Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
    446 research outputs found

    POTENSI HUTAN TANAMAN MAHONI (Swietenia macrophylla King) DALAM PENGENDALIAN LIMPASAN DAN EROSI (Potential of Swietenia macrophylla King Forest Plantation for Run Off and Erosion Control)

    Full text link
    ABSTRAKPenelitian dilaksanakan pada hutan tanaman mahoni (Swietenia macrophylla King.) umur 2, 5 dan 9 tahun yang berlokasi di Resort Polisi Hutan (RPH) Getas, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Monggot, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Gundih, Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi komunitas vegetasi tegakan mahoni pada beberapa fase umur dan potensinya dalam pengendalian limpasan dan erosi. Masing-masing umur tanaman dibangun 2 petak ukur pengamatan limpasan dan erosi dengan ukuran 22,1 m x 4 m per petak ukur. Sebagai kontrol dibangun 2 petak ukur dengan ukuran yang sama pada lahan terbuka (tanpa tanaman). Pengamatan vegetasi juga dilakukan di dalam petak ukur pengamatan erosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian erosi dan limpasan permukaan tegakan mahoni lebih banyak dikendalikan oleh keberadaan seresah dan tumbuhan bawah. Tingkat erosi yang terjadi pada tegakan mahoni umur 2, 5 dan 9 tahun menurun, yaitu masing-masing menjadi 49,4, 15,3 dan 8,7 % dibandingkan dengan control (lahan tanpa tanaman). Besar limpasan air permukaan pada tegakan mahoni umur 2, 5 dan 9 tahun yang dicerminkan oleh nilai koefisien erosi masing-masing sebesar 0,24 (4 % terhadap kontrol), 0,19 (24 % terhadap kontrol) dan 0,14 (44 % terhadap kontrol). Kegiatan seleksi pada kegiatan pemuliaan akan menghasilkan benih unggul yang akan meningkatkan produksi kayu (biomasa) dan menurunkan laju limpasan dan erosi. ABSTRACTThe research was conducted on mahogany (Swietenia macrophylla King.) plantations at 2, 5 and 9 years old located in RPH Getas, BKPH Monggot, KPH Gundih, Central Java. This study was carried out to determine the condition of vegetation communities of mahogany stand on several phases of age and its potential in controlling runoff and erosion. Two observation plots including runoff and erosion were set up by the size of 22.1 m x 4 m per plot. Two plots of the same size were also set up on open land (without plants) as a control. Observation of vegetation was also carried out in the plot observations of erosion. This study revealed that the erosion and the runoff surface of mahogany stand controlled by the presence of litter and undergrowth. The level of erosion of mahogany at 2, 5 and 9 years old declined respectively from 49.4, 15.3 and 8.7% compared to the control (soil without plants). The runoff coefficient value which showing the water runoff in stands of mahogany age of 2, 5 and 9 years were: 0.24 (4% from the control), 0.19 (24% from the control) and 0.14 (44% from the control). The selection activities in tree breeding will improve seed mahogany therefore, can increase the wood production (biomass) and decrease the runoff and erosion

    PENCEMARAN KADMIUM DI SEDIMEN WADUK SAGULING PROVINSI JAWA BARAT (Cadmium Pollution in Saguling DAM Sediment West Java Province)

    Full text link
    ABSTRAKSungai Citarum Hulu merupakan sumber air utama Waduk Saguling. Kualitas air sungai ini telah mengalami penurunan bahkan terpantau beberapa logam berat terkandung dalam air Sungai Citarum. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pencemaran Cd di sedimen Waduk Saguling pada dua musim yang berbeda. Lokasi penelitian dilakukan di 10 titik di Waduk Saguling. Penelitian mengkaji perbedaan konsentrasi Cd pada Bulan Juli 2015 mewakili musim kemarau dan Bulan November 2015 mewakili musim hujan. Sedimen yang diperiksa merupakan sedimen permukaan pada kedalaman 0-10 cm pada dasar waduk. Konsentrasi Cd di sedimen dianalisis menggunakan ICP-MS. Tingkat pencemaran sedimen akibat Cd dinilai dengan menggunakan dua metode yaitu: faktor contaminasi/contamination factor, CF dan indeks pencemaran logam/Metal Pollution Index, MPI. Berdasarkan hasil penelitian konsentrasi Cd dalam air selama satu dekade mulai tahun 2008-2014 cenderung mengalami peningkatan, dengan konsentrasi berkisar antara 0 mg/L-0,14 mg/L. Konsentrasi rata-rata Cd di sedimen Waduk Saguling pada Bulan Juli 2015 mewakili musim kemarau sebesar 13,54 mg/kg, sedangkan pada Bulan November 2015 mewakili musim hujan sebesar 21,08 mg/kg. Konsentrasi Cd di sedimen Waduk Saguling tidak memenuhi baku mutu kualitas sedimen berdasarkan baku mutu yang berlaku di Australian dan New Zaeland mengingat Indonesia belum memiliki baku mutu kualitas sedimen yaitu sebesar 1,5 mg/kg. Hasil penilaian kualitas sedimen dengan menggunakan metode CF di semua titik penelitian di Waduk Saguling termasuk kategori terkontaminasi sangat tinggi sedangkan berdasarkan hasil penilaian dengan MPI kualitas sedimen Waduk Saguling termasuk kategori tercemar oleh logam berat Cd. Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi pengelolaan Waduk Saguling mengenai kondisi pencemaran logam berat yang telah terjadi di waduk tersebut.ABSTRACTCitarum river is the main water source for Saguling Dam. The river waters quality has decreased even observed some heavy metals contained in the water. The aims of this study to assess Cd contamination in Saguling sediments in two different seasons. Location of the study conducted at 10 points in Saguling. The study evaluated the differences concentration of Cd in July 2015 represents the dry season and November 2015 represents the rainy season. Surface sediments samples taken from 0-10 cm a depth. Cd concentrations in sediments were analyzed using ICP-MS. Sediment contamination level assessed using two methods which are Contamination Factor (CF), and Metal Pollution Index (MPI). Based on the research Cd concentration in water for a decade beginning in 2008-2014 tended to increase, with concentrations ranging from 0 mg/L-0.14 mg/L. Average concentrations of Cd in sediments Saguling in July 2015 represents the dry season was 13.54 mg/kg, while in November 2015 amounted to 21.08 mg/kg. Cd concentrations in Saguling sediments not meet the quality standards based on Australian and New Zaeland standard of 1.5 mg/kg. Sediments quality assessment using the CF the category of very high contamination at all samples points in Saguling, while based on the MPI sediment quality Saguling polluted by heavy metals Cd. Results of this study can be considered for the management Saguling on the condition that heavy metal pollution occurs in the reservoir

    Indeks Subyek

    Full text link

    VARIASI PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN PADA BERBAGAI TIPE BENTUKLAHAN DAN KAITANNYA DENGAN ALIRAN DASAR SUNGAI PADA DAS KEDUANG PROVINSI JAWA TENGAH (The Variation of Land-Use Change in Various Landform Type and Its Correlation With River Baseflow)

    Full text link
    ABSTRAKPenelitian variasi penggunaan lahan dan kaitannya dengan aliran dasar skala DAS semakin banyak digunakan, sebagai akibat dari kebutuhan air yang terus meningkat. Karakteristik DAS mempengaruhi proses perubahan curah hujan sebagai masukan, dan aliran sungai sebagai keluaran. Untuk itu penting dilakukan penelitian dengan tujuan untuk menganalisis secara geospasial mengenai variasi perubahan penggunaan lahan pada berbagai tipe bentuklahan dalam kaitannya dengan aliran dasar sungai. Hasil analisis statistik variasi penggunaan lahan pada berbagai tipe bentuklahan dalam kaitannya dengan aliran dasar sungai secara geospasial menunjukkan bahwa ada perubahan yang signifikan. Karakteristik aliran dasar sungai di DAS Keduang Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah menunjukkan bentuk kurva resesi landai dengan koefisien resesi 0,99 dan volume aliran dasar rata-rata cukup tinggi. Analisis kurva resesi menggambarkan kondisi aliran dasar memiliki kemampuan menyimpan dan meloloskan aliran optimal. Dengan demikian pengelolaan ekosistem sungai secara bersinergi dan berkelanjutan dapat mempertahankan pola pemanfaatan sungai oleh masyarakat sekitar sebagai sebuah alternatif ketersediaan air masyarakat lokal. ABSTRACTNowadays, research that concerning in the relation between land use change and baseflow in watershed scale are increased due to the increasing water demand. Watershed characteristic typically affecting the alteration of rainfall as input and river flow as output. Therefore, this research aims to perform geospatial analysis on the variation of landuse change in various landform type and its correlation with river baseflow. Results from statistical analysis of landuse on the various types of landform and its correlation with river baseflow indicated that there are significant changes. Baseflow characteristic in Keduang watershed, Wonogiri, Central Java Province shows that the shape of recession curve is ramps with coefficient 0,99 and high baseflow average. Recession curve analysis describes that baseflow condition capable in storing and through the optimum flow. Hence, synergic and sustainable river ecosystem management could maintain river utilization pattern by the local community as an alternative for local water supply

    PENGELOLAAN KAWASAN PESISIR KABUPATEN BULELENG MELALUI PENGEMBANGAN MINA WISATA BAHARI (Management of Buleleng Coastal Areas Through the Marine Fisheries Tourism Development)

    Full text link
    ABSTRAKKawasan pesisir Kabupaten Buleleng saat ini telah dimanfaatkan dengan berbagai kegiatan kepariwisataan, akan tetapi kegiatan tersebut masih belum memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat dan memiliki kecenderungan mengalami kejenuhan. Untuk itu, diperlukan suatu pengembangan wisata alternatif yang sesuai dengan kondisi dan potensi sumber daya alam yang ada serta saling bersinergi dengan aktivitas wisata lainnya, seperti contohnya pengembangan mina wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis kondisi dan potensi sumberdaya alam pesisir dan laut, tingkat kesesuaian kawasan pesisir Buleleng dalam menunjang pengembangan mina wisata dan menghasilkan model aktivitas mina wisata di kawasan pesisir Buleleng yang terpadu dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kesesuaian kawasan dengan rancangan penelitiannya berupa survei lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesisir Kabupaten Buleleng apabila dilihat dari kondisi dan potensi sumberdaya alamnya masih mampu untuk mendukung aktivitas mina wisata dengan tingkat kesesuaian kawasan berdasarkan indeks kesesuaian wisata, yaitu pesisir Buleleng timur terkategori cukup sesuai (76,92), pesisir Buleleng tengah terkategori cukup sesuai (61,53) dan pesisir Buleleng barat terkategori sangat sesuai (87,17). Rencana model mina wisata yang dapat dikembangkan antara lain pesisir Buleleng timur adalah mina wisata budidaya laut (ikan hias dan karang) dan mina wisata perikanan tangkap (pemancingan dan spearfishing adventures), pesisir Buleleng tengah adalah mina wisata budidaya laut (rumput laut) dan mina wisata perikanan tangkap (pemancingan dan spearfishing adventures), dan pesisir Buleleng barat adalah mina wisata budidaya laut (rumput laut, Bandeng, Kerapu, Mutiara, ikan hias dan karang) dan mina wisata perikanan tangkap (pemancingan dan spearfishing adventures).  ABSTRACTBuleleng coastal area has been used for various tourism activities, however, the activities have not given an optimum benefit for the community and tend to experience saturation. This study was aimed at investigating the condition and potentiality of the coastal area and the sea, the degree of fit of Buleleng coastal area in supporting the development of fisheries tourism and at producing a model of the coastal area tourism activities that are integrated and sustainable. This study used the approach of area suitability with field survey design. The results showed that Buleleng regency coastal area, viewed from the point of the condition and the potentiality of the natural resources still has the capacity to support fisheries tourism. The model plannings of fisheries tourisms that can be developed, among others, are: the East Buleleng coastal area is suitable for marine culture fisheries tourism (ornamental fish and coral) and fished fisheries tourism (fishing and spearfishing adventures); the central Buleleng coastal area for marine culture fisheries tourism (seaweed) and fished fisheries tourism (fishing and spearfishing adventures), and the West Buleleng coastal area for marine culture fisheries tourism (seaweed, milk fish, grouper, pearl, ornamental fish and coral) and fished fisheries tourism (fishing and spearfishing adventures)

    DESAIN VEGETASI BERNILAI KONSERVASI DAN EKONOMI PADA KAWASAN PENYANGGA SISTEM TATA AIR DAS BOLANGO (Designing of Vegetation which Conservation and Economic Values in the Buffer Area of Water System at the Bolango Watershed)

    Full text link
    ABSTRAKPerencanaan pembangunan arboretum di DAS Bolango dengan konsep konservasi dan ekonomi perlu dilakukan karena DAS ini memiliki peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat sekitar. Tujuan penelitian ini adalah memberikan rekomendasi tentang komposisi dan struktur vegetasi penyusun hutan pada kawasan arboretum sebagai pemelihara mata air Sungai Bolango. Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi sumber mata air, tanah, dan kondisi vegetasi eksisting. Metode wawancara kepada masyarakat setempat dilakukan untuk mendukung data etnobotani. Kajian lahan dilakukan antara lain tata guna, kelas kemampuan, konsep pengelolaan, kesesuaian lahan, dan penentuan vegetasinya. Hasil identifikasi sumber mata air menunjukkan bahwa terdapat 3 lokasi yang potensial dibangun arboretum, yaitu Desa Meranti Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango, Desa Dulamayo Selatan Kecamatan Telaga Kabupaten Gorontalo, dan Desa Mongiilo Kecamatan Bolango Ulu Kabupaten Bone Bolango. Berdasarkan data kualitas tanah, ketiga lokasi memiliki media perakaran yang cukup baik untuk tanaman budi daya. Secara umum, semua jenis tanaman budi daya sesuai untuk ditanam di ketiga lokasi arboretum. Perlu dilakukan pembuatan teras dan penerapan pola tanam konservasi yang mengaplikasikan tanaman penutup tanah (cover crop), tanaman budi daya, dan pohon penyusun hutan. Selain itu, perlu pemberian pupuk organik berupa kompos dan pupuk kandang. ABSTRACTArboretum development planning in Bolango Watershed using concept of conservation and economy is conducted because the watershed has an important role in people's lives around. This study aims to provide recommendations about composition and structure of forest vegetation in the arboretum area for conserving of Bolango River’s water springs. The study began by identifying the source of the springs, soil, and the existing vegetation. Interview to local communities was conducted to support the data of ethnobotany. Land observation was studied among other land use, class capabilities, management concepts, land suitability, and vegetation selection. The results of the identification of water sources indicated that there were three potential sites built arboretum, i.e Meranti Village Tapa District of Bone Bolango Regency, Dulamayo Selatan Village, Telaga District of Gorontalo Regency, and Mongiilo Village Bolango Ulu District of Bone Bolango Regency. Based on the data of the soil quality, the third location had a pretty good rooting medium for plant cultivation. Generally, all of plant cultivation were suitable to planted in the third location of arboretum. There were important to built terraces and applicate a model of conservation plants using cover crops, cultivation plants, and trees. In addition, it should be applicated organic fertilizer such as compost and manure

    MONITORING KADAR NITRIT DAN NITRAT PADA AIR SUMUR DI DAERAH CATUR TUNGGAL YOGYAKARTA DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS (Monitoring of Nitrite and Nitrate Content in Ground Water of Catur Tunggal Region of Yogyakarta by UV-VIS Spectrophotometry)

    Full text link
    ABSTRAKMetode analisis nitrit dan nitrat perlu dikembangkan untuk memonitor kualitas air minum. Kualitas air sumur untuk parameter nitrit dan nitrat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan kedalaman air sumur.Penelitian ini bertujuan menganalisis nitrit dan nitrat menggunakan asam p-aminobenzoat (PABA) pada air sumur di daerah perkotaan Yogyakarta. Analisis nitrit didasarkan pada reaksi antara ion nitrit dengan PABA yang membentuk senyawa azo dengan panjang gelombang maksimum 546 nm. Kedalaman air sumur di daerah Catur Tunggal rata-rata > 10 m. Kadar nitrit dan nitrat pada air sumur adalah 0,05-0,09 dan 8,22-36,58 mg/L. Kadar nitrit dan nitrat tersebut memenuhi baku mutu dan aman untuk dikonsumsi. Konsentrasi nitrit dan nitrat pada air RO adalah 0,05 dan 2,72-59,57 mg/L. Kadar nitrit pada air RO tidak memenuhi baku mutu sedangkan kadar nitrat memenuhi baku mutu kecuali RO 5.ABSTRACTThe method for analysis nitrite and nitrate had to developed to monitor the drinking water quality. The well water quality, especially for nitrite and nitrate were influenced by environmental conditions and depth of well. This study aims to analyze nitrite and nitrate using p-aminobenzoic acid (PABA) in ground water at urban areas of Yogyakarta. The analysis was based on the reaction between nitrite ions with PABA which form azo compounds with a maximum wavelength of 546 nm. The depth of wells at Catur Tunggal were more than 10 m. Concentration of nitrite and nitrate in well water were 0.05 to 0.09 and 8.22 to 36.58 mg / L. The concentrations met the standard for drinking water quality and was safe for consumption. The concentration of nitrite and nitrate in reverse osmosis (RO) water were 0.05 and 2.72 to 59.57 mg / L. The concentration of nitrite did not meet the standard for drinking water quality while the concentration of nitrate met the standard for drinking water quality except RO 5

    PEMANFAATAN LIMBAH BULU AYAM MENJADI BAHAN PAKAN IKAN DENGAN FERMENTASI Bacillus subtilis (Utilization of Waste Chicken Feather to Fish Feed Ingredients Material with Fermentation of Bacillus subtilis)

    Full text link
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah bulu ayam menjadi bahan pakan ikan dengan fermentasi Bacillus subtilis. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan, 3 kali ulangan, yaitu P0 : tepung bulu ayam non fermentasi; P1 : fermentasi dengan inokulum B. subtilis 5 mL/2 g tepung bulu ayam; P2 : fermentasi dengan inokulum B. subtilis 10 mL/2 g tepung bulu ayam; P3 : fermentasi dengan inokulum B. subtilis 15 mL/2 g tepung bulu ayam. Parameter yang diamati adalah hasil uji proksimat meliputi kadar protein kasar, kadar air, kadar abu, kadar lemak kasar, kadar serat kasar, dan parameter pendukung yaitu uji organoleptik, berupa sifat fisik tepung bulu ayam, meliputi warna, tekstur, dan bau. Data berupa hasil uji proksimat dianalisis menggunakan ANAVA dan Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf uji 5%, sedangkan untuk data hasil organoleptik dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah bulu ayam menjadi bahan pakan ikan dapat dilakukan dengan fermentasi B. subtilis. Fermentasi tepung bulu ayam menggunakan B. subtillis dapat meningkatkan kualitas bahan baku pakan ikan. Perlakuan P2 (inokulum 10 mL/2 g tepung bulu ayam)adalah perlakuan yang paling efektif karena menghasilkan protein tertinggi yaitu 80,59%, dengan perubahan sifat fisik menjadi putih sampai putih kekuningan (warna), lembut (tekstur), dan khas kurang menyengat (bau). ABSTRACTThis study aims to utilize waste chicken feathers into fish feed ingredients by fermentation of Bacillus subtilis. The research has done by experimental methods with completely randomized design (CRD) 4 treatments, 3 repetitions, ie P0: non-fermented chicken feather meal; P1: fermentation with B. subtilis 5 mL inoculum/2 g chicken feather meal; P2: 10 mL/2 g chicken feather meal; P3: 15 mL/2 g chicken feather meal. Parameters measured were the proximate test results include the levels of crude protein, moisture, ash, crude fat content, fiber content, and organoleptic parameters that support, in the form of physical properties of chicken feather meal, including color, texture, and smell. Proximate test data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) and Duncan Multiple Range Test (DMRT) with 5% level, while the organoleptic data were analyzed qualitatively descriptively. The results showed that the utilization of waste chicken feathers into fish feed ingredients can be done by fermentation of B. subtilis. Fermentation chicken feather meal using inoculum B. subtillis can improve the quality of fish feed ingredients. Treatment P2 (inoculum 10 mL/2 g chicken feather meal) is the most effective treatment because it produces the highest protein is 80.59%, with changes in physical properties to be white to yellowish white (colour), soft (texture), and less typical sting (smell)

    PEMETAAN ASET PENGHIDUPAN PETANI DALAM MENGELOLA HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL (The Farmer Livelihood Asset Mapping on Community Forest Management in Gunungkidul District)

    Full text link
    ABSTRAKPetani dalam mengelola sumberdaya alam memerlukan aset. Aset penghidupan petani (sumberdaya manusia, sumberdaya alam, finansial, fisik dan sosial) sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan penghidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur level aset penghidupan yang digunakan petani dalam mengelola hutan rakyat. Pendekatan penelitian dengan survei di 6 desa di Kabupaten Gunungkidul yaitu Nglanggeran, Katongan, Dengok, Sodo, Girimulyo dan Jepitu. Jumlah responden di setiap desa 30 orang, sehingga total responden adalah 180 petani. Penentuan responden dalam penelitian ini dilakukan secara random. Teknik skoring dengan pembobotan digunakan untuk mengukur level aset yang digunakan petani dalam mengelola hutan rakyat berdasarkan pada Multicriteria Analysis (MCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani hutan rakyat di zona Batur Agung (bagian utara Gunungkidul) menggunakan aset berdasarkan prioritasnya yaitu aset sumberdaya manusia, sosial, sumberdaya alam, fisik dan finansial. Urutan penggunaan aset petani di zona Ledok Wonosari (bagian tengah) adalah aset sosial, sumberdaya manusia, finansial, fisik dan sumberdaya alam. Bagi petani di zona Pegunungan Seribu prioritas penggunaan aset adalah aset fisik, finansial, sosial, sumberdaya manusia dan sumberdaya alam.ABSTRACTFarmers manage natural resources require asset. Farmer livelihood assets (human resources, natural resources, financial, physical and social) greatly affect to the achievement of the livelihood objectives. The objective of this study is to measure the level of livelihood assets used by farmers in managing community forests. Data collected by survey in 6 village in Gunungkidul i.e. Nglanggeran, Katongan, Dengok, Sodo, Girimulyo and Jepitu village by interviewing 30 respondents each village, so the total respondents are 180 respondents. Weighted scoring technique used to measure the level of assets used by farmers in managing community forests based on Multicriteria Analysis (MCA). The results showed that the community forest farmers in Batur Agung zone (The northern part of Gunungkidul) using the asset based on its priority: human resource asset, social, natural resources, physical and financial. While the priority asset of farmers in Ledok Wonosari (middle of Gunungkidul) are social assets, human resources, financial, physical and natural resources. For farmers in Pegunungan Seribu (The South part of Gunungkidul) priority assets that used are physical assets, financial, social, human resource and natural resources

    PENGARUH PERILAKU MASYARAKAT YANG BERMUKIM DI KAWASAN BANTARAN SUNGAI TERHADAP PENURUNAN KUALITAS AIR SUNGAI KARANG ANYAR KOTA TARAKAN (Influence of The Behavior of Citizens Residing in Riverbanks to The Decrease of Water Quality in The River of Karang)

    Full text link
    ABSTRAKData Status Lingkungan Hidup Daerah Kota Tarakan menyatakan bahwa kualitas air Sungai Karang Anyar Kota Tarakan yaitu parameter COD, amoniak dan TSS tahun 2010-2013 melebihi baku mutu. Penurunan kualitas air tersebut disebabkan oleh perilaku masyarakat yang bermukim di kawasan bantaran sungai. Pendekatan penelitian kualitatif dengan menggunakan gabungan metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kuantitatif antara lain digunakan untuk teknik pengumpulan data melalui kuesioner dan menghitung status mutu air Sungai Karang Anyar menggunakan metode Indeks Pencemaran. Metode kualitatif antara lain digunakan untuk observasi, wawancara mendalam kepada swasta dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian yaitu perilaku masyarakat yang membuang air limbah domestik langsung ke sungai mempengaruhi parameter COD melebihi baku mutu karena air limbah yang dibuang terdapat busa sabun berasal dari buangan air cucian. Air limbah domestik yang dibuang langsung ke sungai berasal dari sisa memasak sehingga diduga menyebabkan amoniak juga melebihi baku mutu. Perilaku masyarakat yang tidak mengolah kotoran ayam dapat mempengaruhi parameter amoniak melebihi baku mutu karena kotoran ayam membusuk dan mengalir ke sungai. Perilaku masyarakat yang mengambil tanah dari bukit/gunung tidak mempengaruhi parameter TSS karena dipengaruhi mengambil tanah dari bukit/gunung dilakukan pada curah hujan menurun/kemarau. Perilaku masyarakat yang menambang pasir di sungai mempengaruhi parameter amoniak melebihi baku mutu karena air limbah domestik yang organik dan kotoran ayam membusuk yang telah tertimbun lama di dasar sungai akan terangkat. Perilaku masyarakat yang menambang pasir di sungai tidak mempengaruhi parameter TSS karena kegiatan menambang pasir tidak dilakukan setiap hari dan bergantung pada curah hujan. Sebagai kesimpulan adalah tidak semua perilaku masyarakat yang bermukim dan berkegiatan di kawasan bantaran sungai mengakibatkan penurunan kualitas air sungai. ABSTRACTThe data of environmental status of Tarakan City states that water quality of Karang Anyar’s river for COD, ammonia and TSS paremeters from year 2010-2013 are above the government regulation for quality standard. The decreasing of Karang Anyar’s river water quality are influenced by the behavior of regional society along the riverbanks. Research methods used in this research is the combination between quantitative and qualitative methods. The result of this research are the disposal of domestic waste water directly into the river suspected in affecting the parameters COD and ammonia exceeded the quality standard because waste water contains foam of soap sources from waste water of wash. The disposal of domestic waste water from cooking residue in affecting ammonia parameters exceeded the quality standard. The behavior of livestock chicken was suspected affecting ammonia parameter in exceeding the quality standard because of chicken’s feces have been decomposed. Mining soil behavior from hills or mountains suspected not affecting TSS parameter because of climate influenced. The behaviour of sand river’s mining suspected affecting ammonia parameter and exceeding the quality standard but did not affect TSS parameter because the activities were not daily and the miners depending on rain level and sand volume. The conclusion of this research are the not all behavior of regional society along the riverbanks affect the decreasing of Karang Anyar’s river water quality.

    343

    full texts

    446

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Manusia dan Lingkungan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇