Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy)
Not a member yet
    996 research outputs found

    Isolation of Mercury-Resistant Endophytic and Rhizosphere Microorganisms from Grasses in Abandoned Gold Mining Area

    Get PDF
    Terdapat sekitar 900 titik pertambangan emas skala kecil (PESK) di Indonesia yang memperoleh emas melalui teknik amalgamasi dan sianidasi. Teknik amalgamasi menyebabkan pencemaran merkuri (Hg) di tanah. Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan (preliminary study) yang bertujuan untuk mengisolasi mikroorganisme endofit dan rhizosfer resisten Hg dari rumput pionir yang tumbuh di tanah yang tercemar Hg. Mikroorganisme paling berpotensi akan diaplikasikan pada fitoremediasi merkuri di penelitian selanjutnya. Sampel rumput pionir diambil dari lahan pertanian bekas kawasan pertambangan emas dengan teknik amalgamasi di Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Total mikroorganisme dihitung menggunakan Colony Forming Unit (CFU) atau Standard Plate Count. Koloni mikroorganisme dikarakterisasi berdasarkan ciri morfologi. Mikroorganisme endofit dan rizosfer yang resisten Hg berhasil diisolasi dari rumput pionir (Cynodon dactylon dan Eleusine indica) di lokasi penelitian. Koloni mikroorganisme rizosfer sangat beragam secara morfologi dibandingkan dengan mikroorganisme endofit berdasarkan jumlah mikroorganisme terisolasi, berturut-turut 20 isolat dan 17 isolat. Kepadatan mikroorganisme rizosfer lebih tinggi (96%) dibandingkan mikroorganisme endofit (4%). Kepadatan bakteri dan jamur rizosfer masing-masing adalah 47x103 dan 2x103 CFU g-1 sedangkan kepadatan bakteri endofit dan jamur masing-masing hanya 2x103 dan 1x103 CFU g-1.There were about 900 hotspots of artisanal and small scale gold mining (ASGM) in Indonesia that recovered gold through amalgamation and cyanidation techniques. Amalgamation technique causes mercury (Hg) pollution to the soil. This study was a preliminary study that aimed to isolate Hg-resistant endophytic and rhizosphere microorganisms from pioneer grasses in the Hg-polluted soil. The most potential microorganism will be used for Hg phytoremediation in the future study. Pioneer grasses were collected from the abandoned gold mining area in Central Lombok Regency, West Nusa Tenggara. Total microorganisms were counted using Colony Forming Unit (CFU) or Standard Plate Count. The microorganism colony was characterized based on morphological characteristics. Hg-resistant endophytic and rhizosphere microorganisms were successfully isolated from pioneer grass (Cynodon dactylon and Eleusine indica) in the study site. The colonies of rhizosphere microorganisms were diverse morphologically compared to endophytic microorganisms based on the number of isolated microorganisms, 20 isolates and 17 isolates, respectively. The density of rhizosphere microorganisms was higher (96%) than endophytic microorganisms (4%). The density of rhizosphere bacteria and fungi were 47x103 and 2x103 CFU g-1, respectively. However, the density of endophytic bacteria and fungi were only 2x103 and 1x103 CFU g-1, respectively. Keywords: endophytic microorganism, Hg-resistant, microorganism density, rhizosphere microorganis

    Fenologi Pembungaan dan Penyerbukan Cereus jamacaru D.C. (Cactaceae) Koleksi Kebun Raya Bogor

    Get PDF
    Cactaceae merupakan tanaman asli Amerika (bagian Utara, Tengah dan Selatan) daerah tropis dan subtropis, berperan penting dalam ekosistem kering dan gersang. Tanaman Cereus jamacaru D.C. (Pleated cereus) dianggap penting karena berpotensi sebagai bunga hias, makanan dan obat. Fenologi pembungaan dan pembuahan tanaman ini belum banyak diketahui. Penelitian bertujuan untuk mengetahui: (1) tahapan fenologi pembungaan dan pembuahan C. jamacaru, serta (2) polinator yang berperan dalam proses penyerbukan. Penelitian dilakukan di Kebun Raya Bogor pada bulan Maret - Mei 2015. Jumlah sampel yang diamati adalah tujuh kuncup bunga (inflorescens). Pengamatan meliputi fenologi pemekaran bunga (tahap 1) dan bunga mekar sempurna (tahap 2). Variabel yang diamati pada tahap 1 adalah panjang dan diameter kuncup bunga, panjang dan diameter calon buah, serta diameter tabung kuntum. Variabel yang diamati pada tahap 2 adalah panjang kuntum, diameter periantum, dan diameter kumpulan stamen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap 1, panjang kuncup bunga 98.35 mm, diameter kuncup bunga 42.95 mm, panjang calon buah 47.79 mm, diameter calon buah 20.83 mm dan diameter tabung kuntum 17.96 mm. Pada tahap 2 setelah antesis, diameter kumpulan stamen 40.26 mm, diameter periantum 80.11 mm dan panjang kuntum 176.77 mm. Polinator penyerbukan yaitu Trigona, Apis indica, dan semut. Kata kunci: kaktus, biologi reproduksi, penyerbukan, pemekaranCactaceae is a native American (North. Central, and South) plant in tropical and temperate, ecologically very important in dry and arid ecosystems. Cereus jamacaru D.C. (Pleated cereus) is considered important because of its potential as an ornamental flower, food, and medicine. The flowering and fruiting phenology of this plant is still not widely known. This study aimed to determine the phenology stages of flowering and fruiting of C. jamacaru, and also to determine the pollinators that play a role in the pollination process. This research was conducted in Bogor Botanical Gardens in March-May 2015. The number of samples observed was seven flower buds (inflorescence). The observations were included the phenology of flower blooming (stage 1) and anthesis (stage 2). The variables observed in stage 1 were the length and diameter of the flower and fruit buds, also the bud tube diameter. The variables observed in stage 2 were the length of the florets, the diameter of perianthium, and the diameter of stamens. The results showed that in stage 1, the length of flower buds was 98.35 mm, diameter of flower buds was 42.95 mm, length of fruit was 47.79 mm, diameter of fruit was 20.83 mm and diameter of flower buds tube was 17.96 mm. In stage 2 after anthesis, the diameter of stamens was 40.26 mm, diameter of perianthium was 80.11 mm, and length of the florets was 176.77 mm. The pollinators are Trigona, Apis indica and ants. Keywords: cactus, Cereus jamacaru, reproductive biology, pollination, flowerin

    Pengembangan Kriteria Seleksi Cabai (Capsicum annuum L.) di Lahan Gambut Provinsi Riau

    Get PDF
    Pengembangan varietas cabai toleran lahan gambut merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi cabai di lahan gambut yang cukup luas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kriteria seleksi cabai toleran lahan gambut. Penelitian dilaksanakan di KP Rimbo Panjang, Fakultas Pertanian UNRI pada bulan November 2020 hingga Maret 2021. Penelitian menggunakan 20 genotipe cabai meliputi sembilan cabai besar, enam cabai keriting, dan lima cabai rawit. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perbedaan genotipe berpengaruh nyata terhadap semua karakter kuantitatif yang diamati kecuali umur panen dan diameter batang. Tinggi tanaman, lebar tajuk, tinggi dikotomus, diameter buah, panjang buah, bobot buah, tebal daging buah, umur berbunga, jumlah buah, dan bobot buah per tanaman memiliki nilai heritabilitas tinggi. Hasil analisis lintas menunjukkan bahwa ketebalan daging buah, bobot buah, panjang buah, dan diameter buah berpengaruh langsung terhadap bobot buah per tanaman. Karakteristik diameter buah, panjang buah dan bobot buah secara tidak langsung mempengaruhi bobot buah per tanaman melalui karakteristik daging buah. Karakter yang dapat digunakan sebagai kriteria seleksi cabai toleran lahan gambut adalah ketebalan daging buah (0.71), bobot buah (0.80) dan panjang buah (0.74). Kata kunci: heritabilitas, karakter kuantitatif, korelasi, sidik lintasThe development of chili varieties tolerant to peatland is one way to increase chili production in large area peatlands. This research aimed to determine the selection criteria for tolerant chili in peatlands. The research was conducted at the Rimbo Panjang Experimental Station, Faculty of Agriculture, Riau University, from November 2020 to March 2021. This research involved 20 genotypes of nine large chilies, six curly chilies, and five bird peppers. Analysis of variance showed that the genotype had a significant effect on all quantitative characters except for harvesting date and stem diameter. The characters of plant height, canopy width, dichotomous height, fruit diameter, fruit length, fruit weight, fruit flesh thickness, flowering date, number of fruit, and fruit weight per plant had high heritability values. Path analysis showed that the fruit flesh thickness, fruit weight, fruit length, and fruit diameter directly influenced fruit weight per plant. Characters of fruit diameter, fruit length, and weight per fruit have an indirect effect on fruit weight per plant through the characteristics of fruit flesh thickness. Characters that can be used as selection criteria for peatland tolerant chili are fruit flesh thickness (0.71), fruit weight (0.80), and fruit length (0.74). Keywords: correlation, heritability, quantitative character, path analysi

    Karakterisasi, Variabilitas Genetik dan Heritabilitas Genotipe Tapak Dara (Catharanthus roseus)

    Get PDF
    Karakterisasi, variabilitas genetik dan heritabilitas tanaman tapak dara penting diketahui pemulia untuk melaksanakan seleksi dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas tanaman tapak dara sebagai tanaman hias. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi variabilitas dan heritabilitas berbagai karakter 13 genotipe tapak dara. Penelitian dilaksanakan dari bulan Oktober 2020 sampai bulan Februari 2021. Percobaan bertempatkan di screen house Perumahan Rakyat, Kota Bengkulu. Penelitian ini disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) faktor tunggal yang terdiri dari 13 genotipe tapak dara dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan pada 13 genotipe tapak dara terdapat keragaman pada karakter kualitatif yaitu bentuk daun (memanjang dan jorong), tipe pertumbuhan batang (menggantung dan tegak), warna utama corolla (pink pucat, peach, putih, pink fanta, apricot, pink taffy, lavender, magenta, rose pink, pink kemerahan, pink, baby pink, dan orange), dan warna tengah corolla (pink pucat, peach, putih, pink fanta, merah, french rose, baby pink, dan orange). Ragam genetik diantara 13 genotipe tapak dara bernilai 0.01-32.15 (sempit), dan nilai heritabilitas karakter berkisar rendah-sedang (2-50%). Dugaan kemajuan genetik yang memiliki nilai tinggi yaitu pada karakter jumlah kuntum bunga per buku (20%) dan jumlah cabang (23%). Kata kunci: karakter kualitatif, karakter kuantitatif dan tanaman hiasCharacterization, genetic variability and heritability of periwinkle is crucial for breeders to carry out plant selection to increase the quality and quantity of periwinkle as ornamental plants. The objective of this study was to characterize and assess the genetic variability and heritability values of 13 genotypes of periwinkle. The research was conducted from October 2020 to February 2021 in a screen house located in Perumahan Rakyat, Bengkulu City. The experiment was arranged in a completely randomized design, single factor, consisting of 13 genotypes of C. roseus with three replications. The results showed a variation among 13 genotypes on leaf shape (oval and oblong); type of stem growth (hanging and upright); the main color of the corolla (pale pink, peach, white, pink fanta, apricot, pink taffy, lavender, magenta, rose pink, reddish-pink, pink, baby pink, orange); and the middle color of the corolla (pale pink, peach, white, fanta pink, red, french rose, baby pink, and orange). Genetic variance estimates among 13 genotypes of periwinkle were 0.01-32.15 (narrow), and the heritability estimates of the traits were low-medium (2-50%). The estimations of genetic gain which has high values are number of florets (23%) and number of branches (20%). Keywords: qualitative character, quantitative character and ornamental plan

    Peranan GA3 terhadap Kerontokan dan Kualitas Buah Jeruk Pamelo Berbiji dan Tidak Berbiji

    Get PDF
    Kerontokan buah sering terjadi dan menyebabkan rendahnya panen buah. Informasi penggunaan hormon GA3 dalam menekan kerontokan buah pada jeruk pamelo masih belum tersedia. Riset ini bertujuan untuk mengkaji peranan GA3 terhadap kerontokan dan kualitas buah jeruk pamelo berbiji dan tidak berbiji. Penelitian ini dilaksanakan pada Desember 2019 sampai Juni 2020 di Desa Tambakmas, Kecamatan Sukomoro Kabupaten Magetan. Desain percobaan menggunakan rancangan tersarang, dimana faktor utama adalah kultivar (Bali Merah 1 dan Bali Merah 2) dan faktor tersarang adalah penyemprotan GA3 (tanpa disemprot GA3, penyemprotan GA3 pada 1 minggu setelah antesis (MSA) dan penyemprotan GA3 pada 1 dan 3 MSA). Bali Merah 1 tergolong pada pamelo berbiji, sedangkan Bali Merah 2 adalah pamelo tidak berbiji. Peubah pengamatan meliputi konsentrasi GA3 buah pada 4, 5, dan 6 MSA, final set, jumlah buah rontok, bobot dan diameter buah, bagian dapat dimakan (BDD), padatan terlarut total (PTT), asam tertitrasi total (ATT), rasio PTT/ATT dan vitamin C. Hasil menunjukkan bahwa penyemprotan GA3 meningkatkan final set namun tidak memberikan pengaruh nyata pada bobot buah, diameter buah, ATT, rasio PTT/ATT dan kandungan vitamin C. Penyemprotan GA3 pada 1 dan 3 MSA menekan jumlah buah rontok serta meningkatkan konsentrasi GA3 buah pada 4, 5, dan 6 MSA, BDD dan PTT buah. Kata kunci: asam tertitrasi total, final set, padatan terlarut total, Vitamin CFruit drop occurs frequently and causes low fruit harvesting. The information about the use of the hormone GA3 in suppressing fruit drop in pummelo is still not available. This research aimed to examine the role of GA3 on fruit drop and fruit quality in seeded and seedless pummelo. This research was conducted from December 2019 until June 2020 in Tambakmas Village, Sukomoro District, Magetan Regency. The experiment used a nested design with two factors, i.e., cultivars as the main factor (Bali Merah 1 and Bali Merah 2) and spraying GA3 as a nested factor (without spraying GA3, sprayed with GA3 at 1st week after anthesis (WAA), and sprayed with GA3 at 1st and 3rd WAA). Bali Merah 1 belongs to seeded pummelo, while Bali Merah 2 is a seedless pummelo. The observation variables consisted of the concentration of GA3 at 4th, 5th, and 6th WAA, final set, the number of fruit drop, fruit weight and diameter, edible portion, total soluble solids (TSS), total titratable acidity (TTA), TSS/ATT ratio, and vitamin C. The result showed that the GA3 spraying increased the final set of pummelo but the treatment had no significant affected on fruit weight, fruit diameter, TTA, TSS/TTA ratio, and vitamin C content. The GA3 spraying at 1st and 3rd WAA suppressed fruit drop and increased the GA3 concentration of fruit at 4th, 5th and 6th WAA, the edible portion and TSS of pummelo fruit. Keywords: final set, total titratable acidity, total soluble solids, vitamin

    Perbanyakan Tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Menggunakan Sistem Fotoautotrofik dengan Berbagai Konsentrasi Gula dan Jumlah Ventilasi

    Get PDF
    Nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan tanaman perkebunan penghasil minyak atsiri. Perbanyakan nilam secara in vitro dilakukan sebagai upaya memenuhi permintaan pasar. Penggunaan sistem fotoautotrofik pada kultur in vitro dilakukan melalui pengaturan konsentrasi gula dan jumlah ventilasi untuk mendapatkan pertumbuhan bibit terbaik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai September 2020. Bahan tanaman yang digunakan berupa planlet steril nilam varietas Tapak Tuan koleksi BALITTRO. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan kelompok Lengkap Teracak dengan dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi gula (10, 20, dan 30 g L-1) dan faktor kedua adalah jumlah ventilasi (0, 2, dan 4 lubang). Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara perlakuan konsentrasi gula dan jumlah ventilasi berpengaruh terhadap jumlah eksplan berkalus dan jumlah daun tanaman nilam. Hasil terbaik dalam multiplikasi tanaman nilam menggunakan media penambahan 20 g L-1 gula tanpa ventilasi yang meningkatkan jumlah daun sebanyak 9-61% dan jumlah buku sebanyak 20% pada 6 MSP dibandingkan perlakuan lainnya. Pemberian ventilasi 2 lubang meningkatkan jumlah akar 10-20%, jumlah dan kerapatan stomata 28-57% pada 6 MSP dibandingkan perlakuan lainnya. Peningkatan jumlah akar, jumlah dan kerapatan stomata pada eksplan yang tumbuh dalam sistem fotoautotrofik secara in vitro menunjukkan kemampuan untuk mengintegrasikan lingkungan dan diduga lebih mampu bertahan pada aklimatisasi untuk produksi bibit. Kata kunci: aklimatisasi, fotosintesis, in vitro, pengakaran, stomataPatchouli (Pogostemon cablin Benth.) is a plant that produces essential oils. In vitro propagation of Patchouli has been carried out as an effort to meet market demand. Photoautotrophic conditions with appropriate sugar concentration and number of ventilations is needed to get the best seedling growth. This research was conducted from June to September 2020 using a randomized complete block design with two factors. The first factor was sugar concentration (10, 20, and 30 g L-1) and the second factor was number of vents (0, 2, and 4 holes). The results showed that the interaction of sugar concentration and number of ventilation treatments affected to number of callus explants and number of leaves patchouli plant at 6 week after treatment. The best treatment for patchouli plant multiplication was 20 g L-1 of sugar without ventilation which increase number of leaves by 9-61% and number of nodes by 20% as compared to other treatments. Application of two holes ventilation increased number of roots by 10-20%, number and density of stomata 28-57% compared to other treatments. Increased number of roots, number and density of stomata in explants grown in photoautotrophic systems in vitro showed the ability to integrate environment and was thought to be more adapted to acclimatization for seedling production. Keywords: acclimatization, in vitro, photosynthesis, rooting, stomat

    Immersion in 6-Benzylaminopurine for Dormancy Release and Initiation of Potato Sprouts at Various Tuber Weight and Storage Duration

    Get PDF
    One of the main obstacles in providing quality potato seed tubers is the long dormancy period of the potato seeds. A study that explores this has been carried out to elucidate the response of dormancy release and initiation of potato sprouts to the differences in tuber weight and storage duration before immersion in cytokinin (6-benzylaminopurine). The study was conducted at the seed warehouse UPT Horticulture Parent Seed Kutagadung Berastagi, Department of Food and Horticulture of North Sumatra Province, from November 2018 to January 2019. The research was carried out with a factorial completely randomized design with two factors, namely (i) tuber weight, consisting of 4 levels [25-35 g, 55-65 g, 85-95g, and 115-125 g]; and (ii) tuber storage duration before immersion in 6-benzylaminopurine (BAP) solution, consisting of 5 levels [control (without immersion), 1, 15, 30, and 45 days after harvest]. Tuber weight, storage duration before immersion, and the interaction of the two factors showed significant effects in dormancy breaking time, germination percentage, germination rate, number of sprouts, and length of sprouts. The number and length of the sprouts increased with the increasing tuber weight and storage duration before immersion in BAP. Keywords: cytokinin, germination, Solanum tuberosum L., tuber seedsSalah satu kendala utama dalam penyediaan umbi benih kentang yang berkualitas adalah lamanya masa dormansi benih kentang. Suatu kajian yang mendalami hal tersebut telah dilakukan yaitu respon pematahan dormansi dan inisiasi kecambah kentang terhadap perbedaan bobot umbi dan lama penyimpanan umbi sebelum direndam dalam sitokinin (6-benzilaminopurin). Penelitian ini dilakukan di gudang benih UPT Benih Induk Hortikultura Kutagadung Berastagi, Dinas Tananaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Utara pada bulan November 2018 sampai Januari 2019. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor, yaitu (i) bobot umbi yang terdiri atas 4 taraf [25-35 g, 55-65 g, 85-95g, dan115-125 g]; dan (ii) lama penyimpanan umbi sebelum direndam dalam larutan 6-benzilaminopurin (BAP) yang terdiri atas 5 taraf [kontrol (tanpa perendaman), 1, 15, 30, dan 45 hari setelah panen]. Bobot umbi, lama penyimpanan umbi sebelum direndam, serta interaksi kedua faktor menunjukkan perbedaan yang nyata waktu pematahan dormansi, persentase perkecambahan, laju perkecambahan, jumlah kecambah dan panjang kecambah. Jumlah dan panjang kecambah bertambah dengan bertambahnya bobot umbi dan lama penyimpanan umbi kentang sebelum direndam dalam BAP. Kata kunci: bibit umbi, perkecambahan, sitokinin, Solanum tuberosum L

    Respon Fisiologi pada Pembibitan Mangga Kasturi (Mangifera casturi Kosterm) terhadap Aplikasi Cahaya LED (Light Emitting Diode)

    Get PDF
    Mangga Kasturi (Mangifera casturi Kosterm) merupakan mangga endemik Kalimantan Selatan dengan status langka di alamnya berdasarkan IUCN-red list. Kasturi dengan masa juvenil yang panjang sehingga menyebabkan awal pembuahan yang lama. Penggunaan cahaya buatan dengan lampu LED-light emmiting diode diketahui dapat memperpendek juvenilitas karena meningkatkan efisiensi fotosintesis. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perbedaan respon fisiologi dari bibit mangga Kasturi menggunakan lampu LED. Penelitian ini menggunakan rancangan petak tersarang dengan faktor utama lampu LED dan faktor kedua aksesi sebagai perlakuan yang disarangkan. Faktor utama terdiri dari tiga taraf yaitu LED merah, putih dan biru, sedangkan faktor kedua terdapat tiga taraf yaitu aksesi Cuban, Pelipisan, dan Kasturi. Penggunaan LED memberikan beberapa perbedaan respon terhadap kandungan klorofil, LED merah menunjukan nilai paling tinggi pada kandungan klorofil a, tetapi tidak ada pengaruh pada klorofil b dan rasio klorofil. Penyinaran LED biru menunjukkan nilai absorsi cahaya, konduktansi stomata, transpirasi, dan laju fotosintesis yang lebih tinggi pada aksesi Kasturi. Lampu LED biru meningkatkan kandungan glukosa, sedangkan lampu LED putih membuat kandungan fruktosa yang lebih tinggi dibandingkan lampu lain dan mempengaruhi ketebalan daun yang lebih tebal. Berdasarkan penelitian ini monokromatik LED memberikan pengaruh berbeda pada setiap karakter fisiologis, yang berpengaruh pada percepatan masa juvenil. Kata kunci: fotosintesis, fruktosa, glukosa, rasio klorofilKasturi mango (Mangifera casturi Kosterm) is one of the endemic fruit trees from South Kalimantan, with extinct status in the wild by IUCN. Kasturi had a problem with a long period in the nursery due to juvenility. Artificial light such as LED lamps can cut the juvenile phase because it could increase photosynthetic efficiency. This research aimed to determine different responses of physiology seedling using an LED lamp. This research used nested design as the experimental design where Monochromatic LED as the main factor with three levels (red, white, and blue) and accessions as the second factor with three levels (Cuban, Pelipisan and Kasturi) that were nested on the main factor. LED light made different responses for chlorophyll content that red LED made the higher concentration of chlorophyll a, but not for chlorophyll b and the ratio. Blue LED made plants have higher light absorbance, stomata conductance, transpiration, CO2 interception, and photosynthetic rate in Kasturi accession higher than the other lamps. Blue light made glucose concentration on leaf higher, but fructose higher under white lamp than the other lamps. The application of white LED made leaf thicker than the other lamps. Based on this research, different LED light illumination made a different response on Kasturi seedling for cut juvenile phase. Keyword: photosynthetic, chlorophyll ratio, fructose, glucos

    Ameliorasi Rizosfer Kedelai Menggunakan Jerami, Abu Sekam, dan Dolomit

    Get PDF
    Keberhasilan praktik budidaya jenuh air di lahan pasang surut untuk meningkatkan produksi kedelai perlu didukung dengan ameliorasi. Rizosfer merupakan area terjadinya hubungan timbal balik yang intensif antara tanaman, tanah, dan mikroorganisme tanah, namun pengaruh dari ameliorasi melalui rizosfer belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh ameliorasi menggunakan jerami, abu sekam, dan dolomit pada rizosfer terhadap pertumbuhan dan produksi kedelai. Penelitian dilakukan di lahan rawa pasang surut tipe luapan B dari bulan Mei sampai dengan Agustus 2019. Rancangan percobaan yang digunakan adalah split-split plot dengan jerami, abu sekam, dan dolomit masing-masing sebagai petak utama, anak petak, dan anak-anak petak. Jerami diaplikasikan dengan cara pembenaman, sedangkan abu sekam dan dolomit diaplikasikan pada rizosfer saat penanaman. Pengamatan yang dilakukan meliputi bobot biomassa kering, kadar hara daun P, Fe, dan Al, jumlah polong isi, dan produktivitas tanaman kedelai. Aplikasi abu sekam dengan jerami atau dengan dolomit dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi kedelai. Kombinasi antara abu sekam dosis 400 kg ha-1 dengan jerami 4 ton ha-1 menghasilkan produktivitas tertinggi dengan nilai 2.94 ton ha-1. Kata kunci: budidaya jenuh air, cekaman abiotik, lahan pasang surut, rizosferSuccessful saturated soil culture practices in tidal land to increase soybean production needs to be supported by amelioration. The rhizosphere is an area where the intensive reciprocal relationship between plants, soil, and soil microorganisms occured. However, the effect of amelioration through the rhizosphere is still unclear. This research aimed to study the effect of amelioration using rice straw, rice husk ash, and dolomite on the rhizosphere on the growth and production of soybean. The research was conducted in tidal swamp land type B overflow from May to August 2019. The experimental design used was a split-split plot design with rice straw, rice husk ash, and dolomite as the main plot, subplots, and sub subplots, respectively. Rice straw was applied by embedding in the soil, while rice husk ash and dolomite were applied to the rhizosphere during planting. The observations included plant biomass dry weight, leaf nutrient concentration of P, Fe, and Al, number of filled pods, and soybean productivity. The application of rice husk ash with rice straw or with dolomite increased soybean growth and production. The combination of 400 kg ha-1 of rice husk ash and 4 ton ha-1 of rice straw yielded the highest productivity with the value of 2.94 ton ha-1. Keywords: abiotic stresses, rhizosphere, saturated soil culture, tidal lan

    Peran Trichoderma harzianum sebagai Penghasil Zat Pengatur Tumbuh terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Varietas Cabai (Capsicum annuum L.)

    Get PDF
    Cabai merupakan komoditas unggulan Indonesia dibidang hortikultura dengan nilai ekonomi tinggi dan sangat dibutuhkan masyarakat sebagai bumbu penyedap masakan. Setiap varietas cabai memiliki daya adaptasi yang berbeda terhadap lingkungan sehingga sangat penting untuk menyesuaian lingkungan tumbuh untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman. Aplikasi mikroorganisme tanah dilakukan sebagai unsur pendukung peningkatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh introduksi varietas dan aplikasi dosis pellet T. harzianum terhadap pertumbuhan dan produktivitas cabai. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Juli 2017 di desa Lamreung, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar, menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan 2 faktor yaitu varietas (V) terdiri atas varietas Lado (V1), Kencana (V2), Bemeri (V3) dan Kopay (V4) dan dosis pellet T. harziaunum terdiri atas 0 g per tanaman (T0), 10 g per tanaman (T1), 15 g per tanaman (T2) dan 20 g per tanaman (T4) yang diulang sebanyak 3 kali. Perlakuan varietas dan dosis pellet T. harzianum tidak berpengaruh terhadap produktivitas tanaman, tetapi faktor varietas memiliki pengaruh signifikan terhadap rata-rata tinggi tanaman dan lebar kanopi, dengan varietas Lado menunjukkan hasil terbaik. Faktor dosis T. harzianum memiliki pengaruh sangat nyata terhadap rata-rata panjang akar, dengan hasil terbaik pada aplikasi T. harzianum 20 g per tanaman. Kata kunci: benih unggul, budidaya tanaman, dosis pellet, mikroorganisme tanah, perangsang tumbuhChili is Indonesia’s main commodity in the field of horticulture with high economic value and is very much needed by the community as a seasoning for cooking. Each chili variety has different adaptability to the environment so it is very important to adapt the growing environment for plant growth. The application of soil microorganisms is carried out as a supporting element for the growth and development of chili plants. This study aimed to determine the effect of variety introduction and application of T. harzianum pellet dosage on the growth and productivity of chilies. This research was conducted from February to July 2017 in Lamreung village, Krueng Barona Jaya District, Aceh Besar District using a randomized complete block design (RCBD) with 2 factors, namely varieties (V) consisting of Lado (V1), Kencana (V2), Bemeri (V3) and Kopay (V4), and the dosage of T. harziaunum pellets consisting of 0 g per plant (T0), 10 g per plant (T1), 15 g per plant (T2) and 20 g per plant (T4) which were replicated 3 times. Treatment of varieties and pellet doses of T. harzianum did not affect plant productivity, but the variety factor had a significant effect on the average plant height and canopy width, with Lado variety showing the best results. The treatment dose of T. harzianum had a highly significant effect on the average root length, with the best results obtained from the application of T. harzianum 20 g per plant. Keywords: growth stimulants, pellet dose, plant cultivation, soil microorganism, superior seed

    885

    full texts

    996

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇