TAMADDUN: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam
Not a member yet
170 research outputs found
Sort by
Cinta Erich Fromm Kepada Rabi’ah Al-Adawiyah: ( Pendekatan Psikologi Sastra)
Problems is love can be included to psychology domain remember he go together is psychological someone. Hand in glove of its bearing with this research, hence in research of art there are a space to analyse belleslettres with approach is art psychology. This research use approach is art psychology and theory weared was Eric Fromm psychology theory, especially its theory about love. According to Fromm, form relegius from love of[is so-called with God love psychologically is not differ. One definitive matter is that essence love to that God on a par with essence love to human being. Love is human and the relationship in line with growth love human being to God. Love to God started from a period to human being not yet recognized something and still depend on strength or element outside him. Then human being recognize God love which is matriarkhal so-called with Davit. Principal of this matriarkhal love is equality.
Key word: Love, Approach Psyicology Psycology Eric Fromm of Theor
RADIKALISASI DAN MODERASI : STUDI GERAKAN ISLAM MAINSTREM JAMA’AH ISLAMIYAH DAN NAHDATUL ULAMA DI INDONESIA
This paper will parse and explain the moderation movement initiated and mobilized by the Islamic organization Nahdhatul Ulama and radical movements conducted by Jama\u27ah Islamiyah. The focus of this paper will look at the Islamic philosophy and vision (NU and JI) on religious and political relations. This research uses qualitative method with descriptive analysis, that is data used in research and supported by theme-related literatures. The NU moderation movement is a manifestation of ideology formed in many spaces, one of the most important being culture. Contextualization and internalization of the interpretation of the sacred texts namely Al Quran and Hadith, birth concepts such as pluralism and endurance. The earthing of Islamic teachings in accordance with the concept of rahmatan lil alamin existing in the Qur\u27an can not be a left or right object (moderate). Islam is present as a religion that lays political and Islamic relations as two sides complement each other and maintain their own identity. Islam requires politics and state for the media to develop its teachings in all aspects of community life, while the state needs Islam to safeguard, guard and guide the life of the state and society. On the other hand, Jama\u27ah Islamiyah known as extremist groups who want a system of state order called "al-Khilafah al-Islamiyah", various ways and efforts must be implemented for the sake of the establishment of an Islamic state including the path of war (jihad) with violence, manifestation of the ideology of the application of Islamic Shari\u27ah in kaffah and syumul
Keywords:
Nahdhatul Ulama;Moderasi; Jama’ah Islamiy; Radikalism
Tradisi Ruwahan Masyarakat Melayu Palembang Dalam Perspektif Fenomenologis
Tradisi Ruwahan merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Melayu Palembang menjelang Ramadhan tiba. Tradisi Ruwahan ini memiliki makna tersendiri yang terbentuk dari proses kesadaran dan proses konstruksinya. Untuk mengetahui proses kesadaran dan pemaknaan tersebut, artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis perspektif fenomenologis melalui teori kontruksi sosial. Proses kesadaran individu dalam perspektif fenomenologi ini terbagi menjadi tiga pola, yaitu kesadaran yang bersifat subjektif, kesadaran yang bersifat intersubjektif, dan kesadaran yang bersifat objektif. Kesadaran yang bersifat subjektif berasal dari pengalaman dan kesadaran aktor, yang dalam hal ini dilakukan oleh masyarakat Melayu Palembang yang melaksanakan tradisi Ruwahan. Kesadaran intersubjektif didapat oleh aktor memalui proses interaksi antar aktor yang memiliki pemahaman dan kesadaran yang sama. Selanjutnya kesadaran objektif didapatkan oleh aktor melalui pemahaman yang didapatnya dari faktor eksternal, misalnya pemahaman si aktor yang menganggap Ruwahan sebagai tradisi turun temurun dari nenek moyang. Dalam melihat tradisi Ruwahan yang dilakukan oleh masyarakat Melayu Palembang, teori konstruksi sosial memiliki tiga konsep penting sebagai poin analisis, yaitu proses eksternalisasi, proses objektivasi, dan proses internalisasi. Proses eksternalisasi merupakan proses penyesuaian diri seorang aktor dalam dunia sosio-kulturalnya. Proses objektivasi merupakan proses interaksi diri dengan dunia sosio-kultural. Sedangkan proses internalisasi, pelaku melakukan identifikasi diri dengan dunia sosiokultural, yakni mengidentifikasi diri dalam sebuah penggolongan sosial yang berbasis historis dan teologis-ideologi.
Keyword: Tradisi, Ruwahan, Melayu, Palembang, Fenomenologi
TULISAN jAWI SEBAGAI WARISAN INTELEKTUAL ISLAM MELAYU DAN PERANANNYA DALAM KAJIAN KEAGAMAAN DI NUSANTARA
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya fakta sejarah yang menunjukkan peran penting tulisan Jawi dalam berbagai aspek, sejak masuk Islam ke nusantara dan berlangsung selama sekitar dua abad lamanya. Pada saat itu tulisan Jawi menjadi satu-satunya media penyampaian dan pengembangan ajaran agama Islam. Peran ini mulai hilang sejak munculnya sistem tulisan latin yang menggantikan sistem tulisan Jawi dalam bahasa Melayu hingga sekarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana awal mula tulisan Jawi berperan dan peranannya serta pada bidang apa saja tulisan Jawi memainkan peranannya dalam kajian keagamaan di nusantara. Permasalahan utama yang dikaji dalam dalam penelitian ini adalah mengenai: 1) kapan tulisan Jawi berperan dalam kajian keagamaan di nusantara?, 2) bagaimana peranan tulisan Jawi dalam kajian keagamaan di nusantara? dan; 3) pada bidang apa saja tulisan Jawi memainkan peranannya dalam kajian keagamaan di nusantara?. Data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teori masuknya Islam di Nusantara dan perkembangan Bahasa Melayu di Nusantara. Dari hasil analisis diperoleh kesimpulan bahwa tulisan Jawi mulai memegang peranan penting sejak berkembangnya agama Islam di wilayah ini terutama dalam kajian keagamaan. Peran penting ini dibuktikan dengan adanya penggunaan tulisan Jawi dalam sebagian besar naskah keagamaan yang pernah ditemukan di nusantara itu, dan digunakan dalam berbagai lembaga kajian keagamaan di nusantara pada masa itu. Terdapat 900 judul kitab kuning yang sebagian besarnya dalam tulisan Jawi, meliputi bidang-bidang ilmu Fiqh, Akidah/Ushuluddin, Nahwu, Kumpulan hadits, Tasawwuf dan Tariqat, Akhlak, Doa/Wirid dan Mujarabat, dan Kisah Anbiya/Maulid/Manaqib, dan ditemukan 114 (Seratus Empat Belas) naskah yang berbicara tentang keagamaan dalam bidang-bidang ilmu tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa tulisan Jawi memainkan peranannya dalam berbagai bidang kajian keagamaan di nusantar
HERMENEUTIKA INSIDER-OUSIDER; STUDI ATAS PENGARUH HEREMENEUTIKA BARAT TERHADAP HEREMENEUTIKA ISLAM
Salah satu kekayaan khazanah intelektual Islam adalah peninggalan Kitab-kitab tafsir klasik yang ditulis oleh sarjanawan dan mufassir muslim ternama. Jumlahnya sangat mengagumkan, mengingat setiap mufassir dalam menafsirkan al-Qur’an melahirkan Kitab yang berjilid-jilid. Namun seiring dengan kemunduran umat Islam, khususnya dalam bidang pengetahuan, kuantitas (bahkan mungkin pula kualitas) volume tafsir tersebut mengalami penurunan tajam. Ditengarai salah satu penyebabnya adalah tertutupnya pintu ijtihad, sehingga masyarakat umum hanya mengikuti eksegesi yang telah dikembangkan dan digariskan oleh ulama’
GERAKAN FUNDAMENTALISME ISLAM DI INDONESIA: Perspektif Sosio-Historis
Discourse of Islamic thought in Indonesia is evolving as the dynamics of Islamic thought in the Muslim world. One is the Islamic fundamentalist movements that emerged in the Middle East. This movement also affected in Islamic movements in Indonesia. However, within certain limits, Indonesian Islamic fundamentalist movements differ from similar movements in the Middle East. Movement of Islamic fundamentalism in Indonesia merely wish that God\u27s laws are upheld and enforced in this country. Meanwhile, in the Middle East, this movement has been involved in politics far enough. Apparently, the movement of Islamic fundamentalism in Indonesia is not always synonymous with radicalism, like the case of Prosperous Justice Party (Partai Keadilan Sejahtera [PKS]). Through revolution Prosperous Justice Party (Partai Keadilan Sejahtera [PKS]) mind trying to introduce Islamic fundamentalist movements in a way that is more lenient and polite.
Keywords: -fundamentalism movement, -mind revolution, - Prosperous Justice Part
TRADISI PERNIKAHAN DI KAMPUNG ARAB AL-MUNAWWAR KELURAHAN 13 ULU, SEBERANG ULU II, PALEMBANG
Palembang adalah kota yang unik. Salah satu keunikannya adalah pluralitas penduduk yang mendiami wilayah itu. Jalur sungai Musi melintasi kota itu adalah satu pendukungnya, sehingga menjadikan wilayah ini sebuah kota yang kosmopolitan. Keragaman penduduk telah memperkaya kebudayaan yang ada di kota ini, sehingga kebudayaan ini menjadi khas Palembang yang menjadi milik bersama. Kebudayaan Arab, misalnya, telah ikut mewarnai khazanah budaya di Palembang. Sebagian budaya masyarakat Arab ini telah lebur dalam budaya vernakuler Palembang, tetapi sebagian lagi budaya yang masih menjadi milik komunitas Arab itu. Salah satunya adalah tradisi pernikahan, yang masih tetap dipertahankan oleh masyarakatnya. Tradisi ini terbentuk karena pandangan hidup komunitas Arab tentang pernikahan itu sendiri. Karena pernikahan berhubungan dengan “kemurnian” keturunan, maka tradisi pernikahan itu merupakan sesuatu yang sangat penting. Tradisi itu berkaitan dengan pelaksanaanya yang dilangsungkan “secara massal” dan hanya terjadi sekali dalam setahun. Dalam prosesi ini, ada beberapa ritual yang harus dipatuhi oleh sang mempelai. Ritual pernikahan ini berlangsung hampir tiga hari.
Keywords: -marriage tradition, -Arab community, -Palemban
TRADISI INTELEKTUAL ISLAM DI INDONESIA ABAD VII-XXI M
The intellectual tradition of Islam evolved through three periods of classical times, medieval times and modern times. These three ages have different characteristics and methods of developing Islamic intellectual traditions, although the classical period has a strong influence on the development of Islamic intellectual traditions in later ages. This paper is put forward as an attempt to provide a proper understanding and meaning, how Islam is an integral part of the intellectual development of Muslims better known as Islamic intellectual traditions and is still going on today especially in Indonesia. Seeks to describe and demonstrate Islam has an important role in building an intellectual tradition that begins through teaching in cottages and / or boarding schools. The method put forward in this paper is descriptive method with analytical approach. The classical age contributes to the development of intellectuality by placing a growing method of teaching and education practiced from the time of Prophet Muhammad SAW methods of writing, writing and rote. The Middle Ages contributed to the emergence of institutions that helped and expanded the Islamic intellectual tradition. Modern era is a struggle of Indonesian Islamic intellectual tradition, which gave birth to two groups of young people and the elderly. Young people prioritize the importance of renewal of thought in the realm of Islamic understanding, with the method of restoring Islam in its place through the understanding of Islamic teachings that remove the taqlid side and purify the teachings of Islam
Keywords: Islamic Intellectual Tradition Indonesia
Politik Identitas dan dan penguatan Demokrasi Lokal (Kekuatan Wong kito dalam demokrasi lokal)
This paper examines how the Palembang local community uses local values as a process of strengthening democracy. The study in this paper discusses what values still exist and are still used in everyday life, whether they are used in conscious or local values that they actually use but they are not aware of that. There is no previous research that specifically addresses the existence of local values of Wong Kito in everyday life, and this is deepened in the realm of democratization in the local sphere.
Researchers felt it was important to conduct this research on the basis of several reasons, none of which previously examined local politics, especially democratization held by indigenous people of Palembang, the second reason is whether this zero conflict occurred in Palembang because they still use local values in their daily lives -day, there are a number of questions in this study, but can be pursued as follows, what local values are still being used, and can they increase the sense of unity and unity in the community ?. This study uses a type of qualitative research and case study approach, in order to direct research to be organized and planned well and systematically.
The findings in the study are that there are several local values that are still used and are still a reference for the community in the process, daily life such as peddling, charity, celebration, mutual cooperation, ngobeng. This value is believed to still be a tool / weapon to reduce all problems in the community. Then, local values are still believed to be a means of unifying how the stakeholders, especially the executive and the legislature, show their role, especially in issuing policies, because the policy or legal umbrella is the most appropriate realization to be issued.
Keywords: local value, Palembang, local democracyTulisan ini mengkaji tentang bagaimana masyarakat lokal Palembang menggunakan nilai-nilai lokal sebagai proses penguatan demokrasi. Kajian dalam tulisan ini membahas tentang nilai-nilai apa saja yang masih eksis dan masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik yang digunakan dalam keadaan sadar ataupun nilai lokal yang sebenearnya mereka gunakan namun merka tidak menyadari hal tersebut. Belum ada dalam penelitian sebelumnya yang membahas secara spesifik eksistensi nilai lokal wong kito dalam kehidupan sehari-hari, dan ini diperdalam dalam ranah demokratisasi di ranah lokal.
Peneliti merasa penting untuk melakukan penelitian ini atas dasar beberapa alasan, belum ada sebelumnya yang meneliti politik lokal terutama demokratisasi yang dipegang oleh masyarakat asli Palembang, yang kedua alasan apakah zero conflict yang terjadi di Palembang ini karena mereka masih menggunakan nilai-nilai lokal dalam kehidupan sehari-hari, ada beberapa pertanyaan dalam penelitian ini, namun dapat dikerucutkan sebagai berikut, nilai lokal apa saja yang masih dipakai, dan apakah nilai tersebut dapat meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat?. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan pendekatan sudi kasus, guna mengarahkan penelitian agar tersusun dan terencana dengan baik dan sistematis.
Temuan dalam penelitian adalah ada beberapa nilai lokal yang masih digunakan dan masih menjadi rujukan masyarakat dalam proses, kehidupan sehari-hari seperti Umpak-umpakan, sedekah, hajatan, gotong royong, ngobeng. Nilai nilai tersebut dipercaya masih bisa menjadi alat/senjata untuk meredam segala masalah di tengah masyarakat. Kemudian, nilai lokal masih dipercaya sebagai sarana pemersatu tinggal bagaimana para stakeholders, terutama eksekutif dan legislatif menunjukan perannya terutama dalam mengeluarkan kebijakan, karena kebijakan atau payung hukum merupakan realisasi paling tepat untuk di keluarkan.
Kata kunci: nilai lokal, Palembang, demokrasi loka
PENJANGKA KAMBANG DEKAT FRASE DETERMINER BUKAN PENJANGKA DEKAT FRASE NOMINA: “ Revisi istilah Penjangka (Quentifier) Bahasa Arab Pendekatan Tata Bahasa Leksikal Fungsional (TLF) “
Tulisan ini bertujuan untuk merivisi penggunaan istilah Penjangka Dekat Frase Nomina (Penj Dekat FN) ( (Q adjacent NP) yang dipopulerkan oleh El-Sadaany dan Muhammed Shams (2012) melalui penggunaan dalil-dalil pembuktian yang didasarkan pada pendekatan sintaksis Tata Bahasa Leksikal Fungsional (TLF). Data pembuktian diperoleh dalam hasil tulisan penelitian sebelumnya (Benmamun, 1999) dengan menggunakan teknik catat. Berdasarkan pembuktian yang berdasarkan kerja pendekatan TLF, disimpulkan bahwa konsep/istilah Penj Dekat FN adalah istilah yang tidak tepat. Adapun konsep yang paling tepat adalah Penjangka Kambang Dekat Frase Determiner (PenjKam dekat FD). Perbedaan ini muncul karena adanya perbedaan properti sintaksis dan semnatik yang kurang dicermati oleh El-Sadaany dan Muhammed Shams (2012).
Kata Kunci: Penj dekat FN, PenjKam dekat FD, TL