Jurnal Sumberdaya Lahan
Not a member yet
150 research outputs found
Sort by
Perkembangan dan Permasalahan Sistem Klasifikasi Tanah di Indonesia
Abstrak. Penelitian tanah di Indonesia dimulai sejak tahun 1817 namun secara resmi penelitian klasifikasi tanah di Indonesia dimulai pada tahun 1905. Klasifikasi tanah pertama di Indonesia disusun oleh E. C. J. Mohr pada tahun 1910 yang bekerja di Bodemkundig Instituut. Klasifikasi tanah ini berdasarkan prinsip genesis dan tanah-tanah yang diklasifikasikan diberi nama atas dasar warna. Klasifikasi tersebut mengalami beberapa kali perbaikan diantaranya pada tahun 1910, 1916, 1922, dan 1933. Pada tahun 1972 Mohr bersama van Baren dan Schuylenborgh menerbitkan buku mengenai tanah-tanah di daerah tropika dengan judul "Tropical Soil, A comprehensive study of their genesis". Klasifikasi tanah selanjutnya adalah klasifikasi White yang mulai dikembangkan pada tahun 1931. Dalam sistem klasifikasi White, sifat klasifikasi tanah didasarkan kepada geologi dan tipe pelapukan, namun nama-nama tanah masih terlalu panjang dan rumit. Pada tahun 1938 di tanah Deli telah disusun klasifikasi tanah Druif yang digunakan untuk pemetaan tanah di daerah perkebunan tembakau Deli. Hasil-hasil penelitian Druif secara rinci telah dilaporkan dalam 3 seri buku De Bodem van Deli. Sistem klasifikasi tanah yang dianggap cukup maju, karena berdasarkan morfometrik, adalah sistem klasifikasi Dudal dan Soepraptohardjo (1957, 1961). Sistem klasifikasi ini digunakan dalam pemetaan sumberdaya tanah di Indonesia pada tingkat tinjau dan eksplorasi. Pada tahun 1983, Pusat Penelitian Tanah telah menerbitkan sistem klasifikasi tanah yang ditujukan untuk pemetaan tanah semi detail di calon lokasi transmigrasi. Klasifikasi tersebut didasarkan kepada morfogenetik dan merupakan penyempurnaan dari sistem klasifikasi Dudal dan Soepraptohardjo (1961). Definisi-definisi terutama pada tingkat Macam tanah sebagian besar mengambil definisi dari Legenda Soil Map of the World (FAO/UNESCO, 1974) dan disesuaikan dengan keadaan di Indonesia. Sistem klasifikasi tanah lain yang digunakan di Indonesia adalah sistem klasifikasi taksonomi tanah yang mulai dipublikasikan pada tahun 1975. Sampai saat ini sistem klasifikasi ini masih digunakan dengan mengacu kepada buku Keys to Soils Taxonomy edisi ke kesebelas (Soil Survey Staff, 2010). Sistem klasifikasi lain yang sering digunakan adalah sistem Satuan Peta Tanah Dunia dari FAO/UNESCO (1974). Sampai dengan tahun 2013, Indonesia belum mempunyai sistem klasifikasi tanah nasional, meskipun beberapa kali Kongres Nasional Himpunan Ilmu Tanah Indonesia telah mengamanatkan untuk menyusun klasifikasi tanah nasional. Upaya yang dilakukan oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian berhasil menyusun konsep klasifikasi tanah nasional yang mulai diperkenalkan pada tahun 2013, namun konsep ini masih memerlukan penyempurnaan dan pengakuan dari para pakar genesis dan klasifikasi tanah di seluruh Indonesia.Abstract. Soil research in Indonesia began in 1817 but officially soils classification research began in 1905. The first soil classification of soils in Indonesia was prepared by E. C. J. Mohr in 1910 at Bodemkundig Instituut. Soils classification is based on the principle of genesis and soils classified are named on the basis of color. This classification was updated several times in 1910, 1916, 1922, and 1933. In 1972 Mohr with van Baren and Schuylenborgh published a book on soils in the tropics with the title "Tropical Soil, A comprehensive study of their genesis". Further soil classification is White classification which was developed in 1931. In the White classification system, the nature of the soil classification is based on geology and type of weathering, but the names of the soil is still too long and complicated. In 1938 in Deli soil classification was prepared by Druif for soil mapping in the area of tobacco plantation. Druif research results have been reported in detail in 3 series of book De Bodem van Deli. Soil classification system considered advanced, based on morphometric, is a classification system of Dudal and Soepraptohardjo (1957, 1961). This classification system is used in the soil mapping resources in Indonesia at the level of semi detail and exploration. In 1983, the Centre for Soil Research has published a soil classification system intended for semi-detailed soil mapping for transmigration program. The classification is based on the morphogenetic and a refinement of the classification system of Dudal and Soepraptohardjo (1961). Various definitions various especially at great group level is mostly using the definition of the Legend of the Soil Map of the World ( FAO / UNESCO, 1974) and adapted to the soil classification in Indonesia. Other soil classification system used in Indonesia is the soil taxonomy classification system which was began to be published in 1975. This soil classification system is still used to refer to the book of Keys to Soils Taxonomy, eleventh edition (2010). Other soil classification system is a World Soil Map Unit of the FAO/UNESCO (1974). Up till 2013, Indonesia does not have a national soil classification system, although several times of the National Congress of Soil Science Society of Indonesia has mandated to formulate a national soil classification. The efforts made by the Indonesia Center for Agricultural Land Resources Research and Development is successful to draft national soil classification which was introduced in 2013, but this concept still requires improvement and recognition from experts soil genesis and classification throughout Indonesia
Peran Ligan Organik terhadap Pembentukan Oksida Besi di Tanah Sulfat Masam
Abstrak. Besi oksida dalam tanah terdiri atas goetit (α-FeOOH) berwarna kuning/coklat, hematit (α-Fe2O3) berwarna merah, lepidokrosit (γ-FeOOH) berwarna kuning, maghemit (γ-Fe2O3), magnetit (Fe3O4) berwarna hitam dan ferrihidrit (5Fe2O3.9H2O atau Fe5HO8.4H2O) mempunyai tingkat reaktivitas yang berbeda-beda terhadap ion-ion dalam tanah yang dipengaruhi oleh muatan negatif dan positif dari permukaan besi oksida tersebut. Tanah sulfat masam merupakan salah satu jenis tanah di lahan rawa yang memiliki kandungan bahan sulfidik (pirit) cukup tinggi. Oksidasi senyawa pirit di tanah sulfat masam selain memasamkan tanah akan menghasilkan besi (III) koloidal yang kelamaan akan membentuk besi oksida goetit. Keberadaan ligan organik dalam tanah memiliki peranan yang cukup penting terhadap kristalisasi besi oksida dalam tanah. Semakin besar rasio ligan/Fe(II) dalam tanah maka kristalisasi besi oksida semakin terhambat. Pada tanah masam kehadiran ligan sitrat mempengaruhi terhadap sifat permukaan oksida Fe. Keberadaan asam organik yang merupakan ligan organik akan memberikan dampak terhadap pembentukan goetit dan hematit dari ferrihidrite.Abstract. Iron oxides in the soil consisted of goethite (α-FeOOH) with yellow or brown colour, hemathite (α-Fe2O3) with red, lepidocrocite (γ-FeOOH) with yellow, maghemite (γ-Fe2O3), magnetite (Fe3O4) with black and feryhidrite (5Fe2O3.9H2O or Fe5HO8.4H2O) have different levels of reactivity against different ions in the soil which is influenced by positive and negative charge of the surface of the iron oxide. Acid sulphate soil is one of the soils in wetlands that contain higher sulfidic materials (pyrite). Pyrite oxidation in acid sulphate soil is not only increasing acidity but also producing iron (III) colloidal, which over time will form the iron oxide goethite. The presence of organic ligands in soils has an important role to the crystallization of iron oxides in the soil. The greater the ratio of ligand/Fe (II) in the soil greatly inhibited the crystallization of iron oxide. The presence of citrate ligands in acid soils affects the surface properties of Fe oxides. The presence of organic acid as an organic ligand will affect the formation of goethite and hemathite from ferryhidrite
Residu Jerami Padi untuk Meningkatkan Produktivitas Tanah Sulfat Masam Berkelanjutan
Abstrak. Lahan pasang surut sulfat masam baik aktual maupun potensial cukup luas sebarannya di tanah air sehingga berpotensi untuk perluasan pertanian. Kemasaman tanah, rendahnya ketersediaan hara, dan keracunan besi adalah kendala tanah utama yang sering menghambat pertumbuhan tanaman di tanah ini. Pengelolaan bahan organik adalah salah satu komponen teknologi penting untuk meningkatkan produktivitas tanah sulfat masam yang berkelanjutan. Makalah ini memaparkan potensi residu jerami padi sebagai sumber hara dan amelioran yang mampu meningkatkan produktivitas tanah sulfat masam berkelanjutan. Penggunaan residu jerami padi mempunyai peran yang sangat penting dalam meningkatkan produktivitas tanah sulfat masam karena residu jerami padi dapat menjadi sumber hara tanaman, meningkatkan efisiensi pemupukan P, dan mengurangi tingkat keracunan Fe. Penggunaan residu jerami padi dapat meningkatkan produksi padi sawah pada tanah sulfat masam. Bila residu jerami padi ini dikombinasikan dengan komponen teknologi lainnya seperti penggunaan decomposer trichoderma, varietas padi tahan keracunan besi (IR 66 dan Margasari), dan biofilter di saluran air masuk maka hasil tanaman padi akan lebih tinggi.Abstract. Large amount of acid sulfate soil area both actual and potential acid sulfate soil in Indonesia is potential for agriculture development. Soil acidity, low nutrient availability, and iron toxicity are some constrains that often limit plant growth in the soils. Organic matter management is one of the important technologies to increase sustainable acid sulfate soil productivity. This paper discuses the potency of rice straw residues as a source of nutrients and ameliorant that are able to increase sustainable acid sulfate soil productivity. The use of rice straw residue is a very important role in increasing acid sulfate soil productivity because it could be a source of plant nutrients, improve efficiency of P fertilizer, and reduce Fe toxicity. The use of rice straw residues can increase rice production at acid sulfate soil. If the rice straw residue is combined with other component of technologies, such as the use of decomposer of trichoderma, planting rice variety that is resistant to iron toxicity (IR 66 and Margasari), and a the use of biofilter in the inlet canal, the rice production would be higher
Dinamika Besi pada Tanah Sulfat Masam yang Ditanami Padi
Abstrak. Tanah sulfat masam mempunyai potensi dan berpeluang besar bagi pengembangan usaha tani padi. Sebagian besar tanah sulfat masam terletak pada daerah rawa yang mendapat pengaruh langsung ataupun tidak langsung dari pasang surutnya air laut sehingga kondisi basah dan kering tanah dapat menyebabkan perubahan sifat kimia tanah seperti kondisi redoks tanah, konsentrasi besi (Fe) dan pH tanah serta terakumulasinya asam-asam organik. Aktivitas budidaya padi sawah menunjukkan suatu pola dinamika Fe yang berubah-ubah sebagai akibat dari interaksi faktor-faktor lingkungan (pH tanah, kondisi redoks, jenis mineral, bahan organik) dan mikroorganisme tanah.Abstract. Acid sulphate soil has a potential and great opportunity for the development of rice farming. Most acid sulphate soils are located in swampy areas that receive direct or indirect influence of the flow of sea water, so that the wetting and drying soil condition can cause chemical changes in soil properties such as soil redox conditions, the iron (Fe) concentration, pH and the accumulation of organic acids. Rice farming practice showed a changing pattern of Fe dynamics as a result of the interaction between environmental factors (soil pH, redox conditions, types of minerals, organic matter), and soil microorganisms
Diseminasi Teknologi Konservasi Tanah Berbasis Web untuk Perencanaan Implementasi Sistem Usahatani Konservasi di Lahan Kering Mendukung Pertanian Ramah Lingkungan
Abstrak. Pengelolaan lahan kering secara berkelanjutan memiliki peran sangat strategis dalam mendukung swasembada pangan di Indonesia. Lemahnya implementasi teknologi konservasi tanah di lapangan menjadi salah satu kendala dalam mempertahankan dan meningkatkan produktivitas lahan kering. Tanpa tindakan konservasi tanah, lahan kering akan rentan terhadap erosi yang mengakibatkan degradasi lahan. Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut, diantaranya melalui kegiatan diseminasi yang efektif dan terus-menerus mengenai teknologi konservasi tanah sehingga kegiatan pertanian yang dilakukan dapat bersifat ramah lingkungan. Pengemasan alat diseminasi yang menarik dan mudah dicerna akan menentukan keberhasilannya. Sistem pengambilan keputusan (decision support system) diperlukan oleh pelaku pertanian untuk melakukan penilaian potensi erosi dan pemilihan teknik konservasi tanah yang tepat secara mandiri. Sistem ini telah dibuat oleh Balai Penelitian Tanah pada tahun 2007 dan diberi nama program SPLaSH (Sistem Pengelolaan Lahan Sesuai Harkat) tetapi masih memiliki kelemahan dalam proses diseminasinya karena masih berbasis komputer tunggal (desktop). Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi internet dan web sebagai basis bagi sistem pengambilan keputusan menjadi pilihan terbaik saat ini. Data spasial tersedia yang memiliki atribut lengkap akan memberikan kemudahan aplikasinya. Perbedaan skala menyebabkan fasilitas perubahan tetap diperlukan agar pelaku pertanian dapat mengisi variabel data sehingga lebih sesuai dengan kondisi lahan sebenarnya. Dukungan basis data yang kuat serta akses jaringan internet yang luas dan handal akan menentukan keberhasilan proses diseminasi selanjutnya. Sistem pengambilan keputusan berbasis web yang diberi nama “Sistem Informasi Pengelolaan Lahan” ini diharapkan dapat mempermudah pelaku pertanian untuk mengakses informasi teknologi konservasi tanah yang tepat secara spesifik lokasi agar produktivitas lahan meningkat sekaligus menjaga keberlanjutannya.Abstract. Sustainability of upland management has a very strategic role in supporting food-self sufficiency in Indonesia. Weak implementation of soil conservation technology in the field is one of constraint factors in maintaining and increasing the productivity of upland. Without soil conservation measures, upland soil would be vulnerable to soil erosion which leads to land degradation. There are many ways to overcome these constraint including effective and continuously dissemination of soil conservation technologies to support environmentally friendly agriculture. Interesting and user friendly dissemination package will determine its success. Decision support system is needed by agricultural stakeholders and smallholders to assess the potential of their land to soil erosion and the selection of appropriate soil conservation techniques. This system has been created by Indonesian Soil Research Institute in 2007 and named as SPLaSH (Sistem Pengelolaan Lahan Sesuai Harkat). The program has a weakness in dissemination effort because it is still based on single computer personal unit (desktop). Therefore, the use of internet and web technologies as a basis for decision-making system are the best choice at this time. Spatial data availability with full attributes will provide ease of its application. However, the differences in scale by alteration on this default values still needed, so that users can fill data that are better suited to the actual conditions of their agricultural land. Database support system and broader reliable internet access will determine the future of success of dissemination. It is expected that within this web-based decision support system stakeholders and smallholders can easily access the information on the appropriate soil conservation technologies in specific sites in order to increase land productivity as well as maintaining land sustainability
Evaluasi Kesesuaian Lahan Mineral dan Gambut untuk Peremajaan Tanaman Kelapa Sawit (Studi Kasus pada Beberapa Kebun Plasma di Provinsi Riau)
Abstrak. Kesesuaian lahan sangat berkaitan dengan potensi perkebunan kelapa sawit plasma yang mampu berproduksi secara optimum dan berkelanjutan sehingga sangat diperlukan baik untuk pembangunan kebun baru maupun peremajaan (replanting). Untuk itu, dilakukan penelusuran kegiatan karakterisasi lahan mineral dan gambut serta evaluasi kesesuaiannya untuk peremajaan tanaman yang sudah tidak produktif di beberapa kebun plasma selama periode 3 tahun dari 2007-2009. Semua kebun bermitra dengan PTPN 5 yaitu kebun plasma Sei Pagar Kabupaten Kampar Kiri dengan agroekosistem gambut dangkal (<300 cm), Sei Galuh Kabupaten Kampar Kanan dengan agroekosistem gambut dalam (500-1200 cm), dan Sei Tapung Kabupaten Rokan Hulu dengan agroekosistem tanah mineral kering masam, Provinsi Riau. Gambut dangkal mendominasi kebun kelapa sawit plasma di Sei Pagar, memiliki kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2), pembatas retensi unsur hara (nr) dengan produktivitas rata-rata > 24 t tbs ha-1 th-1. Selain itu, ditemui juga lahan berbahan induk alluvial masam bergambut yang memiliki kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2), pembatas ketersediaan unsur hara rendah dan retensi unsur hara (ns,nr), dengan produktivitas rata-rata >20 t tbs ha-1 th-1. Gambut dalam terdapat di kebun plasma Sei Galuh, memiliki kelas kesesuaian lahan sesuai marginal (S3), pembatas perkembangan perakaran, ketersediaan unsur hara rendah, dan retensi unsur hara (rc,ns,nr) dengan produktivitas rata-rata <12 t tbs ha-1 th-1. Kebun kelapa sawit plasma di Sei Tapung didominasi oleh tanah mineral kering masam dengan topografi datar-berbukit, ada hubungan antara persentase lereng dengan kelas kesesuaian dan produktivitas kelapa sawit. Pada topografi datar (lereng 0-3%), kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2), pembatas retensi unsur hara (nr), dengan produktivitas rata-rata >20,43 t tbs ha-1 th-1. Pada topografi berombak-bergelombang (lereng 3-8%), kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2), pembatas retensi unsur hara dan bahaya erosi ringan (nr,eh), dengan produktivitas rata-rata >17,21 t tbs ha-1 th-1. Pada topografi berbukit (lereng>15%), kelas kesesuaian lahan sesuai marginal (S3), pembatas bahaya erosi, perkembangan perakaran, dan retensi unsur hara (eh,rc,nr) dengan produktivitas rata-rata <16,44 t tbs ha-1 th-1.Abstract. Land suitability evaluation has a significant correlation with the potential of smallholder oil palm plantation for optimum and sustainable production so that this activity become a prerequisite for both development of new plantation and replanting. Based on this reason, a review on the charachterization of mineral and peatland and its suitability evaluation for replanting of oil palm plantation on several smallholder oil palm plantation were conducted for the periode of 3 years, from 2007-2009. All plantation are under PTPN 5 partnership collaboration, namely Sei Pagar, Kampar Kiri Regency with shalow peat agroecosystem, Sei Galuh Kampar Kanan Regency with deep peat agroecosystem, and Sei Tapung Rokan Hulu Regency with mineral soil agroecosystem, Riau Province. The plantation areas are in Sei Pagar, dominated by shalow peatlands (<300 cm) with moderate suitability status (S2), and nutrients retention as a constraint (nr) and the average productivity is >24 t fruit bunches ha-1year-1. There is also found acidic clay alluvial as parent materials with moderate suitability status (S2), and root condition and nutrients retention (rc,nr) as constraints, and the average producitivity is >20 t fruit bunches ha-1 year-1. Deep peatlands (500-1200 cm) are located at Sei Galuh with marginal suitability status (S3), and root condition, nutrients supply, and nutrients retention as the constraint (rc, ns,nr), and average productivity <12 t fruit bunches ha-1year-1. Sei Tapung areas are dominated by upland acid mineral soils with plain-highly topography. In this location, and there is a significant correlation between slope degrees and land sutaibility status and oil palm productivity. On the plain topography (slope 0-3%), land suitability is a moderate (S2) and nutrients retention (nr) as constraint with average productivity >20,43 t fruit bunches/ha/year. The lands with undulating-rolling tofographiq (slope degree 3-8%), land suitability status was moderate suitable (S2), nutrients retention and slighty erosion hazard (nr,eh) as the constraints and average productivity is >17,21 t fruit bunches ha-1year-1. On the hilly topography areas (slope >15%), the lands are marginal suitability status (S3) with heavy erosion hazard, root condition, and nutrients retention as constraints, and average oil palm productivity is <16,44 t fruit bunches ha-1year-1
Karakteristik dan Potensi Lahan Sub Optimal untuk Pengembangan Pertanian di Indonesia
Abstrak. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan pangan nasional, semakin meningkat pula kebutuhan lahan untuk pengembangan pertanian. Oleh karena terbatasnya cadangan lahan pertanian subur, maka untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional harus memanfaatkan lahan sub optimal. Lahan sub optimal adalah lahan yang secara alamiah mempunyai produktivitas rendah karena faktor internal dan eksternal. Untuk mengidentifikasi karakteristik dan potensi lahan sub optimal di Indonesia, telah dilakukan analisis terhadap basisdata sumberdaya lahan yang tersedia baik secara tabular maupun spasial dengan menggunakan GIS, serta berdasarkan hasil kajian di lapangan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa lahan sub optimal dapat dipilah menjadi lahan kering masam, lahan kering iklim kering, lahan rawa pasang surut, lahan rawa lebak dan lahan gambut. Dari 189,2 juta ha daratan Indonesia, sekitar 108,8 juta ha termasuk lahan kering masam, terluas menyebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Sedangkan lahan kering iklim kering seluas 13,3 juta ha tersebar di Kaltim, Jatim, Bali, NTB dan NTT. Untuk lahan rawa terdiri dari rawa pasang surut seluas 11 juta ha, lahan rawa lebak 9,2 juta ha, dan lahan gambut seluas 14,9 juta ha, terluas terdapat di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Dari 157,2 juta ha lahan sub optimal, sekitar 91,9 juta ha sesuai untuk pengembangan pertanian, dan sekitar 71,2 juta ha telah digunakan untuk lahan pertanian, pembangunan infrastruktur, dan pemukiman. Sisanya merupakan lahan cadangan masa depan, yang akan bersaing pemanfaatannya baik dalam sub sektor (perkebunan, pangan, hortikultura) maupun antar sektor (pertambangan, perindustrian, infrastruktur, pemukiman). Pemanfaatan lahan sub optimal akan menjadi tumpuan harapan masa depan, namun memerlukan inovasi teknologi untuk mengatasi kendalanya sesuai karakteristik dan tipologi lahannya. Intensifikasi lahan pertanian eksisting juga perlu dilakukan untuk menjawab tantangan peningkatan permintaan terhadap pangan dan hasil pertanian lainnya.Abstract. The demand for agricultural land increases with the increasing population and the demand for food. Availability of the fertile, more suitable land, is decreasing and thus future development should include sub-optimal lands. Sub-optimal lands are those land with low natural fertility due to the intrinsic properties and environmental forming factors. For evaluating the characteristics and potentials of Indonesian sub-optimal lands we analyzed the tabular and spatial land resources database using the Geographical Information Systems (GIS) and field observations. The analysis resulted in groupings of sub-optimal lands into, acid upland, semi-arid upland, acid sulfate tidal swamp, inland swamplands and peatland. From the total of 189.2 million ha Indonesian land, about 108.8 million ha is classified as acid upland, distributed mainly in Sumatra, Kalimantan and Papua. Semi-arid uplands of 13.3 million ha is distributed in East Kalimantan, East Java, Bali, West Nusa Tenggara and East Nusa Tenggara. The swampland, consisted of 11 million ha tidal swamps, 9.2 million ha inland swamp and 14.9 million ha peatlands in Sumatra, Kalimantan and Papua. Among the 157.2 million ha sub-optimal lands, about 91.9 million ha are suitable, but 70 million ha have been used for various uses of agriculture, infrastructure and settlement, and the remaining 21.9 million ha can be considered as land reserve for future uses with an intensified competition between sub-sectors (plantations, food crops, horticulture) as well as across sectors (mining, industry, infrastructure, settlement). The use of sub-optimal lands will become the last resort that should be managed wisely by technological innovation in accordance with the land characteristics and typologies. Maintenance and intensification of existing agricultural must also be done to address the ever-increasing demands for food, oil, fiber and timber
Perkembangan dan Strategi Percepatan Pemetaan Sumberdaya Tanah di Indonesia
Abstrak. Pembangunan pertanian Indonesia yang sangat pesat, menuntut penyediaan data/informasi sumberdaya tanah yang semakin banyak dan cepat. Berkaitan dengan hal tersebut diperlukan percepatan penyediaan data/informasi sumberdaya tanah pada tingkat semi detail atau lebih besar, melalui pengembangan metodologi yang lebih cepat, efektif, dan efisien. Pemetaan tanah di Indonesia pada berbagai tingkat pemetaan atau skala, telah mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir baik yang menyangkut identifikasi dan karakterisasi tanah maupun dalam teknologi delineasi satuan peta. Strategi yang dapat digunakan untuk mempercepat dan meningkatkan kualitas pemetaan tanah di Indonesia adalah sebagai berikut: (a) Penggunaan peralatan yang mutakhir, (b) Pemetaan tanah semi detail sistematis menggunakan metode pemetaan tanah digital (digital soil mapping) dibantu dengan teknik penginderaan jauh yang dipadukan dengan digital elevation model, (c) Pemetaan tanah detail yang dilakukan pada daerah yang tidak mempunyai data sebelumnya dengan menggunakan grid sistem fleksibel, dan (d) Penggunaan metode pemetaan dengan memanfaatkan data base tanah sebagai data warisan.Abstract. Rapid development of Indonesia's agricultural sector requires the provision of data/information on agricultural land resources more quickly. In relation to that, it requires the acceleration of provision of data/information on land resources at semi detail level or greater through the development of methodologies that are faster, effectively and efficiently. Mapping of land resources in Indonesia at various levels of mapping or scale have followed the development of cutting-edge science and technology concerning both the identification and characterization of land resources and the technology of mapping unit delineation. Strategies that can be used to accelerate and improve the quality of soil mapping in Indonesia are as follows: (a) the use of sophisticated equipment, (b) semi-detailed soil mapping using a systematic method of digital soil mapping assisted by remote sensing techniques combined with DEM, (c) detailed soil mapping in the area which does not has any previous data using a flexible grid system, and (d) the use of the mapping methods by using database as legacy data