Jurnal Sumberdaya Lahan
Not a member yet
    150 research outputs found

    Sistem Usahatani Berkelanjutan Berbasis Dinamika Unsur Hara pada Lahan Kering Masam

    Get PDF
    Abstrak. Dari aspek sebaran dan luasan, lahan kering masam memiliki potensi sebagai sumber pangan, tetapi ketidak sesuaian sifat fisika dan kimia tanah dengan kebutuhan tanaman memerlukan teknologi pengelolaan yang spesifik. Sifat fisika tanah kering masam: kepadatan tanah tinggi, daya pegang air rendah, permeabilitas lambat, erosi dan aliran permukaan tinggi. Sifat kimia: kadar bahan organik, unsur hara, KTK dan KB rendah, kadar oxida besi dan aluminium tinggi. Pada kondisi yang demikian, tumpangsari merupakan sistem usahatani berkelanjutan alternatif melalui perbaikan sifat fisika dan kimia tanah. Perbaikan sifat fisika tanah antara lain penurunan BD, porositas, dan kapasitas lapang tanah pada tumpangsari ubikayu + jagung + kacang tanah masing-masing berkisar 2,18 g cm-3; 49,12%; dan 37,99%; pada monokultur berkisar 2,59 g cm-3; 42,35%; dan 28,24. Neraca karbon dan nitrogen pada tumpangsari masing-masing +1,5 t ha-1 dan + 10 kg ha-1 tahun-1; pada monokultur -7,0 t ha-1 tahun-1 dan -60 kg ha-1 tahun-1. Tanaman lorong (alley cropping) merupakan usahatani berkelanjutan alternatif lainnya melalui perbaikan sifat fisika dan kimia tanah seperti meningkatkan kemampuan dalam mengikat/menyediakan air/lengas untuk memperlancar dinamika unsur hara ke permukaan akar melalui proses aliran masa dan difusi, meningkatkan kandungan bahan organik tanah, dan sebagai sumber unsur hara. Perbaikan sifat fisika tanah antara lain B.D, ruang pori total (RPT), pori drainase cepat (PDC), air-tersedia pada tanaman lorong berkisar 1,08 g cm-3; 59,2%; 25,6%; dan 14,6%; tanpa tanaman lorong masing-masing berkisar 1,28 g cm-3; 51,7%; 13,7%; dan 11,3%. Neraca karbon dan nitrogen pada tanaman lorong berkisar 2,73 dan 0,20%; tanpa tanaman lorong berkisar 1,31 dan 0,07%. Hasil padi gogo, kacang tanah, dan kacang hijau pada tanaman lorong berkisar 12,8; 11,3 dan 5,3 ku ha-1 dan tanpa tanaman lorong masing-masing berkisar 7,7; 7,8; dan 2,9 ku ha-1.Abstract. Based on its wide and spread, acid dry land has a higher potential as food crops resources, but unsuitability condition of soil physical and chemical properties with crops requirement need the specific technology to provide the optimum crop yields. The soil physical properties are high compactness (BD >1.2 gr cm-3), low of water holding capacity, bed permeabilitiy, and rate of soil eorison and ruhoff is high. The soil chemical properties are low of organic matter content, nutrients content, cation exchange capacity, and base saturation, while concentration of iron and aluminum oxides are higher concentration. On this condition, mix cropping can be an alternative sustainable farming system through improvement of physical and chemical properties. Improvement of physical properties including BD, porosity, and field capacity on mix cropping of cassava + maize + peanut were around 2.18 g cm-3; 49.12%; dan 37.99%; while on monoculture around 2.59 g cm-3; 42.35%; and 28.24%. Carbon and nitrogen balance on the mix cropping farming system were around +1.5 t ha-1 year-1 and + 10 kg ha-1 year-1, while on monoculture around -7.0 t ha-1 year-1 and -60 kg ha-1 year-1. Alley cropping is another one of sustainable alternative farming system through improvement of physical and chemical properties such as increasing of water holding capacity to accelerate nutrients dynamic into root surface areas by mass flow and diffusion processes, soil organic matter, and as sources of plat nutrients. Improvement of soil physical including BD, total porous, drainage porous, and available wateron alley cropping were around 1.08 g cm-3;, 59.2%; 25.6%; dan 14.6%; while on non alley cropping system around 1.28 g cm-3; 51.7%; 13.7%; dan 11.3%. Carbon and nitrogen content on alley cropping were around 2.73 and 0.20%, while on non alley cropping system around 1.31 dan 0.07%. The upland rice, peanut, and mung bean yields on alley cropping system were around 12.8, 11.3, and 5.3 ku ha-1; while on non alley cropping system around 7.7, 7.8, and 2.9 ku ha-1

    Pemanfaatan Teknologi Penginderaan Jauh untuk Monitoring Kejadian Iklim Ekstrem di Indonesia

    Get PDF
    Abstrak. Monitoring iklim ekstrim dan dampaknya terhadap pertanian di Indonesia memerlukan data dan sarana pengamatan yang luas dan intensif. Teknologi penginderaan jauh dapat memberikan solusi dalam monitoring iklim ekstrim dan dampaknya secara luas dan cepat. Tulisan ini mengulas tentang pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk monitoring cuaca dan iklim ekstrim serta dampaknya terhadap kekeringan dan banjir khususnya bagi sektor pertanian, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan di Indonesia dan beberapa negara lain. Beberapa modelyang telah dikembangkan dan diaplikasikan di Indonesia menggunakan data penginderaan jauh resolusi rendah dan menengah secara tunggal maupun gabungan. Beberapa variabel yang dikaji dan diulas antara lain suhu awan, laju curah hujan, suhu permukaan tanah, indeks vegetasi dan turunannya, indeks lengas tanah dan turunannya dapat merepresentasikan kondisi cuaca dan iklim ekstrim, serta kondisi lahan yang rawan kekeringan atau banjir khususnya di Pulau Jawa dan Bali. Ketelitian model yang telah dikembangkan hingga saat ini dengan data GMS, MTSAT, TRMM, QMorph, MODIS, AVHRR, Landsat-7, SPOT-4, dan ALOS umumnya memadai untuk level nasional hingga level kabupaten dengan koefisien keragaman rata-rata berkisar antara 60% hingga 80%. Meskipun demikian, ketelitian model yang telah dihasilkan dan diaplikasikan masih perlu ditingkatkan. Sistem monitoring berbasis penginderaan jauh memiliki prospek yang sangat baik untuk terus digunakan di masa depan dengan memanfaatkan data yang lebih baru seperti Himawari-8, NPP-VIIRS, Landsat-8, SPOT-6, dan SPOT-7.Abstract. Monitoring of extreme climate and its impacts on agriculture in Indonesia need a lot of data as well as wide and intensive observation network. Remote sensing technology could provide better solution for a broader and rapid monitoring system of extreme climate and its impacts. This paper describes the applications of remote sensing technology on monitoring extreme weather and climate and their impacts on droughts and floods especially in agricultural sector, based on previous research results conducted in Indonesia and several other countries. Some models which have been developed and applied in Indonesia used low and medium resolution data single and combined techniques. Some derived variables were reviewed such as cloud temperature, rainfall rate, land surface temperature, vegetation index and its derivatives, soil moisture index and its derivatives could represent extreme weather and climate condition, as well as land susceptibility to droughts and floods in Java and Bali islands. The accuracy of models using GMS, MTSAT, TRMM, QMorph, MODIS, AVHRR, Landsat-7, SPOT-4, and ALOS to date is generally sufficient at national to district levels with averaged determinant coefficients range between 60% and 80%. However, the accuracy of resulted and applied models still need to be enhanced. Remote sensing-based monitoring system has a good prospect to be continuously implemented in the future using newer data such as Himawari-8, NPP-VIIRS, Landsat-8, SPOT-6, and SPOT-7

    Teknologi Pemupukan Mendukung Jarwo Super

    Get PDF
    Abstrak. Terobosan program Jarwo Super yang merupakan integrasi berbagai Teknologi Badan Litbang Pertanian diharapkan dapat meningkatkan produktivitas komoditas padi. Adapun komponen teknologi Jarwo Super terdiri dari budidaya jajar legowo, pemanfaatan alat mesin pertanian, benih unggul, pemupukan dengan dosis optimal menggunakan PUTS, pemanfaatan dekomposer M-Dec dalam pengelolaan limbah jerami, pemanfaatan pupuk hayati dalam seed treatment (Agrimeth) dan biopestisida untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman. Teknologi pemupukan baik anorganik, organik serta hayati memberikan kontribusi signifikan dalam paket teknologi Jarwo Super. Pemupukan secara umum memberikan kontribusi minimal 20% dalam sistem produksi pertanian. Dengan demikian, rekomendasi pemupukan yang sesuai dengan status hara tanah, optimal untuk varietas hasil tinggi dengan target hasil optimal sangat dibutuhkan. Penggunaan bahan organik seperti jerami padi yang berlimpah di lahan sawah perlu digalakkan kembali mengingat kompos jerami mengandung berbagai unsur hara terutama K dan Si serta memiliki fungsi meningkatkan kondisi fisik dan biologi tanah. Untuk mempercepat proses pembusukan jerami maka diperlukan dekomposer yang dapat memperpendek proses dekomposisi. Berbagai mikroba unggul dalam tanah dapat berfungsi dalam proses dekomposisi bahan organik, menghancurkan komponen toksik, transformasi inorganik, fiksasi N, Rhizobacteria, dan proteksi tanaman. Isolasi mikroba unggul dengan fungsi diatas menjadi cikal bakal formulasi pupuk hayati. Pupuk hayati dapat digunakan sebagai seed treatment, diberikan ke tanah dan tanaman sesuai dengan fungsinya. Berbagai jenis pupuk (anorganik, organik, hayati) yang diproduksi perlu diatur agar tidak merugikan konsumen yang sebagian besar adalah petani.Abstract. Breakthrough program called Jarwo Super is an integration of various technologies of IAARD is expected to increase rice productivity. The program includes in Jarwo Super are Jajar Legowo (skip row), mechanization, high yield variety, balance fertilization with optimal dose (using paddy soil test kits PUTS), rice straw management (using decomposer M-Dec), the use of biofertilizers (Agrimeth) and biopesticides. Proper fertilizer management of inorganic, organic and biofertilizer will contributed significantly in the Jarwo Super Technology. In general, fertilizer contribute at least 20% in agricultural production systems. Thus, the fertilizer recommendation must consider soil nutrient status and high nutrient uptake by new variety. The use of organic materials such as rice straw which is abundant in rice fields should be encouraged recall straw compost contains variety of nutrients, especially K and Si as well as having the function of improving the physical and biological soil. Decomposer is required to speed up the decomposition process. Various microbes in the soil play important function in the soil such as decomposition of organic matter, destroying the toxic components, inorganic transformation, N fixation, Rhizobacteria, and plant protection. Isolation of microbes which having improtant function as mention above became the key in formulation of biofertilizer. Biofertilizer can be used as a seed treatment, soil and plants according to their function. Various types of fertilizers (inorganic, organic, biofertilizer) that is produced and commercially used should be regulated to protect farmer as the most user

    Kejadian Iklim Ekstrem dan Dampaknya Terhadap Pertanian Tanaman Pangan di Indonesia

    Get PDF
    Abstrak. Perubahan iklim telah menganggu sistem iklim global dan menyebabkan meningkatnya frekuensi dan intensitas kejadian iklim ekstrem. Tulisan ini merupakan tinjauan mengenai proyeksi skenario iklim, faktor pengendali kejadian iklim ekstrem, serta dampaknya terhadap sektor pertanian di Indonesia. Dampak kejadian iklim ekstrim yang dominan pada sektor pertanian adalah kerusakan tanaman akibat kekeringan dan banjir. Akibat perubahan iklim, kekeringan dan banjir diproyeksikan akan meningkat frekuensi dan intensitasnya di masa akan datang. Informasi prediksi musim dapat digunakan untuk mengetahui intensitas dan wilayah yang terdampak dalam 1-2 musim ke depan. Sedangkan dampak jangka panjang 2-3 dekade ke depan dapat diketahui berdasarkan skenario proyeksi iklim. Prediksi musim telah banyak di manfaatkan untuk menyusun strategi dan kebijakan operasional seperti menyesuaikan waktu tanam, pemilihan komoditas, dan distribusi peralatan pertanian. Namun, kajian proyeksi iklim dan dampaknya terhadap produksi pangan masih sangat terbatas. Informasi tersebut diperlukan dalam perencanaan arah dan pembangunan pertanian ke depan. Oleh karena itu, kajian proyeksi iklim dan dampaknya terhadap produksi pangan perlu menjadi prioritas penelitian pertanian di Indonesia.Abstract. Climate change has disrupted the global climate system and lead to increase frequency and intensity of extreme climate events. This paper is an overview of future climate scenarios, driving force of extreme climate events, and its impacts on the agricultural sector in Indonesia. The common impacts of extreme climate events in Indonesia’s agriculture are crop damaged due to drought and flood. Due to climate change, drought and flood events is projected to intensify in the future. Seasonal prediction have been widely used to formulate operational strategies and policies such as planting time, commodity choice, and distribution of agricultural equipment. While, the climate projections are required for the forthcoming decades. However, the study of climate projections and their impact on food production for the next decades is still very limited. The information are required for planning and direction of future agricultural development. Therefore, the study of climate projections and their impact on food crop should be a priority of agricultural research in Indonesia

    Teknologi Pengelolaan Tanaman Pangan dalam Beradaptasi Terhadap Perubahan Iklim pada Lahan Sawah

    Get PDF
    Abstrak. Produksi tanaman pangan khususnya padi, jagung dan kedelai di Indonesia dituntut terus untuk ditingkatkan dalam kondisi pengaruh negatif perubahan iklim. Perubahan iklim mempengaruhi produktvitas, luas areal tanam dan panen tanaman pangan. Kenaikan suhu udara, perubahan pola dan jumlah curah hujan, kenaikan salinitas air tanah, menurunkan produktivitas tanaman. Meningkatnya frekuensi dan intensitas iklim ekstrem (banjir, kekeringan dan angin kencang), ledakan hama/penyakit dan meningkatnya muka air laut mempengaruhi pola tanam, indeks panen, mengurangi luas areal panen dan luas kawasan pertanian. Sejalan dengan Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API) Indonesia telah mengembangkan teknologi: (1) Varietas tanaman yang toleran terhadap cekaman abiotik, (2) Teknologi budidaya tanaman, (3) Teknologi irigasi berselang, dan (4) Teknologi untuk menciptakan kondisi lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan tanaman. Varietas adaptif perubahan iklim dikemas dengan teknologi budidaya spesifik lokasi dalam suatu paket Pengelolaan Tanaman Terpadu dan teknologi “Jajar legowo super”. Untuk padi telah dikembangkan Kalender Tanam Terpadu yang dapat diakses melalui laman (web), short message service (SMS), dan aplikasi Android, sebagai salah satu alat untuk merakit komponen teknologi spesifik lokasi. Selain itu tersedia dikembangkan Layanan Konsultasi Padi yang dapat diakses melalui internet.Abstract. Crop production, especially of rice, corn and soybeans in Indonesia must be continually increased to cope with the negative effects of climate change. Climate change affects crop productivity, planting and harvested areas. The increase in air temperature, changes in rainfall patterns and amount, increase in groundwater salinity, lead to the decrease of crop productivity. The increased frequency and intensity of extreme climate (floods, drought and strong winds), pest and diseases infestation and rising sea levels affect the cropping pattern and harvest index, and reduce harvested area. In line with the National Action Plan for Adaptation to Climate Change (RAN-API), Indonesia has developed adaptive technologies of (1) Improved plant varieties tolerant to abiotic stresses, (2) Crop cultivation, (3) Intermittent irrigation technology, and (4) Technology to create a conducive environment for plant growth. Climate change adaptive varieties paired with site-specific farming technologies has been developed into packages of Integrated Crop Management and "jajar legowo super" system. For rice, Integrated Cropping Calendar which can be accessed via the home page (web), short message service (SMS), and Android applications has been developed, as one of the tools to assemble components technologies. Rice Consulting Services has also been available and can be accessed via the internet.

    Teknologi Pengelolaan Lahan Rawa untuk Tanaman Pangan dan Hortikultura dalam Konteks Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim

    Get PDF
    Abstrak. Perubahan iklim di lahan rawa memberikan dampak berbeda tergantung tipologi lahan. Dampak perubahan iklim di lahan rawa mempengaruhi luas areal tanam, proses biofisik pada tanah dan tanaman, dan meningkatkan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Pada lahan rawa lebak tengahan dan lahan rawa lebak dalam, El Niño menyebabkan permukaan air menurun sehingga mengurangi areal yang terendam dan meningkatkan luas areal tanam. Pengaruh El-Niño di lahan gambut dapat meningkatkan risiko kebakaran lahan selain meningkatkan emisi karbon dari dekomposisi gambut, sedangkan di lahan sulfat masam dapat meningkatkan oksidasi pirit dan salinitas. Pada tahun La Niña, terjadi penurunan luas areal tanam pada lahan rawa lebak, sedangkan pada lahan pasang surut terjadi perubahan pola tanam. Kekhasan ekosistem rawa memerlukan penanganan khusus agar potensi yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal. Pengelolaan lahan rawa harus memperhatikan aspek adaptasi agar terwujud pertanian berkelanjutan. Jangka menengah arah pengembangan teknologi pertanian di lahan rawa untuk meningkatkan kemampuan sektor pertanian dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim antara lain merakit, mendiseminasi dan menerapkan teknologi adaptasi tepat guna; meningkatkan kinerja penelitian dan pengembangan di bidang adaptasi perubahan iklim. Teknologi inovatif untuk optimalisasi lahan rawa dalam adaptasi terhadap perubahan iklim antara lain; pemanfaatan kalender tanam, optimalisasi pemanfaatan lahan melalui sistem surjan, pengaturan tata air, penggunaan varietas unggul spesifik lahan rawa, ameliorasi dan pemupukan.Abstract. The impacts of climate change on wetlands are different depending on the land typology. Climate change in wetlands affect the planting area, biophysical processes, soil properties, plant pests and diseases and greenhouse gases (GHG) emissions. In the swampy wetlands, El-Niño decreases inundation, thereby increases the areas that can be cultivated, especially for lowland rice. El Niño in peatland could increase carbon emissions both due to peat decomposition and to fires, whereas in acid sulfate soil it can increase oxidation of pyrite. During La Niña a decline in area planted occurs in swampy wetlands, whereas in tidal land it causes a change cropping patterns. The specificity of swampland requires special handling technique so that existing potentials can be optimally utilized. Management of wetlands should take into account the adaptation aspects for the realization of sustainable agriculture in wetlands. The medium term strategies of adaptive agricultural technology on wetlands to climate change include: development, dissemination and implementation of appropriate adaptive technologies; and enhancing research and development of adaptive technologies. Innovative technologies for the optimization of wetlands to adapt to climate change, among others; utilization of cropping calendar, optimization of land use through surjan system, water management, the use of swampland-specific improved varieties, soil amelioration and fertilization

    Optimalisasi Penggunaan Lahan Rawa Pasang Surut Mendukung Swasembada Pangan Nasional

    Get PDF
    Abstrak. Lahan rawa pasang surut merupakan sumberdaya lahan yang dapat menjadi sumber pertumbuhan produksi baru produksi pertanian. Namun perlu didukung oleh teknologi budidaya yang handal karena umumnya lahan rawa pasang surut memiliki beberapa kendala meliputi aspek teknis, infrastruktur, dan aspek sosial ekonomi serta kelembagaan. Optimalisasi penggunaan lahan rawa pasang surut sangat strategis dan berpeluang besar untuk meningkatkan produksi padi di lahan rawa pasang surut sehingga berkontribusi signifikan terhadap produksi padi nasional. Optimalisasi tersebut dapat melalui (1) perluasan areal, (2) peningkatan Indeks Pertanaman (IP) (pengelolaan air dan penggunaan varietas unggul), dan (3) peningkatan produktivitas (penataan lahan, pengolahan tanah, ameliorasi dan pemupukan, pengendalian gulma, hama dan penyakit serta penguatan kelembagaan). Apabila dilakukan optimalisasi lahan rawa pasang surut dengan dukungan inovasi teknologi pengelolaan dan budidaya yang baik dan peningkatan indeks pertanaman (IP 200), maka dapat diperoleh tambahan produksi sebesar 2,44 juta ton gabah per tahun. Pencapaian optimalisasi di atas dapat dilakukan secara bertahap dengan penerapan asas prioritas, berkesinambungan, sistematis, dan fokus. Sehubungan dengan keterkaitan yang kuat baik antar sektor maupun antara subsektor pada bidang pertanian sendiri, maka koordinasi, integrasi, sinkronisasi menjadi kunci keberhasilan.Abstract. Tidal swamp land resources can be a source of new production growth of agricultural production. However, it should be supported by reliable cultivation technology due to tidal swamp land generally have some constraints including technical aspects, infrastructure,socio-economics and institution.. Optimization usage of a tidal swamp land is very strategic and has a great opportunity to increase rice production in the tidal wetlands that may contribute significantly to the national rice production. The optimization can be via (1) area expansion, (2) increase the cropping index (IP) (water management and the use of high yielding varieties), and (3) increased productivity (land arrangement, soil tillage, amelioration and fertilization, weed control, pest and disease as well as institutional strengthening). If optimization usage of tidal swamp land is carried out and supported by technological innovation, good cultivation management, and improved cropping indices (IP 200), it is expected to obtain additional production of 3.5 million tons of rice grain per year. This achievement target can be done gradually by implementiing the priority principle, continuity, systematics, and focusing. In the connection of strong linkages among development sectors and sub-sectors in agriculture itself, the koordination, integration, and synchronization are the key of success

    Pemantauan dan Peringatan Dini Kekeringan Pertanian di Indonesia

    Get PDF
    Abstrak. Kekeringan pertanian merupakan bencana alam yang sangat kompleks dan mempengaruhi daerah yang luas. Di Indonesia kejadian kekeringan terjadi hampir setiap tahun dan meningkat tajam pada kondisi El Niño yang menyebabkan penuruan produksi pertanian yang signifikan. Namun, sampai saat ini sistim pemantauan, peringatan dini dan diseminasi kekeringan yang komprehensif dan terintegrasi belum tersedia. Pemantauan kekeringan telah dilakukan dan dilaporkan oleh lembaga terkait seperti LAPAN dan BMKG, sedangkan pemantauan kekeringan pertanian dilakukan oleh Kementerian Pertanian. Dalam membangun sistim peringatan dini kekeringan pertanian, pemantauan saja belum memadai karena diperlukan komponen prediksi dan antisipasi dampaknya. Sampai saat ini prediksi kekeringan pertanian yang operasional untuk wilayah Indonesia belum tersedia. Balitbangtan sedang mengembangkan sistim prediksi bencana kekeringan dan banjir pada tanaman padi, namun belum operasional. Sistim peringatan dini kekeringan pertanian sangat diperlukan untuk menurunkan kehilangan produksi pangan. Tulisan ini memaparkan tentang berbagai definisi, indeks dan karakteristik kekeringan, pemantauan kekeringan, perkembangan terbaru mengenai deteksi dini kekeringan pertanian, dan pendekatan yang diperlukan dalam membangun sistim peringatan dini kekeringan pertanian di Indonesia. Informasi dan isu yang disampaikan pada tulisan ini dapat mendorong pengambil kebijakan untuk mengembangkan dan sistim pemantauan dan peringatan dini untuk mengatasi dampak kekeringan lebih efektif.Abstract. Agricultural drought is the most complex natural hazard and affects large areas then causes significant drops in food production. In Indonesia, paddy field drought occurs almost every year and extends during El Niño phenomena with severe consequences for agricultural production in Indonesia. However, up to now, a comprehensive, integrated drought monitoring, early warning and delivery system did not exist. Drought monitoring has already conducted dan reported by the relevant agencies namely BMKG and LAPAN, while agricultural drought monitoring is conducted by Ministry of Agriculture . For developing agricultural drought early warning systems, beside of monitoring components of prediction impact model on agriculture are also impartant. Currently, operational prediction of agricultural drought in Indonesia is not yet available. Balitbangtan is developing agricultural drought prediction for rice, but is not yet operational. If an effective early warning system for monitoring and predicting agricultural drought can be conducted and developed, decline in food crop production can be minimized. Information from issue presented in this article will help policy maker and planner to develop or improve drought monitoring and early warning system to tackle drought impact more effectively

    Teknologi Ramah Lingkungan dalam Budidaya Kelapa Sawit di Lahan Gambut Terdegradasi

    Get PDF
    Abstrak. Lahan gambut merupakan lahan yang sangat potensial dimanfaatkan untuk tujuan pertanian. Selain fungsi produksi,lahan gambut juga berfungsi dalam sistem hidrologi dan lingkungan. Diperkirakan dari total 14,95 juta hektar lahan gambutIndonesia, sekitar 6,66 juta hektar lahan ini telah terdegradasi. Degradasi lahan gambut menyebabkan fungsi hidrologi, produksi,dan lingkungan menjadi berkurang yang ditandai dengan penurunan produktivitas, pada musim hujan terjadi banjir, dan padamusim kemarau terjadi kekeringan, bahkan kebakaran. Gambut yang terdegradasi mempunyai kesuburan tanah yang lebihrendah, daya pegang air dan porositas lebih rendah, dan jenis dan populasi mikroorganisme lebih sedikit. Degradasi lahan gambutdisebabkan oleh aktivitas manusia seperti pengelolaan air yang salah, penambangan, dan penebangan pohon. Kriteria gambutterdegradasi meliputi (a) kadar karbon < 35 t ha-1, atau (b) tanaman penutup tanahnya merupakan semak belukar atau lahantersebut merupakan lahan terbuka bekas tambang. Meskipun terdegradasi, petani kelapa sawit banyak memanfaatkan lahan ini,sekitar 20-25% lahan gambut terdegradasi dimanfaatkan untuk budidaya kelapa sawit. Untuk itu diperlukan teknologi ramahlingkungan yang mampu menurunkan emisi GRK, meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Teknologi tersebutmeliputi pengelolaan air menggunakan kanal blok, penggunaan amelioran Tankos dan tumpangsari tanaman.Abstract. Peatlands are potential land used for agricultural purposes. In addition to the production function, peatlands alsofunctions in hydrology and environmental systems. It is estimated that of a total of 14.95 million hectares of Indonesia'speatlands, about 6.66 million hectares of land has been degraded. Peatland degradation caused hydrological function, production,and the environment is reduced which is characterized by a decrease in productivity, floods in the rainy season, and droughts inthe dry season, even a fire. Degraded peat has lower in soil fertility, water holding capacity and porosity, and less in the type andpopulation of microorganisms. Peatland degradation caused by human activities such as poor water management is wrong,mining, and felling trees. Degraded peat criteria include (a) the carbon content <35 t ha-1, or (b) the land cover plants are shrubsor open land is a former mining land. Although degraded, oil palm growers are making use of this land, about 20-25% of degradedpeat lands utilized for the cultivation of oil palm. It is necessary for environment friendly technologies that can reduce greenhousegas emissions, improve productivity and income of farmers. These include water management technologies to use chanal block,use ameliorant Tankos and intercropped plants

    Cover JSL Vol.9(2) 2015

    No full text
    Cover JSD

    119

    full texts

    150

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sumberdaya Lahan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇