TAMADDUN: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam
Not a member yet
170 research outputs found
Sort by
Redesain Dan Tradisi Visualisasi Dalam Iluminasi Naskah Melayu Nusantara
This paper study aims to unravel the existence of the visualization tradition of Malay society in the illumination of Malay texts in the archipelago and to detect the redesign of the legacy of illumination in the interests of today\u27s society. The method used in this study uses a qualitative research method with a literature study approach that uses primary and secondary data sources that are searched by literature data collection techniques from various sources and then analyzed with the needs of researchers for the data presented in this study. In this study several conclusions can be drawn, the visualization tradition in the illumination of Malay archipelago manuscripts is a reflection of the intellectuality of the written tradition which is an indicator of cultural phenomena in the form of ideas, social system and practices. Then, the main element that always exists in Malay texts in the archipelago is bamboo shoots which have a philosophy to continue to grow tall, strong and strong from the wind. Second, the redesign of the Malay script illumination visualization tradition still occurs today, especially in the interests of socio-economic welfare for the creative industry as contained in the revitalization of the illumination design into a digital vector shape which helps make it easy to apply in various design formats for invitations, paintings, book cover frames, paintings. , and batiks. One that has materialized is to become batik cloth in various Malay regions. Seeing these conditions, the Malay Archipelago script has a great opportunity to be redesigned in the current context. This, in addition to preserving the Malay manuscript illumination visualization tradition through a distinctive representation of meaning, is a very valuable cultural heritage.Tulisan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengurai eksistensi tradisi visualisasi masyarakat melayu dalam iluminasi naskah melayu di nusantara serta untuk mendeteksi redesain warisan iluminasi dalam kepentingan masyarakat masa kini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur yang menggunakan sumber data primer dan sekunder yang dicari dengan teknik pengumpulan data literature dari berbagai sumber dan kemudian dianalisis dengan kebutuhan peneliti akan data yang disajikan dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini dapat ditarik beberapa kesimpulan, tradisi visualisasi dalam iluminasi naskah melayu nusantara meurpakan refleksi intelektualitas tradisi tulis yang merupakan indicator dari gejala budaya berupa ide, sistem sosial dan praktik. Kemudian, unsur utama yang selalau ada pada naskah melayu di nusantara adalah pucuk rebung yang memiliki filosofi untukj terus tumbuh tinggi kokoh dan kuat dari terpaan angin. Kedua, redesain tradisi visualisasi iluminasi naskah melayu masih terjadi sampai saat ini terutama dalam kepentingan kesejahteraan social ekonomi untuk industry kreatif yang tertuang dalam revitaslisasi desain iluminasi menjadi bentul vector digital yang membantu mmeudahkan untuk diaplikasikan dalam berbagai desain format undangan, lukisan, bingkai cover buku, lukisan, dan batik. Salah satu yang telah terwujud adalah menjadi kain batik di berbagai daerah melayu. Melihat kondisi tersebut, naskah melayu nusantara memiliki peluang besar untuk di redesain dalam konteks kekinian. Hal ini, selain melestarikan tradisi visualisasi iluminasi naskah melayu melalui representasi makna yang khas menjadi warisan budaya yang sangat bernilai
Keterkaitan Ritual Tolak Bala (Ghatib beghanyut) dengan Pelestarian Nilai-nilai Keagamaan
Ghatib Beghanyut is a religious tradition of the Siak Malay community. This tradition has been going on since the days of the Malay sultanate. The purpose of this research is to find out the process of carrying out this tradition and to analyze the relationship between ritual and religious values. The research method used is descriptive qualitative. The data collection techniques are by observing, interviewing, documenting, and reviewing the literature. The results of the study show that this tradition began during the XII Sultan, namely Sultan Syarif Kasim II. Since the beginning, this tradition has followed Islamic guidelines, namely based on the Koran. As the saying goes, Adat is based on syara\u27, syara\u27 is based on the Book of Allah. The conclusion in this study is that ghatib beghanyut or commonly known as the tradition of rejecting reinforcements is a culture created by a group of people with the aim of asking for protection from the Almighty.Ghatib Beghanyut merupakan tradisi keagamaan masyarakat Melayu Siak. Tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman kesultanan Melayu. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui proses pelaksanaan tradisi tersebut serta menganalisis keterkaitan ritual dengan nilai-nilai keagamaan. Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif deskriptif. Adapun teknik pengumpulan data yakni dengan melakukan observasi, wawancara, dokumentasi serta kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi tersebut bermula pada masa Sultan ke XII yakni Sultan Syarif Kasim II. Sejak awal tradisi tersebut mengikuti pedoman islam yakni dengan berlandaskan Al-quran. Seperti kata pepatah yakni Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan Kitabullah. Simpulan dalam penelitian ini ialah ghatib beghanyut atau yang biasa dikenal dengan tradisi tolak bala merupakan sebuah budaya yang diciptakaan oleh sekelompok masyarakat dengan tujuan memohon perlindungan pada Yang Maha Kuasa.
 
TAXONOMY BLOOM DALAM KETERAMPILAN BERBAHASA
Language skills are one of the keys to success in the process of learning foreign languages, to see success in one language skill certainly requires evaluation. This study uses Benjamin S Bloom\u27s theory which can be used to see the level of cognitive ability and the suitability of the evaluation process to the learning outcomes that have been conceptualized by lecturers in the semester learning plan.
The purpose of this research is to analyze the quality of the Arabic language skills test questions, analyze the suitability of the Arabic language skills test questions to Bloom\u27s taxonomic concepts, and analyze the suitability of the test questions to learning outcomes. By using purposive sampling techniques, this research includes quantitative research that departs from theory to the field to be tested for correctness.
This research proves that the quality of Arabic exam questions in five expertise courses in the Arabic Language and Literature study program, Faculty of Adab and Humanities is still in a low stage. This can be seen from the taxonomic level that the concept of making questions by lecturers is still in the realm of C1 to C3 only, meaning that the evaluation process by lecturers has not reached the highest level.Then the Arabic exam question items have not fully followed the concept of Bloom\u27s taxonomy, this can be proven on the question sheets given by lecturers on average on one exam question sheet only tests at the C1 level for example defining. The achievement of learning from three aspects, namely knowledge, attitudes and skills is also not fully visible in the problem, this indicates that learning evaluation tends to look at cognitive abilities only.
Keterempilan berbahasa merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam proses belajar bahasa asing, untuk melihat keberhasilan dalam satu keterampilan berbahasa tentu saja memerlukan evaluasi. Penelitian ini menggunakan teori Benjamin S Bloom yang dapat digunakan untuk melihat tingkatan kemampuan kognitif dan kesesuaian proses evaluasi terhadap dengan capaian pembelajaran yang telah dikonsep oleh dosen pada rencana pembelajaran semester.
Tujuan penelititan ini menganalisis mutu soal ujian bidang keterampilan bahasa Arab, menganalisis kesesuaian butir soal ujian bidang keterampilan bahasa Arab terhadap konsep taksonomi Bloom, dan menganalisis kesesuaian butir-butir soal ujian terhadap capaian pembelajaran. Dengan menggunakan teknik penarikan sampel purposive maka penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif yang berangkat dari teori ke lapangan untuk diuji kebenarannya.
Penelitian ini membuktikan bahwa mutu soal ujian bahasa Arab pada lima mata kuliah keahlian pada program studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora masih dalam tahap rendah. Hal ini dapat dilihat dari tingkatan taksonomi bahwa konsep pembuatan soal oleh dosen masih dalam ranah C1 sampai C3 saja, artinya proses evaluasi oleh dosen belum sampai pada tahap tingkatan tertinggi. Kemudian butir-butir soal ujian bahasa Arab belum sepenuhnya mengikuti konsep taksonomi Bloom, hal ini dapat dibuktikan pada lembar soal yang diberikan oleh dosen rata-rata pada satu lembar soal ujian hanya menguji pada tingkatan C1 misalnya mendefinisikan. Pada pencapaian pembelajaran dari tiga aspek yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan juga belum sepenuhnya terlihat didalam soal, hal ini mengisyaratkan bahwa evaluasi pembelajaran cenderung melihat dari sisi kemampuan kognitif saja
Sejarah Perubahan Genre Dan Tujuan Bermusik Religi Di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sejarah-Budaya
The arts, such as music, are one of the channels for the spread of Islam in the archipelago. In its development, human culture will continue to evolve, including music. From the time of Islamisation, through the colonial era to the modern era, religious music in Indonesia will undergo changes. This paper aims to explain the development of the genre and purpose of Islamic music in Indonesia. The research method used is the historical research method with its stages: 1) heuristics, research data sources are collected through literature studies; 2) source criticism, selecting the validity of research data sources; 3) interpretation with the cultural evolution theory approach; 4) historiography. The results showed that the development of classical Indonesian Islamic music was born according to the socio-cultural aspects of each region. In Java, Islamic music was born from the acculturation of Javanese culture and Islamic content. In Minangkabau, the Middle Eastern music culture (gambus & gamad) dominates instrumentally. However, the lyrical content remains on Islamic & Minangkabau themes. In later developments, Indonesian Islamic music began to be influenced by Western cultural genres and instruments. The changes are not only \u27physical\u27, but also in the purpose of contemporary Islamic music. Music that was once intended as a medium for da\u27wah and local Islamic cultural identity has slowly turned into \u27market\u27 oriented work or consumerism. Muslims who have become the majority have also had an influence in shifting music away from its original purpose of da\u27wah.
Kesenian, seperti bermusik merupakan salah satu saluran penyebaran agama Islam di Nusantara. Dalam perkembangannya, kebudayaan manusia akan terus berkembang, termasuk dalam bermusik. Dari masa Islamisasi, era kolonial hingga modern akan membawa perubahan dalam musik religi di Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan perkembangan genre dan tujuan bermusik Islami di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah dengan tahapannya: 1) Heuristik, sumber data penelitian dikumpulkan lewat studi pustaka; 2) Kritik Sumber, menyeleksi kevaliditas sumber data penelitian; 3) Interpretasi dengan pendekatan Teori Evolusi Budaya; 4) Historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan musik Islami Indonesia klasik lahir sesuai aspek sosial-budaya masing-masing daerah. Pada daerah Jawa musik Islami lahir dari akulturasi budaya Jawa dan konten Islami. Sedangkan di Minangkabau, budaya musik Timur Tengah (Gambus & Gamad) cukup mendominasi secara instrumen. Namun konten lirik tetap pada isu-isu Islam & Minangkabau. Pada perkembangan selanjutnya, musik Islami Indonesia mulai dipengaruhi genre dan instrumen budaya Barat. Perubahan tidak hanya bersifat ‘fisik’, namun juga pada tujuan bermusik Islami masa kontemporer. Musik yang dahulu ditujukan sebagai media dakwah dan identitas kebudayaan Islam lokal, perlahan berubah menjadi karya yang berorientasi ‘pasar’ atau konsumerisme. Muslim yang sudah menjadi mayoritas juga membawa pengaruh dalam pergeseran musik dari tujuan awalnya yakni dakwah
Menelusuri Sejarah dan Beberapa Sastrawan Arab Penganut Aliran Simbolisme
This research aims to explain the history and some prominent Arab literary figures who adhere to the symbolism literary movement, along with examples of their works. This study is a qualitative descriptive research using a literature review technique. The findings of this research indicate that the literary movement of symbolism first emerged in France in 1884. This movement is rooted in the belief that objects and events in the real world have profound meanings that can be expressed through symbolic language. Symbolist poetry is renowned for its deliberate ambiguity, designed to be mysterious and challenging to comprehend. Several Arab literary figures, such as Dr. Basyar Faris, Ali Ahmad Sa\u27id, Badr Syakir Sayyab, and Iliya Abu Madhi, also adopted this movement, blending it with their cultural context. The research discusses the shift from other literary movements to symbolism and the contributions of Arab writers in using natural symbols and myths to convey messages about human emotions and conditions.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sejarah dan beberapa tokoh sastrawan Arab penganut aliran simbolisme sastra beserta contoh karyanya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pustaka. Adapun hasil dari penelitian ini adalah, sejarah aliran sastra simbolisme pertama kali muncul di Prancis pada tahun 1884. Aliran ini berakar pada keyakinan bahwa objek dan peristiwa dunia nyata memiliki makna mendalam yang dapat diungkapkan melalui bahasa simbolik. Puisi Simbolisme terkenal dengan keambiguannya yang sengaja dirancang untuk menjadi misterius dan sulit dipahami. Beberapa sastrawan Arab, seperti Dr. Basyar Faris, Ali Ahmad Sa\u27id, Badr Syakir Sayyab, dan Iliya Abu Madhi, juga mengadopsi aliran ini, menggabungkannya dengan konteks budaya mereka. Penelitian ini membahas pergeseran dari aliran lain ke Simbolisme dan kontribusi sastrawan Arab dalam menggunakan simbol alam dan mitos untuk menyampaikan pesan tentang perasaan dan kondisi manusia
BUKTI-BUKTI PROSES ISLAMISASI DI KESULTANAN PALEMBANG
When is Islam into Palembang is not surely, without else still conflict, because any more arguments. Distribution of Islam in Palembang can do it the way of the peace, and then continues step by step. Islamisasi process can do it tool, like as economic of way, married of the way and tassawuf. more than factually Islam into Palembang, so that signed like as mosque, grave, town center and then manuscript.
Key word: Kapan Islam Masuk di Palembang, Proses Islamisasi, Bukti Islam di Palembang
 
SEMIOTIKA ROLAND BARTHES DALAM SYAIR “ASYIQ MIN FALISTHIN” KARYA MAHMUD DARWISH
This study aims to describe the meaning by using Roland Barthes\u27 semiotic theory in Mahmud Darwish\u27s poem entitled " Asyiq min Falistin ". Barthes\u27 theory consists of three systems of meaning, namely denotative meaning as the first order meaning, connotative meaning as the second order meaning, and the meaning of myth is the ideological operation of the meaning of connotation. The research methodology used is a descriptive qualitative methodology, this research examines objects in the form of poetry and examines them with Barthes theory and groups them to three systems of meaning. Using this methodology, an understanding of three semiotic systems of meaning is produced. In the meaning of denotation, we can see Mahmud Darwish\u27s skill in choosing words that symbolize his longing, sadness and struggle for his motherland, Palestine. Then, from the connotation meaning, we can see more broadly how chaotic and full of suffering conditions were for the Palestinian people. So, the writer tried to fight even with many sacrifices. From the meaning of the myth, it can be seen from the perspective of how Palestine is defined as the "Holy Land".Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemaknaan dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes dalam syair Mahmud Darwish yang berjudul “Asyiq min Falisthin”, dalam teori Barthes terdiri dari tiga sistem pemaknaan, yakni makna denotasi sebagai pemaknaan tatanan pertama, makna konotasi sebagai pemaknaan tatanan kedua, serta makna konotasi yang merupakan operasi idiologis dari makna konotasi, dengan menggunakan metodelogi penelitian kualitatif deskriptif, penelitian ini meneliti objek yang berupa syair dan mengkajinya dengan teori Barthes serta mengelompokkannya sesuai dengan tiga sistem pemaknaan, dengan menggunakan metodelogi tersebut dihasilkanlah pemahaman tiga sistem pemaknaan semiotika, pada makna Denotasi dapat dilihat kepiawayan Mahmud Darwish dalam memilih kata-kata yang melambangkan kerinduan, kesedihan dan perjuangannya untuk bumi pertiwinya yakni Palestina, kemudia dari makna Konotasi kita dapat lebih luas melihat bagaimana keadaan yang kacau dan penuh penderitaan bagi rakyat Palestina sehingga penulis pun berusaha berjuang meski dengan banyak pengorbanan. Dari makna mitos kita dapat melihat perspektif bagaimana Palestina dimaknai dengan “Tanah Suci”
Pelestarian Desa Budaya Batu Urip Sebagai Sejarah Budaya Lokal Kota Lubuk Linggau
The development of an increasingly advanced era in this digital era has given a lot of color to culture in Indonesia, especially in Lubuklinggau City. The purpose of this research is to determine the preservation of Batu Urip cultural village as a local culture in Lubuklinggau City. The research method used is historical research method using historical method. In this research, researchers use descriptive qualitative research studies to analyze the data that has been obtained. Data sources were obtained through field observations developed with book and journal sources as reference materials. The results of this study, namely: The preservation of Batu Urip Cultural Village as a local Cultural Heritage of Lubuklinggau City History is Batu Urip Village is a village in Lubuklinggau City that is still terawatt in developing the culture of its people The study of cultural history in Batu Urip Village continues to grow rapidly. This is because in Batu Urip Village there are historical sites and preservation of local culture such as Mandi Kasai which is still well preserved. Studies related to the history of this local culture can develop with the enthusiasm of the people who still maintain pure customs. In addition, the preservation of history and culture in Batu Urip has also been developed by students, researchers and the SARISEJAYA Community as a history and arts community in Lubuklinggau City. All of them strive to support Batu Urip as a cultural heritage village that has historical, artistic and cultural values. The conclusion is that the preservation of Batu Urip\u27s local cultural history should always be vigorously supported. Cooperation with the community and history students will have a positive impact on the development of local cultural heritage in Batu Urip, Lubuklinggau City.Perkembangan zaman yang semakin maju di era digital ini telah memberikan banyak banyak memberikan warna pada kebudayaan di Indonesia, khususnya di Kota Lubuklinggau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelestarian kampung budaya Batu Urip sebagai budaya lokal di Kota Lubuklinggau. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah dengan menggunakan metode historis. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan langkah-langkah penelitian dengan beberapa tahapan yang meliputi: Heuristik (Pengumpulan Sumber), Kritik Sumber, Interpretasi dan Historiografi. Melalui keempat langkah tersebut, data-data penelitian disusun dengan sebaik-baiknya. Adapun hasil penelitian ini, yaitu: Pelestarian Kampung Budaya Batu Urip sebagai Cagar Budaya lokal Sejarah Kota Lubuklinggau adalah Kampung Batu Urip merupakan kampung di Kota Lubuklinggau yang masih terawatt dalam mengembangkan kebudayaan masyarakatnya Studi tentang sejarah budaya di Kampung Batu Urip terus berkembang pesat. Hal ini dikarenakan di Kelurahan Batu Urip terdapat situs-situs bersejarah dan pelestarian budaya lokal seperti Mandi Kasai yang yang masih terjaga dengan baik. Kajian terkait sejarah budaya lokal ini dapat berkembang dengan semangat masyarakat yang masih mempertahankan adat istiadat yang murni. Selain itu, pelestarian sejarah dan budaya di Batu Urip juga telah dikembangkan oleh mahasiswa, peneliti dan Komunitas SARISEJAYA sebagai komunitas sejarah dan seni di Kota Lubuklinggau. Semuanya berusaha untuk mendukung Batu Urip sebagai desa warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, seni dan budaya. Kesimpulannya adalah bahwa pelestarian sejarah budaya lokal Batu Urip harus selalu didukung dengan penuh semangat. Kerja sama dengan masyarakat masyarakat dan mahasiswa sejarah akan memberikan dampak positif bagi perkembangan cagar budaya lokal di Batu Urip, Kota Lubuklinggau
Suqutul Imam Karya Nawal El-Sya’dawi; Perempuan Dalam Pergulatan Dominasi Agama
The purpose of this study is to find out how the problems of women in the struggle for religious domination occur due to the interpretation of the verses of the Qur\u27an by negating women in it. Nawal El-Sa\u27dawi wrote this description in the novel “the fall of the imam”. For him, this problem is the entry point for all forms of oppression of women under the protection of Islam, so the novel is a form of resistance and criticism of the phenomena that occur. Asghar regarding the liberation of women that interpretation must be in accordance with the values of justice and humanity. Starting from the three frameworks of Asghar\u27s thinking, where interpretation must be normative, interpretative, and open throughout the ages. This research is a descriptive qualitative research by using “the fall of the imam” as the primary data of the study. Meanwhile, the perspective of Asghar women\u27s liberation is used as a tool to analyze the formation of inequality against women due to interpretations in patriarchal culture. The results found there are three important aspects. First, religion and patriarchal culture, how patriarchal culture becomes the main point of patriarchal interpretation. Second, women\u27s resistance to religious dogmatism. The resistance shown by Nawal is an attempt to liberate women. Third, Nawal\u27s redefinition of women to achieve equality in various fields of social order, because of the contamination of interpretations scattered in religion, must be reconstructed in a new and liberating form.Tujuan penelitian ini untuk menemukan bagaimana problematika perempuan dalam pergulatan dominasi agama yang diterjadi akibat penafsiran ayat Al-Qur’an dengan menegasikan perempuan di dalamnya. Gambaran tersebut oleh Nawal El-Sa’dawi dituliskannya dalam novel Suqutul Imam. Baginya problem tersebut merupakan entry pointterjadinya segala bentuk penindasan terhadap perempuan di bawah lindungan agama Islam sehingga novel tersebut sebagai bentuk resistensi dan kritik terhadap fenomena yang terjadi. Asghar mengenai pembebasan perempuan bahwa penafsiran harus sesuai dengan nilai-nilai keadilan serta kemanusiaan. Dimulai dari tiga kerangka berfikir Asghar, dimana penafsiran harus bersifat normatif, interpretatif, dan terbuka sepanjang zaman. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menjadikan novel suqutul imam sebagai data primer penelitian. Sedangkan perspektif pembebasan perempuan Asghar dijadikan sebagai alat untuk menganalisis formasi ketimpangan terhadap perempuan akibat penafsiran dalam budaya patriarki. Hasil yang ditemukan terdapat tiga aspek penting. Pertama, agama dan dan budaya patriarki, bagaimana budaya patriarki menjadi pokok utama terjadinya penafsiran yang patriarkis. Kedua, resistensi perempuan terhadap dogmatisme agama. Resitensi yang ditunjukkan oleh Nawal merupakan usahanya untuk membebaskan perempuan.Ketiga, redefinisi Nawal terhadap perempuan untuk mencapai kesetaraan dalam berbagai bidang tatanan sosial, karena tercemarnya penafsiran-penafsiran yang bertebaran dalam agama harus direkontruksi dalam bentuknya yang baru dan membebaskan
Perlawanan Syekh Syarip Prawira Sentana Dan Ki Sodewo Menentang Kolonialisme Belanda Di Kulon Progo 1839-1840
The presence of colonialism in Nusantara brought major changes in the social life of the people. The changes that occurred then led to an act of resistance as an effort to restore the social order that had been damaged. Socio-religious movements have become an important part of the history of local people\u27s resistance to colonialism. Kulon Progo became one of the bases of religious social movements. One of the socio-religious movements that occurred in Kulon Progo was the resistance movement carried out by Sheikh Syarip Prawira Sentana and Ki Sodewo. The rebellion occurred in 1838-1840 M. This study discusses the socio-religious movement that was ignited by Sheikh Syarip Prawira Sentana and Ki Sodewo, covering the background of its occurrence in terms of socio-political, socio-economic, then a discussion of the brief profile of Sheikh Syarip Prawira Sentan and Sodewo and the chronology of the events of Syarip Prawira\u27s resistance. Sentana and Ki Sodewo. This article uses the historical method and uses a sociological approach to be able to see the events of Syarif Prawira Sentana and Ki Sodeweo from a sociological perspective.
Keywords: Kulon Progo Resistance, Religious Social Movement, Colonialism.
Hadirnya kolonialismedi Nusantara membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial masyarakat. Perubahan yang terjadi kemudian menimbulkan suatu tindakan perlawanan sebagai upaya untuk mengembalikan tatanan sosial yang telah rusak. Gerakan sosial keagamaan menjadi bagian yang penting dalam sejarah perlawanan masyarakat lokal terhadap penjajah. Kulon Progo menjadi salah basis gerakan sosial keagamaan. Salah satu gerakan sosial keagamaan yang pernah terjadi di Kulon Progo adalah gerakan perlawanan yang dilakukan oleh Syekh Syarip Prawira Sentana dan Ki Sodewo.Pemberontakan tersebut terjadi pada tahun 1838-1840M. Artikel ini membahas mengenai gerakan sosial keagamaan yang dikobarkan oleh Syekh Syarip Prawira Sentana dan Ki Sodewo, meliputi latar belakang terjadinya ditinjau dari segi sosial-politik, sosial-ekonomi, kemudian pembahasan mengenai profil singkat Syekh Syarip Prawira Sentan dan Sodewo dan kronologi peristiwa perlawanan Syarip Prawira Sentana dan Ki Sodewo. Artikel Ini menggunakan metode Sejarah dan menggunakan pendekatan sosiologi sehingga mampu melihat peristiwa Syarif Prawira Sentana dan Ki Sodeweo dari sudut pandang sosiologi. Hasil penelitian ini menujukan gerakan perlawanan Syarip Prawira Sentana dan Ki Sodewon secara umum terjadi sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap pemerintah lokal yang bersifat kooperatif dengan pemerintah kolonialisme Belanda. Gerakan ini mengnggunakan ide-ide milleniarisme dalam gerakanya. Perlawanan yang di mobilisasi oleh Syarip Prawira Sentana dan Ki Sodewo berdampak pada kestabilitasnan keamanan, akibatnya pasca terjadinya pergolakan ini pemerintah kolonial Belanda semakin memperkuat penjagaan di berbagai benteng pertahanan