Gaster : Jurnal Kesehatan
Not a member yet
165 research outputs found
Sort by
ANALISA PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG ANEMIA DENGAN KEPATUHAN MENGKONSUMSI TABLET ZAT BESI
Latar Belakang: Menurut Depkes RI, di Indonesia terdapat (67%) ibu hamil mengalami anemia. Berdasarkan ketetapan WHO, anemia bumil di Indonesia sangat bervariasi, yaitu: 1) Normal jika Hb 11 gr%, 2) Anemia ringan jika Hb 9-10 gr%, 3) Anemia sedang jika Hb 7-9 gr%, 4) Anemia berat jika Hb 5-7 gr%. Anemia defiensi besi pada ibu hamil merupakan salah satu masalah gizi yang paling banyak dijumpai di Indonesia. Mengingat bahaya anemia pada ibu hamil dan janin, maka berbagai upaya pencegahan terhadap anemia telah dilakukan, antara lain dengan penyelenggaraan program Suplementasi di Indonesia, dimana setiap ibu hamil mendapatkan 90 tablet zat besi folat yang harus diminum setiap hari sejak bulan ketujuh kehamilan. Tujuan: Menganalisa hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang anemia dengan kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di Puskesmas Simo Boyolali. Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus 2013. Populasinya adalah ibu hamil TM II keatas, dengan responden 35 . Hasil: diperoleh c2 hitung > c2tabel (10,638 > 5,991) maka diputuskan untuk menolak Ho dan Ha diterima. Simpulan: Ada hubungan antara pengetahuan tentang anemia dengan kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi.Kata Kunci: Pengetahuan, Kepatuhan ,Tablet Zat Bes
TINGKAT STRES DAN DISMENOREA PADA REMAJA KELAS XI PROGRAM AKSELERASI DAN REGULER DI SMAN 3 SURAKARTA
Latar belakang : Masa remaja merupakan masa peralihan dimana terjadi perubahan fisik dan psikologis. Perubahan fisik yang tidak diimbangi dengan perubahan psikologi, serta tuntutansekolah untuk berprestasi menyebabkan remaja mudah rejama mudah mengalami stres. Keadaan tersebut bisa menyebabkan gangguan sistem reproduksi, salah satunya dismenorea. Tujuan Mengetahui hubungan tingkat stres dengan dismenorea pada remaja kelas XI di SMA Negeri 3 Surakarta. Metode Jenis penelitian ini adalah observasional analitik. Sampel diambil dengan menggunakan tehnik insidental sampling pada 30 siswi akselerasi dan 30 siswi reguler. Hasil penelitian menunjukkan siswi kelas XI akselerasi mayoritas mengalami tingkat stres sedang (30%) dengan dismenorea (67%), siswi kelas XI reguler mayoritas mengalami tingkat stres ringan (43%) dengan tidak dismenorea (57%), sedangkan dari seluruh sampel mayoritas mengalami tingkat stres ringan (40%) dengan dismenorea (55%). Simpulan Ada hubungan antara tingkat stres dengan dismenorea pada remaja kelas XI di SMA Negeri 3 Surakarta. Terdapat hubungan yang kuat antara tingkat stres dengan dismenorea.Kata kunci : Dismenorea, Remaja, Tingkat stre
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN SUAMI TENTANG ALAT KONTRASEPSI VASEKTOMI DI DESA SAMBIROTO NGAWI
Latar Belakang: Perkembangan laju peningkatan pertumbuhan penduduk di Indonesia sangat mengkhawatirkan, penduduk Indonesia berjumlah kurang lebih 228 juta jiwa, laju pertumbuhan 1,64% dan TFR 2,6%. Pelayanan KB merupakan upaya untuk mendukung kebijakan program KB nasional, Warga Jawa Timur cukup antusias mengikuti program KB. Hingga Desember 2011, jumlah peserta KB aktif mencapai 6.150.153 jiwa atau 126,46%, Dari peserta KB aktif, pengguna KB suntik sebanyak 48,2%, pil 21,01%, IUD atau spiral 14%, implan 8,5%, metode operatif wanita 5%, metode operatif pria 0,4%. Sementara pengguna kondom 1,5%. Tujuan: Mengetahui karakteristik dan mengetahui tingkat pengetahuan suami tentang alat kontrasepsi Vasektomi antara lain pengertian, syarat, kontraindikasi, indikasi, perawatan post operasi, efek samping, dan kapan untuk kunjungan ulang di Desa Sambiroto Ngawi. Metode: Penelitian deskriptif dengan teknik samplingProbability Sampling dengan jenis Simple Random Sampling. Populasi penelitian ini adalah suami usia 35-45 tahun 65 responden dengan jumlah sampel 56 responden. Hasil: Karakteristik suami berdasarkan umur paling banyak adalah umur 41 tahun, pekerjaan sebagian besar bekerja sebagai tani, pendidikan sebagian besar berpendidikan SMP, penghasilan sebagian besar berpenghasilan sebesar Rp. 500.000-1.000.000, mayoritas suami sebagian besar belum mendapatkan informasi tentang diet seimbang, sumber informasi yang diperoleh suami tentang alat kontrasepsi vasektomi sebagian besar dari teman, pengetahuan suami usia 35-45 tahun tentang alat kontrasepsi vasektomi yaitu dalam kategori baik. Simpulan: Berdasarkan hasil penalitian, pengetahuan suami usia 35-45 tahun tentang alat kontrasepsi vasektomi di Desa Sambiroto Ngawi yaitu dalam kategori baik.Kata Kunci: Alat Kontrasepsi Vasektomi, Pengetahua
OPTIMALISASI TUMBUH KEMBANG BALITA DENGAN PENINGKATAN PENGETAHUAN IBU TENTANG GIZI BALITA
Latar belakang: Masa balita sangat penting untuk perkembangan seorang individu. Banyak faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang masa balita, salah satunya adalah nutrisi. Pemenuhan nutrisi yang terganggu akan mengganggu sistem otak sehingga secara tidak langsung akan mengganggu tumbuh kembang balita. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang gizi balita dengan perkembangan motorik kasar balita usia 3-36 bulan di Posyandu Mugi Lestari, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen. Metode: Observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, jumlah responden sebanyak 50 responden dengan teknik kuota sampling. Analisa data menggunakan uji chi square (X2). Hasil: Hasil analisis data diperoleh nilai p 0,494 (<0,05), yang berarti Ha ditolak dan Ho diterima.Simpulan:Tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang gizi balita dengan perkembangan motorik kasar balita usia 3-36 bulan di posyandu Mugi Lestari, Keamatan Miri, Kabupaten Sragen.Kata kunci : Pengetahuan, Gizi Balita, Perkembangan Motorik Kasa
KARAKTERISTIK AKSEPTOR KONTRASEPSI SUNTIK DMPA DI DESA GRINGGING, SAMBUNGMACAN, SRAGEN
Latar belakang: Akseptor kontrasepsi suntik di Indonesia menempati urutan pertama, dalam penggunaan kontrasepsi suntik petugas kesehatan harus menjelaskan efektifitas, keuntungan, kerugian, indikasi dan kontraindikasi pada calon akseptor KB suntik. Efektifias kontrasepsi suntik adalah (99%) dan (100%) dalam mencegah kehamilan. Hasil Survey Demografi dan Kependudukan Indonesia (SDKI) di Jawa Tengah pada tahun 2007, menunjukkan bahwa pemakaian kontrasepsi suntik adalah cara yang paling umum dipakai oleh wanita.Tujuan penelitian: Untuk mengetahui gambaran karakteristik akseptor kontrasepsi suntik DMPA di Desa Gringging, Sambungmacan, Sragen. Metode penelitian: Dengan menggunakan observasional deskriptif. Rumus analisa data yang digunakan adalah distribusi frekuensi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling pada 36 responden akseptor suntik DMPA. Hasil penelitian: Karakteristik akseptor suntik DMPA sebagian besar usia 20-35 tahun, berpendidikan dasar, pekerjaan petani, penghasilan < Rp.500.000, mempunyai dua anak atau lebih, umur anak terkecil dua tahun atau lebih dan lama penggunaan kontrasepsi kurang dari dua tahun atau lebih dari dua tahun adalah sama. Simpulan: Mayoritas responden adalah usia reproduksi yaitu umur 20-35 tahun, berpendidikan rendah, status sosial cukup , mempunyai dua anak atau lebih, umur anak terkecil dua tahun atau lebih dan lama penggunaan kontrasepsi kurang dari dua tahun atau lebih dari dua tahun adalah sama. Kata Kunci: Kontrasepsi, Suntik, DMP
PENERAPAN METODE E-LEARNING DAN KEBIASAAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA KULIAH DOKUMENTASI KEBIDANAN (Pada Mahasiswa Kebidanan STIKES ‘Aisyiyah Surakarta)
Pendahuluan: Pemanfaatan teknologi informasi (internet) dalam dunia pendidikan sering disebut dengan e-learning. Penerapan metode e-learning merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, selain itu prestasi belajar juga dapat dipengaruhi oleh kebiasaan belajar. Kebiasaan belajar yang baik akan meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Tujuan: mengetahui pengaruh metode e-learning dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar mata kuliah dokumentasi kebidanan pada mahasisw Kebidanan. Metode: penelitian analitik dengan pendekatan randomized controlled trial (RCT). Sampel yang digunakan 60 responden dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil: dengan menggunakan regresi logistik (á 0,05) didapatkan bahwa mahasiswa yang mendapatkan metode bejalar e-learning memiliki kemungkinan untuk kompeten setengah kali lebih rendah daripada mahasiswa dengan metode belajar konvensional Simpulan: Tidak ada pengaruh yang signifikan antara metode e-learning dengan prestasi belajar tetapi ada perbedaan yang signifikan antara kebiasaan belajar dengan prestasi belaja
INVASIVE PNEUMOCOCCAL DISEASE (IPD)
Pneumonia adalah infeksi akut jaringan (parenkim) paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing, ditandai dengan demam, batuk dan sesak nafas. Pada usia anak-anak, pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Golongan yang paling rentan adalah anak usia di bawah 2 tahun. Tanda-tanda Penumonia sangat bervariasi, tergantung golongan umur, mikroorganisme penyebab, kekebalan tubuh (imunologis) dan berat ringannya penyakit. Pemeriksaan penunjang: rontgen dada, pembiakan dahak, hitung jenis darah, dan gas darah arteri. Pneumonia bisa dicegah dengan vaksin pneumonia (pneumovax). Vaksin ini disebut Pneumococcal 7 valent conjugated vaccine (PCV7), yang memberikan solusi dalam pencegahan penyakit pneumokokus invasif pada anak. Vaksin ini mengandung ekstrak dari 7 tipe kuman Streptokokus. Vaksin ini akan memberikan kekebalan dari serangan penyakit meningitis, pneumonia dan otitis media. Jadwal pemberian vaksin dilakukan 4 kali: usia 2, 4, 6 bulan dan antara 12-15 bulan dengan kondisi yang telah dikonsultasikan dengan dokter spesialis anak.Kata kunci: pneumonia, batuk, vaksinas
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI) CAMPAK DENGAN KECEMASAN IBU PASCA IMUNISASI DI PUSKESMAS SANGKRAH SURAKARTA
Pendahuluan: Pengetahuan ibu tentang program imunisasi dan efek sampingnya sangat diperlukan dalam pelaksanaan imunisasi, terlebih masih adanya 12 kasus campak yang terdapat pada wilayah kerja Puskesmas Sangkrah yang memerlukan kesadaran ibu untuk mengimunisasikan anaknya. Ibu harus tahu efek samping setelah pelaksanaan imunisasi campak yang dikenal dengan KIPI. Kebanyakan anak menderita demam setelah mendapat imunisasi campak dan seringkali ibu-ibu cemas dan khawatir. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu tentang KIPI campak dengan kecemasan ibu pasca imunisasi. Metode: Desain penelitian menggunakan jenis observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling menggunakan accidental sampling, berjumlah 67 responden. Hasil: Sebanyak 36 responden (53,7%) memiliki pengetahuan diatas rata-rata sehingga tergolong baik, dan sebanyak 37 responden (55%) memiliki skor dibawah rata-rata sehingga tidak mengalami kecemasan, Analisa korelasi pearson menghasilkan nilai rho 0,4393 dengan p-value<a (0,000<0,05), dengan arah korelasi negatif. Simpulan: Ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang KIPI campak dengan kecemasan ibu pasca imunisasi di Puskesmas Sangkrah Surakarta. Kata Kunci : Pengetahuan Ibu, KIPI campak, Kecemasa
HUBUNGAN MOTIVASI DENGAN EFIKASI DIRI PASIEN DM TIPE 2 DALAM MELAKUKAN PERAWATAN KAKI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PONOROGO UTARA
Motivasi dan Efikasi diri diperlukan bagi pasien DM tipe 2 untuk meningkatkan kemandirian pasien dalam mengelola penyakitnya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan antara motivasi dengan efikasi diri pasien DM tipe 2 dalam melakukan perawatan kaki di wilayah kerja Puskesmas Ponorogo Utara. Desain dalam penelitian ini adalah analitik cross sectional dengan jumlah sampel 55 pasien DM tipe 2.Pengumpulan data dengan kuesioner dan analisa data menggunakan Chi square. Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden mempunyai motivasi dan efikasi diri yang baik, serta terdapat hubungan antara motivasi dan efikasi diri pasien DM Tipe2 dalam melakukan perawatan kaki. Diharapkan perawat dapat meningkatkan motivasi dan efikasi diri pasien DM tipe 2 dengan memberikan pendidikan kesehatan terstruktur, memfasilitasi pemberian dukungan sosial dan memberikan intervensi untuk mencegah munculnya komplikasi yang dapat menyebabkan kematian. Kata kunci : Motivasi, efikasi diri, DM tipe
PERBEDAAN STATUS EKONOMI DAN DUKUNGAN SUAMI ANTARA KELOMPOK IBU YANG MEMBERIKAN ASI EKSKLUSIF DAN IBU YANG TIDAK MEMBERIKAN ASI EKSKLUSIF DI PUSKESMAS WONOGIRI II
Setiap Ibu melahirkan dianjurkan dapat memberikan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif kepada bayinya, kecuali dalam kondisi tertentu, seperti adanya indikasi medis; ibu tidak ada atau ibu terpisah dari bayi. Suami merupakan bagian penting dalam keberhasilan atau kegagalan menyusui, karena suami menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (let down reflex) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi dan perasaan ibu. Melalui survey pendahuluan di Puskesmas Wonogiri II, hanya 35,27% ibu yang menyusui secara eksklusif. Salah satu sebabnya adalah kurangnya informasi mengenai tentang ASI eksklusif baik ibu, suami dan keluarga sehingga hal ini menyebabkan kurangnya dukungan suami dalam memberikan ASI eksklusif. Tujuan: mengetahui perbedaan status ekonomi dan dukungan suami antara kelompok ibu yang memberikan ASI eksklusif dan ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Wonogiri II. Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah survey dengan pndekatan kasus control. Pengambilan sampel dengan mnggunakan consecutive sampling. Sampel yang digunakan 87 responden yang terdiri dari 29 responden kasus dan 58 responden kontrol sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Tehnik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Penelitian menggunakan analisa data univariat, bivariat dan multivariat. Pada analisa bivariat menggunakan uji wilcoxon dan pada analisa multivariate menggunakan uji regresi logistic ganda. Hasil: Status ekonomi dan dukungan suami secara keseluruhan tidak dapat menjelaskan/memprediksi keputusan responden dalam memberikan ASI eksklusif. Namun perbedaan antara kelompok ibu yang memberi ASI eksklusif dan tidak memberi ASI eksklusif bukan hanya dipengaruhi oleh status ekonomi dan dukungan suami saja, melainkan ada factor lain yakni pendidikan ibu dan pekerjaan ibu. Kesimpulan: selain dukungan suami, cakupan pemberian ASI eksklusif dipengaruhi pula oleh tingkat pendidikan ibu karena semakin tinggi tingkat pendidikan, pengetahuan semakin baik sehingga informasi tentang ASI eksklusif semakin banyak. Jenis pekerjaan juga berpengaruh pada pemberian ASI eksklusif. Ibu yang bekerja akan menggantikan ASI dengan susu formula selama bayi ditinggal bekerja, berbeda sedangkan pada ibu yang tidak bekerja akan memiliki banyak waktu untuk bersama anak sehingga frekwensi pemberian ASI ekslusif lebih banyak. Kata kunci: status ekonomi, dukungan suami, pemberian ASI eksklusi