Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
446 research outputs found
Sort by
ELIMINASI LOGAM Cu OLEH SERASAH Avicennia marina DI LINGKUNGAN TAMBAK BANDENG WILAYAH TAPAK TUGUREJO, SEMARANG (Cu Metal Elimination by Avicennia marina Litter Leaf in the Environment of Milkfish Fishpond in Tapak Village, Tugurejo Semarang)
ABSTRAKSerasah mempunyai peran penting dalam transfer logam dari tanaman ke dalam media lingkungan hidupnya. Tujuan penelitian mengkaji tingkat eliminasi logam Cu melalui proses defoliasi serasah daun Avicennia marina di tambak bandeng. Bahan penelitian terdiri dari air dan sedimen tambak serta serasah daun mangrove dari jenis A. marina. Destruksi logam Cu pada air, sedimen dan serasah menggunakan Tefflon bomb extraction, dilanjutkan dengan pengukuran logam Cu menggunakan AAS. Penelitian dilakukan selama 90 hari pada tambak bandeng wilayah Tapak Semarang, di dalamnya terdapat tumbuhan mangrove A. marina. Kadar logam Cu pada air tambak penelitian antara 0,02±0,007 - 0,05±0,008 mg/L. Konsentrasi logam Cu pada sedimen tambak penelitian berkisar antara 15,20±1,77 - 25,03 ±4,77 mg/kg, Faktor Konsentrasi (FK) air dan sedimen tambak penelitian antara 500.52 - 897,70. Serasah daun A. marina mengandung logam Cu 2,346±0,536 – 5,285±2,091 mg/kg. Hasil penelitian menunjukkan terdapat kemampuan serasah A. marina dalam mengembalikan logam Cu ke lingkungan hidupnya. Perbandingan antara serasah dengan air dan sedimen menunjukkan bahwa kemampuan serasah dalam mengembalikan Cu ke perairan (46,92 - 228,72) lebih besar dari pada ke sedimen lingkungan hidupnya (0,094 - 0,318).ABSTRACTAvicennia marina litter plays an important role in the heavy metal transfer from the plant into its environment. It occurs due to its ability in eliminating the metal from its tissue, as its adaptation to metal – polluted environment. The purpose of this research was to examine the elimination level of Cu through a defoliation process of A. marina into milkfish pond. The objects of the research were water, sediment and A. marina litter. The destruction of Cu in water, sediment and litter was accomplished using Tefflon bomb extraction, followed by measurement of Cu using AAS. The study was conducted in milkfish pond in Tapak region at Semarang city for 90 days, in which the A. marina plants grow. The value of copper content in the water pond was between 0.02 ± 0.007 to 0.05 ± 0.008 mg / L. The concentration of Cu in the sediment ranged from 15.20 ± 1.77 to 25.03 ± 4.77 mg / kg, the concentration factor (CF) of water and waste sediment with water and sediment ranged from 500.52 - 897, 70. The content of Cu in A. marina litter was 2.346 ± 0.536 to 5.285 ± 2.091 mg / kg. The result of the research showed the ability of A. marina litter to reconstruct copper to its environment. The comparison between the ability of A. marina litter to reinstate Cu to water (46.92 to 228.72) is greater than that of the sediment to its environment (.094-.318)
PENGARUH PENUTUPAN MANGROVE TERHADAP PERUBAHAN GARIS PANTAI DAN INTRUSI AIR LAUT DI HILIR DAS CIASEM DAN DAS CIPUNEGARA, KABUPATEN SUBANG (Effect of Mangrove Vegetation Cover to the Shoreline Change and Seawater Intrusion at Downstream of Ciasem)
ABSTRAKPerubahan penggunaan lahan dari hutan ke penggunaan lainnya seringkali diikuti oleh penurunan fungsi tanah sebagai pengatur tata air. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh tutupan mangrove terhadap perubahan garis pantai dan intrusi air laut pada hilir DAS. Penelitian difokuskan pada penentuan jenis penggunaan lahan pantai melalui interpretasi citra satelit dan pengecekan lapangan, analisis kondisi fisik tanah, pengamatan intrusi air laut, dan analisis perubahan garis pantai akibat abrasi atau ekresi. Hasil penelitian menunjukkan pada periode tahun 1989 hingga 2013, tambak yang ditanami mangrove di Kabupaten Subang mengalami penurunan luas dari 3402,6 ha menjadi 2384,9 ha, sebaliknya terjadi peningkatan luas tambak tanpa mangrove dari 5745 ha menjadi 8741,5 ha. Analisis perubahan garis pantai menunjukkan adanya abrasi di Ujung Pamanukan dan Teluk Ciasem mencapai 1,2 km ke arah daratan. Akresi dijumpai di Teluk Blanakan dan Muara Cipunagara mencapai 1,3 km dalam kurun waktu 1989 – 2013, sedangkan di Muara Sungai Cipunagara mencapai 1,7 km. Air tanah di Desa Muara dan Desa Legon Wetan termasuk air agak payau karena memiliki nilai DHL yang lebih besar dari 1500 µS/cm dan TDS di Legon Wetan > 1000 ppm, sedangkan di Muara TDS nya mendekati 1000 ppm. Perbandingan konsentrasi khlorida-bikarbonat di Desa Muara dan Desa Legon Wetan menunjukkan angka R > 1 sehingga tingginya kadar garam pada air tanah diakibatkan oleh intrusi air laut. Hal sebaliknya terjadi di Desa Tegalurung yang penggunaan pantainya didominasi tambak bermangrove memiliki nilai DHL dan TDS air tanah yang masuk dalam klasifikasi air tawar. ABSTRACTChanges in land use from forest to other uses are often followed by a decrease in soil functions as a regulator of the water system. This research aimed to study the effect of mangrove cover to a change of a coastline and sea water intrusion in the downstream watershed. The research were focused on determining the type of land use shore via satellite image interpretation and field inspections, analysis of soil physical conditions, observation of seawater intrusion, and analysis of shoreline change due to abrasion or accretion. The results showed in the period of 1989 to 2013, mangrove ponds in Subang decreased from 3402.6 ha to 2384.9 ha, whereas an increase in pond area without mangroves was from 5745 ha to 8741.5 ha. Analysis of a shoreline change showed abrasion in Ujung Pamanukan and Ciasem gulf, it reached 1.2 km inland. Accretion was found in the Blanakan gulf reached 1.3 km in the period of 1989-2013, while at the Cipunagara estuary reached 1.7 km. The ground water in the Muara and Legon Wetan village included brackish water because it had the DHL that was greater than 1500 μS/cm and TDS in Legon Wetan reached > 1000 ppm, whereas TDS in Muara village closed to 1,000. Comparison of bicarbonate-chloride concentrations in the Muara and Legon Wetan village showed R > 1 so that high levels of salt in groundwater is caused by seawater intrusion. On the other hand, there was occur in the Tegalurung village that the use of shores was dominated by mangrove ponds had DHL and TDS value groundwater that was classified as plain water
PERANAN EKOSISTEM MANGROVE DI KOTA PESISIR BENGKULU DALAM MITIGASI PEMANASAN GLOBAL MELALUI PENYIMPANAN KARBON (The Role of Mangrove Ecosystem in the Coastal City of Bengkulu in Mitigating Global Warming through Carbon sequestration)
ABSTRAKPemanasan global saat ini menjadi isu lingkungan utama dan keberadaan ekosistem mangrove ternyata mempunyai peranan yang cukup penting dalam mitigasi pemanasan global. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui luasan dan status ekosistem mangrove, komposisi vegetasi penyusunnya, dan kandungan karbonnya di Pesisir Kota Bengkulu. Metode penelitian yang digunakan adalah telaah peta untuk mengetahui sebaran, luasan dan status ekosistem mangrove; dan survey lapangan untuk mengetahui komposisi penyusun ekosistem mangrove dan kandungan karbon tersimpannya. Survey lapangan dilakukan dengan membuat 57 plot pengamatan. Pada setiap plot diamati jenis dan dimensi vegetasi sesuai dengan tingkatan pertumbuhan. Kandungan karbon tersimpan ditentukan melalui perhitungan biomassa total pohon dengan mempertimbangkan nilai faktor ekspansi biomassa, fraksi karbon, dan massa jenis kayu. Hasil analisis peta menunjukkan bahwa luas sebaran ekosistem mangrove di Pesisir Kota Bengkulu ± 214,62 ha. Status kawasan seluas 116,24 ha berada di dalam kawasan hutan Taman Wisata Alam Pantai Panjang-Pulau Bai; dan 98,38 ha berada di luar kawasan hutan. Vegetasi pohon dan pancang penyusun ekosistem mangrove yang ditemukan hanya 9 jenis, yakni Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, Bruguiera gymnoriza, Xylocarpus granatum, Avicennia alba, Hibiscus tiliaceus, Lumnitzera littoreae, Ceriops tagal dan Acrostichum aureum. Kandungan karbon tersimpan pada tegakan ekosistem mangrovenya adalah sebesar 18,53 ton/ha. ABSTRACTGlobal warming is currently a major environmental issue and the mangrove ecosystem has an important role in mitigation of global warming. This study aimed to determine the extent and legal status, vegetation composition, and carbon storage of mangrove ecosystems in the coastal area of Bengkulu. Methods applied in this study included mapping, spatial analysis and field surveys. Carbon storage was determined by calculating the total biomass of the mangrove tree by considering the value of biomass expansion factors, carbon fractions and wood density. The results showed that the area of mangrove ecosystem in the coastal area of Bengkulu was about 214.62 hectares; in which 116.24 hectares within the Pantai Panjang-Pulau Baai Nature Tourism Park and 98.38 hectares outside the nature park area. Nine species were found on the mangrove area, i.e. Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, Bruguiera gymnoriza, Xylocarpus granatum, Avicennia alba, Hibiscus tiliaceus, Lumnitzera littoreae, Ceriops tagal and Acrostichum aureum. The total carbon stored in the stand of mangrove was 18.53 tons/ha
PENGARUH PENAMBAHAN UREA TERHADAP PENINGKATAN PENCEMARAN NITRIT DAN NITRAT DALAM TANAH (Influence of Addition of Urea to Increased Pollution of Nitrite and Nitrate in The Soil)
ABSTRAKNitrat dan nitrit merupakan sumber nitrogen bagi tanaman. Nitrogen sangat diperlukan tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangan. Bentuk-bentuk nitrogen di lingkungan mengalami transformasi sebagai bagian dari siklus nitrogen seperti nitrifikasi dan denitrifikasi. Apabila kadar nitrogen dalam tanah rendah, maka urea digunakan sebagai sumber nitrogen. Perubahan urea menjadi nitrit atau nitrat pada beberapa sampel tanah perlu diketahui. Kadar nitrit dan nitrat yang tinggi dapat meningkatkan pencemaran di dalam tanah. Sampel tanah yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah pasir, tanah sawah, tanah pupuk kompos dan tanah pupuk kandang. Analisis nitrit dan nitrat dilakukan dengan menggunakan pereaksi asam p-amino benzoat (PABA) yang dikopling dengan N-naftiletilendiamin (NEDA) dan reduktor spongy cadmium. Sebelum digunakan untuk analisis nitrit dan nitrat, metode divalidasi terlebih dahulu. Hasil validasi metode analisis nitrit dan nitrat dengan pereaksi PABA/NEDA menunjukkan persentase perolehan kembali masing-masing antara 87,15–100,8% untuk nitrit dan 88,16–105,7% untuk nitrat. Setelah ditambah urea sebesar 0,66 g.kg-1 ke dalam tanah, konsentrasi nitrit dan nitrat pada semua sampel tanah mengalami peningkatan. Dari penelitian ini diketahui bahwa peningkatan kadar nitrit dan nitrat setelah ditambahkan urea sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah. ABSTRACTNitrate and nitrite were sources of nitrogen for plants. Nitrogen is indispensable for the growth and development of plants. The forms of nitrogen in the environment undergoes a transformation as part of the nitrogen cycle like nitrification and denitrification. If nitrogen level in the soil is low, urea is used as a source of nitrogen. Changes of urea into nitrite or nitrate in some of soil samples need to be known. The levels of nitrite and nitrate are high can increase pollution in the soil. Some of soil samples which is used in this research were sandy soil, paddy soil, compost soil and manure soil. Analysis of nitrite and nitrate were conducted by using a reagent p-amino benzoic acid (PABA) / N-napthylethylenediamine (NEDA) and spongy cadmium as reductor. Before being used for the analysis of nitrite and nitrate, this method was validated first. The results of validation of nitrite and nitrate analysis method by using a reagents PABA / NEDA showed the percent recovery were respectively 87.15-100.8% for nitrite and 88.16-105.7% for nitrate. After the addition of 0.66 g.kg-1 urea into the soil, nitrite and nitrate concentration in all soil sample has increased. Based on this research was known that the increased levels of nitrite and nitrate after the addition of urea was influenced by soil condition
TINGKAT KEPEKAAN MANGROVE INDONESIA TERHADAP TUMPAHAN MINYAK (The Sensitivity Levels of Indonesian Mangrove to Oil Spills)
ABSTRAKKepekaan mangrove merupakan komponen penting dalam menentukan tingkat kepekaan ekosistem mangrove terhadap tumpahan minyak. Mangrove Indonesia dapat dikelompokkan dalam 5 tingkat kepekaan terhadap tumpahan minyak, yaitu tidak peka (Acanthus, Nypa, Inocarpus, Acrostichum), kurang peka (Aegiceras, Excoecaria, Hibiscus, Lumnitzera, Ficus, Scyphiphora, Thespasia, Merope, Osbornea, Pandanus), cukup peka (Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Heritiera), peka (Rhizophora), dan sangat peka (Avicennia, dan Sonneratia). Penilaian terhadap komunitas mangrove di Indonesia menunjukkan sebagian besar tergolong ke dalam katagori sangat peka dan peka apabila komunitas mangrove tersebut terkena tumpahan minyak. ABSTRACTThe sensitivity of mangrove is an important component to determine the sensitivity of mangrove ecosystem to oil spills. The Indonesian mangrove can be grouped into five levels of sensitivity to the oil spill, include not sensitive (Acanthus, Nypa, Inocarpus, and Acrostichum), low sensitive (Aegiceras, Excoecaria, Hibiscus, Lumnitzera, Ficus, Scyphiphora, Thespasia, Merope, Osbornea, and Pandanus), intermediate sensitive (Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, and Heritiera), sensitive (Rhizophora), and very sensitive (Avicennia, and Sonneratia). Assessment of mangrove communities in Indonesia showed mostly belong to the category of very sensitive and sensitive if the mangrove communities injured by the oil spill
PENGARUH KONTAMINASI LOGAM BERAT DI SEDIMEN PADA KOMUNITAS MAKROZOOBENTOS DI BEBERAPA SITU DAN WADUK DI JAWA BARAT (Effect of Heavy Metals Contamination in Sediments on The Macrozoobenthos Community in Some Small Lakes and Reservoirs)
ABSTRAKKeberadaan logam berat di ekosistem akuatik telah sering dilaporkan menimbulkan masalah ke biota perairan. Salah satu biota perairan yang memiliki resiko untuk terpapar logam berat dari sedimen adalah organisme makrozoobentos. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh kontaminasi logam berat di sedimen pada struktur komunitas makrozoobentos yang berada di ekosistem lentik (situ dan waduk). Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Juni 2009 - September 2011 di beberapa situ dan waduk yang berada di Provinsi Jawa Barat dan Jakarta. Sampel makrozoobentos dikumpulkan dengan menggunakan alat Ekman grab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara indeks keanekaragaman makrozoobentos dengan kontaminasi logam arsen yang tinggi. Kontribusi logam Pb dan Cd dalam memberikan pengaruh pada indeks keanekaragaman relatif masih kecil. Keberadaan makrozoobentos Coleoptera (Simsonia sp.), lintah (Placobdella sp.), larva chironomid (Ablabesmyia sp.), dan (Tanytarsus sp.) relatif toleran dengan kontaminasi logam arsen di sedimen yang tinggi, pH dan suhu yang rendah. Penggunaan indeks keanekaragaman pada penelitian ini masih relatif sensitif dalam mencerminkan gangguan akibat kontaminasi logam berat di sedimen. ABSTRACTPresence of heavy metals in aquatic ecosystems have been reported to cause problems in aquatic organisms. One of the aquatic organisms that have risk for exposure by heavy metals from sediments is macrozoobenthos. This paper aims to describe the influence of heavy metal contamination in sediments to the structure of macrozoobenthos communities in lentic ecosystem (small lakes and reservoirs). This study was conducted in June 2009 to September 2011 in some small lakes and reservoirs which are in West Java and Jakarta provinces. Macrozoobenthos samples were collected by using Ekman grab. The results showed that there is a low correlation index with a high diversity of macrozoobenthos contamination by arsenic. The contribution of Pb and Cd in giving effect to diversity index is relatively small. The existence of macrozoobenthos Coleoptera (Simsonia sp.), Leeches (Placobdella sp.), Chironomid larvae (Ablabesmyia sp.), and (Tanytarsus sp.) relatively tolerant to high contamination arsenic in sediment, and low pH and temperature. The use of diversity index in this study was relatively sensitive to reflect the disruption caused by heavy metal
PREDICTION OF GREENHOUSE GASSES EMISSION FROM MUNICIPAL SOLID WASTE SECTOR IN KENDARI CITY, INDONESIA (Prediksi Emisi Gas Rumah Kaca dari Sektor Sampah di Kota Kendari, Indonesia)
ABSTRAKMunicipal solid waste sector is considered as one of major contributors for Greenhouse Gasses (GHGs). GHGs that are CO2, CH4 and N2O were emitted from any waste management stages including waste transportation, treatment and disposal. The paper aims to predict GHGs emission from the last two stages above using the guidelines issued by Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) year of 2006. By comparing amount of waste generation at source and waste comes to landfill site, it can be found that the municipality only transport 68% of total 174 ton/day waste generated throughout the city. Percentage of waste to be composted and openly burned were 3.25 and 0.06 % of total waste generated, respectively. Organic waste, plastics and paper were dominantly found at final disposal site by 41, 31 and 9 %, respectively. GHGs emission from landfilling becomes a major source and it equals to 50,010 ton CO2 equivalent/year. The second largest of GHGs generator is waste burning equals to 340 ton CO2 equivalent/year. While waste composting generates 10 ton CO2 equivalent/year. Amount of GHGs emission can be reduced by reducing amount of waste to be landfilled and improving better practice at final disposal. Further, any measures regarding with Reduce, Reuse and Recycling (3R) of waste becomes important to be improved to reduce GHGs emission. ASBTRACTSektor sampah merupakan salahsatu penyumbang utama Gas Rumah Kaca (GRK). GRK meliputi CO2, CH4 and N2O diemisikan dari berbagai tahapan pengelolaan sampah, termasuk pengangkutan, pengolahan dan penimbunan sampah. Paper ini bertujuan untuk memprediksi emisi GRK dari dua tahapan terakhir dengan menggunakan panduan yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2006. Dengan membandingkan jumlah timbulan sampah di sumber dan yang sampai di lokasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah, dapat diketahui bahwa pemerintah daerah hanya dapat mengangkut 68% dari total timbulan sampah Kota Kendari di sumber yang sebesar 174 ton/hari. Jumlah sampah yang dikomposkan dan dibakar terbuka masing-masing sebesar 3,25 dan 0,06 %. Sampah organik, plastik dan kertas mendominasi jenis sampah di TPA dengan prosentase masing-masing 41, 31 dan 9 %. Emisi GRK dari penimbunan sampah menjadi sumber terbesar yaitu sebesar 50.010 ton CO2 ekuivalen/tahun. Sumber terbesar kedua adalah pembakaran sampah yang sebesar 340 ton CO2 ekuivalen/tahun. Sementara pengomposan mengemisikan 10 ton CO2 ekuivalen/tahun. Jumlah emisi GRK dapat direduksi dengan cara mengurangi jumlah sampah yang ditimbun dan memperbaiki pengoperasian penimbunan yang lebih baik. Lebih lanjut lagi, berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan implementasi konsep Reduce, Reuse dan Recycling (3R) dalam pengelolaan sampah menjadi penting untuk ditingkatkan dalam rangka mengurangi emisi GRK
STRUKTUR, KERAGAMAN DAN ASOSIASI KOMUNITAS TUMBUHAN PEMANJAT DENGAN POPULASI ALAM MERBAU DI TAMAN WISATA ALAM GUNUNG MEJA MANOKWARI-PAPUA BARAT (Structure, Diversity and Association of Climbing Plants Communities with Merbau Population in Gunung Meja)
ABSTRAKStruktur, keragaman dan asosiasi komunitas tumbuhan pemanjat dengan pohon inang di hutan tropis sangat ditentukan oleh banyak faktor biofisik habitat yang saling timbal balik hubungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur, keragaman dan derajat asosiasi antara tumbuhan pemanjat dengan tegakan alam merbau di TWA Gunung Meja Manokwari, Papua Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa liana di bawah tegakan merbau memiliki keragaman sedang, terdiri dari 67 jenis, 52 genera dan 32 famili liana, liana berkayu 33 jenis, 29 genera dan 22 famili dan liana tak berkayu 35 jenis, 27 genera dan 19 famili. Jenis dominan adalah Pothos rumphii, dominansi sedang Philodendron sp. dan 65 jenis yang lain kurang dominan. Sebanyak 33 jenis berasosiasi sangat kuat dengan tegakan merbau, 28 jenis asosiasinya kuat dan 6 jenis asosiasinya kurang kuat. Faktor lingkungan yang berperan terhadap strukur dan keragaman serta asosiasi adalah struktur vertikal dan struktur horizontal tegakan, naungan hutan, diameter, tinggi, tekstur batang dan lebar tajuk pohon merbau dan jenis pohon yang lain. ABSTRACTReciprocal relationship among biophysical factors of habitat influence the structure, diversity and assocition levels of climbing plants with host tree in the tropical forest. The aims of this study were to know structure, diversity and assocition levels of liana and merbau population in Gunung Meja natural tourism park of Manokwari, West Papua. There were 67 species, 52 genera and 32 families of climbing plants under the merbau stands. It consists of 33 species of lianas, 29 genera, 22 families, 35 species of vines, 27 genera and 19 families and they have medium diversity levels. Pothos rumphii is the most dominant species, Philodendron sp. is medium dominant and 65 species are minimum dominant. 33 species have strong association with merbau stands, 28 species has less strong and 6 were not strong. Habitat factors that plays an important roll in the structure, diversity and assocition levels of climbing plants, were vertical and horizontal structure of forest stands, shade levels, diameters, height, crown width, texture of merbau burk and other tree species
ANALISIS PERKEMBANGAN WILAYAH, PEMUSATAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN HUTAN DAN KAITANNYA DENGAN KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT MERAPI (The Analysis of Area Development, Change Decentralization, Forest Use, and Their Relationship with Social)
ABSTRAKDinamika wilayah desa tercermin dari perubahan terus menerus yang berkaitan dengan berbagai faktor lingkungan hidup.Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi perubahan dan dinamika perubahan penggunaan lahan, pemusatan dan pertumbuhan penggunaan lahan, serta dampak sosial budaya masyarakat petani hutan rakyat di Kecamatan Cangkringan. Metode yang digunakan analisis loqation quotient (LQ), skalogram, korelasi, observasi, dan kuisioner. Hubungan LQ dengan indeks perkembangan desa (IPD) menggunakan analisis korelasi, dengan parameter nilai LQ, jumlah sarana prasarana, jumlah penduduk, serta nilai IPD. Berdasar nilai IPD, kelurahan yang mempunyai nilai IPD tertinggi adalah Argomulyo (72,952), nilai IPD sedang adalah Umbulharjo (50,971), Kepuharjo (48,781), Wukirsari (40,695) dan Glagaharjo (36,599), sedangkan kelurahan dengan nilai IPD terendah tidak ada. Berdasar hirarki wilayah dan nilai IPD tahun 2011 kelurahan di dataran bagian atas umumnya mempunyai hirarki yang lebih rendah. Hanya variabel IPD yang signifikan berpengaruh terhadap LQ pemukiman. Budaya, regulasi, dan kesepakatan masyarakat menjadi modal sosial untuk menangani perubahan.ABSTRACTThe dynamics of rural areas is reflected in the continuous changes associated with various environmental factors. The purpose of this research is to identify the changes and the dynamics of land use changes, the centralization and the growth in land use, as well as the social and cultural impacts of community forest farmers in Cangkringan. The method used in the analysis stage was Loqation Quotient (LQ), schallogram, correlation, observation, and questionnaires. The relationship LQ with rural development index (IPD) used correlation analysis, with parameter values LQ, the amount of infrastructure, population, and the value of IPD. Based on the IPD value, villages that had the highest IPD value was Argomulyo (72.952), the average IPD value was Umbulharjo (50.971), Kepuharjo (48.781), Wukirsari (40.695), and Glagaharjo (36.599), and there was no village with the lowest IPD value. Based on the hierarchy of the region and the IPD value in 2011, the villages in high lands generally had a lower hierarchy. Only IPD variables significantly affected the LQ settlement. Culture, regulations, and agreements society became social capital to deal with changes
TIMBULAN SAMPAH B3 RUMAHTANGGA DAN POTENSI DAMPAK KESEHATAN LINGKUNGAN DI KABUPATEN SLEMAN, YOGYAKARTA (Generation of Household Hazardous Solid Waste and Potential Impacts on Environmental Health in Sleman Regency, Yogyakarta)
ABSTRAKSampah rumahtangga yang mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) seperti baterai, lampu listrik, elektronik, kemasan pestisida, pemutih pakaian, pembersih lantai, cat, kaleng bertekanan (aerosol), sisa obat-obatan, termometer dan jarum suntik berpotensi mengancam kesehatan manusia dan lingkungan. Meskipun kuantitas sampah B3 rumahtangga (SB3-RT) di Kabupaten Sleman hanya 2,44 g/orang/hari atau sekitar 0,488% dari sampah domestik, tetapi karena memiliki karakteristik mudah meledak, mudah terbakar, reaktif, beracun, infeksius dan/atau korosif maka sangat membahayakan bagi kesehatan dan lingkungan (air, tanah, udara). Sampai saat ini, SB3-RT di Kabupaten Sleman masih ditangani seperti layaknya sampah domestik, yaitu dibakar, dibuang ke sungai, ditimbun di pekarangan, dibuang ke tempat pembuangan sampah ilegal atau dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Piyungan. Jenis SB3-RT yang banyak ditemukan adalah sampah elektronik (24,91%), lampu listrik bekas (18,08%) dan baterai bekas (16,71%). Ketiga jenis sampah tersebut mengandung berbagai unsur logam berat seperti Cd, Pb, Hg, Cr, As, Ni, Co, Zn, Cu, Al, Mn, Li, Sb dan Fe yang umumnya bersifat toksik, karsinogenik dan akumulatif yang dapat masuk ke dalam tubuh manusia secara langsung atau melalui rantai makanan. Pemaparan bahan berbahaya beracun (B3) dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai jaringan/organ tubuh pada masyarakat sekitar tempat pembuangan, petugas sampah, pemulung, pengepul, pemanfaat dan pelaku daur ulang SB3-RT. Oleh karena itu SB3-RT perlu dikelola sebagaimana mestinya sesuai dengan sifat dan karakteristiknya. ABSTRACTHousehold solid waste containing hazardous and toxic materials such as batteries, electric light, electronics, pesticides, bleach, cleaner, paint, pressurized cans (aerosol), unused medicines, thermometers and syringes can threaten human and environment. Although the quantity of Household Hazardous Solid Waste (HHSW) in Sleman Regency only 2.44 g/person/day or approximately 0.49% of domestic waste, but because it has the characteristics of explosive, flammable, reactive, toxic, infectious and/or corrosive then potentially cause health and environmental issues (water, soil, air) seriously. Until now, HHSW in Sleman still handled like domestic waste, which is burned, dumped into the river, dumped in the yard, disposed into illegal dumping or dumped into the final disposal site (TPA Piyungan). Types of HHSW most common are electronic waste (24.91%), electric lamps former (18.08%) and used batteries (16.71%). Those HHSW contain a variety of heavy metals such as Cd, Pb, Hg, Cr, As, Ni, Co, Zn, Cu, Al, Mn, Li, Sb and Fe, which are generally toxic, carcinogenic and bioaccumulative that can be entered into the human body directly or through the food chain. Exposure to harmful and toxic materials can cause damage to various tissues/organs of the communities around the dumping, garbage worker, scavengers, collectors, users and recycler of HHSW. Therefore HHSW in Sleman Regency needs to be managed properly in accordance with the nature and characteristics