UNDAGI: Jurnal Ilmiah Arsitektur
Not a member yet
    201 research outputs found

    Pusat Kesenian Di Desa Bungaya, Karangasem dengan Pendekatan Eco-Cultural

    No full text
    Bungaya Village, is one of the cultural tourism villages because the village has its own uniqueness, and has seven tourism potentials, one of which is historical heritage, unique traditional activities and nature. However, as time goes by, most of the Bungaya Village Area is now untouched by development, which is one of the reasons for the lack of special attractions for tourists, such as dances, weaving and other cultural activities which tend to be rarely carried out. only performed at ceremonies in certain months and not supported by commercial facilities. From this, it results in a decrease in function as a cultural tourism village area which will have an impact on decreasing the number of tourists and causing a loss of existence compared to other cultural tourism villages such as Tenganan village. Therefore, the need to build an object that can maintain and improve this area by establishing an Art Center with an Eco-Cultural Approach arises from the natural potential of the Bungaya Village and the diversity of arts and culture which is a local identity and has been inherited from generation to generation. hereditary. By using the architectural theme of contextualism, you can present buildings that are able to pay attention to the surrounding conditions so that their existence can be harmonious and unified, so that the potential in the environment is not neglected.Desa Bungaya, merupakan salah satu dari desa wisata budaya dikarenakan desa tersebut memiliki keunikan, kekhasan tersendiri dan memiliki tujuh potensi wisata, salah satunya peninggalan sejarah, aktivitas adat yang khas dan alamnya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, sebagian besar dari Kawasan Desa Bungaya kini tidak tersentuh pembangunan yang mana hal ini terjadi salah satunya karena kurangnya atraksi yang di khususkan untuk wisatawan seperti tari-tarian, menganyam dan hal yang berkaitan dengan aktifitas kebudayaan yang cenderung jarang dilaksanakan dan hanya dilakukan pada upacara di bulan-bulan tertentu dan tidak didukung dengan fasilitas yang sifatnya komersil. Dari adanya hal tersebut, mengakibatkan adanya penurunan fungsi sebagai Kawasan desa wisata budaya  yang akan berdampak pada penurunan jumlah wisatawan dan menimbulkan hilangnya eksistensi dibandingkan desa wisata budaya lainnya seperti desa Tenganan. Maka dari hal tersebut perlunya dibangun suatu objek yang dapat mempertahankan dan meningkatkan kawasan ini dengan cara mendirikan suatu Pusat Kesenian Dengan Pendekatan Eco-Cultural ini timbul dari adanya potensi alam yang dimiliki Desa Bungaya dan keberagaman seni dan budaya yang menjadi identitas lokal dan telah diwarisi secara turun temurun. Dengan menggunakan tema arsitektur kontekstual dapat menghadirkan bangunan yang mampu memperhatikan kondisi sekitarnya sehingga keberadaannya dapat serasi dan menyatu, sehingga dengan demikian potensi dalam lingkungan tersebut tidak terabaikan

    Perencanaan Fasilitas Wisata Kopi Arabika Sebagai Sarana Edukasi di Kintamani

    No full text
    In Indonesia, Arabica coffee is one of the best coffees that is often enjoyed by everyone. Arabica coffee is also not only enjoyed, but starting from cultivation to becoming the best coffee beans in Indonesia and even abroad. Until now, coffee biscuits have become very popular among the public because they have great opportunities and high competitiveness in national and even international marketing. Of all types of Arabica coffee in Indonesia and even internationally, Kintamani Arabica coffee beans have a unique difference when compared to other types of coffee, Kintamani Arabica coffee has its own competitive advantage. Kintamani Arabica coffee comes from an area with a minimum elevation of approximately 900 meters above sea level. However, in its current development, Arabica coffee is still lacking in education, both in terms of Arabica coffee cultivation and in terms of presentation. Because the unique taste needs to be packaged as well as possible so that the characteristic taste of Arabica coffee is not lost. Therefore, the purpose of this plan is to develop Arabica coffee tourism as a means of education for both the community, the public and foreign countries. The research method used is a qualitative method to analyze theory and collect data. The results of the research are in the form of programs and concepts for planning and designing Arabica coffee tours as a means of education.Di Indonesia, kopi arabika menjadi salah satu kopi terbaik yang sering dinikmati semua orang. Kopi arabika juga tidak hanya dinikmati saja, tapi mulai dari pembudidayaan hingga sampai menjadi biji kopi terbaik di Indonesia bahkan hingga ke mancanegara. Hingga sampai saat ini, biskis kopi menjadi sangat populer di kalangan masyarakat karena memiliki peluang besar juga daya saing yang tinggi dalam pemasaran nasional bahkan internasional. Dari semua jenis kopi arabika yang ada di Indonesia bahkan di Internasional, biji kopi arabika Kintamani ini memiliki perbedaan yang unik jika dibandingkan dengan jenis kopi yang lainnya, kopi arabika Kintamani memiliki keunggulan kompetitif tersendiri. Kopi arabika Kintamani ini berasal dari daerah dengan kentinggian minimal kurang lebih di atas 900 meter di atas permukaan laut. Namun dalam perkembangannya saat ini, kopi arabika masih kurang akan edukasi baik dari pembudidayaan kopi arabika maupun dari segi penyajiannya. Karena cita rasanya yang unik perlu di kemas dengan sebaik mungkin agar cita rasa ciri khas kopi arabika terbeut tidak hilang. Maka dari itu, tujuan dari perencanaan ini adalah untuk mengembangkan wisata kopi arabika sebagai sarana edukasi baik untuk kalangan komunitas, masyarakat maupun mancanegara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif untuk menganilis teori dan pengumpulan data. Hasil dari penelitian berupa rancangan program dan konsep perencanaan dan perancangan wisata kopi arabika sebagai sarana edukasi

    Redesain Pasar Tradisional Mertasari Di Kabupaten Tabanan, Bali

    No full text
    Pasar Tradisional sering kali membawa kesan citra buruk dan kumuh bagi estetika suatu wilayah. Begitu pula Kondisi Pasar Tradisional Mertasari yang bertempat di Desa Candi Kuning, Kabupaten Tabanan bercitra kumuh dan kurang tertata saat ini, sarana dan prasarana yang ada pada saat ini kurang memadai sehingga membuat pasar sepi pengunjung. Sepinya pengunjung merupakan masalah klasik yang harus dibenahi. Dari sekian banyaknya permasalah yang ada di Pasar tradional Mertasari ini, Redesain Pasar Tradisional Mertasari merupakan jawaban untuk memecahkan permasalahan secara arsitektural. Dengan tujuan untuk membenahi kondisi bangunan dan penataan kawasan pada Pasar Mertasari sehingga menaikkan minat masyarakat untuk berbelanja pada Pasar Tradisonal kembali meningkat dan tidak berkurang. Metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara, metode ini dilakukan dengan cara mewawancarai secara langsung dengan orang yang berkompeten dibidangnya. Metode studi literatur, adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mencari dan memilah data dari literatur terkait. Serta metode dokumentasi, merupakan metode yang dilakukan dengan mengambil gambar guna memperjelas dan memperkuat data teoritis dengan mengambil foto langsung ke objek. Konsep komersial akan menjadi daya tarik pada pasar ini. Arsitektur Industrial Tropis yaitu dengan penyesuaian kondisi iklim dengan topografi daerah setempat yang akan menjadi suatu solusi arsitektur pada wilayah Pasar Tradisional Mertasari.Traditional Market often brings the impression of a bad and shabby image for the aesthetics of a region. Likewise, the condition of the Mertasari Traditional Market, which is located in Candi Kuning Village, Tabanan Regency, has the image of being slum and unorganized at this time, the existing facilities and infrastructure are inadequate, making the market empty of visitors. Lack of visitors is a classic problem that must be addressed. Of the many problems that exist in the Mertasari Traditional Market, the Mertasari Traditional Market Redesign is the answer to architectural problem solving. With the aim of fixing the condition of the buildings and the arrangement of the area at Mertasari Market so as to increase public interest in shopping at the Traditional Market again increases and does not decrease. The data collection method uses the interview method, this data collection method is done by interviewing directly with people who are competent in their fields. Literature study method, is a method of collecting data by searching and sorting data from the related literature. As well as the documentation method, is a method used by taking pictures to clarify and strengthen theoretical data by taking photos directly to the object. The commercial concept will be the main attraction in this market. Tropical Industrial Architecture, namely by adjusting climatic conditions to mountainous topography which will become an architectural solution in the Mertasari Traditional Market area

    Perencanaan Dan Perancangan Games Center Di Denpasar, Bali

    No full text
    E-sports, is a recreational sport of competitive games, E-sports are starting to be seen by many as an opportunity to become a business or a job. With easy access to the Internet for everyone, teenagers who are still in doubt about their future enjoy playing games in school, it is because they think they can succeed in becoming an E-sports pro gamer without knowing the process required to become a professional E-sports player. Game Center design to meet the needs of the E-sports community space which currently does not exist in Bali to facilitate the community in the form of an E-sports training place or arena. The concept of E-sports Arena will use the concept of the future, in accordance with the function of the building as an E-sports Arena that describes future sports through competitive video games that continue to develop with new technology.E-sports, merupakan olahraga rekreasi  permainan kompetitif, E-sport mulai dilihat oleh banyak orang sebagai peluang untuk menjadi bisnis atau pekerjaan. Dengan  akses mudah ke Internet untuk semua orang,  remaja yang masih ragu tentang masa depan mereka menikmati bermain game  di sekolah, itu karena mereka pikir mereka dapat berhasil menjadi  E-sports pro gamer tanpa mengetahui proses yang diperlukan untuk menjadi  profesional pemain E-sports. Perancangan Game Center untuk memenuhi kebutuhan  ruang komunitas E-sports yang saat ini belum ada di Bali untuk memfasilitasi komunitas  dalam bentuk tempat pelatihan E-sports atau arena  . Konsep E-sports Arena akan menggunakan konsep  masa depan, sesuai dengan fungsi gedung sebagai  E-sports Arena yang menggambarkan olahraga masa depan melalui video game kompetitif yang terus berkembang dengan teknologi baru

    Perencanaan dan Perancangan Hunian Lansia yang Ergonomis di kota Denpasar

    No full text
    Elderly is where individuals over the age of 60 who generally experience a decline in some biological, psychological, and social functions. When an individual has reached old age, and their children have formed their own family, the elderly's responsibility to their children, and they return free as in the early days of their marriage. But by the time that freedom was gained, he had been in a phase with biological and psychological physical conditions that had regressed, as well as the loss of their children from home because they had formed a new family. The existence of the elderly is still often assumed negatively, where the elderly are considered a burden on the family. This arises because it looks from kasuistic towards the elderly whose lives have a dependency on others. The older a person ages, the more they need a place to shelter and get attention, especially from family. But in reality in the field many elderly who ended up abandoned by his family until entrusted in the elderly residence. In Indonesia itself, elderly housing has negative connotations because it is still associated with nursing homes where in fact there are many cases of nursing home facilities that are not habitable for the elderly and also their level of care. So that facilities that should be able to help the lives of the elderly even become a scary scourge.Lanjut usia adalah dimana individu yang berusia di atas 60 tahun yang pada umumnya mengalami penurunan beberapa fungsi biologis, psikologis, dan sosial. Ketika suatu individu sudah mencapai usia lanjut, dan anak-anak mereka sudah membentuk keluarga sendiri, lepaslah tanggung jawab lansia tersebut pada anaknya, dan mereka kembali bebas merdeka seperti pada masa awal pernikahannya. Akan tetapi pada saat kebebasan tersebut diperoleh, ia telah berada pada pada fase dengan kondisi fisik biologis dan psikologis yang sudah mengalami kemunduran, serta hilangnya anak-anak mereka dari rumah karena sudah membentuk keluarga baru.Keberadaan lansia masih seringkali diasumsikan secara negatif, dimana lansia dianggap sebagai beban keluarga. Hal ini muncul karena melihat dari kasuistik terhadap lansia yang hidupnya yang memiliki ketergantungan terhadap orang lain. Semakin menuanya umur seseorang maka mereka semakin membutuhkan tempat untuk berlindung dan mendapatkan perhatian, terutama dari keluarga. Tetapi dalam kenyataannya di lapangan banyak lansia yang akhirnya ditelantarkan oleh keluarganya hingga dititipkan di hunian lansia. Di Indonesia sendiri hunian lansia memiliki konotasi negatif dikarenakan masih dikaitkan dengan panti jompo yang dimana notabene banyak kasus fasilitas panti jompo yang tidak layak huni bagi lansia dan juga perawatannya yang ala kadarnya. Sehingga fasilitas yang seharusnya dapat membantu kehidupan lansia malah menjadi momok yang menakutkan

    Perencanaan dan Perancangan Wellness Center Di Desa Kelusa, Payangan, Gianyar, Bali

    No full text
    Mental health is an important aspect in realizing overall health. However, in most developing countries, mental health problems have not been prioritized. The Coronavirus-19 (COVID-19) pandemic has made mental health an important issue in the world. The World Health Organization (WHO) identifies mental health as an integral component of the response to COVID-19. The COVID-19 pandemic with its massive transmission and high mortality rate causes problems that lead to mental disorders. A community-based approach can expand the scope of mental health services during the COVID-19 pandemic. The public will be required to live in a new normal state to maintain mental health and safety. Wellness Center is a place for people to recover their mental wellness which is located in a quiet, quiet, safe and comfortable place. The activities that can be done at the Wellness Center include yoga, meditation, sports, self-indulgence, and self-healing.Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam mewujudkan kesehatan yang menyeluruh. Namun disebagaian besar negara berkembang, masalah kesehatan mental belum diprioritaskan. Pandemi Coronavirus-19 (COVID-19) menjadikan kesehatan mental menjadi isu penting di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasikan kesehatan mental sebagai komponen integral dari penanggulangan COVID-19. Pandemi COVID-19 dengan transmisi penularan yang massif dan tingkat kematian yang tinggi menyebabkan masalah yang mengarah pada gangguan mental. Pendekatan berbasis masyarakat dapat memperluas cakupan pelayanan kesehatan mental pada masa pandemi COVID-19. Masyarakat akan diwajibkan hidup dalam keadaan new normal untuk tetap bisa menjaga kesehatan dan keselamatan jiwa. Wellness Centre adalah sebuah wadah bagi masyarakat untuk memulihkan mental wellness yang berlokasikan ditempat yang sunyi, hening, aman dan nyaman. Adapun kegiatan yang dapat dilakukan di Wellness Centre ini seperti yoga, meditasi, olahraga, kegiatan memanjakan diri, dan juga self-healing

    Perencanaan Dan Perancangan Ruang Kreatif Di Badung – Bali ( Badung Creative Space )

    No full text
    Creative space is needed in the development of a city where creative space can be a place for social interaction and communication between people, both in groups and individuals or in formal and in-formal terms. Currently, creative spaces are only known as open spaces such as parks or fields, due to the lack of socialization to the public regarding the term Creative Space. This creative space aims to provide facilities that can accommodate creativity for the community and art community as well as umkm to express, be creative and communicate in developing or creating innovative-creative activities. One of them is in Bali, especially Badung Regency which is generally famous for its tourism, where tourism and creative industries complement each other. Badung Regency, which has an advantage in the tourism sector and is the heart of the economy in Bali, is currently pushing the vision to strengthen micro, small and medium enterprises and a community-based creative economy. So it is necessary to provide creative space to accommodate or support these positive activities which can later be used for the training / education process, development and marketing of umkm and communities in Badung. With the provision of creative space facilities, it is hoped that these creative industry players can advance so that they can have a positive impact and can create new jobs for the surrounding communityRuang kreatif sangat dibutuhkan dalam perkembangan sebuah kota dimana Ruang kreatif dapat menjadi tempat sosial berinteraksi dan komunikasi antar masyarakat baik dalam kelompok maupun individu atau dalam formal dan in-formal. Ruang kreatif saat ini hanya dikenal sebagai ruang terbuka seperti taman atau lapangan, karena kurangnya sosialisasi kepada masyarakat mengenai istilah Ruang Kreatif. Ruang kreatif ini bertujuan dalam penyediaan fasilitas – fasilitas yang dapat mewadahi kreatifitas bagi masyarakat dan komunitas seni maupun umkm untuk berekspresi, berkreasi dan berkomunikasi dalam mengembangkan atau menciptakan kegiatan yang kreatif-inovatif. Salah satunya di Bali, khususnya Kabupaten Badung yang pada umumnya terkenal dengan pariwisatanya yang dimana pariwisata dan industri kreatif saling melengkapi. Kabupaten Badung yang memiliki keunggulan pada sektor pariwisata dan menjadi jantung perekonomian di Bali saat ini sedang mendorong visi untuk memperkuat usaha mikro kecil menengah dan ekonomi kreatif berbasis kerakyatan. Sehingga perlunya disediakan ruang kreatif guna mewadahi atau mendukung kegiatan positif tersebut yang nantinya dapat digunakan untuk proses pelatihan/edukasi, pengembangan, serta pemasaran umkm serta komunitas yang ada di Badung. Dengan disediakanya fasilitas ruang kreatif ini diharapkan dapat memajukan pelaku industri kreatif ini sehingga dapat memberikan dampak positif dan dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar

    Perencanaan dan Perancangan Rumah Sakit Ibu dan Anak Dengan Pendekatan Healing Environment di Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember

    No full text
    Rumah Sakit Ibu dan Anak merupakan fasilitas kesehatan yang menangani pasien khusus ibu dan anak, dalam upaya untuk memberikan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat yang jauh dari pelayanan kesehatan maka perlunya fasilitas kesehatan yang bisa membantu proses penangan dengan cepat, kasus kematian yang cukup tinggi di Kabupaten Jember rata – rata diakibatkan oleh kurangnya fasilitas pelayanan kesehatan dan jarak untuk menuju pelayanan kesehatan sehingga membuat terlambatnya proses penanganan, selain itu kondisi lingkungan rumah sakit yang kurang memperhatikan psikologis dari pasien membuat suasana menjadi tidak nyaman dan membuat lambatnya  proses pemulihan, kecamatan Sumberjambe hanya terdapat pelayanan kesehatan puskesmas dan masih belum bisa mengatasi persoalan kematian karena keterbatasan fasilitas dan peralatan. Metode yang digunakan yaitu metode pengumpulan data, metode penyajian data dan metode analisis data. Dari permasalah dan hasil analisa maka perlunya fasilitas pelayanan kesehatan rumah sakit ibu dan anak dengan pendekatan healing environment di kecamatan sumberjambe Kabupaten Jember ini diharapkan bisa membantu masyarakat yang jauh dari pelayanan kesehatan sehingga proses penanganan bisa berlangsung cepat,selain itu penerapan konsep healing environment dan tema modern tropis pada bangunan sehingga menampilkan sebuah lingkungan penyembuh dengan desain bangunan yang menyesuaikan kondisi iklim.Mother and Child Hospital is a health service facility that serves special patients for mothers and children, in an effort to provide health services to people who are far from health services, the need for health facilities that can help the handling process quickly, cases of death are quite high in Jember Regency. On average, it is caused by the lack of health service facilities and the distance to health services, which makes the treatment process late, besides that the condition of the hospital environment that does not pay attention to the psychology of the patients makes the atmosphere uncomfortable and makes the recovery process slow, Sumberjambe sub-district only has health services. puskesmas and still cannot solve the problem of death due to limited facilities and equipment. The method used in this research is data collection methods consisting of primary data and secondary data, data presentation methods and data analysis methods. From the problems and the results of the analysis, the need for health service facilities for mother and child hospitals with a healing environment approach in Sumberjambe sub-district, Jember Regency is expected to be able to help people who are far from health services so that the handling process can take place quickly, in addition to the application of the healing environment concept and modern themes. tropical building so that it displays a healing environment with a building design that adapts to climatic conditions

    Menghidupkan Kembali Pelabuhan Penyeberangan Danau Batur Menjadi Tempat Wisata Di Kintamani Bali

    No full text
    Reviving the Lake Batur Crossing Port to Become a Tourist Place in Kintamani Bali is a redesign of the Kedisan Port facilities due to unorganized port conditions, minimal facilities, decreased visitors, underutilized natural potential of Lake Batur and other architectural problems that have resulted in the port not being interested in being visited. a decrease in the income of the community around the port. This design focuses on designing a ferry port with tourism and recreation which has several new facilities such as a restaurant, coffee shop, bar, public space, and recreation to play in the lake with natural potential and the beauty of the lake and Mount Batur which will revive the port area which has only been known so far. as a crossing only. With the concept of Port And Lake Tourism, which is an amalgamation of the port's function as a crossing transportation facility and a new port atmosphere with natural and culinary tourism, not only for ferry tourists but for local people and local tourists. With the application of neo vernacular architecture which has a spirit of innovation and tradition so that it can present new ideas with traditional values in it with a more modern and open architectural design that is close to nature so that visitors will feel at home for a long time in this port so that this can indirectly be achieved. increase the income of the surrounding community.Menghidupkan Kembali Pelabuhan Penyeberangan Danau Batur Menjadi Tempat Wisata Di Kintamani Bali merupakan perancangan kembali fasilitas Pelabuhan Kedisan karena kondisi pelabuhan yang kurang tertata, minim fasilitas, menurunnya pengunjung, potensi alam Danau Batur yang kurang dimanfaatkan dan permasalahan arsitektur lainnya yang mengakibatkan pelabuhan tidak tertarik untuk dikunjungi yang menjadi turunnya income masyarakat sekitar pelabuhan. Perancangan ini memfokuskan merancang pelabuhan penyeberangan dengan wisata dan rekreasi yang memiliki beberapa fasilitas baru seperti restoran, coffee shop, bar, public space, dan rekreasi bermain di danau dengan potensi alam serta keindahan danau dan gunung Batur akan menghidupkan kembali kawasan pelabuhan yang selama ini hanya dikenal sebagai tempat penyeberangan saja. Dengan konsep Port And Lake Tourism yang merupakan penyatuan dari fungsi pelabuhan sebagai fasilitas transportasi penyeberangan dan suasana baru pelabuhan dengan wisata alam dan kuliner tidak hanya bisa dikunjungi oleh wisatawan penyeberangan tetapi masyarakat daerah setempat dan wisatawan lokal. Dengan penerapan arsitektur neo vernacular yang memiliki spirit inovasi dan tradisi sehingga dapat menpresentasikan sesuatu gagasan baru dengan nilai tradisional didalamnya dengan desain arsitektur yang lebih modern dan terbuka yang dekat dengan alam sehingga pengunjung akan betah berlama-lama di pelabuhan ini sehingga hal ini secara tidak langsung dapat meningkatkan income masyarakat sekitar

    Penerapan Pendekatan Arsitektur Perilaku dalam Children Care Center di Kabupaten Badung, Bali

    No full text
    The high number of parents who are busy with their work, especially mothers who are supposed to be educators and caregivers for their children, has led to the need for facilities that can become a place for children so that later they will receive good, efficient and appropriate care and education. can help their growth and development in the future to become better individuals or individuals. Therefore, a facility that can be a solution to this problem is the Children Care Center facility which if it can accommodate all the needs of early childhood by including care services and pre-school education. With the existence of a Children Care Center public facility that involves children as the main actors, an appropriate architectural approach is needed in order to make the Children Care Center a facility that is responsive to all the needs of early childhood as the main users. The Behavioral Architecture approach is the appropriate approach for the Children Care Center facility, because by applying the Behavioral Architecture approach to this facility, it is hoped that the facility can meet the needs of early childhood for what facilities they need by knowing or studying habits, character, behavior, and patterns of early childhood activities.Tingginya jumlah orang tua yang sibuk denga pekerjaannya terutama para ibu yang seharsunya menjadi sosok pendidik dan pengasuh bagi anak, menyebabkan dibutuhkannya fasilitas yang dapat menjadi wadah bagi anak-anak agar nantinya mereka mendapatkan pengasuhan dan pendidikan yang baik, efisien dan juga sesuai sehingga hal ini akan dapat membantu tumbuh kembang mereka kedepannya untuk menjadi pribadi atau individu yang lebih baik.Maka dari itu fasilitas yang dapat menjadi solusi dalam permasalahan ini adalah fasilitas Children Care Center yang sekiranya dapat mengakomodasi seluruh kebutuhan anak usia dini dengan mencangkup jasa penitipan dan pendidikan pra sekolah. Dengan adanya fasilitas umum Children Care Center yang melibatkan anak-anak sebagai pelaku utama maka diperlukannya pendekataan Arsiterktur yang sesuai agar dapat menjadikan Children Care Center sebagai fasilitas yang tanggap akan seluruh kebutuhan anak usia dini sebagai pengguna utama. Pendekatan Arsitektur Perilaku merupakan pendekatan yang sekiranya tepat untuk fasilitas Children Care Center ini, dikarenakan dengan penerapan pendekatan Arsitektur Perilaku pada  fasilitas ini , diharapkan fasilitas dapat memenuhi kebutuhan anak usia dini akan fasilitas apa saja yang mereka butuhkan dengan mengetahui atau memperlajari kebiasaan, karakter,  perilaku, dan pola kegiatan anak usia dini

    0

    full texts

    201

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    UNDAGI: Jurnal Ilmiah Arsitektur
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇