UNDAGI: Jurnal Ilmiah Arsitektur
Not a member yet
201 research outputs found
Sort by
Perencanaan Co-Working Space di Padangsambian Klod dengan Pendekatan Arsitektur Biophilic
Kondisi ekonomi saat ini sudah memasuki era ekonomi kreatif dan berkembang pesat di Indonesia yang dimana didominasi oleh generasi milenial (1981-2000). Data menyebutkan sekitar 80% generasi milenial mengakses informasi melalui media sosial setiap harinya. Generasi milenial awalnya tumbuh dengan pikiran suasana kerja yang mengerikan. Berdasarkan data The American Institute of Stress, 65% pemicu dari stres berkaitan dengan tempat kerja itu sendiri dan lingkungannya. Karena itu, generasi milenial berusaha membuat iklim ruang kerja yang menyenangkan. Co-working space adalah solusi bagi pengguna untuk bekerja dan belajar saling berinteraksi, bertukar informasi, dan berkolaborasi dengan menambahkan pendekatan biophilic di dalamnya, akan mewujudkan satu ikatan biologi antara kesehatan dan desain dengan alam sebagai penghubung utama dan mampu menghadirkan interaksi atau hubungan manusia dengan tanaman guna menciptakan energi positif terhadap kesehatan psikologi terlepas dari sumber daya dan iklim. Tujuan penelitian menghasilkan bentuk ruang dan konsep perencanaan dan perancangan co-working space dengan pendekatan architecture biophilic dan untuk menjembatani kembali ikatan antara manusia dan alam yang akibat transisi gaya hidup modern ini mulai terpisahkan. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif-eksploratif untuk menganilisis teori serta mengumpulkan data mengenai pendekatan biophilic. Hasil penelitian yaitu berupa program-program dan desain konsep perencanaan dan perancangan co-working space dengan pendekatan arsitektur biophilic
Adaptasi Rumah Adat Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng dengan Penyandang Disabilitas
A traditional house or building that has its own identity in a certain area that is made into a place of residence by the smallest institution in a tribe or community group, namely the family. Different regions have different forms of the traditional house itself, it all depends on the culture and environmental conditions of the area of ​​the house, all of which have their own characteristics. But now many traditional houses have been abandoned by the community and more have shifted to modern buildings. The transition from traditional houses to modern homes is not without reason, but because modern homes are more comfortable to live in than modern homes. The comfort of living in a traditional house will be very lacking for people who have physical deficiencies or disabilities. Disability is not only mentioned for people who have physical deficiencies but people who have intellectual, mental, and sensory deficiencies are also called people with disabilities. For people who have physical limitations or disabilities, they often have difficulty in carrying out activities due to the lack of disability-friendly facilities in their scope, especially at home.Rumah adat atau bangunan yang memiliki identitas tersendiri pada suatu daerah tertentu yang di jadikan tempat hunian oleh lembaga terkecil pada suatu suku atau kelompok masyarakat yaitu keluarga. Beda daerah berbeda pula bentuk dari rumah adat itu sendiri, semua itu bergantung dari kebudayaan serta keadaan lingkungan dari daerah rumah tersebut, semua memiliki ciri khasnya masing-masing. Namun kini rumah adat sudah banyak di tinggalkan oleh masyarakat dan lebih banyak untuk beralih ke bangunan modern. Peralihan rumah adat ke rumah modern bukan tanpa sebab melainkan karena rumah modern lebih nyaman untuk di tinggali kebanding dengan rumah modern. Kenyamanan tinggal pada rumah adat akan sangat di rasa kurang bagi orang yang memiliki kekurangan fisik atau disabilitas. Disabilitas tidak hanya disebutkan untuk orang yang mengalami kekurangan pada fisik tetapi orang yang mengalami kekurangan pada intelektual, mental,dan sensorik juga disebut penderita disabilitas. Bagi orang yang mengalami keterbatasan fisik atau disabilitas sering mengalami kesulitan dalam beraktifitas karengan kurangnya fasilitas yang ramah disabilitas pada ruang lingkupnya terutama di dalam rumah.
 
Pendekatan Healing Environment untuk Perancangan Pusat Pelayanan Terapi dan Rumah Singgah Kanker Anak di Denpasar
Kanker merupakan penyakit yang cukup serius di Indonesia, khususnya jumlah pasien kanker anak di Bali kian meningkat setiap tahunnya. Permasalahan yang ada adalah kanker berdampak buruk tidak hanya pada aspek kesehatan fisik namun juga psikologis pada pasien, Pemulihan diperburuk oleh minimnya fasilitas pengobatan kanker anak yang didukung lingkungan pemulihan yang baik. Untuk mengatasi permasalahan ini dibutuhkan fasilitas pusat pelayanan terapi dan rumah singgah kanker anak yang mampu mendukung percepatan pemulihan pasien kanker anak. Suasana dan lingkungan merupakan salah satu elemen yang dapat mempengaruhi perkembangan penyembuhan. Kajian ini bertujuan untuk mendesain pusat pelayanan terapi dan rumah singgah kanker anak yang menerapkan pendekatan healing environment dan tema arsitektur modern tropis. Metode yang digunakan dalam paper ini adalah deskriptif kualitatif dan programatik yang bertujuan menganalisis sesuai dengan fakta dan kondisi sebenarnya. Hasilnya digunakan sebagai pendekatan desain dan diperkaya dengan konsep healing environment dan tropis modern.Penerapan konsep healing environment pada bangunan pusat pelayanan terapi dan rumah singgah kanker anak tmencakup penerapan konsep unsur panca indra dan unsur hubungan lingkungan terbangun dengan alam sekitar dan unsur penyembuhan psikologis. Adapun konsep healing environment secara fisik diwujudkan dalam desain fasilitas terapi kanker dan rumah singgah dengan memaksimalkan pencahayaan dan penghawaan alamiah, integrasi unsur alam dalam ruang, kontrol kebisingan, aspek warna menenangkan, kenyamanan visual, aroma dan penggunaan material alamiah. Hasil penerapan pendekatan healing environment dapat menghasilkan desain fasilitas terapi kanker anak dan rumah singgah yang suportif dan membantu proses pemulihan pasien kanker anak
Material Lokal di Bali Utara
As a Regency with the largest area on the island of Bali, Buleleng Regency has a wealth of natural materials that are used as building materials by the community, has a wet and dry tropical climate as well as a topographical diversity ranging from highlands, lowlands, to coastal areas, making the region unique. diversity of vegetation and rock layers. The geographical conditions in Buleleng Regency are represented in the buildings in the area, both in community buildings and tourism accommodation buildings. In the eastern part of Buleleng Regency, namely in Tejakula District, there were 14 types of materials that were successfully observed. The materials available are very diverse, ranging from foundation materials, pile structures, to roofs. There are various ways of processing materials used as building materials, ranging from traditional methods to those that have received a touch of technology. Utilization of natural materials around the Tejakula area is important in an effort to maintain a more friendly environment for nature, where local materials have properties that are more adaptable to the natural surroundings, as well as the embodiment of sustainable architecture that exists there, so as to create environmental harmony.
Sebagai Kabupaten denagn Luas wilayah paling besar di Pulau Bali, Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan material alam yang dimanfaatkan sebagai bahan bangunan oleh masyarakat, memiliki iklim tropis basah dan kering juga dengan keragaman tofografi mulai dari dataran tinggi, dataran rendah, hingga Kawasan pesisi membuat wilayah tersebut memiliki keragaman vegetasi dan lapisan bebatuan. Kondisi geografis yang ada di Kabupaten Buleleng direpresentasikan ke dalam bangunan-bangunan yang ada di wiayah tersebut, baik pada bangunan masyarakat maupun bangunan akomodasi pariwisata. Pada wilayah Kabupaten Buleleng bagian timur yaitu di Kecamatan Tejakula, terdapat 14 jenis material yang berhasil diamati. Material yang terdapat sangat beragam mulai dari material pondasi, struktur tiang, hingga atap. Terdapat beragam cara dalam pengolahan material yang digunakan sebagai bahan bangunan, mulai dari cara tradisional hingga yang sudah mendapat sentuhan teknologi. Pemanfaatan material alam yang ada di sekitar wilayah Tejakula menjadi penting dalam upaya menjaga lingkunan yang lebih ramah terhadap alam, dimana material lokal memiliki sifat yang lebih mudah beradaptasi dengan alam sekitarnya, juga sebagai perwujudan arsitektur berkelanjutan yang terdapat disana, sehingga terciptanya keharmonisan lingkungan
Penerapan Konsep Humanistik pada Desain Glam Camp Di Kintamani, Bangli
Glam camp di Daerah Kintamani menjadi salah satu alternatif fasilitas wisata yang yang sangat diminati oleh wisatawan domestik maupun manca negara yang sedang menikmati liburan di Pulau Bali beberapa tahun terakhir. Masih terdapat banyak permasalahan dari sisi manajemen dan desain dari fasilitas wisata alam glam camp di Daerah Kintamani sesuai data survey yang didapat untuk tujuan penyediaan pelayanan yang ideal bagi pengunjung. Beberapa permasalahannya adalah kurang nyamannya penataan area Glam camp, hubungan antar massa yang terlalu padat dan minimnya penyediaan fasilitas penunjang dan servis untuk yang menginap, akses lokasi yang sulit di jangkau dan tidak tertata serta pemanfaatan view yang kurang maksimal. Pendekatan konsep humanistic untuk perencanaan Glam camp di Kintamani ini dipilih sebagai solusi dalam menyelesaikan permasalahan desain secara umum dan memastikan kenyamanan pengguna dalam beraktifitas. Konsep Humanistik adalah konsep yang berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi dalam berwisata alam sehingga akan terciptanya rasa keamanan, kenyamanan dan kepuasan bagi pengunjung pada tempat wisata ini. Metode yang digunakan dalam paparan ini adalah motode deskriptif kualitatif dan programatik. Luaran desain Glam camp di Kintamani, Bali yang menerapkan konsep Humanistik ini adalah desain glam camp yang bisa menjawab kebutuhan pengunjung baik dari segi kelengkapan fasilitas, pelayanan pengunjung dan keamanan pengunjung yang utama. Untuk tampilan bangunan yang mampu berintegrasi dengan konteks lingkungan diterapkan tema Arsitektur Tropis yang sangat sesuai dengan fungsi glam camp pada seting lingkungan alamiah di Kintamani, Bangli
Bambu Sebagai Material Fleksibel
In the world of architecture, the use of materials is one of the things that must be considered in designing buildings. In the field of tectonics, the choice of material as a structure is important. Materials that we often see such as wood, concrete, iron and others are the preparation of the basic elements of the building structure. But today there is another material that will be a substitute for the material mentioned above, namely bamboo. Bamboo itself is often encountered, it indicates that bamboo is a material that is easy to find and has its own characteristics. Many people know that bamboo is a flexible, unique and universal material as a building material. In addition, there are other reasons why bamboo can be chosen because it is a renewable material and pollutes the environment less than today's modern materials. With this research, it is hoped that it can build an alibi for people who consider bamboo as a low-class material and incompetent compared to similar materials. This study will explain how bamboo can be compared with similar materials and also the advantages if bamboo is used as a building material or structure.Didunia Arsitektur penggunaan material adalah 1 dari sekian hal yang harus diperhatikan dalam merancang bangunan. Pada bidang tektonika, pemilihan material sebagai struktur adalah hal yang penting. Sering kali material yang kita lihat seperti kayu , beton , besi dan lain lain merupakan penyusunan elemen dasar dari struktur bangunan tersebut. Namun dewasa ini ada material lain yang akan menjadi subtitusi dari material yang disebutkan tadi , yaitu bambu. Bambu sendiri sering kita temui, itu menandakan bambu ialah material yang mudah untuk dicari dan memiliki ciri khasnya sendiri. Banyak orang mengetahui bahwa bambu itu material yang fleksibel , unik dan bersifat universal sebagai material bangunan. Belakangan ini banyak pihak yang melirik material bambu karena kesan yang dihadirkan tidak ada pada bangunan lainya, hanya dengan bambu saja. Selain itu juga ada alasan lain kenapa bambu bisa dipilih karena merupakan material yang dapat diperbaharui dan dalam mencemari lingkungan lebih sedikit dibanting dengan material modern saat ini. Dengan adanya penelitian diharapkan bisa membanguna alibi masyarakat yang menganggap bambu sebagai material kelas rendah dan tidak berkompeten disbanding dengan material sejenisnya. Dalam penelitian ini akan menjelaskan bagaimana bambu tersebut bisa dibandingkan dengan material sejenisnya dan juga seberapa menguntungkannya bambu jika dipakai sebagai bahan atau struktur bangunan
Strategi Desain Bangunan Hospitality yang Mampu Beradaptasi di Masa Pandemi
The Covid-19 pandemic has hit the world, and Indonesia is also one of them. This pandemic is caused by a virus of the Coronavirus group, namely SARS-CoV-2 or often called Covid-19. This virus can infect the respiratory system, ranging from mild flu to death. The spread of this virus is classified as very fast because through the mouth when coughing or sneezing, this virus can also be transmitted through direct contact with infected people. Therefore, this virus spreads quickly in crowded places. To prevent the rapid spread of the virus, the government is carrying out a program in which people's activities are outside their homes. This restriction is done to reduce activities that can cause crowds. The government also recommends that people reduce the use of air conditioning, optimize natural ventilation and increase the use of sunlight, this can reduce the spread of the virus. Therefore, this study aims to implement strategies that can prevent the spread of Covid-19 in buildings. The COVID-19 pandemic has hit the world, and Indonesia is also included in it. This pandemic is caused by a virus of the Coronavirus group, namely SARS-CoV-2 or often called Covid-19. This virus can infect the respiratory system, ranging from mild flu to death. The spread of this virus is classified as very fast because through the mouth when coughing or sneezing, this virus can also be transmitted through direct contact with infected people. Therefore, this virus spreads quickly in crowded places. To prevent the rapid spread of the virus, the government is carrying out a program in which people's activities are outside their homes. This restriction is done to reduce activities that can cause crowds. The government also recommends that people reduce the use of air conditioning, optimize natural ventilation and increase the use of sunlight, this can reduce the spread of the virus. Therefore, this study aims to implement strategies that can prevent the spread of Covid-19 in buildingsPandemi Covid- 19 melanda dunia, dan Indonesia juga termasuk ke dalamnya. Pandemi ini disebabkan oleh virus golongan Coronavirus yakni SARS -CoV-2 atau sering disebut Covid-19. Virus ini dapat menginfeksikan sisitem pernapasan, mulai dari flu ringan sampai kematian. Penyebaran virus ini tergolong sangat cepat karena melalui mulut saat batuk atau bersin, virus ini juga dapat ditularkan melalui kontak langusng dengan orang yang terinfeksi. Maka dari itu virus ini cebat menyebar di tempat – tempat yang ramai. Untuk mencegah cepatnya terjadi penyebaran virus, pemerintah melalukan program yang dimana aktivitas – aktivitas masyarakan di luar rumah tinggal. Pembatasan ini di lakukan untuk mengurang kegiatan yang dapat menimbulkan kerumunan. pemerintah juga menganjurkan untuk masyarakan mengurang penggunaan AC, mengoptimalkan penghawaan alami dan memperbanyak menggunakan cahaya matahari,hal ini dapat mengurangi penyebaran virus. maka dari itu penelitian ini bertujuan menerapkan strategi yang dapat mencegah penyebaran Covid-19 pada bangunan
Fotografi Arsitektur Eksterior dan Landscape di Perkotaan
Photography starts from recording a reality into the medium of storage as accurately as possible. In line with the development of human life, photography also developed, among others, into a medium of artistic expression, including in architectural photography. Urban landscape is a term that refers to something related to urban exploration. Urban itself means an area that serves as a residence, a central distribution that has self-government, and economic activities based not just on agriculture. It can be said that urban landscape photography shows a picture of the area with the situation in an urban area or suburb. By looking at urban landscape photography we can see record events and atmosphere in an area consisting of roads, buildings, parks, and infrastructure that supports the people in it. Night Photography is a type of theme flow in The Art of Photography that makes the natural panorama at night a beautiful and interesting photo object. Night Photography or Photography Tonight presents a night atmosphere or Landcape conditions at night decorated with light grains of lights or stars in the sky.Fotografi bermula dari merekam suatu realitas ke dalam media penyimpan seakurat mungkin. Sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia, fotografi juga berkembang, antara lain menjadi media ekspresi seni, termasuk juga dalam fotografi arsitektur. Landscape perkotaan adalah istilah yang mengacu pada sesuatu yang berhubungan dengan eksplorasi perkotaan. Perkotaan sendiri berarti suatu kawasan yang berfungsi sebagai tempat tinggal, persebaran pusat yang memiliki pemerintahan sendiri, dan kegiatan ekonomi yang berbasis bukan hanya pada pertanian. Dapat dikatakan bahwa fotografi landscape perkotaan menunjukkan gambaran dari daerah tersebut dengan situasi di daerah perkotaan atau pinggiran kota. Dengan melihat fotografi landscape perkotaan kita dapat melihat rekor kejadian dan suasana di kawasan yang terdiri dari jalan, gedung, taman, dan infrastruktur yang mendukung orang-orang di dalamnya. Fotografi Malam adalah jenis aliran tema dalam Seni Fotografi yang menjadikan panorama alam pada malam hari sebagai objek foto yang indah dan menarik. Night Photography atau Fotografi Malam ini menyajikan sebuah suasana malam atau kondisi Landcape pada malam hari yang dihiasi butiran-butiran cahaya lampu atau bintang di langit
Karakteristik Ruang Jalan Melalui Metoda Analisis Kuantitatif Untuk Arahan Rancang Kawasan Pariwisata di Pusat Kota Semarapura
Semarapura City offers a spatial layout in the City Center which is friendly to tourists who have limited visiting time and has the City Area into four areas with different functions known as Catuspata. In this research, the Catuspata area becomes the center of object orientation where the road space intended for the design direction of the tourism area will be along the road space. How will the strategic potentials in the development of a tourist city, city structure and tourism area as well as road space in the form of street floors and street walls will be defined. The method used is quantitative by collecting data on physical objects in the field objectively, then measuring it with predetermined variables and displaying it in numerical form, then doing a rationalistic analysis. The analysis is based on considerations of categorization, the uniqueness of the place, the shape and situation of the site, as well as certain functions. The results and findings are very visible, in the form of a new form of Semarapura city which is no longer a royal city due to changing activities and needs of the community. The interest of the street space where the trade is more oriented for tourists. The findings from the visual point of view of the area resulted in the solid-void façade characteristics, rhythm and openings that had an effect on the quality of road space. Thus, the analysis of the structure of the city, building variables, street furniture and tourism activities that occur are findings from the characteristics of the road space which can serve as a direction for how the planning of the city's tourism area is made.Kota Semarapura menawarkan tata ruang pada Pusat Kota yang ramah untuk wisatawan yang memiliki waktu kunjung terbatas dan memiliki Kawasan kota menjadi empat area dengan fungsinya yang berbeda yang disebut sebagai Catuspata. Dalam penelitian ini, wilayah Catuspata tersebut menjadi pusat orientasi objek penelitian dimana ruang jalan yang dimaksud untuk arahan rancang kawasan pariwisata akan berada disepanjang ruang jalan tersebut. Bagaimana potensi strategis dalam pengembangan kota wisata, struktur kota dan Kawasan pariwisata serta ruang jalan berupa street floor dan street wall akan didefinisikan. Metoda yang digunakan adalah kuantitatif dengan cara mengumpulkan data objek fisik yang ada dilapangan secara objektif, lalu mengukur dengan variable-variable yang sudah ditentukan dan menampilkannya dalam bentuk angka, kemudian dilakukan Analisa secara rasionalistik. Analisa didasarkan atas pertimbangan kategorisasi, keunikan tempat, bentuk dan situasi tapak, serta fungsi-fungsi tertentu. Hasil dan temuan yang sangat terlihat, berupa bentuk baru kota semarapura yang tidak lagi menjadi kota kerajaan akibat dari perubahan aktivitas dan kebutuhan masyarakat. Kepentingan ruang jalan dimana perdagangan yang lebih berorientasi untuk wisatawan. Temuan dari segi visual Kawasan menghasilkan ciri khas solid-void fasad, irama serta bukaan yang berpengaruh pada kualitas ruang jalan. Dengan demikian, Analisa mengenai struktur kota, variabel bangunan, street furniture dan kegiatan wisata yang terjadi merupakan temuan-temuan dari karakkteristik ruang jalan yang nantinnya dapat menjadi arahan bagaimana perencanaan Kawasan pariwisata kota ini dibuat
Pekarangan Produktif untuk Pemenuhan Kebutuhan dan Ketahanan Pangan Kota Jakarta
With a population of more than 10 million people, DKI Jakarta has a challenge to meet their food needs. The lack of food production in the city makes DKI Jakarta dependent on other regions for food. There is an urgent need of alternative solution to help DKI Jakarta meet its food needs. The implementation of urban farming is seen as an alternative to tackle this challenge. By conducting urban farming, food production is not limited to locations that are regulated in regulations so that the use of private land become possible. Considering that 48.41% of DKI Jakarta is a residential area, this area holds a great potential to optimize urban farming practice, especially if there is an optimal utilization of the house yard. In addition, stakeholder engagement is essential for a more effective, massive, and sustainable practice of urban farming. The optimal collaboration among Penta Helix stakeholders becomes the main goal. As DKI Jakarta is a dense city, solutions are needed to conduct urban farming in narrow areas. It is hoped that innovative architectural interventions can replace the role of the house yard as a media of conducting urban farming. This research/article also encourages further writing and/or research related to the issue of meeting food needs and increasing food security in DKI Jakarta, especially related to optimizing stakeholder engagement and more comprehensive and detailed architectural interventions to facilitate implementation in the field.Dengan jumlah penduduk lebih dari 10 Juta jiwa, pemenuhan kebutuhan pangan di DKI Jakarta menjadi tantangan tersendiri. Minimnya produksi pangan dalam kota membuat DKI Jakarta bergantung kepada daerah lain untuk memenuhi kebutuhan pangan kotanya. Diperlukan sebuah alternatif solusi untuk membantu DKI Jakarta memenuhi kebutuhan pangannya. Pelaksanaan pertanian perkotaan (urban farming) menjadi salah satu alternatif agar upaya pemenuhan kebutuhan dan ketahanan pangan dapat lebih optimal. Dengan pertanian perkotaan, produksi pangan tidak hanya terpaku pada lokasi yang diatur dalam regulasi sehingga penggunaan lahan pribadi dapat dimungkinkan. Mempertimbangkan bahwa sebesar 48,41% wilayah DKI Jakarta merupakan kawasan perumahan, kawasan ini mengandung potensi besar untuk mengoptimalkan pertanian perkotaaan terutama apabila dapat memanfaatkan pekarangan rumah. Selain itu, diperlukan keterlibatan pemangku kepentingan untuk pertanian perkotaan yang lebih efektif, masif, dan berkelanjutan. Kolaborasi antarpemangku kepentingan penta helix yang optimal menjadi tujuan utama. Dengan padatnya DKI Jakarta, diperlukan solusi untuk pertanian perkotaan di lahan sempit. Intervensi arsitektur yang inovatif diharapkan dapat menggantikan peran pekarangan sebagai sarana pelaksanaan pertanian perkotaan. Penelitian/artikel ini juga mendorong adanya penulisan dan/atau penelitian lanjutan terkait isu pemenuhan kebutuhan dan peningkatan ketahanan pangan di DKI Jakarta, terutama terkait optimalisasi pelibatan pemangku kepentingan dan intervensi arsitektur yang lebih komprehensif dan rinci untuk mempermudah implementasi di lapangan