Gaster : Jurnal Kesehatan
Not a member yet
165 research outputs found
Sort by
PELAKSANAAN PERSETUJUAN RUJUKAN PERSALINAN DI SURAKARTA
Latarbelakang, kematian ibu khususnya di Jawa tengah terlihat cukup tinggi, yaitu 347/100.000 kelahiran hidup. Dan tahun 2013 berdasarkan buku saku tri wulan ke tiga tercatat 515 kematian. Kematian ibu selama ini ada hubungannya dengan proses rujukan dari pelayanan kesehatan dasar ke Rumah Sakit. Hasil penelitian yang mendahului terkait dengan pelaksanaan rujukan pasien persalinan, ditemukan bahwa; sebagian besar kasus persalinan yang di rujuk bidan menggunakan fasilitas JAMPERSAL dan tidak semua bidan dalam melakukan rujukan persalinan melaksanakan persetujuan merujuk secara. Berdasarkan fenomena tersebut, peneliti tertarik melakukan study pelaksanaan persetujuan rujukan persalinan di Rumah Sakit Umum Daerah Surakarta. Tujuan Penelitian adalah mendapatkan gambaran jenis kasus persalinan yang dirujuk dan pelaksanaan persetujuan rujukan yang dilaksanakan, serta kendala bidan atau tenaga kesehatan dalam proses persetujuan rujukan persalinan Metode untuk menjawab permasalahan tersebut akan dilakukan penelitian survey dengan pendekatan cros sectional. Responden penelitian ini adalah pasien atau keluarga pasien bersalin yang dirujuk ke RS dan bidan yang pernah melakukan rujukan pasien. Pengumpulan data dengan kuesioner dan dengan indept interview . Sedangkan Analisa data secara deskriptif dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian ini. Hasil penelitian, menunjukkan bahwa sebagian besar kasus persalinan adalah rujukan karena penyulit kehamilan, dan persalinan atas kemauan sendiri untuk bersalin di RS juga cukuptinggi, rujukan berjenjang belum sepenuhnya dapat berjalan semestinya karena alasan kegawatan, Penandatangan persetujuan merujuk sebagian besar pasien atau keluarga tidak menandatangani, tidak ditemukan kendala yang cukup berarti oleh bidan atau tenaga kesehatan ketika melaksanakan persetujuan merujuk pasien. Simpulan Persetujuan merujuk pasien belum bisa dilakukan secara berjenjang sesuai dengan system rujukan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh menteri kesehatan karena alasan kegawatan, masyarakat yang secara langsung atas kemauan sendiri bukan karena dirujuk bidan ingin melahirkan di RS cukup banyak. Sebagian besar kasus bersalin yang dirujuk ke RS adalah penyulit kehamilan. Tidak ditemukan kendala dalam melaksanakan persetujuan merujuk pasien bersalin Key word: prevalensi , persalinan, rujuka
FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN IBU HAMIL MENGKONSUMSI TABLET FE DI PUSKESMAS SIMO BOYOLALI
Latar belakang; Angka anemia pada kehamilan di Indonesia cukup tinggi sekitar 67%. Anemia pada ibu hamil memberikan dampak negative terhadap janin yang di kandung, persalinan maupun nifas, yang di antaranya akan lahir janin dengan berat badan lahir rendah , partus prematur, abortus, perdarahan post partum, partus lama dan syok. Penanggulangan masalah anemia gizi besi saat ini masih terfokus pada pemberian Fe, usaha tersebut akan optimal jika ibu hamil selalu patuh mengkonsumsi tablet Fe sesuai aturan. Banyak faktor yang mempengaruhi ibu untuk patuh mengkonsumsi tablet Fe.Tujuan; Mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi kepatuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet Fe Metode; Jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, populasi ibu hamil dengan besar sampel 44 responden. Teknik sampling menggunakan teknik simple random sampling. Analisa data menggunakan chi square. Untuk mengatahui keeratan hubungan dengan menggunakan coofisiens contingency.Hasil penelitian; Menunjukkan dukungan merupakan faktor yang mempengaruhi kepatuhan dengan p value = 0,002<0.05, dan coofisiens contingency sebesar 0,430. Pendidikan dengan p value = 0,044 dan coofisiens contingency sebesar 0,352. Pengetahuan dengan p value = 0,031 dan coofisiens contingency sebesar 0,309.Simpulan; Pengetahuan, pendidikan, dan dukungan merupakan faktor yang mempengaruhi kepatuhan. Sedangkan umur, pekerjaan dan jumlah anak bukan merupakan faktor yang mempengaruhi kepatuhan ibu mengkonsumsi tablet Fe. Kata kunci; kepatuhan, tablet F
FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN IBU-IBU MENGIKUTI PROGRAM KELOMPOK PENDUKUNG IBU DI WILAYAH PUSKESMAS PURWOSARI SURAKARTA GAGAL DALAM TINDAKAN ASI EKSKLUSIF
Dinas Kesehatan Kota Surakarta memiliki program Kelompok Pendukung Ibu (KP-Ibu) yang merupakan pendidikan interaktif dengan dukungan sosial yang bertujuan meningkatkan cakupan ASI eksklusif. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa program tersebut belum efektif sehingga diperlukan penelitian kualitatif untuk mendapatkan alasan kegagalan ibu-ibu yang sudah bergabung program tersebut dalam menjalankan ASI eksklsuif dan penyebab kegagalan program KP-Ibu untuk meningkatkan perilaku ibu-ibu menyusui. Jumlah responden yaitu delapan yang terdiri dari kader kesehatan, ibu-ibu anggota KP-Ibu yang gagal menjalankan ASI eksklusif dan bidan di wilayah Puskesmas Purwosari Surakarta. Hasil penelitian menunjukkan kesimpulan bahwa alasan ibu-ibu anggota KP-Ibu gagal dalam ASI eksklusif yaitu: 1) status bekerja, 2) tradisi, 3) kurangnya dukungan keluarga, 4) kurangnya produksi ASI, dan 5) kurang bagusnya teknik menyusui dan teknik menyimpan. Penyebab gagalnya program tersebut dalam meningkatkan perilaku ibu-ibu menyusui yaitu: 1) kurang aktifnya program tersebut, 2) kurangnya dana, 3) faktor budaya seperti kurangnya kebiasaan bertanya, dan 4) program yang belum matang. Kata Kunci: kelompok pendukung ibu, penyebab kegagala
TINJAUAN LAMA PEMAKAIAN KONTRASEPSI DEPO MEDROXY PROGESTERONE ACETATE BERDASARKAN KEJADIAN AMENOREA
Latar Belakang:. Efek samping kontrasepsi depo medroxy progesterone acetate adalah kejadian amenorea. Amenorea dilaporkan terjadi dalam pemakaian jangka panjang dan merupakan gangguan pola haid yang sering dikeluhkan oleh beberapa wanita. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan lama pemakaian kontrasepsi depo medroxy progesterone acetate dengan kejadian amenorea di bidan praktik swasta Finulia Sri Surjati Surakarta. Tujuan :Mengetahui hubungan lama pemakaian kontrasepsi depo medroxy progesterone acetate dengan kejadian amenorea. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di BPS Finulia Sri Surjati Surakarta pada bulan April-Mei 2011. Sebanyak 83 responden diambil dengan menggunakan teknik accidental sampling. Data diperoleh melalui kuesioner dan kartu akseptor. Analisis data menggunakan uji Chi Square dengan bantuan program SPSS 17.0. Hasil: Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara lama pemakaian kontrasepsi DMPA dengan kejadian amenorea dengan nilai p (0,001) x2 tabel (3,841). Simpulan: Terdapat hubungan antara lama pemakaian kontrasepsi DMPA dengan kejadian amenorea. Kata kunci : kontrasepsi, DMPA, amenore
HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN DERAJAT RUPTUR PERINEUM PADA PRIMIPARA DI BPS BENIS JAYANTO TAHUN 2012
Latar belakang : Perdarahan menjadi penyebab kedua penyumbang angka kematian ibu postpartum setelah hipertensi. Salah satu penyebab terjadinya perdarahan post partum adalah ruptur perineum. Banyak wanita yang mengalami ruptur perineum pada saat melahirkan anak pertamanya. Hal ini akan diperparah oleh berat bayi yang besar atau persalinan presipitatus yang tidak terkendali. Hasil dari studi pendahuluan yang telah dilakukan di BPS Benis Jayanto pada bulan Januari-Maret tahun 2012 angka kejadian ruptur perineum masih cukup tinggi yaitu 71,43% dari 28 persalinan pada primipara. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan berat badan lahir dengan derajat ruptur perineum pada primipara di BPS Benis Jayanto tahun 2012. Metode : Penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan waktu cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin primipara di BPS Benis Jayanto pada tahun 2012 sejumlah 112 responden. Jumlah sampel penelitian ini sejumlah 50 responden. Analisa data yang digunakan adalah dengan menggunakan uji statisika Chi Square. Hasil : Analisis data Chi Square diperoleh hasil nilai p 0,019, maka Ho ditolak Ha diterima dengan nilai kontingensi koefisien sebesar 0,438. Simpulan : Terdapat hubungan berat badan lahir dengan derajat ruptur perineum pada primipara dengan kekuatan hubungan antara kedua variabel adalah sedang. Kata kunci : Berat Badan Lahir, Derajat Ruptur Perineum, Primipar
FAKTOR-FAKTOR DETERMINAN DETEKSI DINI KANKER SERVIKS MELALUI METODE PAP SMEAR PADA PASANGAN USIA SUBUR (PUS)
Deteksi dini kanker seviks melalui metode pap smear merupakan pemeriksaan yang bertujuan untuk menemukan lesi prakanker yang bila mendapat penataksanaan yang tepat dapat mencegah terjadinya kanker serviks. Rendahnya skrinning kanker serviks (Pap smear) disebabkan oleh terbatasnya akses skrinning dan pengobatan dan kurangnya informasi dan pelayanan terhadap penyakit kanker serviks karena tingkat ekonomi rendah dan tingkat pengetahuan wanita yang kurang tentang pap smear. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor determinan deteksi dini kanker serviks melalui metode pap smear pada Pasangan Usia Subur (PUS) di Kelurahan Potrobangsan Wilayah Kerja Puskesmas Magelang Utara Kota Magelang Tahun 2014. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasinya adalah seluruh PUS di Kelurahan Potrobangsan yaitu sejumlah 1069 PUS. Total sampel yang diteliti sebanyak 107 PUS dengan teknik pengambilan sampel berupa teknik proporsional random sampling. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Contingency Coeffissien. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan tingkat pengetahuan deteksi dini kanker serviks melalui metode smear (p value = 0,000), ada hubungan akses skrinning dengan deteksi dini kanker serviks melalui metode smear (p value = 0,000)ada hubungan status ekonomi dengan deteksi dini kanker serviks melalui metode pap smear (p value=0,044), ada hubungan dukungan petugas kesehatan dengan deteksi dini kanker serviks melalui metode smear (p value = 0,000). Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan cakupan deteksi dini kanker serviks melalui metode pap smear.Kata kunci : tingkat pengetahuan, akses skrinning, status ekonomi, dukungan petugas kesehatan, pap smea
ANALISIS KORELASI PERSONAL FACTOR, PERCEIVED BENEFIT DAN PERCEIVED BARRIER DENGAN PEMBERDAYAAN DIRI PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II BERBASIS TEORI HEALTH PROMOTION MODEL
Latar belakang; Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit kronis yang memerlukan kemampuan individu dari pasien untuk mematuhi penatalaksanaan penyakitnya yang dianjurkan oleh dokter. Diabetesi harus mampu melakukan pengelolaan DM tersebut untuk mencegah komplikasi dengan memaksimalkan aspek aspek yang ada dalam dirinya untuk menentukan pilihan yang terbaik. Tujuan; penelitian ini untuk menganalisis korelasi personal factor, perceived benefits of action, perceived barrier to action dengan self empowerment pasien DM tipe 2 berbasis teori Health Promotion Model. Metode; Penelitian ini menggunakan desain korelasional. Sampel yang digunakan sebanyak 32 responden dengan tehnik sampling purposive. Pengumpulan data personal factor, perceived benefits of action, perceived barrier to actio dengan menggunakan kuesioner sedangkan self empowerment dengan kuesioner Diabetes Empowerment Scale DES. Hasil penelitian kemudian dilakukan analisis dengan uji Kolmogorov Smirnov dan uji Spearman dengan signifikansi 0,05. Hasil; Hasil penelitian terdapat hubungan signifikan dalam faktor umur, pendidikan, penghasilan, lama menderita DM, perceived benefit dan perceived barrier dengan self empowerment pada pasien DM tipe II. Sedangkan factor yang tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan self empowerment adalah jenis kelamin responden. Simpulan: Ada hubungan signifikan antara self empowerment umur, pendidikan, penghasilan, lama menderita DM, perceived benefit dan perceived barrier dengan self empowerment pada pasien DM tipe II dan yangtidak mempunyai hubungan signifikan adalah jenis kelamin dengan pasien DM tipe II di wilayah Puskesmas Bendo Kediri. Kata kunci: diabetes,self empowerment, personal factor, perceived benefit, perceived barrie
ANALISIS PERBEDAAN KADAR LEUKOSIT DALAM URIN PADA IBU POST SECTIO CAESAREA DENGAN PERAWATAN KATETER DI BANGSAL MATERNITAS
Hesty Fauziah Ekawati, Wahyuni, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ‘Aisyiyah Surakarta ABSTRAK Latar Belakang; Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012, angka kematian ibu tercatat mengalami kenaikan yang signifikan yaitu sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Salah satunya karena prematuritas yang disebabkan oleh bakteri yang menyebabkan infeksi saluran kemih. 2-6% infeksi saluran kemih akibat pemakaian kateter menetap pasca sectio caesarea. Perawatan kateter secara aseptik dapat mengurangi infeksi sampai lebih dari 50%.Tujuan; Mengetahui pengaruh perawatan kateter urin terhadap kadar leukosit dalam urin pada ibu post sectio caesarea di bangsal maternitas RSUD Karanganyar0.Metode; Quasi Eksperiment: Pre test post test with control group. Pengambilan sampel menggunakan tehnik Purposive Sampling, jumlah sampel 16 pada kelompok perlakuan 16 pada kelompok kontrol. Instrument penelitian menggunakan lembar observasi.Hasil; Uji Wilcoxon kelompok perlakuan menunjukkan ada perbedaan kadar leukosit dalam urin sebelum dan sesudah diberikan perawatan kateter urin (p value) 0.000 <0.05, uji Wilcoxon kelompok kontrol menunjukkan ada perbedaan kadar leukosit dalam urin sebelum dan sesudah diberikan perawatan kateter urin (p value) 0.001 <0.05, uji Mann whitney menunjukkan ada perbedaan kadar leukosit dalam urin sebelum dan sesudah diberikan perlakuan perawatan kateter urin antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol (pvalue) 0.000 <0.05.Kesimpulan; Ada pengaruh perawatan kateter urin terhadap kadar leukosit dalam urin pada ibu post sectio caesarea di bangsal maternitas RSUD Karanganyar . Kata Kunci :sectio caesarea, perawatan kateter urin, kadar leukosit dalam urin
FUNGSI SEKSUAL WANITA PASCA TUBEKTOMI (STUDI LAPANGAN DI KOTA SURAKARTA)
Latar Belakang: Pemakaian kontrasepsi terkadang menimbulkan beberapa efek samping yang dapat mempengaruhi kualitas hidup akseptor. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan salah satu kualitas hidup yaitu fungsi seksual antara wanita tubektomi dan tanpa kontrasepsi. Metode: Rancangan penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan potong lintang terhadap 44 akseptor tubektomi yang telah menjalani tubektomi minimal 12 bulan dan 44 wanita yang tidak memakai alat kontrasepsi tetapi tidak dalam keadaan hamil, dengan rentang umur dan kriteria yang sama. Penelitian dilaksanakan di Surakarta pada bulan Juni-Juli 2011 dengan menggunakan kuesioner Female Sexual Function Index (FSFI). Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil: Median skor fungsi seksual wanita tubektomi 224, tanpa kontrasepsi 238 (ZM-W= 2,412, nilai p= 0,016). Simpulan: Terdapat perbedaan fungsi seksual antara wanita tubektomi dan tanpa kontrasepsi. Saran: Masyarakat hendaknya memiliki informasi lebih rinci mengenai efek dari tubektomi dan dapat membuat keputusan yang lebih tepat tentang penggunaan kontrasepsi yang akan digunakan Kata kunci: Fungsi seksual dan tubektomi
GAMBARAN RESPONDEN DENGAN ROBEKAN PERINEUM DI RB PANJAWI SUKOHARJO
Latar Belakang: Sekitar 90% penyebab kematian ibu di Indonesia terjadi pada saat persalinan. Perdarahan post partum menyumbang sebesar 40 % sebagai penyebab utamanya. Perdarahan post partum antara lain terjadi karena adanya robekan jalan lahir atau perineum. Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua dari perdarahan post partum. Persalinan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain passage (jalan lahir), passenger (muatan), power (kekuatan ibu), psikologis dan penolong. Persalinan dapat berjalan normal apabila faktor-faktor tersebut bekerjasama dengan baik. Persalinan yang terlalu cepat juga akan mempermudah terjadinya robekan pada perineum karena otot-otot pada perineum di regang secara tiba-tiba tanpa persiapan secara hati-hati untuk melahirkan kepala, sehingga dalam Kala II atau saat pengeluaran kepala janin dibutuhkan kerja sama dan koordinasi yang baik oleh pasien agar persalinan dapat terkendali sesuai arah sumbu jalan lahir.Tujuan: Penelitian yang dilakukan di Rumah Bersalin Panjawi ini bertujuan untuk mengukur prevalensi robekan perineum pada ibu bersalin. Metode: Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional dengan jumlah responden 40 primipara.Hasil: Responden yang mengalami robekan perineum saat persalinan sebesar 60% responden.Simpulan: Mayoritas responden yang bersalin terjadi robekan perineum.Key word: robekan perineum, persalina