UNDAGI: Jurnal Ilmiah Arsitektur
Not a member yet
201 research outputs found
Sort by
Strategi Perencanaan dan Penanganan Drainase di Permukiman Kumuh Lingkungan Satria Kelurahan Penarukan, Buleleng
Desa Penarukan di Kabupaten Buleleng menghadapi masalah permukiman kumuh, salah satunya terletak di lingkungan Satria. Kemunculan permukiman kumuh di wilayah Satria salah satunya disebabkan oleh sistem drainase yang tidak memadai. Sebagai respons terhadap masalah ini, perencanaan strategis dan intervensi diperlukan untuk mengoptimalkan fungsionalitas sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM). Hal ini bertujuan agar dapat menampung debit aliran air yang normal, terutama selama musim hujan, sehingga dapat mencegah genangan atau banjir. Penelitian ini bertujuan untuk menangani permasalahan drainase yang tidak memadai akibat penyumbatan oleh sampah, lubang-lubang di pekarangan rumah warga, penimbunan tanah, penyumbatan dari pembuangan limbah dapur, dan rumput bahkan kerusakan struktural. Faktor-faktor ini menyebabkan terbentuknya permukiman kumuh di Lingkungan Satria, Desa Penarukan. Intervensi dari strategi yang diusulkan melibatkan tindakan seperti pemasangan saluran air berbentuk U dan sumur resapan, dengan jarak 5 meter antara sumur resapan pertama dan kedua. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif berdasarkan studi pustaka dan observasi lapangan. Metode kualitatif digunakan untuk mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data yang diperoleh dari studi pustaka, wawancara, dan observasi lapangan. Studi ini bertujuan memberikan wawasan berharga dan solusi praktis untuk meningkatkan infrastruktur drainase, dengan harapan dapat berkontribusi pada perbaikan kondisi hidup dan pengurangan permukiman kumuh di Lingkungan Satria, Desa Penarukan.Penarukan Village in Buleleng Regency is confronted with issues of slum settlements, notably in the Satria neighborhood. The emergence of slum settlements in the Satria area is attributed to an inadequate drainage system. In response to this challenge, strategic planning and intervention are essential to optimize functionality in accordance with Minimum Service Standards (MSS). This aims to accommodate normal water flow, particularly during the rainy season, preventing waterlogging or flooding. The research is conducted to address the problem of inadequate drainage caused by blockages from waste, numerous holes in residents' yards, soil accumulation, clogging from kitchen and grass waste, and even structural damage. These factors contribute to the existence of slum settlements in the Satria community of Penarukan Village. The proposed intervention of strategy involves measures such as the installation of U-shaped ditches and infiltration wells, with a 5-meter gap between the first and second infiltration wells. The research methodology employs a descriptive-qualitative approach based on literature reviews and on-site observations. The qualitative method is used to collect, process, and analyze data obtained from literature reviews, interviews, and field observations. This study aims to provide valuable insights and practical solutions to enhance the drainage infrastructure, ultimately contributing to improved living conditions and the reduction of slum settlements in the Satria community of Penarukan Village
Konsep Skematik Desain pada Perencanaan dan Perancangan Gedung Pameran Seni Kontemporer di Ubud, Gianyar
Ubud, Gianyar Bali, has a rapid development in the field of art. The emerging arts are contemporary art, contemporary art, contemporary fine art, contemporary painting, to contemporary installation art. The rapid development of art and the interest of the Balinese people in art are not balanced with the art facilities in Bali. Actually, in terms of the potential of contemporary art, Bali is the most superior in Indonesia. But because they do not have the space to provide facilities to them (artists), then finally many exhibit outside Bali and even abroad, therefore, it is time for Bali to prepare the right space for balinese contemporary artists.The study begins with learning the meaning and basics of the Art Exhibition Building, the understanding of contemporary art itself, standards regarding the layout of the art in the Art Exhibition Building, comparative study of several Art Galleries in Bali and Galleries – Contemporary Art Galleries outside the City of Bali.Ubud, Gianyar Bali, memiliki perkembangan pesat di bidang seni. Seni yang sedang berkembang adalah seni kontemporer, seni perjuntukan kontemporer, seni rupa kontemporer, seni lukis kontemporer, sampai seni instalasi kontemporer. Pesatnya perkembangan seni dan minat masyarakat Bali terhadap seni tidak diimbangi dengan fasilitas kesenian yang ada di Bali. Sebenarnya dari segi potensi seni kontemporer, Bali paling unggul di Indonesia. Tetapi karena tidak mempunyai ruang untuk memberikan fasilitas pada mereka (seniman), maka akhirnya banyak yang berpameran di luar Bali bahkan di luar negeri, Maka dari itu, sudah waktunya Bali menyiapkan ruang yang tepat untuk para seniman kontemporer Bali.Kajian diawali dengan mempelajari pengertian dan hal – hal mendasar mengenai Gedung Pameran Seni , pengertian seni kontemporer itu sendiri, standar - standar mengenai tata ruang dalam Gedung Pameran Seni, studi banding beberapa Galeri Seni di Bali dan Galeri – Galeri Seni Kontemporer di luar Kota Bali. Dilakukan juga tinjauan mengenai lokasi Gedung Pameran Seni Kontemporer di Bali dan pembahasan konsep perancangan dengan penekanan desain. Tapak yang digunakan adalah tapak yang berada di Kota Gianyar, Bali yang sesuai dengan tempat untuk Gedung Pameran Seni. Selain itu juga dibahas mengenai tata massa dan ruang bangunan, penampilan bangunan yang dipakai dalam perancangan “Gedung Pameran Seni Kontemporer di Ubud, Gianyarâ€
Konsep Dasar Perancangan Wisata Gastronomi di Kecamatan Ubud, Gianyar
Ubud District was proposed to be an international gastronomic tourism destination by the Ministry ofTourism and Creative Economy based on the United National World Tourism Organization (UNWTO) criteriaand was established in 2018. The Ministry of Tourism and Creative Economy also encourages the development ofcreative economic tourism based on culture and local wisdom in Ubud District to revive economic activity so thatcan expand employment opportunities in the midst of a pandemic. Gastronomic tourism is a type of culinarytourism where tourists not only consume food but can also increase their knowledge about the food and the areafrom the original source. Gastronomic development in Ubud District is less than optimal and is still limited to aplace for selling traditional culinary which only consists of one particular type of culinary at a food stall. Bydesigning gastronomic tourism in Ubud District, Gianyar will become a place for culinary activities related togastronomy and become a solution in overcoming these problems. The purpose of this study was to determine thebasic concepts that will be used in the design of gastronomic tourism in Ubud District, Gianyar. The researchmethod used is descriptive qualitative method. The results of this study produce a basic concept, namely culturaltourism based on culinary and local traditions.Kecamatan Ubud diusulkan menjadi daerah tujuan wisata gastronomi internasional oleh Kemenparekrafberdasarkan kriteria United National World Tourism Organization (UNWTO) dan telah ditetapkan pada tahun2018. Kemenparekraf juga mendorong dikembangkannya pariwisata ekonomi kreatif yang berbasis budaya dankearifan lokal di Kecamatan Ubud untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi sehingga dapat memperluaslapangan pekerjaan di tengah pandemi. Wisata gastronomi ialah jenis wisata kuliner dimana wisatawan bukansekedar mengkonsumsi makanan saja namun juga dapat meningkatkan pengetahuannya seputar makanan dandaerah tersebut dari narasumber aslinya. Perkembangan gastronomi di Kecamatan Ubud kurang optimal dan masihsebatas tempat penjualan kuliner tradisional yang hanya terdiri dari satu jenis kuliner tertentu pada suatu kiosmakanan. Dengan perancangan wisata gastronomi di Kecamatan Ubud, Gianyar akan menjadi wadah aktivitaskuliner yang berhubungan dengan gastronomi dan menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan tersebut. Tujuanpenelitian ini adalah untuk mengetahui konsep dasar yang akan dipergunakan dalam perancangan wisata gastronomi diKecamatan Ubud, Gianyar. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian inimengasilkan sebuah konsep dasar yaitu pariwisata budaya berbasis kuliner dan tradisi setempat
Pendekatan Psikologi Dalam Skematik Desain Fasilitas Day Care di Kota Denpasar
The busyness of parents in working, especially in the city of Denpasar causes not a few of them to entrust the role of child care students to Daycare Facilities, but the currently available daycare facilities and infrastructure still do not meet the eligibility and safety standards to support the growth and development of children, especially for young children. 0 – 2 years. So that by providing facilities and infrastructure that are classified according to the age grouping of children, namely ages 3 months – 2 years, ages 3 – 4 years and ages 5 – 6 years, where the 3 age groups have different characters and needs in the growing process. their flowers. The purpose of this design is to design a daycare facility that is safe and comfortable for children and provides facilities that can support the growth and development and creativity of children from an early age. By using an architectural approach to behavior, age, color psychology and shape psychology with data collection methods in the form of literature study and observation and presentation methods, namely: compilation and classification of data. The design concept used is Kiddy Town with a building that is realized with a post modern design theme. Which produces 3 types of facilities, namely the main facilities, support and services tailored to the needs of users.Kesibukan orang tua dalam bekerja terutama di Kota Denpasar menyebabkan tidak sedikit dari mereka yang mempercayakan peran didik asuh anak kepada Fasilitas Daycare, namun sarana dan prasarana daycare yang tersedia saat ini masih belum memenuhi standar kelayakan dan keamanan untuk menunjang daya tumbuh kembang anak terutama untuk anak usia 0 – 2 tahun. Sehingga dengan menyediakan fasilitas sarana maupun prasarana yang diklasifikasikan sesuai pengelompokan usia anak yaitu usia 3 bulan – 2 tahun, usia 3 – 4 tahun dan usia 5 – 6 tahun, yang dimana 3 kelompok usia tersebut memiliki karakter serta kebutuhan yang berbeda – beda dalam proses tumbuh kembang mereka. Tujuan dari perancangan ini yaitu merancang sebuah fasilitas daycare yang aman dan nyaman bagi anak – anak serta menyediakan fasilitas yang dapat menunjang tumbuh kembang dan daya kreativitas anak sejak usia dini. Dengan menggunakan pendekatan arsitetur perilaku, usia, psikologi warna dan psikologi bentuk dengan metode pengumpulan data berupa studi literatur dan observasi serta metode penyajian yaitu : kompilasi dan klasifikasi data. Konsep perancangan yang digunakan yaitu Kiddy Town dengan bangunan yang diwujudkan dengan tema rancangan post modern. Yang menghasilkan 3 jenis fasilitas yaitu fasilitas utama, penunjang dan servis yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna
Perencanaan dan Perancangan Pusat Industri Dan Budidaya Buah Kelapa Terpadu Di Kabupaten Jembrana
Coconut is a plant that is rich in benefits, almost all of its parts can be used as commercial goods that have a selling value ranging from stems, trees, fruit, coir, shells to the water. Jembrana Regency is one of the coconut producing areas. Jembrana Regency has the largest coconut plantation area in Bali, reaching 17,000 hectares. Behind the abundant natural resources, human resources are still not good, coconut farmers who cultivate coconuts are still not sufficient to meet their daily needs due to the loss of coconut share in Jembrana with other areas in Indonesia. regional Bali and also outside Bali, especially due to the pandemic which made demand for coconut from outside Bali experience a decline in prices and also many farmers only sell coconuts in whole form without being processed into commercial goods due to lack of knowledge and equipment that can process and produce goods. coconut processing. In the tourism sector, Jembrana tends to be quiet. Based on the problems that occurred, the Integrated Coconut Fruit Industry and Cultivation Center was proposed, a facility to process and produce processed coconut products including development, marketing, education, and cultivation. The location chosen was in Candikusuma Village, Melaya District, Jembrana Regency. With the approach of the theme "Ecology Architecture" and the concept of "Eco-Tourism Industry"Kelapa merupakan tanaman yang kaya akan manfaatnya, hampir seluruh bagiannya bisa dimanfaatkan menjadi barang komersil yang memiliki nilai jual mulai dari batang, pohon, buah,sabut, tempurung hingga airnya. Kabupaten Jembrana merupakan salah satu daerah penghasil buah kelapa. Kabupaten jembrana memiliki lahan perkebunan kelapa terluas di Bali mencapai 17.000 hektar.Di balik Sumber Daya Alam yang melimpah, sumber daya manusia masih belum baik, para petani kelapa yang membudidayakan kelapa masih belum cukup dalam mencukupi kebutuhan hidupnya dikarenakan kalahnya pangsa kelapa Jembrana dengan daerah lainnya di regional Bali dan juga luar Bali, apalagi akibat pandemi yang membuat permintaan kelapa dari luar Bali mengalami penurunan harga dan juga banyak para petani hanya menjual kelapa dalam bentuk utuh tanpa diolah menjadi barang – barang komersil karena kurangnya pengetahuan dan peralatan yang dapat mengolah dan memproduksi barang barang olahan buah kelapa. Di bidang pariwisata, jembrana cenderung sepi.Berdasarkan permasalahan yang terjadi diusulkan Pusat Industri dan Budidaya Buah Kelapa Terpadu, sebuah fasilitas dalam mengolah dan memproduksi produk olahan turunan buah kelapa termasuk pengembangan, pemasaran edukasi, dan pembudidayaan. Adapun lokasi yang dipilih berada di Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana. Dengan pendekatan tema “ Ecology Architecture†dan Konsep “Eco- Industri Tourismâ
Penentuan lokasi Pada Perencanaan dan Perancangan Museum Seni Rupa di Gianyar: BAHASA INDONESIA
Hakikat karya seni merupakan jejak langkah sang seniman dalam lingkup sejarah kebudayaan umat manusia. Semua ini akan terus dapat dilacak maupun diapresiasi secara berkesinambungan jika karya-karya seni tersebut disimpan dengan baik pada sebuah tempat yang representatif, salah satunya adalah museum seni rupa. museum seni rupa lukisan dan patung adalah wadah atau tempat bagi seseorang untuk mengekspresikan pikiran, perasaan maupun imajinasinya melalui media lukisan atau patung yang memiliki pesan tertentu maupun hanya sebagai ekspresi diri semata yang ditunjukan kepada khalayak banyak Secara umum lokasi yang sesuai dengan perencanaan dan perancangan Museum Seni Rupa adalah Desa Singakerta Kecamatan Ubud. Dimana Desa Singakerta merupakan bgaian dari kecamatan Ubud yang merupakan pusat seni Provinsi Bali disana juga banyak dijumpai seniman – seniman yang mahir dalam membuat karya seni seperti seni rupa.The essence of works of art is the footprints of the artist in the cultural history of mankind. All of this can be tracked and appreciated on an ongoing basis if the works of art are properly stored in a representative place, one of which is an art museum. Museum of Fine Arts, Painting and Sculpture is a place or place for someone to express their thoughts, feelings and imagination through the media of paintings or sculptures that have a certain message or just as self-expression shown to a large audience. In general, the location is in accordance with the planning and design of the Museum of Art Rupa is Singakerta Village, Ubud District. Where Singakerta Village is part of the Ubud sub-district which is the art center of the Province of Bali, there are also many artists who are proficient in making works of art such as fine art
Penerapan Konsep Sense Of Place Pada Akomodasi Glamping Di Kintamani: Bahasa Indonesia
Melihat pentingnya akomodasi dalam lingkup pariwisata, glamping merupakan salah satu akomodasi yang sangat mendukung, khususnya di Kintamani dengan menjadi akomodasi yang mudah dijangkau oleh semua kalangan masyarakat, dapat mengangkat arsitektur lokalitas Kintamni, serta mampu menjadi akomodasi yang berkelanjutan baik di bidang sosial, budaya, ekonomi, maupun lingkungan. Walaupun demikian, dari beberapa glamping yang sudah ada di Kintamani, masih sedikit glamping yang mengangkat dan memperkenalkan glamping dengan konteks lokalitas khususnya dari segi arsitektur lokal Kintamani yang berlkelanjutan. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan untuk Dengan demikian, adanya perancangan glamping yang berlokasi di Kintamani ini diharapkan dapat memberikan contoh pemanfaatan alam untuk menjadi akomodasi wisata yang selalu memerhatikan lingkungan sekitar, berkelanjutan dari segi aspek alam, sosial, budaya, dan ekonomi, serta mampu memperkenalkan sebuah akomodasi glamping dengan konteks arsitektur lokalitas Kintamani itu sendiri agar unsur-unsur lokal yang ada di daerah tersebut lebih dikenal, tidak meredupSeeing the importance of accommodation in the scope of tourism, glamping is one of the very supportive accommodations, especially in Kintamani by being an accommodation that is easily accessible to all levels of society, can elevate the local architecture of Kintamni, and is able to become a sustainable accommodation both in the social, cultural, economic fields. , as well as the environment. However, from several glamping that already exist in Kintamani, there are still a few glamping that promote and introduce glamping in a local context, especially in terms of sustainable local Kintamani architecture. Therefore, this research was conducted to ensure that the design of glamping located in Kintamani is expected to provide an example of using nature to become a tourist accommodation that always pays attention to the surrounding environment, is sustainable in terms of natural, social, cultural and economic aspects, and is capable of introducing a glamping accommodation with the architectural context of the Kintamani locality itself so that local elements in the area are better known, not fade
Disablity Wellnes Center sebagai Upaya Penunjang Kesehatan kaum Disabilitas di Kabupaten Gianyar : bahasa indonesia
Saat ini masih banyak kaum disabilitas mengalami kendala dalam menerima perawatan maupun pelatihan khususnya di Pulau Bali. Terdapat pula isu yang lain yang berkembang bahwa masih banyak penyandang disabilitas yang belum mendapatkan kesehatan mental maupun fisik, dan jikalaupun ada akses kesehatan mental dan fisik justru masih banyak yang belum menerapkan disability acces dan juga belum adanya wellness center yang diperuntukan untuk penyandang disabilitas. Perancangan Disability Wellness Center berlokasi di Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar bertujuan untuk menyediakan wellness center bagi penyandang disabilitas untuk membantu para penyandang disabilitas memperoleh pelayanan kesehatan mental dan fisik. Pemilihan lokasi Kecamatan Tampaksiring karena pada lokasi site ini merupakan jalur pariwisata, sehingga selain memperoleh pelayanan di Disability Wellness Center, para penyandang disabilitas juga dapat menikmati berwisata di areal pariwisata dekat lokasi site.
Kata kunci: Disability Wellness Center, Disabilitas, Gianyar
Currently there are still many people with disabilities experiencing problems in receiving treatment and training, especially on the island of Bali. There is also another issue that is developing that there are still many persons with disabilities who have not received mental and physical health, and even if there is access to mental and physical health, there are still many who have not implemented disability access and there is also no wellness center designated for persons with disabilities. The design of the Disability Wellness Center located in Tampaksiring District, Gianyar Regency aims to provide a wellness center for persons with disabilities to help persons with disabilities obtain mental and physical health services. The choice of the location for the Tampaksiring District is because the location of this site is a tourism route, so that in addition to obtaining services at the Disability Wellness Center, persons with disabilities can also enjoy traveling in the tourism area near the site location.
Keywords: Disability Wellness Center, Disability, Gianya
Perihal yang Perlu Ditingkatkan pada Pasar Malam di Denpasar, Studi Kasus: Pasar Malam Kreneng
Pasar malam merupakan sebuah tempat berekreasi dan melakukan transaksi jual-beli bagi masyarakat. Para pengunjung pasar malam memiliki rentang keberagaman yang sangat luas (gender, usia, strata sosial dan ekonomi, dan lain sebagainya). Pasar malam memiliki banyak kelebihan selain bisa menggaet beragam pengunjung. Tetapi di satu sisi pasar malam juga tidak lepas dari kekurangan-kekurangan yang dimilikinya. Diantaranya masalah kebersihan, sanitasi, keberlanjutan material pada wahana atraksi dan bangunan pasar malam. Pasar malam juga memiliki potensi sebagai ruang untuk mengumpulkan banyak orang pada satu tempat sehingga tepat dijadikan untuk tempat promosi produk lokal, serta menjadi objek pariwisata bagi masyarakat sekitar. Pasar malam memiliki sifat yang berpindah-pindah sehingga membuat pasar malam menggunakan bangunan sementara atau arsitektur yang temporer. Dalam hal ini pasar malam bisa menjadi ruang untuk eksplorasi bagaimana pasar malam dapat mengembangkan arsitektur temporer ke tahap keberlanjutan material dan penggunaan struktur yang optimal dan praktis. Pasar malam juga bisa menjadi ruang eksplorasi bagaimana arsitektur lokal dapat dimodifikasi dan dikembangkang lebih lanjut sebagai kulit tampilan pada pasar malam. Sehingga pasar malam akan terasa tidak asing bagi pengunjung yang datang dan bisa menjadi daya Tarik tersendiri untuk pasar malam tersebut. Dalam tulisan ini penulis ingin memberikan solusi dari kekurangan pada pasar malam dan memberikan alternatif pilihan gaya arsitektur yang digunakan pada pasar malam. Langkah-langkah penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data diantaranya: tahap input (penentuan judul); tahap proses (tinjauan pustaka, kuisioner, observasi); tahap (Proses analisa data, pembahasan, dan simpulan).
The night market is a place for recreation and buying and selling transactions for the community. Night market visitors have a very wide range of diversity (gender, age, social and economic strata, and etc). The night market has many advantages besides being able to attract a variety of visitors. But on the one hand, the night market is also inseparable from its shortcomings. Among them are cleanliness, sanitation, material sustainability on attraction rides and night market buildings. The night market also has the potential as a space to gather many people in one place so it is right to be used as a place to promote local products, as well as become a tourism object for the surrounding community. The night market has a moving nature that makes the night market use temporary buildings or temporary architecture. In this case, the night market can be a space for exploration of how the night market can develop temporary architecture to the stage of material sustainability and the optimal and practical use of structures. The night market can also be a space to explore how local architecture can be modified and further developed as a display skin on the night market. So that the night market will feel familiar to visitors who come and can be a special attraction for the night market. In this paper, the author wants to provide solutions to the shortcomings of the night market and provide alternative choices of architectural styles used in the night market. The research steps used in data collection include: input stage (determination of title); process stage (literature review, questionnaire, observation); stage (Process of data analysis, discussion, and conclusion).
 
Perencanaan dan Perancangan Pusat Wisata Kuliner Laut di Serangan, Denpasar, Bali: bahasa indonesia
Perancangan Pusat Wisata Kuliner laut di serangan Denpasar, Bali adalah perancangan objek wisata yang mengunggulkan kuliner untuk menarik perhatian wisatawan mancanegara maupun domestik, lewat keanekaragaman jenis makanan yang disediakan pengunjung akan ditawarkan berbagai pilihan kuliner. Tema yang dipakai yaitu neo vernakular agar mendukung timbulnya budaya lokalitas dari bangunan pusat wisata kuliner ini melalui konsep yang juga didukung dengan menggunakan material lokal. Menggunakan konsep eco living, landscape, arsitektur yang khas, desain biofilik untuk menciptakan perpaduan harmonis antara arsitektur bangunan, alam, dan kenyamanan pengunjung. Merancang sebuah kawasan pariwisata pusat kuliner yang bisa memenuhi kebutuhan kuliner pengunjung dan wisatawan di kota Denpasar dalam hal makanan dan minuman sekaligus tempat rekreasi dan refreshing dimana pengunjung dapat menikmati berbagai wisata kuliner yang mampu mencerminkan budaya dan ciri khas Serangan, Kota Denpasar. Kawasan ini juga disertai fasilitas yang mendukung dengan desain arsitektur yang menarik selain itu juga rancangan ini mampu meningkatkan perekonomian Kota Denpasar lewat sarana wisata kuliner serta pengembangan kota sekaligus mengembangkan karya arsitektural di Kota Denpasar.
The design of the Marine Culinary Tourism Center in Denpasar, Bali is the design of a tourist attraction that prioritizes culinary delights to attract the attention of foreign and domestic tourists, through the diversity of types of food provided visitors will be offered various culinary choices. The theme used is neo vernacular to support the emergence of local culture from this culinary tourism center building through a concept that is also supported by using local materials. Using the concept of eco living, landscape, distinctive architecture, biophilic design to create a harmonious blend of building architecture, nature and visitor comfort. Designing a culinary center tourism area that can meet the culinary needs of visitors and tourists in the city of Denpasar in terms of food and drink as well as a place of recreation and refreshment where visitors can enjoy various culinary tours that are able to reflect the culture and characteristics of Serangan, Denpasar City. This area is also accompanied by supporting facilities with an attractive architectural design besides that this design is also able to improve the economy of Denpasar City through culinary tourism facilities and city development as well as developing architectural works in Denpasar City.