TAMADDUN: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam
Not a member yet
    170 research outputs found

    Cultural Value in Uler-Uleran Tradition in Jungsemi Wedung Demak

    No full text
    Sudah menjadi rahasia umum bahwa Indonesia yang kaya ini menyimpan banyak sekali ragam budaya maupun upacara keagamaan mulai dari Pulau Sabang sampai Pulau Merauke. Uler-Uleran tergolong sebagai tradisi jawa yang masih dilaksanakan serta dilestarikan oleh masyarakat Desa Jungsemi. Tulisan berikut ini akan mengupas lebih dalam tentang nilai budaya dalam Tradisi Uler-Uleran. Penulis akan mengkaji mulai dari prosesi tata laksana, nilai-nilai budaya dalam Tradisi Uler-Uleran, dan dinamika serta tantangan dalam membumikan tradisi tersebut. Metode penelitian yang dilakukan peneliti adalah studi literatur. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa pertama, tradisi ini sudah ada sebelum Islam berkembang pesat di tanah Jungsemi. Kedua, tradisi ini memiliki nilai budaya berupa nilai ibadah, nilai persaudaraan, nilai tauhid, dan nilai tanggung jawab. Ketiga, dinamika dan tantangan dalam pelestarian Tradisi Uler-Uleran. Dinamikanya: pergeseran makna, perubahan pelaksanaan, dan pengaruh agama. Tantangannya: pengaruh modernisasi, pergeseran nilai, kehilangan makna asli, dan minimnya keterlibatan muda-mudi desa.It is common knowledge that this rich Indonesia holds a wide variety of cultures and religious ceremonies from Sabang Island to Merauke Island. Uler-Uleran is classified as a Javanese tradition that is still carried out and preserved by the people of Jungsemi Village. The following article will explore more about the cultural values in the Uler-Uleran Tradition. The author will examine the procession, cultural values in the Uler-Uleran Tradition, and the dynamics and challenges in grounding the tradition. The research method used by the researcher is literature study. The results of this study explain that first, this tradition existed before Islam developed rapidly in the land of Jungsemi. Second, this tradition has cultural values in the form of worship values, brotherhood values, tawhid values, and responsibility values. Third, the dynamics and challenges in preserving the Uler-Uleran Tradition. The dynamics: shifts in meaning, changes in implementation, and religious influences. The challenges: the influence of modernization, shifting values, loss of original meaning, and the lack of involvement of village youth

    Muhammad Abduh’s Role in al-Waqa’i‘ al-Misriyyah an Official Egyptian Gazette

    Full text link
    Artikel ini membahas peranan Muhammad Abduh (1849-1905) dalam kareernya sebagai ketua editorial akhbar al-Waqā’i‘ al-Misrīyyah (الوقائع المصرية) sejak tahun 1880. Sepak terjangnya dalam ranah kewartawanan ini penting dalam konteks kebangkitan akhbar Mesir khususnya al-Mu’ayyad dan al-Waqā’i‘ al-Misrīyyah sebagai surat khabar rasmi pemerintah bagi mengembangkan cita pemodenan dan mempengaruhi pandangan umum di Mesir. Ia memberi kesan yang penting yang memungkinkannya memainkan peranan dalam mengembangkan harkat bahasa, meningkatkan kekuatan pengaruh akhbar dan kewartawanan dan menggerakkan kesedaran umum tentang percaturan politik dan budaya yang intens dalam perkembangan semangat nasionalisme dan kesedaran sosial di Mesir. Penulisan dan rencana politiknya merangkumi tempoh pentadbiran Riyad Pasha, pentadbiran Sharif dan zaman pergolakan. Artikel ini menyorot ide-ide yang dilontarkannya tentang pembaharuan sosial dan spiritual, serta persoalan-persoalan pendidikan, agama dan sosio-budaya yang bersangkutan. Metode kajian adalah berasaskan kaedah dokumentasi dan pembukuan. Data-data kajian ditinjau secara deskriptif, analitik dan komparatif. Kesimpulan kajian mendapati perkembangan yang dinamik dan produktif di masa kepimpinan Abduh menerajui akhbar al-Waqa’i‘ al-Misriyyah yang berhasil mengangkat persoalan masyarakat dan menarik kesedaran tentang ihwal mutakhir dalam dunia politik dan akhbar serta mempertahankan kepentingan etika dan nilai kewartawanan.The article discusses the role of Muhammad Abduh (1849-1905) in his illustrious career as leading editor of al-Waqā’i‘ al-Misrīyyah (الوقائع المصرية) [Egyptian Events] an official Egyptian gazette. It brings profound impact in the field of journalism in the context of rising popularity of al-Waqā’i‘ al-Misrīyyah during his editorship (1880-1882), that established its reputation as leading Egyptian newspapers highlighting unprecedented socio-cultural and religious reform undertaken by the establishment, in the midst of phenomenal and competitive growth of independent press. His writing was instrumental in developing national consciousness toward modernization program and influencing public opinion in Egypt. It allowed for better development of formidable national spirit and awakening their higher ideal and convention in language, literature and culture as well as mobilizing social awareness of intense political and cultural dynamics. His career span the period of Riyad Pasha and Sharif’s administration and subsequent political unrest. The research is based on qualitative and documentation technique. It reviewed accumulated data by way of descriptive, analytical, historical and comparative method. The finding shows that al-Waqā’i‘ has assumed unprecedented influence and success during the editorship of Abduh through his dynamic and productive articles and rigorous daily basis of production of the newspaper that help to raise public issues and concern and attract awareness of global political situation as well as defending the significance value, norms and ethics of journalism

    Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Dalam Tradisi Islam Melayu

    Full text link
    Penelitian ini mengkaji pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan dalam tradisi Islam Melayu, menekankan perannya dalam pertumbuhan pribadi, perkembangan spiritual, dan kemajuan masyarakat. Studi ini menyoroti pentingnya mencari ilmu yang digarisbawahi oleh Nabi Muhammad serta integrasi tata krama yang baik (adab) dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan penelitian kualitatif deskriptif digunakan untuk mengeksplorasi sistem pendidikan Islam, peran pondok pesantren dan madrasah, serta kontribusi tokoh-tokoh ilmuwan Melayu. Temuan menunjukkan bahwa pendidikan Islam bertujuan untuk pengembangan holistik, termasuk pertumbuhan moral dan spiritual di samping pengetahuan akademis. Pondok pesantren memiliki peran penting dalam pengajaran agama, pembentukan karakter, pelestarian budaya, dan pemberdayaan sosial, sementara madrasah berfungsi sebagai pusat pendidikan agama dan etika. Tokoh-tokoh penting dalam reformasi pendidikan Melayu juga dibahas, menampilkan dampak mereka terhadap kemajuan pendidikan. Penelitian ini menekankan hubungan antara pendidikan, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial dalam konteks Islam MelayuThis research examines the significance of education and knowledge in the Malay Islamic tradition, emphasizing their role in personal growth, spiritual development, and societal progress. The study highlights the importance of seeking knowledge as urged by Prophet Muhammad and the integration of good manners (adab) in daily life. The qualitative descriptive approach is employed to explore the Islamic education system, the roles of pesantren (Islamic boarding schools) and madrasah (Islamic schools), and the contributions of notable Malay scholars. Findings indicate that Islamic education aims for holistic development, including moral and spiritual growth alongside academic knowledge. Pesantren play significant roles in religion, character building, cultural preservation, and social empowerment, while madrasah serve as centers of religious and ethical education. Key figures in Malay education reform are also discussed, showcasing their impact on educational advancement. This study underscores the interconnection between education, spirituality, and social responsibility within the Malay Islamic context

    Local Political Dynamics of the \u27Special Region of Yogyakarta\u27: An Analysis from a Culturalist Perspective

    No full text
    Tulisan ini akan membahas mengenai dinakmika politik lokal Daerah Istimewa Yogyakarta yang di analisa melalui perspektif kulturalis. Dalam penelitian ini, digunakan teori kulturalis untuk menganalisa apakah dengan diberikannya otonomi khusus kepada Yogyakarta tersebut akankah mampu menghasilkan budaya (culture), politik, ekonomi yang berbeda dengan daerah lain (yang tidak diberi otonomi daerah khusus). Metode penelitian yang di gunakan untuk menganalisa rumusan masalah tulisan adalah metode kualitatif dengan analisa data berupa deskriptif analisis. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, yang diperoleh dari penelitian-penelitian serupa berupa jurnal, artikel, maupun berita online guna menunjang penelitian. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa, Dinamika ‘Daerah Istimewa Yogyakarta’ melalui perspektif kuturalis memberikan suatu penjabaran bahwasannya budaya atau culture melahirkan pengaruh terhadap politik secara menyeluruh. Di D. I. Yogyakarta, terdapat perjalanan sejarah yang cukup panjang dalam memperjuangkan kebudayaan mereka untuk tetap dipertahankan hingga saat ini. Hingga lahirnya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Undang-Undang Daerah Keistimewaan Yogyakarta yang memberikan otonomi khusus kepada Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengelola daerahnya sendiri. Rekomendasi penelitian ini adalah perlunya penelitian lebih lanjut kepada peneliti selanjutnya mengenai legistimasi khusus Daerah Istimewa Yogyakarta dari Perspektif atau teori yang berbeda.This article will discuss the dynamics of local politics in the Special Region of Yogyakarta which is analyzed through a culturalist perspective. In this research, culturalist theory is used to analyze whether the granting of special autonomy to Yogyakarta will be able to produce a culture, politics and economy that is different from other regions (which are not given special regional autonomy). The research method used to analyze written problem formulations is a qualitative method with data analysis in the form of descriptive analysis. Data collection was carried out through literature studies, obtained from similar research in the form of journals, articles and online news to support research. The results of this research reveal that the dynamics of the \u27Yogyakarta Special Region\u27 through a culturalist perspective provide an explanation that culture gives rise to an influence on politics as a whole. In D. I. Yogyakarta, there is a long historical journey in fighting for their culture to be maintained to this day. Until the birth of Law Number 13 of 2012 concerning the Yogyakarta Special Region Law which grants special autonomy to the Yogyakarta Special Region to manage its own region. The recommendation of this research is the need for further research by future researchers regarding the special legislation of the Special Region of Yogyakarta from different perspectives or theories

    Naskah Rencong Handschrift (93 E 1 PNRI) Analisis Struktur dan Aspek Islam: Structural Analysis and Islamic Aspect

    No full text
    Manuscript 93 E 1 is a manuscript in the Rencong/Ulu script which is stored in the Archipelago Manuscript Collection Service, the National Library of the Republic of Indonesia. This manuscript is known to contain incantations/mantras and has a part that is related to Islamic aspects. This manuscript consists of three parts, namely jampi tepung, duwa kasi ala, and prayer in Arabic. This study aims to explain the general description of the 93 E 1 text, describe the structure of the 93 E 1 text, and explain the elements of Islamic teachings contained in the 93 E 1 text. This study uses a qualitative descriptive method and uses the theory of the structure of the mantra and the main elements of the teachings Islam. The results of this study are Manuscript 93 E 1 has a structure consisting of a title, an opening element, an element of suggestion, and an element of purpose/closing. The element of purpose of this manuscript is only found in the part of jampi tepung, as a repellent for reinforcements for the establishment/placement of houses in tepung tawar tradition. As for the aspects of Islam in the text only reaches the level of faith regarding faith in Allah (ilahiyat), the Messenger (nubuwat), and the last days (sam\u27iyyat). Keywords: jampi, Ulu script, structure,  Islamic aspectsNaskah 93 E 1 merupakan naskah beraksara Rencong/Ulu yang disimpan di Layanan Koleksi Naskah Nusantara, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Naskah ini diketahui memiliki isi mengenai jampi/mantra serta memiliki bagian yang erat kaitannya dengan aspek keislaman. Naskah ini terdiri dari tiga bagian, yaitu jampi tepung, duwa kasi ala, dan doa dalam bahasa Arab. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan deskripsi umum naskah 93 E 1, menguraikan struktur naskah 93 E 1, dan menjelaskan unsur-unsur ajaran Islam yang terdapat di dalam naskah 93 E 1. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan menggunakan teori struktur mantra serta unsur pokok ajaran Islam. Hasil dari penelitian ini adalah Naskah 93 E 1 memiliki struktur yang terdiri dari judul, unsur pembuka, unsur sugesti, dan unsur tujuan/penutup. Unsur tujuan dari naskah ini hanya ditemukan pada bagian jampi tepung yaitu sebagai penolak bala atas pendirian/penempatan rumah dalam tradisi tepung tawar. Adapun aspek Islam dalam naskah baru sampai pada tataran akidah mengenai iman kepada Allah (ilahiyat), Rasul (nubuwat), dan hari akhir (sam\u27iyyat)

    Transformasi Dalam Tradisi Bai’at Gadang Tarekat Syatariah Di Ponpes Nurul Yaqin Ringan-ringan

    Full text link
    Bai\u27at Gadang is a tradition in the sharia congregation that involves spiritual initiation and commitment of its participants to follow the teachings of the congregation. This study aims to explore more broadly the tradition of the Bai\u27at Gadang Tarekat Syariah and see the transformation that occurred in the implementation procedures, meaning and participants in the event held at the Nurul Yaqin Light-ringan Islamic Boarding School. Through a qualitative approach and data collection through interviews, participant observation, and document analysis, this research reveals important aspects of the Bai\u27at Gadang tradition. The findings of this study also reveal that bai\u27at gadang is a derivative practice of bai\u27at which is usually carried out among followers of the sharia tarekat. In its development, the practice of bai\u27at gadang underwent transformation in three forms: first, changes in implementation procedures such as time, place and management. Second, changes in the number of participants. Third,change in form of meaning. This study provides in-depth insight into religious practices and spirituality in the context of Islamic boarding schools in Padang Pariaman Regency. This research can also be used as a basis for developing further understanding of the sharia congregation and the Bai\u27at Gadang tradition among academics, religious observers and religious practitioners.Bai’at gadang merupakan salah satu tradisi dalam tarekat syatariah yang melibatkan inisiasi spiritual dan komitmen pesertanya untuk mengikuti ajaran tarekat tersebut. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih luas tentang tradisi bai’at gadang tarekat syatariah serta melihat transformasi yang terjadi pada tata cara pelaksaan, makna dan peserta dalam acara yang dikakukan di Ponpes Nurul Yaqin Ringan-ringan tersebut. Melalui pendekatan kualitatif dan pengumpulan data melalui wawancara, observasi partisipatif, dan analisis dokumen, penelitian ini mengungkapkan aspek-aspek penting dari tradisi bai’at gadang. Temuan studi ini juga mengungkapkan bahwa bai’at gadang merupakan praktik turunan dari bai’at yang biasanya dilakukan dikalangan pengikut tarekat syatariah. Dalam perkembangannya praktik bai’at gadang mengalami transformasi dalam tiga bentuk: pertama, perubahan dalam tata cara pelaksaan seperti waktu, tempat dan manajemen. Kedua, perubahan dalam bentuk jumlah peserta. Ketiga, perubahan dalam bentuk makna. Studi ini memberikan wawasan mendalam tentang praktik keagamaan dan spiritualitas dalam konteks pesantren di Kabupaten Padang Pariaman. Penelitian ini juga dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan pemahaman lebih lanjut tentang tarekat syatariah dan tradisi bai’at gadang di kalangan akademisi, pemerhati agama, dan praktisi keagamaan

    Analisis Bentuk Variasi Makna Kalam Insyā\u27 Ṭalabī dalam Surat al-Anfal

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengetahui dari hasil analisis mengenai (1) Ayat-ayat yang mengandung kalam insya’ thalabi dalam surat Al-Anfal, (2) Bentuk-bentuk kalam insya’ thalabi dalam surat Al-Anfal, (3) Variasi makna (antara makna asli dan yang keluar dari makna asli) kalam insya’ thalabi dalam surat Al-Anfal. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa berdasarkan bentuk kalam insya’ thalabi dalam surat Al-Anfal terdiri dari amr (perintah) sebanyak 35 dalam 23 ayat, nahy (larangan) 7, istifham (pertanyaan) 1, tamanni (harapan yang mustahil terjadi) 11 dalam 10 ayat, nida’ (panggilan) 9. Kemudian dari segi variasi makna, terdapat makna asli dan makna yang keluar dari makna asli diantaranya Irsyad (mengarahkan), Ikram (memuliakan), Tahdid (mengancam), Ta’jiz (melemahkan), I’tibar (sebagai pelajaran), Ihanah (penghinaan), Ibahah (diperbolehkan), Taubikh (celaan/teguran), Inkari (penolakan), Tarajji (harapan yang mungkin tercapai), Ighra’ (anjuran, dorongan, atau memotivasi), Zajr (mencegah, larangan, atau bentakan), Ikhtishas (pengkhususan)

    Keterampilan Linguistik Bahasa Arab pada Mahasiswa Non Pesantren di Era Tradisi Digital

    No full text
    Writing skills are the highest of the other four language skills. Therefore, of course, writing skills have a variety of complex problems. This writing activity is the ability to think systematically, rationally and requires the ability to master vocabulary to put it in writing. This study analyzes how the ability to write Arabic is accompanied by an overview of the ability score possessed by students. This study aims to see the scores of students\u27 Arabic writing ability, be it the average score, the lowest score and the highest score of writing Arabic in students of the Arabic language and literature study program. by using quantitative research methods that go from theory to the field to be tested for correctness and use purposive samples of students who are not from islamic boarding school backgrounds.This study aims to see the scores of students\u27 Arabic writing ability, be it the average score, the lowest score and the highest score of writing Arabic in students of the Arabic language and literature study program. by using quantitative research methods that go from theory to the field to be tested for correctness and use purposive samples of students who are not from islamic boarding school backgrounds. The results of the study found that the ability to write Arabic in Arabic language and literature students was included in the low-ability category. From the two sample categories, first semester students got an average score of 16.59 and third semester students got a score of 12.66. In the language writing ability score, the highest score was 9.85 with the ability to write Arabic sound symbols. Then the lowest score of 0.19 on the ability to write characteristic letters using grammar on syntactic and morphological forms. Then the lowest score is obtained on the ability of students to write perfect sentences by including making the number of ismiyah and the number of mufidah with a score of 0.18. Another ability with the lowest score is the ability of students to write sentences with the use of comma punctuation and exclamation marks with a score of 0.19.Keterampilan menulis merupakan kemampuan tertinggi dari empat keterampilan berbahasa lainnya. Oleh karena itu tentu saja keterampilan menulis mempunyai ragam permasalahan yang kompleks. Kegiatan menulis ini merupakan kemampuan berfikir secara sistematis, rasional dan membutuhkan kemampuan menguasai kosakata untuk menuangkannya dalam tulisan. Penelitian ini menganalisis bagaimanakah kemampuan menulis bahasa Arab disertai dengan gambaran skor kemampuan yang dimiliki oleh mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat skor kemampuan menulis bahasa Arab mahasiswa, baik itu skor rata-rata, skor terendah dan skor tertinggi menulis bahasa Arab pada mahasiswa program studi bahasa dan sastra Arab. dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif yang berangkat dari teori ke lapangan untuk diuji kebenarannya dan menggunakan sampel purposive mahasiswa yang bukan berlatar pesantren. Hasil penelitian didapatkan bahwa kemampuan menulis bahasa Arab pada mahasiswa bahasa dan sastra Arab masuk dalam kategori berkemampuan rendah. Dari dua kategori sampel bahwa mahasiswa semester satu mendapatkan skor rata-rata 16,59 dan mahasiswa semester tiga mendapatkan skor 12,66. Pada skor kemampuan menulis bahasa didapatkan skor tertinggi adalah 9,85 dengan kemampuan menulis lambang bunyi bahasa Arab. Kemudian skor terendah 0,19 pada kemampuan menulis karakteristik huruf dengan menggunakan tata bahasa pada bentuk sintaksis dan morfologi. Kemudian skor terendah didapatkan pada kemampuan mahasiswa menulis kalimat sempurna dengan meliputi membuat jumlah ismiyah dan jumlah mufidah dengan skor 0,18. Kemampuan dengan skor terendah lainnya dengan kemampuan mahasiswa menulis kalimat dengan pemakain tanda baca huruf koma dan tanda baca seru dengan skor 0,19

    Dulmuluk Teater Kesenian Tradisional Sumatera Selatan

    Full text link
    Dulmuluk is a traditional art theater in Palembang, South Sumatra.  Dulmuluk itself became known from the early 20th century until now.  The performance of the dulmuluk theater is different from the performances of other theaters originating from Java and other areas because Dulmuluk has Bermas or greetings of respect in the form of singing accompanied by dance movements which are not available in any theater.  the use of ethnographic research methods that are descriptive qualitative is used in this research to re-understand this Dulmuluk Theater from the point of view of the indigenous people where the aim is to find generalizations and make reconstructions of the past by collecting, evaluating, verifying and synthesizing evidence to obtain strong results  , by using this research method it can be seen clearly the division of discussion in this research which includes, history, the performance process, its development and the existence of this theater and its function in society which turns out to have many functions based on the types of functions.Dulmuluk merupakan teater kesenian tradisional yang ada di Palembang, Sumatera Selatan. Dulmuluk sendiri mulai dikenal sejak awal abad ke 20 sampai dengan sekarang. Pementasan teater Dulmuluk berbeda dengan pementasan teater-teater lain yang berasal dari daerah Jawa dan lainnya karena Dulmuluk memiliki Bermas atau salam penghormatan yang berupa nyanyian disertai gerak tari yang tidak ada di teater manapun. penggunakan metode penelitian etnografi yang bersifat deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini untuk memahami kembali Teater Dulmuluk ini dari sudut pandang penduduk asli dimana tujuannya untuk menemukan generalisasi dan membuat rekontruksi masa lampau dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi serta mensitesiskan bukti-bukti guna memperoleh hasil yang kuat, dengan menggunakan metode penelitian ini dapat diketahui dengan jelas pembagian pembahasan dalam penelitian ini dimana meliputi, sejarah, proses pertunjukkannya, perkembangannya serta eksistensinya dari teater ini serta fungsinya dalam masyarakat yang ternyata memiliki banyak fungsi berdasarkan tipe-tipe fungsinya

    Pemetaan Penelitian Pada Bidang Budaya Di Indonesia Pada Scopus Menggunakan Vosviewer

    No full text
    ABSTRACT Culture is a habit of a society that is continuous and carried out from generation to generation. As an archipelagic country, Indonesia has a rich culture that creates a multicultural society. This diversity is a highlight for researchers to examine the cultural sector in Indonesia. Thus were born various scientific works in the field of culture in Indonesia with different focuses. This study aims to determine the mapping of cultural research in Indonesia using VosViewer and the data taken is scientific papers from the journal Scopus. The results of this study show that the field of culture in Indonesia visualizes that there are two klasters that are interconnected with one another. With the many publications in 2020 and the topics that have the most scientific work on traditional topics.ABSTRAK Budaya merupakan kebiasaan suatu masyarakat yang terus-menerus dan dilakukan secara turun menurun. Sebagai negara kepulaun, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang melahirkan masyarakat multikultural. Keberagaraman ini menjadi sorotan bagi peneliti untuk mengkaji bidang budaya di Indonesia. Lahirlah berbagai karya ilmiah pada bidang budaya di Indonesia dengan berbagai fokus yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemetaan penelitian bidang budaya di Indonesia dengan menggunakan VosViewer dan data yang diambil yaitu karya ilmiah dari jurnal Scopus. Hasil dari penelitian ini bahwa bidang budaya di Indonesia memvisualisikan bahwa terdapat dua klaster yang saling berhubungan satu sama lain. Dengan banyaknya publikasi pada tahun 2020 dan topik yang memiliki karya ilmiah paling banyak pada topik tradisi

    144

    full texts

    170

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    TAMADDUN: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇