UNDAGI: Jurnal Ilmiah Arsitektur
Not a member yet
201 research outputs found
Sort by
Perencanaan dan Perancangan Daycare di Kota Denpasar
Daycare is an alternative service that can be used by parents who work as an institution that can temporarily replace as long as the parents work in terms of care, protection and also the provision of guidance to the child. Childhood at an early age is a time full of unique and important events that lay the foundation for a person in adulthood. From the beginning, children must be ensured to receive good and appropriate guidance so that the development period is passed gradually and continuously. Parents should give their child sufficient attention and supervision. However, the demands of life are getting higher, making mothers participate in making a living or have a desire for a career. Basically, leaving the child in the daycare will be very helpful, not only for the parents, but also for the child himself. By leaving children in daycare, parents will have more time to carry out daily activities (work) with a safe feeling that the child is still there to take care of, maintain, and care, and for the child himself the daycare is used as a place to interact and train independence so that children do not always depend on parents in their daily lives. Based on the existing problems and potentials, in improving the quality of early childhood care in Denpasar City, therefore it is proposed that Daycare Planning and Design in Denpasar City.Daycare adalah layanan alternatif yang dapat digunakan oleh orang tua yang bekerja sebagai lembaga yang dapat menggantikan sementara waktu selama orang tua bekerja dalam hal pengasuhan, perawatan, perlindungan dan juga pemberiaan bimbingan terhadap anak. Anak pada masa usia dini merupakan masa yang penuh dengan kejadian-kejadian unik dan penting yang meletakkan dasar bagi seseorang pada masa dewasa. Sejak awal anak harus dipastikan mendapat bimbingan yang baik dan tepat supaya masa perkembangannya dilalui secara bertahap dan berkesinambungan. Orang tua haruslah memberikan perhatian dan pengawasan yang cukup kepada anaknya. Akan tetapi tuntutan kehidupan yang makin tinggi, membuat para ibu turut serta mencari nafkah atau memiliki keinginan berkarir. Pada dasarnya, menitipkan anak di daycare akan sangat membantu, tidak hanya untuk orang tua, tetapi juga bagi anak itu sendiri. Dengan menitipkan anak di daycare, orang tua akan lebih memiliki waktu untuk melakukan kegiatan keseharian (bekerja) dengan perasaan yang aman bahwa anak tetap ada yang mengasuh, menjaga, dan merawat, dan bagi anak itu sendiri daycare dijadikan tempat untuk berinteraksi dan melatih kemandirian agar anak tidak selalu bergantung pada orang tua dalam kesehariannya. Dengan berlandaskan permasalahan dan potensi yang ada maka dalam memperbaiki kualitas pengasuhan anak usia dini di Kota Denpasar, maka dari itu diusulkanlah Perencanaan dan Perancangan Daycare di Kota Denpasar
Kriteria Desain Perancangan Wisata Di Kawasan Bendungan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali
Gerokgak Dam has the potential to be developed into a tourist area based on the Buleleng Regency Perda which regulates the RTRW which is discussed in regulation No. 9 of 2013. The main function of the Gerokgak dam is to irrigate rice fields and plantations during the dry season. Over time, the tourism sector began to grow naturally. Gerokgak Dam has natural potential, cultivation, and water tourism. However, the land use pattern in the Gerokgak dam area does not yet have a zoning system so that there is no division of tourist activity zones that meet the requirements both in terms of architecture and security. This is related to efforts to reduce disaster risk in dam tourism areas. The purpose of this design is to design a tourist facility for the Gerokgak dam that meets the requirements in terms of comfort, safety, and architecture. This design uses an environmental approach with a design concept, namely the connectivity of nature and buildings, realized with the theme of eco-architecture. Data collection methods in the form of literature studies, field observations, interviews and data presentation methods, namely data compilation and classification. The results of the research are the segmentation of the area into several zones that consider the level of risk & area characteristics, namely: the supporting zone (green zone), and the main zone (built zone). The design design criteria include aspects of safety, security, comfort, and beauty, so that land use in the Gerokgak dam area takes into account these limiting factors.Bendungan Gerokgak memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata berdasarkan Perda Kabupaten Buleleng yang mengatur tentang RTRW di bahas dalam peraturan Nomor 9 Tahun 2013 . Fungsi utama dari bendungan Gerokgak yaitu untuk mengairi persawahan dan perkebunan saat musim kemarau. Seiring berkembangnya waktu, sektor wisata mulai tumbuh secara alami. Bendungan Gerokgak memiliki potensi alam, budidaya, maupun wisata air. Namun, pola pemanfaatan lahan di kawasan bendungan Gerokgak belum memiliki sistem zoning sehingga tidak terdapat pembagian zona aktivitas wisata yang memenuhi syarat baik dari segi arsitektural maupun keamanan. Hal tersebut berkaitan dengan upaya mengurangi risiko bencana pada kawasan wisata bendungan. Tujuan dari perancangan ini yaitu merancang fasilitas wisata bendungan Gerokgak yang memenuhi syarat baik dari segi kebutuhan ruang maupun teknis dan arsitektural. Perancangan ini menggunakan pendekatan lingkungan dengan konsep perancangan yaitu konektivitas alam dan bangunan, diwujudkan dengan tema eko-arsitektur. Metode pengumpulan data berupa studi literature, observasi lapangan, wawancara serta metode penyajian data yaitu kompilasi dan klasifikasi data. Hasil penelitian yaitu segmentasi kawasan menjadi beberapa zona yang mempertimbangkan tingkat risiko & karakteristik kawasan, yaitu : zona pendukung (zona hijau), dan zona utama (zona terbangun). Kriteria desain perancangan meliputi aspek keselamatan, keamanan, kenyamanan, dan keindahan, sehingga pemanfaatan lahan di kawasan bendungan Gerokgak memperhatikan faktor-faktor pembatas tersebut
Perencanaan dan Perancangan SD Anak Emas dan MTs Generasi Emas dengan Pola Pendidikan Inklusif
Every Indonesian citizen has the right and the obligation to get an education. However, not all students have access to receive education, one of which is students with special needs. Students with special needs need a special learning service that can suit their respective needs, so the formation of this inclusive school will provide opportunities for students with special needs to receive education together with other normal students. This inclusive education has been applied to SD Anak Emas and MTs Generasi Emas which are located in Denpasar City, but there are several problems in these two schools including; [1] several activities have not received adequate facilities to support learning activities, [2] the entrances of these two schools are located in residential areas, causing congestion, [3] the lack of green open spaces and vehicle parking spaces, [4] unorganized building zoning, [5] poor drainage/utility system that causes flooding in the school area. From the above problems, it is necessary to re-plan the latest location with the application of the concept of a fun-inclusive space to provide a pleasing design and can be used by all users of normal students and with special needs.Setiap warga negara Indonesia memiliki hak dan kewajiban untuk mendapatkan pendidikan. Namun, tidak sepenuhnya peserta didik mendapatkan akses untuk menerima pendidikan salah satunya yaitu peserta didik berkebutuhan khusus. Peserta didik berkebutuhan khusus ini memerlukan suatu pelayanan pembelajaran secara khusus yang dapat menyesuaikan kebutuhan mereka masing-masing, maka dengan dibentuknya sekolah inklusif ini akan memberikan peluang kepada peserta didik berkebutuhan khusus dapat menerima pendidikan bersama-sama dengan peserta didik normal lainnya. Pendidikan inklusif ini telah diterapkan pada sekolah SD Anak Emas dan MTs Generasi Emas yang berlokasi di Kota Denpasar, namun ada beberapa permasalahan pada kedua sekolah ini diantaranya; [1] beberapa kegiatan belum mendapatkan fasilitas yang memadai untuk menunjang kegiatan pembelajaran, [2] entrance kedua sekolah ini berada di lingkungan permukiman warga sehingga menyebabkan kemacetan, [3] minimnya ruang terbuka hijau dan ruang parkir kendaraan, [4] zoning bangunan tidak terorganisir, [5] sistem drainase/utilitas yang tidak baik sehingga menyebabkan banjir pada area sekolah. Dari permasalahan diatas diperlukannya perencanaan ulang pada lokasi terbaru dengan penerapan konsep fun-inclusive space untuk memberikan suatu desain yang menyenangkan dan dapat digunakan oleh seluruh pengguna peserta didik normal maupun berkebutuhan khusus
Redesain Pasar Hewan Dan Pasar Umum Beringkit Di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali
Pasar1tradisional1merupakan tempat terjadinya transaksi1jual-beli antara pedagang dan pembeli dengan menerapkan sistem tawar1menawar yang menjadi ciri1khas pasar tradisional. Banyak masyarakat bergantung dengan keberadaan pasar1tradisional. Terutama bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah. Pasarlhewan dan pasarlumumlberingkit merupakan salah satu pasar terbesar di kecamatanlmengwi yang memiliki dua fungsi yaitu Pasar Khususl (Hewan) dan PasarlUmum. Pada PasarlHewan dan PasarlUmumlBeringkit, permasalahannya yaitu pada pintu keluar masuk kendaraan, angkutan hewan dan pengunjung masih menggunakan satu jalur, yang menyebabkan kemacetan. Selain itu penataan ruang dagang yang belum terkelompok, dan permasalahan dari limbah kotoran hewan. Redesainlbertujuan agar menampilkan pasarltradisional yang lebih modern dan mengikuti trend. Hal ini dapat meningkatkan minat kunjungan masyarakat ke PasarlHewan dan PasariUmumlBeringkit, dan dapat menumbuhkan perekonomian masyarakat menjadi lebih baik. Dari permasalahan-permasalahan yang ada, maka perlu adanya RedesainlPasarlHewan dan PasarlUmumlBeringkit, agar dapat mewadahi fungsi dengan baik yang dikemas dalam tampilan pasar yang baru, bersih, nyaman dan memperhatikan sirkulasi lebih optimal.A traditional market is a place for trading between traders and buyers by applying a bargaining system that is a hallmark of a traditional market. Many people rely on the existence of traditional markets. Especially for the lower middle class. Beringkit1Animal1Market and Public1Market is one of the largest markets in Mengwi1Regency which has two1functions, namely Special1Market (Animals) and General1Market. At the Beringkit1Animal Market and the General Market, the problem is at the entrances and exits of vehicles, animal transport and visitors still use one lane, which causes congestion. In addition, the1arrangement of unclassified trade spaces, and the problem of animal waste. Theiredesign aims to feature a more modern and trendy traditional market. This can increase the public's interest in visiting the Animal Market and Beringkitl GenerallMarket, and can grow the community's economy to be better. From the existing problems, it is necessary tolredesign thelAnimal Market and BeringkitlGeneral Market, in order tolaccommodate thelfunctions well packaged in a new marketlappearance, clean, comfortable and pay attention to more optimal circulation
Perancangan Ruang Kolaboratif sebagai Wadah bagi Komunitas Keatif di Denpasar
According to the Ministry of Trade of the Republic of Indonesia, it is stated that the creative economy or creative industry is an industry created from the main production sources, namely creativity and skills from individuals who can provide a job or increase welfare through the work and utilization of creative power and creativity. According to the Denpasar City Tourism Office, there are 68 creative communities in Denpasar with various fields of activity, but Denpasar City lacks facilities for these creative communities to show their creativity and exchange ideas. This problem prompted the author to create a facility that can accommodate the activities of the creative community in the city of Denpasar. This facility will be designed using a Biophilic Architecture approach. The author uses a biophilic approach to make visitors feel more productive, creative and healthy. According to Nelly Shafik Ramzy (2014) Biophilic architecture is an innovative approach that opens the way to a nature-based dialogue between architectural space and the set of human innate affiliations, where natural forms and patterns play the role of vocabulary and grammar of composition. In this approach, incorporating Nature into the built environment is not a luxury, but a sound economic investment in Health and productivity.Menurut Departemen Perdagangan Republik Indonesia menyebutkan bahwa ekonomi kreatif atau industri kreatif adalah industri yang tercipta dari sumber produksi utama yaitu kreativitas dan keterampilan dari individu yang dapat menghadirkan suatu lapangan pekerjaan atau peningkatan kesejahteraan melalui hasil karya dan pemanfaatan dari daya kreasi serta daya ciptanya Menurut Dinas Pariwisata Kota Denpasar, terdapat 68 komunitas kreatif di Denpasar dengan berbagai bidang kegiatan, akan tetapi Kota Denpasar kekurangan fasilitas bagi komunitas kreatif ini untuk menunjukan kreatifitas mereka dan saling bertukar pikiran. Masalah ini mendorong penulis untuk membuat sebuah fasilitas yang dapat menampung kegiatan komunitas kreatif yang ada di kota Denpasar.Fasilitas ini akan dirancang dengan menggunakan pendekatan Arsitektur Biophilic. Penulis menggunakan pendekatan Biophilic agar pengunjung merasa lebih produktif, kreatif dan juga sehat. Menurut Nelly Shafik Ramzy (2014) Arsitektur biofilik adalah pendekatan inovatif yang membuka cara menuju dialog berbasis alam antara ruang arsitektur dan kumpulan afiliasi bawaan manusia, di mana bentuk dan pola alami memainkan peran kosakata dan tata bahasa komposisi. Dalam pendekatan ini, memasukkan Alam ke dalam lingkungan binaan bukanlah sebuah kemewahan, tetapi investasi ekonomi yang baik dalam Kesehatan dan produktivitas
Perencanaan Dan Perancangan Outfall Club di Desa Munggu Dengan Pendekatan Arsitektur Organik
The lack of utilization of natural potential and tourist facilities in Munggu Village is one of the inhibiting factors for tourism activities in Munggu Village. Through Pok Darwis, Munggu Village began to explore its natural potential to be developed, one of the natural potentials it has is a river that directly empties into Munggu Beach. Prior to the development of a research method, a research method was carried out in the site location area with the aim of seeing the physical condition of the site where the planning will be carried out, through literature studies and field observations that it is very feasible to make a new tourist facility Outfall Club. Through field observations by looking at the physical condition of the site on the riverbank, the author determines the theme of this Outfall Club using an Organic Architecture approach with several considerations that later this Outfall Club building will be designed by analogizing the shapes of the surrounding natural conditions. In this planning, a precedent study is conducted to conduct a comparative study with an existing facility with one that has not been built, the benefit of this precedent study is a reference to what functions and activities facilities will be presented in this Outfall Club plan.Kurangnya pemanfaatan potensi alam dan fasilitas wisata di Desa Munggu menjadi salah satu faktor penghambat kegiatan pariwisata di Desa Munggu. Melalui Pok Darwis Desa Munggu mulai menyisir potensi potensi alamnya untuk dikembangkan, salah satu potensi alam yang dimilikinya adalah sungai yang langsung bermuara ke Pantai Munggu, pengembangannya berupa pembuatan tempat wisata baru yaitu Outfall Club. Sebelum dilakukannya pengembangan sebuah metode penelitian dilakukan di area lokasi site dengan tujuan melihat kondisi fisik site dimana tempat perencanaan itu akan dilakukan, melalui studi literatur dan observasi lapangan bahwasanya sangat layak untuk dibuatkannya fasilitas wisata baru Outfall Club. Melalui observasi lapangan dengan ,melihat kondisi fisik site yang berada di pinggir sungai maka penulis menentukan tema Outfall Club ini menggunakan pendekatan Arsitektur Organik dengan beberapa pertimbangan yang nantinya bangunan Outfall Club ini akan dirancang dengan menganalogikan bentuk bentuk dari kondisi alam sekitar. Dalam perencanaan ini sebuah studi preseden dilakukan untuk melakukan studi banding dengan sebuah fasilitas yang sudah ada dengan yang belum terbangun, manfaat dari studi preseden ini adalah sebuah referensi fungsi fungsi apa saja dan fasilitas kegiatan apa saja yang nanti akan dihadirkan pada perencanaan Outfall Club ini
Perencanaan dan Perancangan Pusat Pelatihan dan Pertunjukan Kesenian Khas Kabupaten Tabanan di Kecamatan Kediri, Tabanan
The island of Bali is an island that has a variety of beautiful and diverse tourist destinations. Besides being famous for its tourist destinations, the island of Bali is also famous for its arts and traditions. . For example, in Tabanan Regency, there are 7 types of distinctive arts based on the results of an interview with Wayan Muder as Head of the Arts Division of the Tabanan Regency Culture Service, stating that there are 7 types of distinctive arts, including Okokan Tektekan, Andir Legong Dance, Cerekuak Baris Dance, Rejang Swing Dance, Mandolin Art, Kentungan Art, Leko Kusuma Sari Art. From the potential of the existing typical arts, it can be developed again as a show to support tourism in the Tabanan Regency area in particular. From the potential that can be developed, it is not supported by the existence of adequate training center facilities and performing arts. So the results of the existing problems can be concluded that there is a need for training center facilities and typical arts performances of Tabanan Regency to be a means of supporting and developing culture as well as a means of supporting tourism. as an effort to increase literacy, especially the younger generation to preserve and develop arts and culture in their area, as a gathering place for activists and art communities in Tabanan Regency, as well as a forum to facilitate the Community Arts Festival which is scheduled to be held every year.terkenal akan destinasi wisata, Pulau Bali juga terkenal dengan Kesenian dan Tradisinya. . Kabupaten Tabanan misalnya, terdapat 7 jenis kesenian khas berdasarkan hasil wawancara dengan Wayan Muder selaku Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Kabupaten Tabanan menyebutkan bahwa , ada 7 jenis kesenian khas, adapun diantaranya yaitu Okokan Tektekan, Tari Legong Andir, Tari Baris Cerekuak, Tari Rejang Ayunan, Kesenian Mandolin, Kesenian Kentungan, Kesenian Leko Kusuma Sari. Dari potensi kesenian khas yang ada tersebut, dapat di kembangkan lagi sebagai sebuah pertunjukan guna menunjang pariwisata yang ada di daerah Kabupaten Tabanan khususnya. Dari potensi yang dapat dikembangkan tersebut tidak didukung dengan adanya fasilitas pusat pelatihan dan pertunjukan kesenian yang memadai. Maka hasil dari permasalahan yang ada dapat disimpulkan bahwa perlu adanya fasilitas pusat pelatihan dan pertunjukan kesenian khas Kabupaten Tabanan guna sebagai sarana pendukung dan pengembangan kebudayaan serta sebagai sarana penunjang pariwisata. sebagai upaya peningkatan literasi khususnya generasi muda untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian dan kebudayaan yang ada di daerahnya, sebagai wadah berkumpulnya para penggiat dan komunitas seni yang ada di Kabupaten Tabanan, selain itu sebagai wadah guna memfasilitasi Festival Kesenian Masyarakat yang dijadwalkan digelar tiap tahunya
Redesain Gedung SLB/C Kemala Bhayangkari Dengan Pendekatan Arsitektur Inklusif Di Kabupaten Tabanan
SLB (extraordinary school) is a formal educational institution that serves education for children with special needs. In Tabanan Regency, there is a special school that specializes in educational facilities for people with Tuna Grahita, namely SLB / C Kemala Bhayangkari, which currently has 141 students consisting of 89 male students and 52 female students, and has 10 teachers or educators. This special school has not fulfilled the design according to the SLB standard and is tailored to the needs of mentally retarded children at every level of education. From the results of comparative observations with standard facilities at special schools, seen from the ratio of the number of students in the division of classes and the availability of classrooms, it can be concluded that this SLB / C Kemala Bhayangkari has excess students and still lacks existing space facilities, and the need for physical renovation of buildings, to realize student safety and comfort. The concept of User Responsiveness and Inclusive designs that will be applied adapt to the needs of this facility and make humans the main goal of the design. The design architecture prioritizes user needs, where designs that see the user's condition with their limitations and are designed to ensure user safety and responsive architecture. to the environment / surrounding conditions.SLB (Sekolah luar biasa) merupakan sebuah lembaga pendidikan formal yang melayani pendidikan bagi anak – anak kebutuhan khusus. Di Kabupaten Tabanan terdapat salah satu SLB mengkhususkan fasilitas pendidikan bagi penyandang Tuna Grahita yaitu SLB/C Kemala Bhayangkari memiliki jumlah siswa saat ini 141 peserta didik yang dimana terdiri dari 89 siswa laki-laki dan 52 siswa perempuan, dan memiliki 10 orang guru atau pendidik. SLB ini belum memenuhi perancangan sesuai dengan standar SLB dan disesuaikan dengan kebutuhan anak tunagrahita pada setiap jenjang pendidikannya. Dari hasil observasi perbandingan dengan standar fasilitas pada SLB dilihat dari rasio jumlah siswa dalam pembagian rombel dan ketersediaan ruang kelas dapat disimpulkan SLB/C Kemala Bhayangkari ini kelebihan siswa dan masih kekurangan fasilitas ruang ada , dan perlunya peremajaan fisik bangunan, untuk mewujudkan keamanan dan kenyamanan siswa.. Konsep Tanggap Pengguna serta desain Inklusif yang akan diterapkan menyesuaikan pada kebutuhan dari fasilitas ini dan menjadikan manusia sebagai tujuan utama desain arsitektur desain mengutamakan kebutuhan pengguna, dimana desain yang melihat kondisi pengguna dengan keterbatasan yang dimiliki dan didesain untuk memastikan keamanan pengguna dan arsitektur yang tanggap terhadap lingkungan/kondisi sekitar
Perencanaan Dan Perancangan Denpasar Holticulture Vertical Farming, Bali
Currently, agricultural land in Bali is declining. The western part of Denpasar City is a city with the most densely populated areas and the least agricultural land at present, so it has not been able to meet the food needs of its residents. Therefore, it is necessary to plan vertical agricultural facilities where the vertical method is to save land use. As well as the need to support facilities in the field of economics and education in the form of farmers markets, restaurants and treaning areas. Located at the intersection of Jalan Mahendradatta – Jalan Teuku Umar Barat, Denpasar Barat. By applying the basic concept of sustainable space for agricultural activities and green architectural design themes implemented in the design. By determining the scope of the facility, the community, activities in it, will produce zoning placement, entrance design, mass patterns and shapes appropriate to the needs, efficient flow and circulation design, building facade planning in accordance with the design theme, use of structures appropriate, interior space elements in accordance with the basic concept, outdoor space elements that support the function, and utility systems that are appropriate and required in accordance with the functions and needs of each facility in Denpasar Horticulture Vertical Farming. Considering this, it will produce a design that is right on target.Lahan pertanian di Provinsi Bali saat ini semakin berkurang. Kota Denpasar bagian barat merupakan kota yang memiliki pemukiman paling padat dan jumlah lahan pertanian paling sedikit saat ini, sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya. Maka perlu direncanakan sarana vertical farming yang dimana metode vertical sehingga menghemat penggunaan lahannya. Serta perlu adanya sarana pendukung dibidang ekonomi maupun edukasi berupa pasar tani, restaurant dan treaning area. Berlokasi di persimpangan Jalan Mahendradatta - Jalan Teuku Umar Barat, Denpasar Barat. Dengan menggunakan konsep dasar sustainable space for farming activities dan tema rancangan green architecture yang diimplemantasikan pada desain. Dengan menentukan lingkup fasilitas, civitas, aktivitas didalamnya, maka akan menghasilkan penempatan zoning, desain entrance, pola dan bentuk massa yang sesuai dengan kebutuhan, alur dan desain sirkulasi yang efisien, desain fasade bangunan yang sesuai dengan tema rancangan, penggunaan struktur yang tepat, elemen ruang dalam yang sesuai dengan konsep dasar, elemen ruang luar yang mendukung fungsi, dan sistem utilitas yang sesuai dan dibutuhkan sesuai dengan fungsi dan persyraatan dari setiap fasilitas didalam Denpasar Holticulture Vertical Farming ini. Dengan mempertimbangkan hal tersebut maka akan menghasilkan desain yang tepat sasaran
Perencanaan Dan Perancangan Wellness Center Dengan Pendekatan Healing Environment Di Desa Angseri, Baturiti, Tabanan, Bali
The island of Bali is one of the main tourist spa destinations in the central part of Indonesia and is also one of the best tourist destinations in the world. The response to the development of tourism shown by the government with the creation of the Fitness Travel Book "Journey for Healthy Life". One of the districts that has begun to develop quite well from tourism activities is Tabanan Regency, but based on observations and interviews on one of the users of the Wellness Center facility in Tabanan Regency the existence of Wellness Center does not yet exist and some Wellness Center facilities such as retreats, yoga and meditation have not been established. Based on the results of the methodology, the results obtained in the form of Planning and Design with a Healing Environment Approach that is in accordance with the functions and characteristics of the Wellness Center. This Healing Environment approach is able to accelerate the recovery time of patient health or accelerate the patient's adaptation process from chronic and acute conditions by involving the psychological effects of patients in it. Healing Environment is a therapeutic environment design that combines natural, sensory and psychological elements. Then a concept of Planning and Design with a Healing Environment Approach in Angseri Village, Baturiti, Tabanan, Bali.Pulau Bali merupakan salah satu destinasi spa wisata utama di bagian tengah Indonesia dan juga merupakan salah satu destinasi wisata terbaik di dunia. Tanggapan perkembangan pariwisata yang ditunjukan oleh pemerintah dengan dibuatnya Buku Perjalanan Wisata Kebugaran “Journey for Healthy Lifeâ€. Salah satu Kabupaten yang sudah mulai berkembang cukup baik dari adanya kegiatan pariwisata adalah Kabupaten Tabanan, namun berdasarkan hasil observasi dan wawancara terhadap salah pengguna fasilitas Wellness Center di Kabupaten Tabanan keberadaan Wellness Center belum ada dan beberapa fasilitas Wellness Center seperti retret, yoga dan meditasi belum memedai. Berdasarkan hasil metodologi tersebut, hasil yang diperoleh berupa Perencanaan dan Perancangan Dengan Pendekatan Healing Environment yang sesuai dengan fungsi dan karakteristik dari Wellness Center. Pendekatan Healing Environment ini mampu mempercepat waktu pemulihan kesehatan pasien atau mempercepat proses adaptasi pasien dari kondisi kronis serta akut dengan melibatkan efek psikologi pasien di dalamnya. Healing Environment merupakan suatu desain lingkungan terapi yang memadukan antara unsur alam, indra dan psikologis. Kemudian disusunlah sebuah konsep Perencanaan dan Perancangan Dengan Pendekatan Healing Environment di Desa Angseri, Baturiti, Tabanan, Bali