UNDAGI: Jurnal Ilmiah Arsitektur
Not a member yet
    201 research outputs found

    Pendekatan Antropometri Pada Ruang Bangun Panti Sosial Lansia Di Badung-Bali

    No full text
    Panti sosial lansia merupakan tempat dimana berkumpulnya orang-orang lanjut usia yang baik secara sukarela maupun diserahkan oleh pihak keluarga untuk dirawat dan diurus segala keperluannya. Namun kondisi panti sosial lansia yang sering dijumpai masih sangat minim memperhatikan ruang gerak dengan menggunakan  dimensi tubuh manusia (antropometri) untuk lansia itu dapat beraktivitas. Dimana antropometri merupakan pengukuran gerak tubuh dan dimensi tubuh manusia. Pendekatan antropometri dipilih pada panti sosial lansia ini guna menciptakan ruang-ruang dan hubungan antar ruang yang sesuai sehingga dapat membantu lansia menjalankan aktivitasnya secara mandiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menerapkan antropometri pada panti sosial lansia di Badung, guna memberikan kenyamanan dan keselamatan untuk lansia dalam beraktivitas pada panti sosial tersebut. Adapun metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Penerapan pendekatan antropometri pada panti sosial lansia ini diharapkan dapat mengurangi kecelakaan atau cedera pada lansia dalam beraktivitas secara mandiri

    Inovasi Joint Bambu Pada Tenda Tradisional Bali (Taring) Dengan Material Besi

    No full text
    Taring is a building that is often used as a shade during the Yadnya ceremony, in the workmanship of traditional Balinese taring the material used is bamboo with a fairly complicated manufacturing process and requires a long time span. Complicated work and a long time create a combination of materials used in the connection system, the material used is iron material. The combination of these connections occurs because on the basis of industrial needs with reasons for work efficiency. Tetaring with a combination of materials contained in the connection is targeted at weddings, ceremonial events, and others, for religious events it is not recommended to use this fang innovation, because the grip and meaning of traditional Balinese teeth are very influential in launching the course of religious ceremonies. This research will use a quantitative method approach by conducting experiments, collecting data and supporting journals to obtain information that will be used for consideration. The experimental method will be carried out directly by trying the product made, data collection in this study is by observing, documenting data in the form of photos, and other articles from journals and the internet.Taring merupakan bangunan yang sering digunakan sebagai peneduh pada saat berjalannya upacara yadnya, dalam pengerjaan tetaring tradisional bali bahan material yang dipakai adalah bambu dengan proses pembuatan yang cukup rumit serta membutuhkan rentang waktu yang lama selain itu untuk mengerjakannya membutuhkan banyak orang yang ahli dalam membuat tetaring. Pengerjaan yang rumit dan waktu yang lama tersebut membuat terciptalah sebuah kombinasi material yang digunakan pada system sambunganya, material yang digunakan adalah material besi. Kombinasi sambungan tersebut terjadi karena atas dasar kebutuhan industri dengan alasan untuk mengefisiensi pekerjaan. Taring dengan kombinasi material yang terdapat pada sambungan tersebut sasarannya yaitu pada acara pernikahan, acara ceremony, dan lainnya, untuk acara keagamaan tidak disarankan untuk menggunakan inovasi tetaring ini, dikarenakan pakem dan makna tetaring tradisional bali tersebut sangat besar pengaruhnya dalam melancarkan jalannya upacara agama. Penelitian ini akan menggunakan pendekatan dengan metode kuantitatif dengan melakukan percobaan, pengumpulan data dan jurnal pendukung untuk memperoleh suatu informasi yang akan digunakan untuk pertimbangan. Metode percobaan akan dilakukan langsung dengan mencoba produk yang dibuat, pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan cara melakukan observasi, dokumentasi data berupa foto, dan artikel lainnya dari jurnal dan internet

    Penerapan Konsep Green Architecture dalam Perancangan Hotel Resort di Kabupaten Tasikmalaya

    No full text
    To develop Indonesia's tourism industry, the government of the Republic of Indonesia has made the tourism industry a leading sector that can help boost Indonesia's economy. The government, especially West Java Province, focuses on developing the tourism industry in West Java by making big plans for world-class tourist destinations in West Java Province. To support this plan, it is necessary to get good facilities and infrastructure, one of which is accommodation facilities (resort hotels) which become a place for domestic or foreign tourists to stay. An increase in the number of tourists staying in West Java was 6.95% in 2016 and 2017, so it must be accompanied by an increase in the number of lodging accommodation The aim and purpose of the design of the Green Hotel Resort are to accommodate the increasing number of tourists who will stay in West Java and at the same time supporting the West Java Provincial Government's plans to create friendly tourist destinations. So that the theme of designing Green Hotel Resort is green architecture, which is expected to reduce environmental damage due to tourism and accommodation, due to the increase in the number of tourists to West Java Province. The design produced in this design is a hotel resort design that can maximize the potential in the site, that it can reduce energy use in buildings. This hotel resort not only functions as an accommodation facility, but is also equipped with a vehicle for educational tours of the craft and the unique culture of Tasikmalaya.Dalam rangka mengembangkan industri pariwisata Indonesia, pemerintah Republik Indonesia menjadikan sektor industri pariwisata sebagai sektor unggulan yang dapat membantu mendorong perekonomian Indonesia. Pemerintah, khususnya Provinsi Jawa Barat, memfokuskan pada pengembangan industri pariwisata di Jawa Barat dengan membuat rencana besar destinasi wisata kelas dunia Provinsi Jawa Barat. Untuk mendukung rencana tersebut, diperlukan pengadaan sarana dan prasarana yang baik, salah satunya adalah sarana akomodasi penginapan (resor hotel) yang menjadi wadah untuk wisatawan domestik atau mancanegara untuk tinggal sementara. Peningkatan jumlah wisatawan yang menginap di Jawa Barat sebanyak 6,95% di tahun 2016 dan 2017, sehingga harus disertai dengan penambahan jumlah akomodasi penginapan. Maksud dan tujuan dari perancangan Green Hotel Resort ini adalah untuk mewadahi peningkatan jumlah wisatawan yang akan menginap di Jawa Barat sekaligus mendukung rencana pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menciptakan destinasi wisata yang ramah lingkungan. Sehingga tema dari Perancangan Green Hotel Resort ini adalah tema arsitektur hijau, yang diharapkan mampu mengurangi kerusakan lingkungan akibat pariwisata dan akomodasi penginapan, karena adanya penambahan jumlah wisatawan ke Provinsi Jawa Barat. Produk desain yang dihasilkan pada perancangan ini berupa rancangan hotel resort yang bisa memaksimalkan potensi yang ada di dalam tapak sehingga bisa mengurangi penggunaan energi pada bangunan. Hotel resort ini tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas akomodasi penginapan saja tapi juga dilengkapi wahana wisata edukasi kria dan budaya khas Tasikmalaya

    Rancang Bangun Pusat Kuliner dan Pasar Ikan Di Desa Ketewel , Kabupaten Gianyar

    No full text
    Kekayaan alam Kabupaten Gianyar tidak hanya mampu dijadikan objek pariwisata, namun hasil lautnya dapat menjadi penghasilan bagi masyarakat setempat. Di Kabupaten Gianyar belum terdapat pasar ikan, salah satunya di Desa Ketewel Kecamatan Sukawati, Gianyar. Sasaran dari perencanaan dan perancangan Pasar Ikan di Desa Ketewel ini adalah para profesi nelayan dan masyarakat luas di Desa Ketewel,Kabupaten Gianyar, hasil laut tidak hanya dapat dipasok dari dalam wilayah Kabupaten Gianyar, namun pasokan juga dapat didatangkan dari luar daerah sekitar, jika terjadi cuaca buruk yang menyebabkan nelayan tidak berlayar maka pasokan ikan juga diperlukannya dari luar wilayah seperti nelayan dari daerah Karangasem , Badung dan sekitarnya. Selain sebagai tempat berjualan , pasar ikan ini juga bertujuan untuk menambah tujuan destinasi wisata baru di Kabupaten Gianyar dan menjadi ciri khas tersendiri  sebagai tujuan wisata berbelanja berbagai jenis produksi ikan dan wisata kuliner olahan ikan di Kabupaten Gianyar Bali

    Kriteria Desain Pusat Penelitian Dan Pameran Agrikultur Di, Petang, Badung, Bali

    No full text
    Tulisan ini membahas tentang kriteria desain dalam perancangan pusat penelitian dan pameran agrikultur yang dapat memberikan sebuah inovasi dan mendorong sektor agrikultur menjadi lebih maju dan berkembang. Penelitian dilakukan di daerah kecamatan Petang, kabupaten Badung, yang mana merupakan daerah pertanian di Bali dengan upaya meningkatkan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan.serta kurangnya daya tarik terhadap sektor agrikultur didorong oleh permasalahan yang dihadapi petani dan kurangnya pengembangan di dunia agrikultur. Dengan melakukan studi literatur dari berbagai sumber termasuk studi banding dengan fasilitas yang sudah ada di dalam maupun di luar negeri. Sehingga didapatkan hasil berupa spesifikasi ruang dan pengguna serta aktivitas yang akan dilakukan di dalam kawasan ini, dan juga bagaimana skema yang dirancang pada fasilitas ini baik dari segi arsitektur maupun keterkaitan nya dengan lingkungan dan sektor agrikultur itu sendiri yang mengimplementasikan arsitektur yang eksperimental dan menarik serta eksibisi dalam sektor pertanian untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebuah pusat penelitian dan pameran agrikultur yang dirancang dengan kriteria desain yang baik akan melahirkan sebuah inovasi baru yang secara eksperimental akan mampu menyelesaikan permasalahan di dalam sektor agrikultur terutama di daerah Bali

    Tektonika Kayu pada Museum Wiswakarma Sebagai Kajian Bentuk Struktur dan Tampilan Estetika

    No full text
    The structure is not only a construction element, but also can give birth to the aesthetics of the building. The beauty in these structures is called tectonics. The Wiswakarma Museum is a building that has beauty in its structure, so it has the potential to be explored using a tectonic approach. The tectonic concept applied using wood as the main material is called wood tectonics. Wood tectonics is a building construction system that uses wood materials and can produce an aesthetic appearance. The problem raised in this research is how to apply the concept of wood tectonic at the Wiswakarma Museum. This research was conducted with the aim of revealing the application of wood tectonics at the Wiswakarma Museum by paying attention to tectonic aspects (principle of stability, principle of strength/rigidity/rigid, principle of balance, principle of visual aesthetics of tectonic structures, and flow of load acceptance). This study uses a qualitative method that is descriptive or descriptive analysis that describes the tectonics of wood at the Wiswakarma Museum. The final result of this research is a study of wood tectonics at the Wiswakarma Museum so that later they can understand the tectonic aspects of the Wiswakarma Museum.Struktur bukan hanya sebagai elemen konstruksi, tetapi juga dapat melahirkan estetika bangunan. Keindahan dalam struktur tersebut disebut tektonika. Museum Wiswakarma merupakan bangunan yang memiliki keindahan dalam strukturnya, sehingga memiliki potensi untuk dieksplorasi dengan menggunakan pendekatan tektonika. Konsep tektonika yang diterapkan menggunakan material kayu sebagai material utamanya yang disebut tektonika kayu. Tektonika kayu merupakan sistem konstruksi bangunan yang menggunakan material kayu dan dapat menghasilan tampilan estetika. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana penerapan konsep tektonika kayu pada Museum Wiswakarma.  Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengungkapkan penerapan tektonika kayu pada Museum Wiswakarma dengan memperhatikan aspek-aspek tektonika (prinsip kestabilan, prinsip kekuatan/kaku/rigid, prinsip keseimbangan, prinsip estetika visual struktur tektonika, dan alur penerimaan beban). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat memaparkan atau deskriptif analisis yaitu menguraikan tektonika kayu pada Museum Wiswakarma. Hasil akhir dari penelitian ini adalah berupa kajian dari tektonika kayu pada Museum Wiswakarma sehingga nantinya dapat memahami aspek-aspek tektonika pada Museum Wiswakarma

    5 Elemen Pembentuk Citra Kota Di Kawasan Kota Lama Kupang

    No full text
    The elements that reveal the image of the city are the parts that make up the characteristics of the region. Elements that reveal the image of the city can be seen from kevin lynch theory (1960), divided into 5 elements, namely: Path (jaur), Edges (edges), District (Area), Nodes (nodes), Landmarks (tengeran). The purpose of this study is to find and find elements that reveal the image of the old city of kupang and want to try to solve problems found in the field such as 5 elements of urban imagery that are less visible in the old city area of Kupang, This study uses a rationalistic approach with qualitatively processed data. Data in the form of literature and maps are collected to see signs and findings in the field. Then devise a theoretical concept based on existing theories of research variables. In this research also carried out the process of method analysis of deduction, namely the effort to explain or predict the existence of facts / events at the research site according to the theoretical foundation that has been obtained. The findings of the study showed that at some point in the old city already revealed elements forming the image of the old city of Kupang which was influenced by the elements forming the city area in line with the socio-cultural and economic development of the people in the region.Elemen-elemen yang mengungkapkan citra kota merupakan bagian-bagian yang membentuk karakteristik kawasan. Elemen - elemen yang mengungkapkan   citra  kota dapat dilihat dari  teori  Kevin Lynch (1960), dibagi menjadi 5 elemen yaitu : Path (jaur), Edges (tepian), District (Kawasan), Nodes (simpul), Landmark (tengeran). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menemukan elemen-elemen yang mengungkapkan citra kota lama kupang dan ingin mencoba memecahkan masalah yang di temukan di lapangan  seperti 5 elemen citra kota yang kurang nampak di area kota lama kupang, Penelitian ini menggunakan pendekatan rasionalistik dengan data yang diolah secara kualitatif. Data berupa literatur dan peta dikumpulkan untuk melihat tanda-tanda dan temuan di lapangan. Kemudian menyusun konsepsualisasi teoritik berdasarkan teori¬teori yang ada dari variabel penelitian. Dalam penelitian ini juga dilakukan proses Metode Analisa deduksi yaitu usaha menjelaskan atau meramalkan tentang adanya fakta/ kejadian di lokasi penelitian menurut landasan teori yang sudah diperoleh. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pada  beberapa titik di kota lama sudah mengungkapkan elemen – elemen pembentuk citra kota lama kupang yang  dipengaruhi oleh elemen-elemen pembentuk kawasan kota yang sejalan dengan perkembangan sosial budaya dan ekonomi masyarakat dalam kawasan

    Gaya Arsitektur di Kawasan Kota Tua Jalan Gajah Mada, Denpasar

    No full text
    The old town area on Jalan Gajah was used as a trading center. This area is motivated by old buildings that functioned as shops. These old buildings are categorized as cultural heritage buildings or heritage buildings in the heritage area of Jalan Gajah Mada which have aesthetic values from both exterior and interior. The buildings in the old city area on Jalan Gajah Mada have various architectural styles. This study aims to determine how the architectural style of the existing buildings in the Gajah Mada street area using a qualitative descriptive method. Data collection is done through direct observation of the object of research. The results showed that the architectural style in the Old Town area of Jalan Gajah Mada applied 3 architectural styles, namely, traditional Balinese, Chinese and Colonial architectural styles. The three architectural styles are unique in each of their respective styles. In the development of Denpasar City, the buildings that still exist are made into cultural heritage or heritage buildings that should be maintained by the architectural style of the buildingKawasan kota tua di Jalan Gajah difungsikan sebagai pusat perdagangan. Kawasan ini dilatar belakangi oleh bangunan-bangunan tua yang difungsikan sebagai pertokoan. Bangunan-bangunan tua ini dikatagorikan sebagai gedung warisan budaya atau heritage building di kawasan heritage Jalan Gajah Mada yang memiliki nilai estetik dari eksterior maupun interior. Bangunan yang ada pada kawasan kota tua jalan Gajah Mada mempunyai gaya arsitektur yang bermacam-macam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gaya arsitektur bangunan yang ada pada kawasan jalan Gajah Mada menggunakan metode deksriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan langsung pada objek penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa gaya arsitektur yang ada pada kawasan kota tua jalan Gajah Mada menerapkan 3 gaya arsitektur yaitu, gaya arsitektur tradisional Bali, Tionghoa dan Kolonial. Ketiga gaya arsitektur tersebut memiliki keunikan pada setiap gayanya masing-masing. Dalam perkembangan Kota Denpasar, bangunan - bangunan yang masih ada di jadikan warisan   budaya atau heritage building yang patut dipertahankan gaya arsitektur bangunan

    Peta Aksesibilitas (Denpasar Accessible Map) Bagi Penyandang Disabilitas di Ruang Publik Kota: Menuju Kota Denpasar Ramah Disabilitas

    No full text
    Inevitably, accessibility for priority users, such as children, the elderly, disabled and pregnant women, is a problem that is often found in public spaces in almost most major cities in Indonesia. The design of urban public spaces, such as city parks, malls and shops, pedestrian paths, markets, terminals, campuses or schools, has not made it easy for priority users to realize equal opportunities in all aspects of life, including accessibility to urban public spaces. The existence of the Denpasar City program towards a child-friendly, elderly-friendly city, green open space and towards a smart city encourages all parties to pay attention to facilities in the city's public spaces. Not only the Denpasar City Government attention but also academics are expected to be able to contribute to public space concepts that are accessible to all users. This study with the title: Accessibility Map (Denpasar Accessible Map) for Persons with Disabilities in City Public Spaces: Towards a Disability Friendly Denpasar City aims to help people with disabilities access public facilities and get the same services as other communities. The strategy is carried out by the use of information technology from the concept of the Smart City of the Denpasar City Government to socialize the empowerment program for persons with disabilities and to make the City of Denpasar Friendly with Disabilities (Inclusive Cities).Tidak dapat dipungkiri lagi, aksesibilitas bagi pengguna prioritas, seperti anak-anak, lansia, difabel, dan ibu hamil, merupakan masalah yang sering dijumpai pada ruang-ruang publik di hampir sebagian kota besar di Indonesia. Desain ruang publik kota, seperti pada taman kota, mall dan pertokoan, jalur pedestrian, pasar, terminal, kampus atau sekolah, belum memberikan kemudahan bagi pengguna prioritas untuk mewujudkan kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan, termasuk aksesibilitas ke ruang publik kota. Adanya program Kota Denpasar menuju kota ramah anak, ramah lansia, ruang terbuka hijau serta menuju smart city mendorong semua kalangan memperhatikan fasilitas pada ruang publik kota. Tidak hanya menjadi perhatian Pemerintah Kota Denpasar, tetapi juga kalangan akademisi diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada konsep-konsep ruang publik yang aksesibel terhadap semua pengguna. Penelitian ini dengan judul: Peta Aksesibilitas (Denpasar Accessible Map) Bagi Penyandang Disabilitas di Ruang Publik Kota: Menuju Kota Denpasar Ramah Disabilitas bertujuan untuk membantu para penyandang disabilitas mengakses fasilitas publik serta mendapatkan layanan yang sama dengan masyarakat lainnya. Strategi dilakukan dengan pemanfaatan teknologi Informasi dari konsep Smart City Pemerintah Kota Denpasar untuk mensosialisasikan program pemberdayaan penyandang disabilitas dan mewujudkan Kota Denpasar Ramah Disabilitas (Kota Inklusif)

    Revitalisasi Taman Festival Bali dengan Pendekatan Adaptive Reuse di Kota Denpasar

    No full text
    Revitalisasi menjadi upaya dalam menghidupkan kembali bangunan/ kawasan bersejarah yang mengalami penurunan, memiliki potensi dan nilai strategis yang dapat dimanfaatkan sehingga meningkatkan produktivitas ekonomi, sosial dan budaya. Pemilihan lokasi penelitian ini yaitu berada pada Taman Festival Bali di Kota Denpasar, Taman ini menjadi salah satu bangunan/ kawasan heritage di Kota Denpasar. Lokasi penelitian ini didasari dengan dasar pertimbangan, bangunan yag tak terpakai harus memiliki nilai histori, sosial, dan budaya yang dapat diangkat dan dipertahankan, serta lokasi yang strategis dan infrastruktur kota yang memadai. Taman Festival Bali mengalami degradasi, dan perlu adanya upaya untuk memvitalkan kembali dengan fungsi dan lingkungan yang lebih fleksibel dan menarik bagi masyarakat, seniman, maupun komunitas untuk berinteraksi, bekerja, dan mengenang memori masa lalu dari Taman Festival Bali, dengan begitu lambat laun Taman Festival Bali akan menemukan dirinya sendiri, dan menghilangkan rumor mistis yang menyebar. Penelitian ini mengkaji Aset Taman Festival Bali dan dapat digunakan sebagai awal dari kehidupan baru di Taman Festival Bali, dengan menerapkan intervensi yang cocok digunakan pada Taman Festival Bali ini. Hasil penelitian ini memperoleh desain yang dapat memvitalkan kembali Taman Festival Bali dengan menghubungkan dan menciptakan keharmonisan antara lama dengan baru, antara sejarah dengan masa depan

    0

    full texts

    201

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    UNDAGI: Jurnal Ilmiah Arsitektur
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇