Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
446 research outputs found
Sort by
COMMUNITY ENGAGEMENT WITH URBAN RIVER IMPROVEMENT: THE CASE OF YOGYAKARTA CITY (Melibatkan Masyarakat dalam Memperbaiki Lingkungan Sungai Perkotaan : Kasus Kota Yogyakarta)
ABSTRACTThe restoration of urban rivers has shifted from predominantly physical and ecological to community oriented social and economic improvement. Community engagement is needed in the people approach of development. Information sharing and public consultation are not enough. A case study among the riverside communities living in Yogyakarta city indicated that these communities need to move out of poverty and destitution through coaching and mentoring by various experts, and at the same time they would assure the ecosystem functioning of urban rivers. ABSTRACTRestorasi sungai-sungai perkotaan telah bergeser dari peningkatan fisik dan ekologis menjadi lebih berorientasi pada sosial dan ekonomi. Keterlibatan masyarakat dibutuhkan dalam pendekatan manusiawi pembangunan. Pemberian informasi dan konsultasi public tidak cukup studi kasus pada komunitas-komunitas yang hidup di pinggir sungai di kota Yogyakarta menunjukkan bahwa komunitas tersebut perlu mengentaskan diri dari kemiskinan dan keterbelaknagn dengan bantuan ahli, dan pada saat yang sama menjaga fungsi ekosistem sungai-sungai perkotaan
PEMODELAN PENYEBARAN BATUAN POTENSIAL PEMBENTUK ASAM PADA KAWASAN PENAMBANGAN BATUBARA TAMBANG TERBUKA DI MUARA LAWA, KABUPATEN KUTAI BARAT, KALIMANTAN TIMUR (Modeling Distribution of Rock Potential Acid Forming in Open Pit Coal Mining Areas)
ABSTRAKDampak penambangan batubara tambang terbuka adalah munculnya Air Asam Tambang (AAT) di sekitar lingkungan penambangan yang mempengaruhi kualitas air tambang, biota air, kualitas air dan tanah. Oleh karena itu, informasi awal untuk mengantisipasi dampak tersebut, yaitu identifikasi batuan yang berpotensi asam dan memodelkan penyebarannya. Kajian geologi dan mineralogi batuan berperan dalam mengetahui penyebaran batuan Potential Acid Forming (PAF) dan Non Acid Forming (NAF). Kawasan tambang yang digunakan sebagai model penelitian berada di Kecamatan Muara Lawa, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Hasil dari penelitian mengindikasikan, bahwa dominasi PAF berada di lapisan batu lempung kemudian diikuti batu lanau dan batu pasir dengan penyebaran mengikuti struktur sinklin yang terbatas di lapisan bawah (floor) dan lapisan antara (inter burden) pada batubara. Sementara itu, batuan NAF menyebar menempati daerah selain batuan PAF.ABSTRACTThe impact of open pit coal mining is the emergence of Acid Mine Water (AMD) around the mining environment that affect the quality of the mine water, aquatic biota, water and soil quality. Therefore, early information to anticipate these impacts is the identification potential acid rock and distribution model as a guide for the mining plan. Geological and geochemical study of rocks is important in knowing the distribution of rock Potential Acid Formning (PAF) and Non Acid Forming (NAF). Mining area which is used as a research model was in Muara Lawa, West Kutai regency, East Kalimantan province. The results of the study indicate, that the dominance of PAF are in layers followed by siltstone, claystone and sandstone with the distribution of rock following the syncline structure in the bottom (floor) layer and in the inter-burden layer on coal. Meanwhile, rock NAF spread in areas other than rock PAF
PEMBUATAN MEMBRAN SERAT BERONGGA POLIETERSULFON/2-(METAKRILOILOSI)ETIL POSPORIL KLORIN DAN APLIKASINYA UNTUK PENGOLAHAN AIR SUMUR TERCEMAR LIMBAH TSUNAMI DI BANDA ACEH (Preparation Hollow Fiber Membrane of Polyethersulfone/2-(Methacryloyloxy)
ABSTRAKBanyak kasus air sumur masyarakat di wilayah yang terkena imbas tsunami di Banda Aceh mengandung zat padat terlarut (Total Dissolved Solid, TDS) dan klorida melebihi standar baku mutu untuk pertimbangan kesehatan. Diperlukan perlakuan khusus untuk menghilangkan zat padat terlarut dan klorida dari air tersebut. Teknologi membran telah diperkenalkan secara luas sebagai teknik yang menjanjikan untuk produksi air bersih dengan kualitas tinggi. Pada penelitian ini, teknik separasi dengan lapisan membran digunakan untuk memisahkan kandungan zat padat terlarut dan klorida dari sampel air sumur masyarakat Banda Aceh yang terkena tsunami. Membran serat berongga dibuat dengan melarutkan polietersulfon and 2-(metakriloiloksi)etil posporil klorin ke dalam pelarut N-metil-2-pirolidon. Studi ini mempelajari pengaruh konsentrasi membran modifying agent terhadap struktur morfologi membran yang dihasilkan. Kemudian kinerja membran terhadap filtrasi dilakukan dengan menggunakan air deionisasi. Lebih lanjut, kinerja membran dilakukan untuk mengurangi kadar kekeruhan, TDS, CaCO3, Cl, NO3, NO2, total coliform, dan bakteri Escherichia coli dari sampel air sumur. Hasil ekperimen menunjukkan bahwa semua parameter yang diuji dapat dikurangi sampai nilainya berada di bawah standar baku mutu air bersih. ABSTRACTIn many cases well water on tsunami affected area of Banda Aceh contains the Total Dissolved Solid (TDS) and chloride in high concentration over the drinking water level for general good health consideration. A special treatments are needed to remove the TDS and chloride in water. Membrane technology have been widely introduced as an emerging technique to produce high quality of clean water. In this work, membrane separations are proposed to remove TDS and chloride from well water of community in tsunami affected area of Banda Aceh. Membrane hollow fiber was prepared by dissolving of polyethersulfone and 2-(methacryloyloxy)ethyl phosphoryl chlorine in N-methyl-2-pirrolydone. The effect of membrane modifying agent concentration studied on the morphology of resulted membrane. The fabricated membrane was used to observe the filtration performance of deionized water by using single module of hollow fiber membrane. In addition, the membrane was used to remove turbidity, TDS, CaCO3, Cl, NO3, NO2, total coliform, and Escherichia Coli bacteria from sample of well water. The experimental result showed that all parameter can be reduced and those concentration was under the quality standard of drinking water
KEANEKARAGAMAN DAN PEMANFAATAN TUMBUHAN BAWAH PADA SISTEM AGROFORESTRI DI PERBUKITAN MENOREH, KABUPATEN KULON PROGO (Diversity and Untilization of Understorey in Agroforestry System of Menoreh Hill, Kulon Progo Regency)
ABSTRAKAgroforestri yang diadopsi masyarakat dalam bentuk pekarangan dan tegalan menyimpan potensi keanekaragaman jenis tumbuhan bawah yang diduga memiliki berbagai manfaat bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis tumbuhan bawah pada sistem agroforestri dan pemanfaatannya oleh masyarakat di perbukitan Menoreh. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan melakukan inventarisasi jenis tumbuhan bawah serta wawancara dengan tokoh masyarakat tentang pemanfaatan tumbuhan bawah yang selama ini dilakukan. Penelitian dilakukan dalam kurun waktu November 2012 sampai dengan April 2013, berlokasi di perbukitan Menoreh Kabupaten Kulon Progo yang terbagi dalam 3 zona berdasarkan ketinggian tempat. Berdasarkan hasil penelitian, keanekaragaman jenis tumbuhan bawah cenderung semakin tinggi pada lokasi yang lebih tinggi. Jenis tumbuhan bawah di pekarangan lebih banyak dibandingkan di tegalan pada semua zona ketinggian tempat. Tumbuhan bawah yang berhasil teridentifikasi sebanyak 41 jenis, 28 jenis di antaranya dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan obat, antara lain untuk penyakit kulit, demam dan beberapa penyakit degeneratif seperti hipertensi, kanker, asam urat, asma dan sebagainya. Cara pemanfaatannya dengan dimakan langsung (dilalap), direbus, dibuat teh dan diambil sari patinya. Beberapa jenis tumbuhan bawah telah dimanfaatkan masyarakat secara tradisional sebagai bahan obat dan dibudidayakan sebagai sumber penghasilan tambahan. ABSTRACTAgroforestry adopted community in the form of homegardens and drylands holds the potential diversity of plants below that allegedly have various benefits for the community. This study aims to determine the diversity of plant species under the agroforestry system and its utilization by the community in the hills Menoreh. The method used is a survey method to conduct an inventory of understorey species and interviews with community leaders on the use of understorey has been done. The study was conducted in the period November 2012 to April 2013, located in the hills Menoreh, Kulon Progo regency is divided into three zones based on altitude. Based on this research, the diversity of understorey species the higher tends to a higher location. Understorey species in the homegardens more than in drylands at all altitude zones. Understorey species which were identified as many as 41 species, 28 species of which society is used as medicine, such as for skin diseases, fever and some degenerative diseases such as hypertension, cancer, gout, asthma and so on. To utilization to be eaten immediately (engulfed), stewed, made tea and juice taken the extract. Understorey species have been used traditionally as a community drug substance and cultivated as a source of additional income
OPTIMALISASI ZONA PEMANFAATAN WISATA TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA MELALUI KOMUNITAS IKAN KARANG (Optimizing The Tourism Utilization Zone Karimunjawa National Park through Coral Reef Fish Communities)
ABSTRAKWisata alam terkait erat dengan konservasi lingkungan sehingga dapat saling mendukung dan menguntungkan. Konservasi berhubungan dengan kondisi komunitas penyusunnya. Zona pemanfaatan wisata memerlukan komunitas ikan karang sebagai daya tarik wisata. Penelitian dilakukan dengan tujuan mengoptimalkan zona pemanfaaatan wisata Taman Nasional Karimunjawa untuk aktivitas wisata melalui komunitas ikan karang. Pengamatan dilakukan pada bulan November 2013, pada 14 lokasi. Pencatatan ikan dilakukan pada transek sabuk (belt transect) dengan teknik visual sensus, mencatat famili dan jumlah ikan yang ditemukan serta perkiraan panjang total ikan. Transek dilakukan pada dua kedalaman yaitu 3 dan 6–8 m untuk mewakili perairan dangkal dan dalam. Analisis kuantitatif dilakukan untuk melihat keragaman serta pengukuran nilai indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi. Hasil pengamatan pada daerah dangkal dijumpai 18 famili ikan. Famili Chaetodontidae, Labridae dan Scaridae dapat dijumpai di seluruh lokasi. Perairan dangkal memiliki keanekaragaman ikan karang melimpah sedang dengan kondisi komunitas ikan tertekan – stabil. Pada perairan dalam dijumpai 17 famili ikan. Famili Caesionidae, Chaetodontidae, Labridae dan Scaridae dapat dijumpai pada seluruh lokasi. Keanekaragaman jenis ikan melimpah sedang dengan kondisi komunitas ikan tertekan – stabil. Pada perairan dangkal bagian luar sebelah barat kepulauan dihuni oleh kelompok ikan mayor dengan sedikit famili, sedangkan pada bagian tengah kepulauan dijumpai ikan beragam famili dan pulau terluar sebelah barat dan timur terdapat dominansi ikan. Pulau-pulau yang berada di tengah gugusan kepulauan sesuai untuk wisata snorkeling. Pada perairan dalam terbagi pulau-pulau dengan tutupan karang sedang dan ikan karang dari sedikit famili, tutupan karang kategori sedang dengan famili ikan melimpah, tutupan karang kategori baik tetapi famili ikan sedikit serta tutupan karang baik dan ikan beragam famili. Diving pemula dilakukan pada pulau-pulau dengan resiko penyelaman rendah dan sedikit famili, sementara untuk advanced dilakukan pada pulau-pulau dengan sumberdaya tinggi dan beragam famili ikan. ABSTRACTEcotourism was closely related to environmental conservation that could be mutually supported and valuated. Conservation related with the communities condition. The tourism utilization zone required the coral reef fish communities as a tourist attraction. The aim of the study was optimized the tourist utilization zone Karimunjawa National Park for tourism activities through coral reef fish communities. Coral reef fish data collected on a belt transect by a visual census, record families and the number of fishes are found and the approximate total length of fish. The research conducted during November 2013 at 14 locations. The transect was deployed at two depth variations i.e 3 and 6–8 meters to represent the shallow and the deep water. Quantitative analysis was done to measure the fish abundance and diversity index, evenness index and domination. The result showed in the shallow water found 18 coral fish families. Chaetodontidae, Labridae and Scaridae can be found at all locations. Fish abundance is moderate which a condition of fish community depressed to stable. While the deep water, there were 17 families. Caesionidae, Chaetodontidae, Labridae, and Scaridae can found in all locations. Fish abundance is moderate which a condition of fish community depressed to stable. In the shallow waters of the outer west island inhabited by a group of major fish with a little family; the center of the archipelago encountered diverse fish families and the outer islands west and east there is a dominance of fish. The islands were located in the middle of the islands suitable for snorkeling. In the deep waters were divided four groups of islands i.e. islands with fair coral cover and the few families of coral reef fish, islands which had a fair coral cover with abundant fish families, islands with good coral cover but little fish families and good coral cover and coral fish families diverse. Activity for beginners done on islands with low- risk dives and the few families coral reef fish, while for advanced done on islands with high resource and diverse coral reef fish families
KONDISI SOSIAL-MASYARAKAT PADA KARAKTERISTIK FISIK LINGKUNGAN DALAM MEMPENGARUHI RISIKO LONGSOR DI KARANGSAMBUNG-KEBUMEN (Social-Population Condition on The Physical Environment Characteristics in Influence The Risk of Landslide in Karangsambung)
ABSTRAKFaktor fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan memainkan peran kunci kerentanan longsor dalam menentukan risikonya. Kecamatan Karangsambung Kabupaten Kebumen merupakan daerah dengan ragam topografi dan litologi yang memiliki intensitas tanah longsor tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan sosial-masyarakat pada setiap desa di Kecamatan Karangsambung dalam mempengaruhi risiko tanah longsor. Pada penelitian ini dilakukan analisis mengenai faktor fisik lingkungan berupa pembuatan peta ancaman longsor. Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan sebagai metode dalam pembuatan peta ancaman yang diolah dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Ancaman longsor dihubungkan dengan kondisi sosial-masyarakat dan lingkungan, sehingga terlihat peranannya dalam mengurangi risiko longsor. Hasil yang diperoleh bahwa Desa Totogan, Pujotirto, Wadasmalang, Kaligending, Plumbon, Banioro dan Tlepok memiliki tingkat ancaman longsor yang tinggi. Namun kondisi sosial-masyarakat sangat baik dalam mengatasi dampak dan mitigasi bencana longsor, kecuali pada Banioro. Desa Totogan juga memiliki ancaman longsor akan tetapi kerugian lingkungan apabila terjadi longsor tidak tinggi. Kondisi sosial-masyarakat di setiap desa sangat berpengaruh terhadap risiko longsor pada Kecamatan Karangsambung yang sering terjadi longsor.ABSTRACTPhysical, social, economic and environment factors play a role in susceptibility the landslides risk. Subdistricts of Karangsambung - Kebumen is a region with diverse topography and lithology which has a high-intensity landslides. The purpose of this study was to determine the role of socio-community in Karangsambung which influencing the landslides risk. In this study, we analytedevery environmental physical factors to give the landslide hazard map. Analytical Hierarchy Process (AHP) is used as a method to processing landslides maps using Geographic Information System (GIS). The landslides hazard associated with the socio-community and the environment, visible role in reducing the landslides risk. The results obtained that the village of Totogan, Pujotirto, Wadasmalang, Kaligending, Plumbon, Banioro and Tlepok have a high-level of landslide hazard. However, the socio-community is very well in overcoming the impact and mitigation of landslides, except Banioro. Totogan also has a high-level landslide hazard but damages the environment in the event of landslides is low. Social conditions is very influential on the landslides risk which often occur in the Karangsambung Sub district
NATURAL SUSTAINABILITY OF TODDY PALM (Borassus flabellifer L.) IN LINAMNUTU, TIMOR TENGAH SELATAN, NUSA TENGGARA TIMUR (Sustainabilitas alami Lontar (Borassus flabellifer L.) di Desa Linamnutu, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur)
ABSTRAKBorassus flabellifer usually known as Toddy palm or Lontar is a member of Family Arecaceae, a kind of palms that highly distributed in Nusa Tenggara Timur Province. This palm is abundant and wellknown for its endless uses, such as for building material, cattle feed, and food for the people in Linamnutu. Therefore study on Toddy palm density, fertility, and its survivorship is necessary to reveal natural sustainability of Toddy Palm for future use. This study was done through field work in Linamnutu Village, Timor Tengah Selatan Regency, Nusa Tenggara Timur Province from June 19th to July 1st 2011. Sampling sites was selected using remote sensing analysis method, and . Results showed that density of Lontar in nature was 195 trees per hectare, while using remote sensing methods plant density was 221 trees per hectare in 4,332 hectare. Total lontar trees in the village are 845.885 trees. Seed survivorship is 0.34 %. The high density and number of trees in more than 50 % cover area is still enough for future needs of inhabitants in Linamnutu, even though for future economic subsistence, a local wisdom to culture Lontar seedlings was encouraged for the future prospect. ABSTRACTBorassus flabellifer yang dikenal sebagai Lontar (Toddy palm) adalah anggota famili Arecaceae, merupakan tumbuhan palma yang tersebar sangat baik di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Tumbuhan palma ini sangat melimpah dan dikenal karena kegunaannya yang sangat tinggi, materi bahan bangunan, makanan ternak, dan juga sebagai makanan untuk penduduk di desa Linamnutu. Oleh karena itu penelitian tentang sustainabilitas alami, meliputi kerapatan tumbuhan, fertilitas dan nilai sintasannya sangat penting dikethaui untuk penggunaan di masa mendatang. Penelitian densitas Lontar ini dilaksanakan di desa Linamnutu, kecamatan Timor Tengah Selatan, NTT pada tanggal 19 Juni sampai dengan 1 Juli 2011 dari 6 lokasi yang dipilih menggunakan analisis citra foto udara dan citra landsat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan Lontar di alam sebesar 195/ha, sementara menggunakan pendekatan NDVI diperoleh kerpatan 221/ha dengan luas wilayah 4.332 ha. Jumlah total pohon Lontar di desa Linamnutu adalah 845.885 buah dengan sintasan biji sebesar 0,34 %. Kerapatan pohon yang masih tinggi di lebih dari 50% luas wilayah masih memenuhi keperluan bahan bangunan di masa mendatang bagi penduduk desa Linamnutu. Meskipun demikian, untuk pemenuhan ekonomi keluarga secara swasembada, pemencaran semai Lontar untuk dibudidayakan perlu didorong untuk prospek yang lebih baik di masa mendatang
PENGELOLAAN MATA AIR UNTUK PENYEDIAAN AIR RUMAHTANGGA BERKELANJUTAN DI LERENG SELATAN GUNUNGAPI MERAPI (Springs Management for Sustainability Domestic Water Supply in the South West of Merapi Volcano Slope)
ABSTRAKMata air merupakan pemunculan air tanah ke permukaan tanah. Pemanfaatan mata air sangat beragam, antara lain penggunaan untuk keperluan air minum, irigasi, perikanan, untuk obyek wisata. Mata air mempunyai debit terbatas, namun kualitasnya baik, penggunaannya beragam, hal tersebut sering terjadi konflik pemanfaatan. Di saat musim kemarau, beberapa mata air merupakan sumber air satu-satunya di suatu tempat, sehingga pengelolaannya harus dilakukan secara baik. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengelolaan mata air berbasis teknologi tepat guna dalam penyediaan air rumahtangga di lereng selatan Gunungapi Merapi. Penelitian dilakukan dengan survei dan observasi di lapangan terhadap mata air yang digunakan untuk penyediaan air rumahtangga. Sejumlah responden pengguna mata air dan tokoh masyarakat setempat diwawancarai secara bebas dan terstruktur untuk memperoleh data pengelolaan mata air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi lingkungan dan karakteristik mata air, pengetahuan masyarakat dan budaya lokal yang beragam akan berpengaruh terhadap pengelolaanmata air. Perkembangan teknologi tidak dapat diabaikan dalam pengelolaan sumberdaya air. Hal ini dapat dipadukan dengan budaya masyarakat setempat dalam pengelolaan mata air, sehingga dapat diperoleh manfaat yang optimal dan kesinambungan fungsi dan manfaat mata air tersebut. ABSTRACTSpring is the groundwater which comes out on ground surface. The use of water from springs is very diverse, varying from water for drinking, irrigation, fisheries, even for tourism. The springs usually have a limited discharge but the water quality from springs is good, therefore they are often facing some conflicts in utilization. In the dry season, in fact the springs are the only source of water supply; therefore the management of the spring should be done properly. This research aims to study the spring management based on appropriate technology in relation to household water supply in the southern slopes of Merapi Volcano. The study was conducted using survey and observation methods. A number of respondents were drawn from community who are using spring and local community leaders. Some were interviewed using depth interview and some were interviewed using questioner to obtain data on spring management. The results showed that environmental conditions, characteristics of the springs, the knowledge of the society and local culture affect the management of the springs. The development of technology cannot be ignored in the water resources management (including from spring). It can be combined with the culture of local communities in the management of springs, to obtain optimum benefit and the sustainability of these springs
MITIGASI BENCANA PADA MASYARAKAT TRADISIONAL DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM DI KAMPUNG NAGA KECAMATAN SALAWU KABUPATEN TASIKMALAYA (Disaster Mitigation on Traditional Community Against Climate Change in Kampong Naga Subdistrict Salawu Tasikmalaya)
ABSTRAKFenomena pemanasan gobal yang diiringi dengan terjadinya perubahan iklim, merupakan ancaman nyata bagi masyarakat di masa kini dan yang akan datang.Indonesia merupakan salah satunegara yang rentan terkena dampak perubahan iklim. Kabupaten Tasikmalaya menduduki urutan kelima peringkat indeks rawan bencana di Indonesia. Kecamatan Salawu di Kabupaten Tasikmalaya rawan bencana. Kampung Naga adalah kampung yang masih memegang kuat budaya dan adat di Kecamatan Salawu. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis potensi bencana terkait perubahan iklim di Kampung Naga dan menganalisis kemampuan mitigasi bencana masyarakat Kampung Naga terhadap perubahan iklim. Penelitian ini menggunakan metoda analisis deskriptif kualitatif. Potensi bencana dianalisis secara kualitatif berdasarkan kondisi geomorfologi dan lokasi kampung. Kemampuan mitigasi bencana dianalisis secara kualitatif berdasarkan adat istiadat. Bahaya akibat perubahan iklim yang berpotensi menjadi bencana di Kampung Naga adalah tanah longsor dan banjir. Kemampuan mitigasi bencana masyarakat Kampung Naga terhadap perubahan iklim dipengaruhi kearifan tradisional yang tercermin dari konservasi hutan, bangunan, infrastruktur dan pola ruang kampung yang dapat mengurangi ancaman bencanatanah longsor dan banjir.ABSTRACTThe phenomenon of global warming which is accompanied by climate changed, is the real threat to the community in the present and future. Indonesia is one of the most vulnerable countries affected by climate change. Tasikmalaya is the district with rank of hazard indexes is 5th in Indonesia. Sub district Salawu in Tasikmalaya district is a disaster-prone districts. One kampong in Salawu which still holds strong culture and customs is Kampung Naga. The aim of the study were analyzed potential disaster that related of climate change in Kampung Naga, and analyzed the the abilities of Kampung Naga community in mitigating disaster of climate change. The study used a qualitative descriptive analysis method. Potential disaster analyzed qualitatively based on condition of geomorphologi and location. Disaster mitigation capabilities were analyzed qualitatively from customs. Based on geomorphologi condition and location, hazards of climate change that could potentially be disastrous in Kampung Naga were landslide and floods. The abilities of Kampung Naga community in disaster mitigation of climate change, is affected by the traditional wisdom that was reflected from forest conservation, building, infrastructure and spatial patterns of kampong which could prevent landslide and flood
PENGELOLAAN KEBERLANJUTAN EKOSISTEM HUTAN RAWA GAMBUT TERHADAP KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI SEMENANJUNG KAMPAR, SUMATERA (Sustainable Management of Peat Swamp Forest Ecosystems Toward Forest and Land Fires in Kampar Peninsula, Sumatera)
ABSTRAKKeberadaan ekosistem hutan rawa gambut di Indonesia terus mengalami gangguan dan kerusakan akibat pola pemanfaatan yang tidak bijaksana seperti terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Umumnya kebakaran tersebut berasal dari adanya kegiatan manusia seperti penggunaan dan perubahan tutupan lahan. Kawasan Lindung Hutan Rawa Gambut Semenanjung Kampar termasuk salah satu ekosistem hutan rawa gambut terbesar di Pulau Sumatera. Peranan utama dari kawasan ini sebagai penjaga kestabilan lingkungan terhadap kawasan sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat dan status serta faktor-faktor kunci yang mempengaruhi keberlanjutan pengelolaan ekosistem hutan rawa gambut terhadap kebakaran hutan dan lahan dengan menggunakan pendekatan Multi-Dimensional Scaling. Mengacu kepada hasil penelitian secara keseluruhan indeks atau status keberlanjutan berada pada kriteria sedang (45,81%) atau status cukup berkelanjutan. Secara parsial untuk masing-masing dimensi yang memiliki status cukup berkelanjutan adalah ekonomi, teknologi dan hukum, sedangkan dimensi ekologi dan sosial kurang berkelanjutan sehingga perlu mendapatkan perhatian serius. ABSTRACTThe existence of peat swamp forest ecosystem in Indonesia continues to become distruption and damage which are caused by unwise utilization patterns such as forest and land fires. This happens because of human activities such as the use and change of the land. Protected area of peat swamp forest in Kampar peninsula is one of the largest forest ecosystems in Sumatera. The main function of this area is to maintain environment stability for the surrounding area. This study aims at finding out the level, status and main factors influencing sustainable management of peat swamp forest ecosystems toward forest and land fires by using multi-dimensional scaling approach. Based on the result of the study, it was found that the overall index or continues status was at the mediocre criterion level (45.81%). Partially, each dimension which has sustainable status includes economy, technology and law, while ecological and social dimensions were not sustainable and need more serious attention