Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat
Not a member yet
164 research outputs found
Sort by
KETIKA ALLAH "DIAM": ANALISIS RETORIKA AYUB 39:4-15
Arif Wicaksono, When God Is "Silent": Analysis of Rhetoric Job 39: 4-15. While referring to the contemplation of life\u27s struggles, the book of Job is often one of the best stories in strengthening the faith of the congregation. Unfortunately, some approaches to the strengthening of faith in the book of Job take only in the first and second chapters, then immediately look at the last chapter of this book. It is rare to find the discussions touching the dialogs contained in the middle of this book. But if we want to look closely, the dialogues between Job and his friends, Job with God and God\u27s answer to Job give a lot of life values about how believers should behave in temptation. This paper has a purpose to present one the topic of contemplation drawn from the dialogue between God and Job when God posed rhetorical questions to Job. The approach used in studying texts is a literal context approach with the aim of exploring the meaning of every word in Hebrew and the context that influences the text. What is to be expected in this discussion is that the reader can understand God\u27s providence for the temptations his people experience in the rhetorical question raised to Job. Arif Wicaksono, Ketika Allah "Diam": Analisis Retorika Ayub 39:4-15. Saat memberikan rujukan perenungan terhadap pergumulan hidup, sering kali kitab Ayub dijadikan salah satu kisah terbaik dalam menguatkan iman jemaat. Sayangnya beberapa pendekatan terhadap penguatan iman dari kitab Ayub hanya mengambil dalam pasal pertama dan kedua kemudian meloncat pada pasal terakhir dari kitab ini. Jarang sekali pembahasan-pembahasan menyentuh dialog-dialog yang terdapat dalam bagian tengah dari kitab Ayub.Padahal jika mau melihat dengan baik dialog-dialog antara Ayub dan teman-temanya, Ayub dengan Tuhan dan jawaban Tuhan kepada Ayub memberikan banyak sekali nilai-nilai kehidupan tentang bagaimana seyogyanya orang percaya bersikap dalam pencobaan.Tulisan ini memiliki tujuan untuk megetengahkan salah satu topic perenungan yang terambil dari dialog antara Allah dengan Ayub saat Allah mengajukan pertanyaan-pertanyaan retorik kepada Ayub. Pendekatan yang dipakai dalam menelaah teks menggunakan pendekatan literal konteks, dengan tujuan menggali makna dari setiap kata dalam bahasa Ibrani dan konteks yang mempengaruhi teks.Diharapkan dalam pembahasan ini pembaca dapat memahami pemeliharaan Allah atas pencobaan yang dialami umat-Nya dalam pertanyaan retorik yang disampaikan kepada Ayub.Abstract: Arif Wicaksono, When God Is “Silentâ€: Analysis of Rhetoric Job 39: 4-15. While referring to the contemplation of life\u27s struggles, the book of Job is often one of the best stories in strengthening the faith of the congregation. Unfortunately, some approaches to the strengthening of faith in the book of Job take only in the first and second chapters, then immediately look at the last chapter of this book. It is rare to find the discussions touching the dialogs contained in the middle of this book. But if we want to look closely, the dialogues between Job and his friends, Job with God and God\u27s answer to Job give a lot of life values about how believers should behave in temptation. This paper has a purpose to present one the topic of contemplation drawn from the dialogue between God and Job when God posed rhetorical questions to Job. The approach used in studying texts is a literal context approach with the aim of exploring the meaning of every word in Hebrew and the context that influences the text. What is to be expected in this discussion is that the reader can understand God\u27s providence for the temptations his people experience in the rhetorical question raised to Job.  Abstrak: Arif Wicaksono, Ketika Allah "Diam": Analisis Retorika Ayub 39:4-15. Saat memberikan rujukan perenungan terhadap pergumulan hidup, sering kali kitab Ayub dijadikan salah satu kisah terbaik dalam menguatkan iman jemaat. Sayangnya beberapa pendekatan terhadap penguatan iman dari kitab Ayub hanya mengambil dalam pasal pertama dan kedua kemudian meloncat pada pasal terakhir dari kitab ini. Jarang sekali pembahasan-pembahasan menyentuh dialog-dialog yang terdapat dalam bagian tengah dari kitab Ayub.Padahal jika mau melihat dengan baik dialog-dialog antara Ayub dan teman-temanya, Ayub dengan Tuhan dan jawaban Tuhan kepada Ayub memberikan banyak sekali nilai-nilai kehidupan tentang bagaimana seyogyanya orang percaya bersikap dalam pencobaan.Tulisan ini memiliki tujuan untuk megetengahkan salah satu topic perenungan yang terambil dari dialog antara Allah dengan Ayub saat Allah mengajukan pertanyaan-pertanyaan retorik kepada Ayub. Pendekatan yang dipakai dalam menelaah teks menggunakan pendekatan literal konteks, dengan tujuan menggali makna dari setiap kata dalam bahasa Ibrani dan konteks yang mempengaruhi teks.Diharapkan dalam pembahasan ini pembaca dapat memahami pemeliharaan Allah atas pencobaan yang dialami umat-Nya dalam pertanyaan retorik yang disampaikan kepada Ayub
Tinjauan Terhadap Bilangan 666 Dalam Wahyu 13
Roby Setiawan, Review of Numbers 666 In Revelation 13. The number 666 mentioned in Revelation 13 has been crowded into talks, but some interpretations of such numbers by some Christians are linked to certain trademark logos so that there is a tendency to impose the business of others by using these interpretations. The writer afraid that if the number 666 is interpreted literally, then Christianity would become superstitious religion, as some people are not happy with the number 4 or 13 because it is considered an unlucky number, in contrast they are very happy with the numbers 8 and 9, because it is considered to bring fortune which is durable. Therefore it is necessary to understand what is the number 666. To understand the meaning of the number 666, the writer makes a historical-theological review so as to obtain a background image related to the number 666 in Revelation 13. The results show that the number 666 is associated with gematria method, but for the writer, the interpretation of the number 666 using gematria method is not acceptable and still need to be tested more deeply so as not to lead to inaccurate allegations. While related to its context, the number 666 is closely related to the symbol as the Book of Revelation is full of symbols. The result of the contextual analysis of Revelation 13 then number 666 represents the human effort that seeks to equal God to achieve unlimited power, yet they fail. Roby Setiawan, Tinjauan Terhadap Bilangan 666 Dalam Wahyu 13. Bilangan 666 yang disebutkan dalam Wahyu 13 telah ramai menjadi pembicaraan, tetapi beberapa penafsiran terhadap bilangan tersebut oleh sebagain orang Kristen dikait-kaitkan dengan logo merek dagang tertentu sehingga ada kecenderungan menjatuhkan bisnis orang lain dengan menggunakan tafsiran tersebut. Penulis kuatir jika bilangan 666 ini ditafsirkan secara hurufiah, maka kekristenan akan menjadi agama tahyul, seperti yang dipercayai oleh sebagian orang yang tidak senang dengan angka 4 atau 13 karena dianggap angka sial, sebaliknya mereka sangat senang dengan angka 8 dan 9, karena dianggap membawa rejeki yang tahan lama. Oleh sebab itu perlu dipahami apa bilangan 666 tersebut. Untuk memahami makna bilangan 666, maka penulis melakukan tinjauan historis-teologis sehingga diperoleh gambaran latar belakang yang terkait dengan bilangan 666 dalam Wahyu 13. Hasil studi menunjukkan bahwa bilangan 666 dikaitkan dengan cara gematria, tetapi bagi penulis, penafsiran terhadap bilangan 666 dengan menggunakan gematria tidak dapat diterima dan masih perlu diuji dengan lebih dalam sehingga tidak menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak tepat.Sementara berkaitan dengan konteksnya, bilangan 666 sangat berkaitan dengan simbol sebagai Kitab Wahyu penuh dengan simbol. Hasil dari analisis konteks Wahyu 13 maka bilangan 666 melambangkan usaha manusia yang berusaha menyamai Allah untuk mencapai kuasa yang tidak terbatas, namun mereka gagal
Analisis Penggunaan Aplikasi "yesHeis" Dalam Penginjilan Pribadi
Steaven Octavianus, Analysis of Use of "yesHeis" Applications In Personal Evangelism. The globalization era and the advancement of science and technology as well as the internet made great impact to human life. This advancement also has an impact on the Christian evangelical life. In carrying out the Great Commission of the Lord Jesus, Christians can use this opportunity. However, this should still be managed and supervised wisely. This study will look at the use of the "yesHeis" app in sharing videos on social media Facebook and the responses of Christians about the app. This research will use qualitative approach with descriptive analysis method. Based on this research many people give positive response on this application. Even though many people positively respond to this app they are still hesitant to share it and even install it on their smart phone. Steaven Octavianus, Analisis Penggunaan Aplikasi yesHeis Dalam Penginjilan Pribadi. Era globalisasi dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta internet membawa dampak yang besar bagi kehidupan manusia. Kemajuan ini juga berdampak dalam kehidupan penginjilan pribadi umat Kristiani. Dalam melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus umat Kristen dapat menggunakan kesem-patan kemajuan ini. Namun begitu hal ini tetap harus dikelola dan diawasi dengan bijaksana. Penelitian ini akan melihat penggunaan aplikasi yesHeis dalam membagikan video di media sosial Facebook serta tanggapan dari orang Kristen mengenai aplikasi tersebut. Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Berdasarkan penelitian ini banyak masyarakat yang mem-berikan respon positif atas aplikasi ini. Namun walaupun banyak orang secara positif merespon aplikasi ini mereka masih ragu untuk membagikan bahkan menginstalnya di telepon pintarnya.Â
Implikasi Hermeneutis Membaca Injil-Injil Kanonik Sebagai Tulisan Biografi Yunani-Romawi
Herry Susanto, The Hermeneutical Implication of Reading the Canonical Gospels as Greco-Roman Biographical Writing. Historical method and narative criticism are the two approaches that have become important tools in exegetical work of canonical Gospels. Both have given important contribution, however the two approaches have inadequacies. The historical approach depends on external data, and narrative criticism tends to treat the Gospel texts as modern narratives. In the subsequent development of studies on the canonical Gospels, it has been found some significant similarities between the Gospels and Greco-Roman biographical writings. This writing observes three similarities, namely the format of content, focus of story and purpose. The content of Greco-Roman biography, mostly narrates the public work or ministry of the main character. The same thing is found on the Gospels. Likewise, the focus of story that orients to one main character and the purpose of authorship that has rhetorical and persuasive element. The similarities indicate that the canonical Gospels may be categorized as Greco-Roman biographical genre. Certainly, it has hermeneutical implication. The Gospels should be read in accordance with its genre. Herry Susanto, Implikasi Hermeneutis Membaca Injil-Injil Kanonik sebagai Tulisan Yunani-Romawi. Metode historis dan kritik naratif merupakan dua pendekatan yang telah menjadi alat penting dalam karya eksegesa Injil-Injil kanonik. Keduanya telah memberi kontribusi penting, namun dua pendekatan tersebut memiliki kelemahan. Pendekatan historis bergantung pada data eksternal, dan kritik naratif cenderung memperlakukan teks-teks Injil sebagai naratif modern. Dalam perkembangan selanjutnya studi terhadap Injil-Injil kanonik, didapati kesamaan-kesamaan yang signifikan antara kitab-kitab Injil dengan tulisan biografi Yunani-Romawi. Tulisan ini melihat tiga kesamaan, yaitu format isi, fokus cerita dan tujuan. Isi biografi Yunani-Romawi, sebagian besar menceritakan karya atau pelayanan publik tokoh utama. Hal yang sama dijumpai pada kitab-kitab Injil. Demikian juga dengan fokus cerita yang berorientasi kepada satu tokoh utama dan tujuan penulisan yang memiliki unsur retoris dan persuasif. Kesamaan-kesamaan ini tentu mengindikasikan bahwa Injil-Injil kanonik dapat dikategorikan bergenre biografi Yunani-Romawi. Ini tentu memiliki implikasi hermeneutis. Kitab-kitab Injil harus dibaca sesuai dengan genrenya tersebut
Mendisiplin Anak Menurut Prinsip Kristen
Ayang Emiyati, Disciplining Children According to Christian Principles. This article describes the treatment of disciplining children in Christian principles. To explain about disciplining children in the Christian principle, the author do literature review which then arranged systematically according to the construction of the concept of the author builds. Discipline is essentially necessary in the education of the child, only disciplinary action requires a wisdom and a love. Violent treatments are not the only way of discipline and discipline is not violence. Some things to consider in implementing discipline are to give priority to love in discipline, to use advises as a way of educating children, praying to surrender children to God, and make a beating as the last way in disciplining children.  Ayang Emiyati, Mendisiplin Anak Menurut Prinsip Kristen. Artikel ini memaparkan tentang tindakan mendisiplin anak dalam prinsip Kristen. Untuk memaparkan tentang mendisiplin anak dalam prinsip Kristen, penulis melakukan kajian literatur yang kemudian disusun secara sistematis sesuai konstruksi konsep yang penulis bangun. Disiplin pada intinya diperlukan dalam pendidikan anak, hanya tindakan mendisiplin memerlukan suatu hikmat dan adanya kasih. Tindakan kekerasan bukanlah jalan satu-satunya dalam mendisiplin dan disiplin bukanlah suatu kekerasan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan disiplin adalah mengutamakan kasih dalam mendisiplin, memakai nasihat sebagai jalan yang dalam mendisiplin anak, doakan dan serahkan anak tersebut pada Tuhan, dan jadikan pukulan sebagai jalan terakhir dalam mendisiplin.Ayang Emiyati, Disciplining Children According to Christian Principles. This article describes the treatment of disciplining children in Christian principles. To explain about disciplining children in the Christian principle, the author do literature review which then arranged systematically according to the construction of the concept of the author builds. Discipline is essentially necessary in the education of the child, only disciplinary action requires a wisdom and a love. Violent treatments are not the only way of discipline and discipline is not violence. Some things to consider in implementing discipline are to give priority to love in discipline, to use advises as a way of educating children, praying to surrender children to God, and make a beating as the last way in disciplining children.  Ayang Emiyati, Mendisiplin Anak Menurut Prinsip Kristen. Artikel ini memaparkan tentang tindakan mendisiplin anak dalam prinsip Kristen. Untuk memaparkan tentang mendisiplin anak dalam prinsip Kristen, penulis melakukan kajian literatur yang kemudian disusun secara sistematis sesuai konstruksi konsep yang penulis bangun. Disiplin pada intinya diperlukan dalam pendidikan anak, hanya tindakan mendisiplin memerlukan suatu hikmat dan adanya kasih. Tindakan kekerasan bukanlah jalan satu-satunya dalam mendisiplin dan disiplin bukanlah suatu kekerasan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan disiplin adalah mengutamakan kasih dalam mendisiplin, memakai nasihat sebagai jalan yang dalam mendisiplin anak, doakan dan serahkan anak tersebut pada Tuhan, dan jadikan pukulan sebagai jalan terakhir dalam mendisiplin
Kajian Konseptual Tentang Pemilihan Allah Dalam Roma 9
Julian Frank Rouw, Conceptual Review of God\u27s Elections in Rome 9. Rejection of Israel as God\u27s chosen nation, and justification of the Gentiles by faith is in the sovereignty of God. Paul explains God\u27s act toward His chosen people in the past, in which Israel is distancing itself from God\u27s mercy and neglecting its opportunity. In the present, Israel as a nation rejects the Messiah. In the future, Israel as a nation, will receive the Messiah and enjoy the promised blessings with the oath promise in the Old Testament. The key pressure of this context is that God\u27s sovereignty is expressed in a vacuum, not a mere power. The choice of God\u27s sovereignty is not based on an early knowledge of the choices and actions that humans will take in the future. However, God chooses to bless the unworthy through his faith (not on the basis of his achievement). God knows everything but He chooses to limit His choice in mercy and in promise. The human response must exist, but it follows and ultimately affirms the life-changing choice of God. On the sovereignty of God who has chosen who is chosen it can force us to draw the conclusion that God is \u27unfair\u27. Paul has said that God\u27s election is not bound to a lineage, that God is free to choose some of Abraham\u27s offspring and reject some of the others. Julian Frank Rouw, Kajian Konseptual Tentang Pemilihan Allah Dalam Roma 9. Penolakan Israel sebagai bangsa Pilihan Allah, dan pembenaran orang-orang bukan Yahudi karena iman ada dalam kedaulatan Allah. Paulus menjelaskan tindakan Allah terhadap umat pilihan-Nya di masa lalu, dimana Israel sebagai menjauhkan diri dari kemurahan Allah dan mengabaikan kesempatannya. Di masa sekarang, Israel sebagai suatu bangsa menolak Mesias. Pada masa yang akan datang, Israel sebagai suatu bangsa, akan menerima Mesias dan menikmati berkat-berkat yang telah dijanjikan dengan janji sumpah di Perjanjian Lama. Tekanan kunci dari konteks ini adalah bahwa kedaulatan Allah dinyatakan dalam kemurahan, bukan kekuasaan semata-mata. Pilihan kedaulatan Allah tidak didasarkan atas pengetahuan dini akan pilihan-pilihan dan tindakan yang akan diambil oleh manusia di masa yang akan datang. Namun, Allah memilih untuk memberkati orang yang tidak layak melalui imannya (bukan atas dasar prestasinya). Allah mengetahui segala perkara namun Ia memilih untuk membatasi pilihan-Nya dalam kemurahan dan dalam janji. Tanggapan manusia harus ada, namun ini mengikuti dan akhirnya meneguhkan pilihan Allah yang mengubahkan kehidupan. Atas kedaulatan Allah yang telah memilih siapa yang dipilih hal itu dapat memaksa kita menarik kesimpulan bahwa Allah \u27tidak adil\u27. Paulus telah mengatakan bahwa pemilihan Allah tidak terikat pada suatu garis keturunan, bahwa Allah bebas memilih sebagian keturunan Abraham dan menolak sebagiannya yang lai
Konseling Kristen Terhadap Wanita Yang Mengalami Kecanduan Kerja
Lilis Ermindyawati, Christian Counseling Against Women Experiencing Work Addiction. One phenomenon that occurs in the present are women addicted to work and this phenomenon is more of a negative impact than the benefits of women workers and those in the vicinity. Therefore, women need to be helped so addicted to work that they can get out of the problems they face. Christian Counseling is a solution to help women who are addicted to work. Every career woman is expected to have a balance between work, family and relationship with God. Women are not only successful in his work (his career), but also succeeded in fostering a harmonious household, educating children well, and has a close relationship with God. Lilis Ermindyawati, Konseling Kristen Terhadap Wanita Yang Mengalami Kecanduan Kerja. Salah satu fenomena yang terjadi pada masa kini adalah wanita kecanduan kerja dan fenomena ini lebih banyak memberikan dampak negatif dibandingkan keuntungan yang diperoleh wanita pekerja dan orang-orang di sekitarnya. Oleh sebab itu wanita kecanduan kerja perlu ditolong agar mereka dapat keluar dari permasalahan yang mereka hadapi. Konseling Kristen merupakan solusi untuk menolong wanita yang mengalami kecanduan kerja. Setiap wanita karir diharapkan memiliki keseimbangan antara pekerjaan, keluarga dan hubungannya dengan Tuhan. Wanita tersebut bukan hanya berhasil dalam pekerjaanya (karirnya), tetapi juga berhasil dalam membina rumah tangganya yang harmonis, mendidik anak-anak dengan baik, dan memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan
Relevansi Finalitas Kristus Di Tengah-Tengah Arus Pluralisme Dan Pluralitas Masyarakat Indonesia
Aya Susanti,Relevance finality of Christ in the Middle Flow Plurality And Pluralism Indonesia Society. From age to age the human perspective of the person and role of Jesus Christ is changing. The shift from an absolute way of thinking about Christianity also occur in the Western world and even in Indonesia. Contemporary skepticism about the possibility of knowing the truth is growing. In response to the phenomenon of multiple perspectives and beliefs and teachings that exist in Indonesian society locus of the finality of Jesus Christ it is necessary to present a written explanation for the answer. By studying several aspects of relevance, both with regard to timing issues, teaching the meaning and context it is expected that there are embodiments value finality fitting that in a pluralistic society in Indonesia. Aya Susanti, Relevansi Finalitas Kristus Di Tengah-Tengah Arus Pluralisme Dan Pluralitas Masyarakat Indonesia. Dari zaman ke zaman perspektif manusia terhadap pribadi dan peran Yesus Kristus berubah-ubah. Pergeseran dari cara pemikiran yang absolut tentang kekristenan juga terjadi di dunia Barat dan bahkan di Indonesia. Masa kini skeptisme mengenai kemungkinan untuk mengetahui kebenaran semakin berkembang. Menyikapi berbagai perspektif dan fenomena keyakinan serta ajaran yang ada di lokus masyarakat Indonesia mengenai finalitas Yesus Kristus ini maka dipandang perlu untuk menghadirkan sebuah pemaparan tertulis untuk menjawabnya. Dengan mempelajari beberapa aspek relevansi, baik berkaitan dengan masalah waktu, makna pengajaran dan konteks maka diharapkan ada pengejawantahan nilai finalitas yang pas yang di dalam masyarakat pluralis Indonesia
Kajian Teologis Tentang Rahasia Allah Berdasarkan Efesus 3:1-6
Agus Marulitua Marpaung,Theological Viewabout The Mystery of God according to Ephesians 3:1-6. The Mystery of God is something that is very important to be understood.Because instead of it is needed to be revealed but it’s a spiritual thing which has the godly truth.Therefore fall to interpret it will follow to fall in understanding and practicing.Apostle Paul was entrusted a mystery ofGodwhich never been relevealed in precious generation.Through Qualitatif method of Researchwith Library research approach. This research will describethe mysteryof God that was revealed through Apostle Paul and it becomes the truth that is followed by the church nowday. Agus Marulitua Marpaung, Kajian Teologis Tentang Rahasia Allah berdasarkan Efesus 3:1-6. Rahasia Allah merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dipahami. Karena selain mengandung hal yang belum terungkap tetapi juga memiliki unsur ilahi yang di dalamnya mengandung kebenaran ilahi, jadi kesalahan memahami rahasia Allah maka akan menyebabkan kekeliruan dalam pengajaran dan penerapan. Rasul Paulus dipercayakan suatu rahasia yang belum pernah dinyatakan pada angkatan sebelumnya, Maka melalui metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan karya tulis ini memberikan penjelasan tentang rahasia yang diungkapkan oleh Allah melalui Rasul Paulus dan itulahyang menjadi dasar pengajaran dan pelayanan Rasul Paulus yang merupakan program Allah bagi gereja masa kini.Â