JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis)
Not a member yet
255 research outputs found
Sort by
Perception, knowledge, and attitude about medicines among senior high school students in Pariaman City, West Sumatra
Penggunaan obat yang tidak rasional termasuk terjadinya penyalahgunaan obat merupakan salah satu dampak dari rendahnya pengetahuan masyarakat tentang obat, termasuk siswa SMA. Penelitian ini bertujuan untuk menilai persepsi, pengetahuan dan sikap siswa sekolah menengah atas (SMA) di Kota Pariaman tentang obat-obatan. Penelitian dilakukan dengan metode deksriptif dan analitik secara cross sectional menggunakan instrumen kuesioner. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil menunjukkan bahwa Persepsi siswa terhadap keamanan obat dikategorikan tinggi (95,5%), siswa bersikap positif terhadap obat (60,3%) namun memiliki pengetahuan yang kurang (74,8%). Alamat rumah responden yaitu tinggal di kota atau desa memiliki hubungan yang bermakna dengan tingkat pengetahuan. Siswa yang tinggal di kota memiliki pengetahuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tinggal di desa. Terdapat hubungan antara persepsi dengan sikap (P0,05) dan antara pengetahuan dengan sikap (P>0,05). Rendahnya persepsi dan pengetahuan dapat mendorong siswa untuk melakukan kesalahan yang lebih fatal seperti penyalahgunaan obat atau penggunaan obat yang tidak rasional. Upaya berupa pendidikan obat di sekolah merupakan langkah yang sangat penting dilakukan untuk meningkatkan pengetahauan siswa tentang obat.The irrational use of drug and drug abuse are some of the impacts of low public knowledge about medicine, including in high school students. The purpose of this study was to assess perceptions, knowledge and attitudes about medicine among senior high school students in Pariaman City, West Sumatera. The research was conducted by descriptive and analytical method with cross-sectional by using questionnaire instrument. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis. The results showed that students’ perception on medicine was categorized as high (95.5%), student attitude was positive (60.3%) but had less knowledge (74.8%). Students living in the city had higher knowledge than those living in the village. There was a significant correlation between perception and attitude (P 0.05) and attitude (P> 0.05). Low perceptions and knowledge can encourage students to do more fatal errors such as medications or irrational drug use. Efforts such as education about medication in schools are very important steps to improve students’ knowledge about medicine
Efektifitas Antibiotik pada Pasien Ulkus Kaki Diabetik
Patients with diabetic foot infection require antibiotics. Generally, antibiotics may have low sensitivity and some bacteria have been resistance to antibiotics. Currently, evaluating the effectiveness of antibiotics is necessary to avoid antibiotic resistance. This study has been conducted using the longitudinal method and prospective sampling technique. Observed parameters were leukocyte, signs of infection and fever after using antibiotics. The data collected were then analyzed to determine the effectiveness of antibiotics based on supporting literature. A number of 19 out of 28 samples of patients with diabetic foot ulcer met the criteria, consisting of 63.16% and 36.84% of male and female patients, respectively. Most of the patients (68,42%) were aged 45-60 years old living with diabetes for more than 10 years. The antimicrobial therapy were given empirically in 8 patients (42,10%) and based on microbial sensitivity (definitive) in 11 patients (57,89%). The use of antibiotics was effective in 15 patients (78,94%) marked by the leukocyte count, signs of infection and fever parameters after 2-3 days using antibiotics. The optimum therapeutic outcome was achieved in 7 to 21 days.Pasien Infeksi ulkus kaki diabetik memerlukan penggunaan antibiotik, antibiotik yang sering digunakan mempunyai sensitifitas rendah dan beberapa pasien pada penggunaannya dalam keadaan resistensi, evaluasi efektifitas antibiotik perlu dilakukan untuk mengatasi masalah penggunaan antibiotik saat ini. Penelitian ini dilakukan dengan studi longitudinal dan teknik pengambilan sampel secara prospektif. Paramater yang diamati adalah keadaan leukosit, tanda infeksi dan demam seteleh pemberian antibiotik. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif untuk menentukan efektifitas antibiotik berdasarkan literatur yang mendukung. Hasil perolehan sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 19 sampel pasien infeksi ulkus kaki diabetik yang memenuhi kriteria dari 28 orang populasi terdiri dari 63,16% pasien laki-laki dan 36,84% pasien perempuan, 68,42 % usia 45-60 tahun dan lama diabetes terbanyak adalah > 10 tahun. Hasil evaluasi efektifitas antibiotik yaitu ditemukan 8 orang pasien yang menggunakan antibiotik secara dugaan (empiris) dan 11 orang pasien menggunakan antibiotik berdasarkan sensitifitas (definitif). Antibiotik efektif pada 15 orang subjek penelitian yaitu dapat memberikan respon pada leukosit, tanda infeksi dan parameter demam seteleh pemberian antibiotik 2-3 hari dan hasil terapi maksimal pada hari ke 7 sampai 21
Interaction of sambiloto extract (Andrographis paniculata (Burm.F.)Nees) with glibenclamide towards CYP3A4 gene expression in HEPG2 cell line
Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia. Berbagai terapi dilakukan untuk mengatasi hiperglikemia, baik dengan menggunakan obat antidiabetes oral maupun tanaman herbal berkhasiat antidiabetes. Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm.F.)Nees) merupakan salah satu herbal antidiabetes yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Andrografolida merupakan zat aktif yang terdapat dalam sambiloto yang berperan sebagai agen antidiabetes. Namun, dalam banyak kasus kombinasi antara herbal dan obat sintesis menyebabkan interaksi jika digunakan pada waktu bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data interaksi ekstrak etanol herba sambiloto dengan glibenklamid terhadap ekspresi gen CYP3A4 pada kultur sel HepG2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan ekspresi gen CYP3A4 pada pengujian sampel tunggal maupun kombinasi antara ekstrak etanol herba sambiloto dan glibenklamid dengan bertambahnya konsentrasi. Pada konsentrasi 50 dan 100 μg/mL sambiloto, glibenklamid, dan kombinasinya menyebabkan penurunan ekspresi gen CYP3A4 sekitar 0,82, 0,70; 0,89, 0,53; 0,84, 0,72. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan terjadi penurunan ekspresi gen CYP3A4 dengan bertambahnya konsentrasi sampel.ABSTRACT: Diabetes mellitus is one of the chronic metabolic diseases characterized by hyperglycemia. Various therapies are done to overcome hyperglycemia, either with oral antidiabetic drugs or plants that have antidiabetic properties. Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm.F.)Ness) is one of antidiabetic plants that is widely used by Indonesian people. However, in many cases, the combination of herbs with synthesis drugs causes interaction when used at the same time. This study was aimed to obtain interaction data of the sambiloto extract with glibenclamide towards CYP3A4 gene expression in HepG2 cell line. The results of this study showed a decreased in the expression of CYP3A4 gene in a single sample test as well as a combination sample at concentrations of 50 and 100 μg/mL for green chiretta extract, glibenclamide and its combination decreased CYP3A4 gene expression respectively 0,82, 0,70; 0,89, 0,53; 0,84, 0,72. It can be concluded there is a decreased in the expression of CYP3A4 gene along with the increase of sample concentration
Comparison of SYBR Green and hydrolysis probe in analyzing porcine and bovine gelatin DNA using real time PCR
Pemanfaatan gelatin secara luas menimbulkan kontroversi dan kekhawatiran bagi masyarakat muslim karena pada umumnya gelatin terbuat dari kulit babi dan sapi. Salah satu teknik analisis yang dapat membedakan gelatin sapi dan gelatin babi adalah Real Time Polymerase Chain Reaction (PCR). Real Time PCR merupakan metode analisis berbasis DNA yang handal, efektif, dan terpecaya. Dalam analisis kualitatif dan kuantitatif, Real Time PCR membutuhkan pewarna fluoresens. Pewarna fluoresens yang umum digunakan adalah SYBR green dan hydrolysis probe. Telah dilakukan perbandingan antara metode SYBR green dan hydrolysis probe dalam analisis DNA gelatin menggunakan Real Time PCR. DNA pada gelatin diisolasi menggunakan kit komersial. Isolat DNA gelatin sapi dan DNA gelatin babi didapatkan sebanyak 19,38 ng/μl dan 13,63 ng/μl dengan kemurnian 1,566 dan 1,573. Isolat DNA yang dianalisis dengan metode SYBR green menggunakan suhu annealing 65o C untuk primer sapi dan suhu annealing 60o C untuk primer babi. Isolat DNA yang dianalisis dengan metode hydrolysis probe menggunakan suhu annealing 60o C untuk primer babi dan primer sapi. Hasil analisis dari kedua metode menunjukkan bahwa metode hydrolysis probe lebih spesifik dalam mengidentifikasi DNA pada gelatin dibandingkan menggunakan metode SYBR green.Gelatin has a large application in the food, pharmaceutical and cosmetics industries. Gelatin is mostly derived from the skin or bone of porcine and bovine. Porcine gelatin is forbidden for Muslim and Jews. For this reason, analytical methods to detect gelatin are needed to make sure the source of gelatin. One of the analytical techniques that can differentiate bovine and porcine gelatin is Real Time Polymerase Chain Reaction (PCR). There are two popular methods of fluorescence dye, namely SYBR green and hydrolysis probe. This study was conducted to compare SYBR green and hydrolysis probe method in analyzing porcine and bovine gelatin DNA using Real Time PCR. The DNA was isolated by commercial kit. The obtained porcine and bovine gelatin DNA were 19.38 ng/μl and 13.63 ng/μl with purity were 1,566 and 1,573, respectively. Then, isolated DNA was analyzed by SYBR green and hydrolysis methods. SYBR green methods was done by annealing temperature of 65 oC for bovine primer and 60 oC for porcine primer. Therefore, hydrolysis probe methods were analyzed by annealing temperature of 60 oC for both porcine primer and bovine primer. The result showed that the hydrolysis probe was higher specificity to identify of porcine and bovine gelatin DNA than SYBR green method
Formulation of Metformin HCl Floating Tablet using HPC, HPMC K100M, and the Combinations
Floating tablet is one of the most suitable dosage forms that used for delivering long term drug release. The objective of this study was to evaluate Hydroxypropyl cellulose (HPC), Hydroxypropyl Methyl Cellulose (HPMC) K100M, and the combination as matrix in manufacturing floating tablets. Metformin HCl, an anti-diabetic, was used as a drug model. Metformin HCl floating tablet was manufactured by wet granulation method in three formulas using variation of matrix, which were 40% of HPC (F1), 40% of HPMC K100M (F2), combination of 20% HPC and 20% HPMC K100M (F3). Prior to tablet compaction, evaluation for granules were done which included moisture content, angle of repose using, bulk and tapped density, Hausner ratio, and compressibility. The evaluations of floating tablet were physical properties, floating ability, and in vitro drug release. The average of floating lag time for F1, F2, F3, were 7 minutes 13 seconds; 5 minutes 27 seconds; and 14 minutes 5 seconds, respectively. In addition, the floating time for F1 was 3 hours 16 minutes whereas F2, F3 were more than 48 hours. F2 showed the best floating ability to retain the drug release, which was 84.68% over 8 hours, while F1 and F3 were completely dissolved less than 6 hours.
Optimization of levofloxacin tablet containing PVP K-30 and Vivasol
The aim of this research was to get optimal formula of levofloxacin tablet prepared with variation of PVP K-30 as binder and vivasol as disintegrant. The making of levofloxacin tablets was done by wet granulation. Tablet was prepared with various levels of PVP K-30 and disintegrant vivasol, compressed using a hydraulic press with 12 mm punch diameter, for 3 seconds. Physical quality (hardness, friability, and disintegration time) and dissolution rate of tablet was evaluated. The optimization of the formula was done by factorial design of 22 factorial experiments with 2 factors (PVP K-30 and vivasol) and 2 levels (2% and 4%). Optimization results showed that elevated levels of PVP K-30 increased tablet hardness, reduced friability of tablet, decreased disintegrating time, and increased dissolution rate of levofloxacin tablets. Meanwhile, elevated levels of vivasol increased the hardness of tablets, decreased the disintegrating time of tablets, decreased the dissolution rate of levofloxacin tablets, but did not affect the friability of tablets. In conclusion, the optimal tablet that meet the specifications of physical quality (hardness, friability, and disintegrating time) and dissolution rate was made by 2.4 to 3.7% of PVP K-30 and 2.0 to 3.2% vivasol as shown in the feasible area of design space.Penelitian ini bertujuan mendapatkan formula yang optimal tablet levofloksasin yang dibuat dengan variasi PVP K-30 sebagai pengikat dan vivasol sebagai disintegran. Metode pembuatan tablet levofloksasin dilakukan secara granulasi basah. Formula tablet dibuat dengan variasi PVP K-30 dan disintegran vivasol, dikempa menggunakan alat hidrolik press dengan puch diameter 12 mm, selama 3 detik. Evaluasi mutu fisik (kekerasan, kerapuhan, dan waktu hancur) dan laju disolusi tablet. Optimasi formula dilakukan dengan desain faktorial 22 yaitu eksperimen faktorial dengan 2 faktor (PVP K-30 dan vivasol) dan 2 level (2% dan 4%). Hasil optimasi menunjukkan bahwa peningkatan kadar PVP K-30 meningkatkan kekerasan tablet, menurunkan kerapuhan tablet, dan menurunkan waktu hancur tablet, serta meningkatkan laju disolusi dari tablet levofloksasin. Peningkatan kadar vivasol meningkatkan kekerasan tablet, tidak mempengaruhi kerapuhan tablet, dan menurunkan waktu hancur tablet, serta menurunkan laju disolusi tablet levofloksasin. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa tablet yang optimal serta memenuhi spesifikasi dari mutu fisik (kekerasan, kerapuhan, dan waktu hancur) dan laju disolusi ditunjukkan pada daerah feasible dari design space yaitu kadar PVP K-30 antara 2,4 sampai 3,7 % dan kadar vivasol 2,0 sampai 3,2%
Hubungan Depresi Terhadap Tingkat Kepatuhan dan Kualitas Hidup Pasien Sindrom Dispepsia di RSUP Dr. M. Djamil Padang
The objective of this study was to examine the correlation of depression, adherence, and quality of life in dyspepsia patient. Cross-sectional data were collected from 61 outpatient with dyspepsia at a special clinic in M. Djamil Hospital Padang. Patients were interviewed based on BDI II (Back Depression Inventory II) to assess depression, Morisky scale to assess adherence. Patient with BDI scores more than 12 was consulted to a special clinic of psychosomatic to diagnose for depression. Correlation between depression, adherence, and quality of life was analyzed with Spearman correlation. Coefficient correlation of depression and adherence was 0.272, while the correlation between depression and quality of life was 0.655. This finding demonstrates that there is a high correlation between depression and quality of life, while there is a low correlation between depression and adherence. Keywords: Depression, adherence, quality of life, dyspepsia.Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan depresi terhadap kepatuhan dan kualitas hidup. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional yang dilakukan terhadap 61 pasien sindrom dispepsia yang berobat jalan di poliklinik khusus penyakit dalam di RSUP DR. M. Djamil Padang pada Januari - Maret tahun 2015. Pasien diwawancarai dengan menggunakan kuisioner BDI II (untuk menilai depresi), kuisioner skala morisky (untuk menilai kepatuhan) dan kuisioner SF-36 (untuk menilai kualitas hidup). Pasien dengan nilai skor BDI II lebih dari 13 di konsultasikan ke poliklinik khusus psikosomatik untuk menegakkan diagnosa depresi. Hubungan antara depresi dengan kepatuhan dan kualitas hidup dianalisa dengan menggunakan SPSS 22 dengan uji korelasi bivariat spearman. Persentase depresi pada pasien sindrom dispepsia adalah 67.2%. Koefisien korelasi untuk depresi dan kepatuhan adalah 0.272, depresi dan kualitas hidup 0.655. Penelitian ini menunjukkan ada korelasi yang tinggi antara depresi dengan kualitas hidup, dan korelasi yang rendah antara depresi dengan kepatuhan
Waktu Kultivasi Optimal dan Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak Etil Asetat Jamur Simbion Aspergillus unguis (WR8) dengan Haliclona fascigera
The optimal cultivation time of symbiont fungi Aspergillus unguis (WR8) with marine sponge Haliclona fascigera and antibacterial activity assay from the ethyl acetate extracts symbiont fungi A. unguis (WR8) have been determined. The fungi was cultivated on Sabaoraud Dextrose Broth medium in both static condition and using shaker incubator at 120 RPM at 25-28oC. Optimal cultivation time was determined by the amount of dry biomass mycelium fungi per unit of time. Liquid medium was extracted with ethyl acetate and used for antibacterial activity assay using agar diffusion method against Staphylococcus aureus. The study showed that the optimal cultivation time of symbiont fungi A. unguis (WR8) in static condition was achieved on day 21 while the extract (5 % w/v) inhibited bacterial growth of S. aureus with an inhibition zone of 21 mm. Meanwhile, The optimal cultivation time in the shaker was achieved on day 14 and the inhibition zone of the extract was 11 mm. The study concludes that the optimal cultivation time for production of antibacterial compounds by symbiont fungi A. unguis (WR8) was obtained at 21 days in static condition.Penelitian tentang penentuan waktu optimal pertumbuhan jamur simbion Aspergillus unguis (WR8) dan pengujian aktivitas antibakteri telah dilakukan. Kultivasi jamur dilakukan dengan menggunakan media Sabaoraud Dextrose Broth (SDB) dalam keadaan statis dan di-shaker (120 rpm) pada suhu 25-28oC. Pertumbuhan jamur secara optimal ditentukan berdasarkan jumlah biomassa kering miselia jamur per satuan waktu. Media cair diekstraksi dengan pelarut etil asetat, ekstrak etil asetat selanjutnya digunakan untuk pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi agar terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu optimal pertumbuhan jamur simbion tersebut dalam keadaan statis adalah pada hari ke-21 dan diameter hambat ekstrak (5 %b/v) adalah 21 mm. Sedangkan waktu optimal pertumbuhan jamur yang di shaker adalah pada hari ke-14 dan diameter hambat ekstrak sebesar 11 mm. Dapat disimpulkan waktu kultivasi optimal untuk menghasilkan senyawa antibakteri dari jamur A. unguis (WR8) adalah selama 21 hari secara statis menggunakan media cair.
A retrospective descriptive study on antibiotic dosage regimen in pediatric pneumonia patients at Dr. M. Djamil Hospital Padang
Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernafasan akut yang menduduki peringkat atas sebagai penyebab kematian pada anak dan balita. Peranan antibiotik dalam menurunkan morbilitas dan mortilitas penyakit infeksi ini masih sangat dominan. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat mengakibatkan berkembangnya bakteri yang resisten terhadap antibiotik serta timbulnya toksisitas/efek samping obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji regimen dosis antibiotik yang diberikan pada pasien pneumonia anak dibandingkan dengan regimen dosis pada literatur resmi. Penelitian dilakukan dengan metode observasi deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medik pasien pneumonia anak selama tahun 2013. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidaktepatan pada beberapa regimen dosis antibiotik, seperti ketidaktepatan dosis kloramfenikol (5%), meropenem (50%), eritromisin (100%), azitromisin (100%), seftazidim (100%) klindamisin (100%), ampisilin (100%) dan gentamisin (100%). Ketidaktepatan frekuensi pemberian (interval pemberian) ampisilin (50%), gentamisin (20%) sefotaksim (100%). Ketidaktepatan lama pemberian amoksisilin (44.45%), kloramfenikol (45%), gentamisin (70%), meropenem (33,34%), seftriakson (66,67%), ampisilin (50%), sefotaksim (100%). Sedangkan rute pemberian antibiotik sudah tepat 100%. Pneumonia is one of acute respiratory tract infection which a major causes mortality in children and infant. The role of antibiotics in reducing morbidity and mortality this infectious disease is still dominant. Improper use of antibiotics can lead to the development of bacteria resistant to antibiotics and the occurrence of toxicity/side effects of drugs. The objective of this study was to determine the appropriateness of dosage regimen of antibiotics in children with pneumonia compared to standard literature. The study was conducted by retrospective descriptive analysis, using medical records of children with pneumonia during 2013. The results showed inappropriateness in several dosage regimen of antibiotics, such as chloramphenicol (5%), meropenem (50%), erythromycin (100%), azithromycin (100%), ceftazidime (100%), clindamycin (100%), ampicillin (100%) and gentamicin (100%). The inappropriateness of frequency of administration (administration interval) was also found in ampicillin (50%), gentamicin (20%), and cefotaxime (100%). The inappropriateness of dosage duration was found in amoxicillin (44.45%), chloramphenicol (45%), gentamicin (70%), meropenem (33.34%), ceftriaxone (66.67%), ampicillin (50%), cefotaxime (100%). While the route of administration of antibiotics was 100% appropriate
Penetapan Kadar Berberin dari Ekstrak Etanol Akar dan Batang Sekunyit (Fibraurea Tinctoria Lour) dengan Metode KCKT
Determination of berberine content of ethanol extract of root and stem of “sekunyit” (Fibraurea tinctoria Lour) has been conducted. “Sekunyit” is one of medicinal plant that has been used to treat several diseases traditionally. Its root and stem could relieve jaundice, diarrhea, conjunctivitis as well as antidiabetic agent. Based on previous study, it is known that Fibraurea tinctoria contains isoquinoline alkaloid, berberine. This present study aims to determine berberine content which was done by HPLC (High Performance Liquid Chromatography) method using C-18 reverse phase column, methanol : phosphate buffer (pH 6,8) as its mobile phase with flow rate of 1 ml/min and UV detector. The analysis was performed at wavelength 346 nm. The result showed that the ethanol extract contains 25.8% of berberineTelah dilakukan penetapan kadar senyawa berberin dari ekstrak etanol akar dan batang sekunyit (Fibraurea tinctoria Lour). Sekunyit merupakan tumbuhan berbentuk liana yang telah digunakan oleh masyarakat dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit. Akar dan batang tumbuhan ini berkhasiat mengobati demam kuning, diare, sakit mata dan diabetes. Fibraurea tinctoria diketahui sebagai spesies tumbuhan yang mengandung senyawa alkaloid isokuinolin berberin. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar senyawa berberin dari ekstrak etanol akar dan batang tumbuhan sekunyit. Penelitian dilakukan menggunakan kolom C-18 (ODS) dengan metode KCKT, fase gerak berupa campuran eluen metanol : buffer fosfat pH 6,8 (gradien elusi), laju alirnya 1 ml/menit dideteksi dengan detektor UV. Analisa dilakukan pada panjang gelombang 346 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol diketahui mengandung senyawa berberin sebesar 25,8%