UNDAGI: Jurnal Ilmiah Arsitektur
Not a member yet
    201 research outputs found

    Perencanaan dan Perancangan Perpustakaan Milenial di Kota Denpasar

    No full text
    In Indonesia, the literacy level of the people is quite low. This is because people, especially millennials, are still reluctant to visit the library, because they are considered rigid, formal and monotonous. In addition, the many locations of libraries that are less strategic make the building less accessible to the public. With this issue, it is hoped that there will be a library facility in Denpasar City with an atmosphere that gives an image like young people, which is comfortable, flexible but still attracts attention. With several supporting facilities to attract public interest, especially millennials, to visit to read, express creativity, or as a medium of entertainment.Di Indonesia tingkat literasi masyarakatnya tergolong cukup rendah. Hal ini dikarenakan masyarakat khususnya para milenial masih enggan untuk mengunjungi perpustakaan, karena dianggap terkesan kaku, formal dan monoton. Selain itu banyaknya lokasi dari perpustakaan yang kurang strategis menjadikan bangunan kurang dapat dijangkau oleh masyarakat. Dengan adanya isu tersebut, maka nantinya diharapkan adanya sebuah fasilitas perpustakaan di Kota Denpasar dengan suasananya yang memberikan citra sebagaimananya anak muda, yaitu nyaman, fleksibel tapi tetap menarik perhatian. Dengan beberapa fasilitas penunjang guna menarik minat masyarakat khususnya para milenial agar berkunjung untuk membaca, menuangkan kreativitas, ataupun sebagai media hibura

    Penentuan Lokasi Pada Perencanaan dan Perancangan Digital Art Gallery Di Denpasar: Bahasa Indonesia

    No full text
    Abstrak maksimal terdi Perkembangan di Indonesia dilihat dari beberapa tahun terakhir, seni digital sudah mulai dikenal dan populer di kalangan seniman profesional. Bali sebagai pulau atau destinasi dari pariwisata dunia, dilihat dari pariwisata dengantradisi dan budayanya . Di era globalisasi yg semakin pesat, dunia seni mulai berkembang dengan munculnya seni digital yang dalam proses pembuatan dan penyajian finalnya menggunakan teknologi komputer. Seniman seni digital di Denpasar yang masih kurang diapresiasi karyanya oleh masyarakat umum, perlu adanya upaya meningkatkan pariwisata di Denpasar melalui memberikan fasilitas untuk seniman seniman digital art menjadi salah satu solusi yang dimanadiharapkan meningkatkan kualitas seni digital maupun masyarakat yang berkunjung dapat mengapresiasi karya seniman agar nantinya digital art semakin dikenal luas dan seniman seniman muda lebih semangat untuk berkarya. Dengan metode Observasi, merupakan tahapan pengumpulan data yang di lakukan dengan survey ke lokasi perpustakaan atau objek sejenis untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam dan nyata mengenai objek rancangan  The development in Indonesia seen from the last few years, art Digital has begun to be known and popular among professional artists. Bali As an island or destination of world tourism, seen from tourism withits traditions and culture . In the era of rapid globalization, the art world began Evolving with the advent of digital art that is in the process of making and The final presentation uses computer technology. Digital art artists in Denpasar, which is still underappreciated by the general public, needs to there are efforts to increase tourism in Denpasar through providing Facilities for artists Digital Art artists are one of the solutions whereIt is expected to improve the quality of digital art and the publicVisiting can appreciate the work of artists so that later digital art will be more Widely known and young artists are more eager to work. With Observation method, is the stage of data collection carried out by surveying the location of libraries or similar objects to obtain More in-depth and real information about the design objec

    Konservasi Kawasan Kertha Gosa Sebagai Warisan Sejarah Tempo Dulu: Bahasa Indonesia

    No full text
    Kertha Gosa merupakan daya tarik wisata andalan yang dimiliki oleh Kabupaten Klungkung. Kertha Gosa berada di jantung kota Semarapura, Kabupaten Klungkung. Kertha Gosa merupakan kawasan bangunan atau balai pengadilan warisan Keraton Semarapura berkisar tahun 1686 - 1908 dan tetap difungsikan pada masa kekuasaan kolonial Belanda pada tahun 1908 - 1942. Tujuan penelitian ini untuk melestarikan kawasan Kertha Gosa. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif - kualitatif dari hasil studi Pustaka dan observasi. Metode kualitatif ini digunakan untuk mengumpulkan, mengolah, menganalisis data yang diperoleh,  bersumber dari studi Pustaka, dan studi lapangan. perlu diadakan upaya konservasi terhadap bangunan dari kerta gosa ini agar dapat menjaga kearifan lokal untuk menarik minat wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Klungkung

    Arsitektur Kontekstual Sebagai Tema Rancangan Desain Sanggar Seni Tari Ramah Disabilitas Di Gianyar, Bali: bahasa indonesia

    No full text
    Tema adalah suatu gagasan yang melandasi rancangan dan terjabarkan di dalam konsep perancangan. Tema suatu karya akan memberi karakter atau kesan pada hasil akhir rancangan, dan sedapat mungkin memberi pesan atau membuat bangunan mampu berkomunikasi dengan lingkungannya. Berpatokan pada tujuan yang akan digapai yaitu memberikan kenyamanan bagi pengguna desain khususnya penyandang disabilitas, dengan ini penetapan tema kontekstual merupakan klasifikasi dari bidang konteks dalam arsitektur yang berhubungan dengan lingkungan, kondisi sekitar, masyarakat, budaya. Metode yang disajikan dalam merencanakan usulan desain yaitu metode Analisa kualitatif yang didapat melalui survey langsung menggunakan data studi pustaka serta terjun lapangan dengan observasi serta wawancara narasumber. Hasil yang diperoleh berupa data jumlah masyarakat penyandang disabilitas di Kabupaten Gianyar, data minat masyarakat terhadap seni tari di Kabupaten Gianyar, serta data lokasi strategis usulan desain.   The theme is an idea that underlies the design and is translated into the design concept. The theme of a work will give character or impression to the final design, and as much as possible give a message or make the building able to communicate with its environment. Based on the goal to be achieved, which is to provide comfort for design users, especially persons with disabilities, hereby the determination of contextual themes is a classification of contextual areas in architecture related to the environment, surrounding conditions, society, culture. The method presented in planning design proposals is a qualitative analysis method obtained through direct surveys using literature study data and field work with observations and interviews with informants. The results obtained were in the form of data on the number of people with disabilities in Gianyar Regency, data on community interest in dance in Gianyar Regency, and data on the strategic location of design proposals. &nbsp

    Konsep Memanusiakan Manusia Lewat Budaya Pada Pengembangan Panti Asuhan Di Kabupaten Tabanan

    No full text
    Panti Asuhan merupakan sebuah tempat untuk merawat dan memelihara anak yatim atau yatim piatu, Anak-anak yang kurang beruntung, Menurut data kementerian Sosial, saat ini jumlah anak yatim pia-tu di Indonesia sebanyak 4.023.622. Yakni terdiri dari 20.000 anak yang ditinggal orangtua akibat Covid-19 ; 45.000 anak yang diasuh LKSA dan 3.978.622 anak diasuh oleh keluarga tidak mampu. Pada Perencanaan dan Perancangan Panti Asuhan ini di hadapi 2 Masalah Utama Perancangan di antaranya (1) Suasana (2) Fasilitas, sebagai tempat Hunian dan Tempat Mendidik Anak, untuk menampung anak terlantar, yatim, piatu dan yatim piatu, dengan memberikan pengasuhan peran penganti orang tua melalui pengasuhan Ibu Asuh dan Bapak Asuh, dan dengan Pengembangan yang di lakukan untuk Penambahan Kapasitas Pelaku dan Fasilitas dan Penambahan pemenuhan Fungsi Edukasi pada Panti Asuhan, yang di wujudkan oleh Sekolah Informal untuk megembangkan pendidikan anak, maka dalam panti asuhan ini menampung 2 fungsi Utama (1) Fungsi Hunian yang di wujudkan oleh Panti Asuhan dan (2) Fungsi Edukasi yang di wujudkan oleh Sekolah Informal. Kabupaten Tabanan di pilih karena Objek Usulan yang akan dilakukan Pengembangan Panti Asuhan berada pada lokasi tersebut, lebih tepat nya pada Kabupaten Tabanan, Kecamatan Selemadeg Timur, Desa Bantas dengan nama Panti Asuhan Sos Childern’s Bali.    An orphanage is a place to care for and care for orphans or orphans, less fortunate children. According to data from the social Ministry, currently. orphans in Indonesia is 4,023,622, consisting of 20,000 children who have been abandoned by their parents due to Covid-19; 45,000 children cared for by LKSA, and 3,978,622 children are cared for by poor families. planning and design of this orphanage, 2 main design problems were faced including (1) atmosphere (2) facilities, as a place for shelter and a place to educate children, to accommodate abandoned children, by providing care for the role of substitute parents through the care of Foster Mothers and Foster Fathers, and with the Development carried out to Increase the Capacity of Actors and Facilities and Add to the fulfillment of the Educational Function at the Orphanage, which is realized by Informal Schools to develop children's education, then this orphanage accommodates 2 main functions (1) Residential Functions realized by Orphanages and (2) Educational Functions realized by Informal Schools. Tabanan Regency was choosing because the object Development of the Orphanage was in that location, correctly in Tabanan Regency, Selemadeg Timur District, Bantas Village name Sos Children's Bali Orphanage.   &nbsp

    Perubahan Arsitektur Pada Rumah Adat Kampung Kamanasa di Kabupaten Malaka, Kecamatan Malaka Tengah, Nusa Tenggara Timur

    No full text
    Kajian ini mengidentifikasi perubahan yang terjadi pada Arsitektur Tradisional Nusantara, dalam hal ini mengambil studi kasus Rumah Adat di Kampung Kamanasa, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka Tengah. Pengumpulan data dilakukan dengan survei lapangan serta wawancara langsung dengan masyarakat adat di Kampung Kamanasa. Analisis dilakukan dengan membandingkan dan mendiskripsikan perbedaan yang mencerminkan perubahan pada bangunan rumah adat di Desa Kamanasa dari sudut pandang arsitektur. Seiring perkembangan zaman, rumah adat di Kampung Kamanasa mengalami perubahan dari segi fungsi, tata ruang, hingga konstruksi dan material bangunannya. Perubahan arsitektur ini dipengaruhi oleh faktor kebutuhan masyarakat yang semakin berkembang, kepraktisan dalam proses pembangunan, hingga ketersediaan material lama yang semakin terbatas dan mulai tergantikan dengan yang baru. Perubahan arsitektur ini pun menimbulkan perbedaan antara bangunan yang cenderung bersifat sakral atau terikat pada aturan adat dengan bangunan tempat tinggal masyarakat adat pada umumnya. Perubahannya terjadi pada penataan ruang yang menyesuaikan dengan kebutuhan aktivitas penghuninya. Ini berimplikasi pada tampilan bangunan yang terkesan lebih tertutup dan privat. Standar kesehatan, keselamatan, dan keamanan penghuninya juga mengalami peningkatan, sehingga rumah adat yang difungsikan untuk tempat tinggal biasanya sudah mengalami perubahan pada penggunaan material yang mudah dibersihkan serta penggunaan struktur yang dirasa lebih kuat dan aman ketika bangunan digunakan.       This study identifies changes that have occurred in Archipelago Traditional Architecture, in this case taking a case study of Traditional Houses in Kamanasa Village, Central Malacca District, Central Malacca District. Data collection was carried out using field surveys and direct interviews with indigenous peoples in Kamanasa Village. The analysis was carried out by comparing and describing the differences that reflect changes in traditional house buildings in Kamanasa Village from an architectural point of view. Along with the times, traditional houses in Kamanasa Village have changed in terms of function, spatial planning, to construction and building materials. This architectural change was influenced by the growing needs of the community, practicality in the development process, to the increasingly limited availability of old materials and began to be replaced with new ones. This architectural change also creates differences between buildings that tend to be sacred or bound by customary rules and buildings where indigenous peoples live in general. The changes occur in spatial planning that adapts to the needs of the occupants' activities. This has implications for the appearance of buildings that seem more closed and private. The standards for health, safety and security for the occupants have also increased, so that traditional houses which function as residences usually have undergone a change in the use of materials that are easy to clean and the use of structures that are felt to be stronger and safer.       &nbsp

    Designing Agricultural Research and Development Center in Bengkulu City Using Eco-Technology Architecture: Indonesia

    No full text
         &nbsp

    Konsep Skematik Desain Pada Revitalisasi Museum Subak Di Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali: Bahasa Indonesia

    No full text
    Museum Subak yang dibuat untuk menjaga dan memantapkan Subak tidak dinilai pada tingkat yang konsisten dengan apresiasi yang dialami Subak pada tahun 2012. Museum Subak dibuka 40 tahun yang lalu, namun karena beberapa keadaan, Data kunjungan wisatawan selama enam tahun terakhir yang berfluktuasi namun cenderung turun, oleh karena itu perlu adanya gerakan untuk menggembalikan minat pengunjung untuk menggunjungi museum subak dengan cara merevitalisasi. Pada Revitalisasi Museum Subak Tabanan ini diharapkan dapat menjadi sarana Edukasi dan fasilitas penunjang lainnya seperti penelitian, perlindungan dan juga rekreasi karena museum subak saat ini hanya memfasilitasi ruang pameran saja, revitalisasi perlu dilakukan guna menghidupkan kembali suatu fungsi museum yang tidak hanya sebagai pameran alat-alat persawahan saja, seiring dengan perkembangan teknologi dan zaman.  The Subak Museum which was created to maintain and strengthen Subak is not assessed at a level consistent with the appreciation experienced by Subak in 2012. The Subak Museum opened 40 years ago, but due to several circumstances, tourist visit data for the last six years fluctuated but tended to fall, therefore it is necessary to have a movement to restore visitor interest in visiting the Subak Museum by revitalizing it. In the Revitalization of the Tabanan Subak Museum, it is hoped that it can become a means of education and other supporting facilities such as research, protection and also recreation because the Subak Museum currently only facilitates exhibition halls. rice fields, along with the development of technology and the times. &nbsp

    Penerapan Tema Green Architecture pada Agrowisata Kopi Arabika di Desa Belantih, Kintamani: Bahasa Indonesia

    No full text
    Agrowisata adalah sebagai upaya pendidikan nonformal bagi masyarakat setempat sekaligus wisatawan yang melakukan kunjungan wisata. Pembelajaran yang berlangsung pada agrowisata sangat dibutuhkan sebab dapat menunjang proses belajar yang dilakukan di sekolah untuk mendalami pembelajaran serta berdampak pada peningkatan pemahaman akademik. Kopi arabika kintamani dari segi kualitas dan cita rasa dari telah diakui oleh negara penikmat kopi di dunia. Desa Belantih yang berada di Kecamatan Kintamani merupakan salah satu penghasil kopi arabika, yang dimana setiap Banjar/Dusun terdapat Subak Abian dan kelompok tani yang mengatur kegiatan usaha tani kopi arabika salah satunya ialah kelompok tani Dharma Kria. Kelompok tani Dharma Kria merupakan kelompok tani yang berada di Banjar Luahan, Desa Belantih yang terbentuk pada 2015 dengan jumlah anggotanya 34 orang. Pada era sekarang, di Bali kopi semakin banyak dinikmati oleh berbagai kalangan. Eksistensi kopi di Bali yang semakin meningkat terlihat dari fasilitas kedai-kedai kopi di Bali khusunya di Kecamatan Kintamani yang semakin bertambah namun, masih banyak yang kurang mengerti mengenai kopi arabika kintamani. Fasilitas yang menyediakan edukasi dan rekreasi yang dapat dijangkau oleh berbagai kalangan sangat diperlukan untuk mewadahi wisatawan  yang ingin lebih mempelajari proses biji kopi arabika kintamani mulai dari sejarah kopi arabika kintamani, penanaman, pemetikan, pengolahan, dan penyajian kopi arabika itu sendiri. Kegiatan rekreasi dapat dilakukan dengan menyebar fasilitas edukasi di beberapa titik agar wisatawan merasakan sensasi berjalan di tengah-tengah areal perkebunan kopi warga yang memiliki hawa sejuk. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam antara lain studi literatur, observasi lapangan, dan survey  Agrotourism is a non-formal education effort for the local community as well as tourists who make tourist visits. Learning that takes place in agro-tourism is needed because it can support the learning process carried out in schools to deepen learning and have an impact on increasing academic understanding. Kintamani Arabica coffee in terms of quality and taste has been recognized by coffee connoisseur countries in the world. Belantih Village, which is in the Kintamani District, is one of the producers of Arabica coffee, in which every Banjar/Dusun has Subak Abian and farmer groups that regulate Arabica coffee farming activities, one of which is the Dharma Kria farmer group. The Dharma Kria farmer group is a farmer group in Banjar Luahan, Belantih Village which was formed in 2015 with 34 members. In the current era, in Bali coffee is increasingly being enjoyed by various groups. The increasing existence of coffee in Bali can be seen from the facilities of coffee shops in Bali, especially in the Kintamani District, which are increasing, however, there are still many who do not understand Kintamani Arabica coffee. Facilities that provide education and recreation that can be reached by various groups are urgently needed to accommodate tourists who want to learn more about the process of Kintamani Arabica coffee beans starting from the history of Kintamani Arabica coffee, planting, picking, processing, and serving Arabica coffee itself. Recreational activities can be carried out by spreading educational facilities at several points so that tourists feel the sensation of walking in the middle of the residents' coffee plantation area which has a cool climate. Data collection methods used include literature studies, field observations, and surveys &nbsp

    Fasilitas Eco Lodge dengan Pendekatan Tema Eko Arsitektur di Desa Jati Luwih Tabanan: Bahasa Indonesia

    No full text
    Akomodasi Wisata yang ada di Desa Wisata Jati Luwih kebanyakan masih kurang memperhatikan lingkungan alam sekitarnya yang seharusnya menjadi potensi bagi desa tersebut. Dengan adanya fasilitas akomodasi wisata Eco-Lodge diharapkan menjadi contoh untuk masyarakat atauapun investor dalam merencanakan akomodasi wisata kedepannya lebih memperhatikan lingkungan alam lebih baik lagi  demi kebaikan lingkungan Desa Wisata Jati Luwih. Akomodasi Eco-Lodge merupakan fasilitas akomodasi penginapan yang ramah lingkungan, pada fasilitas ini menawarkan keindahan lingkungan alami sebagai potensi untuk wisatawan dalam menikmati fasilitas ini. Fasilitas akomodasi ini memperhatikan lingkungan alami dengan meminimalisir kerusakan lingkungan eksistingnya dan menjadikan lingkungan eksisting sebagai potens.Tourist accommodation in the Jati Luwih Tourism Village mostly still pays little attention to the surrounding natural environment which should be a potential for the village. With the existence of Eco-Lodge tourist accommodation facilities, it is hoped that it will be an example for the community or investors in planning future tourist accommodations to pay more attention to the natural environment, even better for the good of the environment of Jati Luwih Tourism Village. Eco-Lodge Accommodation is an eco-friendly lodging accommodation facility, this facility offers the beauty of the natural environment as a potential for tourists to enjoy this facility. This accommodation facility pays attention to the natural environment by minimizing damage to the existing environment and making the existing environment as potentialabove and the keywords that are formulated must be specific and answered in the sub-section of the discussion

    0

    full texts

    201

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    UNDAGI: Jurnal Ilmiah Arsitektur
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇