SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i
Not a member yet
745 research outputs found
Sort by
Pengembangan Nilai-Nilai Syariah Dalam Merespon Dinamika Masyarakat dan Kemajuan Iptek
Abstract:Development of sharia values is needed in responding to the dynamics of society as a result of the advancement of science and technology. Especially when facing contemporary problems that arise, then the established Islamic law must be able to follow the development of sharia values, both with regard to the implementation of worship, as well as the problem of muamalat in the broadest sense with the advancement of medical science. For example, the existence of artificial insemination, cloning, organ transplants, and so forth. All of that requires resolution and legal determination, including in emergency matters. The research method uses the normative juridical method based on ijtihad based on the Qur\u27an and Assunnah, using secondary data obtained through literature study and analyzed qualitatively. The results and discussion of this study are that the resolution of problems in an emergency situation that there is no other way that can be taken is allowed to do things that are forbidden.Keywords: Sharia Values, Community Dynamics, Science and Technology Progress Abstrak:Pengembangan nilai-nilai syariah sangat diperlukan dalam merespon dinamika masyarakat akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Terutama pada saat menghadapi permasalahan-permasalahan kontemporer yang muncul,maka hukum Islam yang ditetapkan pun harus dapat mengikuti perkembangan nilai-nilai syariah, baik berkenaan dengan pelaksanaan ibadat, maupun masalah muamalat dalam makna yang luas dengan kemajuan ilmu kedokteran.Misalnya bayi tabung, inseminasi buatan, kloning, transplantasi organ tubuh, dan lain sebagainya. Semua itu memerlukan penyelesaian dan penentuan hukumnya, termasuk dalam hal-hal darurat.Metode penelitian menggunakan metode yuridis normatifberdasarkan ijtihad yang berlandaskan pada Alquran dan Assunnah, dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh melalui studi pustaka dan dianalisis secara kualitatif. Hasil dan diskusi dari penelitian ini adalah bahwa penyelesaian masalah dalam kondisi darurat yang tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh maka dibolehkan melakukan hal-hal yang terlarang.Kata Kunci: Nilai-Nilai Syariah, Dinamika Masyarakat, Kemajuan Ipte
Kebijakan Pemberlakuan Lock Down Sebagai Antisipasi Penyebaran Corona Virus Covid-19
Abstract2020 is a worrying year for all countries, including Indonesia. This is due to the emergence of the Corona virus outbreak, which originated in Wuhan City of China, and spread throughout the world. Initially the government did not follow the method used by several other countries related to information provided about the corona covid-19 virus, namely by conducting a quick reaction of prevention socialization. The reason is so that the Indonesian people are not worried about issues that are worrying, other than to minimize the existence of Hoax news from a handful of irresponsible people. Finally the covid-19 outbreak also became a concern for the community, because many Indonesians were affected by the transmission of this virus. Therefore, the government took the initiative to take a lockdown policy for 14 days to anticipate the transmission of this corona outbreak. The study uses qualitative research methods with a literary and empirical approach. The data obtained comes from several regulations, such as the Governor of DKI Jakarta and several other regulations and policies, as well as phenomena that occur in the field. The results of the study stated that Indonesia had experienced a condition where the community\u27s concern about Covid-19 was quite large, so that a government policy to lockdown was needed, as an effort to break the chain of the spread of the Corona Covid-19 virus.Keywords: Corona Virus, Lock Down, Government Policy AbstrakTahun 2020 merupakan tahun yang mengkhawatirkan seluruh negara, tanpa terkecuali negara Indonesia. Hal itu disebabkan munculkan wabah virus Corona, yang bermula dari Kota Wuhan China, dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Awalnya pemerintah tidak mengikuti cara yang digunakan oleh beberapa negara lainnya terkait informasi yang diberikan mengenai virus corona covid-19, yaitu dengan melakukan reaksi cepat sosialisasi pencegahan. Penyebabnya, agar masyarakat Indonesia tidak khawatir dengan isu yang mengkhawatirkan, selain untuk meminimalisir adanya berita Hoax dari segelintir orang yang tidak bertanggung jawab. Akhirnya wabah covid-19 ini juga menjadi hal yang mengkhawatirkan bagi masyarakat, karena banyak warga Indonesia yang terkena dampak penularan virus ini. Oleh karenanya, pemerintah berinisiatif untuk mengambil kebijakan lockdown selama 14 hari guna mengantisipasi penularan wabah corona ini. Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan literatur dan empiris. Data yang didapat berasal dari beberapa Peraturan, seperti Peraturan Gubernur DKI Jakarta dan beberapa peraturan dan kebijakan lainnya, serta fenomena yang terjadi di lapangan. Hasil penelitian menyatakan bahwa Indonesia sudah mengalami kondisi dimana kekhawatiran masyarakat terhadap covid-19 cukup besar, sehingga diperlukan kebijakan pemerintah untuk melakukan Lockdown, sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus corona Covid-19Kata kunci : Virus Corona, Lock Down, Kebijakan Pemerinta
Peran Majelis Ulama Indonesia Dalam Mitigasi Pandemi Covid-19 (Tinjauan Tindakan Sosial dan Dominasi Kekuasaan Max Weber)
AbstractThis paper aims to uncover the motives of the Indonesian Ulema Council (MUI) in issuing Muslim community religious edicts during the COVID-19 Pandemic. In exploring this motive, the writer uses the theory of social action and power domination initiated by Max Weber. This type of research is qualitative research, researchers do the description and interpretation of data from primary sources taken from the official MUI website and other data that supports the results of the study. The results of this paper are: First, MUI is an actor of social religious action. Second, the motives for MUI socio-religious actions through fatwas issued contain three dominant motives. Third, the instrumentally rational motives in the fatwa refer to various models of worship. Fourth, MUI uses the values of the Islamic Religion which originate from the Qur\u27an, Hadith, and Jurisprudence. Fifth, MUI seeks to continue the traditions of the Prophets and Friends. Sixth, the MUI\u27s Domination of Power determines the mandatory and unlawful matters in worship. Seventh, the MUI has a very important role in the mitigation effort of the COVID-19 Pandemic.Keywords: Social Actions; Power Domination; COVID-19; Mitigation, MUI Fatwa. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk mengungkap motif-motif Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam menerbitkan fatwa peribadatan masyarakat muslim saat Pandemi COVID-19. Dalam mengeksplorasi motif tersebut, penulis menggunakan teori tindakan sosial dan dominasi kekuasaan yang digagas oleh Max Weber. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, peneliti melakukan deskripsi dan interpretasi data dari sumber primer yang diambil dari situs resmi MUI dan data lain yang mendukung hasil penelitian. Adapun hasil dari tulisan ini adalah: Pertama, MUI merupakan aktor dari tindakan sosial keagamaan. Kedua, motif tindakan sosial keagamaan MUI melalui fatwa yang diterbitkan mengandung tiga motif dominan. Ketiga, motif instrumentally rational dalam fatwa mengacu pada berbagai macam model peribadatan. Keempat, MUI menggunakan nilai-nilai dari Agama Islam yang bersumber dari Alquran, Hadis, dan Kaidah Fikih. Kelima, MUI berupaya untuk meneruskan tradisi para Nabi dan Sahabat. Keenam, Dominasi Kekuasaan MUI penentu hal wajib dan haram dalam peribadatan. Ketujuh, MUI sangat penting perannya dalam upaya mitigasi Pandemi COVID-19.Kata Kunci: Tindakan Sosial; Dominasi Kekuasaan; COVID-19; Mitigasi, Fatwa MUI
Strategi Fundraising Zakat Pasca Pandemi Covid-19
AbstractIn January 2020, the world was rocked by a corona virus outbreak, the virus first appeared in Wuhan City in China. The impact is not only China that feels other countries including Indonesia feel the shake. The impact caused by the corona virus is multidimensional social, economic, political, educational, and health. For the corona virus zakat institution, it has an impact on the collection of zakat. The purpose of this paper is to identify and analyze new strategies in collecting zakat in Indonesia. The approach used in this paper is descriptive qualitative. The main data source of this paper is information in various media about the fundraising strategy of zakat institutions which we limit Baznas, Dompet Dhuafa, Lazismu and Lazisnu. The conclusion of this paper is that zakat institutions in Indonesia (Baznas and LAZ) currently still integrate the collection manually and digitally. Both of these strategies are still a mainstay, it is adjusted to the muzaki segmentation.Keywords: Strategy, Fundraising, Zakat, Post-Pandemic AbstrakBulan Januari 2020, dunia diguncang wabah virus corona, virus tersebut pertama kali muncul di Kota Wuhan China. Dampaknya tidak hanya negara China yang merasakan negara-negara lainpun termasuk Indonesia merasakan guncang tersebut. Dampak yang ditimbulkan virus corona bersifat multidimensional sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan kesehatan. Bagi institusi zakat virus corona ini berdampak terhadap penghimpunan zakat. Oleh sebab itu pasca pandemi institusi zakat harus melakukan inovasi dalam penghimpunan zakat. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis bagaimana strategi baru dalam penghimpunan zakat di Indonesia. Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah kualitatif deskriptif. Adapun sumber data utama tulisan ini adalah informasi di berbagai media mengenai strategi fundraising zakat institusi zakat yang kami batasi Baznas, Dompet Dhuafa, Lazismu dan Lazisnu. Kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwa institusi zakat di Indonesia (Baznas maupun LAZ) saat ini masih mengintegrasikan penghimpunan secara manual dan digital. Kedua strtategi ini masih menjadi andalan, hal tersebut disesuaikan dengan segmentasi muzaki. Kata Kunci: Strategi, Fundraising, Zakat, Pasca Pandem
INTEREST LOAN IN THE PERSPECTIVE OF ISLAMIC JURISPRUDENCE (COMPARATIVE STUDIES)
AbstractTrading is a fabric of our lives, where lending and borrowing has become a contemporaneous product. What remains constantly changing is the models and means in the transaction. In this day and age, banks issues loans through credit cards to clients for financial transactions with fixed maturity dates and balance limits. Cardholders will be penalized for late payment should the due amount is not settled within the given grace period. Another example in trading activity is when a company seeks public loan funding to cover investment projects. The capital transaction is offered in an exchange of returns in interests and derivatives awarded to participating clients for certain contract durations. These are called interest-based banks. Since the beginning of Islam, Prophet Muhammad, Peace be upon him, prohibited this practice, which at the time was engaged by his uncle, Al-Abbas. Prophet Muhammad, Peace be upon him, firmly said: "The first usury I eliminated was the usury belonging to my uncle al-Abbâs". Islamic Sharia strictly forbids charging additional fees for loans given to borrowers. What is permissible is a business agreement is via capital cooperation and profit-sharing, following a mutual contract, and not by levying loan charges in form of additional fees. This paper examines the problems from the perspectives of Islamic law by presenting the opinions of the schools of Fiqh and making comparisons based on the literature from each school of thought.Keywords: Loan, Interest, Ribâ, Syarîˊat, Companion of Prophet Abstrak:Dalam interaksi dagang, pinjam-meminjam tidak dapat dilepaskan dari aktifitas manusia. Sejak dulu model ini sudah ada sezaman dengan keberadaan manusia. Yang berubah hanya sarana dan model. Di zaman ini, pinjaman bank berupa kartu kredit yang memberikan pinjaman dana kepada nasabahnya untuk dipakai dalam transaksi keuangan dengan limit tertentu dan jangka waktu tertentu. Apabila waktu yang ditetapkan berakhir, maka nasabah dikenakan denda dengan kewajiban membayar uang yang dipinjamkan ditambah denda atas keterlambatan. Contoh lain, perusahaan besar membutuhkan dana besar untuk proyek bisnisnya. Ia memerlukan tambahan modal, lalu menawarkan kepada public untuk memberikan pinjaman dalam waktu yang ditentukan dengan perjanjian akan memberi imbalan berupa “bunga” atas keikut-sertaan itu. Inilah yang disebut dengan pinjaman berbunga. Sejak awal Islam, praktik ini dilarang oleh Rasul yang dulu dijalankan oleh pamannya sendiri al-Abbas. Dengan tegas Rasul mengatakan: “Riba pertama yang kuhapus ialah riba pamanku al-Abbas”. Syari’at Islam melarang keras untuk mengenakan biaya tambahan atas pinjaman yang diberikan kepada peminjam. Yang dibolehkan ialah perjanjian bisnis dengan bentuk kerjasama permodalan dan pembagian keuntungan sesuai kesepakatan, bukan pembebanan atas pinjaman dengan mengenakan tambahan biaya atas pinjaman. Makalah ini menelaah masalah tersebut dari sudut pandang Hukum Islam dengan menampilkan pendapat mazhab-mazhab Fiqh dan melakukan perbandingan berdasarkan literatur masing-masing mazhab.Kata kunci : Pinjaman, Riba, Bunga, Syariˊat, Sahabat Nabi
Analisis Tindakan Aborsi Terhadap Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
AbstractHuman life is sacred, so it must be maintained to continue his life. Taking the right of life of a person without error, then the law has killed all people including abortio). The abortion process is not only a process that has a high risk in terms of physical health and safety of a woman, but also has a very great impact on a woman\u27s mental state. Human survival is very important as a nation\u27s generation and it starts from the womb in the womb, whose rights should be fully respected and protected. The article purpose is to find out the review of Islamic Law on the phenomenon of child neglect and also review Law No. 39 of 1999 concerning human rights to the rights of life of children in the womb. The method use in this study is qualitative research with the library and empirical approach. Performing an abortion in the view of Islamic law is unlawful in principle, although there are exceptions that can to save the life of the mother due to medical emergencies is permissible under Islamic law and Law No. 39 of 1999 concerning human rights to the right of life of the fetus as stipulated since in the womb has the right to live, maintain life and improve the standard of living and from birth is entitled to a name and citizenship statusKeywords: Abortion, Human Rights, Child Protection. AbstrakKehidupan manusia itu suci, sehingga harus dipelihara kelangsungan hidupnya. Mengambil hak hidup seseorang tanpa kesalahan hukumnya sama dengan telah membunuh seluruh manusia, termasuk menggugurkan kandungan (aborsi). Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan dan keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang sangat hebat terhadap keadaan mental seorang wanita. Kelangsungan hidup manusia sangatlah penting sebagai generasi bangsa dan itu dimulakan dari semenjak dalam kandungan, yang semestinya hak tersebut dihormati dan dijaga dengan sepenuhnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan dan empiris. Tulisan ini memaparkan tinjauan Hukum Islam terhadap fenomena penelantaran anak dan tinjauan Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang HAM terhadap hak hidup anak di dalam kandungan. Hasil penelitian menyatakan bahwa melakukan tindakan aborsi dalam pandangan hukum Islam haram, namun ada pengecualian yaitu untuk menyelamatkan jiwa sang ibu karena kedaruratan medis, dan Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang HAM terhadap hak hidup janin menyatakan bahwa sejak dalam kandungan janin berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya serta sejak kelahirannya berhak atas suatu nama dan status kewarganegaraan. Kata Kunci: Aborsi, HAM, Perlindungan Anak
Political Branding Tagar #2019gantipresiden Dalam Meningkatkan Elektabilitas Partai Keadilan Sejahtera Di Ranah Media Sosial
AbstractThe hashtag #2019GantiPresiden was initiated by Dr. Mardani Ali Sera, a politician from the Partai Keadilan Sejahtera (PKS) has become a trending topic on social media, the use of hashtags has increasingly colored political dynamics in the country\u27s public sphere. The research aims to obtain an overview of the Political Branding of the #2019GantiPresiden hashtag in increasing the electability of the Partai Keadilan Sejahtera in the realm of social media. This research uses a constructivist paradigm, a qualitative approach and a case study method. The results showed that the Partai Keadilan Sejahtera was able to make good use of social media as a campaign tool and was able to present its best politician to become national figures. One of them was Dr. Mardani Ali Sera who initiated the hashtag #2019GantiPresiden. The hashtag #2019GantiPresiden became a trending topic, the surface was present ahead of the 2019 Presidential election which presented only two candidates for the Presidential and Vice-Presidential candidate pairs. The public\u27s desire for a replacement of the President is accommodated through the hashtag #2019GantiPresiden. The hashtag #2019GantiPresiden is affiliated with one of the Presidential Candidates and Vice-Presidential Candidates carried by the Partai Keadilan Sejahtera. The hashtag #2019GantiPresiden benefits the Partai Keadilan Sejahtera because it is a politician of the Partai Keadilan Sejahtera who initiated it. Political Branding Tagar #2019GantiPresiden contributes to increasing the electability of the Partai Keadilan Sejahtera in the realm of social media so that it has implications for the vote acquisition of the Partai Keadilan Sejahtera in the 2019 legislative elections.Keywords: Political Branding, Tagar, 2019 Change President, Prosperous Justice Party, Social Media Keywords: fPolitical Branding, Tagar, 2019 Change President, Prosperous Justice Party, Social Media AbstrakTanda pagar #2019GantiPresiden di inisiasi Oleh Dr. Mardani Ali Sera, politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi tranding topik di media sosial penggunaan tagar semakin mewarnai dinamika politik di ruang publik Tanah Air. Penelitian bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang political branding tagar #2019GantiPresiden dalam meningkatkan elektabilitas Partai Keadilan Sejahtera di ranah media sosial. Penelitian menggunakan paradigma konstruktivis, pendekatan kualitatif dan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukan bahwa, Partai Keadilan Sejahtera mampu memanfaatkan media sosial sebagai sarana kampanye dengan baik dan mampu menghadirkan kader-kader terbaiknya menjadi tokoh nasional salah satu diantaranya adalah Dr. Mardani Ali Sera yang menginisiasi tagar #2019GantiPresiden. Tagar #2019GantiPresiden menjadi tranding topik, hadir kepermukaan jelang perhelatan pemilu Presiden 2019 yang menghadirkan hanya dua kandidat pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden. Keinginan masyarakat akan pergantian Presiden terakomodir melalui tagar #2019gantiPresdien. Tagar #2019GantiPresdien berafiliasi dengan salah satu kandidat Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden yang di usung oleh Partai Keadilan Sejahtera. Tagar #2019GantiPresiden menguntungkan Partai Keadilan Sejahtera karena yang menginisiasinya adalah kader Partai Keadilan Sejahtera. Political Branding Tagar #2019GantiPresiden berkontribusi menaikan elektabiltas Partai Keadilan Sejatera di ranah media sosial sehingga berimplikasi pada perolehan suara Partai Keadilan Sejahtera pada pemilu legislatif tahun 2019. Kata kunci: Political Branding, Tagar, 2019 Ganti Presiden, Partai Keadilan Sejahtera, Media Sosia
Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19 Sebagai Langkah Antisipatif dan Proaktif Persebaran Virus Corona Di Indonesia
AbstractIn response to the spread of Covid-19, which reached the Republic of Indonesia, the Indonesian Ulema Council (MUI) released Fatwa Number 14 of 2020 on the application of Worship in a Covid-19 Outbreak situation. This was achieved as a constructive and anticipatory move for the MUI Institute, which serves as a fatwa contributor in Indonesia. This study uses a qualitative research method with a literature approach, especially in the Fatwa section of the Indonesian Ulema Council. The results of this study show that the steps taken by MUI are deemed acceptable as this organization is perceived to have a significant role to play in society. In addition, the measures taken by the Indonesian Ulema Council are aimed at preserving health and preventing exposure to disease. It is important as it is part of preserving the central purpose of religion (al-Dharurat al-Khams).Keywords: Covid-19, Indonesian Ulema Council, Fatwa, Proactive, Anticipatory AbstrakUntuk menyikapi persebaran Covid-19 yang telah memasuki Republik Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa No 14 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19. Hal ini dilakukan sebagai langkah proaktif dan antisipatif Lembaga MUI yang berperan sebagai pemberi fatwa di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan literatur khususnya pada Fatwa Majelis Ulama Indonesia. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa langkah yang dilakukan MUI dianggap tepat karena Lembaga ini dipandang memiliki peran penting di masyarakat. Selain, langkah yang diambil Majelis Ulama Indonesia merupakan upaya menjaga kesehatan dan menghindari dari paparan penyakit. Hal ini penting dilakukan karena merupakan bagian dari menjaga tujuan pokok beragama (al-Dharurat al-Khams).Kata Kunci : Covid-19, Majelis Ulama Indonesia, Fatwa, Proaktif, Antisipati
Revitalisasi Hukum Ekonomi Syariah di Pesantren Madura Sebagai Resolusi Konflik Masyarakat
AbstractMadura is an area with many Islamic boarding schools as a place of Islamic scientific education. The state of the Madura pesantren is no longer only studying classical sciences. However, it has developed by examining modern sciences such as studies in several Madurese pesantren which have revitalized sharia economic law as studies, which are included in the scientific curriculum and equipped with institutional facilities to support learning in providing an overview of sharia economic practices. So that the modern program of the Madura boarding school has become one of the instruments of community conflict resolution in the economic field. This study uses qualitative methods by taking data through interviews and direct observation in the field. This study found that Islamic boarding schools in Madura have owned Islamic microfinance institutions as supporting learning of Islamic economic law to introduce scholarship and provision of sharia economic practices, so that students are able to apply Islamic economic values, as well as conflict resolution in the community in the economic field. While the programs in Madura Islamic boarding schools to become a forum for community conflict resolution are through several programs such as the study of muamalat fiqh books that are adjusted to the level of santri, in collaboration with education and training programs held by pondok-owned financial institutions to provide an overview of sharia economic practices, and employment programs for pesantren alumni. Whereas the program for the community in overcoming the economic conflicts of the community includes providing guidance on Islamic economics, in addition to providing financing facilities.Keywords: Sharia Economic Law, Islamic Boarding School, Resolution, Conflict. AbstrakMadura merupakan salah satu daerah dengan banyak pesantren sebagai salah satu tempat edukasi keilmuan Islam. Keadaan pesantren Madura ini tidak lagi hanya mengkaji ilmu-ilmu klasik. Akan tetapi sudah berkembang dengan mengkaji ilmu-ilmu modern seperti kajian di beberapa pesantren Madura yang telah merevitalisasi hukum ekonomi syariah sebagai kajian, yang dimasukkan dalam kurikulum keilmuan serta dilengkapi dengan fasilitas lembaga untuk menunjang pembelajaran dalam memberikan gambaran praktik ekonomi syariah. Sehingga program modern pesantren Madura ini telah menjadi salah satu instrumen resolusi konflik masyarakat dalam bidang ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengambilan data melalui wawancara dan observasi langsung ke lapangan. Penelitian ini menemukan bahwa pondok pesantren di Madura telah memeliki lembaga keuangan mikro syariah sebagai penunjang pembelajaran hukum ekonomi syariah untuk mengenalkan keilmuan serta pembekalan praktik ekonomi syariah, sehingga santri mampu menerapkan nilai-nilai ekonomi syariah, serta menjadi resolusi konflik di masyarakat dalam bidang ekonomi. Sedangkan program-program yang ada di pesantren Madura untuk menjadi wadah sebagai resolusi konflik masyarakat yaitu melalui beberapa program seperti kajian kitab-kitab fikih muamalat yang disesuaikan dengan tingkatan santri, bekerja sama dengan diklat yang diadakan oleh lembaga keuangan milik pondok untuk memberikan gambaran praktik ekonomi syariah, serta program lapangan pekerjaan untuk alumni pesantren. Sedangkan program untuk masyarakat dalam mengatasi konflik ekonomi masyarakat antara lain mengadakan pembinaan tentang ekonomi syariah, selain memberikan fasilitas pembiayaan. Kata Kunci: Hukum Ekonomi Syariah, Pesantren, Resolusi, Konflik
Konsep Tafakkur Dalam Alquran Dalam Menyikapi Coronavirus Covid-19
Abstract:Tafakkur in Arabic is interpreted as an act of thinking to bridge the perceptions and conceptions of this world life to the afterlife, and from creatures to their Creator, namely Allah. Tafakkur goes beyond this life to a wider region, the hereafter, and transcends the superficiality of materialism to a deeper horizon, that is "spirit" which can motivate all external and internal activities of Muslims. According to Ibn Khaldun in the book Mukadimmah has a fairly broad understanding. Education is not only a teaching and learning process that is limited by four walls, but education is a process in which humans consciously capture, absorb, and experience natural events throughout the ages. This study aims to treat the epidemic of the Covid 19 virus corona with an Islamic Education perspective approach. This research is a qualitative research with a literature review approach. The results found that the tafakkur corona Covid 19 virus in the perspective of the Islamic religion produced findings through, namely; first, quarantine, namely isolating the area affected by the plague is an appropriate action; Second, be patient; Third, be kind and work hard; Fourth, pray a lot.Keywords: Tafakkur, Islamic Religious Education, Corona virus Covid 19 AbstrakTafakkur dalam bahasa Arab diartikan sebagai tindakan berpikir untuk menjembatani persepsi dan konsepsi dari kehidupan dunia ini ke kehidupan akhirat, dan dari makhluk ke Penciptanya, yaitu Allah Swt. Tafakkur melampaui hidup ini ke wilayah lebih luas, akhirat, dan melampaui kedangkalan materialisme menuju horizon lebih dalam, yaitu “ruh” yang dapat memotivasi seluruh aktivitas eksternal dan internal kaum muslim. Menurut Ibn Khaldun di dalam buku Mukadimmah mempunyai pengertian yang cukup luas. Pendidikan bukan hanya merupakan proses belajar mengajar yang dibatasi oleh empat dinding, tetapi pendidikan adalah suatu proses dimana manusia secara sadar menangkap, menyerap, dan menghayati peristiwa-peristiwa alam sepanjang zaman. Penelitian ini bertujuan untuk men-tafakkuri wabah corona virus Covid 19 dengan pendekatan perspektif Pendidikan Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan literature review. Hasil penelitian menemukan bahwa tafakkur corona virus Covid 19 dalam perspektif Agama Islam menghasilkan temuan melalui, yaitu; pertama, karantina yaitu mengisolasi daerah yang terkena wabah adalah sebuah tindakan yang tepat; Kedua, bersabar; Ketiga, berbaik sangka dan berikhtiarlah; Keempat, banyak berdoalah.Kata Kunci: Tafakkur, Pendidikan Agama Islam, Coronavirus Covid 1