JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan"
Not a member yet
380 research outputs found
Sort by
Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS)
ABSTRACK
Introduction: The Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS) is rare case and the most serious acute hyperglycemic emergency in patients with type 2 diabetes, are characterized by severe hyperglycemia, hyperosmolality, and dehydration in the absence of ketoacidosis. Immediately treatment is necessary to reinstate hemodynamic stability, as mortality rates for HHS are exceptionally high and can have multiple complications.
Case Presentation: In this case report, a 63-year-old man with a chiefly complaint from the body became weaker. Patients present with compos mentis, blood pressure 100/70 mmHg, regular pulse rate 110 times per minute with sufficient content and respiration 20 times per minute, and temperature 37,90C. Physical examination shows signs of dehydration. Investigation found white blood cell 12.580 103/mm3, plasma glucose 741 mg / dL, and a negative urine ketone.
Conclusion: Case has been reported, a 63-year-old man with a diagnosis of HHS, the trigger factor for HHS in these patient are the discovery of infections as bronchopneumonia, elderly, and irregular diabetes treatment. The importance of treatment in this case is because the patient is elderly, treatment must be right because where too rapid rehydration may precipitate heart failure but insufficient may fail to reverse acute kidney injury.
Keywords: Diabetes Mellitus, Hyperosmolar Hyperglycemic State, Hyperglycemia
ABSTRAK
Latar Belakang : Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS) merupakan kasus yang jarang dan komplikasi emergensi akut dari pasien diabetes melitus tipe 2, dengan karakteristik hiperglikemi, hiperosmolar dan dehidrasi atau tidak adanya ketoasidosis. Tatalaksana segera penting dilakukan untuk menstabilkan hemodinamik, mortalitas dari HHS tinggi dan dapat menyebabkan banyak komplikasi.
Presentasi Klinis : Pada laporan kasus ini, seorang laki-laki berusia 63 tahun dengan keluhan utama badan semakin lemas. Pasien datang dengan kesadaran kompos mentis, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi teraba 110 kali per menit kuat regular dengan isi cukup dan respirasi 20 kali per menit, dan suhu 37,90C . Pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda dehidrasi. Pemeriksaan penunjang dijumpai sel darah putih 12.580, glukosa plasma 741 mg/dL, dan keton urine negatif.
Kesimpulan : Telah dilaporkan kasus, laki-laki usia 63 tahun dengan diagnosa HHS, faktor pencetus terjadinya HHS pada pasien ini yaitu ditemukannya infeksi berupa bronkopneumonia, usia lanjut, pengobatan diabetes yang tidak teratur. Pentingnya perawatan dalam kasus ini adalah karena pasien berusia lanjut, pengobatan harus benar karena ketika rehidrasi yang terlalu cepat dapat memicu gagal jantung tetapi tidak cukup dapat gagal untuk membalikkan cedera ginjal akut.
Kata Kunci : Diabetes Melitus, Hyperglycemic Hyperosmolar State, Hiperglikem
HUBUNGAN ANTARA KADAR TGF-Î’1 DENGAN KADAR ALBUMIN DALAM URIN PASIEN DM TIPE-2 DENGAN NEFROPATI DIABETIK
ABSTRACT
Background: Diabetic nephropathy (DN) is a complication of diabetes in the kidney that frequently causes terminal kidney disease. This kidney disease caused by diabetes is a syndrome characterized by albumin in urine (albuminuria). Growth factor-β1 (TGF- β1) is a multifunctional cytokine that controls many biological processes, including immunity, differentiation, tumor suppression, tumor metastasis, aging, migration, wound healing, apoptosis, adipogenesis, and osteogenesis. Previous studies had showed that TGF-β1 plays a role in albuminuria, where TGF-β1 expression in the kidney increases in diabetes patients. Elevation of cytokine level, especially transforming growth factor beta-1 (TGF-β1) that induces the increase of several extra cellular matrices (ECM), i.e. fibronectin, integrin-linked kinase (ILK) and type IV collagen. This TGF-β1 activity causes the accumulation of ECM, which leads to thickened glomerular basement membrane (GBM). Thickening of GBM and changes in kidney structure in the form of hypertrophy and reduced glomerular podocytes caused by apoptosis and attachment in GBM causes protein components to exit through urine (albuminuria). This study aimed to prove the correlation between transforming growth factor-β1 and albumin level in urine of diabetic nephropathy.
Metode : This study a observasional with desain Cross-sectional comparative study.
Results: Mean TGF-β1 level in type 2 DM patients with diabetic nephropathy in this study was 47.30 ± 14.70 ng/ml, with similar value between men and women with 43.1 ng/ml and 44.7 ng/ml, respectively. Out of 60 type 2 DM participants with ND, the mean albuminuria level according to ACR was 722.53 ± 1854.96 mg/g. The result of male participants was lower compared to female participants, with 667.8 mg/mg and 777.2 mg/g, respectively.
Conclusion: There was insignificant correlation between TGF-β1 in diabetic nephropathy (DN) and albumin level in urine measured using albumin and urine creatinine ratio (ACR) (p = 0.066).
Keywords: Diabetic Nephropathy, Albuminuria, TGF-β1
ABSTRAK
Latar Belakang : Nefropati diabetik (ND) merupakan komplikasi diabetes pada ginjal yang paling sering menyebabkan terjadinya penyakit ginjal terminal. Penyakit ginjal akibat diabetes ini merupakan sindroma dengan karakteristik terdapatnya albumin dalam urine (albuminuria). Faktor pertumbuhan-β1 (TGF-β1) adalah sebuah sitokin multifungsi yang mengendalikan banyak proses biologis termasuk kekebalan, diferensiasi, tumor supresi, tumor metastasis, penuaan, migrasi, penyembuhan luka, apoptosis, adipogenesis, dan osteogenesis. Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa TGF-β1 berperan terhadap terjadinya albuminuria, dimana pasien diabetes didapatkan ekspresi TGF-β1 di ginjal meningkat. Peningkatan kadar cytokine terutama Transforming Growth Factor Beta-1 (TGF-β1) yang menginduksi peningkatan beberapa Extra Cellular Matrix (ECM) antara lain fibronectin, integrin-linked kinase (ILK) dan collagen tipe-IV. Aktifitas TGF-β1 ini menyebabkan akumulasi ECM sehingga terjadi penebalan Glomerular Basement Membrane (GBM). Penebalan dari GBM dan terjadinya perubahan struktur ginjal berupa hipertrofi dan berkurangnya sel-sel podocyte glomerulus akibat kerusakan (apoptosis) dan perlengketan di GBM menyebabkan komponen protein keluar melalui urin (albuminuria). Tujuan penelitian ini untuk membuktikan hubungan antara kadar transforming growth factor-β1 dengan kadar albumin dalam urin pada Nefropati Diabetik.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian Observasional dengan desain Cross-sectional
comparative study.
Hasil : Kadar rata-rata TGF-β1 pasien DM tipe-2 dengan Nefropati Diabetik pada penelitian ini adalah 47,30 ± 14,70 ng/ml, tidak jauh berbeda antara laki-laki yaitu 43,1 ng/ml dengan perempuan 44,7 ng/ml. Dari 60 orang responden DM tipe-2 dengan ND pada penelitian ini didapatkan kadar albuminuria rata-rata berdasarkan ACR adalah 722,53 ± 1854,96 mg/g. Responden laki-laki lebih rendah dibanding perempuan yaitu 667,8 mg/g berbanding 777,2 mg/g.
Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara TGF-β1 pada Nefropati Diabetik (ND) dengan kadar albumin dalam urin yang dihitung berdasarkan rasio albumin dan creatinin urin (ACR) (p=0,066).
Kata Kunci : Nefropati Diabetik, Albuminuria, TGF-β
THE HIGH DOSE TOXICITY OF BETEL NUT (Areca catechu L.) ON REPRODUCTION ORGAN OF RATS
ABSTRACT
Background : The use of long-term herbal medicines and high doses can damage organs, including the reproductive organs. Betel nut (Areca catechu L.) is one of the herbal ingredients that is consumed as a stamina enhancing beverage. The purpose of this study was to determine the effect of longterm treatment of raw betel nut at a dose of 10,000 mg/kg on testicular and ovary tissue of rats. Rats were Rattus norvegicus, Sprague Dawley strain, 2-3 months. Methods : Tweenty rats divided into 2 groups, each groups were 5 male and 5 female. Control group was given aquades and the treatment group was given raw betel nut with a dose of 10,000 mg/kgBW for 45 days with a gastrictube. Histopathological examination with Haematoxylin-Eosin staining was used to assses testicular and ovary tissues. Results: The ovaries of treatment groups had significantly lower de graff follicle compared to the control group (p < 0,05). The testis of treatment groups had significantly smaller diameter of tubulus seminifery, significantly higher necrosis of spermatogonia and spermatosit (p<0,05). Conclusion: Treatment of raw betel nut dose 10,000 mg /kgBW along 45 days causes damage of testicular and ovary tissues of rats.Keywords: Betel Nut, Areca Catechu L., Histopathology, Testicular, Ovary, Herbal Toxicity
ABSTRAK
Latar Belakang: Pemakaian obat herbal jangka panjang dan dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh, termasuk organ reproduksi. Biji pinang (Areca catechu L.) merupakan salah satu bahan herbal yang dikonsumsi sebagai minuman penambah stamina.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian biji pinang muda dosis 10.000 mg/ kgBB selama 45 hari terhadap gambaran histopatologis testis dan ovarium tikus.
Metode : Tikus yang digunakan adalah Rattus norvegicus galur Spague Dawley, usia 2-3 bulan, sebanyak 10 ekor jantan dan 10 ekor betina yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol diberikan aquades dan kelompok perlakuan diberikan biji pinang dosis 10.000 mg/ kgBB dengan sonde. Pemeriksaan histopatologi dengan pewarnaan Haematoxylin-Eosin untuk organ testis dan organ ovarium. Hasil: Jumlah folikel de draf pada kelompok perlakuan lebih sedikit dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05). Persentase nekrosis spermatogonia dan spermatosit pada kelompok perlakuan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05), diameter tubulus seminifeus pada kelompok perlakuan juga lebih kecil dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05).
Kesimpulan: Pemberian biji pinang 10.000 mg/kgBB selama 45 hari menyebabkan kerusakan pada jaringan testis dan ovarium pada tikus.
Kata Kunci : Biji Pinang, Areca Catechu L, Histopatologi, Ovarium, Testis, Toksisitas herba
EFEK SALEP EKSTRAK PINANG TERHADAP LEVEL FIBROBLAST DAN KOLAGEN PADA PROSES PENYEMBUHAN LUKA
ABSTRACT
Background: Some plants, such as betel nuts (Areca catechu), is used as traditional antiseptic. Betel nut mash is applied on ulcus wound. Fibroblast and collagen are important factor in wound healing. Research objective : this study is to determine the effect of betel nuts extract on fibroblast and collagen level in full thickness wound healing processs. Methodology: this study used male rats Sprague dawney that randomly divided into 3 groups. Groups I received no treatment, groups II and III received areca catechu extracts with concentration 15% and 30% respectively. There are 12 rats in each groups. The treatment is given every day without wound’s debridement. Incision were made full thickness with diameter size 1,5 cm, on right back skin was made by lidocain anesthesia subcutaneously. Wound area were measured every days. Termination of rats were done in day 7 and day 16 to histopathology assessment with Haematoxylin-Eosin stain for fibroblast and collagen level by semiqualitative score. Results: level of collagen were higher in group that received extract but level of fibroblast were lower than control group in histopathology of day 7th. Conclusion: Extract of betel nut increased level of collagen.
Keyword : areca catechu, betel nuts, wound, fibroblast, collagen, histopathology
ABSTRAK
Latar belakang : Beberapa tanaman digunakan sebagai antiseptik luka, salah satunya biji pinang untuk penyembuhan luka ulkus. Fibroblast dan kolagen merupakan salah satu faktor penting dalam penyembuhan luka. Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengetahui efek ekstrak biji pinang terhadap level fibroblast dan kolagen pada proses penyembuhan luka full thickness Metode : Penelitian ini menggunakan tikus galur Sprague dawney jantan berusia 2-3 bulan dan telah mendapatkan persetujuan etik. Setelah aklimatisasi, tikus dibagi secara acak masing-masing 12 ekor dalam 3 kelompok, yaitu kelompok I tanpa perlakuan, kelompok II diberikan salep ekstrak biji pinang 15%, kelompok III diberikan salep ekstrak biji pinang 30%. Luka full thickness dibuat dengan diameter 1,5 cm di daerah punggung belakang bagian kanan dengan anestesi lidokain subkutan. Perlakuan dilakukan setiap hari tanpa debridemen luka. Luas luka diukur setiap hari. Terminasi dilakukan pada hari ke 7 dan 16 untuk pemeriksaan histopatologi jaringan luka dengan pengecatan Haematoxylin-Eosin. Skoring secara semikualitatif untuk menilai fibroblast dan kolagen. Hasil : Pada kelompok ekstrak pinang terdapat peningkatan level kolagen, akan tetapi tidak terjadi peningkatan level fibroblast pada hasil histopatologi luka kulit hari ke-7. Kesimpulan : terjadi peningkatan level kolagen pada pemberian ekstrak biji pinang.
Kata kunci : biji pinang, luka, histopatologi, fibroblast, kolage
Pengaruh Terapi Gizi Klinik Intensif Terhadap Penurunan Berat Badan, Komposisi Tubuh, dan Profil Lipid pada Remaja Overweight dan Obesitas
ABSTRACT
Background: Current nutritional status issues are no longer focused on malnutrition, but also on excess nutrition that can occur in all age groups, especially vulnerable to occur at a young age. Objective: to assess the effect of intensive clinical nutrition therapy on weight loss, body composition and lipid profile in overweight and obese adolescents. Method: This study was a case control study and was carried out during the months of August - September 2018, where the sample of the study would be antopometric examination, body composition and lipid profile before and after the intervention. Results: there was no significant difference in the effect of intervention between intensive nutrition therapy compared to only nutrition counseling in weight loss, body composition, and lipid profile. Conclusion: Nutritional intervention in the form of intensive nutrition therapy and counseling conducted in this study had significant results in weight loss, lipid profile and body composition in overweight and obese adolescents, although no significant effect was found on the two interventions.
Keywords: Nutritional intervention, weight loss, body compotition, lipid profile, overweight, obesitas
ABSTRAK
Latar belakang: Permasalahan status gizi saat ini bukan lagi hanya terpusat pada kekurangan gizi saja, namun juga pada kelebihan gizi yang dapat terjadi pada semua golongan usia, terutama rentan terjadi pada usia muda. Tujuan: menilai pengaruh terapi gizi klinik intensif terhadap penurunan berat badan, komposisi tubuh dan profil lipid pada remaja overweight dan obesitas. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian case control dan dilakukan selama bulan Agustus – September 2018, dimana sampel penelitian akan dilakukan pemeriksaan antopometri, komposisi tubuh dan profil lipid sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: tidak terdapat perbedaan pengaruh intervensi secara bermakna antara terapi gizi intensif dibandingkan dengan hanya penyuluhan gizi saja dalam menurunkan berat badan, komposisi tubuh, dan profil lipid. Kesimpulan : intervensi gizi berupa terapi gizi intensif dan penyuluhan yang dilakukan pada penelitian ini memiliki hasil yang bermakna terhadap penurunan berat badan, profil lipid dan komposisi tubuh pada remaja overweight dan obesitas walaupun tidak ditemukan perbedaan yang bermakna dari kedua intervensi tersebut.
Kata Kunci: intervensi gizi, penurunan berat badan, komposisi tubuh, profil lipid, overweight, obesita
Pengaruh Pemberian Kurma Muda (Phoenix dactylifera) Terhadap Kadar FSH dan Reseptor FSH Ovarium Tikus Putih (Rattus norvegicus)
ABSTRACT
Background: Infertility may give an impact on psychosocial. In Indonesia, the habit of consuming young dates is often done by couples to increase fertility. FSH is one of the factors that play a role in folliculogenesis. The lack of scientific evidence of young dates consumption effects on female reproduction has led to this study. This study aims to determine the levels of FSH hormone and the picture of ovarian tissue in mice after administration of young dates.
Method: This study used an experimental design using 28 female Sprague-Dawley rats which were randomly divided into 4 groups. Group I to III was given young dates in successive doses: 17 mg, 34 mg, 68 mg per 200 grams of body weight and group IV was given distilled water. The treatment was carried out for 28 days. FSH levels were examined before treatment during the proestrus phase which was known from microscopic examination of rat vaginal swabs. The treatment begins during the proestrus phase.
Result: The mean baseline and post-treatment FSH levels were 0.08 and 0.09 respectively
Conclusion: There is no significant increase of FSH levels and FSH receptors as the effect of giving young dates (Phoenix Dactylifera) to female Sprague-Dawley rats
Keywords: Dates, FSH, FSH receptors, Rats
ABSTRAK
Latar Belakang: Infertilitas dapat memberikan dampak psikososial. Di Indonesia, kebiasaan mengkonsumsi kurma muda sering dilakukan oleh pasangan untuk meningkatkan kesuburan. Hormon FSH merupakan salah satu faktor yang berperan dalam folikelgenesis. Belum adanya bukti ilmiah efek konsumsi buah kurma muda terhadap reproduksi wanita mendorong dilakukannya studi ini. Studi ini bertujuan mengetahui kadar hormon FSH dan gambaran jaringan ovarium pada tikus setelah pemberian kurma muda.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain ekperimental menggunakan tikus Sprague dawney betina sebanyak 28 ekor yang dibagi secara acak menjadi 4 kelompok. Kelompok I-III diberikan kurma muda dosis berturut -turut 17 mg, 34 mg, 68 mg per 200 gram BB dan kelompok IV diberikan aquadest. Perlakuan dilakukan selama 28 hari. Kadar hormon FSH diperiksa sebelum perlakuan saat fase proestrus yang diketahui dari pemeriksaan mikroskopis swab vagina tikus. Perlakuan dimulai saat fase proestrus.
Hasil: Rerata kadar FSH baseline dan paska perlakuan adalah 0,08 dan 0,09
Kesimpulan: Tidak terdapat peningkatan yang signifikan kadar FSH dan reseptor FSH terhadap efek pemberian buah kurma muda (Phoenix Dactylifera) pada uterus tikus Spague Dawney
Kata kunci : kurma, FSH, Reseptor FSH, tiku
KADAR INTERFERON GAMMA (IFNγ) PADA PASIEN TOKSOPLASMOSIS YANG ASIMPTOMATIK
ABSTRACT
Background: Toxoplasma gondii is a species that is able to modulate its host immune system. T.gondii infection causes an increased Th1 response to produce IFNγ, TNFα and IL-12 secreted by T. IFNγ lymphocytes which are activated and cause increased production of Nitric Oxide (NO) which can cause cell apoptosis and IFNγ can destroy T.gondii with several mechanisms. The aim of this study was to determine IFN levels in patients with positive IgG and asymptomatic IgG toxoplasmosis.Methods: Case control research with experimental laboratories that use human blood as the object of research. The subjects were initially checked for blood with IgG Rapid Test to determine the positive or negative Toxoplasma infection. IFNγ levels are checked by the ELISA method. To analyze the average comparison of IFNγ levels using computer software. Test the data normality with Saphiro-wilk and comparison of IFNγ levels with Wilcoxon test.Results: IFNγ levels in the negative IgG group (4.69) were slightly lower on average compared to the positive IgG group (4.79). Wilcoxon test results of p> 0.05 (0.399) means that the hypothesis is rejected.Conclusion: There was no difference between IFNγ levels in the positive IgG group and the negative IgG group.Keywords: Toxoplasmosis, IFNγ level, IgG toxoplasmosis.
ABSTRAK
Latar belakang: Toksoplasma gondii merupakan spesies yang mampu memodulasi sistem imun inangnya. Infeksi T.gondii menyebabkan respon Th1 meningkat untuk memproduksi IFNγ, TNFα dan IL-12 yang disekresi oleh sel limfosit T. IFNγ diaaktifkan dan menyebabkan meningkatnya produksi Nitric Oxide (NO) yang bisa menyebabkan apoptosis sel dan IFNγ bisa memusnahkan T.gondii dengan beberapa mekanisme. Tujuan penelitian ini untuk menentukan kadar IFNγ pada pasien IgG positif dan IgG Toksoplasmosis yang asimptomatik.
Metode: Penelitian case control dengan eksperimental laboratorik yang mengunakan darah manusia sebagai objek penelitian. Subjek awalnya di cek darahnya dengan Rapid Test IgG untuk menentukan positif atau negatif infeksi toksoplasma. Kadar IFNγ dicek dengan metode ELISA. Untuk menganalisa perbandingan rerata kadar IFNγ menggunakan perangkat lunak komputer. Uji normalitas data dengan Saphiro-wilk dan perbandingan kadar IFNγ dengan uji Wilcoxon.
Hasil: Kadar IFNγ pada kelompok IgG negatif (4,69) rata-rata lebih rendah sedikit dibandingkan dengan kelompok IgG positif (4,79). Uji Wilcoxon hasil p>0,05 (0,399) artinya hipotesis ditolak.
Kesimpulan: Tidak ada perbedaan antara kadar IFNγ pada kelompok IgG positif dengan kelompok IgG negatif.
Kata Kunci : Toksoplasmosis, Kadar IFNγ, IgG Toksoplasmosi
Studi Fenomenologi tentang Faktor Risiko Penularan Tuberculosis Paru di Perumnas Way Kandis Lampung
Abstract
Pulmonary tuberculosis (TB) is a contagious disease caused by Mycobacterium tuberculosis with the highest mortality rate in worldwide. Indonesia is one of big five country with the highest incidency. Based on distribution per province, Lampung was in the tenth with 7,627 new TB cases in 2017. The purpose of this research was to determine the risk factors of pulmonary tuberculosis in Perumnas Way Kandis Subdistrict. Methods:This is a qualitative research with phenomenological approach. Samples was determined purposively based on appropriateness and adequateness. This research involved 5 people with BTA (+) who are undergoing treatment and 5 people who are the patients’ close family as informant. Data was collected by observation and interview. Data validity was maintained with triangulation and analysed with Milles and Huberman Model.
Results: Based on indepth interview, understanding of the informants of TB was good; most of informants did not know the ways and the sources of TB transmission; informants had a habit of not using masks; most of informants with TB do a routine treatment; the close family of informants with TB support and remind them taking medication; distance of the houses between informants with TB is close enough, do not have good sun lighting and air circullation. Conclusion: The priority cause of TB is the low compliance in using masks so the priority solution is to distribute masks for TB patients.
Keywords: Indepth interview, mask, tuberculosis
Abstrak
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dengan angka kematian tertinggi di dunia. Indonesia termasuk dalam lima besar negara dengan insiden tertinggi. Berdasarkan sebaran per provinsi, Lampung berada di posisi kesepuluh dengan 7.627 kasus TB baru pada tahun 2017. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko penularan TB paru di Kelurahan Perumnas Way Kandis. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pemilihan sampel ditetapkan secara langsung (purposive) dengan prinsip kesesuaian (appropriateness) dan kecukupan (adequateness). Jumlah sampel terdiri dari 5 orang pasien BTA (+) yang sedang menjalani pengobatan dan 5 orang keluarga terdekat pasien sebagai informan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Validitas data dijaga dengan triangulasi dan analisis data menggunakan model Milles dan Huberman.
Hasil: Berdasarkan indepth interview, pengetahuan informan mengenai TB sudah baik; sebagian informan tidak mengetahui cara dan sumber penularan TB; informan memiliki kebiasaan tidak menggunakan masker; sebagian besar informan dengan penyakit TB melakukan pengobatan secara rutin; keluarga besar informan dengan penyakit TB mendukung dan mengingatkan untuk minum obat; jarak rumah antarpenderita TB berdekatan serta tidak memiliki pencahayaan matahari dan sirkulasi udara yang baik.
Kesimpulan: Prioritas penyebab TB adalah rendahnya kepatuhan menggunakan masker sehingga jalan keluar yang diprioritaskan adalah dengan kegiatan pembagian masker bagi para penderita TB.
Kata kunci: Indepth interview, masker, tuberkulosi
PERBANDINGAN KADAR NITRIC OXIDE PADA PEROKOK DAN BUKAN PEROKOK
Abstract
Background: Cigarette smoke can affect macrophage metabolism by activating macrophages to release leukotrien B4, IL-8 and TNFα which lead to increased production of superoxide (O2-) and H2O2 and also cause oxidative damage to macromolecules such as lipids, proteins, DNA that can eliminate antioxidants and form free radicals such as Nitric Oxide (NO). NO has an important contribution in the occurrence of infection where NO will be produced more by iNOS.
Methods: This study is a cross sectional study with a sample of samples taken in total sampling from medical students of Jambi University as many as 22 people with smokers and 22 non-smokers. Conducted NO examination by using microplate reader on wave 595. Research data obtained then tested by statistical analysis with mann whitney and wilcoxon test.
Results : NO levels in smokers were higher than nonsmoker group NO levels. Based on normality test data with Mann Whitney obtained significant difference between both groups value of sig 0.030. Furthermore, Wilcoxon analysis. The result of wilcoxon analysis shows statistic test output where sig (<0,05).
Conclusion : NO levels in the smoker group were higher than in the nonsmokers group. NO levels between smokers and nonsmokers were significantly different.
Keywords : Smokers, non-smokers, nitric oxide
Abstrak
Pendahuluan : Asap rokok dapat mempengaruhi metabolisme makrofag dengan mengaktifkan makrofag untuk melepaskan leukotrien B4, IL-8 dan TNFα yang menyebabkan meningkatnya produksi superoksida (O2-) dan H2O2 dan juga menyebabkan kerusakan oksidatif makromolekul seperti lipid, protein, DNA yang dapat menghilangkan antioksidan serta membentuk radikal bebas seperti Nitrit Oxide (NO). NO mempunyai kontribusi yang penting dalam terjadinya infeksi dimana NO akan diproduksi lebih banyak oleh iNOS.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan sampel penelitian yang diambil secara total sampling dari mahasiswa kedokteran Universitas Jambi sebanyak 22 orang dengan perokok dan 22 orang bukan perokok. Dilakukan pemeriksaan NO dengan menggunakan microplate reader pada gelombang 595. Data penelitian yang di dapatkan kemudian di uji dengan analisis statistic dengan uji mann whitney dan wilcoxon.
Hasil : Kadar NO pada perokok lebih tinggi dibandingkan dengan kadar NO kelompok bukan perokok. Berdasarkan uji normalitas data dengan Mann whitney diperoleh perbedaan yang bermakna diantara kedua kelompok nilai sig 0.030. Selanjutnya dilakukan Analisis Wilcoxon. Hasil analisis wilcoxon menunjukkan output test statistic dimana sig (<0,05).
Kesimpulan : Kadar NO pada kelompok perokok lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok bukan perokok. Kadar NO antara kelompok perokok dan bukan perokok terdapat perbedaan yang signifikan.
Kata Kunci : Perokok, bukan perokok, Nitric Oxid
Supervisi Klinik Stase Mayor Pada Rumah Sakit Pendidikan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi
ABSTRACT
Background: Clinical phase in medical education is education that carried out through the teaching and learning process in the form of clinical and community learning that employs various forms and levels of health services. At clinical phase learning , students are given the opportunity to be involved in health services with the guidance and supervision of clinical supervisors. Clinical supervision has a positive impact on patient health and the knowledge development of medical students.
Research Objective: This study aims to determine the clinical supervision overview in the major stage at Teaching Hospital of Faculty of Medicine and Health Sciences Jambi University based on student perceptions.
Method: This research is a combination of quantitative research and qualitative research. Quantitative research conducted was a cross sectional study using the Clinical Teaching Effectiveness Instrument (CTEI) questionnaire. The usage of the CTEI questionnaire in this study was to find out the clinical supervision overview in the major stage at Teaching Hospital based on student perceptions. Furthermore, qualitative research was conducted with focus group discussions (FGD) to confirm and explore the perceptions of the students based on the results of questionnaire analysis.
Results: Overall, for every 15 items of clinical supervision in each major stage had a mean CTEI score > 3 with a score range of 3.6- 4.1. Range of scores on the Internal Medicine Department 3.2 - 4.7; Pediatric Department 3.4 - 3.8; Surgery Department 3.6 - 4 and Obgyn Department 3.7- 4.
Conclusion: Based on the results, it can be concluded that the clinical supervision of the major stages at Teaching Hospital of Faculty of Medicine and Health Sciences Jambi University has been run well.
Keywords: clinical supervision, CTEI, medical students
ABSTRAK
Latar Belakang: Pendidikan kedokteran fase klinik adalah pendidikan kedokteran yang dilaksanakan melalui proses belajar mengajar dalam bentuk pembelajaran klinik dan pembelajaran komunitas yang menggunakan berbagai bentuk dan tingkat pelayanan kesehatan nyata. Pada pembelajaran fase klinik mahasiswa diberi kesempatan terlibat dalam pelayanan kesehatan dengan bimbingan dan pengawasan supervisor klinik . Supervisi klinik memiliki dampak yang positif terhadap kesehatan pasien dan perkembangan pengetahuan mahasiswa kedokteran.
Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran supervisi klinik di stase mayor Rumah Sakit pendidikan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi berdasarkan persepsi mahasiswa
Metode: Penelitian ini merupakan gabungan antara penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif yang dilakukan merupakan, studi cross sectional dengan menggunakan kuesioner Clinical Teaching Effectiveness Instrument (CTEI). Penggunaan kuesioner CTEI pada penelitian ini untuk mengetahui gambaran supervisi klinik di stase mayor Rumah Sakit pendidikan berdasarkan persepsi mahasiswa. Selanjutnya dilakukan penelitian kualitatif dengan diskusi kelompok terfokus (DKT) untuk mengkonfirmasi dan mengeksplorasi persepsi mahasiswa tersebut berdasarkan hasil analisis kuesioner
Hasil: Secara keseluruhan untuk setiap 15 item supervisi klinik di setiap bagian mayor memiliki rerata skor CTEI > 3 dengan rentang skor 3.6- 4.1. Rentang skor pada Bagian Ilmu penyakit Dalam 3.2 – 4.7; Bagian Ilmu kesehatan anak 3.4 – 3.8; Bagian Ilmu Bedah 3.6 – 4 dan Bagian Obgyn 3.7- 4.
Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa supervisi klinis stase mayor di Rumah Sakit Pendidikan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi telah berjalan dengan baik.
Kata kunci: supervisi klinik, CTEI, mahasiswa kedoktera