Jurnal Sumberdaya Lahan
Not a member yet
150 research outputs found
Sort by
Pengembangan dan Diseminasi Inovasi Teknologi Pertanian Mendukung Optimalisasi Pengelolaan Lahan Kering Masam
Abstrak. Peranan lahan kering masam dalam mendukung pembangunan pertanian nasional sangat penting, baik untuk pemenuhan kebutuhan pangan nasional maupun untuk pengembangan tanaman perkebunan. Tingkat produktivitas yang dicapai pada lahan kering masam masih lebih rendah dibanding potensinya, sehingga pendekatan optimamalisasi harus menjadi salah satu prioritas pembangunan pertanian ke depan. Mengingat tingkat kesuburan tanah pada lahan kering masam umumnya tergolong rendah, maka diperlukan berbagai masukan inovasi teknologi, baik untuk menanggulangi faktor pembatas lahan maupun untuk mengoptimalkan produktivitasnya. Pengembangan inovasi teknologi pengelolaan lahan kering masam telah menghasilkan beberapa teknologi unggulan, antara lain teknologi pengayaan unsur P dan K, teknik pemberian kapur, dan teknologi konservasi tanah dan air. Permasalahan diseminasi inovasi teknologi pertanian umumnya terkait dengan kesenjangan adopsi teknologi, kesenjangan hasil dan kendala sosial-ekonomi petani. Sebagian besar petani lahan kering masam mengelola lahannya secara subsisten, produktivitasnya rendah, senjang hasil dan adopsi teknologi masih tinggi, dan keberlanjutannya tidak diperhatikan sehingga berdampak terhadap terjadinya proses degradasi lahan. Guna memecahkan masalah tersebut dari aspek diseminasi diperlukan model diseminasi inovasi berbasis teknologi informasi yang dapat memanfaatkan berbagai bentuk media diseminasi dan saluran komunikasi para pemangku kepentingan yang terkait. Diseminasi melalui pendekatan model spektrum diseminasi multi channel (SDMC) memungkinkan inovasi teknologi pertanian hasil penelitian dapat didistribusikan secara cepat kepada para penggunanya.Abstract. The role of upland acid soils in supporting national agricultural development is very important to fulfill national food needs as well as to develop estate plantations. The level of productivity achieved on upland acid soils was still lower than its potential, so the optimation approach should be one of the priorities of the agricultural development in the future. Since the level of soil fertility on upland acid soils is generally low, then it is needed the input of various technological innovations, both to overcome the limiting factor of land as well as to optimize its productivity. Development of technological innovation management on upland acid soils has produced some prospective technologies, such as enrichment of P and K elements technology, the technique of lime application, as well as soil and water conservation technology. Most of dissemination problems related to adoption and yield gaps, and farmers’ socio-economic aspect. Most of the upland acid soils farmers managed the land in subsistence, low soil productivity, high gap on yield and technology adoption, and its continuation of farming development was not noted, hence gave impact to land degradation processes. To overcome such problems in perspective of dissemination aspect, it needs innovation dissemination model based on required information technology which utilizes a variety of dissemination means and communication channels of related stakeholders. Dissemination through multi-media channel systems approach may allow agricultural technology innovations to distribute quickly to its users.
Aplikasi Teknik Computed Tomography (CT) Scan dalam Penelitian Porositas Tanah dan Perkembangan Akar
Abstrak: Perkembangan akar dan laju pergerakan air di dalam profil tanah sangat dipengaruhi oleh bentuk, ukuran, dan orientasi dari pori tanah. Tingginya variabilitas pori tanah, baik pada skala keruangan (spatial) maupun waktu (temporal), membutuhkan teknik pengukuran yang cepat dan dapat dilakukan berulangkali tanpa merusak obyek penelitian agar dihasilkan rekomendasi pengelolaan yang lebih tepat. Penggunaan X-ray computed tomography (CT) scan, yang digunakan dalam dunia kedokteran untuk mendiagnose penyakit pasien, dapat digunakan secara cepat dan akurat untuk mengkuantifikasi porositas dan sifat-sifat tanah lainnya serta perkembangan perakaran di dalam tanah. Kelebihan teknik CT scan dibanding teknik sebelumnya seperti kurva karakteristik air dan teknik irisan tipis adalah dapat mengkuantifikasi jumlah pori, pola distribusi keruangan, dimensi fraktal, dan bentuk pori dari gambar 3 dimensi (3-D) beresolusi tinggi yang dihasilkan. Makalah ini bertujuan untuk mereview penggunaan CT Scan dalam penelitian porositas tanah dan perakaran untuk mendapatkan pemahaman yang lebih detil tentang interaksi antara tanah dan akar. Dengan pemahaman yang lebih detil tersebut dapat ditentukan teknik pengelolaan tanah dan tanaman yang lebih baik untuk meningkatkan produktivtas pertanian.Abstract: Root development and water movement in the soil profile are highly affected by the shape, size and orientation of the soil pores. The high spatial and temporal variability of soil porosity required a quick and repeated non-distruptive technique to measure it in order to develop a more suitable land management recommendation. The use of computed tomography (CT) scan, which has been used for years in medical examination of patient, can be utilized in quantifying rapidly and accurately soil porosity and other soil characteristics as well as root development in the soil sample. The advantage of CT scan technique over other techniques such as soil water characterictis curve and thin section is the possibility to quantify the amount, spatial distribution, fractal dimension, and shape of the soil pores from 3-D high resolution image produced. The aim of this review is to offer a perspective on the possible application of CT scan technique in soil porosity and root studies to obtain more detail understanding of soil and root interactions. With that understanding, one can develop more accurate soil and crop management to improve agriculture productivity
Peranan Pupuk Organik dalam Peningkatan Produktivitas Tanah dan Tanaman
Abstrak: Pupuk organik berperan dalam meningkatkan kesuburan fisik, kimia dan biologi tanah serta mengefisienkanpenggunaan pupuk anorganik. Kualitas dan komposisi pupuk organik bervariasi tergantung dari bahan dasar kompos dan prosespembuatannya. Penggunaan tanaman legum baik berupa tanaman lorong (alley cropping) maupun tanaman penutup tanah (covercrop) serta bahan organik insitu, perlu diintensifkan untuk mendukung pemanfaatan pupuk organik non komersial danpemulihan kesuburan tanah.Pemberdayaan masyarakat dan kelompok tani dalam pengadaan pupuk organik dapat dilakukanmelalui: a) melatih petani membuat pupuk organik insitu yang berasal dari kotoran ternak dan sisa tanaman yangdikomposkan;b) mendorong petani melakukan diversifikasi usaha pertanian berbasis ternak; dan c) mendorong petanimelakukan pengelolaan bahan organik insitu terutama pada lahan kering. Pemanfaatan pupuk organik telah diterapkan dalamsistem budidaya pertanian organik (organic farming) dan System rice of intensification (SRI). Pemberian pupuk organik yangdikombinasikan dengan pupuk anorganik, telah diterapkan dalam sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT), sistem integrasipadi/palawija dan ternak (SIPT), sistem pertanian mandiri yang mengintegrasikan ternak dan tanaman crop livestock system(CLS).Abstract: It is inevitable that organic fertilizer plays a major role in increasing the fertility of the physical, chemical and biologicalas well as the efficient use of inorganic fertilizers. The main composition of organic fertilizer when it decomposes will consist ofmostly water and cellulose, hemiselulose, lignin, and a small portion main macro nutrients, secondary macro nutrients, microelements and silica. There is also a growth regulating enzymes and vitamins as a byproduct of microbial decomposition. The maincomponent or specific parameters have a major role and the speed of the process of transformation of organic fertilizer into theform of mineral nutrients and the end product is humus. The significance of organic fertilizer is widely recognized by agriculturalresearchers and practitioners. In addition the use of organic fertilizers in paddy fields and dry land cultivation system ofagriculture that combines inorganic fertilizer and organic, has strived implemented by the government in this case the Ministry ofAgriculture that the system of integrated crop management (ICM), system integration paddy/crops and livestock (SIPT), anindependent agricultural systems that integrate livestock and crop plants livestock system (CLS). If the awareness of farmers onthe use of organic fertilizers increases, the availability of both in situ and have to come from outside should be available insufficient quantity and good quality. Technological innovation of Agricultural Research and Development Agency to support theuse of organic fertilizers continue to research and develop. Currently available guidebooks and technological innovation, such asland management guidelines, management guidelines of organic materials and organic fertilizer, granular organic fertilizerproduct (Tithoganik, POG, POCr), and decomposers products to accelerate the process of decomposition (such as M-dec).Opportunities and challenges in increasing stakeholder awareness is not a barrier in optimizing organic fertilizer. The key is thesynergistic integration between institutions regulatory, technical institutions, Research Agency, producers and users in theimplementation of socialization, production, guidance and supervision.
Penggunaan Citra Penginderaan Jauh untuk Mendukung Mitigasi Dampak Perubahan Iklim di Sektor Pertanian
Abstrak. Penggunaan citra penginderaan jauh dalam menghadapi dampak perubahan iklim saat ini, memerlukan data geospasialdalam identifikasi dampak dan sumber sumber yang berpengaruh terhadap perubahan iklim. Dampak perubahan iklim yangberdampak pada lahan dan lingkungan dapat dikaji dari penginderaan jauh, adalah suhu udara, curah hujan, kenaikan air laut(batimetri) dan proses kebakaran lahan. Dampak perubahan iklim terhadap sumberdaya lahan dapat dikaji dengan penginderaanjauh seperti berkurangnya areal hutan, kebakaran hutan dan lahan, perubahan ekologi dan kondisi hutan dan keanekaragamanhayati. Perubahan lahan, akibat kekeringan kebanjiran atau perubahan luapan. Penginderaan jauh dapat mengkaji kenaikan suhu,dan estimasi emisi gas rumah kaca selain perubahan pola curah hujan, dan kejadian iklim ekstrim. Intrusi air laut yang berkaitandengan perubahan garis pantai dapat dirunut dari penginderaan jauh. Data spasial dari penginderaan jauh juga menjadi dasarpenggunaan tanaman rendah emisi, cara mengelola air untuk mengurangi terjadinya oksidasi bahan organik. Peran penginderaanjauh untuk mitigasi perubahan iklim dapat diperhatikan dalam hal pengamatan sumberdaya lahan dan hidrologi, lahan gambut,biomasa sebagai sumber cadangan karbon, monitoring perubahan pengunaan lahan, indikator penting terjadinya perubahankondisi hidrologi. Makalah ini membahas peranan teknik penginderaan jauh dalam menyikapi dampak perubahan iklim terhadapsumber daya tanah dan air di Indonesia dengan contoh-contoh aplikasi yang telah dilakukan.Abstract. The use of remote sensing image in the face of climate change impacts at this time, require the identification of theimpact of geospatial data and resources that affect climate change. Impact of climate change on land and environmental impactcan be seen from remote sensing, is the air temperature, precipitation, sea level rise (bathymetry) and the process of land fires.The impact of climate change can be observed by remote sensing through the reduction of forest area, forest and land fires,changes in forest conditions and the ecology and biodiversity changes in land, flood or drought due to changes in the floodingbehaviour. Remote sensing can assess the increase in temperature, and estimation of greenhouse gas emissions in addition tochanges in rainfall patterns, and extreme climate events. Seawater intrusion associated with changes in the shoreline can betraced from remote sensing. Spatial data from remote sensing is also the basis for the use of low-emission plants, how to managethe water to reduce the oxidation of organic matter. The role of remote sensing for the mitigation of climate change can beaddressed in terms of land resources and hydrological observations, peat, biomass as a source of carbon stocks, monitoringchanges in land use, an important indicator of changes in hydrological conditions. This paper discusses the role of remote sensingtechniques in addressing the impacts of climate change on land and water resources in Indonesia with examples of applicationsthat have been done
Inventarisasi Emisi GRK Lahan Pertanian di Kabupaten Grobogan dan Tanjung Jabung Timur dengan Menggunakan Metode IPCC 2006 dan Modifikasinya
Abstrak. Lahan pertanian menyumbangkan emisi gas rumah kaca (GRK) melalui beberapa proses. Skala global dan nasional, perhitungan besaran emisi GRK telah banyak dilakukan, baik dalam bentuk studi ilmiah maupun laporan nasional terkait status dan emisi di suatu negara. Inventarisasi GRK dalam skala kawasan, mencakup pengumpulan serta pembangunan data aktivitas, penentuan sasaran penurunan emisi pada penyumbang emisi utama serta membandingkan hasil perhitungan metode IPCC 2006 dan metode modifikasinya. Sumber emisi GRK utama berdasarkan jenis gas di dua kabupaten adalah gas CH4 (pengelolaan lahan sawah, fermentasi enterik dan pengelolaan kotoran ternak) yaitu sebesar > 50% (dalam CO2e). Total emisi GRK Kabupaten Grobogan dan Tanjung Jabung Timur dari tahun 2006-2011 dengan menggunakan metode IPCC 2006 adalah sebesar 678-758 Gg CO2e dan 543-659Gg CO2e, sedangkan dengan menggunakan metode IPCC 2006 modifikasi adalah sebesar 670-744 Gg CO2e dan 540-658 Gg CO2e. Emisi ini diperkirakan akan terus meningkat mencapai angka 898 Gg CO2e dan 820 Gg CO2e di tahun 2020 jika tidak ada aksi mitigasi. Total emisi di kedua provinsi dengan menggunakan metode IPCC 2006 asli dan modifikasinya hanya berbeda sebesar 1%. Modifikasi metode yang dilakukan pada perhitungan emisi N2O langsung dari tanah sawah irigasi bisa digunakan karena lebih mudah dan sederhana dalam pengumpulan data aktivitas dan perhitungannya.Abstract. Agricultural land contributes to greenhouse gas(GHG) emissions through several processes. In global and national scale, GHG emissions have been presented in scientific studies and national reports. Regional inventory mostly gathered and generate activity data, define mitigation action to main emission contributors and to compare original and modified IPCC 2006 Guidelines. CH4 emissions (rice cultivation, enteric fermentation and manure management) was the main contributor to overall GHG emissionsin the two districts with the amount of > 50% (in CO2e). Overall Grobogan and East Tanjung Jabung GHG emissions from years 2006-2011 using IPCC 2006 was 678-758 Gg CO2e and 543-659 Gg CO2e respectively and overall GHG emissions using modified IPCC 2006 was 670-744 Gg CO2e and 540-658 Gg CO2e. This emission in Grobogan and East Tanjung Jabung were expected to continue rising and reach the figure of 898 Gg CO2e and 820 Gg CO2e in 2020 if no mitigation actions implemented.The result of IPCC 2006 and it’s modification method was only 1% different in overall GHG emission in two region. The modification method to direct N2O emission from irrigated rice could be used because it’s simpler and easier both in gathering activity data and the calculation itself
Pembenah Tanah untuk Meningkatkan Produktivitas Lahan Pertanian
Abstrak. Pembenah tanah (soil conditioner) dapat digunakan untuk mempercepat pemulihan kualitas tanah. Tulisan ini menguraikan prinsip pemanfaatan pembenah tanah, jenis dan klasifikasi pembenah tanah, fungsi utama dan efek pembenah tanah terhadap kualitas tanah dan produktivitas tanaman, pengembangan pembenah tanah untuk pemulihan lahan pertanian, serta peluang dan kendala pengembangan pembenah tanah. Penggunaan pembenah tanah utamanya ditujukan untuk memperbaiki kualitas fisik, kimia, dan/atau biologi tanah, sehingga produktivitas tanah menjadi optimum. Pembenah tanah ada yang bersifat alami maupun buatan (sintetis). Berdasarkan senyawa atau unsur pembentuk utamanya, pembenah tanah bisa dibedakan sebagai pembenah tanah organik, hayati, dan mineral. Penggunaan pembenah tanah yang bersumber dari bahan organik sebaiknya menjadi prioritas utama, selain terbukti efektif dalam memperbaiki kualitas tanah dan produktivitas lahan, juga bersifat terbarukan, insitu, dan relatif murah, serta bisa mendukung konservasi karbon dalam tanah. Kelemahannya adalah dibutuhkan dalam dosis relatif tinggi. Beberapa pembenah mineral juga efektif dalam meningkatkan kualitas tanah, namun tetap harus disertai dengan penggunaan pembenah tanah organik. Penggunaan pembenah tanah sintetik perlu diuji terlebih dahulu dari segi dampak negatifnya terhadap lingkungan, selain pertimbangan harga yang umumnya relatif mahal, meski dosis yang digunakan relatif rendah.Abstract. Soil conditioner can be used to improve the recovery of soil quality. This paper mainly discuss on the use of soil conditioner, type and classification, function and its effect on soil quality and crop productivity, as well as the potency and challenge of using soil conditioner for recovery of the degraded agricultural land. The main role of soil conditioner is to improve soil physical, chemical and biological conditions and to provide optimum condition for soil productivity. There are natural and synthetic soil conditioners. Based on its component, they can be grouped as organic, biologic and mineral soil conditioner. The use of organic soil conditioner is strongly recommended as it proven very effective in improving soil quality and land productivity. Other benefits in using organic soil conditioner are their properties such as renewable, available in situ, and relatively less expensive. It also can support the conservation of carbon in the soil, but has the weakness associated with the high application rate. Some mineral soil conditioner is also effective in improving soil quality unless it’s combined organic soil conditioner. The use of synthetic soil conditioner should be evaluated for its negative impact on the environment prior to application and for its relatively expensive, although it is used at relatively low doses
Asuransi Pertanian Berbasis Indeks Iklim: Opsi Pemberdayaan dan Perlindungan Petani Terhadap Risiko Iklim
Abstrak. Kejadian iklim ekstrim terus terjadi dan semakin meningkat frekuensi dan intensitasnya. Banjir, kekeringan dan serangan OPT merupakan dampak kejadian iklim ekstrim yang menjadi bagian yang harus dihadapi petani khususnya petani padi hampir di setiap musim tanam. Beberapa upaya telah dilakukan oleh petani dalam rangka menekan risiko iklim, namun cara tersebut belum cukup. Perlu ada dukungan proteksi formal untuk melindungi petani dari risiko iklim. Salah satunya adalah dengan asuransi pertanian berbasis indeks iklim. Asuransi ini merupakan bentuk asuransi pertanian dimana yang diasuransikan adalah indeks iklimnya dan bukan tanamannya. Sistem ini memberikan pembayaran pada pemegang polis ketika terpenuhi kondisi cuaca/iklim yang tidak diharapkan (indeks iklim) tanpa harus ada bukti kegagalan panen. Asuransi ini dapat mempercepat penerimaan petani terhadap teknologi adaptasi atau integrasi informasi prakiraan musim/iklim dalam membuat keputusan. Dalam sistem asuransi iklim pembayaran dilakukan berdasarkan pencapaian indeks iklim yang ditetapkan pada periode pertumbuhan tanaman yang diasuransikan. Tujuan penulisan ini adalah memberikan informasi dan gambaran tentang perkembangan Asuransi Indeks Iklim dalam penanganan risiko iklim di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Asuransi Indeks Iklim berpeluang untuk dikembangkan dan diaplikasikan di Indonesia. Kesediaan petani membayar premi serta respon yang cukup baik menjadi potensi pengembangan Asuransi Indeks Iklim. Keberhasilan pelaksanaan program ini perlu didukung dengan peningkatan sumberdaya manusia dan kelembagaan baik di tingkat pusat maupun daerah. Dukungan Pemerintah melalui UU no 19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani menjadi sangat penting sebagai payung hukum yang melindungi aktifitas dan keberlangsungan program ini.Abstract. Extreme climate events continue to occur and the increasing frequency and intensity. Floods, drought and pest attacks are the impacts of extreme climate events that are part of that must be faced by rice farmers in almost every season. Several attempts have been made by farmers in order to reduce climate risks, but how is not enough. There needs to be a formal protection support for farmers to protect from climate risks. One is the Insurance Climate Index. Climate index insurance is a form of agricultural insurance in which the insured is the climate index and not the plants. This system provides payments to policyholders when weather conditions are met/climate are not expected (Climate Index) without any evidence of crop failure. This insurance can accelerate the acceptance of farmers to adaptation or integration of information technology forecasts season / climate in making decisions. In a climate insurance system payment is made based on whether the specified climate index reached the insured crop growth period. The purpose of this paper is to provide information and an overview of developments Climate Index Insurance in climate risk management in Indoensia. The results of the study showed that the Insurance Climate Index likely to be developed and applied in Indonesia. Farmers' willingness to pay a premium as well as a good response into potential development for Climate Index Insurance. The successful implementation of this program should be supported by an increase in human resources, institutions at central and local levels. Government support through Law No. 19 of 2013 on the Protection and Empowerment of Farmers become very important as an legal law that protects the activity and the sustainability of this program
Dampak Perubahan Iklim terhadap Sumberdaya Air: Identifikasi, Simulasi, dan Rencana Aksi
Abstrak. Perubahan iklim saat ini telah terjadi secara global. Bukti-bukti tentang hal itu telah dilaporkan secara sistematis oleh Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) dan The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Perubahan iklim telah dan akan menyebabkan bahaya langsung berupa perubahan pola curah hujan, kenaikan suhu, kenaikan muka air, dan kejadian iklim ekstrim. Berbagai proses yang memicu perubahan iklim global dan perubahan iklim telah diterima banyak pihak sebagai keniscayaan yang dicirikan oleh pemanasan global, dengan dampak langsung terhadap daur hidrologi, sehingga perubahan iklim diyakini memberi dampak secara nyata terhadap sumberdaya air di banyak wilayah di dunia dengan konsekuensi luas pada kehidupan masyarakat dan lingkungan. Makalah ini membahas dampak perubahan iklim terhadap sumberdaya air di Indonesia melalui identifikasi dengan data dan fakta empirik terjadinya tren perubahan curah hujan dan debit aliran sungai‐sungai di Indonesia dan berbagai upaya antisipasi melalui adaptasi, serta Undang Undang dan Rencana Aksi yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya air dalam menyikapi perubahan iklim global. Upaya-upaya tersebut diharapkan menjadi strategi untuk mengurangi kerentanan dan risiko perubahan iklim sektor sumberdaya air.Abstract. Climate change has been occurring globally. Evidence of it has been reported systematically by Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) and the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Climate change has and will cause immediate impact on changes in precipitation patterns, rising temperatures, sea level rise, and extreme climate events. The processes that lead to global climate change and climate change has been accepted by many as a necessity which is characterized by global warming, with a direct impact on the hydrological cycle, so that climate change is believed to significantly impact on water resources in many regions of the world with broad consequences on people's lives and the environment. This paper discusses the impact of climate change on water resources in Indonesia through identification with the scientific evidence of the empirical facts and data change trend in rainfall and river flow rivers in Indonesia, shows the various efforts to anticipate through adaptation, and Law and Action Plan related to water resources management in facing of global climate change. These efforts are expected to be a strategy to reduce vulnerability and risks of climate change on the water resources sector