JURNAL HUTAN LESTARI
Not a member yet
    676 research outputs found

    IDENTIFIKASI JENIS ORDO ANURA DI KAWASAN HUTAN ADAT DESA PANA KECAMATAN KAPUAS KABUPATEN SANGGAU

    Full text link
    Customary forest is an area that is within the customary jurisdiction of the community that functions as a support for the life of the community around the forest area. Amphibians can live in various habitat types such as aquatic, terrestrial, arboreal, and fossorial. This study aims to determine the species of members of the Anura Order found in the Pana Village Customary Forest area. The data collection method uses the visual encounter survey / VES method combined with sampling transects. Identification of the type of order is carried out by observing its morphological differences. Based on the results of the research conducted, amphibians found in the customary forest of pana village consist of 4 families; Ranidae (Bijurana nicobariensis, Chalcorana chalconota, Pulchrana signata, Hylarana erythraea, Fejervarya limnocharis, and Fejervarya cancrivora), Bufo (Duttaphrynus melanostictus), Dicloglossidae (Limnonectes kuhlii and Limnonectes malesianus) and Rhacophoridae (Polypedates otilophus).Keywords: anura, customary forests, identificationAbstrakHutan adat merupakan suatu kawasan yang berada dalam wilayah hukum adat masyarakat yang berfungsi sebagai penopang kehidupan masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan. Amfibi dapat hidup di berbagai tipe habitat seperti akuatik, terestrial, arboreal, dan fossorial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies anggota Ordo Anura yang terdapat di kawasan Hutan Adat Desa Pana. Metode pengumpulan data menggunakan metode survey perjumpaan visual/VES yang di kombinasikan dengan transek sampling. Identifikasi jenis ordo anura dilakukan dengan cara mengamati perbedaan morfologinya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, amfibi yang ditemukan di hutan adat desa pana terdiri atas 4 famili; Ranidae (Bijurana nicobariensis, Chalcorana chalconota, Pulchrana signata, Hylarana erythraea, Fejervarya limnocharis, dan Fejervarya cancrivora), Bufo (Duttaphrynus melanostictus), Dicloglossidae (Limnonectes kuhlii dan Limnonectes malesianus) dan Rhacophoridae (Polypedates otilophus).Kata kunci: identifikasi, anura, hutan ada

    ETNOZOOLOGI PENGOBATAN MASYARAKAT DAYAK KERAMBAI ATAS DI DESA RAUT MUARA KECAMATAN SEKAYAM KABUPATEN SANGGAU

    Full text link
    West Kalimantan is one of the provinces in Indonesia which has various types of tribes, one of the tribes in West Kalimantan is the Dayak. Dayak tribe is known for its unique culture in their daily life. One of the Dayak tribes in West Kalimantan is the Dayak Kerambai Atas tribe in Raut Muara Village, Sekayam District, Sanggau Regency. Dayak Kerambai Atas tribe has a relatively high dependence on forests, where natural resources in the forest are used to meet their daily needs. The Kerambai Atas Dayak community still uses forest products in the form of animals that are used for medicinal purposes. The purpose of this study was to obtain data on the animals species, Processing, utilization and conservation status that used for Medecine by Dayak Kerambai Atas community. The method used in this study was a survey method, the selection of respondents was carried out using snowball sampling techniques and data collection using a questionnaire. This study obtained 10 selected respondents and obtained 28 species of animals from 19 families that were used for treatment by the Upper Dayak Kerambai Atas Community. The parts used are the whole body and flesh, blood, fat, feces, bile, tongue, fur, horns.Keywords: Ethnozoology, Medicine, Upper Kerambai DayakAbstrakKalimantan Barat merupakan salah satu Provinsi di Indonesia yang memiliki beragam jenis suku, salah satu suku yang ada di Kalimantan Barat adalah Suku Dayak. Suku Dayak terkenal memiliki keunikan budaya dalam kehidupan sehari-harinya. Salah satu Suku Dayak yang terdapat di Kalimantan Barat yaitu Suku Dayak Kerambai Atas di Desa Raut Muara Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau. Suku Dayak Kerambai Atas memiliki ketergantungan yang relatif tinggi pada hutan, dimana sumber daya alam yang ada di hutan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Masyarakat Dayak Kerambai Atas masih memanfaatkan hasil hutan berupa satwa yang dimanfaatkan untuk pengobatan. Tujuan penelitian untuk mendata jenis satwa yang dimanfaatkan untuk pengobatan dan cara pemanfaatan serta proses pengolahan oleh suku Dayak Kerambai Atas di Desa Raut Muara Kabupaten sanggau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, pemilihan responden dilakukan dengan teknik snowball sampling dan pengumpulan data menggunakan kuisioner. Penelitian ini diperoleh 10 responden terpilih dan memperoleh 28 jenis satwa dari 19 famili yang dimanfaatkan untuk pengobatan oleh Masyarakat Dayak Kerambai Atas. Bagian yang dimanfaatkan adalah seluruh badan dan daging, darah, lemak, kotoran (taik), empedu, lidah, bulu, tanduk.Kata kunci : Etnozoologi, Pengobatan, Dayak Kerambai Ata

    ANALISIS KEANEKARAGAMAN JENIS PADA TEGAKAN MANGROVE DI BLOK HUTAN MONDULAMBI, RPTN KAMBATAWUNDUT, SPTN II LEWA, KAWASAN TAMAN NASIONAL MANUPEU TANAH DARU

    Full text link
    Mangrove ecosystems are vulnerable to changes and shifts in composition of vegetation, due to its dynamic and complex nature. The composition of mangrove vegetation is also influenced by ecosystem reactions in the form of external factors such as ecosystem pressure, tides, and the environmental quality of the ecosystem. To determine the composition of mangrove vegetation, it is necessary to carry out analyse the vegetation, to show the diversity of mangrove species. This study was conducted by analysing vegetation and diversity. The results show that the types of mangrove ecosystem composition in Mondulambi Block, Kambatawundut RPTN, SPTN II Lewa, Manupeu Tanah Daru National Park consisted of 7 families comprising of 9 species i.e: Sonneratia alba, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora mucronata, Excoecaria agallocha, Lumnitzera racemosa, Acanthus illicifolius, Terminalia catappa, Acrostichum aureum, and Derris trifoliata. Indications of moderate diversity based on the Shannon-Wiener Index, respectively for tree, sapling, and seedling growth levels are 1.313, 1.273, and 1.256. Based on Simpson's diversity index indicates a high value, with results of 0.700 at the tree level, 0.674 at the sapling level, and 0.646 at the seedling level. Keywords: Species Diversity, Mangroves, Environmental Quality Index, National Park AbstrakEkosistem mangrove rentan terhadap perubahan dan pergeseran vegetasi penyusun, hal ini dikarenakan ekosistem ini bersifat dinamis dan kompleks. Susunan vegetasi mangrove turut dipengaruhi reaksi ekosistem berupa faktor eksternal seperti tekanan ekosistem, pasang surut air laut, serta kualitas lingkungan ekosistem tersebut. Untuk mengetahui susunan vegetasi mangrove perlu dilakukan analisis vegetasi, yang menunjukkan keanekaragaman spesies mangrove. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis vegetasi dan keanekaragaman. Hasil penelitian menunjukkan jenis penyusun ekosistem  mangrove di Blok Mondulambi, RPTN Kambatawundut, SPTN II Lewa, Taman Nasional Manupeu Tanah Daru terdiri dari 7 famili dengan 9 jenis, terdiri dari Sonneratia alba, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora mucronata, Excoecaria agallocha, Lumnitzera racemosa, Acanthus illicifolius, Terminalia catappa, Acrostichum aureum, dan Derris trifoliata. Indikasi keanekaragaman sedang berdasarkan Indeks Shannon-Wiener, berturut-turut untuk tingkat pertumbuhan pohon, pancang, dan semai adalah 1,313, 1,273, dan 1,256. Berdasarkan indeks keanekaragaman Simpson mengindikasikan nilai yang tinggi, dengan hasil 0,700 pada tingkat pohon, 0,674 tingkat pancang, dan 0,646 tingkat semai. Kata kunci: Keanekaragaman Jenis; Mangrove; Indeks Kualitas Lingkungan; Taman Nasiona

    ASOSIASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) DENGAN TANAMAN GAHARU (Aquilaria malaccensis) DI KECAMATAN MEMPAWAH HILIR KABUPATEN MEMPAWAH

    Full text link
    Agarwood plants (Aquilaria malaccensis) planted in Mempawah Hilir District are developing well in various diameter sizes. Research on its association with natural arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) in Mempawah Hilir District is still limited. The aim of this research is to examine the natural association of AMF and agarwood plants by identifying the genus, the level of association of AMF with the plant and determining the correlation between the number of spores and the percentage of infection with the size of the plant diameter. The research was conducted in Mempawah Hilir District and the Silviculture Laboratory of the Forestry Faculty, Tanjungpura University. Soil and root samples were collected from the rhizosphere area of agarwood plants (Aquilaria malaccensis). The parameters measured are tree diameter, number of spores, and percentage of plant root infection. The research results show that agarwood plants are naturally associated with AMF. Spore identification and infection observations suggest an association with the genus Glomus sp. and Gigaspora sp. at a moderate level (score 3). Simple regression analysis showed a positive relationship between the number of spores, the percentage of infection, and the diameter of the agarwood tree, which indicated an increase in the number of spores and the percentage of infection as the tree diameter increased. The positive relationship between the number of spores, the percentage of infection, and the diameter of the agarwood tree indicates that the natural growth of the agarwood tree is supported by AMF colonization. This can be the basis for more effective forest management strategies, including maintaining soil microbes that enable optimal growth of agarwood plants in natural forests.Keywords: Aquilaria malaccensis, Association, Mempawah HilirAbstrak Tanaman gaharu (Aquilaria malaccensis) yang ditanam di Kecamatan Mempawah Hilir berkembang dengan baik dalam berbagai ukuran diameter. Penelitian tentang asosiasinya dengan fungi mikoriza arbuskula (FMA) alami di Kecamatan Mempawah Hilir masih terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah yaitu mengkaji asosiasi alami FMA dan tanaman gaharu dengan mengidentifikasi genus, tingkat asosiasi FMA dengan tanaman tersebut serta menentukan korelasi jumlah spora dan persentase infeksi dengan ukuran diameter tanaman. Penelitian dilakukan di Kecamatan Mempawah Hilir dan Laboratorium Silvikultur Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Sampel tanah dan akar dikumpulkan dari daerah rhizosfer tanaman gaharu. Paramater yang diukur adalah diameter pohon, jumlah spora, dan persentase infeksi akar tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman gaharu secara alami berasosiasi dengan FMA. Identifikasi spora dan observasi infeksi menunjukkan adanya asosiasi dengan genus Glomus sp. dan Gigaspora sp. pada tingkat sedang (dengan skor 3). Analisis regresi sederhana menunjukkan adanya hubungan positif antara jumlah spora, persentase infeksi, dan ukuran diameter pohon gaharu, yang menandakan peningkatan jumlah spora dan persentase infeksi seiring bertambahnya diameter pohon. Hubungan positif antara jumlah spora, persentase infeksi, dan ukuran diameter pohon gaharu menunjukan bahwa pertumbuhan pohon gaharu secara alami didukung oleh kolonisasi FMA. Ini dapat menjadi dasar bagi strategi manajemen hutan yang lebih efektif, termasuk pemeliharaan mikroba tanah yang memungkinkan pertumbuhan optimal tanaman gaharu dalam hutan alam.Kata kunci: Aquilaria malaccensis, Asosiasi, FMA, Mempawah Hili

    KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DIURNAL DI RUANG TERBUKA HIJAU KOTA PONTIANAK

    Full text link
    The diversity of bird species in the Diurnal in the Pontianak City Green Open Space is a strong reason for conducting this research, so that later the data from this research is expected to be a reference or policy step for agencies related to the management of Green Open Space as a habitat for wildlife birds. Provide information about the diversity of bird species in the Diurnal in the Pontianak City Green Open Space. The data from this research can be used by the relevant agencies as a database for monitoring and controlling bird species in the Pontianak City Green Open Space. This research was conducted by survey method or field observation technique. The data collection used is by direct survey to the location. The observation location was determined purposively, consisting of seven location points in the Green Open Space in Pontianak City. The results of field observations in 7 (seven) green open spaces in Pontianak City obtained a diversity index value of =3.314186. (H ̅) belongs to the high category. List of bird species diurnal green open space Pontianak 13 bird species belonging to 10 families (family). Most of the birds found were from the Columbidae and Passeridae families, and the least found were from the Geopeliastria bird species.Keywords: Diversity, Diurnal Bird, Green Open Space.Abstrakkeanekaragaman jenis burung diurnal di Ruang Terbuka Hijau Kota Pontianak menjadi alasan kuat dilakukannya penelitian ini, sehingga nantinya data hasil dari penelitian ini di harapkan menjadi acuan atau langkah kebijakan bagi instansi terkait pengelolaan Ruang Terbuka Hijau sebagai habitat satwa liar burung. Memberikan informasi mengenai keanekaragaman jenis burung diurnal di Ruang Terbuka Hijau Kota Pontianak. Data hasil penelitian ini dapat digunakan oleh instansi terkait sebagai database dalam rangka pemantauan dan pengontrolan jenis jenis burung di Ruang Terbuka Hijau Kota Pontianak. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei atau teknik observasi lapangan. Pengambilan data yang digunakan adalah dengan cara survey langsung kelokasi. Lokasi pengamatan ditentukan secara purposive, terdiri dari tujuh titik lokasi yang ada di Ruang Terbuka Hijau di Kota Pontianak. Hasil pengamatan lapangan di 7 (tujuh) RTH di Kota Pontianak di peroleh nilai indeks keanekaragaman H ̅ =3,314186. (H ̅) tergolong dalam kategori tinggi. Daftar Jenis burung diurnal ruang terbuka hijau kota Pontianak 13 jenis burung yang tergolong dalam 10 suku (family). Sebagian besar burung yang banyak ditemukan adalah dari family Columbidae dan Passeridae, dan yang paling sedikit ditemukan adalah dari jenis burung Geopeliastria.Kata kunci: Keanekaragaman, Burung Diurnal, Ruang Terbuka Hija

    PEMANFAATAN DAUN JATI MUDA DAN SABUT KELAPA SEBAGAI PEWARNA ALAMI KAIN KATUN DENGAN FIKSATOR AIR JERUK NIPIS

    Full text link
    Indonesia has the variety of plants that have the potential to provide natural dyes to textiles. One of them is the young leaves of teak tress (Tectona grandis) which contain anthocyanin dye. Coconut fiber waste is also used as a natural dye because it contains tanin dye. Many studies have been carried out on young teak leaves and coconut fiber in fabric dyeing. This research creates a new idea that uses both as natural dyes by soaking coconut fiber in young teak leaf extract. Extraction of young teak leaves is carried out by boiling with a vlot of 1 kg of material / 10 L of solvent at a temperature of 100 °C for 30 minutes. Then the young teak leaf extract is added with coconut fiber and left for 24 hours and 48 hours, until a natural dye solution is obtained. The fabric is dipped in the dye for 5 x 20 minutes. Next, the fabric is dried by air-drying and fixation is carried out with lime juice to bind the dye that has been absorbed into the fabric fibers. The results of this research show that soaking coconut fiber for 24 hours and 48 hours in young teak leaf extract can provide a brighter fabric color intensity, as well as adding lime juice fixator. This research shows that soaking coconut fiber in young teak leaf extract can provide a brighter fabric color intensity, likewise with lime juice fixator. In terms of fabric colour fastness to soap washing, the lime juice fixator gave a good average score (4), one level higher that without fixation which got a fairly good average score (3-4).Keywords: coconut fiber, lime juice fixator, natural dye, young teak leaves.AbstrakIndonesia memiliki ragam tumbuhan yang berpotensi memberikan zat warna alami pada tekstil. Salah satunya adalah daun muda dari pohon jati yang mengandung zat warna antosianin. Limbah sabut kelapa juga dimanfaatkan sebagai pewarna alami karena mengandung zat warna tanin. Daun jati muda dan sabut kelapa sudah banyak dilakukan penelitian dalam pewarnaan kain. Penelitian ini membuat gagasan baru yang memanfaatkan keduanya sebagai pewarna alami dengan cara perendaman sabut kelapa dalam ekstrak daun jati muda. Ekstraksi daun jati muda dilakukan dengan cara perebusan dengan plot 1 kg bahan / 10 L pelarut pada suhu 100 °C selama 30 menit. Kemudian ekstrak daun jati muda ditambahkan dengan sabut kelapa dan didiamkan selama 24 jam dan 48 jam, hingga diperoleh larutan pewarna alami. Kain dicelupkan ke dalam pewarna selama 5 x 20 menit. Selanjutnya kain dikeringkan dengan cara diangin-anginkan dan dilakukan fiksasi dengan air jeruk nipis untuk mengikat zat warna yang telah terserap dalam serat kain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman sabut kelapa selama 24 jam dan 48 jam dalam ekstrak daun jati muda dapat memberikan intensitas warna kain yang semakin terang, begitu juga dengan penambahan fiksator air jeruk nipis. Dalam segi tahan luntur warna kain terhadap pencucian sabun, fiksator air jeruk nipis memberikan nilai rata-rata baik (4), satu tingkat lebih tinggi daripada tanpa fiksasi yang memperoleh nilai rata-rata cukup baik (3-4).Kata kunci: sabut kelapa, fiksator air jeruk nipis, pewarna alami, daun jati muda,

    POTENSI KERAGAMAN JENIS MANGROVE TEKOLABBUA, KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN (Potential Diversity Of Tekolabbua Mangroves, Pangkajene And Kepulauan Regency)

    Full text link
    Information related to the potential of mangroves in the preservation and breeding of forest ecosystems is not comprehensive enough to support the function of mangrove forest ecosystems at large. This study aims to determine the potential diversity of mangrove species in Tekolabbua district pangkajene and islands. The method used was systematic line sampling with random start and data analysis using quantitative descriptive approach to determine the potential diversity of mangrove species based on the structure, composition, and diversity of mangrove species. The results showed that the structure of mangrove stands in the diameter class was dominated by Avicennia alba species in each diameter class. The composition of mangrove species found were Sonneratia alba, Avicennia alba, and Rhizophora mucronata with INP at the seedling growth rate of Avicennia alba 200% and at the sapling and tree level the highest INP was found in Avicennia alba with an INP value of 105.799% sapling level and 159.97% tree level INP. While the lowest INP value is found in Rhizophora mucronata species with an INP value for the sapling level of 95.54% and an INP value for the tree level of 45.16%.  The species diversity index is classified as low with a moderate level of evenness, indicating that the Tekolabbua mangrove community, Pangkajene Regency and the islands are classified as still unstable.Keywords: Stand, Structure, Species, Composition, Mangrove.AbstrakInformasi terkait potensi mangrove dalam pelestarian dan pemuliaan ekosistem hutan belum cukup komprehensifnya dalam medukung fungsi ekosistem hutan mangrove secara luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi keragaman jenis Mangrove di Tekolabbua kabupaten pangkajene dan kepulauan. Metode yang digunakan adalah systematic line sampling with random start dan Analisis data mengunakan pendekatan deskriptif kuantitatif untuk mengetahui potensi keragaman jenis mangrove berdasarkan struktur, komposisi, dan keragaman jenis mangrove. Hasil penelitian menunjukkan struktur tegakan mangrove pada kelas diameter didominasi oleh spesies Avicennia alba pada setiap kelas diameter. Komposisi jenis mangrove yang ditemukan adalah Sonneratia alba, Avicennia alba, dan Rhizophora mucronata dengan INP pada laju pertumbuhan semai Avicennia alba 200% dan pada tingkat pancang dan pohon INP tertinggi terdapat pada Avicennia alba dengan nilai INP sebesar tingkat pancang 105,799% dan INP tingkat pohon 159,97%. Sedangkan nilai INP terendah terdapat pada spesies Rhizophora mucronata dengan nilai INP untuk tingkat pancang 95,54% dan nilai INP untuk tingkat pohon 45,16%.  Indeks keanekaragaman jenis tergolong rendah dengan tingkat kemerataan sedang, menunjukkan bahwa komunitas mangrove Tekolabbua Kabupaten Pangkajene dan kepulauan tergolong masih labil.Kata kunci: Struktur, Tegakan, Komposisi, Keragaman, Kemerataan, Mangrov

    STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA RIAM BATU TIMAH DI DUSUN MADI KABUPATEN BENGKAYANG

    Full text link
    Riam Batu Timah, located in Madi Village, Lumar District, Bengkayang Regency, is a tourist attraction that has natural beauty and tourist attractions so that it has the potential to compete with other tourist destinations. Even though it has great potential, Riam Batu Timah is still not well recognized, so the number of visitors is still low. The development of Riam Batu Timah as a tourist destination can create opportunities to increase regional income. The purpose of this study was to analyze the ecotourism development strategy of Riam Batu Timah based on internal and external factors. The research used survey methods and interviews with Pokdarwis and related agencies and analyzed using SWOT. The results showed that the Batu Timah Ecotourism development strategy is an aggressive strategy (S-O) which is a strategy that utilizes all strengths to obtain and take advantage of opportunities.Keywords: aggressive strategy, IFAS and EFAS, Riam Batu Timah, SWOT analysis.AbstrakRiam Batu Timah terletak di Desa Madi Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang, merupakan objek wisata  yang memiliki keindahan alam dan atraksi wisata sehingga memiliki potensi untuk bersaing dengan destinasi wisata lainnya. Meskipun memiliki potensi yang besar, Riam Batu Timah masih belum banyak diketahui oleh masyarakat luas, sehingga jumlah pengunjungnya masih sedikit. Pengembangan Riam Batu Timah sebagai tujuan wisata dapat menciptakan peluang untuk meningkatkan pendapatan daerah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis strategi pengembangan ekowisata Riam Batu Timah berdasarkan faktor internal dan eksternal. Penelitian menggunakan metode survei dan wawancara kepada Pokdarwis dan instansi terkait dan dianalisis dengan menggunakan SWOT. Hasil penelitian menunjukkan strategi pengembangan Ekowisata Riam Batu Timah adalah strategi agresif (S-O) dimana strategi yang memanfaatkan seluruh kekuatan untuk memperoleh dan memanfaatkan peluang yang dimiliki.Kata kunci        : strategi agresif, IFAS dan EFAS, Riam Batu Timah, analisis SWOT

    KAJIAN PEMANFAATAN JENIS-JENIS PANDANUS (PANDANACEAE) OLEH MASYARAKAT DESA NANGA KERUAP KABUPATEN MELAWI

    Full text link
    This study aims to examine the types of pandanus (Pandanceae) used by the community and the form/pattern of pandanus utilization by the people of Nanga Keruap Village, Menukung District, Melawi Regency. Based on the results of the study, it was found that there were four types of pandanus plants, namely fragrant pandanus (Pandanus amaryllifolius Roxb), kajang/perupuk (Pandanus aristatus Martelli), ries/ririh (Pandanus Sp.1) and soli/kesopuk (Pandanus Sp.2). The highest Use Value (UV) was from the kajang plant (Pandanus aristatus Martelli) with a value of 1. The highest Informant Consensus Factor (ICF) was found in the user group as housing materials, food ingredients, dyes, and traditional rituals, with an average value of 1. The highest Fidelity Level (FL) was found in soil plants with a value of 100%. Leaves are the most widely used part of the pandanus plant. The pattern of using pandanus plants tends to be personal consumption. Each type of pandanus is taken and processed into a product by the community as an individual need, not for sale. Pandanus plants are obtained from the wild (kajang, ririh, and soli) and cultivated plants (fragrant pandan).Keywords: Pandanaceae, pandanus, plants, utilization, Nanga Keruap Village.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji jenis-jenis pandanus (Pandanaceae) yang dimanfaatkan masyarakat serta mengkaji bentuk/pola pemanfaatan pandanus oleh masyarakat Desa Nanga Keruap Kecamatan Menukung Kabupaten Melawi. Penelitian ini dilakukan dengan metode Snowball sampling dan purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan sebanyak 4 jenis tumbuhan pandanus yaitu pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb), kajang/perupuk (Pandanus aristatus Martelli), ries/ririh (Pandanus Sp.1) dan soli/kesopuk (Pandanus Sp.2). Use Value (UV) tertinggi yaitu dari jenis tumbuhan kajang (Pandanus aristatus Martelli) dengan nilai 1. Informant Consensus Factor (ICF) tertinggi terdapat pada kelompok pemanfaatan sebagai bahan perumahan, bahan makanan, pewarna, dan ritual adat dengan rata-rata nilai 1. Fidelity Level (FL) tertinggi terdapat pada tumbuhan soli dengan nilai 100%. Daun merupakan bagian tumbuhan pandanus yang paling banyak dimanfaatkan. Pola pemanfaatan tumbuhan pandanus cenderung bersifat konsumsi pribadi dimana setiap jenis pandanus yang diambil dan diolah menjadi sebuah produk oleh masyarakat sebagai kebutuhan pribadi tidak untuk dijual. Tumbuhan pandanus diperoleh dari tumbuhan liar (kajang, ririh, dan soli) dan budidaya (pandan wangi).Kata kunci: Desa Nanga Keruap, pandanaceae, pandanus, pemanfaatan, tumbuhan

    KARAKTERISTIK SIFAT FISIKA BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA DAN TONGKOL JAGUNG

    Full text link
    Agricultural waste needs to be processed into products that provide benefits by making alternative fuels in the form of biobriquettes (charcoal briquettes). The purpose of this study was to determine the best composition of charcoal briquettes from coconut shell waste and corn cobs by testing charcoal briquettes in order to obtain quality charcoal briquettes in accordance with SNI No.1/6235/2000 standards.  The method used in this research is using experimental method with experimental design using non-factorial Completely Randomized Design (RAL) with three treatments of raw material types with 3 replications.   Based on the results of the study, the following conclusions were obtained: The value of moisture content, ash content, fly substance content and calorific value are included in the SNI 01-6235-2000 standard except the calorific value of corn cob charcoal briquettes is not included in the standard. Bound carbon content is not found in SNI 01-6235-2000 but based on Japanese, American and British standards the value is included in the standard. The highest value of moisture content in corn cob briquettes (TJ) with a value of 0.88% and the lowest in coconut shells at 0.41%.  The highest ash content value in the mixed charcoal briquettes of corn cob and coconut shell (TT) was 11.79% and the lowest in the coconut shell charcoal briquettes (TK) was 7.09%. The highest value of flying matter content in the mixed charcoal briquettes of corn cob and coconut shell (TT) was 25.67% and the lowest in coconut shell (TK) was 10.22%.  The value of bound carbon content of corn cob (TJ) was higher at 77.86% and the lowest in the charcoal briquette of mixed corn cob coconut shell (TT) at 50.94%.  The highest calorific value in the mixed charcoal briquettes of coconut shell corn cob (TT) was 5974 cal/gr and the lowest in the charcoal briquettes of corn cob was 4227 cal/gr.Keywords: charcoal briquette, coconut shell, corn cob, biomassAbstrakLimbah pertanian perlu dilakukan pengolahan menjadi produk yang  memberi manfaat dengan membuat bahan bakar alternative berupa biobriket (briket arang). Tujuan dari penelitian ini mengetahui komposisi terbaik briket arang dari limbah cangkang kelapa dan tongkol jagung dengan melakukan pengujian briket arang agar mendapat briket arang yang berkualitas sesuai dengan standar SNI No.1/6235/2000.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan tiga perlakuan jenis bahan baku dengan 3 ulangan.   Berdasarkan hasil penelitian diperoleh beberapa kesimpulan bahwa hasil uji sifat fisis yang terdiri dari nilai kadar air, kadar abu, kadar zat terbang dan nilai kalor sudah memenuhi persyaratan standar SNI 01-6235-2000. Akan tetapi, nilai kalor briket arang tongkol jagung tidak masuk dalam standar. Kadar karbon terikat tidak terdapat pada SNI 01-6235-2000 tetapi berdasarkan standar Jepang, Amerika dan Inggris nilainya masuk dalam standar. Nilai kadar air tertinggi pada briket tongkol jagung (TJ) dengan nilai sebesar 0,88% dan terendah pada cangkang kelapa sebesar 0,41%.  Nilai kadar abu tertinggi pada briket arang campuran tongkol jagung dan cangkang kelapa (TT) sebesar 11,79% dan terendah pada briket arang tempurung kelapa (TK) sebesar 7,09%. Nilai kadar zat terbang tertinggi pada briket arang campuran tongkol jagung tempurung kelapa (TT) sebesar 25,67% dan terendah pada tempurung kelapa (TK) sebesar 10,22%.  Nilai kadar karbon terikat tongkol jagung (TJ) lebih tinggi sebesar 77,86% dan terendah pada briket arang campuran tongkong jagung tempurung kelapa (TT) 50,94%.  Nilai kalor tertinggi pada briket arang campuran tongkol jagung tempurung kelapa (TT) sebesar 5974 cal/gr dan yang terendah pada briket arang tongkol jagung sebesar 4227 cal/grKata kunci: briket arang, tempurung kelapa, bongkol jagung, biomass

    671

    full texts

    676

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL HUTAN LESTARI
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇