Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
446 research outputs found
Sort by
KARAKTERISTIK DAN POTENSI PERAIRAN SEBAGAI PENDUKUNG PERTUMBUHAN LAMUN DI PERAIRAN TELUK BUYAT DAN TELUK RATATOTOK, SULAWESI UTARA (The Characteristics and Potential of Water to Support the Seagrass Abundance at Buyat and Ratatotok Bay Waters)
ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik dan potensi perairan Teluk Buyat dan Teluk Ratatotok guna mendukung potensi sumberdaya hayati ekosistem laut dan pesisir, khususnya ekosistem lamun. Penelitian dilakukan pada Juni 2013 pada 6 stasiun di Teluk Buyat dan 4 stasiun di Teluk Ratatotok. Parameter yang diukur in-situ dengan menggunakan alat water quality meter adalah pH, salinitas dan suhu. Parameter nitrat, fosfat dan klorofil-a dianalisis dengan menggunakan metode APHA. Data tutupan lamun diperoleh dengan metode transek kuadrat sesuai Seagrass Watch Method. Hasil pengamatan dipetakan secara spasial menggunakan Ocean Data View. Analisis hubungan antara parameter perairan dan tutupan lamun mengunakan Principal Component Analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu, salinitas dan klorofil-a pada perairan berperan penting pada tutupan lamun dan secara umum kondisi perairan Teluk Buyat dan Teluk Ratatotok masih dalam kategori baik dan subur serta layak untuk kehidupan biota laut, khususnya ekosistem lamun. ABSTRACTThe aim of this research is to identify the characteristics and potential of Buyat Bay and Ratatotok Bay waters to support natural resources in marine and coastal ecosystems, especially seagrass ecosystem. The research was conducted in June 2013, at 6 stations in Buyat Bay and 4 stations in Ratatotok Bay. The in-situ parameters measured using water quality meter instrument were pH, salinity and temperature. Water sample for nitrate, phosphate and chlorophyll-a concentration were taken to laboratory used APHA method. Seagrass cover data obtained with the square method transect of Seagrass Watch. The observations were mapped spatially using Ocean Data View software. Principal Component Analysis was used to analyse the relationship between the water parameters and seagrass covers. The result shows that temperature, salinity and chlorophyll-a at Buyat and Ratatotok Bay waters are considerably good to support the living of marine biota, especially seagrass ecosystem
BANK SAMPAH SEBAGAI ALTERNATIF STRATEGI PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS MASYARAKAT DI TASIKMALAYA (Bank Sampah (Waste Banks) as an Alternative of Community-Based Waste Management Strategy in Tasikmalaya)
ABSTRAKPerubahan paradigma masyarakat mengenai sampah perlu dilakukan secara berkelanjutan. Edukasi kesadaraan dan keterampilan warga untuk pengelolaan sampah dengan penerapan prinsip reduce, reuse, recycle dan replant (4R) penting dalam penyelesaian masalah sampah melalui pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Bank sampah yang berbasiskan partisipasi warga perempuan merupakan modal sosial dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Bank sampah yang diintegrasikan dengan prinsip 4R dilaksanakan di Kampung Karangresik, Tasikmalaya, Indonesia. Kegiatan bank sampah merupakan konsep pengumpulan sampah kering dan dipilah serta memiliki manajemen layaknya perbankan tapi yang ditabung bukan uang melainkan sampah. Pemberdayaan warga melalui kegiatan penyuluhan, edukasi, pelatihan dengan metode partisipasi emansipatoris (interaksi dan komunikasi), serta dialog dengan warga di komunitas. Selain itu diperlukan dukungan kemitraan dengan membangun jejaring dan mekanisme kerja sama kelembagaan antara warga pengelola bank sampah dengan stakeholder terkait. Bank Sampah Pucuk Resik (BSPR) di Kampung Karangresik ini telah memberikan manfaat kepada warga, terutama manfaat langsung dengan berkurangnya timbulan sampah di komunitas, lingkungan menjadi lebih bersih dan asri, serta kemandirian warga secara ekonomi. Selain manfaat secara ekonomi, dimana dari tabungan sampah memperoleh uang untuk membayar listrik dan membeli sembako, juga terwujudnya kesehatan lingkungan, dengan kondisi komunitas yang lebih bersih, hijau, nyaman, dan sehat. Pengelolaan sampah terintegrasi dapat menstimulasi kreativitas dan inovasi dari masyarakat sehingga meningkatkan kesejahteraan warga.ABSTRACTChange of paradigm in community about the waste needs to be done with sustainable action. Education of awareness and skills of citizen for waste management with the application of the principle of reduce, reuse, recycle and replant (4R) is important in solving the waste problem through waste management from the source. Bank sampah (the waste bank) with participation of women in community are the social capital of community-based waste management. Bank sampah integrated with 4R principles implemented in at Kampung Karangresik, Tasikmalaya, Indonesia. Activity of bank sampah is the concept of dry waste collection and sorting as well as having appropriate management of banking, not the money saved, but trash. Empowerment of citizens through counseling, education, training with the method of participation-emancipatory (interaction and communication), as well as dialogue with the citizens in the community. Besides of that, the necessary of partnerships, networking and institutional cooperation mechanism between the citizens of the waste bank managers with local stakeholders. Bank Sampah Pucuk Resik (BSPR) in Kampung Karangresik provides benefits to citizens, especially the direct benefits with reduced waste generation in the community, the environment becomes more clean and beautiful, as well as the economic independence of citizens. In addition to economic benefits from saving litter, citizens earned money to pay for electricity and buy groceries, as well as the realization of environmental health with the condition of environment that is more clean, green, comfortable, and healthy. Integrated waste management can stimulate creativity and innovation so as to improve the welfare of the community
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG WOSI RENDANI (Participation of Communities in the Wosi Rendani Protected Forest Management)
ABSTRAKPartisipasi masyarakat dalam pengelolaan program merupakan hal mendasar yang menentukan keberhasilan penyelenggaraan program. Dalam perspektif konservasi sumber daya alam, partisipasi merupakan prinsip dasar yang menentukan keberhasilan pencapaian program. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui fungsi, intensitas dan tingkat partisipasi masyarakat dalam program pengelolaan hutan lindung Wosi Rendani. Fungsi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan hutan lindung Wosi Rendani tertinggi pada kampung Kentekstar (60,0%), diikuti Ipingoisi (31,11%), Soribo (28,57%) dan Tanah Merah Indah (27,27%) dengan frekuensi 41 responden (34,75%). Konsentrasi responden pada fungsi partisipasi distribusi dengan frekuensi partisipasi 26 responden (22,03%). Intensitas partisipasi tertinggi pada kampung Kentekstar (60,00%), diikuti Tanah Merah Indah (36,36%), Ipingoisi (31,11%), dan Soribo (28,57%) dengan frekuensi 41 responden (34,75%). Tingkat partisipasi masyarakat masuk dalam kategori “sangat tidak aktif dengan indek partisipasi berada pada rentang 1 – 25. ABSTRACTParticipation of community in the management is fundamental that determines the success of the programs. In the perspective of natural resources conservation, participation is a basic principle that determines the success of achieving the programs. The purpose of research is to determine the function, the intensity and the level of community participation in Wosi Rendani protected forest management program. The results of the research that participation indexs in the management of protected forest of Wosi Rendani based functions at Kentekstar village highest participation (60.0%) followed Ipingoisi (31.11%), Soribo (28.57%) and lowest in Tanah Merah Indah (27.27%) with the value of the frequency of participation of 41 respondents (34.75%). Overall all respondents would participate in the function of the distribution with participation frequency of 26 respondents (22.03%). Intensity of participation at Kentekstar village is highest (60.0%) followed Tanah Merah Indah (36.36%), Ipingoisi (31.11%) and lowest in the Soribo (28.57%) with the value of the frequency of participation of 41 respondents (34.75%). The level of community participation in the category of "very active with Participation Index values were in the range 1 – 25
PERKEMBANGAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI PROVINSI LAMPUNG (Progress of Community Forest in Lampung Province)
ABSTRAKHutan Kemasyarakatan (HKm) di Provinsi Lampung sudah berjalan sejak 14 tahun yang lalu dengan segala dinamika dalam implementasinya. Penelitian terhadap perkembangan HKm sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan HKm di Provinsi Lampung yang dibatasi pada sebaran, permasalahan dan kondisi yang diharapkan. Penelitian dilakukan pada bulan September–Desember 2014. Data dikumpulkan melalui wawancara terbuka dan semi struktur menggunakan kuesioner dan pengamatan langsung. Informasi penyebaran HKm diperoleh melalui kegiatan survai dan identifikasi terhadap semua kabupaten yang ada di Provinsi Lampung. Permasalahan yang dihadapi dalam implementasi HKm dan kondisi yang diharapkan dikumpulkan melalui wawancara dengan kelompok tani dan pertemuan/sosialisasi tentang HKm yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan Kabupaten/Provinsi. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan diagram tulang ikan (Fishbone Diagram) dan diuraikan secara deskriprif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa HKm di Provinsi Lampung merupakan solusi terhadap permasalahan konflik pengelolaan hutan dengan tingginya tingkat ketergantungan masyarakat terhadap hutan yang telah mendorong kegiatan penggarapan kawasan hutan. HKm di Provinsi Lampung tersebar di 9 kabupaten dari 15 kabupaten/kota yang ada baik yang sudah mendapatkan Izin Usaha Pemanfaatan HKm (IUPHKm), mendapatkan Penetapan Areal Kerja (PAK), maupun sedang mengusulkan PAK. Permasalahan utama dalam implementasi HKm adalah dukungan anggaran yang kurang memadai akibat HKm belum menjadi program prioritas sehingga pembinaan dan pendampingan yang dilakukan kurang maksimal. Pengembangan kelembagaan kelompok tani, lahan, dan kewirausahaan merupakan tiga kunci penting untuk mencapai tujuan HKm yakni untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian hutan. ABSTRACTCommunity Forest (HKm) in Lampung Province has to be 14 years of age with its dynamics on implementation. Studies on HKm progres is needed. The study aimed is to know progress of HKm especially distribution, problem and expectation condition. The study was conducted in September to December 2014 in Lampung Province. Data was collected using open ended and semi-structured questionnaire interview and direct observation. Information of HKm distribution obtained through survey and identification of districts in Lampung Province. Problem faced and expectation condition on implementation of HKm were collected through interview with farmer groups and national, provincial or district forestry offices and meeting/socialization about HKm. Data was analyzed using a fishbone diagram and descriptive. The results showed that HKm is a solution on problem of forest management conflict, community around the forest have very high dependence upon the forest, its caused forest conversion in Lampung Province. HKm (licence issues for community forest/IUPHKm, determination of community forest working area/PAK) in Lampung Province distributed on 9 of 15 districts. The main problems on HKm implementation was limited of budget support.. HKm is not a priority program so coaching and mentoring are not maximum. Development of farmer groups, land, and entrepreneurship are keys for increase of local welfare and to maintain the wholeness of forest and their functions
KERENTANAN PENYUSUPAN AIR LAUT DI PESISIR UTARA PULAU TERNATE (Vulnerability of Sea Water Intrusion in Northern Coastal of Ternate Island)
ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di wilayah pesisir bagian utara Pulau Ternate, dengan tujuan mengetahui kedalaman batas kontak airtanah dengan air laut dan menganalisis akuifer serta cara pengambilan airtanah sehingga tidak terjadi penyusupan air laut ke dalam tubuh airtanah. Sampel air sumur diukur untuk mengetahui kadar salinitas dan daya hantar listrik (DHL). Kedalaman batas kontak airtanah dengan air laut dukur dengan menggunakan metode geolistrik. Hasil pengukuran DHL dan salinitas airtanah di wilayah pesisir utara menunjukkan, terdapat penyusupan air laut di Desa Tobolo dan Sulamadaha, dengan rentang nilai masing-masing antara 0,5-3,3 mS/cm dan 0,2-1,7 ppt. Hasil pengukuran geolistrik menunjukkan batas kontak airtanah dengan air laut rata-rata antara 12-15 m dari permukaan. Nilai resistivitas air laut berkisar antara 0,01-20 Ωm. Hasil penelitian ini memberikan peringatan untuk tidak melakukan pengeboran sumur di wilayah pesisir. Sebagai contoh kasus, pengeboran sumur hingga 80 m dengan jarak sekitar 250 m dari garis pantai di Desa Takome, di mana batas kontak airtanah dengan air laut pada kedalaman 15 m. Pengukuran nilai DHL dan salinatas air dari sumur ini menunjukkan masing-masing 6,1 mS/cm dan 3,3 ppt. Nilai ini menunjukkan kedalaman sumur bor telah melewati zona pencampuran antara airtanah dengan air laut (interface). ABSTRACTThis research was conducted in the coastal areas of northern part of Ternate island, in order to know the depth of interface and to analyze the aquifers and to avoid seawater intrusion caused of groundwater extraction. Well water samples were measured to determine levels of salinity and DHL. The depth of interface was measured using geoelectric method. The results of electrical conductivity (EC ) and salinity of groundwater measurement in the northern coastal area showed that, there is infiltration of sea water in Tobolo and Sulamadaha. The EC and salinity values ranging between 0.5-3.3 mS/cm and 0.2-1.7 ppt respectively. The geoelectric measurement results showed that the depth of interface ranging between 12-15 m from the surface. The resistivity of saline water values ranging between 0.01-20 Ωm. This research provides a warning for not drilling well in coastal areas . For example case, a drilled well with a depth 80 m, located about 250 m from the shoreline in village Takome, where the depth of the interface is 15 m. The value of EC and saline water were measured from this drilled well showed 6.1 mS/cm and 3.3 ppt respectively. This value indicates the depth of the drilled well has exceeded the interface zone
ANALISIS POLA DISPERSI PARTIKULAT DAN SULFURDIOKSIDA MENGGUNAKAN MODEL WRFCHEM DI SEKITAR WILAYAH INDUSTRI TANGERANG DAN JAKARTA (Analysis of Particulate and Sulfurdioxide Pattern Dispersion using WRFChem Model over Industrial Area In Tangerang)
ABSTRAKPeningkatan aktivitas industri dan transportasi menjadi pemicu timbulnya potensi pencemaran udara yang berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama di sekitar wilayah industri dan kota-kota besar. Pengenalan daerah yang rawan terhadap pemaparan konsentrasi pencemar udara maksimum perlu dilakukan untuk mengantisipasi dampak terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis sebaran pencemar udara di sekitar wilayah industri dan menentukan lokasi yang berpotensi terpapar pencemar udara dengan konsentrasi maksimum, khususnya partikulat (dalam hal ini PM10) dan sulfurdioksida (SO2). Lokasi studi adalah wilayah Jakarta dan Tangerang, yang merupakan daerah padat transportasi juga industri. Analisis dispersi menggunakan model Weather Research Forecasting / Chemistry (WRFChem) dengan ukuran grid 4 x 4 km, selama periode 5 hari (120 jam) masing-masing pada bulan Agustus dan Desember. Hasil analisis model menunjukkan lokasi yang rawan terpapar pencemar PM10 maupun SO2 dengan konsentrasi maksimum adalah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara, secara umum terjadi pada tengah malam hingga pagi hari. Pada siang hari konsentrasi maksimum cenderung terjadi di sekitar Jakarta Selatan, Tangerang Selatan, serta Kabupaten Tangerang. Secara temporal terjadi fluktuasi konsentrasi pencemar udara, konsentrasi siang hari rendah dan meningkat menjelang malam hari hingga dini hari. Faktor meteorologi terutama pola angin sangat mempengaruhi pola sebaran pencemar di wilayah studi, dan keberadaan garis pantai juga mempengaruhi terakumulasinya pencemar di sekitar wilayah Jakarta.ABSTRACTIncreasing industrial and transportation activity were associated with air pollution, especially in urban and industrial area. The air pollution is associated with significant adverse health effects. Understanding the potential implications of the air pollution to human health, developing strategies to mitigate the pollution should be seen as a serious attention. The purpose of this study was to analyze air pollutant dispersion within industrial area and to determine the locations that potentially exposed to maximum pollutant concentrations, especially PM10 and SO2.The evaluation was conducted within Jakarta and Tangerang using a well known modelling tool ‘WRFChem’. The WRFChem was simulated for the period of 5 days (120 hours) in August and December using the grid size of 4 km x 4 km. The model shows that the maximum concentrations of PM10 and SO2 occurred within Central Jakarta and the North Jakarta, frequently found from the midnight to morning. While during the day time, the maximum concentration tend to occur within the region of South Jakarta, South Tangerang, and Tangerang Regency. Diurnal fluctuation shows the pollutant concentrations are increased at night and decreased after sunrise. Meteorological factors, mainly wind direction, affects the pollutants dispersion in the area of study, and the existence of the shoreline also affects pollutants accumulation around Central Jakarta
PREFERENSI DAN MOTIVASI MASYARAKAT LOKAL DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU, PROVINSI SULAWESI TENGAH (Preference and Motivation of Local Community in Utilization of Forest Resource in Lore Lindu National Park)
ABSTRAKBanyak pihak masih meragukan nilai masyarakat terkait hutan alasan bahwa masyarakat lokal itu adalah perusak hutan, tidak dapat membatasi konsumsinya terhadap sumberdaya hutan dan dipandang sebagai masalah dalam konservasi sumberdaya hutan. Akibatnya, kebijakan pengelolaan hutan yang melibatkan masyarakat masih menjadi bahan perdebatan, utamanya dalam pengelolaan kawasan konservasi. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran tentang preferensi dan motivasi masyarakat lokal terhadap pemanfaatan sumberdaya hutan di kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini menerapkan metode survei, yang dilaksanakan pada dua tipe komunitas masyarakat lokal di sekitar TNLL yakni masyarakat desa homogen dan masyarakat desa heterogen. Data preferensi pemanfaatan hutan diperoleh melalui metode skor dengan menggunakan distribusi kartu yang dilakukan oleh masyarakat lokal, sedangkan data motivasi diperoleh melalui wawancara kepada masyarakat menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai preferensi kegunaan hutan yang tertinggi bagi masyarakat lokal adalah kegunaan hutan untuk perlindungan dan pengaturan air. Nilai tertinggi preferensi kegunaan hutan di zona rimba kompatibel dengan tujuan pengelolaan TNLL, sedangkan di zona pemanfaatan dan zona rehabilitasi masih ditemukan nilai preferensi yang tertinggi yang tidak kompatibel dengan tujuan pengelolaan TNLL. Masyarakat lokal yang bermukim di sekitar TNLL tidak hanya memiliki motivasi atas dasar kebutuhan material yang tinggi terhadap sumberdaya di TNLL tetapi juga memiliki motivasi sosial yang tinggi dan bahkan memiliki motivasi moral yang sangat tinggi. Dengan demikian, masyarakat lokal itu perlu dilibatkan dalam pengelolaan taman nasional melalui pengaturan institusi yang tepat. ABSTRACTMany people still doubt the value of local community related to forest, because they think that the local communities are destroyers of the forest, cannot limit their consumption to forest resources and become a problem of forest resource conservation. Consequently, forest management policy involving the local community is still a subject of debate, especially in the management of protected areas. This research aims to provide an overview of the preferences and motivations of local communities to use forest resources in Lore Lindu National Park (LLNP), Central Sulawesi province. This research applied a survey method and was conducted on two types of local communities around the village community LLNP - homogeneous and heterogeneous village communities. Data on forest utilization preferences were obtained through the scoring method using the distribution of cards conducted by local communities, while data on motivation were obtained through interviews to local communities using a questionnaire. This study showed that the highest preference for local community forest use was the uses of forest for protection and regulation of water. The highest value of preference for local community forest use in wilderness zone was compatible with the objectives of LLNP, while in utilization zone and rehabilitation zone, it was still found the highest value of preference for local community forest use which was not compatible with the objectives of LLNP. The Local communities were not only motivated based on high material needs of resources in LLNP but they also have a high social motivation and even they have a very high moral motivation. Therefore, the local communities should be involved in the management of national parks through the appropriate institutional arrangements
PENGELOLAAN ADAPTIF PEMANFAATAN BUAH HITAM (Haplolobus monticola Blumea) ETNIS WANDAMEN-PAPUA (Adaptive Management Utilization of Black Fruit (Haplolobus monticola Blumea) Ethnic Wandamen-Papua)
ABSTRAKKajian ekologi budaya bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik lingkungan ekologi dan sosial-budaya masyarakat adat etnis Wandamen-Papua dalam mengkonstruksi pengelolaan sumberdaya alam adaptif untuk pemanfaatan buah hitam (Haplolobus monticola Blumea) sebagai salah satu dasar pertimbangan penting bagi penyusunan kebijakan pengelolaan hutan berkelanjutan di Papua. Pengelolaan sumberdaya alam adaptif buah hitam dipengaruhi oleh karakteristik sosial budaya etnis Wandamen yang memiliki pola kepemilikan dan penguasaan sumber daya alam (SDA) meliputi: tanah, perairan, dan hutan. Masing-masing dalam lingkungan wilayah adatnya yang bersifat komunal, dibentuk dari pola kekerabatan dengan tipe Iroquois dan diwariskan melalui sistem patrilineal. Struktur sosial etnis Wandamen-Papua bersifat askriptif dalam kemajemukan sosial-budaya (banyak sub-etnis), namun dalam perkembangnnya hanya sub-etnis Wamesa yang memiliki kearifan lokal tentang pemanfaatan tumbuhan buah hitam yang dijumpai pada tipologi habitat ekologi, meliputi: hutan alam, hutan sekunder, dan kebun-pekarangan. Konstruksi etnoekologi pemanfaatan SDA buah hitam bagi etnis Wandamen memiliki enam wujud, yaitu sebagai sumberdaya lokal, pengetahuan lokal, nilai lokal, teknologi lokal, mekanisme pengembilan keputusan lokal, serta solidaritas kelompok lokal. ABSTRACTStudy of cultural ecology aimed to describe the characteristics of the ecological factors and socio-culture of indigenous ethnic of Wandamen-Papua in constructing the adaptive management of natural resources for the use of black fruit (Haplolobus monticola Blumea) that is necessary for policy-making of the sustainable forest management in Papua. Adaptive management of natural resource of black fruits depend mainly on the characteristics of social culture of Wandamen ethnic. The management have a pattern of ownership and control of Natural Resources (NR) i.e.: soil, water, and forests. They are the customary territory on the community that are from the pattern of kinship with the type of Iroquois and passed through the patrilineal system. Social structure of Wandamen-Papua ethnic is ascriptive in the plurality of socio-cultural (micro sub-ethnic). However, only sub-ethnic Wamesa patterns have local knowledge regarding the use of plants black fruits found on the typology of habitat ecology such as natural forest, secondary forest and home garden. The construction of ethno ecology utilization of black fruit as natural resource by Wandamen ethnic can be described in six types namely local resource, local knowledge, local value, local technology, procedure to make decision and solidarity of local community
PENGARUH KONTAMINASI INSEKTISIDA PROFENOFOS TERHADAP FISIOLOGIS IKAN NILA MERAH (Oreochromis sp.) (Contamination Effect of Profenofos Insecticide on Physiology of Red Nila (Oreochromis sp.))
ABSTRAKPeningkatan jumlah penduduk memicu aktivitas manusia yang cenderung merusak lingkungan. Penggunaan insektisida organofosfat berlebih berdampak pada pencemaran lingkungan perairan dan organisme di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kontaminasi profenofos (insektisida organofosfat) terhadap fisiologis ikan nila merah. LC50-96.Profenofos ditentukan dengan bantuan perangkat lunak Analisis Probit. Aktivitas kolinesterase plasma darah dan jaringan otak diperiksa menggunakan kolinesterase kit (DiaSys) secara spektrofotometri. Laju konsumsi oksigen (LKO2) diukur menggunakan respirometer. Kadar hemoglobin diperiksa dengan metode oksihemoglobin, hematokrit diukur dengan metode mikro-hematokrit. Desain penelitian menggunakan rancangan acak lengkap, dianalisis secara statistik dengan Anova. Selanjutnya jika terdapat beda nyata dilanjutkan dengan uji LSD (Least Significant Difference) serta persamaan regresinya. Gejala kematian ikan serta kualitas fisik dan kimia air uji diperiksa setiap hari, kemudian dianalisis secara deskriptif. Toksisitas curacron pada LC50-96 nila merah sebesar 2,105 ppm. Semakin besar dosis menurunkan aktivitas kolinesterase secara nyata (P>0,05) pada plasma darah dan jaringan otak. LKO2 setelah 1 jam pendedahan mengalami peningkatan, namun setelah 24 jam hingga 96 jam mengalami penurunan (P>0,01; R2=0,98). Semakin besar dosis selama 96 jam secara nyata meningkatkan kadar Hb (P>0,05; R2=0,95) namun tidak beda nyata pada hematokrit (R2=0,66). Penggunaan insektisida ramah lingkungan dan monitoring secara terus menerus dapat mengurangi dampak insektisida pada lingkungan perairan dan organisme di dalamnya. ABSTRACTThe increasing of human population triggers on human activities which are tend to impact on environment. Excessive use of organophosphate insecticides impact on pollution of the aquatic environment and also the organisme therein. The objective of this research was to study the effects of profenofos (an organophosphate insecticide) to the physiology of red nila. Preliminary research was conducted to find out the Lethal Concentration (LC50-96) of profenofos which was determined by software “Probit analysis”. Cholinesterase activity of blood plasma and brain tissue was examined spectrofotometically using cholinesterase kit (DiaSys). Rate of oxygen consumption was measured by Johnson’s modified respirometer methode. Hemoglobin were measured by oxyhemoglobin and hematocrit by micro-hematocrit methods, respectively. This research used complete random design. Data were analyzed statistically using analysis of variance (ANOVA), continued with Least Significant Difference (LSD) and regression test. Lethal Concentration (LC50-96) of profenofos to red nila was 2.10 mg/L. The results indicated that increasing dosage reduced cholinesterase activity (P0.05; R2=0.66). The use of environmentally friendly insecticides and continually monitoring can reduce the impact of insecticides on the environment and organism therein
ANALISIS PERGERAKAN POLUTAN TRIKLOROETILEN DALAM MEDIA BERPORI MENGGUNAKAN SENTRIFUG GEOTEKNIK (Analysis of Trichloroethylene Pollutant Migration in Porous Media Using Geotechnical Centrifuge)
ABSTRAKTrikloroetilen (TCE) adalah pelarut organik yang sering digunakan dalam proses industri. TCE adalah salah satu contoh dari Non Aqueous Phase Liquid (NAPL) yang sudah banyak mencemari tanah dan air tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat-sifat pergerakan TCE dalam berbagai jenis tanah yang berbeda, mengkaji sifat-sifat pergerakan TCE dalam tanah dengan menggunakan kecepatan 1 dan 25 Gravitasi, dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan TCE dalam tanah. Sifat pergerakan TCE dalam tanah riolit dan granit adalah TCE akan masuk langsung secara vertikal dan horizontal dalam tanah hingga ke dasar tanah. Pergerakan TCE akan terhambat pada tanah yang banyak mengandung partikel berukuran kecil. Pergerakan TCE secara vertikal pada gaya 1G dan 25G dalam tanah granit adalah paling cepat berbanding dalam tanah riolit. Pergerakan TCE dalam tanah kering dipengaruhi oleh sifat tanah terutama ukuran butir dan Kapasitas Pertukaran Kation (KPK).ABSTRACTTricholoroethylene (TCE) is an organic solvent used in many industrial processes. TCE is one of Non-Aqueous Phase Liquid (NAPL) which has already contaminated soil and groundwater. The objectives of this study are to determine the migration of TCE in rhyolite and granite soil, to determine the migration of TCE in soil using 1 and 25 Gravity (G) force, and to determine the migration of TCE influencing factors in the soil. The characteristics of TCE migration in rhyolite and granite soil will migrate vertically and laterally to the bottom of the ground. The migration will be retarded in small particle size of soil. The fastest migration of TCE at 1G and 25G was found in the granite soil. The migration of TCE in dry soil is affected by properties of soil particularly particle size and cation exchange capacity