Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
    446 research outputs found

    INDEKS BIOTIK TINGKAT FAMILY: UPAYA AWAL PENYUSUNAN INDEKS BIOTIK UNTUK SUNGAI TROPIS INDONESIA (Famely Biotic Index : Prelimenary Establishment of Biotic Index for Indoensian Tropical Stream)

    Get PDF
    ABSTRAKSuatu indeks biotik dicoba dikembangkan untuk sungai tropik di Indonesia, dengan menggunakan uji penelitian di sungai Gajahwong di Yogyakarta. Variabel lingkungan yang diperoleh pada musim kemarau dan musim hujan diklasifikasikan berdasarkan lokasi sampel menurut "penurunan gradien" di sumbu I dan sumbu 2 dariAnalisis Komponen Utama (Principle Component Analysis). Tiga metode analisis digunakan untuk menghasilkan indeks biotik makroinvertebrata/ makrobenthos yang ada di sungai yang dipengaruhi oleh limbah rumah tangga dan industri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks biotik yang disusun dapat digunakan sebagai indikator yang baik untuk merefleksikan kondisi habitat di sungai yang diteliti dan memberikan nilai korelasi yang baik dengan indeks lain yang menggunakan identifikasi tingkat famili. ABSTRACTA biotic index was tried to be developed for Indonesian tropical stream, taking as a test case Gajahwong Stream in Yogyakarta. Environmental variables investigated in dry season and rainy season are classified based on the sampling sites according to decreasing gradient in axis 1 and axis 2 of Principal Component Analysis. Three metrics were used to derive the tolerance value of macroinvertebrates assemblages in stream affected by municipal and industrial waste.  The result showed that the tolerance values derived is a good indicator in reflecting the habitat condition in the study stream and have good relationship to the other index of family level identification.

    IMPLEMENTASI KEBIJAKAN LIMBAH CAIR RUMAH SAKIT BERBASIS KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA EVALUASI DAMPAK KEBIJAKAN TERHADAP BAHAYA DAN RISIKO (Implementation of Hospital Liquid Waste Policy Based on Health and Safety Work: Evaluation of Policy Effect)

    Get PDF
    ABSTRAK Kebijakan internalisasi limbah cair rumah sakit yang diimplementasikan dengan teknologi end-of-pipe dalam bentuk Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di rumah sakit telah memunculkan empirical evidence berupa komplain dari tetangga di sekitar rumah sakit. Adanya paradox internalisasi ini menjadikan kebijakan IPAL rumah sakit menarik untuk diteliti dengan mempertanyakan: bagaimana hasil evaluasi dampak kebijakan ini menyangkut bahaya dan risiko bagi civitas hospitalia. Penelitian kualitaif dengan substansi implementasi kebijakan lingkungan hidup ini merupakan penelitian deskriptif-analitik dalam bingkai analisis kebijakan, dan dilaksanakan di empat rumah sakit yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan responden yang diambil secara purposif (purposive sampling). Analisis bahaya dan risiko dipakai panduan dari OHSAS 18001. Hasil penelitian menunjukkan adanya bahaya potensial (potential hazard) pada masing-masing peralatan IPAL, khususnya pada kolam penampungan awal, ekualisasi, dan lumpur. Sedangkan risiko berada pada tingkat substantial. ABSTRACT The internalization policy for hospital liquid waste that implemented with the end-of-pipe technology by the bioreactor as   the statusquo waste water treatment plant (WWTP), has raised  an empirical evidence, in the form of complain  by the neighbor. That internalization paradoxs  make the   internalization policy  interesting  to be reserached  by  putting  a question as  how  dangerous and   risky are  the evaluation impact of the internalization policy,   especially for the employee.Research  method: qualitative and quantitative, with  form of descriptive-analytic  in policy analysis frame point to the impact  of the existence of  waste water treatment plan (WWTP). The location of observation are four  hospitals  in Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), with respondents taken purposively.   Analysis executed by  Hazard  and risk  assessment  guide by  OHSAS 18001.Results  show that  potential hazard on  WWTP is high, especially on the first ponds, equalization ponds, and the sludge.  The    Risk level  in the WWTP  are indicated  substantial

    MODEL PENGEMBANGAN TATA RUANG KAWASAN OBJEK WISATA AIR STUDI KASUS: OBJEK WISATA AIR JOLOTUNDO, KLATEN (Models of Land Use Development in Water Tourism Area Case Study: Jolotundo Water Recreation, Klaten)

    Get PDF
    ABSTRAKKajian ini bertujuan untuk mengembangkan potensi kepariwisataan dan konservasi lingkungan di Objek Wisata Jolotundo, Kabupaten Klaten, sehingga dapat tumbuh dan berkembang sebagai kawasan tujuan wisata yang kompetitif dan mempunyai peran strategis dalam pengembangan kepariwisataan di Klaten. Permasalahan yang ada di Objek Wisata Jolotundo adalah karena belum maksimalnya penggunaan sumber daya yang berkelanjutan, belum adanya penataan ruang yang harmonis antara fungsi rekreasi dan fungsi preservasi lingkungan, serta kurangnya diversifikasi atraksi. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode kualitatif dengan paradigma naturalistik. Sedangkan pendekatan yang digunakan meliputi pendekatan perencanaan pariwisata terpadu (integrated tourism development), keterpaduan supply dan demand pariwisata, preservasi konservasi, dan ekowisata. Berdasarkan hasil kajian ini, dapat disimpulkan bahwa perancangan Kawasan Jolotundo harus mengacu pada prinsip integrasi antara fungsi preservasi dengan fungsi rekreasi. dan menciptakan linkage dengan lokasi pemandian. Dalam perkembangan selanjutnya, konsep perancangan Kawasan Jolotundo diharapkan dapat melibatkan elemen air dan partisipasi masyarakat. ABSTRACTThe purpose of this research is to develop tourism potential and environment conservation of Jolotundo tourism destination, Klaten Municipality, so it can grow and develop as a competitive tourism destination with strategic role in Klaten tourism development. The problem of Jolotundo tourism destination especially related to the lack of sustainable resources use, disharmony land use planning between recreational and preservation function, and the lack of attraction diversification. The method of this research is qualitative approach with naturalistic paradigm, which are integrated tourism development, appropriate supply and demand, preservation- conservation  and ecotourism. The result of this research reveals the model of  Jolotundo planning which has to refer to integration principal between preservation, conservation and recreational function, and to built linkage with spring area. In the next development, Jolotundo planning will involve water element and community participation

    PENGUJIAN AKTIVITAS KOMPOSIT Fe2O3-SiO2 SEBAGAI FOTOKATALIS PADA FOTODEGRADASI 4-KLOROFENOL (The Activity Test of Fe2O3-SiO2 Composite As Photocatalyst on 4-Chlorophenol Photodegradation)

    Get PDF
    ABSTRAK Pada penelitian ini telah dilakukan pengujian aktivitas komposit Fe2O3-SiO2 sebagai fotokatalis pada fotodegradasi 4-klorofenol. Penelitian diawali dengan preparasi dan karakterisasi fotokatalis Fe2O3-SiO2. Preparasi dilakukan dengan metode sol-gel pada temperatur kamar menggunakan tetraetil ortosilikat (TEOS) dan besi (III) nitrat sebagai prekursor diikuti dengan perlakuan termal pada temperature 500 oC. Karakterisasi dilakukan dengan metode spektrometri inframerah, difraksi sinar-X dan spektrometri fluoresensi sinar-X. Uji aktivitas komposit untuk fotodegradasi 4-klorofenol dilakukan dalam reaktor tertutup yang dilengkapi dengan lampu UV. Pada uji ini telah dipelajari pengaruh waktu penyinaran dan pH larutan terhadap efektivitas fotodegradasi 4-klorofenol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposit Fe2O3-SiO2 dapat dipreparasi dengan metode sol-gel pada temperatur kamar diikuti perlakuan termal. Komposit Fe2O3-SiO2 dapat meningkatkan efektivitas fotodegradasi 4-klorofenol dari 11,86 % menjadi 55,38 %. Efektivitas fotodegradasi 4- klorofenol dipengaruhi waktu penyinaran dan pH larutan yang semakin lama waktu penyinaran efektifitas fotodegradasi semakin tinggi, namun waktu penyinaran yang lebih lama dari 4 jam dapat menurunkan efektivitasnya. pH larutan memberikan pengaruh yang berbeda-beda pada efektivitas fotodegradasi 4-klorofenol. ABSTRACTThe activity test of Fe2O3-SiO2 composite as photocatalyst on 4-chlorophenol photodegradation has been studied. The research was initiated by preparation of Fe2O3-SiO2 photocatalyst and followed by characterization. The preparation was conducted by sol-gel method at room temperature using tetraethylorthosilicate (TEOS) and iron (III) nitrate as precursors followed by thermal treatment at a temperature of 500oC. The characterizations were performed by X-ray Diffraction (XRD), Infrared and X-ray Fluorescence Spectrophotometry. The photocatalytic activity test of composites for 4 chlorophenol degradation was carried out in a closed reactor equipped with UV light. In this test, the influences of irradiation time and 4-chlorophenol pH were studied.  Results showed that the composite could be prepared through sol-gel method. The Fe2O3-SiO2 composite could increase activity of 4-chlorophenol photodegradation from 11.86 % to 55.38 %. The photodegradation effectiveness was influenced by irradiating time and pH of solution. The pH of solution gave different 4-chlorophenol photodegradation effectiveness

    MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGENDALIAN BANJIR YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN DI KOTA SEMARANG (Communities Empowerment Model in Managing the Floods in Line with Environmental Conception in Semarang (City))

    No full text
    ABSTRAKTujuan penelitian ini ialah 1. Untuk membuat kompilasi buku manual tentang pembuatan sumur resapan dan pengendalian sedimentasi dan erosi, yang sejalan dengan pembangungan masyarakat yang berwawasan lingkungan; 2. Untuk membuat model pemberdayaan masyarakat serta mengukur sikap dan pemahaman mereka dalam mengelola banjir dan rob; 3. Untuk membuat model pemberdayaan masyarakat dan mengukur efektivitasnya untuk peningkatan minatnya dalam membuat sumur resapan dan konstruksi pengendali sedimentasi dan erosi. Penelitian pada tahun kedua ini menggunakan pendekatan pseudo experiment riset. Desain riset ini adalah pre test dan pst test tanpa kelompok kontrol. Data dikumpulkan dengan cara melakukan wawancara mendalam, pengamatan di lapangan, melakukan tes, menyebar kuesioner dan dokumentasi. Subyek penelitian ini adalah : 1. Para ahli di bidang teknil sipil, geografi, media grafis, teknologi pendidikan dan lingkungan; 2. Masyarakat yang tinggal di Desa Gogik Kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang dan masyarakat Desa Kradenan Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa model pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan berbagai aktivitas seperti sosialisasi, pelatihan untuk membuat sumur resapan dan terasering kontur tanah. Stimulus dan pendampingan sangat efektif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dalam mengelola banjir dan rob, mampu untuk meningkatkan sikap positif masyarakat dalam emngelola banjir dan rob, serta mampu untuk mengukur minat sejumlah masyarakat dalam embangun sumur resapan dan konstruksi pengendali sedimentasi dan erosi yang berwawasan lingkungan. ABSTRACTThe objective of this research is : 1). Compiling a manual concerning “absorption wells” and “sedimentation and errotion controlling” which in line with environmental conception for communities ; 2). To construct communities empowerment model and to measure effectivity of their knowledge and attitude in managing the floods and sea tides ; 3). To construct communities empowerment model and measuring effectivity in increasing their interesting to build “absorption wells” and “errotion and sedimentation controlling construction”. This second year research used “pseudo experiment” approach. The research design is a “pre test-post test without control group design”. The needed data were collected by deep interviews, field observations, test, questionnaires, and documentations. The subject of this research were : 1). The experts of civil engineering, geographics, graphics media, educational technology, and environmentally; 2). Communities who lives in Gogik villages, Ungaran sub-districts, and Kradenan Villages Gunungpati sub districts. The data will be analized by “T-test” for independent samples. The fields finding showed that communities empowerment models with the following activities : socialization, training for building “absorption wells” and “soil contour” terracering, stimulating and assistancing are effective, since could improving communities understanding in managing floods and sea tides, able to improving communities attitude positively in managing floods and sea tides, and able to measure the number of communities who were interesting in building “absorption wells” and “errotion and sedimentation controlling” in line with an environmental conception

    MODEL PEMBANGUNAN DAERAH BERKELANJUTAN MELALUI TRANSFORMASI STRUKTUR BKONOMI BERBASIS SUMBERDAYA PERTAMBANGAN KE SUMBERDAYA LOKAL TERBARUKAN (Sustainable Local Development Model by means Economic Structure Transformation from Mine Resources Basis)

    No full text
    ABSTRAKSektor pertambangan tembaga dan emas yang dioperasikan oleh PT. Newmont Nusa Tenggara di Sumbawa Barat sangat dominan terhadap struktur perekonomian kabupaten tersebut sejak 2000-2006 dengan rata-rata 94,00 % dalam PDRB. Terkait dengan sifat sumberdaya mineral yang tidak terbarukan, deposit rnineral yang terbatas dan masa produksi pertambangan yang relatif pendek maka ketergantungan terhadap satu sektor (pertambangan) dalam jangka menengah dan panjang akan berpengamh signifikan bagi pembangunan wilayah Sumbawa Barat. Untuk itu perlu solusi mengurangi ketergantungan terhadap tambang dengan melakukan transformasi struktur ekonomi dengan membangun rantai pohon industri pertanian lokal yang merupakan sumberdaya terbarukan dan ekowisata. Selain itu semakin berkurang dan habisnya pertambangan pada masa mendatang akan sangat beresiko terhadap kinerja pembangunan. Peran pemerintah daerah dalam mengalokasikan anggaran dengan tepat dan kerjasama antar daerah dalam memperbaiki dan mempertahankan kinerja pembangunan sangat penting dilakukan. Hasil analisis isi (content analysis) peraturan perundangan sektor pertambangan belum mengarah pada tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan. ABSTRACTCopper and Gold mine sector that operated by PT. Newmont Nusa Tenggara in West Sumbawa has dominated the regency economic structure since 2000-2006 with average share for Product Domestic Regional Bruto is 94,00 %. Regarding to mineral resources characteristic such as unrenewable, limited mineral deposit and relative short of long life project therfore dependency only on one sector (mining) for long and medium terms will have significant effect on the development of West Sumbawa. Therefore, it‘s need a solution to reduce the dependency on the mine sector to tranform economic structure by means stablished local agro-industrial tree chain that characterized by renewable resources and ecotourism. In other hand, more reduction and exhaustment of mine production in the future will give a risky effect (impact) on development performance. Roles of local government to efficiently allocat proper the budget and cooperation with other regions to enhance and maintain development performance is necessary to be implemented. The content of analysis shows that the regulation on mining sectors not yet directed to achieve sustainable development goals

    APLIKASI PENGOLAHAN POLUTAN ANION KHROM(VI) DENGAN MENGGUNAKAN AGEN PENUKAR ION HYDROTALCIT ZN-AI-SO4 (Synthesis of and its Application to Treat Chrom(VI) Pollutant Using Hydrotalcite Zn-Al_SO4 as Anion Exchanger)

    Get PDF
    ABSTRAKKeberadaan logam khrom di dalam sistem perairan bersifat polutan yang harus ditangani dengan baik, dan untuk khrom (Vl) yang sering dijumpai dalam bentuk anion dapat diolah dengan menggunakan mekanisme pertukaran ion. Suatu agen penukar anion telah dibuat berupa senyawa hidrotalsit Zn-Al-SOa melalui proses sintesis, karakterisasi serta dilakukan pula pengujian aplikasinya untuk pengurangan polutant anion khrom (VI) dalam bentuk ion dikromat. Sintesis hidrotalsit Zn-Al-SOa dilakukan dengan metode stoikiometri pada pH 8 dan perlakuan hidrotermal. Aplikasi pertukaran dikromat dengan anion sulfat dalam antar lapis hidrotalsit serta uji regenerasi bahan diamati dengan bantuan analisis struktur dan analisis kinetika reaksi pertukaran. Produk pertukaran ion dikarakterisasi dengan XRD, spektrofotometri IR dan spektrometri serapan atom. Rumus kimia hidrotalsit produk diketahui adalah Zn0,74Al0,26(OH)1,74(SO4)0,13.0,52H2O. Anion dikromat dapat menukar sulfat dalam antarlapis hidrotalsit yang ditunjukkan dalam spektra IR dan pola XRD. Kapasitas pertukaran anion untuk dikromat diketahui 216,84 mek/100 g, sedangkan kinetika reaksi pertukaran ion mengikuti orde dua dengan k = 3 x 10-8 ppm-1.detik-1. Hasil menunjukkan Zn-Al-Cr2O7 dapat mudah diregenerasi.  ABSTRACT Chrom as pollutant in aquatics system usually establishes as crom (VI) and should be worked with special treatment and as an example is ion exchanger. Material Zn-Al-SO4 hydrotalcite product have been synthesized and its application as anion exchanger for dichromate have been studied. Synthesis of Zn-Al-SO4 hydrotalcite was carried out by stoichiometric method at pH 8 and hydrothermal treatment. Sulphate in hydrotalcite interlayer was exchanged by dichromate. Kinetics of ion exchange was also investigated. The product of ion exchange was characterized by XRD, IR spectrophotometry and atomic adsorption  spectrometry. The chemical formula of the  hydrotalcite is Zn0.74Al0.26(OH)1.74(SO4) 0.13.0.52H2O. The dichromate anion can exchange sulphate in hydrotalcite interlayer as showed by IR spectra and XRD patterns. The anion exchange capacity was 216.84 mek/100 g, and the kinetics of ion exchange reaction follows the the second order with k = 3 x 10-8 ppm-1.s-1. It shows that Zn-Al-Cr2O7 could be regenerated easily

    Adsorpsi lon Logam Zn(II) pada Bead Kitosan dari Cangkang Udang Windu (Penaus Monodon) (ADSORPTION OF ZrNK(II) METAL ION ON CHITOSAN BEAD FROM SHELL SHRIMP (Penaus monodon))

    No full text
    ABSTRAK Telah dibuat dua macam adsorben kitosan dan bead kitosan dari cangkang udang windu (Penaus monodon) sebagai bahan dasar untuk adsorpsi ion logam Zn(Il). Adsorben kitosan dibuat melalui deproteinasi, demineralisasi diikuti deasetilasi, sedangkan bead kitosan merupakan hasil penggembungan terhadap kitosan. Beberapa parameter adsorpsi seperti pH, laju adsorpsi, dan kapasitas adsorpsi ion logam Zn(ll) dipelajari. Penelitian ini diawali dengan identifikasi secara spektroskopi infra merah terhadap gugus fungsional adsorben yang diperkirakan berfungsi sebagai situs aktif adsorpsi. Model kinetika adsorpsi orde satu yang mendekati kesetimbangan digunakan sebagai dasar untuk mengestimasi laju adsorpsi, sedangkan model isoterm adsorpsi Langmuir digunakan untuk menetapkan kapasitas adsorpsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adsorpsi ion logam Zn(ll) pada kitosan serbuk dan bead kitosan mempunyai pH optimum yang sama. Laju adsorpsi ion logam Zn(II) pada bead kitosan secara signifikan lebih cepat dibanding pada kitosan. Proses swelling meningkatkan kapasitas adsorpsi ion logam Zn(ll) pada kitosan. ABSTRACT Two typies of adsorbent , i.e: chitosan and chitosan bead using shell of shrimp (Penaus monodon ) as raw materials, for Zn(II) metal ion adsorption. The chitosan was made by deproteination, demineralization followed deacetilation, whereas the chitosan bead was prepared by swelling the chitosan. Adsorption parameters such as, the adsorption rate, and the capacity of adsorption were determined. This work was started with the Infra Red Spectroscopy identification of functional groups with are expected to be the adsorption activ sides. The adsorption kinetic orde one at eqilibrium model  was applied in the estimation the adsorption rate, whereas the isoterm adsorption Langmuir model were employed in the determination of the capacity in adsorption. The results show that adsorption of metal ion Zn(II) on chitosan and chitosan bead have the same of optimum pH. The adsorption rate of metal ion Zn(II) on chitosan bead significant faster than on chitosan. Modification with swelling process enhanced the adsorption capacity Zn(II) on chitosan

    CHROMIUM(VI) REDUCTION BY A MIXED CULTURE OF SULFATE REDUCING BACTERIA DEVELOPED IN COLUMN REACTOR

    Get PDF
    ABSTRAKKemampuan kultur campuran bakteri pereduksi sulfat (SRB) yang menggunakan elektron donor laktat diuji untuk mereduksi Cr(IV) dalam continous flow system. Influen merupakan media garam mineral yang ditambahkan laktat dan sulfat. Masing-masing dengan konsentrasi 8 dan 6 mM sebagai elektron donor dan akseptor. Setelah kultur SRB stabil di dalam kolom, Cr(IV) ditambahkan pada media influen. Reduksi kromium dan sulfat dan oksidasi laktat diamati dengan mengukur konsentrasi kromium, sulfat dan laktat di influen dan effluen sesuai waktu pengamatan. Eksperimen diheentikan setelah tidak semua Cr(IV) tereduksi yang ditandai dengan meningkatnya konsentrasi Cr(IV) di effluen. Sebelum penambahan Cr(IV), tidak semua sulfat tereduksi padahal laktat teroksidasi secara sempurna, sedangkan acetat sebagai senyawa intermediat tidak selalu terdeteksi. Hampir semua Cr(IV) tereduksi pada kolom yang diinokulasi oleh kultur SRB pada konsentrasi Cr(IV) ibfluen 192, 385 dan 769 mM. penyisihan Cr(IV) yang sangat insignifikan pada kolom kontrol menunjukkan bahwa penyisihan Cr(IV) disebabkan oleh reduksi Cr(IV) oleh kultur SRB. Penyisihan Cr(IV) menurun sampai 32%. Setelah 24 hari konsentrasi Cr(IV) influen dinaikkan menjadi 1540 M dan reduksi sulfat menurun sampai 17%. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi Cr(IV) yang tinggi dapat menghambat reduksi sulfat. Populasi SRB juga menurun setelah 100 hari penambahan Cr(IV) pada kolom. Penyisihan total Cr(IV) mencapai kira-kira 878 mol dari 881 mol Cr(IV) yang dialirkan pada kolom selama 116 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kultur campuran SRB yang dikembangkan mampu mereduksi Cr(IV) secara efektif. ABSTRACTA lactate enriched mixed sulfate reducing bacteria (SRB) culture was examined for the reduction of Cr(VI) in a continuous flow system. The influent was mineral salts media added with lactate and sulfate with amounts of 8 and 6 mM respectively as electron donor and electron acceptor. The SRB culture was allowed to stabilize in the column before adding the Cr(VI) to the influent. Chromium and sulfate reduction and lactate oxidation were examined by measuring the concentrations of Cr(Vl), sulfate and lactate in the influent and the effluent over time. The experiment was discontinued when Cr(VI) concentration in the effiuent was breakthrough. In the absence of Cr(VI), sulfate was not completely reduced in the column, although lactate was completely oxidized and acetate as an intermediate product was not often detected. Almost all of Cr(VI) loaded was reduced in the column seeded with the SRB culture at influent Cr(VI) concentrations of 192,385 and769 mM. There was no significant Cr(VI) loss in the control column, indicating that Cr(VI) removal was due to the reduction of Cr(VI) to Cr (lll) by the SRB culture. The instantaneous Cr(VI) removal decreased to a minimum of 32%, 24 days after the influent Cr(VI) concentration was increased to 1540 mM, ancl sulfate removal efficiency decreased to a minimum of 17%. The SRB population in the column decreased 100 days after C(VI) was added to the column. The total mass of Cr(VI) reduced was approximately 878 mmol out of 881 mmol of Cr(Vl) loaded in 116 days. The results clearly show that our developed SRB culture could reduced Cr(Vl) considerably.A lactate enriched mixed sulfate reducing bacteria (SRB) culture was examined for the reduction of Cr(VI) in a continuous flow system. The influent was mineral salts media added with lactate and sulfate with amounts of 8 and 6 mM respectively as electron donor and electron acceptor. The SRB culture was allowed to stabilize in the column before adding the Cr(VI) to the influent. Chromium and sulfate reduction and lactate oxidation were examined by measuring the concentrations of Cr(Vl), sulfate and lactate in the influent and the effluent over time. The experiment was discontinued when Cr(VI) concentration in the effiuent was breakthrough. In the absence of Cr(VI), sulfate was not completely reduced in the column, although lactate was completely oxidized and acetate as an intermediate product was not often detected. Almost all of Cr(VI) loaded was reduced in the column seeded with the SRB culture at influent Cr(VI) concentrations of 192,385 and769 mM. There was no significant Cr(VI) loss in the control column, indicating that Cr(VI) removal was due to the reduction of Cr(VI) to Cr (lll) by the SRB culture. The instantaneous Cr(VI) removal decreased to a minimum of 32%, 24 days after the influent Cr(VI) concentration was increased to 1540 mM, ancl sulfate removal efficiency decreased to a minimum of 17%. The SRB population in the column decreased 100 days after C(VI) was added to the column. The total mass of Cr(VI) reduced was approximately 878 mmol out of 881 mmol of Cr(Vl) loaded in 116 days. The results clearly show that our developed SRB culture could reduced Cr(Vl) considerably

    KAJIAN ZONASI PENGEMBANGAN KAWASAN PUSAKA. STUDI KASUS: SITUS SANGIRAN, SRAGEN (Zoning Study of Heritage Site Development Case Study: Sangiran Site, Sragen)

    Get PDF
    ABSTRAKSebagai Warisan Budaya Dunia (World Culture Heritage) yang ditetapkan oleh UNESCO pada tanggal 5 Desember 1996, Situs Sangiran merupakan bagian penting dalam sejarah manusia di dunia. Sesuai dengan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Nomor 0701011977), situs tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya (Widianto, et al.,1996). Penelitian ini memiliki dua tujuan utama: (1) menyusun konsepsi dasar pelestarian, dan (2) menyusun arahan desain (guidelines) pelestarian Situs Sangiran. Permasalahan utama dari kajian ini adalah perubahan lahan karena faktor alam dan aktivitas manusia (pertanian, pembangunan, penambangan), ancaman pencurian, penggelapan, dan jual beli fosil, rendahnya partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian Situs Sangiran, dan belum adanya panduan/arahan pelestarian dan pemanfaatan wisata yang jelas. Dengan metoda kualitatif naturalistik, dihasilkan konsepsi (prinsip) dasar pelestarian Situs Sangiran Sragen, dalanr masing-masing zona (zona I -3) sesuai dengan potensi tiap zona yang perlu dilestarikan dan dikernbangkan. Analisis yang digunakan dalam hal ini adalah analisis makro, meso, dan mikro. Dari kajian ini dapat disimpulkan bahwa dalam merencanakan pelestarian Situs Sangiran, hal terpenting adalah mentaati zonasi dasar situs, di mana setiap zona akan merniliki guidelines  tersendiri. Guidelines terdiri atas pengembangan produk (Klaster Ngebung, Bukuran, Dayu), street furniture, serta pemberdayaan masyarakat. ABSTRACT UNESCO has established Sangiran Site as a World Culture Heritage in December 5th 1996. Its present is important to the history of mankind in the world. Widianto, et al., 1996, stated that Sangiran site has become a Cultural Site regarding to the declaration of Minister of Culture and Education (No. 070/0/1977). This Research has two main purposes, (1) to arrange a conception of basic preservation, and (2) to arrange a design guidelines of Sangiran Site Preservation. There are several major issues in this research; natural factor and human activities (agriculture, development, and mining), criminal threats, corruption, illegal trading, the lack of  participations in order to preserve the Sangiran Site, and there is no basic preservation guidelines for tourism activities in Sangiran. Basic preservation conception of Sangiran Site is created with Naturalistic Qualitative Method at each zone of this site that appropriate to each potential zone and need to be developed and preserved. This research use macro, meso, and micro analysis. Conclusion has been made from this research. The most important thing to plan Sangiran Site preservation is obeying the site basic zone guidelines, because every zone has its own characteristics. The guidelines of development plan in Sangiran Site consist of Product Development (Ngebung, Bukuran, and Dayu cluster), street furniture, and community empowerment

    343

    full texts

    446

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Manusia dan Lingkungan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇