Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
    446 research outputs found

    PENGGUNAAN SPATIAL MULTICRITERIA ANALYSIS UNTUK MENENTUKAN DAERAH RAWAN MALARIA DI KABUPATEN PURWOREJO (Application of Spatial Multicriteria Analysis Determining Malaria Vulnarable Area in Purworejo Regerency)

    Full text link
    AbstrakMalaria merupakan salah satu penyakit menular endemis yang masih menjadi perhatian khusus pada kesehatan masyarakat di Indonesia, salah satunya di Kabupaten Purworejo. Tahun 2013, terdapat 615 kasus kejadian penyakit malaria pada semua rentang umur di kabupaten ini. Penanganan penyakit ini dilakukan dengan beberapa cara, contohnya adalah dengan surveilans malaria. Kegiatan surveilans bermaksud untuk melaksanakan tindakan penanggulangan yang cepat dan akurat disesuaikan dengan kondisi setempat. Salah satu tujuan kegiatan ini untuk mendapatkan gambaran distribusi penyakit malaria yang dapat dilakukan dengan pembuatan peta kerawanan penyakit malaria. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan kerawanan wilayah terhadap penyakit malaria dengan metode Spatial Multicriteria Analysis (SMCA). Penelitian ini memanfaatkan data Citra Landsat 8 dan beberapa data sekunder yang diolah dengan menggunakan software ILWIS. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa metode SMCA dapat memetakan kerawanan penyakit malaria dan terdapat enam kecamatan di Kabupaten Purworejo yang rawan, yaitu Kecamatan – kecamatan Bruno, Bener, Gebang, Loano, Kaligesing, dan Bagelen.AbstractMalaria is one of endemic infectious disease that has been special concern in Indonesian public health, especially in Purworejo Regency. In 2013, there were 615 incident cases of malaria disease in all age ranges. There are several kinds of handling malaria disease, one of which is malaria surveillances. Surveillances activity intends to implement handling fast and accurate actions. One of this activity aims to obtain overview distribution of malaria disease which can be done with vulnerable mapping. This study aims to determine vulnerability of area with malaria disease using Spatial Multicriteria Analysis (SMCA). It has been done by utilizing Landsat 8 Imagery data and some of secondary data processing with ILWIS software. The result of this study showed that SMCA methods can be used to vulnerability mapping of malaria disease and found that there are six vulnerable districts, Bruno, Bener, Gebang, Loano, Kaligesing, and Bagelen District

    POTENSI PENGEMBANGAN EKOWISATA MANGROVE DI KAMPUNG TANJUNG BATU, KECAMATAN PULAU DERAWAN, KABUPATEN BERAU (Potential Development of Mangrove Ecotourism in Tanjung Batu Village, Derawan Island District, Berau Regency)

    Full text link
    ABSTRAKJasa lingkungan berupa ekowisata pada kawasan hutan mangrove di Tanjung Batu, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur merupakan salah satu potensi sumber daya alam yang belum banyak dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi pengembangan ekowisata mangrove di Kampung Tanjung Batu berdasarkan penilaian kondisi obyek daya tarik wisata alam, persepsi wisatawan dan masyarakat, serta potensi nilai ekonomi yang dimiliki. Metode penelitian yang digunakan melalui observasi, wawancara terstruktur, dan studi pustaka. Analisis data obyek daya tarik wisata alam dilakukan melalui skoring dan pembobotan, persepsi wisatawan dan masyarakat dilakukan secara deskriptif, sedangkan potensi nilai ekonomi berdasarkan pada nilai kesediaan membayar (Willingness to Pay/WTP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan hutan mangrove Tanjung Batu prospektif untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata dengan skor total daya tarik wisata alam berada pada kategori tinggi. Persepsi wisatawan dan masyarakat sekitar mendukung penuh upaya pengembangan ekowisata dengan potensi nilai ekonomi diperkirakan sebesar Rp. 1.423.914.894 tiap tahun. ABSTRACTEnvironmental services in the form ecotourism at mangrove forest of Tanjung Batu, Berau District, East Kalimantan Province is one of the natural resources that have not been used. The aim of this study was to analyze the potential of ecotourism development in mangrove forest of Kampung Tanjung Batu which is based on rating natural tourist attraction object, the perception of tourists and local community, as well as potential economic value. Data were collected through observation, interviews, and study of related literature. Natural tourist attraction object analysis was conducted by the scoring, whereas the perception of tourists and local community by descriptive method, and economic value based on willingness to pay. The result of study showed that mangrove forest area of Tanjung Batu prospective to be developed as an ecotourism destination with a total score of natural attractions that were in the high category. The perception of tourists and the local community fully supports the efforts of ecotourism development with potential economic value was estimated at Rp. 1.423.914.894 per annum

    KUALITAS AIR SUNGAI GAJAH WONG DITINJAU DARI PENGHAMBATAN ENZIM ASETILKOLINESTERASE (Water Quality Assessment of Gajah Wong River Based on Inhibition of Acetylcholinesterase Activity)

    Full text link
    ASBTRAKSungai Gajah Wong, salah satu sungai di kota Yogyakarta, dikhawatirkan terpapar pencemaran air akibat pembuangan limbah rumah tangga, industri, rumah sakit maupun hotel yang masuk ke dalam alirannya. Hal ini menyebabkan penurunan kualitas air sungai dan menimbulkan dampak negatif bagi makhluk hidup yang memanfaatkannya. Pencemaran air sungai tersebut dapat diamati secara biokimiawi berdasarkan uji aktivitas penghambatan enzim asetilkolinesterase (AChE) oleh cemaran pestisida organofosfat dan karbamat. Uji biokimiawi dalam analisis kualitas air terhadap penghambatan AChE dapat dilakukan secara kolorimetrik menurut metode Ellman. Hasil reaksi ini dapat diamati secara melalui pembentukan senyawa berwarna dan serapannya dapat diukur pada panjang gelombang visibel. Penentuan lokasi sampling pada penelitian didasarkan pada pertimbangan sebaran muatan polusi/diffuse pollution loads consideration. Ditetapkan enam lokasi pengambilan sampel air sungai yaitu GW-1, GW-2, GW-3, GW-4, GW-5, dan GW-6 berturut-turut dari utara ke selatan. Dari keenam lokasi, GW-6 sebagai titik paling selatan dalam jalur pengambilan sampel menunjukkan penghambatan aktivitas AChE yang paling tinggi ditunjukkan dengan aktivitas AChE yang rendah. ASBTRACTGajah Wong River, one of the rivers in Yogyakarta city, was threatened by contamination of water pollutant due to the disposal waste of households, industrials, hospitals and hotels into its stream. The pollutions might cause the decreasing of water quality and raised the negative impact to living creatures that exploit it. River pollutions can be observed biochemically based on inhibition of acetylcholinesterase (AChE) enzyme activity by organophosphate and carbamate pesticide contamination. Biochemical assay in the analysis of water quality could be done according to the colorimetric of Ellman’s method. The results of this reaction can be observed by measuring the formation of colored compounds at visible wavelengths. Determination of the sampling location in this research was performed based on diffuse pollution loads consideration. Six sampling sites was defined and named as GW-1, GW 2, GW 3, GW 4, GW-5, and GW-6, respectively in a row from north to south. As the results, water from GW-6 as the southernmost site in the sampling sites showed the highest inhibition of AChE activity.

    MODEL PENGELOLAAN KEPITING BAKAU UNTUK KELESTARIAN HABITAT MANGROVE DI TAMAN NASIONAL KUTAI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR (The Model of Mud Crab (Scylla serrata) Management for Habitat Preservations of Mangrove in Kutai National Park, East Kalimantan Province)

    Full text link
    AbstrakTaman Nasional Kutai (TNK) memiliki ± 5.227 ha hutan mangrove di sepanjang pesisir pantainya. Hampir 23% luas hutan mangrove ini mengalami degradasi akibat konversi lahan dan pemanfaatan yang merusak. Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan salah satu sumberdaya yang terdapat dalam ekosistem mangrove, yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya sylvofishery. Pemanfaatan ini merupakan mata pencaharian alternatif bagi penduduk lokal dalam kawasan TNK agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa merusak hutan mangrove. Model pemanfaatan sylvofishery kepiting bakau disusun dari 5 submodel, yaitu habitat mangrove, penangkapan kepiting, budidaya pembesaran kepiting, pasar, dan sosial. Hasil simulasi terhadap model dinamik, menunjukkan bahwa skenario optimistik memberikan kinerja model yang lebih berkelanjutan untuk pengelolaan hutan mangrove di TNK, bila dilakukan dengan pendekatan optimasi pemanfaatan sumberdaya S. serrata. Dengan sylvofishery diharapkan akan terjadi keseimbangan antara pemanfaatan dan kelestarian lingkungan hutan mangrove.AbstractThe National Park Kutai (TNK) has ± 5,227 ha mangrove forest in along coastal beach. Therefore, almost 23% of mangrove forest was degraded caused by land conversion and utilization of damaged. Mud crab (Scylla serrata) is one of the resources in mangrove ecosystem, and it can be utilized for the cultivation sylvofishery. The utilization of sylvofishery was an alternative livelihood for the local resident in TNK areas that was not damaged their forest necessity. The model of sylvofishery utilization mud crab prepared were 5 sub-models, such as mangrove habitat sub-model, catching mud crab sub-model, enlargement cultivation of mud crab sub-model, market sub-model and social sub-model. The simulation results showed that an optimistic scenario performance model to sustainable for management of mangrove forest in TNK if it was conducted with optimization approached resources in utilization of S. serrata. With silvofishery, it is expected to give a balance between utilization and conservation of mangrove ecosystems

    PENGARUH LAJU SEDIMENTASI TERHADAP REKRUTMEN KARANG DI TELUK KENDARI (The effect of sedimentation rate on coral recruitment in Kendari Bay)

    No full text
    ABSTRAKSedimentasi secara terus menerus menjadi masalah utama terumbu karang di perairan pesisir. Sebanyak 7 titik pengambilan sampel telah dilakukan di Teluk Kendari selama periode Juni - Oktober 2015. Penelitian ini bertujuan membuktikan adanya pengaruh laju sedimentasi terhadap rekrutmen karang baik dalam sebaran kelompok taksa dan ukuran koloni juvenil karang. Pengambilan sampel dengan transek kuadrat mengunakan alat selam SCUBA dilakukan untuk memperoleh data tentang rekrutmen karang. Sedangkan pengukuran laju sedimentasi menggunakan metode sediment trap. Hubungan antara laju sedimentasi dengan rekrutmen karang dianalisis dengan menggunakan analisis regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan linier negatif antara laju sedimentasi dan rekrutmen karang yang ditunjukkan dengan nilai koefisien korelasi r = -0.941. ABSTRACTSedimentation constantly becomes the major problem for coral reefs in coastal areas. There were seven sampling stations carried out in Kendari Bay between June and October 2015. The purpose of the present study was to confirm the effect of sedimentation rate on coral recruitment in the level of genus and size of the colony of coral’s juvenile. Sampling was collected using quadrant transect method with the help of SCUBA to obtain data on coral recruitment, while the sedimentation rates were measured using sediment trap method. The relationship between sedimentation rates and coral recruitment was analysed using regression linear. The results showed that there was negative relationship between sedimentation rates and coral recruitment with the coefficient correlation (r) = -0.941.             

    PENENTUAN MUSIM TANAM, JENIS VARIETAS, DAN TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN PADI TERKAIT MITIGASI EMISI METANA (CH4) (Determination of Early Planting Season, Type Varieties, and Cultivation Techniques of Rice as Mitigation to Methane Emission)

    No full text
    ABSTRAKEmisi metana (CH4) dari pertanian padi lahan sawah dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti cara pemberian air, pengolahan tanah, varietas padi, dan iklim. Pada penelitian ini dikaji tahap penentuan musim tanam, pemilihan varietas padi, dan tahap terakhir adalah teknik budidaya pertanian padi lahan sawah yang terkait mitigasi emisi CH4. Hasil kajian menunjukkan bahwa musim tanam padi pada musim kemarau menghasilkan emisi CH4 lebih kecil daripada di musim hujan dengan pengurangan emisi CH4 sebesar 18,13%. Indonesia yang memiliki tiga tipe pola curah hujan tahunan (monsunal, equatorial, lokal) mengakibatkan periode musim tanam rendah emisi CH4 berbeda antara tipe curah hujan yang satu dengan lainnya. Varietas padi Way apo buru adalah varietas yang menghasilkan emisi CH4 terendah tetapi tetap optimum dalam produksi gabah sehingga dapat dipilih menjadi prioritas pertama untuk ditanam. Teknik budidaya pertanian padi lahan sawah yang menghasilkan rendah emisi CH4 dapat dilakukan dengan membuat genangan air yang dangkal saja, dengan cara pemberian air berselang, dan kombinasi antara pemeliharaan padi, ganggang, tanaman paku air, ikan air tawar, dan bakteri metanotrof dalam satu petak lahan sawah (mina padi plus). Pemberian air dengan cara berselang menurunkan emisi CH4 pada musim kemarau sebesar 59,36% dan pada musim hujan sebesar 51,68% jika dibandingkan dengan pemberian air secara terus-menerus (kontinyu). Teknik budidaya mina padi plus mengurangi emisi CH4 sebesar 21,5 kg/ha/musim tanam dan bakteri metanotrof mengurangi emisi CH4 ke atmosfer sebesar 20-60 Tg. Sawah dapat dijadikan sebagai instalasi terbuka pengolahan udara berlimbah CH4. ABSTRACTMethane (CH4) emissions from rice cultivation can be influenced by several factors i.e. the provision of water, soil cultivation, varieties of rice, and the climate. This study will examine the determination of the growing season, the selection of rice varieties and cultivation techniques of rice agriculture-related wetland mitigation of the CH4 emission. The results showed that the rice planting season in the dry season produces CH4 emissions is smaller than in the rainy season with CH4 emission reduction of 18.13%. Indonesia, which has three types of annual rainfall patterns resulting in periods of low growing season CH4 emissions differ between types of rainfall each other. Way apo buru rice species are varieties that produce low emissions of CH4 but remains optimum in grain production. Cultivation techniques of rice farming rice fields that produce low emissions of CH4 can be done by creating a pool of shallow water only, by way of provision of water intermittent, and the combination of maintenance of rice, algae, plants salviniales, freshwater fish, and bacteria metanotrof in a wetland. The provision of water by intermittent lowering emissions of CH4 in the dry season by 59.36% and in the rainy season amounted to 51.68% when compared to the provision of water continuously (continuous). Mina padi plus cultivation techniques reduce CH4 emissions by 21.5 kg/ha/planting and metanotrof bacteria can reduce CH4 emissions to the atmosphere by 20-60 Tg.

    PEMANGKASAN AKAR DAN INOKULASI JMA SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN FITOREMEDIASI TANAH TERCEMAR MERKURI AKIBAT PENAMBANGAN EMAS OLEH TANAMAN JATI DI KOKAP KULON PROGO YOGYAKARTA (Under ground root pruning and JMA inoculation to improve phytoremediation of soil contaminated with mercury due to gold mining by Tectona grandis in Kokap Kulonprogo Yogyakarta)

    No full text
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemangkasan akar (underground root pruning/URP) terhadap fitoremediasi tanah yang tercemar merkuri di Kokap Kulon Progo Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah URP, yaitu dengan dan tanpa URP. Faktor kedua ialah takaran Jamur Mikoriza Arbuskula (JMA), meliputi 0; 50; 100, dan 150 g/pot. Hasil penelitian telah membuktikan bahwa pemangkasan akar serta inokulasi JMA ke dalam tanah sisa olahan penambangan emas telah berhasil memacu proses fitoremediasi melalui perluasan rizosfer. Serapan merkuri oleh tanaman Jati yang menjalani pemangkasan akar serta inokulasi JMA sebanyak 100% paling tinggi dibanding perlakuan lain maupun kontrol. Pada perlakuan ini, efisiensi penurunan merkuri di dalam tanah oleh tanaman jati sebesar 88,61%, sedangkan kontrol hanya mencapai 64,11%. ABSTRACTThis study aims to determine the effect of underground root pruning (URP) of the mercury-contaminated soil phytoremediation in Kokap Kulon Progo, Yogyakarta. This study was conducted using complete randomized block design with three replications. The first factor is the URP, that divided as with and without URP (root pruning). The second factor is the dose of JMA, are 0; 50; 100, and 150 g/pot. Results of studies have proven that the root pruning and inoculation of JMA into the residual gold mining soil has successfully accelerated the process of phytoremediation through the expansion of the rhizosphere. Mercury uptake by Tectona grandis, Linn F that is with root pruning and 100% JMA inoculation are highest other treatment and control. In this treatment, the removal efficiency of mercury in the soil by plants amounted to 88.61% identity, meanwhile control only reached 64.11%

    PERENCANAAN PENGEMBANGAN WISATA PANTAI BERBASIS POTENSI SUMBERDAYA ALAM DAN DAYA DUKUNG KAWASAN DI DESA SAWARNA, BANTEN (Coastal Tourism Development Based on Natural Resources and Carrying Capacity in Sawarna Village, Banten)

    Full text link
    ABSTRAKSebagian besar kawasan pesisir di Indonesia merupakan kawasan alami yang memiliki potensi wisata dan belum dikembangkan secara optimal, salah satunya ialah kawasan pesisir Desa Sawarna yang berada di Kecamatan Bayah. Kegiatan wisata di daerah ini telah lama berlangsung, dan Desa Sawarna memiliki kawasan pantai yang luas dan indah dengan batu-batu karang yang menjadi salah satu daya tarik wisata. Tempat ini juga menjadi tempat wisata selancar oleh turis-turis mancanegara namun dalam pengelolaan masih sebatas oleh masyarakat lokal dan aparat desa. Tujuan dari penelitian ini yaitu menilai kesesuaian wisata pantai dan wisata selancar di Desa Sawarna, menilai daya dukung kawasan Desa Sawarna untuk menunjang kegiatan pengembangan wisata pantai dan selancar, kemudian menghasilkan arahan lokasi wisata pantai dan wisata selancar di Desa Sawarna. Metode yang digunakan adalah analisis kesesuaian wisata pantai dan wisata selancar guna menentukan kawasan wisata, analisis daya dukung kawasan guna mengestimasi daya tampung wisatawan dalam suatu kawasan. Berdasarkan analisis kesesuaian potensi sumberdaya alam yang dapat digunakan menjadi kawasan wisata pantai adalah Pantai Legon Pari, Pantai Karang Bereum, Pantai Tanjung Layar, Pantai Ciantir, Pantai Goa Langir dan Pantai Pulo Manuk. Sedangkan kawasan yang berpotensi dikembangkan sebagai lokasi wisata selancar antara lain Pantai Legon Pari, Pantai Ciantir dan Pantai Pulo Manuk. Pantai ciantir memiliki estimasi daya dukung ekologis yang paling tinggi yaitu sebanyak 567 orang/hari. ABSTRACTMost coastal areas in Indonesia are natural areas that have tourism potential and not yet developed, one of which is the village Sawarna Coast region in Sub Bayah. Tourist activities in this area has long been underway, and the Village Sawarna have extensive coastal areas and beautiful with rocks that became one of the tourist attraction. The place is also a place of surfing by foreign tourists, but the management is still limited by the local community and village officials. The purpose of this study is assessing the suitability of coastal tourism and surfing in the village Sawarna, assessing the carrying capacity Sawarna Village area to support the development of coastal tourism and surfing, then generating leads beaches and tourist sites in the village Sawarna surfing. The method used is the analysis of the suitability of coastal tourism and surfing to determine the tourist area, the analysis of the carrying capacity of the region to estimate the capacity of tourists in an area. Based on the analysis of the suitability of potential natural resources can be used as coastal resorts are Legon Pari Beach, Karang Bereum Beach, Tanjung Layar Beach, Ciantir Beach, Goa Langir Beach and Pulo Manuk Beach. While the region has the potential to be developed as a tourist destination among others Coast surfing are Legon Pari Beach, Ciantir Beach, m Pulo Manuk Beach. Ciantir Beach has estimated the ecological carrying capacity of the highest of 567 people / day

    PENGEMBANGAN INDUSTRI PERIKANAN TANGKAP DI PERAIRAN BARAT SUMATERA BERBASIS EKONOMI BIRU (Industrial Development in Fisheries at West Sumatera Padang Waters Based on Blue Economy)

    Full text link
    ABSTRAKSistem analisis prospektif partisipatif bertujuan untuk menentukan variabel kunci pengembangan industri perikanan tangkap berkelanjutan sesuai konsep ekonomi biru. Penelitian dilakukan di TPI Muaro Kota Padang dan PPS Bungus Teluk Kabung Padang, Provinsi Sumatera Barat. Pengelolaan perikanan tangkap di PPS Bungus dan TPI Muaro Kota Padang masih belum memanfaatkan limbah hasil pengolahan dan sistem pengelolaannya belum berbasis ekonomi biru sehingga perlu dilakukan kajian kebijakan dalam pengelolaan. Pendekatan yang dilakukan dalam menentukan kebijakan pengelolaan menggunakan analisis Prospektif partisipatif dengan melakukan konsinyasi dengan para stakeholder yang terkait seperti Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat, Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Padang, Kepala Bagian Operasional PPS Bungus, BKPM Sumatera Barat, PT Dempo dan nelayan PPS Bungus dan TPI Kota Muaro Kota Padang. Hasil konsensus diperoleh 4 variabel utama empat variabel penyusun kebijakan yaitu ramah lingkungan, kebersamaan gotong royong, peningkatan industri dan tidak menyisakan limbah. ABSTRACTThe aim of participatory prospective analysis is to determine key variables in the development of sustainable fishing industry according to the blue economy concept. The study was conducted at TPI Muaro Padang City and PPS Bungus Kabung Bay Padang, West Sumatra Province. Further study is required in its management policy, as the fishery management in PPS Bungus and TPI Muaro Padang has not applied the blue economy approach yet, thus its waste utilization. The participatory prospective analyses approach was applied in determining the management policy by organizing consignment by relevant stakeholders such as Department of Marine and Fisheries of West Sumatra Province, Department of Marine and Fisheries of Padang City, Chief Operating of PPS Bungus , BKPM West Sumatra, PT Dempo and fishermen of PPS Bungus and TPI Muaro Padang City. This resulted in four main variables of policy making namely environmentally friendly, mutual cooperation in togetherness, industrial increase and zero waste.

    Cover

    No full text

    343

    full texts

    446

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Manusia dan Lingkungan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇