Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
    446 research outputs found

    KOADAPTASI PETANI DALAM PENGELOLAAN EKOSISTEM PERTANIAN PADA BUDIDAYA UBI KAYU DI DESA RANCAMANGGUNG KABUPATEN SUBANG (Farmers Coadaptation in Agroecosystem Management of Cassava Cultivation in Rancamanggung Village - Subang District)

    Full text link
    ABSTRAKUbi kayu (Manihot esculenta) menjadi tanaman pokok sumber penghasilan bagi sebagian besar masyarakat petani di Desa Rancamanggung Kabupaten Subang selama tigadekade. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa mitos ubi kayu sebagai tanaman boros nutrisi dapat dipatahkan. Berdasarkan hal itu, dilakukan sebuah studi kasus yang bertujuan untuk mengenali inovasi pengelolaan ekosistem pertanian ubi kayu yang diterapkan oleh masyarakat petani di desa tersebut. Fokus diarahkan pada petani kecil pengelola lahan kurang dari 2000m2. Secara umum petani kecil ditengarai sebagai komunnitas yang lebih rentan terhadap terhadap tekanan ekonomi yang kerap ditunjukkan melalui ekploitasi lingkungan berlebihan. Wawancara mendalam dan observasi langsung dilakukan untuk menggali fenomena lapangan. Dapat disimpulkan bahwa petani kecil di Desa Rancamanggung telah menunjukkan kemampuannya dalam mendayagunakan potensi lokal dengan baik. Penyesuaian terhadap dinamika ekosistem pertanian,Hal ini dibuktikan dengan kemampuan memenuhi permintaan pasar terhadap ubi kayu, yang cenderung meningkat. Di dalam keterbatasan sumber daya yang dikelola,pemenuhan permintaan pasar tersebut dipenuhi dengan melakukan inovasi pengelolaan ekosistem pertaniannya sehingga jumlah dan mutu hasil panen tetap dapat terjaga dalam jangka waktu panjang. ABSTRACTCassava (Manihot esculenta) has been the main income generating crop for most farmers in Rancamanggung Village of Subang District during the last three decades. The phenomenon is breaking the myth about cassava as nutrient removal crop. Based on the observed fact, a case study was conducted to gain thorough understanding of the agroecosystem management performed by cassava farmers in the area. Focus was directed towards smallholders performance who manage less than 2000 m2 area of agricultural land. It is a common belief that smallholders are more prone to economic pressure leading to excessive environmental exploitation. Indepth interview and direct observation were conducted to explore field phenomenon. However, it is found that the smallholder farmers in Rancamanggung Village show their capability to reasonably optimize local resources. Adaptation to the dynamics of agroecosystem was indicated by their ability to fulfill the increasing market demand. Despite resources limitation, the smallhoder farmers continue to perform by managing their agroecosystem without any sign of productivity nor quality declination in a long period of time

    DAMPAK HIDROKARBON AROMATIK TERHADAP EKOSISTEM MANGROVE DI KAWASAN BINALATUNG KOTA TARAKAN KALIMANTAN UTARA (Impact of Aromatic Hydrocarbon on Mangrove Ecosystem in Binalatung Area Tarakan City North Kalimantan)

    Full text link
    ABSTRAKKontaminan yang disebabkan oleh hidrokarbon aromatik pada lingkungan mangrove menjadi perhatian serius, karena dampak yang ditimbulkan dapat berakibat berkurangnya fungsi sistem ekologi mangrove secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan dampak hidrokarbon aromatik terhadap ekosistem mangrove. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2014 hingga bulan Februari 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa hidrokarbon aromatik terdiri atas; stirena 2,4,6-trimetil, xilena, stirena, fenantrena dan naftalena 2-benzil. Dampak yang ditimbulkan berupa terjadinya kematian massal terhadap mangrove. Alternatif penanganan kandungan hidrokarbon aromatik pada mangrove adalah dengan metode fitoremediasi. ABSTRACTContaminants of aromatic hydrocarbon on mangrove zone has been a concern seriously, due to the impacts will reduce the overall ecological function of mangrove. The study aims to know kinds and impact of aromatic hydrocarbons of mangrove ecosystem. The study was conducted from August 2014 to February 2015.The results showed that aromatic hydrocarbon compounds consist of; styrene 2,4,6-trimethyl, xylene, styrene, phenantrena dan naftalena 2-benzyl. The impact is dieback of mangrove. Alternative handling aromatic hydrocarbons of mangroves is phytoremediation method

    KONTAMINASI MERKURI PADA SAMPEL LINGKUNGAN DAN FAKTOR RISIKO PADA MASYARAKAT DARI KEGIATAN PENAMBANGAN EMAS SKALA KECIL KRUENG SABEE PROVINSI ACEH (Mercury Contamination in the Environmental Samples and Risk Factors in Inhabitants of the Small Scale Gold)

    Full text link
    ABSTRAKKegiatan penambangan emas skala kecil dengan teknik amalgamasi dapat memberikan peluang introduksi merkuri (Hg) ke lingkungan dan manusia. Penelitian kontaminasi Hg pada air minum, ikan, rambut kepala manusia, dan faktor risiko pada manusia telah dilakukan di wilayah Krueng Sabee, Provinsi Aceh. Metode pengambilan dan pengujian sampel yang mengandung Hg dilakukan dengan prosedur SNI, EPA dan WHO. Rancangan cross sectional survey dilakukan pada empat desa dengan 72 responden yang dipilih secara acak. Wawancara dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur untuk mendapatkan informasi terkait faktor risiko kesehatan. Pengukuran konsentrasi Hg untuk sampel air dan ikan dilakukan dengan Cold Vapor Atomic Absorption Spectrophotometer dan untuk sampel rambut kepala menggunakan Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry. Analisis data dilakukan dengan analisis varian, uji t sampel bebas, dan uji t satu sampel. Model prediksi dihasilkan menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan konsentrasi Hg pada sampel air sumur sebesar 0,24 ± 0,25 µg/L; sampel ikan: Rastrellinger kanagurta,149,46 ± 2,00 µg/g, Selaroides sp, 58,6 ± 3,01 µg/g, Euthynnus affinis, 46,3 ± 2,98 µg/g; dan pada rambut kepala mulai dari 11,2 ± 4,02 µg/g hingga 48,3 ± 22,29 µg/g. Faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap konsentrasi Hg pada responden adalah status bekerja di Krueng Sabee, lokasi, lama tinggal, status pekerja tambang dan lama penggunaan pembakar amalgam. Faktor-faktor risiko ini memberi peran sebesar 45,8% terhadap akumulasi Hg di dalam rambut kepala responden. ABSTRACTSmall-scale gold mining activities with amalgamation process can contribute the entry of mercury (Hg) into environment and humans. Research on Hg contamination in drinking water, fish, human head hair, and risk factors has been conducted in the area of Krueng Sabee, Aceh Province. Methods of samples collection and Hg concentrations testing conducted by SNI, EPA and WHO procedures. A cross sectional survey was conducted in four villages with 72 respondents which were randomly selected. The interviews were conducted using a structured questionnaire to obtain information related to health risk factors. Measurement of Hg concentration in drinking water and fish samples were conducted by Cold Vapor Atomic Absorption Spectrophotometer and for head hair sample using Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry. Data analysis was performed by analysis of variance, independent samples t-test and t-test of one sample. Predictive models generated using multiple linear regression analysis. The results showed Hg concentration in well water was 0.24 ± 0.25 µg/g; in fish samples were: Rastrellinger kanagurta, 149.46 ± 2.00 µg/g, Selaroides sp, 58.6 ± 3.01 µg/g, Euthynnus affinis, 46.3 ± 2.98 µg/g; and in head hair ranging from 11.2 ± 4.02 µg/g to 48.3 ± 22.29 µg/g. Risk factors that were correlated with respondent’s head hair Hg concentration were working in Krueng Sabee, village location, length of stay, role in mining process, and length of contact with amalgamation combustion. These risk factors giving a role of 45.8% to the accumulation of Hg in the head hair of respondents.

    KEHILANGAN KARBON AKIBAT DRAINASE DAN DEGRADASI LAHAN GAMBUT TROPIKA DI TRUMON DAN SINGKIL ACEH (Carbon Loss from Drainaged and Degradation of Tropical Peatland in Trumon and Singkil, Aceh)

    Full text link
    ABSTRAKEkosistem hutan gambut tropika merupakan penyimpan karbon potensial, tetapi konversi lahan dan penebangan tidak lestari menyebabkan ekosistem ini juga menjadi sumber emisi karbon ke atmosfer. Pengaruh perubahan penutupan lahan dan pembangunan drainase terhadap dinamika muka air, penurunan tanah dan kehilangan karbon masih belum banyak diketahui pada tipologi gambut pesisir dengan bentang lahan yang sempit. Penelitian dilaksanakan pada berbagai tipe penutupan lahan gambut di Trumon dan Singkil, Provinsi Aceh mulai Mei 2013 hingga Oktober 2014. Penyimpanan dan kehilangan karbon dihitung berdasarkan bobot isi, kadar abu, karbon organik tanah, dan kedalaman tanah. Hasil penelitian menunjukkan perubahan penutupan lahan dan pembangunan drainase mempengaruhi tata air, penurunan tanah, dan kehilangan karbon sebesar 38,54 – 58,52%. Penurunan permukaan tanah tertinggi sebesar 5,6 cm/tahun terjadi pada lahan dengan bobot isi rendah dan intensitas drainase yang tinggi. Kehilangan karbon dari degradasi lahan gambut melepaskan sekitar1,352 ton CO2 eq/ha/tahun.  ABSTRACTTropical peat forest is one of significant atmospheric carbon sequester, but land conversion and illegal logging affects carbon stocks and transform these ecosystem into source of carbon emissions. The influence of land use change and drainage on water table fluctuation, soil subsidence and carbon loss are insufficiently known especially on typhology of narrow marine peatland. A study was conducted in Trumon and Singkil, Aceh Province from May 2012 until October 2014 in various peat land use types. Carbon stocks and carbon loss were calculated from data of bulk density, ash and carbon content, and peat depth. Results showed that land use types and distance from drainage influences the level of water table depth, subsidence rate, and carbon loss 38.54 – 58.52%. The highest subsidence rate occurred on peatlands which low bulk density and highly drainage intensity. Carbon loss from peat degradation released flux 1.352 ton CO2 eq/ha/year, highly correlated with measured rates of subsidence, depth of water table and bulk density

    STRATEGI PEMILIHAN JENIS TANAMAN UNTUK MENDUKUNG REHABILITASI PESISIR BERDASARKAN KARAKTERISTIK FISIK MAKRO DI MUARA SUNGAI PROGO (Strategy of Plant-Species Selection for Coastal Rehabilition Based on Macro-physical Characteristics in Progo Estuary)

    Full text link
    ABSTRAKMuara Sungai Progo memiliki peran yang penting secara ekologis dan sosial-ekonomis bagi masyarakat Yogyakarta bagian selatan. Mengingat kondisinya kurang baik, maka dibutuhkan strategi rehabilitasi dengan jenis tanaman yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan arahan jenis tanaman yang sesuai untuk rehabilitasi pesisir muara Sungai Progo berdasarkan karakteristik fisik makro lahan. Penelitian ini menggunakan teknologi sistem informasi geografis (SIG) dengan metode digitasi dan overlay peta menggunkan software Arc GIS (ver. 10.0 ESRI) sebagai acuan analisis dan interpretasi peta kondisi muara selama 10 tahun terakhir, sehingga diketahui lokasi-lokasi yang tetap dari waktu ke waktu, dikombinasikan dengan pemetaan genangan air, salinitas dan sebaran jenis endapan. Lokasi penelitian adalah areal pasang surut yang relatif sempit (13,10 ha), namun berperan penting dalam rehabilitasi seluruh areal muara Sungai Progo (luas sekitar 100 ha). Berdasarkan kondisi ketergenangan air yang dipengaruhi arus yang lemah dan kadar salinitas, ditemukan relung-relung lahan basah yang sesuai untuk tanaman mangrove, terdiri dari lahan berpasir (2,49 ha) yang sesuai untuk jenis Avicennia marina, Rhizophora stylosa dan Ceriops tagal; serta berlumpur (0,89 ha) untuk jenis R. mucronata, R. apiculata, Bruguiera sp. dan Sonneratia alba. Pada lahan kering yang didominasi pasir (1,70 ha) direkomendasikan jenis Casuarina equisetifolia dan Pandanus tectorius; serta dominasi tanah (6,45 ha) dengan jenis produktif Callophyllum inophyllum dan kelapa. Dengan menanam jenis-jenis secara tepat dalam rehabilitasi jangka pendek, maka diharapkan akan berdampak baik pada rehabilitasi seluruh kawasan muara. ABSTRACTProgo estuary has an important ecological and socio-economic roles for communities in the South of Yogyakarta. Within a long time, the location is delayed in critical condition, and needs a proper rehabilitation strategy through selecting suitable species. The research aimed to recommend suitable species for coastal region of Progo estuary, based on study of macro-physycal characteristics of the site. The research conducted using GIS technology through digitation method and interpretation of map using Arc GIS (ver. 10.0 ESRI) fot the changes of Progo estuary in the last 10 years, determining the steady spots over time, and mapping wet areas, water salinity and distribution of the sediment. Research site is a small intertidal zone (13.10 ha), but plays important role to the whole rehabilitation program of Progo estuary (approximated 100 ha). Based on the mapping of wet area affected by slow wave and water salinity, it was determined niches of wet land that suitable for mangroves, consisted of sandy soil (2.49 ha) for Avicennia marina, Rhizophora stylosa and Ceriops tagal; and muddy soil (0.89 ha) for R. mucronata, R. apiculata, Bruguiera sp. and Sonneratia alba. On dry land dominated by sand (1.70 ha), the study recommends Casuarina equisetifolia and Pandanus tectorius; and on dry fertile soil with Callophyllum inophyllum and coconut. By planting the suitable species on the specific site, it will positively impacts on the rehabilitation program on the whole area of Progo estuary

    Index Subject

    No full text

    DISTRIBUSI KARBON DI BEBERAPA PERAIRAN SULAWESI UTARA (Carbon Distribution in North Sulawesi Waters)

    Full text link
    ABSTRAKProvinsi Sulawesi Utara memiliki memiliki letak strategis di mana berada di jalur pelayaran kawasan pasifik serta kawasan segitiga terumbu karang dunia. Berbagai penelitian kelautan telah dilakukan di kawasan ini, namun demikian belum ada informasi ilmiah tentang karbon laut yang sangat penting untuk memahami dinamika fluks karbon dalam kerangka mitigasi perubahan iklim. Tujuan dari penelitian ini untuk menyediakan informasi awal mengenai sebaran karbon di perairan Sulawesi Utara dan menganalisis potensi penyerapan dan pelepasan karbon dioksida (CO2) di beberapa perairan Sulawesi Utara. Pengukuran dilakukan secara langsung di lapangan pada parameter pCO2. Pengukuran pCO2 dilakukan di perairan Teluk Buyat, Teluk Totok, Teluk Manado, Selat Lembeh dan perairan Tongkaina. Data-data pCO2 hasil pengukuran di perairan Teluk Buyat berkisar 414,17 – 608,29 µatm, perairan Teluk Ratatotok berkisar 428,18 – 516,97 µatm, perairan Teluk Manado berkisar 385,16 – 395,52 µatm, perairan Selat Lembeh berkisar 342,90 – 492,12 µatm dan perairan Tongkaina berkisar 394,54 – 568,32 µatm. Nilai pCO2 terendah terletak di perairan teluk Manado sedangkan yang tertinggi terletak di perairan Teluk Buyat. Kisaran hasil pengukuran masih dalam batas normal pengukuran di daerah pesisir yang berkisar antara 200 – 4.600 μatm. Hasil analisis ∆pCO2 Teluk Buyat, Teluk Totok, perairan Tongkaina dan perairan Selat Lembeh berperan sebagai pelepas karbon dan untuk Teluk Manado berperan sebagai penyerap karbon.  ABSTRACTNorth Sulawesi has strategically located in the shipping lanes of the Pacific region as well as in the Coral Reef Triangle. Various marine researches have been done in the area, however, there is no scientific information about the ocean carbon which is essential to understand the dynamics of carbon flux in terms of climate change mitigation. The purpose of this study is to provide preliminary scientific information on the distribution of carbon and to analyze the sink and source potency in North Sulawesi waters. In situ measurements performed on the parameter pCO2. Measurements of pCO2were taken in the waters of Buyat Bay, Totok Bay, Manado Bay, Lembeh Strait and Tongkaina waters. In the waters of Buyat Bay ranged from 414.17 to 608.29 μatm, Ratatotok Bay ranged from 428.18 to 516.97 μatm, Manado Bay waters ranged from 385.16 to 395.52 μatm, Lembeh Strait waters ranged from 342.90 to 492,12 μatm and Tongkaina waters ranged from 394.54 to 568.32 μatm. Lowest pCO2 values located in Manado Bay, while the highest in Buyat Bay. Range measurement results are within normal limits measurements in coastal areas ranging from 200 – 4.600 μatm. The result of ∆pCO2analysis shows that Buyat Bay, Totok Bay, Tongkaina waters and Lembeh Strait relatively act as carbon source and Manado Bay as carbon sink

    KARAKTERISTIK SPASIAL PERMUKIMAN VERNAKULAR PERAIRAN DI SULAWESI TENGAH (Characteristic Settlement on The Spatial of Aquatic Vernacular at Central Sulawesi)

    Full text link
    ABSTRAKPermukiman masyarakat perairan terbentuk karena kondisi alam dan geografi yang rentan terhadap bencana. Masyarakat setempat membangun rumah tinggal berbentuk panggung, di mana sebagian atau seluruhnya berada di atas air, menggunakan bahan bangunan yang mudah diperoleh di lingkungannya. Tujuan penelitian untuk mendapatkan gambaran karakteristik spasial permukiman vernakular perairan khususnya di Sulawesi Tengah. Penelitian menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif, pengambilan data dilakukan secara naturalistik dan teknik analisis secara induktif. Awalnya permukiman dibentuk oleh pemukim karena kebutuhan tempat bernaung dan berlindung. Tempat dipilih yang dapat memberi keamanan bersama keluarga, sehingga pulau-pulau karang menjadi pilihannya. Kelompok terdiri atas beberapa keluarga, membangun tempat tinggal mengelilingi daratan bukit karang sesuai pengetahuan lokalnya. Dalam perkembangannya, jumlah permukim bertambah, sehingga unit-unit permukiman tumbuh dan berkembang ke laut. Permukiman terdiri atas deretan rumah tinggal dihubungkan oleh jalan atau jembatan kayu (tetean). Unit-unit permukiman membentuk spasial di mana rumah tinggal mengelilingi ruang-ruang publik. Interaksi sosial dilakukan pada dego-dego, jalan setapak (tetean) dan ruang-ruang publik permukiman. Interaksi lain biasanya dilakukan pada saat melaut mencari ikan. Laut sebagai akses antar unit-unit lingkungan, tempat bermain bagi anak-anak dan ruang kehidupan bagi pemukim. Rumah tinggal merupakan ruang privat, sedang dego-dego, tetean jalan dan pasar adalah ruang publik. Spasial permukiman membentuk pola melingkar satu arah mengelilingi daratan bukit karang atau linier satu dan dua arah. Orientasi lain dan bersifat privat yaitu laut sehingga ruang belakang rumah tinggal (tatambe) menghadap ke laut. Pusat permukiman adalah mesjid sebagai ruang sakral sekaligus ruang publik. ABSTRACTCommunity settlements waters formed due to natural and geographical conditions that are vulnerable to disasters. They have built houses, where the majority or entirely are above of water, using the building materials which are easy to obtain at the environment. This research purposes to get an idea of the spatial characteristics of the vernacular waters of settlements, especially at Central Sulawesi. This research use case study method with qualitative approach and data were collectend with naturalistic and analysis technique was inductive. The settlements of aquatic community were formed because of natural conditions and geography condition that are particularly vulnerable to disasters. At first, the settlements were established by the settlers because of the need for shelter and refuge. They chosed a shelter that can provide security with his family, so that the islands adjacent to the place that gives life is the choice. A group of several families eventually built their houses around the inland cliffs appropriate to their local knowledge. In the development of settlers grew, the settlement units grow and develop over the sea. Also the houses made a linear line form around the coral reef. The settlement consists of a row of houses (very dense on the mainland island) which are connected by a road or bridge timber (tetean). These units settlement form a spatial between the houses around public spaces that are streets, mosques, schools, village halls, shops, washing bath, and places to play. Social interaction settlers were carried on the front porch, pathways, and public spaces in neighborhoods. Another interaction is usually done when they are fishing. The sea also serves as an access between the units and a playground for neighborhood children as well as space for the life of settlers. The residential house is a private space but the front porch and the road is public space. The spatial of settlement forms a circular pattern around the land of the cliff, or a linear one-and two-way and the street or tetean serves as the access and public space which is as the central orientation. The other orientation as private spaces is ‘the sea’ so that behind of the houses face the sea. The central of settlement is the mosque or mushollah which has function as sacred space and public space

    EFEKTIVITAS KAPORIT PADA PROSES KLORINASI TERHADAP PENURUNAN BAKTERI Coliform DARI LIMBAH CAIR RUMAH SAKIT X SAMARINDA (The Effectiveness of Calcium Hypochlorite to Chlorination Process in Decreasing the Amount of Coliform Bacteria in the Wastewater of X)

    Full text link
    ABSTRAKKaporit pada limbah cair rumah sakit digunakan sebagai desinfektan, tetapi, penggunaan kaporit dengan dosis yang tidak tepat akan menyebabkan pembentukan senyawa Trihalomethane (THMs) yang beracun dan bersifat karsinogenik. Pada limbah cair rumah sakit X Samarinda, diperoleh nilai MPN Coliform sebesar >160.000 MPN / 100 mL dengan residu klor sebesar 0 ppm. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis optimum dari penggunaan kaporit menggunakan titik Breakpoint Chlorination (BPC) dan pengaruhnya terhadap penurunan Coliform. Analisis dilakukan dengan titrasi iodometri dan menghitung jumlah bakteri Coliform memakai metode Most Probable Number (MPN). Penentuan dosis kaporit berdasarkan dosis optimum pada titik BPC dimaksudkan agar dapat menjaga residu klor dari penambahan dosis yang semakin meningkat. Hasil penelitian mempengarui rerata kadar bahan organik pada sampel limbah cair sebesar 137,26 ppm, sehingga dosis kaporit yang dibubuhkan dimulai dari 130-165 ppm. Titik BPC terjadi pada pembubuhan klor aktif 160 ppm untuk kedua waktu kontak yaitu 30 dan 40 menit. Pada titik BPC, waktu kontak 30 menit diperoleh rerata persentase penurunan nilai Coliform yaitu 98,21% sebesar 2.899 MPN / 100 mL dengan residu klor sebesar 88 ppm. Pada waktu kontak 40 menit diperoleh persentase penurunan bakteri Coliform hingga 98,83%, yaitu dari >160.000/100 mL menjadi 1.866/100 mL dengan residu klor 97,5 ppm.ABSTRACTCalcium hypochlorite of hospital wastewater serves as disinfectant, however, inappropriate dose of it will lead to the formation of Trihalomethane (THMs) which is toxic and carcinogenic. The value of MPN Coliform of wastewater in X hospital Samarinda is >160.000 MPN / 100 mL with residual chlorine 0 ppm. This research aims at determining the optimum dose of calcium hypochlorite usage by using Breakpoint Chlorination curve and its effect to Coliform decrease. Further, the analysis is done by employing iodometric titration and the amount of Coliform bacteria is calculated by using Most Probable Number (MPN) method. Calculation of calcium hypochlorite dose is based on the optimum dose at Breakpoint Chlorination (BPC) in order to maintain the residual chlorine from the addition of increasing doses. The research result has an impact on the average of organic substance in wastewater sample, it is about 137,26 ppm, so the dose of calcium hypochlorite needed is between 130-165 ppm. BPC curve occurs at 160 ppm of active chlorine for both contact time 30 and 40 minutes. At the BPC point of 30 minutes contact time obtained a mean percentage reduction of Coliform value is 98.21% which is 2,899 MPN/100 mL with residual chlorine 88 ppm. Besides, at 40 minutes contact time obtained the percentage reduction of Coliform bacteria up to 98.83%, it is from >160,000/100 mL to 1,866.67/100 mL with residual chlorine 97.5 ppm

    Cover

    Full text link

    343

    full texts

    446

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Manusia dan Lingkungan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇