POROS TEKNIK
Not a member yet
161 research outputs found
Sort by
Pemodelan Lahan Rawa Pasang Surut Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh dan GIS Untuk Penentuan Zona Hidrotopografi (Studi Kasus: Delta Pulau Petak Kalimantan)
Pengembangan lahan rawa berarti mengubah lahan rawa sedemikian rupa sehingga tercipta suatu lingkungan baru yang cocok untuk pengembangan budidaya pertanian dan pemukiman. Proses pengembangan lahan dapat memanfaatkan teknologi penginderaan jauh dan geography infomation system (GIS) untuk membuat digital elevation model (DEM). Pembuatan model menerapkan metode interpretasi dan rektifikasi citra dengan cara interpolasi irregular pada tiap rona pixcel citra dan mengacu pada data perwakilan dilapangan. Zona-zona hidrotopografi di dapat dengan menganalisis model lahan komparatif terhadap komponen elevasi muka air. Hasil pemodelan menunjukan karakteristik lahan Delta Pulau Petak terbentuk dari dua sungai besar, Sungai Barito sepanjang 139,58 km dan Sungai Murung-Kapuas sepanjang 120,30 km. Batas ketinggian berjumlah 18 klaster dengan ketinggian maksimum mencapai +4 meter dan ketinggian minimum mencapai -18 meter terhadap muka air rerata. Luas lahan 284.936,81 ha dan jarak keliling 298,04 km. Relief topografi lahan relatif datar. Luas wilayah terluapi air pasang berdasarkan bagian zona hidrotopografi untuk zona A mencapai 35% dengan ketinggian air 0,39 meter, zona B mencapai 61% dengan tinggi air 0,96 meter dan zona C mencapai 4% dengan tinggi air 1,32 meter. Kegunaan lain dari model ini dapat membuat sistem manajemen basis data jaringan irigasi pulau petak. Validasi model ini telah dilakukan dilapangan dengan hasil memuaska
Pengantar Elemen Logika Fuzzy
Logika fuzzy pada umumnya digunakan untuk menangani kasus dimana terdapat elemen keraguan, ketidak pastian, dan bias pada kasus yang ditangani. Pada penelitian ini terdapat penjelasan mendasar dalam implementasi logika fuzzy, sehingga dapat membantu penelitian lainnya dalam melakukan implementasi logika fuzzy pada kasus yang ditanganinya
Pengaruh Perbedaan Jenis Media Pendingin Pada Solar Collector Pipa Segiempat Terhadap Efisiensi
Masalah mendasar dari solar collector khususnya jenis solar collector plat datar adalah bagaimana meningkatkan kinerja efisiensinya semaksimal mungkin. Dalam meningkatkan kinerja ini para peneliti sebelumnya melakukan berbagai cara, diantaranya memodifikasi, menambah peralatan, menguji bahan yang digunakan. Dari semua studi jurnal yang terkait dengan masalah peningkatan kinerja ini penggunaan pipa air yang terhubung ke penyerap menggunakan pipa panas bulat, menyebabkan konduksi panas kurang efektif mengalir dari absorber ke pipa, selanjutnya karena bagian bawah secara langsung bersentuhan dengan insulasi sehingga luas permukaan konduksi dari pipa ke isolasi besar, tentu saja terjadi kehilangan energi dari solar collector. Penelitian ini fokus membuat fluid transfer heat transfer, memungkinkan untuk perpindahan panas yang lebih baik, serta menguji beberapa jenis cairan yang digunakan sebagai media transfer panas. Pengolahan data dengan uji statistik adalah ANOVA dari beberapa jenis fluida yang digunakan dan beredar pada solar collector plat datar dengan pipa persegi dengan sirip. Hasil pengujian dari analisis statistik dengan indikator perbedaan suhu penukar air inlet dan exchanger tidak menunjukkan perbedaan karena F tabel lebih besar dari F aritmatika. Dari ketiga jenis media yang diuji pada solar collector pipa persegi dengan sirip tidak mempengaruhi peningkatan efisiensi
Pengaruh Perbedaan Machine Model Heavy Equipment Terhadap Nilai Mechanical Availability (Studi Kasus Pada PT. X Perusahaan Tambang Batubara)
Berdasarkan pada penelitian-penelitian terdahulu yang berkaitan dengan kajian mechanical availablity lebih banyak pada mesin-mesin industri dan belum banyak yang mengkaji masalah ini yang berhubungan dengan alat berat yang dioperasikan di pertambangan. Sehingga pada permasalahan ini adalah bagaimana pengaruh dari berbagai macam model alat berat terhadap nilai mechanical availability, serta untuk melihat jenis model mana yang mempunyai nilai Mechanical Availablity yang paling besar. Data diambil dari data History Preventive Maintanance pada sebuah perusahaan tambang di Kalimantan Selatan, selama periode 3 tahun. Pengujian data dengan menggunakan uji Posteriori (Post Hoc) untuk melihat model machine mana yang mana dari rata-ratanya nilai mechnalical availability adalah paling kuat berbeda.
Berdasarkan hasil pengujian statistik uji ANOVA dengan uji F dan hasil analisis Linier Contrast menunjukkan kesimpulan bahwa rata rata nilai mechanical availability dari kesebelas model unit dalam sama. Sehingga uni Posteriori (Post Hoc) tidak bisa dilaksanakan.
Kata Kunci : Mechanical Availability, Model Unit, Post Ho
BEDAH PAPER: MEMETAKAN LAHAN TERIRIGASI PADA SKALA 250-M DENGAN MENGGABUNGKAN DATA MODIS DAN STATISTIK AGRIKULTUR NASIONAL
Pengaturan irigasi yang buruk dapat memberikan dampak besar pada produksi pertanian dan lingkungan, paper ini bergantung pada tiga hipotesis yang akan didiskusikan lebih lanjut : sementara pengaturan yang baik dapat mengurangi limbah tanah dan air dan membantu petani memaksimumkan keuntungannya. Dalam paper ini dipaparkan model geospasial yang robust namun sederhana dan mudah untuk membuat peta areal teririga-si, yang kemudian disebut sebagai MODIS Irrigated Agriculture Dataset for United States (MirAD-US). Metode ini menggunakan tiga input data utama:a.  Statistik area irigasi pada level kota milik USDA untuk 2002b.  Puncak tahunan MODIS Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) (sebuah pendekatan untuk pertumbuhan maksimum vegetasi [2])c.  Mask land cover untuk lahan agrikultur yang diperoleh dari NLCD 200
PENGARUH KONSENTRASI CAMPURAN ASETON DAN METANOL TERHADAP UNJUK KERJA TERMAL REVOLVING HEAT PIPE DENGAN ALUR MEMANJANG
Heat pipe adalah suatu alat penukar kalor yang memungkinkan perpindahan sejumlah besar kalor melalui luas permukaan yang sangat kecil. Heat pipe terdiri dari evaporator, adiabatis dan kondensor. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh konsentrasi volume aseton – metanol fluida kerja terhadap kinerja termal dan karakteristiknya pada pipa kalor.Pipa kalor dibuat dari pipa tembaga Æ 12,7 x 500 mm, daerah evaporator dan adiabatik diisolasi, sedangkan daerah kondensornya diberi sirip untuk penyerapan kalor. Panjang daerah evaporator 110mm, adiabatik 230 mm, dan kondensor 160 mm. Variasi konsen-trasi volume aseton – metanol fluida kerja yang digunakan adalah 0% ( metanol ), 20%, 40%, 60%, 80%, 100%. Daya input yang digunakan adalah 6; 11,4; 17,2; 25; 32,2; 40,1; 50; 61 Watt. Data yang diperlukan adalah temperatur di evaporator (Te), kondensor (Tk1, Tk2, Tk3), udara (Tu).Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pada semua variasi fluida kerja kecuali metanol, semakin besar konsentrasi volume aseton menghasilkan temperatur di bagian evapo-rator, end to end DT, dan tahanan termal yang semakin kecil. Semua variasi fluida kerja pada daya input yang rendah mempunyai tahanan termal tertinggi kemudian terus me-nurun sampai daya input terbesar. Karakteristik fluida kerja pada daya input yang tinggi tidak menjamn bahwa, dengan nilai tahanan termal kecil dapat menghasilkan kapasitas perpindahan panas ( fluk kalor ) yang tinggi
PENGENDALIAN MUTU AGREGAT KELAS A DAN KELAS B PADA PEKERJAAN JALAN SUNGAI ULIN-MATARAMAN
Pengendalian mutu merupakan salah faktor penting yang dapat memberikan informasisebagai tolok ukur, apakah suatu pekerjaan sudah sesuai dengan yang diinginkan. Adabeberapa pemeriksaan laboratorium yang perlu dikerjakan untuk mengetahui mutu agregatkelas A dan kelas B , yaitu Atterberg (pemeriksaan konsistensi tanah), analisa saringan,abrasi, percobaan pemadatan, CBR (California Bearing Ratio), dan pemeriksaan lapangandengan metode sand cone test.Pengendalian mutu ini mengcu pada buku Spesifikasi Umum tahun 2010 (rev.2) yangditerbitkan oleh Kementrian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jendral Bina Marga RepubikIndonesia. Sedangkan objek penelitian ini dilakukan pada pekerjaan jalan Sungai Ulin-Mataraman,yaitu pada pekerjaan lapis pondasi agregat kelas A dan lapis pondasi agregatkelas B sepanjang dari Sta 11+975 s/d sta 13+000.Hasil yang diperoleh unluk material LPA, memperlihatkan semua titik berada pada nilaikadar air antara 5.10% s/d 6.20%, sesuai spesifikasi, kadar air berada pada rentang 3%dibawah kadar air optimum dan 1% diatas kadar air optimum yaitu antara rentang 3,5% -7,5%. berat kering maksimum LPA, ?d (lab) yang direncanakan 2,170 gc/cc dengan derajatkepadatan adalah 100%, hasil lapangan memberikan nilai kepadatan antara ?d =101.19 gc/ccs/d 108.45 gc/cc.Unluk material LPB, ada 4 STA dengan kadar air diluar rentang kadar air4,4% - 7,4%. yaitu STA 12+100 = 8,7%, STA 12+200 = 8,1%, STA 12+400 = 9,6% dan STA12+600 = 8,6%. Solusinya adalah dengan mengeringkan melalui sinar matahari dalam waktutertentu maka kadar air lapangan akan turun sampai pada rentang yang disyaratkan. Beratkering maksimum LPB, ?d (lab), direncanakan 2,170 gc/cc dengan derajat kepadatan adalah>=95%. Dari hasil lapangan memberikan nilai ?d =106.78 gc/cc s/d 112.73 gc/cc, kecuali padasatu titik dengan derajat kepadatan adalah =99.92, namun masih >=95%
ANALISIS PEMILIHAN MATERIAL BETON DAN MATERIAL BAJA SEBAGAI ALTERNATIF MATERIAL PENGGANTI KAYU ULIN UNTUK KOLOM/TIANG
Kelangkaan kayu ulin saat ini dihadapi oleh industri konstruksi khususnya untuk pekerja-an yang menggunakan konstruksi kayu. Kendala yang dihadapi saat ini selain langka ka-yu ulin harganya pun kian hari mengalami kenaikan yang cukup tinggi akibat kelangka-annya.Permasalahan ini membuat kita harus mencari alternatif material lain yang tentunya da-pat berfungsi sesuai spesifikasi teknis yang diinginkan.Metode penelitian yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor menggunakan Meto-de Zero-one. Pemilihan variabel dikemukakan untuk menentukan alternatif pemilihan ma-terial beton dan baja. Masing-masing faktor memiliki variabel yang spesifik berkaitan dengan material beton dan baja.Penilaian faktor sebagai dasar pengukuran untuk menentukan alternatif penilaian menun-jukan bahwa untuk faktor pengadaan beton dan baja sama sama memiliki nilai 139.70, untuk faktor teknis bahan beton memiliki nilai 360.29 dan baja memiliki nilai 485.29. Se-dangkan untuk faktor finansial/ekonomi beton memiliki nilai 175 dan baja memiliki nilai 125
PENERAPAN SUPPLY CHAIN MANAGEMENT PADA PROSES MANAJEMEN DISTRIBUSI DAN TRANSPORTASI UNTUK MEMINIMASI WAKTU DAN BIAYA PENGIRIMAN
Proses distribusi yang diterapkan oleh PT Holcim Indonesia Tbk, dengan menggunakan truk memiliki beberapa kelemahan yaitu : lamanya waktu distribusi, panjangnya rute yang harus dilalui dan ketimpangan pembagian order oleh transporter. Untuk mengatasi per-masalahan tersebut dibutuhkan suatu metode untuk mengatur distribusi dan transportasi semen. Supply Chain Management (SCM) adalah suatu proses yang secara strategis mengendalikan aliran barang, jasa, informasi, uang dan pengetahuan antar organisasi yang bekerjasama dalam suatu rantai pasok untuk mencapai tujuan dari suatu organisasi atau perusahaan. Pada skripsi ini dilakukan proses perhitungan waktu dan distribusi se-men dari Cilacap ke area distribusi di wilayah Jawa Timur dengan menggunakan metode awal yang digunakan perusahaan dan akan dilakukan pendistribusian dengan menggu-nakan moda transportasi truk dan kereta api, dengan bantuan metode saving matrix. Me-tode saving matrix digunakan sebagai salah satu alternatif metode yang dapat digunakan untuk mencari rute distribusi terpendek yang sebaiknya dilalui untuk proses distribusi. Pada metode saving matrix akan diketahui juga kota atau area mana yang dapat dilayani bersamaan berdasarkan hasil saving yang diperoleh. Proses perhitungan distribusi dan transportasi menggunakan metode awal yang telah digunakan perusahaan, diperoleh ha-sil total waktu 343 jam dengan total biaya sebesar Rp 26.349.400,00. Sedangakan hasil perhitungan dengan menggunakan metode saving matrix diperoleh besarnya waktu dan biaya paling rendah pada perhitungan waktu dan biaya distribusi regional 3, yaitu proses distribusi dengan menggunakan gabungan moda transpotasi kereta api dan truk. Besar-nya waktu dan biaya distribusi total yang akan dikeluarkan perusahaan, yaitu selama 39 jam dan sebesar Rp 17.183.886,80. Dari hasil tersebut perusahaan akan menghemat waktu distribusi sebesar 88,62 % dan 34 % untuk biaya distribusinya
PENENTUAN BEBAN BATAS TIANG GALAM DENGAN LOADING TEST
Keadaan tanah di Banjarmasin mempunyai struktur jenis tanah yang sangat lunak, olehkarena itu perlu dilakukan penelitian dan pengkajian yang mendalam terhadap stabilisasitanah. Dalam menentukan daya dukung batas, dilakukan penelitian tanah berupa ujipembebanan tiang (loading test).Dalam penelitian ini hanya difokuskan pada tiang galam tunggal dengan diameter 12 cmdan 14 cm dengan panjang 3,5 meter dengan Sampel uji masing-masing 4 Sampelpembebanan yang diberikan hanya berupa beban mati dari sejumlah material bata press.Kegiatan ini dilaksanakan di kampus Politeknik Negeri Banjarmasin pada tanggal 17November sampai 1 Desember 2004.Dalam pemberian beban awal mengacu pada hasil pengujian sondir di lokasi penelitian.Pembebanan diberikan dilakukan secara bertahap dan pembebanan dihentikan apabilapenurunan yang terjadi telah mencapai 10 % diameter tiang. Dalam analisa data kamimenggunakan 3 metode yaitu : P-S, marzurkiewich dan chin.Dari hasil analisa data ternyata didapat interpretasi Beban Ultimit dengan menggunakanMetode P-S menghasilkan beban yang lebih kecil dibandingkan dengan Metode Chin danmarzurkiewich