Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy)
Not a member yet
996 research outputs found
Sort by
Analisis Keragaman Genetik Karakter Morfologi Populasi M2 Cabai Hasil Iradiasi Sinar Gamma
Mutasi merupakan teknik untuk meningkatkan keragaman genetik sebagai modal dasar perakitan varietas unggul. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis keragaman genetik populasi M2 cabai hasil iradiasi sinar gamma berdasarkan karakter morfologi. Analisis keragaman genetik dilakukan melalui pendugaan ragam genetik, heritabilitas arti luas, serta sidik lintas karakter-karakter yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap hasil. Sebanyak 350 tanaman M2 dievaluasi karakter morfologinya di Kebun Percobaan BB Biogen Bogor pada bulan Agustus 2020 hingga Januari 2021. Hasil analisis menunjukkan nilai keragaman genetik yang luas pada populasi M2 diperoleh pada karakter umur panen dan lebar tajuk. Nilai heritabilitas arti luas yang tinggi terdapat pada karakter panjang buah, diameter buah, bobot per buah, panjang daun, lebar daun, dan lebar tajuk. Sementara itu sidik lintas menunjukkan terdapat dua karakter yang memiliki nilai pengaruh langsung yang besar terhadap hasil yaitu diameter batang dan lebar tajuk.
Kata kunci: heritabilitas, induksi mutasi, korelasi, ragam genetik, sidik lintasMutation is a useful technique that could be used to increase genetic variability of chili as a basis for developing new improved varieties. The aim of this study was to analyze the genetic variability of M2 population derived from gamma irradiation based on morphological characters. The analysis was conducted through estimation of genetic variability, broad-sense heritability, and also path analysis to see which characters have a direct and indirect effect on the yield. As many as 350 M2 plants were evaluated for their morphological characters at the ICABIOGRAD experimental field in Bogor from August 2020 to January 2021. The results showed that harvest period and canopy width had a broad genetic variability in M2 population. Several quantitative characters such as fruit length, fruit diameter, weight per fruit, leaf length, leaf width, and canopy width showed high broad-sense heritability values. Path analysis showed that there were two characters namely stem diameter and canopy width with the highest direct effect on the yield.
Keywords: correlation, genetic variance, heritability, induced mutation, path analysi
Nitrogen Fertilizer Reduction on Way Apo Buru and Inpari 33 Rice Varieties
Pemupukan urea di petani umumnya dilakukan dengan dosis yang lebih tinggi dari standar pemerintah. Penggunaan pupuk urea berlebih dapat menurunkan produksi, kualitas tanaman, serta pencemaran lingkungan. Tujuan percobaan ini adalah melihat respon pertumbuhan, hasil dan kualitas padi sawah pada media N rendah. Rancangan percobaan menggunakan rancangan acak kelompok faktorial, dosis pupuk urea (0%, 40%, dan 100% 250 kg ha-1) dan varietas padi (Way Apo Buru dan Inpari 33). Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman (cm), jumlah anakan, jumlah daun, chlorophyl fluorescence (unit), gabah isi (%), jumlah malai, kandungan protein terlarut (mg g-1), vitamin C (mg g-1), dan gula reduksi (mg g-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa reduksi pupuk urea 40% menghasilkan jumlah anakan yang sama tinggi dengan dosis standar (250 kg ha-1). Pemupukan urea dosis standar menghasilkan kandungan vitamin C, nilai chlorophyl fluorescence dan jumlah malai yang tertinggi. Inpari 33 menghasilkan karakter tinggi dan persentase gabah isi yang lebih baik sementara Way Apo Buru menghasilkan jumlah daun yang lebih tinggi. Reduksi 40% dosis urea pada Inpari 33 menghasilkan kandungan protein terlarut tertinggi. Inpari 33 menghasilkan gula reduksi terendah sehingga dapat digunakan sebagai pangan alternatif bagi penderita diabetes.
Kata kunci: gula reduksi, kandungan klorofil, protein terlarut, vitamin CUrea fertilizer usage in farmers is mostly applied at a higher dose than the standard dose of recommendation. The excessive urea fertilizer usage decreased the plant productivity and quality, also polluting the soil. The experiment aimed to observe the growth, yield, and quality response of rice in low N supplements. The experimental design used a factorial randomized complete block design, i.e., urea doses (0%, 40%, 100% 250 kg ha-1) and rice varieties (Way Apo Buru and Inpari 33). The traits observed were plant height (cm), number of tillers, number of leaves, chlorophyll fluorescence (unit), grain content (%), number of panicles, content of dissolved protein (mg g-1), ascorbic acid (mg g-1), reducing sugar (mg g-1). The results showed that a reduction of 40% urea produced the same higher number of tillers compared to the standard dose (250 kg ha-1). The standard dose of urea resulted in the highest ascorbic acid content, value of chlorophyll fluorescence, and number of panicles. Inpari 33 produced higher plant height and grain content meanwhile Way Apo Buru produced a higher number of leaves. The reduction of 40% urea in Inpari 33 resulted in the highest dissolved protein content. Inpari 33 produced the lowest reducing sugar and could be used as an alternative food for diabetics.
Keywords: chlorophyll content, dissolved protein, reducing sugar, vitamin
The Increasing Tomato Plant Yield in Ultisol Soil with Various Types of Organic Fertilizer Enriched with Trichoderma sp.
Aplikasi pupuk organik yang telah didekomposisi dengan spesies Trichoderma sp. pada tanah ultisol dapat meningkatkan kualitas fisik, kimia dan biologi tanah, sehingga diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman tomat. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk organik yang diperkaya dengan spesies Tricoderma sp. dalam meningkatkan hasil tanaman tomat pada tanah ultisol. Percobaan dilakukan dalam greenhouse di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat dari bulan Juni-September 2021. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap faktorial. Faktor pertama adalah pemberian pupuk organik meliputi pupuk kandang sapi, pupuk kandang ayam, dan bokasi jerami padi. Faktor kedua yaitu pemberian Trichoderma sp. meliputi T. hamantum isolat RRA3 dan T. viridae isolat RRB7. Interaksi pupuk kandang ayam dan pupuk kandang sapi dengan kedua spesies Trichoderma sp. mampu mempercepat umur panen, meningkatkan jumlah buah dan bobot buah per tanaman. Interaksi pupuk kandang sapi dengan T. hamantum isolat RRA3 mampu meningkatkan bobot kering tajuk tanaman. Pupuk kandang sapi mampu meningkatkan bobot kering tajuk, mempercepat umur panen, jumlah buah, bobot buah per tanaman, dan bobot buah per butir.
Kata kunci: bahan organik, kualitas tanah, mikroorganisme, produksi tanamanApplying organic fertilizer that has been decomposed with Trichoderma sp. on ultisol soil can improve soil’s physical, chemical, and biological quality, and therefore is expected to increase the growth and yield of tomato plants. The study aimed to determine the effect of the type of organic fertilizer enriched with Trichoderma sp. in increasing tomato yields on ultisol soils. The experiment was conducted in a greenhouse in Kuburaya Regency, West Kalimantan, from June to September 2021 using a factorial completely randomized design. The first factor was the provision of organic fertilizers, namely cow manure, chicken manure, and rice straw bokashi. The second factor was the provision of Trichoderma sp., namely T. hamantum isolates RRA3 and T. viridae isolates RRB7. The interaction of chicken manure and cow manure with the two species of Trichoderma sp. accelerated harvest age and increased the number of fruits and fruit weight per plant. Cow manure enriched with T. hamantum isolates RRA3 increased the shoot dry weight. Among organic fertilizers, cow manure accelerated harvest age and increased the shoot dry weight, fruit number, fruit weight per plant, and single fruit weight.
Keywords: microorganisms, organic matter, plant production, soil qualit
Induced Mutation by Colchicine in Java Cardamom (Amomum compactum Soland. ex Maton) Generation MV1
Kapulaga jawa merupakan komoditas penting tanaman aromatik yang menghasilkan produk metabolit sekunder. Produk metabolit sekunder kapulaga diyakini memiliki aktivitas antiinflamasi, antijamur, antibakteri dan antikanker. Usaha meningkatkan kandungan metabolit sekunder kapulaga melalui mutasi induksi dengan kolkisin perlu dilakukan untuk mendapatkan kapulaga poliploid. Tanaman poliploid dilaporkan memproduksi metabolit sekunder yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan fenotipe tanaman kapulaga hasil perlakuan kolkisin dan mengidentifikasi tingkat ploidi melalui flow cytometry. Penelitian dilakukan dari bulan Juli 2021 sampai Januari 2022 di Kebun Percobaan Leuwikopo, Fakultas Pertanian, IPB menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) faktor tunggal konsentrasi kolkisin dengan tiga ulangan. Tunas kapulaga direndam dalam larutan kolkisin pada konsentrasi yang berbeda (0, 0.05, 0.10, dan 0.15%) dan dishaker pada kecepatan 100 rpm selama 6 jam. Pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, panjang dan lebar daun, diameter batang, jumlah stomata, kehijauan daun, dan tingkat ploidi. Hasil penelitian menunjukkan kolkisin 0.1% menyebabkan malformasi daun dan kimera berupa garis memanjang pada daun. Perlakuan kolkisin dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Kapulaga perlakuan kolkisin memiliki tinggi tanaman lebih pendek selama 16 minggu pengamatan, jumlah daun lebih sedikit saat 10-18 MST, jumlah anakan lebih sedikit saat 14-18 MST. Perlakuan kolkisin tidak menghasilkan poliploid berdasarkan identifikasi flow cytometry.
Kata kunci:fenotipe, flow cytometri, tingkat ploidiJava cardamom is an important commodity that produces secondary metabolite. Secondary metabolites of Java cardamom are utilized as an anti-inflammatory, antibacterial and anticancer. Improve secondary metabolite through colchicine-induced mutation are necessary to get polyploid. It has been reported that polyploid produces higher secondary metabolites. This research aimed to describe Java cardamom’s phenotypes resulting from colchicine treatment and identify ploidy levels through flow cytometry. This research was conducted from July 2021 to January 2022 at the Leuwikopo Experimental Field, Faculty of Agriculture IPB using a randomized complete block design (RCBD) with three replications. The buds were soaked in different concentrations of colchicine (0, 0.05, 0.10, and 0.15%) with a shaker at 100 rpm for 6 hours. Plant height, number of leaves, number of tillers, leaf length and width, pseudostem diameter, number of stomata, greeny leaf score, and ploidy levels are observed. The result showed that 0.10% colchicine caused leaf malformation and chimera. Colchicine treatment could inhibit plant growth. Colchicine treatment produced lower plant height during 16 weeks of observation, fewer leaves at 10-18 WAP, and fewer tillers at 14-18 WAP. However, the colchicine treatment did not produce polyploids.
Keywords: flow cytometry, phenotype, ploidy level
Modifikasi Suhu Uji Pemunculan Radikula untuk Mempersingkat Pengujian Vigor Benih Jagung
Radicle emergence (RE) is a rapid vigor test recommended by ISTA in 2014 for corn seeds at 20 oC for 66 hours. The purpose of this study was to develop an RE test of corn seeds at 25 °C and determine a single observation time to shorten the period of the vigor test. The experiments were conducted at IPB from December 2019 to March 2020. The experimental design used in the RE test was split-plot, with nine seed lots (cultivars) as main plots and 14 observation times (27, 30, 33, 36, 39, 42, 45, 48, 51, 54, 57, 60, 63, and 66 hours after sowing) as subplots. The completely randomized block design with one factor (seed lots) was used in the laboratory and field experiments. The result of the RE test was then correlated with seed and seedling quality parameters. The experimental results revealed that the RE test on corn seeds using between paper germinating method at 25 °C and observed at 51 hours ± 15 minutes after sowing, was closely correlated and could predict the normal germination percentage, mean germination time, vigor index, speed of germination, and mean emergence time.
Keywords: correlation, cultivar, normal germination percentage, seed lot, seed vigor, seedling vigorRadicle emergence (RE) atau pemunculan radikula adalah uji vigor cepat yang direkomendasikan ISTA tahun 2014 untuk benih jagung pada suhu 20 °C selama 66 jam. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan uji RE benih jagung pada suhu 25 °C dan menentukan satu waktu pengamatan yang tepat untuk mempersingkat periode pengujian vigor benih jagung. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyimpanan dan Pengujian Mutu Benih, dan Kebun Percobaan Cikabayan IPB mulai Desember 2019 sampai dengan Maret 2020. Rancangan percobaan yang digunakan dalam pengujian RE yaitu split-plot, dengan sembilan lot benih (varietas) sebagai petak utama dan 14 waktu pengamatan (jam ke- 27, 30, 33, 36, 39, 42, 45, 48, 51, 54, 57, 60, 63, dan 66 setelah pengecambahan) sebagai anak petak. Rancangan kelompok lengkap teracak satu faktor (lot benih) digunakan untuk pengujian mutu benih di laboratorium dan vigor bibit di lapangan. Hasil uji RE kemudian dikorelasikan dengan daya berkecambah, vigor benih, dan vigor bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji RE pada benih jagung dengan metode uji antar kertas pada suhu 25 °C dan diamati saat 51 jam ± 15 menit setelah pengecambahan terbukti berkorelasi erat dan dapat memprediksi daya berkecambah, rataan waktu perkecambahan, indeks vigor, kecepatan tumbuh, dan rataan waktu pemunculan bibit.
Kata kunci: daya berkecambah, korelasi, lot benih, varietas, vigor benih, vigor bibi
Kendali Genetik Stay Greenness dan Hasil serta Identifikasi Segregan Transgresif pada Empat Populasi F2 Sorgum
Karakter stay greenness pada sorgum berkaitan dengan kemampuan mempertahankan kehijauan daun dan laju fotosintesis pada kondisi cekaman. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi kendali genetik karakter agronomi, stay greenness serta identifikasi segregan transgresif empat populasi F2 sorgum. Penelitian telah dilaksanakan bulan Februari sampai Mei 2020 di Kebun Percobaan IPB University Leuwikopo, Dramaga, Bogor, dengan ketinggian 250 m di atas permukaan laut (dpl). Bahan genetik yang digunakan adalah populasi Numbu x Samurai 2, Kawali x Pahat, Kawali x B69, Super 2 x PI-150-20-A, dan tujuh genotipe tetuanya. Setiap populasi terdiri atas 300 tanaman F2 dan masing-masing tetua sebanyak 60 tanaman. Pendugaan kendali genetik berdasarkan nilai skewness dan kurtosis. Identifikasi segregan transgresif menggunakan karakter terpilih berdasarkan nilai parameter genetik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter bobot biji per tanaman dikendalikan banyak gen aditif pada populasi Numbu x Samurai 2 dan Kawali x Pahat, sedangkan karakter stay greenness pada semua populasi dikendalikan banyak gen aditif. Semua karakter yang diamati memiliki nilai heritabilitas arti luas sedang sampai tinggi. Delapan belas individu dari persilangan Kawali x B69 dan Super 2 x PI-150-20-A diduga sebagai segregan transgresif berdasarkan karakter bobot biji per tanaman dan stay greenness. Segregan yang diperoleh digalurkan dengan menerapkan metode pedigree.
Kata kunci: aksi gen, aditif, indeks transgresif, keragaman genetikStay greenness in sorghum is related to the ability to maintain green leaves and photosynthesis under stress conditions. This study aimed to obtain information on the genetic control of agronomic characters, stay greenness, and the identification of transgressive segregants of four sorghum F2 populations. The research was carried out from February to May 2020 at the experimental field of IPB University (250 m asl), Bogor, West Java. The genetic materials used were the population of Numbu x Samurai 2, Kawali x Pahat, Kawali x B69, Super 2 x PI-150-20-A with their parents. The results showed that the character of seed weight per plant was controlled by many additive genes only in the Numbu x Samurai 2 and Kawali x Pahat populations, while stay greenness in all populations was controlled by many additive genes. All observed characters had broad-sense heritability values in the medium to high category. There were 18 individuals in the Kawali x B69 and Super 2 x PI-150-20-A crosses suspected to be transgressive segregants based on the character of seed weight per plant and stay greenness. The segregants would be generated through the pedigree method.
Keywords: additive, gene action, genetic variation, transgressive inde
Pergeseran Dominasi Gulma Kebun Kelapa Sawit IPB Jonggol, dan Kemungkinan Resistensi terhadap Herbisida Glifosat
Telah dilakukan analisis vegetasi secara berkala di kebun kelapa sawit IPB Jonggol pada tanaman menghasilkan umur 1 tahun (2016), tanaman menghasilkan umur 3 tahun (2018), dan tanaman menghasilkan umur 5 tahun (2020). Penelitian terdiri atas dua percobaan. Percobaan I untuk mengetahui pergeseran gulma dominan dan percobaan II untuk mengetahui kemungkinan terjadinya resistensi gulma terhadap herbisida glifosat. Percobaan I adalah analisis vegetasi menggunakan metode kuadran 1 m x 1 m pada 5 blok, dan 20 sampel diambil secara acak dari setiap blok sehingga terdapat 100 sampel pengamatan. Percobaan II adalah penanaman biji gulma dari jenis gulma terpilih pada percobaan I, dan sebagai kontrol menggunakan biji gulma dari percobaan I yaitu dari gulma berasal dari lokasi yang tidak pernah mendapatkan herbisida. Asam amino yang diamati berhubungan dengan cara kerja glifosat yaitu fenilalanin, tirosin, L-triptofan. Hasil analisis vegetasi menunjukkan telah terjadi pergeseran gulma dominan. Tahun 2016 didominasi Rolandra fruicosa dan Melastoma malabathricum, tahun 2018 di domimasi Ottochloa nodosa, tahun 2020 O. nodosa dan Cyrtoccum patens. Asystasia gangetica terus meningkat populasinya. Nisbah resistensi, gulma uji O. nodosa dan C. patens termasuk resistensi rendah. Kandungan fenilalanin, tirosin dan L-triptofan gulma uji O. nodosa lebih tinggi dari gulma susceptible O. nodosa.
Kata kunci: analisis vegetasi, asam amino, gulma dominan, nisbah resistensiVegetation analysis has been done periodically at IPB oil palm plantations in Jonggol to identify the dominant weeds on the 1-year-old-mature plant (2016), 3-year-old-mature plant (2018), and 5-year-old-mature plant (2020). The study consisted of two experiments. The first experiment was to determine the dominant weed shift, while the second was to assess the possibility of weed resistance to glyphosate herbicide. Experiment I conducted vegetation analysis with the quadrant method 1 m x 1 m on 5 blocks; 20 samples were taken randomly from each block so that there were 100 observation samples. Experiment II planted seeds of weeds selected from experiment I, and as control, seeds of weeds from locations that never received herbicide. The amino acids observed are associated with glyphosate’s modes of action, namely phenylalanine, tyrosine, and L-tryptophan. Vegetation analysis showed there had been a shift in dominant weeds. In 2016, the dominant weed was Rolandra fruticosa and Melastoma malabathricum, in 2018 the Ottochloa nodosa, and in 2020 O. nodosa and Cyrtococcum patens. Asystasioa gangetica continues to increase in population. Resistance ratios, test weeds O. nodosa and C. patens are categorized as low resistance. The content of phenylalanine, tyrosine, and L-tryptophan test weed O. nodosa is higher than that of susceptible weed O. nodosa.
Keywords: amino acids, dominant weeds, resistance ratio, vegetation analysi
Preference Bemisia tabaci Genn. and Its Relation to Leaf Anatomical and Morphological Characters of Chili (Capsicum annuum L.)
Identifikasi karakter seleksi yang tepat diperlukan dalam pemuliaan tanaman untuk menghasilkan varietas cabai yang tahan terhadap kutu kebul Bemisia tabaci Genn. Tujuan penelitian untuk menentukan preferensi kutu kebul Bemisia tabaci pada berbagai genotipe cabai, mengidentifikasi karakter morfologi daun terkait seleksi ketahanan terhadap kutu kebul, melihat korelasi antara respon kutu kebul, dalam hal jumlah telur dan jumlah nimfa instar awal, dengan morfologi daun. Penelitian ini dilaksanakan bulan Agustus-Oktober 2018. Genotipe cabai yang digunakan C00265, CM334, C12, Bara, Ayesha, Ungara, Kastilo, Laris, Cilibangi-2, Landung, dan Yuni. Tanaman yang digunakan berumur 4 MST. Kutu kebul diambil dari tanaman terong di Kecamatan Kersana, Brebes, Jawa Tengah lalu diperbanyak pada tanaman tembakau dan terong. Kutu kebul yang diinfestasikan tidak membawa virus. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan kelompok lengkap teracak 1 faktor yaitu faktor genotipe. Setiap genotipe terdiri atas dua tanaman dan tiga ulangan. Jumlah telur dan jumlah nimfa instar awal per tanaman memiliki korelasi positif yang signifikan dengan dengan jumlah trikoma, sedangkan epidermis tidak berkorelasi. Panjang dan kerapatan palisade berkorelasi negatif signifikan dengan jumlah telur dan jumlah nimfa instar awal tanaman. Ketebalan daun berkorelasi negatif signifikan dengan jumlah nimfa instar awal tanaman. Warna daun mempengaruhi ketertarikan kutu kebul terhadap cabai.Kata kunci: jumlah nimfa instar awal, jumlah telur, palisade, tebal daun, trikhomaIdentification of leaf anatomical and morphological characters for selection of whitefly-resistant chili was needed to produce resistant varieties. This study aimed to determine the preferences of the whitefly Bemisia tabaci on various genotypes of chili, to identify leaf anatomical (trichome, epidermis, palisade) and morphological (leaf color, leaf thickness) characters related to selection of resistance to whitefly, to see the correlation between whitefly responses (the number of eggs and the number of early instar nymphs per plant) and leaf anatomy (trichome, epidermis, palisade) and morphology (leaf thickness). This research was conducted from August to October 2018. The chilies (Capsicum annuum L.) used were C00265, CM334, C12, Bara, Ayesha, Ungara, Kastilo, Laris, Cilibangi-2, Landung, and Yuni. The 4 WAP plants were used. The whitefly was taken from eggplant plants in Kersana District, Brebes, Central Java and propagated on tobacco and eggplant plants. The whiteflies used were non-viruliferous. The experimental design used was a completely randomized group design with genotype as the treatment. Each genotype consisted of two plants and three replicates. The result showed that there was a significant positive correlation between number of eggs and number of early instar nymphs per plant with number of trichomes, while epidermis was not correlated. Length and density of palisade were significantly negatively correlated with number of eggs and number of early instar nymphs. Leaf thickness was significantly negatively correlated with the number of early instar nymphs of the plant. Leaf color could affect whitefly attraction on chili.
Keywords: leaf thickness, number of early instar nymphs, number of eggs, palisade, trichom
Application of Several Compositions of Organic Mulch Sheet on Shallot (Allium ascalonicum L.) Cultivation
Peningkatan produksi bawang merah dapat dilakukan dengan pemulsaaan. Mulsa plastik maupun organik yang umum diaplikasikan masih memiliki kekurangan sehingga diperlukan inovasi dengan pembuatan mulsa organik lembaran (Organic Mulch Sheet, OMS). Penelitian bertujuan mengkaji pengaruh komposisi OMS terhadap pertumbuhan dan biomassa tanaman bawang merah. Penelitian dilakukan bulan Desember 2019 sampai Februari 2020 di Lahan Percobaan UMM, Junrejo, Batu, Jawa Timur. Bahan berupa benih umbi bawang merah dan bahan baku OMS (eceng gondok, pelepah batang pisang dan sabut kelapa). Rancangan percobaan yang digunakan RAK sederhana dengan 6 perlakuan yakni 1 kontrol (tanpa mulsa) dan 5 perlakuan komposisi OMS (persentase eceng gondok (EG):pelepah batang pisang (PP): sabut kelapa (SK)) yakni M1 (40%EG: 40%PP: 20%SK), M2 (30%EG: 50%PP: 20%SK), M3 (50%EG: 40%PP: 10%SK), M4 (60%EG: 30%PP: 10%SK) dan M5 (40%EG: 50%PP: 10%SK). Data pertumbuhan dan biomassa dianalisis ANOVA, dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ) Tukey, dan perhitungan nilai AGR dan CGR. Komposisi OMS berbahan dasar eceng gondok, sabut kelapa dan pelepah batang pisang berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun serta jumlah anakan pada akhir masa vegetatif. Aplikasi OMS meningkatkan biomassa (berat basah dan berat kering total) tanaman secara nyata pada saat panen. Perlakuan OMS yang terbuat dari 40% eceng gondok, 40% pelepah batang pisang dan 20% sabut kelapa menunjukkan pertumbuhan dan biomassa tanaman serta nilai AGR dan CGR yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan OMS lainnya.
Kata kunci: average growth rate, biodegradable, biomassa, crop growth rateThe increase in shallot production can be achieved by mulching. Plastic mulch and plant residues that are commonly applied still have shortcomings, so innovation is needed through the formulation of organic mulch sheets (OMS). This study aimed to examine the effect of the composition of OMS on the growth and biomass of shallot. The research was conducted from December 2019 to February 2020 at the UMM Experimental Field, Junrejo, Batu, East Java. Materials were shallot bulb and raw materials of OMS (water hyacinth, banana stem, and coconut husk). The experiment used a simple RCBD with 6 treatments, namely 1 control (without mulch) and 5 treatments with different OMS compositions (percentage of water hyacinth (EG), banana stem (PP), and coconut husk (SK)) i.e., M1 (40%EG: 40%PP: 20%SK), M2 (30%EG: 50%PP: 20%SK), M3 (50%EG: 40%PP: 10%SK), M4 (60%EG: 30%PP: 10%SK) dan M5 (40%EG: 50%PP: 10%SK). The growth and biomass data were analyzed using ANOVA, mean comparison using Tukey’s honestly significant difference (HSD) test), and the calculation of AGR and CGR values. The composition of OMS made from water hyacinth, banana stem, and coconut husk had a significant effect on plant height, number of leaves, stem diameter, and number of tillers at the end of observation. The OMS application increased the biomass (total fresh weight and dry weight) significantly at harvest. The OMS made of 40% water hyacinth, 40% banana stem, and 20% coconut husk showed higher growth and plant biomass as well as higher AGR and CGR values than other OMS treatments.
Keywords: average growth rate, biodegradable, biomassa, crop growth rat
Genetic Diversity of Graptophyllum pictum (L.) Griff from Eastern Indonesia Ethnics Based on Sequence-Related Amplified Polymorphism
Indonesia berada diposisi kedua dengan jumlah tanaman obat asli tertinggi di dunia setelah Hutan Hujan Amazon. G. pictum (L) Griff merupakan salah satu etnomedisin yang telah dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat Indonesia, tapi keragaman genetiknya belum dipetakan. Penelitian ini bertujuan menganalisis keragaman genetik G. pictum (L) Griff dari Indonesia Bagian Timur berdasarkan marka molekuler SRAP melalui pencarian keberadaan polimorfisme. G. pictum (L) Griff yang digunakan berasal dari 11 etnis Indonesia Timur yang sudah dikeringkan sebelumnya, kemudian dilakukan isolasi DNA kromosom, amplifikasi PCR dengan menggunakan 8 kombinasi primer SRAP terpilih, kemudian dianalisis kekerabatan dari 7 etnis menggunakan software NTSYS (Numerical Taxonomy and Multivariative Analysis System) 2.0 dan PopGene (Population Genetic Analysis) 1.3. Dari hasil penelitian diperoleh nilai Persen Lokus Polimorfik (PLP) sebesar 88.55% dengan total lokus ditemukan 49 (44 lokus poliformik dan 5 lokus monomorfik), dan variasi
Indonesia menduduki peringkat kedua dengan jumlah tanaman obat asli tertinggi di dunia setelah Hutan Hujan Amazon. Handeuleum (G. pictum (L) Griff) merupakan salah satu tanaman obat yang telah dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat Indonesia, namun informasi mengenai keragaman genetiknya masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai keragaman genetik 52 aksesi G. pictum (L) Griff dari 11 etnis Indonesia Bagian Timur berdasarkan marka molekuler SRAP. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2018 hingga Januari 2019. Sebanyak 52 aksesi G. pictum (L) Griff dan 16 kombinasi primer SRAP digunakan dalam penelitian ini. Analisis kekerabatan dilakukan berdasarkan nilai indeks similaritas dan konstruksi dendogram dengan menggunakan program NTSYS 2.0 dan PopGene 1.3. Sebanyak 49 lokus (44 lokus polimorfik dan 5 lokus monomorfik) diperoleh dari delapan kombinasi primer terpilih dengan presentase polimorfik sebesar 88.55%. Keragaman genetik antar aksesi tergolong tinggi (86%) sedangkan antar etnis tergolong rendah (47.23%). Etnis dengan keragaman tertinggi adalah Demta (81.63%), sedangkan Auyu adalah Etnis dengan keragaman genetik yang paling rendah (2.04%). Berdasarkan nilai Indeks Dissimilarity (ID) atau nilai keragaman yang menunjukkan tingkat kekerabatan, Etnis Bajawa dan Auyu memiliki tingkat kekerabatan terjauh (ID = 1.0720). Informasi yang dihasilkan dalam penelitian ini bermanfaat untuk mendukung program pemuliaan dan konservasi daun wungu.
Kata kunci: dendogram, handeuleum, SRAP, tanaman obatIndonesia is in second after the Amazon Rainforest, with the world’s highest number of endemic medicinal plants. Handeuleum (Graptophyllum pictum (L.) Griff) is one of the medicinal plants which Indonesian people have widely used. However, information on its genetic diversity is still lacking. This study aimed to achieve information about the genetic diversity of 52-accessions of G. pictum (L.) Griff from 11 Eastern Indonesia ethnics based on SRAP molecular marker. This study was conducted from November 2018 to January 2019. Fifty-two accessions of G. pictum (L.) Griff and 16 combinations of SRAP primers were used in this research. Diversity analysis was carried out based on the similarity index and dendrogram using NTSYS 2.0 program and PopGen 1.3. Forty-nine loci (44 polymorphic loci and five monomorphic loci) were found by using eight selected primer combinations with a percentage of polymorphic was 88.55%. The diversity between accessions was high (86%); meanwhile, between ethnicities was low (47.23%). Demta ethnicity had the highest diversity (81.63%), while Auyu had the lowest (2.04%). According to the dissimilarity index (DI) or diversity value which showed the kinship level, Bajawa and Auyu have the farthest kinship (DI = 1.0720). Therefore, the information in this research may benefit for supporting breeding programs and conservations of handeuleum.
Keywords: dendrogram, handeuleum, medicinal plants, SRA