UNDAGI: Jurnal Ilmiah Arsitektur
Not a member yet
201 research outputs found
Sort by
Kajian Kenyamanan Termal Bale Meten Sakutus di Seminyak, Kabupaten Badung – Bali
Bale meten in Balinese architecture is one of the buildings in the yard of a traditional Balinese house that has a function as a place to store heirloom objects (it can also be called a sacred space) or as a place to sleep for the oldest person. The application of sakutus on the bale meten in the indoor area is a solution for the outside air gap to enter the room. Bale Meten Sakutus with Kampiah roof construction also functions as air circulation as well as the gap between the roof and the wall. The application of sustainable principles is very clearly applied to Balinese architectural buildings, both from the use of natural air and natural light. The loss of sakutus in the space in the bale meten indirectly causes changes in the circulation of air in and out. The closure of the gap between the wall and the roof due to the use of the ceiling may make air circulation not smooth anymore. The proof of the thermal comfort of an architecture that is still strong with traditional values ​​and principles is the subject of this research. The method chosen for the implementation of this research is a mixed method with a focus on site or field research. The object of research in the form of bale meten will consist of two types in the same location, if necessary, it is a house or yard that is adjacent / neighboring in order to obtain optimal and objective data. Measurements were made on the same day and hour with the help of measuring instruments and temperature data from Google at the time of data collection.Bale meten dalam arsitektur Bali adalah salah satu bangunan dalam pekarangan rumah adat Bali yang mempunyai fungsi sebagai tempat menyimpan benda pusaka (bisa juga disebut ruang suci) atau sebagai tempat untuk tidur bagi orang yang paling tua di pekarangan tersebut. Penerapan sakutus pada bale meten di areal ruang dalam (indoor area) jika diperhatikan merupakan sebuah solusi untuk celah udara luar agar dapat masuk ke ruangan. bale meten sakutus dengan konstrusi atap kampiah juga berfungsi sebagai sirkulasi udara seperti halnya celah antara atap dan dinding. Penerapan prinsip berkelanjutan sangat jelas diterapkan pada bangunan arsitektur Bali baik dari pemanfaatan udara alami dan cahaya alami. Hilangnya saka kutus pada ruang dalam bale meten secara tidak langsung menyebabkan perubahan sirkulasi udara masuk dan keluar. Tertutupnya celah antara dinding dan bagian atap karena penggunaan plafond kemungkinan membuat sirkulasi udara tidak lancar lagi. Pembuktian tentang kenyamanan termal dari sebuah arsitektur yang masih kuat dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip tradisionalnya menjadi pokok penelitian ini. metode yang dipilih untuk pelaksanaan penelitian ini adalah mixed method dengan berfokus pada penelitian lapangan atau field research. Objek penelitian berupa bale meten akan terdiri dari dua jenis di satu lokasi yang sama bila perlu merupakan rumah atau pekarangan yang berdekatan/bertetangga. Hal tersebut dilakukan guna mendapatkan data yang optimal dan objektif. Pengukuran dilakukan di hari dan jam yang sama dengan bantuan alat ukur serta data suhu dari google di jam pengumpulan data
Potensi Pengembangan Co-housing Sebagai Tipologi Hunian Masyarakat Milenial Dengan Strategi Pendekatan Arsitektur Tumbuh Di Kota Denpasar
Generasi milenial merupakan generasi dengan jumlah populasi terbanyak di Indonesia saat ini serta pertumbuhannya yang terus berkembang, sehingga keperluan mengenai tempat tinggal yang layak huni menjadi hal penting bagi mereka. Namun, belakangan ini generasi milenial diisukan sulit untuk memiliki rumah sendiri. Studi ini membahas mengenai potensi co-housing sebagai tipologi hunian yang dapat membantu generasi milenial untuk bisa mempunyai rumah sendiri. Penelitian ini berupaya untuk menyusun Co-housing sebagai tipologi hunian dengan menyesuaikan kondisi finansial masyarakat milenial, mulai dari penerapan material bangunan yang terjangkau, rencana pembiayaan secara komunitas, dan penerapan ruang bersama bagi komunitas. Usulan ini pun diimbangi dengan strategi berupa pendekatan arsitektur tumbuh sebagai solusi merencanakan ruang secara bertahap yang sesuai kebutuhan, baik dari sisi finansial maupun segi pekerjaan dari masing – masing pengguna. Hasil penelitian menunjukan, dengan diterapkanya strategi berupa penerapan material bangunan terjangkau, perencanaan ruang secara bertahap, serta ruang yang dapat digunakan secara bersama membantu generasi milenial untuk dapat mempunyai rumah sendiri secara bertahap sesuai kondisi finansialnya
Kriteria Perancangan Pusat Pengembangan Dan Pelatihan Kaum Difabel Berbasis Empowerment Di Denpasar
Di kota Denpasar, Bali Banyak Kaum difabel yang tidak dapat Bekerja akibat dari banyaknya Tenaga kerja yang memiliki kekurangan Fisik (Difabel) ditolak dari perusahaan swasta maupun Negri. Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997, dengan tegas dinyatakan bahwa penyandang cacat berhak mempunyai kesamaan kedudukan, hak dan kewajiban dalam berperan dan berintegrasi secara total sesuai dengan kemampuannya. Menurut Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga kerja pada tahun 2014 Jumlah Penyandang Disabilitas yang tidak bekerja sebesar 1.5000.000 dan hasil data dari Departemen Sosial RI Tahun 2008 Penyandang disabilitas yang tidak bekerja tercatat sebesar 74,4% dan penyandang disabilitas yang memiliki pekerjaan sebesar 25,6%. Perencanaan dan Perancangan Pusat Pengembangan dan Pelatihan bagi kaum disabilitas merupakan gagasan utama untuk sarana yang mewadahi kaum disabilitas dengan seluruh kegiatan yang berguna dalam peningkatan kemampuan dan keterampilan serta dapat didedikasikan untuk meningkatkan kualitas hidup kaum disabilitas. Adapun Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yaitu penelitian mengenai riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis
Peningkatan Kemampuan Dasar Mahasiswa Arsitektur Melalui Program Magang Di Biro Arsitek
Internship programs are very important to do in order to increase students' self-potential and train job readiness. This research is motivated by low job readiness. The effect of internship experience is knowledge or skills gained from internships in the business world or industry for a certain period of time. Preparing prospective graduates who are professional and competent in their fields is the most important aspect in implementing an internship program for students. This study aims to find out what are the effects and results obtained in the internship process for architectural students to enter the world of architecture. In the internship process, I got some learning about what kind of work is done at the architectural bureau (person-job fit) and company organizations (person-organization fit). After completing the internship, students are expected to be able to provide an opinion on the workings and scope of the internship company. so that these factors ultimately shape students' perceptions of their future career (person-career fit). This study uses primary data obtained by direct observation and interviews with managers and students about the current street vendors management.Program magang sangat penting untuk dilakukan guna meningkatkan potensi diri mahasiswa serta melatih kesiapan kerja. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kesiapan kerja yang rendah. Pengaruh pengalaman praktik magang adalah suatu pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari magang di dunia usaha atau industri selama jangka waktu tertentu. Menyiapkan calon lulusan yang profesional dan kompeten di bidangnya merupakan aspek terpenting dalam penerapan program magang bagi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja pengaruh dan hasil yang didapatkan dalam proses magang terhadap mahasiswa arsitektur untuk terjun ke dunia arsitektur. Dalam proses magang, mendapatkan beberapa pembelajaran tentang pekerjaan apa saja yang dilakukan pada biro arsitek (person-job fit) dan organisasi perusahaan (person-organization fit). Setelah menyelesaikan magang, mahasiswa diharapkan mampu untuk memberikan opini terhadap cara kerja dan ruang lingkup perusahaan magang. sehingga faktor-faktor ini akhirnya membentuk persepsi mahasiswa terhadap karir yang akan dijalankan nanti (person-career fit). penelitian ini menggunakan jenis data primer yang diperoleh dengan melakukan observasi langsung dan wawancara pada pengelola, dan mahasiswa tentang pengelolaan PKL yang diterapkan saat ini. 
Pengawetan Jenis - Jenis Bambu Sebagai Bahan Konstruksi Bangunan Arsitektur
Bamboo has different durability based on the type and method of preservation. This research was conducted to determine the method of preservation of the types of bamboo used as architectural building construction materials starting from before processing and after construction was built. The research method used is descriptive qualitative method which includes data collection on the types of bamboo used in the construction of architectural buildings and bamboo preservation methods. From the data collection, there are several types of bamboo that can be used as architectural building construction materials with different preservation methods on each bamboo before processing, namely preservation with petung bamboo using the Boucherie method, in wulung bamboo using a process that is preserved by diffusion with preservatives. continue, on the bamboo rope using the process of immersion with liquid alcohol, on the bamboo betung using the process of boiling in a drum tub. In addition, there is also a preservation process after the construction material is processed and built, namely by smoothing the surface of the bamboo with sandpaper then applying a chemical liquid in the form of bayclin and finally the bamboo is sprayed with varnish. By providing preservation of bamboo material, the durability of a bamboo architectural building can reach 10 - 20 years.Bambu memiliki daya tahan yang berbeda-beda berdasarkan jenis dan metode pengawetannya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui metode pengawetan dari jenis-jenis bambu yang digunakan sebagai material konstruksi bangunan arsitektur mulai dari sebelum diolah dan sesudah konstruksi dibangun. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif meliputi pengumpulan data tentang jenis-jenis bambu yang digunakan dalam konstruksi bangunan arsitektur serta metode pengawetan bambu. Dari pengumpulan data tersebut terdapat beberapa jenis bambu yang dapat digunakan sebagai material konstruksi bangunan arsitektur dengan metode pengawetan yang berbeda-beda pada setiap bambu sebelum diolah yaitu Pengawetan dengan jenis bambu petung menggunakan Metode Boucherie, pada bambu wulung menggunakan proses yang diawetkan secara difusi dengan bahan pengawet terusi, pada bambu tali menggunakan proses perendaman dengan cairan alkohol, pada bambu betung menggunakan proses perebusan pada bak drum. Di samping itu ada pula proses pengawetan setelah material kontruksi diolah dan dibangun yaitu dengan menghaluskan permukaan bambu dengan amplas kemudian mengoleskan cairan kimia berupa bayclin dan akhirnya bambu disemprotkan dengan cairan vernis. Dengan memberikan pengawetan pada material bambu, ketahanan sebuah kontruksi bangunan arsitektur bambu bisa mencapai 10 - 20 tahun
Fasilitas Penunjang Literasi Berbasis Creative Hub di Kecamatan Ubud Gianyar, Bali
Keterbatasan wawasan dan keilmuan akan dapat mengkerdilkan pola pikir masyarakat, dikarenakan rendahnya kemampuan berliterasi dan minat baca. Minimnya fasilitas yang memadai menjadi faktor rendahnya minat baca. Perpustakaan merupakan sebuah fasilitas penunjang literasi non-formal yang berperan membuat pikiran masyarakatnya berkembang maju dan kreatif. Ubud terkenal dengan wisata alam dan seni budayanya namun ironinya, sektor pendidikannya tidak diimbangi dengan tersedianya fasilitas penunjang untuk meningkatkan literasi. Selain itu, Ubud terkenal akan seni menjadikannya sebagai salah satu titik tumbuh dari berbagai gerakan kesenian dan memiliki berbagai para pegiat maupun komunitas disegala aspek industri kreatif. Akan tetapi sulitnya menemukan fasilitas Creative Hub yang mampu mewadahi untuk meluapkan kekreativitasannya. UWRF kegiatan tahunan dalam peningkatan literasi dan kreatif yang setiap tahunnya mengalami 10% peningkatan kunjungan. Hal ini, menjadikan penulis untuk merancang fasilitas penunjang literasi berupa perpustakaan yang berbasis Creative Hub di Kecamatan Ubud dengan menggunakan konsep Flexibility Education in Creativity. Perancanaan fasilitas yang dirancang selain berusaha agar dapat memberikan suasana baru bagi penggunanya secara khusus dirancang dapat fleksibel dan mendukung kekreativitasan, tidak hanya sebatas ilmu formal tetapi dapat juga mewadahi kegiatan kreativitas dan kolaboratif dengan ruang-ruang kreatif. Pemanfaatan energi alami yang efisien dan optimal merupakan aspek rancangan Green Architecture untuk menunjang dari fungsi bangunan yang dirancang
Potensi Arsitektural Pengembangan Rehabilitasi Medik di Kabupaten Klungkung Dengan Pendekatan Healing Environment
Pusat Rehabilitasi Medik merupakan pelayanan kesehatan melalui pendekatan medik, psikososial, edukasional, dan vokasional untuk mencapai kemampuan fungsional secara optimal. Permasalahan yang terjadi saat ini terlalu minim fasilitas rehabilitasi yang tersedia. Selain itu, dari segi arsitektural ruang-ruang yang terlalu monoton sehingga pasien merasa kurang nyaman selama proses pemulihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur potensi pengembangan rehabilitasi medik dari sisi arsitektural dengan pelayanan rehabilitasi, seperti rehabilitasi pediatri, rehabilitasi neuromuskular, rehabilitasi musculoskeletal, rehabilitasi kardiorespirasi, dan rehabilitasi geriatri. Dengan menerapkan pendekatan konsep “Healing Environment†sebagai pemecahan permasalahan pada pelayanan rehabilitasi medik yang didukung dengan tiga aspek, seperti aspek alam, aspek panca indera dan aspek psikologis. Kemudian, penerapan konsep tersebut dituangkan ke beberapa elemen-elemen, seperti tapak, bentuk & pola masa, ruang luar, dan terakhir ruang dalam
Wellness Center Di Kota Denpasar Dengan Pendekatan Healing Environment
Wellness Center is related to activities that are healthy for the body and soul. Activities in the form of a place to exercise, meditation, consultation on health problems and others, where in addition to being healthy for the body, it also teaches a healthy lifestyle and is kept away from disease. With a healing environment approach such as the senses, nature, psychology, it is hoped that it will create a Wellness Center that blends with the circumstances and natural cycles. The healing environment approach is the basis for the development of the Wellness Center design, which is the answer to overcoming human behavior with nature. Located in the city of Denpasar, it will make it easier for people to exercise with a natural atmosphere and complete facilities.Wellness Center berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang menyehatkan jiwa dan raga. Kegiatan berupa tempat berolahraga meditasi konsultasi masalah kesehatan dan lain-lain, dimana selain menyehatkan badan juga mengajarkan gaya hidup sehat dan terjauhkan dari penyakit. Dengan pendekatan healing envirotmen seperti indra, alam, psikologis diharapkan mampu menciptakan sebuah Wellness Center yang menyatu dengan keadaan dan siklus alam. Pendekatan healing envirotmen menjadi dasar pengembangan perancangan Wellness Center merupakan jawaban mengatasi perilaku manusia dengan alam. Yang berlokasi di kota Denpasar, akan memudahkan masyarakat untuk berolahraga dengan suasana alam dan fasilitas lengkap
Analisis Perbandingan Tektonika Kayu Museum Wiswakarma dengan Museum Seni Modern Odunpazari
Local cultural values ​​in architecture currently compete with modern culture in the midst of the current development of globalization. Tectonics in architecture is an effort to elevate the local cultural values ​​of an area. The understanding of tectonics includes solving the logical structure of a space, handling construction joints, processing skills and meeting materials so that they are able to bring out the expression of a building as an aesthetic value. Tectonics in architecture often uses wood materials. This wood material was chosen because wood is a renewable material and is not consumed by the times. Wood material is also still used as a building material from time to time. This study focuses on two buildings with the same function, namely the traditional Wiswakarma Museum building located in Gianyar and the Odunpazari Museum of Modern Art located in Turkey. The results of this study will show a comparison between the tectonics of traditional and modern wooden buildings.Nilai budaya lokal pada arsitektur saat ini bersaing dengan budaya modern di tengah arus perkembangan globalisasi. Tektonika dalam arsitektur menjadi upaya mengangkat nilai budaya lokal dari sebuah wilayah. Pemahaman tektonika mencakup penyelesaian logika struktur suatu ruang, penanganan sambungan konstruksi, kepandaian pengolahan dan pertemuan bahan material sehingga mampu memunculkan ekspresi dari suatu bangunan sebagai nilai estetika. Tektonika dalam arsitektur seringkali menggunakan material kayu. Material kayu ini dipilih karena kayu adalah material yang dapat diperbaharui serta tidak habis dimakan oleh perkembanagn zaman. Material kayu juga masih tetap digunakan sebagai material penyusun bangunan dari waktu ke waktu. Penelitian ini berfokus pada dua bangunan dengan fungsi sama, yaitu bangunan tradisional Museum Wiswakarma yang bertempat di Gianyar serta bangunan Museum Seni Modern Odunpazari yang berlokasi di Turki. Hasil penelitian ini akan memperlihatkan perbandingan antara tektonika pada bangunan kayu tradisional dan modern
Perencanaan Dan Perancangan Beach Club Di Pemuteran Beach, Gerokgak, Kabupaten Buleleng
Beach Club is an association of several activities located on the beach and provides recreational and relaxation facilities such as restaurants, rooftops, bars, lounges, sunbathing areas, swimming pools, and several other supporting facilities. Beach Club is very much needed apart from being a place of recreation as well as a place to relax, it can also support the needs of tourists who after carrying out activities around Pemuteran Beach because of the very attractive tourism potential with stunning natural beauty and the existence of marine tourism that can be enjoyed by tourists. Therefore Pemuteran Beach is one of the beaches visited by many tourists in the North Bali area. Then the basic concept that will be applied later is "Jus For Fun" which means just for fun. The design theme that will be used in planning and designing this Beach Club is "Tropical Architecture" which can adapt to buildings, climatic conditions in a tropical area (Pemuteran Beach).Beach Club merupakan suatu perkumpulan beberapa kegiatan yang terdapat di pinggir pantai dan memberikan fasilitas rekreasi dan relaksasi seperti restaurant, rooftop, bar, lounge, tempat berjemur, kolam berenang, dan beberapa fasilitas penunjang lainnya. Beach Club sangat di butuhkan selain sebagai tempat rekreasi juga sebagai tempat bersantai, hal tersebut juga dapat menunjang kebutuhan wisatawan yang sehabis melaksanakan kegiatan disekitar Pantai Pemuteran karena potensi wisata yang sangat menarik dengan keindahan alam yang mempesona serta adanya wiasata bahari yang dapat dinikmati wisatawan. Maka dari itu Pantai Pemuteran adalah salah satu pantai yang banyak dikunjungi wisatawan di kawasan Bali Utara. Kemudian konsep dasar yang diterapkan nantinya adalah “Jus For Fun†yang berarti hanya untuk bersenang-senang. Tema rancangan yang akan digunakan pada perencanaan dan perancangan Beach Club ini adalah “Arsitektur Tropis†yang dapat beradaptasi terhadap bangunan, kondisi iklim di suatu daerah tropis (Pemuteran Beach)