UNDAGI: Jurnal Ilmiah Arsitektur
Not a member yet
201 research outputs found
Sort by
Penerapan Tema Arsitektur Ekologi Pada Bangunan Agrowisata Padi Di Tabanan
Agrowisata adalah objek wisata yang memanfaatkan usaha alam (agro) menjadi objek wisata. Tentunya untuk memperluas pengetahuan, pengalaman, rekreasi, dan hubungan usaha dibidang pertanian, peternakan, perikanan. Dengan banyaknya tempat agrowisata yang ditawarkan di Indonesia, tentu saja menjadikan tantangan tersendiri bagi para pengelola tempat agrowisata. Salah satu fenomena dalam pemanfaatan lahan adalah adanya alih fungsi lahan (konversi) lahan. Fenomena ini muncul seiring dengan bertambahnya kebutuhan dan permintaan terhadap lahan, baik dari sektor pertanian maupun dari sektor non-pertanian akibat pertambahan penduduk dan kegiatan pembangunan.Berdasarkan RTRW Kab.Tabanan 2009-2014, wilayah kecamatan Penebel di bagian utara meliputi beberapa subak (organisasi pertanian tradisional Bali), salah satunya subak Wongaya Betan desa Mengesta dijadikan sebagai pusat gerbang pangan kabupaten Tabanan. Desa Mengesta merupakan daerah pertanian yang memiliki karakteristik khusus karena memiliki panorama alam berupa barisan pegunungan dan hamparan sawah terasering yang indah dengan luas sekitar 4.437 hektar. Pengelolaan pertanian dilakukan secara tradisional yang miskin dengan sentuhan IPTEKS. Pengembangan agrowisata Padi dilakukan dengan penambahan destinasi pariwisata yang sesuai potensi desa. Penambahan destinasinya antara lain yaitu Restaurat yang menjual hasil dari olahan pertanian, home stay sebagai fasilitas pendukung wisatawan yang ingin menginap, edukasi dan praktik mulai dari membajak sawah sampai pengolahan padi serta edukasi dan praktik mengenai penanaman padi yang disana nanti juga terdapat spot foto yang menarik.
Agrotourism is a tourist attraction that utilizes natural business (agro) to become a tourist attraction. Of course to expand knowledge, experience, recreation, and business relations in the field of animal husbandry, livestock, fisheries. With so many agro-tourism sites offered in Indonesia, of course, this is a challenge for the managers of agro-tourism areas. One phenomenon in land use is land conversion (land conversion). This phenomenon is in line with the increasing need for and demand for land, both from the agricultural sector and from the non-agricultural sector due to population growth and development activities. Bali), one of which is the Wongaya Betan Subak, Mengesta Village, which is used as the center for food gateways for the Tabanan Regency. Mengesta Village is an agricultural area that has special characteristics because it has natural panoramas in the form of mountain ranges and beautiful stretches of terraced rice fields with an area of ​​around 4,437 hectares. Agricultural management is carried out in a poor traditional way with a touch of science and technology. The development of rice agro-tourism is carried out by adding tourism destinations that are in accordance with village potential. The addition of destinations includes restaurants that sell processed agricultural products, home stays as facilities to support tourists who want to stay overnight, education and practice from plowing fields to rice processing as well as education and practice regarding rice rehabilitation where there will also be interesting photo spots.
 
Planning and Designing Day Care Centre in Jembrana City, Bali
Day Care ialah lembaga untuk penitipan anak yang dapat membantu peran orang tua dalam mengasuh anak pada jangka waktu tertentu ketika orang tua mereka sedang memiliki kesibukan atau tidak mempunyai banyak waktu untuk mengasuh anaknya. Umumnya, Day Care tidak hanya sebagai tempat penitipan anak saja tetapi juga mengikut sertakan permainan serta pelajaran yang sesuai dengan umur anak. Aktivitas bermain serta belajar yang diterapkan bagi anak merupakan stimulasi yang tepat untuk anak dalam merangsang daya pikir untuk mendayagunakan aspek sosial dan emosional anak terhadap lingkungan sekitar. Beberapa ahli juga menyatakan pentingnya dalam pendidikan anak sejak balita dan kelebihan dari Day Care terletak pada kebersihan, fasilitas, kualitas dan kuantitas pengasuh serta kesehatan lingkungan sekitar.
Day Care is an institution for child care that can help the role of parents in caring for children at certain times when their parents are busy or don't have much time to care for their children. Generally, Day Care is not only a daycare center but also includes games and lessons that are appropriate for the child's age. Playing and learning activities that are applied to children are the right stimulation for children in stimulating the mind to utilize the social and emotional aspects of children towards the surrounding environment. Some experts also state the importance of educating children from toddlers and the advantages of Day Care lie in cleanliness, facilities, quality and quantity of caregivers and the health of the surrounding environment.
 
Pendekatan Critical Regionalism pada Wisata Edukasi Tambak Garam di Amed, Karangasem: Bahasa Indonesia
Menurunnya jumlah luas lahan pertanian tambak garam di Provinsi Bali yang diakibatkan oleh meningkatnya pemanfaatan lahan pesisir pantai sebagai pendukung sektor pariwisata, mengakibatkan berkurangnya jumlah produksi garam di Provinsi Bali. Permasalahan ini berdampak dan mengakibatkan munculnya permasalahan lain seperti berkurangnya penggunaan teknologi pangan tradisional, menurunnya upah dan profesi petani, dan minimnya upaya pelestarian warisan budaya terkait dengan proses produksi garam tradisional. Wisata Edukasi Tambak Garam digagas sebagai bentuk respon dari permasalahan yang ada melalui fungsi-fungsi di dalamnya, seperti fungsi produksi dan pengembangan, fungsi edukasi, dan distribusi. Dusun Amed, Desa Purwakerti, Kec. Abang, Kabupaten Karangasem dipilih sebagai lokasi spesifik karena daerah tersebut memiliki sertifikasi Indikasi Geografis yang mengindikasikan produk garam berasal dari Amed dengan karakteristik garam berbeda dari garam lainnya. Setelah melalui tahapan studi literatur, studi preseden, observasi dengan mengumpulkan informasi dari buku, jurnal, surat kabar, penelusuran media online, serta melakukan survei. Sehingga didapatkan hasil berupa spesifikasi ruang dan pengguna serta aktivitas yang akan dilakukan di dalam kawasan ini dengan pengimplementasian konsep The Sustainability of Community Empowerment serta pengaplikasian tema Critical Regionalism yang membantu daerah sekitar memiliki identitas yang kuat sehingga diharapkan dapat berpengaruh terhadap posisi produk dalam pasar guna meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.
The decrease in the area of salt pond farming land in the Province of Bali as a result of greater use of coastal land as a support for the tourism sector resulted in a drop in the amount of salt produced in the Province of Bali. This issue has had an influence, resulting in the emergence of other issues such as decreased use of traditional food technology, decreased incomes and farming professions, and inadequate measures to maintain cultural assets associated with the ancient salt production method. Salt Pond Edutourism began as a reaction to existing challenges through its functions such as production and development, educational functions, and distribution. The exact location was chosen as Amed Hamlet, Purwakerti Village, Kec. Abang, Karangasem Regency since the area has a Geographical Indication certificate showing that salt goods originate from Amed with different salt properties than other salts. Following the stages of literature study, precedent study, observation by obtaining information from books, journals, newspapers, online media searches, and surveying. So that the results are obtained in the form of room and user specifications, as well as activities to be carried out in this area by implementing the concept of The Sustainability of Community Empowerment and applying the Critical Regionalism theme, which helps the surrounding area to have a strong identity, which is expected to influence the position of products in the market to improve the economy local community.
 
Perencanaan Dan Perancangan Community Center Produk Desa Dengan Pendekatan Bioklimatik Di Desa Baktiseraga
Villages in North Bali have their own uniqueness, including in terms of art and culture. Starting from customs, dances, architecture, to crafts. This situation is actually a problem and we hope that it can help the Village Product Community Center for village development, by providing a facility that accommodates a product community in the village.
The handicrafts in the village are processed from natural resources such as bamboo work, woven fabrics, and lontar. Not only handicrafts but also every village has natural resources in the form of coffee, palm sugar, wine, and sap. Which is a livelihood for residents in every village
There is a lot of potential that exists in the village but there is no place or place to develop the products produced by a village. With the Village Product Community Center, it can provide education as well as a place to learn by providing facilities that accommodate and also become a place to market products that have been produced. With the Village Product Community Center, it can provide a forum to provide education and learn more about the products produced by the village, it is also an opportunity for the village to develop its potential.Desa-desa di Bali Utara memiliki keunikannya masing-masing termasuk dari segi Seni dan Budayanya. Mulai dari Adat istiadat, tari-tarian, arsitektur, sampai dengan kerajinannya. Keadaan ini sebenarnya yang menjadi permasalahan dan kiranya dapat ikut membantu Community Center Produk Desa untuk pengembangan Desa, dengan menyediakan suatu sarana yang mewadahi suatu komunitas produk-produk di desa.Kerajinan-kerajinan yang ada di Desa merupakan hasil olahan dari sumber daya alamnya seperti kerjainan bamboo, kain tenun, dan lontar. Tidak hanya Kerajinannya saja tetapi juga setiap Desa memiliki hasil sumber daya alam berupa kopi, gula aren, arak, dan nira. Yang menjadi mata pencaharian bagi penduduk di setiap desa
Banyaknya potensi-potensi yang ada di Desa akan tetapi tidak adanya tempat atau wadah untuk mengembangkan produk yang di hasilkan suatu Desa. Dengan adanya Community Center Produk Desa dapat memberikan edukasi juga tempat belajar dengan menyediakan fasilitas yang mewadahi dan juga menjadi tempat memasarkan produk-produk yang telah di produksi. Dengan adanya Community Center Produk Desa ini dapat memberikan wadah untuk memberikan edukasi dan belajar lebih dalam tentang produk-produk yang di hasilkan desa, juga menjadi peluang bagi desa untuk mengembangkan potensi yang dimiliki
Fasilitas Penunjang Industri Kain Endek di Kota Denpasar, Bali
Agar sebuah kota dapat berkembang, maka perlu adanya Creative Hub, yang dimana Creative Hub dapat menjadi tempat untuk berinteraksi sosial dan komunikasi antar berbagai kelompok. Creative Hub berfungsi sebagai area dinamis yang menyediakan pilihan pekerjaan, peluang pendidikan, peluang pengembangan perusahaan, dan peluang jaringan. Selain itu juga mendorong inovasi yang lebih intensif di bidang kreatif untuk kepentingan masyarakat dan daerah setempat. Secara umum, Creative Hub adalah fasilitas atau wadah, baik fisik maupun virtual, yang dapat menghubungkan komunitas atau penggiat kreatif dengan memberikan ruang yang dinamis sehingga dapat lahir inovasi dan kreativitas baru. Karena sifatnya sebagai pusat, creative hub hanya mencakup sebagian area. Namun, kegiatan di pusat kreatif menghubungkan bakat, keterampilan, dan disiplin di komunitas kreatif. Perencanaan dan Perancangan Fasilitas Creative Hub di Kota Denpasar, Bali ini nantinya dapat menjadi penunjang bagi industry kain endek selain itu yang dimana tersedianya fasilitas lain yang dapat menunjang aktivitas bagi pelaku industry kreatif. Sehingga diharapkan dengan adanya rancangan ini dapat mampu memfasilitasi para anak – anak muda di Kota Denpasar serta diharapkan dapat membangun dan meningkatkan kegiatan bagi para pelaku ekonomi kreatif yang akan menghasilkan produk yang bernilai ekonomis.For a city to thrive, it needs a Creative Hub, which can be a place for social interaction and communication between various groups. Creative Hubs function as dynamic areas that provide employment options, educational opportunities, corporate development opportunities, and networking opportunities. It also encourages more intensive innovation in the creative field for the benefit of the local community and region. In general, Creative Hubs are facilities or containers, both physical and virtual, that can connect communities or creative activists by providing a dynamic space so that new innovations and creativity can be born. Because of its nature as a center, the creative hub only covers part of the area. However, activities in the creative hub connect talents, skills, and disciplines in the creative community. Planning and Designing Creative Hub Facilities in Denpasar City, Bali can later become a support for the endek fabric industry in addition to the availability of other facilities that can support activities for creative industry players. So it is hoped that this design can be able to facilitate young people in Denpasar City and is expected to build and increase activities for creative economic actors who will produce products of economic value
Perancangan Aksesibilitas Penyandang Disabilitas Fisik pada Workshop Ability Hub: bahasa indonesia
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kependudukan dan Cata-tan Sipil Provinsi Bali, menyebutkan 12.086 penduduk penyandang disabilitas di Provinsi Bali dan dominan berusia 18 tahun ke atas sekitar 10.703 atau (88,56%). Dari sekian banyaknya penyandang disabilitas di Bali sehingga perlu didukung program dan kegiatan yang terkait dengan prinsip kesetaraan disabili-tas yang dilaksanakan secara komprehensif dan berkesinambungan dengan didukung oleh sarana dan prasarana khusus bagi penyandang disabilitas. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah kualitatif dengan induktif dan berori-entasi secara menyeluruh pada proses sejarah, etnografi dan studi kasus yang telah dilalui dijelaskan secara deskriptif fenomena yang akan diteliti, berdasarkan hasil catatan pribadi, catatan lapangan, dan studi literatur. Berdasarkan analisis proses pada tinjauan terhadap sistem aksesibiltas penyandang disabilitas untuk menggambarkan kemudahan dalam pencapaian pengguna terhadap bangunan. Pada perancangan ini berfokus pada permasalahan aksesibilitas dan pencapaian bangunan mulai dari parkir, entrance utama, pedestrian, entrance bangunan, sirkulasi penghubung antar bangunan dan sirkulasi ruang gerak.
The Head of the Office for Village Community Empowerment, Population and Civil Registration of the Province of Bali, said that 12,086 residents with disabilities in the Province of Bali and the dominant age of 18 years and over around 10,703 or (88.56%). Of the many persons with disabilities in Bali, it is necessary to support programs and activities related to the principle of disability equality that are carried out in a comprehensive and sustainable manner supported by special facilities and infrastructure for persons with disabilities. The research method used by the author is qualitative with inductive and thoroughly oriented to historical processes, ethnography and case studies that have been passed and described descriptively by the phenomena to be studied, based on the results of personal notes, field notes, and literature studies. Based on process analysis on a review of the accessibility system for persons with disabilities to describe the ease of reaching users of buildings. This design focuses on accessibility issues and building attainment starting from parking, main entrance, pedestrian, building entrance, connecting circulation between buildings and circulation of space
Dualisme Pemerintahan Desa Dinas dan Desa Pakraman di Kelurahan Peguyangan
Sistem pemerintahan desa di Bali dibagi dalam dua bentuk yaitu Desa Dinas dan Desa Pakraman. Desa Pakraman sebagai Desa tradisional dengan kepemimpinannya memiliki pengaruh yang kuat bagi krama / warganya, sedangkan sedangkan Desa Dinas terbatas pada bidang administratif. Hal tersebut menyebabkan tumpang tindihnya kepemimpinan dan kewenangan dari Desa Dinas ataupun Desa Pakraman. Kelurahan Peguyangan merupakan salah satu yang menganut sistem pemerintahan ini terdapat dua sistem pemerintahan yaitu dari Kelurahan Peguyangan dan Desa Pakraman Peguyangan. Subjek pemerintahan dari banjar dinas dan banjar adat adalah sama, yaitu masyarakat Kelurahan Peguyangan hal tersebut menyebabkan tumpang tindihnya pemerintahan di Kelurahan Peguyangan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Tumpang tindih pemerintahan desa dinas dan desa adat adalah sebagai adalah 1) keberadaan PKK tumpang tindih dengan Banjar Istri: dan 2) penggunaan perangkat banjar adat untuk melakukan kegiatan banjar dinas.The village governance system in Bali is divided into two forms, namely Desa Dinas and Desa Pakraman. Desa Pakraman, as a traditional village with its leadership, has a strong influence on its residents, while Desa Dinas is limited to administrative matters. This causes an overlap in the leadership and authority of both Desa Dinas and Desa Pakraman. Peguyangan Sub-district is one that adopts this governance system, with two systems from Peguyangan Sub-district and Peguyangan Traditional Village. The governing subjects of Desa Dinas and Desa Pakraman are the same, which is the community of Peguyangan Sub-district, leading to an overlapping of governance in Peguyangan Sub-district. This research employs a qualitative method. The overlapping of Desa Dinas and Desa Pakraman governance is manifested in 1) the existence of the PKK overlapping with Banjar Istri, and 2) the use of traditional banjar apparatus for Desa Dinas activities
Perencanaan dan Perancangan International Elderly Care Center di Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali
Manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu sama lain. Rentan kehidupan manusia diawali dari fase didalam kandungan sampai akhirnya kematian. Fase yang paling sulit dijalani saat manusia mengalami masa tua atau dapat disebut dengan lansia (lanjut usia) yang dimulai dari rentang waktu 60 tahun keatas. Dimana kondisi fisik dan psikologis lansia mulai menurun. Dengan demikian diperlukannya perancangan Hunian lansia khusus mancanegara yang berlokasi di Ubud, Bali. Hunian ini akan memfasilitasi lansia dari mancanegara yang ingin tinggal dan menetap di Bali. Berikut beberapa alasan kenapa lansia mancanegara menjadi sasaran utama dalam perancangan hunian ini. Maraknya wistawan mancanegara yang telah pensiun dari berkerja di masing masing negaranya memilih berlibur dan menetap atau menikmati masa tua di Bali, dengan usia yang lanjut usia serta tidak seluruh hotel dan resort menyediakan perawatan kesehatan dan tidak semua fasilitas resort hotel maupun villa ramah lansia atau difabel, maka dari itu lahirnya ide atau gagasan dalam perencanaan ini. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi literatur, observasi lapangan, serta wawancara dengan salah satu pengelola yang bertugas di Panti Sosial Tresna Werdha Wana Seraya Denpasar. Preseden atau proyek sejenis yang relevan terkait dengan judul. Hasil dari perancangan International Elderly Care Center di Ubud, Gianyar, Bali ini diharapkan dapat menjadi salah satu pusat perawatan lansia mancanegara yang berada di Ubud . Dengan potensi daerah pariwisata Ubud yang ada saat ini atau pada masa yang akan datang.
Humans are basically social creatures who need each other. The human life span starts from the phase in the womb until death. The most difficult phase is lived when humans experience old age or can be called elderly (elderly) which starts from the age range of 60 years and over. Where the physical and psychological conditions of the elderly begin to decline. Thus the need to design a special elderly residence for foreigners located in Ubud, Bali. This residence will facilitate the elderly from abroad who want to live and settle in Bali. Here are some reasons why foreign elderly are the main target in designing this residence. The rise of foreign tourists who have retired from working in their respective countries choose to vacation and settle or enjoy old age in Bali, with an advanced age and not all hotels and resorts provide health services and not all hotel and villa resort facilities are elderly or disabled friendly, therefore an idea or idea was born in this planning. The data collection methods used in this paper are literature studies, field observations, and interviews with one of the administrators in charge of the Tresna Werdha Wana Seraya Social Home in Denpasar. Precedents or similar relevant projects related to the title. The results of the design of the International Elderly Care Center in Ubud, Gianyar, Bali are expected to be one of the centers for the care of foreign elderly in Ubud. With the potential of the Ubud tourism area that exists today and in the future
Penerapan Arsitektur Metafora Pada Perspustakaan Umum Di Kota Medan
A public library is a library designed for a wide audience as a means of lifelong learning, regardless of socio-economic background, race, religion, age, or gender. At this time, the willingness of Indonesian people to read is very worrying. This can be seen from the comparison of the willingness to read of the residents of Medan City, which is 1:1000. Therefore, it is planned to create or design a library with a national standard in the city of Medan. The application of the Metaphor Architecture Theme is taken from various points of view from a book, ranging from arranged books and open books, which have the meaning as a place for book collections and a place to read books that provide knowledge or information for free. This building also takes the basic shape of a square which means that the square has a formal impression and status according to the function of the building. Easy to expand, process structure and save space.Perpustakaan yang dirancang untuk khalayak luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat, tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi, ras, agama, usia, atau jenis kelamin ialah Perpustakaan umum. Pada saat ini, kemauan minat membaca masyarakat Indonesia sangat mengkhawatirkan. Hal ini terlihat dari perbandingan kemauan membaca penduduk Kota Medan yaitu 1:1000. Maka dari itu di rencanakan, menciptakan atau merancang Perpustakaan yang berstandart nasional di Kota Medan. Penerepan Tema Arsitektur Metafora diambil dari berbagai sudut pandang dari sebuah buku, mulai dari buku yang tersusun dan buku yang terbuka, dimana memiliki arti sebagai tempat koleksi buku dan wadah membaca buku yang memberikan pengetahuan atau informasi secara gratis. Bangunan ini juga mengambil bentuk dasar persegi yang memiliki arti dimana persegi memiliki kesan dan status formal sesuai dengan fungsi bangunan. Mudah dikembangkan, memproses struktur, dan menghemat ruang
Fasilitas Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pertanian Lahan Kering di Badung
Community empowerment is a process of activities that are carried out intentionally in an effort to increase the ability of the community to involve the community as empowerers and empowered communities. Good empowerment needs to design facilities in accordance with the empowerment activities carried out. One of them is empowerment based on dry land agriculture in South Kuta District. This facility is developed by considering the approach to user behavior. The purpose of the research is to find the right behavioral approach model for empowerment activities with data collection methods by literature studies and field observations. The results obtained show that each space that is formed can accommodate the behavior of its users so as to maximize the use of space and make users comfortable using the space.Pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan dengan sengaja dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat yang melibatkan masyarakat sebagai pemberdaya dan masyarakat yang diberdayakan. Pemberdayaan yang baik perlu dirancangan fasilitas yang sesuai dengan kegiatan pemberdayaan yang dilakukan. Salah satunya adalah pemberdayaan berbasis pertanian lahan kering di Kecamatan Kuta Selatan. Fasilitas ini dikembangkan dengan mempertimbangkan pendekatan terhadap perilaku pengguna. Tujuan penelitian adalah menemukan model pendekatan perilaku yang tepat terhadap kegiatan pemberdayaan dengan metode pengumpulan data dengan studi literatur dan observasi lapangan. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa tiap ruang yang terbentuk dapat mewadahi perilaku penggunanya sehingga memaksimalkan penggunaan ruang dan membuat pengguna nyaman menggunakan ruang tersebut