Kapata Arkeologi
Not a member yet
    316 research outputs found

    Nilai-Nilai Sosial dan Religi dalam Tradisi Megalitik di Sulawesi Selatan

    Get PDF
    South Sulawesi is a region which has a several culture and megalith tradition that spread in various locations. Of those various forms and kinds of that megalith monument, there are important values that can be reinvented for the society. The purpose is to determine the social dan religious value of megalithic culture in South Sulawesi. In order to recognize those values, a research with an ethnoarchaeological approach has been done through direct observations and surveys in the society which still have megalith tradition, and focused to identify its values and functions in society. This research found that this tradition was developed since the 2nd AD until the 10th to 13th AD. During that period, the settlement system was composed of small communities that occupying highland and lowland. That small community was called wanua which spread across South Sulawesi peninsula. At the present time, that megalith tradition is still found in Torajan community, and in several ritual practices among communities in Enrekang and Soppeng regency, South Sulawesi. Generally, that megalith tradition is endorsing several values such like cooperation and spiritual.Sulawesi Selatan merupakan suatu daerah yang memiliki beberapa bentuk budaya dan tradisi megalitik (kebudayaan batu besar) yang tersebar di berbagai wilayah. Dari berbagai bentuk dan jenis megalitik itu tentunya memiliki nilai-nilai  yang dapat diterapkan dalam masyarakat. Tujuannya adalah untuk mengetahui nilai sosial dan religi dari kebudayaan megalitik di Sulawesi selatan. Dalam pencapaiannya digunakan pendekatan etnoarkeologi dengan cara melakukan survei di beberapa daerah di Sulawesi Selatan yang memiliki peninggalan megalitik. Selanjutnya dilakukan wawancara dan pengamatan langsung di masyarakat yang masih menggunakan kebudayaan megalitik untuk mengetahui fungsi dalam masyarakat. Penelitian selama ini menunjukkan bahwa kebudayaan ini berawal sekitar abad ke-2 Masehi dan terus berlanjut pada abad ke-10 hingga abad ke-13 Masehi. Sistem permukiman pada masa itu merupakan kelompok-kelompok komunitas yang menempati wilayah ketinggian dan dataran rendah. Pada awal terbentuknya populasi disebabkan adanya berbagai daerah otonom kecil yang disebut wanuwa yang terdapat di beberapa daerah di seluruh semenanjung Sulawesi Selatan. Budaya ini masih berkesinambungan hingga sekarang pada masyarakat Toraja, atau dalam praktek ritual seperti di Enrekang dan Soppeng, Sulawesi Selatan. Pada umumnya kebudayaan megalitik mengandung nilai-nilai kerjasama dan gotong royong serta religi yang menonjol

    Appendix Vol. 12 No. 2 (2016)

    No full text

    Karakteristik Bangunan Suci Bercorak Hindu-Buddha di Gunung Penanggungan dan Gunung Wajak: Sebuah Tinjauan Perbandingan

    Get PDF
    This is a comparison research between the sacred buildings at Penanggungan Mountain and the Wajak Mountain. There are two purposes of this research. Firstly, this study tries to reconstruct the cultural history of the Hindu-Buddhist period which is associated with religious elements on Penanggungan and Wajak Mountain. Secondly, this study aims to reveal the life of the Hindu-Buddhist. This study employs a qualitative approach. The data are obtained from the field and literature. The results show that religious elements at Penanggungan and Wajak Mountains can be seen from the shape of the building as well as the function of the building. The unique characteristic of sacred buildings located at both mountains associated with natural factors and the community. Religious elements can be seen by comparing various elements of religious background, surrounding environment, religious community, and relationships between buildings and historical figures.Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan dan membahas Gunung Penanggungan dan Gunung Wajak sebagai tempat dibangunnya banguna-bangunann suci bercorak Hindu-Buddha. Ada dua masalah yang dibahas dalam penelitian ini.  Pertama, mengenai unsur religi dibalik corak bangunan suci bercorak Agama Hindu dan Buddha di Gunung Penanggungan dan Gunung Wajak. Kedua, mengenai perbandingan karakteristik unsur religi bangunan suci bercorak Agama Hindu dan Buddha di Gunung Penanggungan dan Gunung Wajak. Tujuan penelitian ini adalah mencoba merekonstruksi sejarah kebudayaan masa Hindu-Buddha terutama yang berkaitan dengan unsur religi serta mengungkapkan kehidupan kaum agamawan pada masa Hindu-Buddha terutama yang melaksanakan kegiatan ritualnya di wilayah pegunungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dari hasil studi lapangan dan studi pustaka. Studi lapangan dilakukan dengan melakukan kunjungan ke beberapa situs di Gunung Penanggungan dan Gunung Wajak sedangkan studi pustaka dilakukan dengan menelusuri penelitian terdahulu dan referensi yang berkaitan dengan topik yang dibahas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Gunung Penanggungan dan Gunung Wajak unsur religi dapat terlihat dari bentuk bangunan dan perkiraan fungsi bangunannya. Bangunan-bangunan suci yang berada di Gunung Penanggungan dan Gunung Wajak memiliki karakteristik tersendiri yang berhubungan dengan faktor alam dan karakter masyarakat pembuatnya. Unsur religi dapat dilihat melalui perbandingan berbagai unsur antara lain unsur latar keagamaan, lingkungan sekitar bangunan suci, masyarakat pengguna bangunan, dan hubungannya dengan tokoh sejarah

    Sumber Daya Arkeologi dalam Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan di Provinsi Maluku

    Get PDF
    Archaeological resources in Maluku has important value in regional development and spread in different natural landscape. The problem that arises is how to make the proper management of this resource as a tourist attraction while maintaining the authenticity and preservation in accordance with the character possessed. The purpose and usefulness of the research is to make the archaeological resources in the Moluccas as one of the tourist attractions that provide benefits not only economic, but also social, cultural and environmental on the current generation and the future. The data used are secondary data from the results of research that has been done before and the results of the survey author to several archaeological sites in the city of Ambon as well as if by applying the theories and concepts appropriate to address concerns and objectives. Archaeological resources in Maluku has a unique, originality, authenticity and can be used as industrial commodities tourism as a diverse tourist attractions. The management of this potential is important to increase the diversity of attractions in the ministry of foreign tourists activity continues to increase in visiting museums and archaeological sites in Indonesia. Adapted to the character development of each site and archaeological sites in the region to bring up the context of the importance and significance of contemporary leading to the realization of sustainable tourism development (sustainable tourism management). Empowering local communities is very important as one of the pillars with partnerships with other stakeholders,  and will provide benefits in balance between economic, social, cultural and environmentally sustainable manner in the community both now and for generations to come.Sumber daya arkeologi  di Maluku mempunyai nilai penting dalam pembangunan daerah dan tersebar  pada landscape alam yang  berbeda. Permasalahan yang  muncul adalah bagaimana  pengelolaan yang  tepat untuk  menjadikan sumberdaya  ini sebagai atraksi wisata dengan tetap menjaga keotentikan dan pelestariannya sesuai dengan karakter  yang  dimiliki. Tujuan dan kegunaan penelitian adalah untuk menjadikan sumber daya arkeologi di wilayah Maluku sebagai salah satu atraksi wisata yang memberikan manfaat tidak saja secara  ekonomi, tetapi juga sosial budaya dan lingkungan  pada generasi sekarang  dan yang akan datang.  Data yang digunakan adalah data sekunder dari hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dan hasil survey penulis ke beberapa situs arkeologi yang ada di Kota Ambon serta di olah dengan menerapkan teori dan konsep yang sesuai untuk menjawab permasalahan dan tujuan.   Sumber daya arkeologi di Maluku mempunyai keunikan, orisinalitas, otentisitas dan dapat dijadikan komoditas industri pariwisata sebagai atraksi wisata yang beragam. Pengelolaan potensi ini penting  untuk meningkatkan diversifikasi atraksi  dalam pelayanan  aktivitas wisatawan mancanegara yang  terus meningkat  dalam mengunjungi museum dan situs-situs arkeologi di Indonesia.  Pengembangan disesuaikan dengan karakter dari masing-masing situs dan kawasan situs arkeologi dalam konteks untuk memunculkan nilai penting dan makna kekinian yang mengarah pada terwujudnya pembangunan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism management). Memberdayakan masyarakat lokal sangat penting sebagai salah satu pilar dengan melakukan kemitraan dengan stakeholder lain, sehingga memberikan manfaat secara seimbang antara ekonomi, sosial budaya dan lingkungan secara berkelanjutan pada masayarakat sekarang maupun pada generasi-generasi yang akan datang

    Jejak Budaya Paleolitik di Pulau Seram: Kajian Migrasi Manusia Awal di Wilayah Indonesia Timur

    Get PDF
    The province of Maluku is consists of number of islands (including Seram island)  is served  as of the areas in the eastern part of Indonesia that have a key role for study of life in the past. Geographically position as the bordered area between Australia and Irian island has played a strategic role as the routes for human and faunal migration. An indication for ancient human occupation in this areas has been shwoed by the presence of cultural remains of Palaeolithic tools. Palaeolithic culture (palaeo=ancient; lithic/lithos=stone) is stone tools used by Homo erectus from the Pleistocene period. The Palaeolithic cultural remains from Seram island is very limitedly known; and the results of archaeological researches by Puslit Arkenas (National Research Centre for Archaeology) in 2012 has been found of Palaeolithic tools on this areas. This fact proves that Seram island has interesting for migration routes of human ancient occupation and their culture in the eastern part of Indonesia. Study of palaeolithic culture used by comparative-exsplorative methods (contextual) and technologic overview. Provinsi Maluku yang terdiri beberapa kepulauan (salah satunya Pulau Seram) merupakan salah satu wilayah di Indonesia Timur yang mempunyai peranan penting dalam mengungkap sejarah kehidupan masa lalu. Secara geografis, posisi keletakannya yang sangat strategis di antara Pulau Irian dan benua Australia merupakan jalur lintasan migrasi bagi manusia dan fauna. Salah satu tujuan untuk mengetahui proses kedatangan awal manusia di wilayah ini adalah melalui tinggalan budayanya, yaitu alat-alat Paleolitik. Budaya Paleolitik (paleo = tua; litik/lithos = batu) adalah perkakas dari batu yang diduga digunakan oleh manusia awal (Homo erectus) sejak munculnya di muka bumi pada Kala Pleistosen. Tinggalan budaya Paleolitik di Pulau Seram selama ini sangat jarang sekali informasinya, namun hasil penelitian yang dilakukan oleh Puslit Arkenas pada tahun 2012 telah membuktikan adanya temuan alat-alat batu tua di wilayah ini. Bukti-bukti temuan ini menunjukkan bahwa Pulau Seram mempunyai peranan yang penting sebagai jalur migrasi manusia awal dan budayanya di wilayah Indonesia Timur. Kajian budaya paleolitik ini mempergunakan metode eksploratif-komparatif (kontekstual) dan pengamatan teknologis

    Arkeologi Kawasan Hatusua di Seram Bagian Barat Maluku: Hasil Penelitian Terkini dan Arah Pengembangannya

    Get PDF
    Hatusua in West Seram is one of the well known site in the archaeological study of Maluku. The first academic record of this site has been existed since the late 1980s. Archaeological studies with sufficient depth has been conducted since the first half of 1990s by the collaboration team of Indonesia and United States. In 2006 and 2009 Balai Arkeologi Ambon conducted research in this area. Despite the high records of archaeological studies, in reality a relatively complete picture and a comprehensive understanding of the site apparently cannot be obtained yet. Since 2012-2015 Balai Arkeologi Ambon started a more structured research which included the mapping of potenial and excavation to identify the character of Hatusua Site. Which is included the chronological test that dated on ± 1,100  BP. This article is the review of the research result in Hatusua Complex in the last three years.  Reconissance survey and excavation were adopted as the approach in this research.  The study found that Hatusua is a complex of sites with the coastal-inland landscape, open site and cave habitation site, with notes on continuing tradition until recently. Hatusua di Seram Bagian Barat merupakan salah satu situs yang sudah cukup dikenal dalam rekam studi arkeologi di Maluku. Catatan akademis pertama mengenai situs ini muncul di penghujung era 1980-an. Studi arkeologi dengan cukup mendalam mulai dilakukan pada paruh pertama tahun 1990-an oleh kolaborasi tim penelitian Indonesia-Amerika Serikat. Tahun 2006 dan 2009 Balai Arkeologi Ambon kembali melakukan beberapa kajian di situs ini. Meski rekam studi arkeologi yang telah dilakukan cukup tinggi, dalam kenyataannya gambar yang relatif utuh dan pemahaman yang komprehensif  atas situs ini agaknya belum bisa diperoleh. Sejak tahun 2012 hingga 2015 Balai Arkeologi Ambon mulai melakukan studi yang lebih terarah meliputi pemetaan potensi secara lengkap serta rangkaian ekskavasi untuk menemukenali karakter kepurbakalaan yang lebih utuh dari Situs Hatusua.Termasuk uji konologi yang memberikan usia peradaban hingga ± 1,100 TYL. Artikel ini merupakan ulasan atas hasil studi yang dilakukan di Situs Hatusua selama tiga tahun terakhir. Sebagai upaya untuk merekam profil situs secara utuh maka pendekatan yang digunakan dalam rangkaian penelitian meliputi survei permukaan, ekskavasi arkeologi, studi geologi,  dan kajian etnografi. Hasil penelitian menemukan bahwa Hatusua merupakan kompleks situs dalam karakter bentang alam pesisir-pedalaman; situs hunian gua-situs terbuka, dengan ciri tradisi yang berlanjut hingga saat ini

    Cover Vol. 12 No. 1 (2016)

    No full text

    Appendix Vol. 12 No. 1 (2016)

    No full text

    Preface Vo. 12 No. 1 (2016)

    No full text

    Cover Vol. 12 No. 2 (2016)

    No full text

    162

    full texts

    316

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Kapata Arkeologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇