegahan madharat ketimbang pencarian maslahat dan ajaran amar ma’ruf nahyi munkar Islam sebagai agama yang aktif melakukan transformasi sosial.Kata Kunci: Indonesia, Islam, Muslim, Pandemi, COVID-19, Jabbariyah, Qadariyah, Islam Progresi
Peran Keluarga Dalam Mencegah Coronavirus Disease 2019
AbstractThe Covid-19 outbreak that occurred in China has become a new pandemic because it has spread to various countries, including Indonesia. Therefore, the government continues to make efforts to break the chain of the Covid-19 outbreak. By focusing on the role of the family in preventing the spread of Covid-19. This article will present a different discussion and will provide an explanation of the roles and functions of the family. This study uses qualitative methods with reference to the literature study approach. The data obtained in this study are based on searching data through documents. The results show that by carrying out their roles and functions optimally and well, families can prevent their members from spreading the Covid-19 outbreak. Therefore, the role of the family is very important and can be at the forefront of breaking the chain of the spread of the epidemic.Keywords: Covid-19, Family, Role, Function AbstrakWabah Covid-19 yang terjadi di Cina telah menjadi pandemi baru karena telah menyebar keberbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Karenanya, pemerintah terus berupaya guna memutus mata rantai dari wabah Covid-19. Dengan memfokuskan pembahasan pada peran keluarga dalam mencegah persebaran Covid-19, artikel ini akan menampilkan diskusi yang berbeda dan akan memberikan penjelasan mengenai peran dan fungsi keluarga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengacu pada pendekatan studi pustaka. Data yang diperoleh dalam penelitian ini didasarkan pada pencarian data melalui dokumen-dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menjalankan peran dan fungsinya secara optimal dan baik, maka keluarga dapat mencegah para anggotanya dari persebaran wabah Covid-19. Oleh karenanya, peran keluarga menjadi sangat penting dan dapat menjadi garda terdepan untuk memutus mata rantai dari persebaran wabah tersebut.Kata Kunci: Covid-19, Keluarga, Peran, Fungsi
Pandangan Syaykh Al-Zaytun A.S. Panji Gumilang Terhadap Pancasila Perspektif Fiqh Siyasah
AbstractPancasila as the ideology of the Indonesian people should become a spirit. In fact, he only became a mere jargon. The phenomena that occur are evidence, Bisexual, and Transgender, Gay, Lesbians (LGBT), corruption is rampant and has become a culture. God is only present in houses of worship but not present in daily activities. In other words, the concept of the precepts of Godhead fails to become the spirit of the nation. Automatic, the other precepts cannot be applied correctly. Shaykh Al-Zaytun (Grand Chancellor) Dr. (HC. MSU) U.S. Panji Gumilang has the view that Pancasila is a divine teaching. Not just jargon, but Pancasila can be applied well at Ma\u27had Az-Zaytun. Researchers tried to explore Shaykh\u27s Al-Zaytun views on the Pancasila ideology through the book Al-Zaytun Sources of Inspiration (ASI). Then the view is associated with Siyasah Fiqh. After investigation, there is a relationship between Pancasila and Siyasah Dauliyah (international relations). This proves that the values contained in Pancasila are universal.Keywords: Pancasila, Ideology, Siyasah Dauliyah AbstrakPancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia seharusnya menjadi ruh.. Kenyataannya, ia hanya menjadi jargon belaka. Fenomena-fenomena yang terjadi merupakan bukti. Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT), korupsi yang merajalela dan menjadi budaya. Tuhan hanya hadir di rumah ibadah, namun tidak hadir dalam aktivitas keseharian. Dengan kata lain, konsep sila Ketuhanan Yang Maha Esa gagal menjadi ruh bangsa. Otomatis, sila yang lain tidak mampu diaplikasikan dengan benar. Syaykh Al-Zaytun (Grand Chancellor) Dr. (HC. MSU) A.S. Panji Gumilang memiliki pandangan bahwa Pancasila merupakan ajaran ilahi. Bukan hanya sekedar jargon, namun Pancasila mampu diaplikasikan dengan baik di Ma’had Al-Zaytun. Peneliti mencoba menggali pandangan Syaykh Al-Zaytun terhadap ideologi Pancasila melalui buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi (ASI). Kemudian pandangan tersebut dikaitkan dengan Fiqih Siyasah. Setelah diteliti, ada relasi antara Pancasila dengan Siyasah Dauliyah (hubungan internasional). Hal ini membuktikan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila bersifat universal.Kata Kunci: Pancasila, Ideologi, Siyasah Dauliya
The Challenge of Islamic Education in 21st Century
AbstractIslam is the way of life. And the Islamic education system is called a holistic approach to learning as it was in the early days of Islamic civilization. Islamic education, therefore, is considered and placed in a very noble position as it emphasizes the importance of the acquisition and dissemination of knowledge over other human activities. The background of this article sets out to assess the Challenges of Islamic Education in the 21st Century by bringing up some brief literature and analysis. In this article there are several topics related to the nature of Islamic education in Islamic education, the reality of Islamic education, Reform of Islamic education in the 21st century in the sectoral sector, curriculum, strengthening human resources, the Islamization of science by embodying Islamic values in science as part of education, the development and strengthening of Soft skills and management as well as entrepreneurial spirit is an inevitable need. But all of that will be able to work well and even become a force for the revival of the Islamic ummah if moral learning and gratitude for everything become the foundation for all reforms carried out in Islamic Education in the 21st Century and beyond.Keywords: Islamic Education, 21st Century, Challenge Abstrak Islam adalah cara hidup. Dan sistem pendidikan Islam disebut dengan pendekatan pembelajaran holistik seperti pada masa-masa awal peradaban Islam. Pendidikan Islam, oleh karena itu, dianggap dan ditempatkan pada posisi yang sangat mulia karena menekankan pentingnya perolehan dan penyebaran pengetahuan atas aktivitas manusia lainnya. Artikel ini dilatarbelakangi untuk mengkaji Tantangan Pendidikan Islam di Abad 21 dengan mengemukakan beberapa literatur dan analisis singkat. Pada artikel ini terdapat beberapa topik yang berkaitan dengan hakikat pendidikan Islam dalam pendidikan Islam, Realitas pendidikan Islam, Reformasi pendidikan Islam abad 21 pada sektor sektoral, kurikulum, penguatan sumber daya manusia, Islamisasi ilmu pengetahuan dengan mewujudkan Islam. nilai-nilai dalam ilmu pengetahuan sebagai bagian dari pendidikan, pengembangan dan penguatan Soft skill dan manajemen serta jiwa kewirausahaan merupakan kebutuhan yang tak terelakkan. Namun semua itu akan mampu berjalan dengan baik bahkan menjadi kekuatan bagi kebangkitan umat Islam jika pembelajaran akhlak dan rasa syukur atas segala hal menjadi landasan bagi semua reformasi yang dilakukan dalam Pendidikan Islam di abad 21 dan seterusnya.Kata Kunci: Pendidikan Islam, Abad 21, Tantanga
Dispensasi Nikah Dalam Perspektif Hukum Islam, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam
AbstractMarriage dispensation is a legal solution because most of the perpetrators of marriage dispensation are those who do not yet have formal legality to get married, so they then take the legal initiative so that marriages can be recognized. This study aims to determine the perspective of Islamic law, Marriage Law and Compilation of Islamic Law regarding marriage dispensation. The method used is qualitative with primary data sources from the Marriage Law, the Book of Fiqh and the Compilation of Islamic Law while secondary data are books, journals, magazines related to marriage dispensation. The results of this study found that Islamic law does not specifically regulate marriage dispensation because the majority of scholars only mention balig as a condition for marrying a person and do not specify a minimum age of marriage, whereas Law Number 1 of 1974 concerning Marriage and Compilation of Islamic Law strictly regulates underage marriage , i.e. must go through a court hearing mechanism to obtain a marriage dispensation permit.Keywords: Marriage Dispensation, Compilation of Islamic Law AbstrakDispensasi Nikah sebagai solusi hukum karena para pelaku dispensasi nikah kebanyakan mereka yang belum memiliki legalitas formal untuk menikah, sehingga kemudian mengambil ikhtiar hukum agar pernikahan yang dilakukan dapat diakui. Penelitian ini bertujuan mengetahui perspektif hukum Islam, Undang-undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam tentang dispensasi nikah. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan sumber data primer dari Undang-Undang Perkawinan, Kitab Fiqh dan Kompilasi Hukum Islam sedangkan data sekunder adalah buku-buku, jurnal, majalah yang terkait dengan dispensasi nikah. Hasil penelitian ini menemukan bahwa Hukum Islam tidak mengatur khusus dispensasi nikah karena mayoritas ulama hanya menyebutkan balig sebagai syarat menikah seseorang dan tidak menentukan minimal usia perkawinan, sedangkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam mengatur ketat tentang perkawinan di bawah umur, yaitu harus melalui mekanisme sidang pengadilan untuk mendapatkan izin dispensasi perkawinanKata Kunci: Dispensasi Nikah, Kompilasi Hukum Isla
Penggunaan Masker Penutup Wajah Saat Salat Sebagai Langkah Pencegahan Wabah Coronavirus Covid-19
AbstractThis study discusses the spread of the Corona virus throughout the world, intended in Indonesia to find solutions, especially in carrying out the rituals of prayer in Islam. This study uses a descriptive qualitative method by using data related to the use of face or mouth coverings (masks) when carrying out the prayers that are affirmed as understood from the prohibition of the Prophet. The results of this study indicate that the law of origin using the mouth cover (mask) when prayer is makruh tanzih or makruh which does not cancel the prayer. However, in certain conditions such as the existence of intent, then using a legal mask may. It could even be increased to the law recommended if a person who will attend congregational prayers in unhealthy conditions such as fever, cough or flu. This is expected to prevent the spread of the Corona virus in the community.Keywords: Masks, Face masks, Corona, Salat AbstrakPenelitian ini membahas tentang merebaknya virus Corona di seluruh dunia termaksud di Indonesia untuk menemukan solusi khususnya dalam melaksanakan ritual ibadah salat dalam Islam. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan data yang berhubungan dengan penggunaan penutup wajah atau mulut (masker) saat melaksanakan ibadah salat yang dimakruhkan sebagaimana difahami dari pelarangan Rasulullah saw. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa hukum asal menggunakan penutup mulut (masker) ketika salat adalah makruh tanzih yaitu makruh yang tidak membatalkan salat. Akan tetapi pada kondisi tertentu seperti adanya hajat, maka menggunakan masker hukumnya boleh. Bahkan bisa meningkat kepada hukum dianjurkan jika seorang yang akan menghadiri salat jamaah dalam kondisi kurang sehat seperti demam, batuk atau flu. Hal ini diharapkan dapat mencegah tersebarnya virus Corona dalam masyarakat.Kata Kunci: Masker, Penutup wajah, Corona, Sala
Accounts Payable (Qardh) in Islamic Law
AbstractThis study discusses how accounts receivable (qardh) are in Islamic law. This research is a type of library research that focuses on qualitative data management with data analysis methods using the description-analysis method. The results of this study are that qardh (accounts receivable) is an act or activity that has the purpose of helping others who are in need of material assistance, and is highly recommended because it provides wisdom and benefits for the lender and the recipient of the debt. Qardh is permissible as long as there are no elements which are detrimental to either party. While the law exceeds the payment of as much debt, if the excess is indeed the will of the debtor and not the previous agreement, then the excess may be for those who repay it, and be good for those who pay the debt. As for the additions that are desired by those who are in debt or have become agreements during the contract, this must not be prohibited in Islam.Keywords: Qardh, Islamic Law. AbstrakPenelitian ini membahas bagaimana piutang (qardh) dalam hukum Islam. Penelitian ini adalah jenis penelitian kepustakaan yang berfokus pada manajemen data kualitatif dengan metode analisis data menggunakan metode deskripsi-analisis. Hasil penelitian ini adalah bahwa qardh (piutang dagang) adalah tindakan atau kegiatan yang memiliki tujuan membantu orang lain yang membutuhkan bantuan material, dan sangat dianjurkan karena memberikan kebijaksanaan dan manfaat bagi pemberi pinjaman dan penerima hutang. Qardh diperbolehkan selama tidak ada unsur yang merugikan salah satu pihak. Sementara hukum melebihi pembayaran hutang sebanyak-banyaknya, jika kelebihannya memang merupakan kehendak debitur dan bukan perjanjian sebelumnya, maka kelebihannya mungkin bagi mereka yang membayarnya, dan baik bagi mereka yang membayar hutang. Adapun tambahan yang diinginkan oleh mereka yang berhutang atau telah menjadi perjanjian selama kontrak, ini tidak boleh dilarang dalam Islam.Kata kunci: Qardh, Hukum Islam
Wabah Corona Virus Disease Covid 19 Dalam Pandangan Islam
Abstract.Corona Virus Disease or known as Corona virus or covid-19 which was first detected appeared in China precisely in Wuhan City in late 2019. This virus then suddenly became a terrible terror for the world community, especially after claiming thousands of human lives in a short time relatively short. Nearly 200 countries in the world are infected with the corona virus, including Indonesia. Various efforts in the framework of prevention, treatment, and so on have been carried out in preventing the spread of the corona virus, so that lockdown and social distancing in big cities have been carried out to break the chain of the spread of the corona virus. In Islam the corona virus outbreak is a test for a people to always draw closer to Allah. Islam also teaches the term lockdown and social distancing in order to prevent transmission of disease, some scholars say the term is called Tho\u27un which is an outbreak that results in sick and at risk of communicable populations.Keywords: Covid-19, Islamic view Abstrak.Wabah Corona Virus Disease atau lebih dikenal dengan nama virus Corona atau covid-19 yang pertama kali terdeteksi muncul di Cina tepatnya di Kota Wuhan Tiongkok pada akhir tahun 2019. Virus ini kemudian mendadak menjadi teror mengerikan bagi masyarakat dunia, terutama setelah merenggut ribuan nyawa manusia dalam waktu yang relatif singkat. Hampir kurang lebih 200 Negara di Dunia terjangkit virus corona termasuk Indonesia. Berbagai upaya dalam rangka pencegahan, pengobatan, dan sebagainya pun telah dilakukan dalam mencegah penyebaran virus corona, hingga lockdown dan social distancing di kota-kota besar sudah dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus korona. Dalam Islam wabah virus korona ini merupakan sebuah ujian bagi suatu kaum agar selalu mendekatkan diri kepada Allah. Islam juga mengajarkan istilah lockdown dan social distancing dalam rangka pencegahan penularan penyakit, sebagian para ulama menyebutkan Istilah penyakit ini disebut dengan Tho’un yaitu wabah yang mengakibatkan penduduk sakit dan berisiko menular.Kata Kunci : Covid-19, Pandangan Isla
Pandangan Keagamaan Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bogor Terkait Kewajiban Menjaga Diri, Pelaksanaan Shalat Jumat dan Pengurusan Mayit Dalam Situasi Darurat Penyebaran Covid-19
AbstractThe Covid-19 corona virus has spread to the Bogor regency, which is the buffer zone of the capital city of Jakarta. Therefore, the Indonesian Ulema Council of Bogor Regency needs to respond to this emergency situation by providing insights related to the attitude of worship of Muslims, both the obligation to Friday prayers, praying in congregation in the mosque, as well as handling the deadly infected with the corona covid-19 virus. The method of writing this article uses a literary approach, namely from the books of Turats, in addition to referring to the propositions of the Koran and al-Hadith. With the religious views of the Bogor Regency MUI it is expected to be able to provide an overview for the people of Bogor in particular and to the Indonesian public in general in dealing with the Cobid-19 pandemic coronavirus.Keywords: Outlook, Indonesian Ulema Council, Bogor Regency AbstrakPenyebaran virus corona Covid-19 telah menyebar ke wilayah Kabupaten Bogor, yang merupakan daerah penyanggah Ibukota Jakarta. Oleh karena, Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bogor perlu menyikapi kondisi darurat ini dengan memberikan pandangan terkait sikap peribadatan umat Islam, baik itu kewajiban shalat jumat, shalat berjamaah di masjid, maupun penanganan mayit terinfeksi virus corona covid-19. Metode penulisan artikel ini dengan menggunakan pendekatan literatur, yaitu dari kitab-kitab turats, selain merujuk kepada dalil al-Quran dan al-Hadits. Dengan adanya pandangan keagamaan dari MUI Kabupaten Bogor ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi masyarakat Bogor khususnya dan pada masyarakat Indonesia secara umum dala menghadapi pandemic coronavirus Cobid-19 ini.Kata Kunci: Pandangan, Majelis Ulama Indonesia, Kabupaten Bogo